HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 64, I can't believe it



Polisi menunjukkan surat penangkapan terhadap tersangka. Jerit tangis terdengar dari dalam rumah. Sepertinya ada drama terjadi didalam.


"Jangan masuk dulu Boss .. biarkan pihak berwajib menjalankan tugasnya. Nanti jika ada yang mencurigakan, saya harap Boss langsung masuk mobil dan menunduk. Ini demi keamanan. Saya dapat informasi kalo penangkapan kali ini sudah mereka dengar. Ya namanya mafia, jaringannya pasti banyak dan luas. Apa sih yang ga bisa bocor hal-hal seperti ini" bisik bodyguardnya Rama.


Warga berduyun-duyun datang ke tempat kejadian, seperti biasa, warga enam dua paling hobi liat sebuah peristiwa jadi tontonan gratis daripada sibuk membantu dan bersimpati terhadap apa yang terjadi.


Apalagi di era sosmed yang makin menggila, semua serba dishare dalam hitungan detik sudah tersebar, tidak pikir panjang apa konten tersebut pantas dipertontonkan atau tidak.


Rama sekarang sudah turun dari mobilnya, dia masih berdiri menunggu di teras rumah. Hatinya teramat sedih mendengar suara dari dalam rumah yang terdengar memilukan.


"Mba.... Mba Gita .... lepasin Kakak saya Pak polisi, Kakak saya ga jahat. Ini pasti ada salah tangkap. Kakak saya ga bersalah Pak" bela Izza sambil menahan tangannya Mba Gita.


"Nanti bisa dijelaskan di Kantor polisi, ini surat penangkapannya. Kakak Anda juga berhak didampingi pengacara selama proses penyidikan. Mungkin Anda bisa hubungi keluarga atau siapapun yang paham akan proses hukum untuk mendampingi. Semua akan dijelaskan dengan prosedur yang semestinya" jelas Pak polisi.


"Lepasin Kakak saya Pak. Saya mohon Pak .. ini pasti ada kekeliruan" pinta Izza makin meradang.


Izza terus menarik tubuh Mba Gita yang sudah digiring oleh dua orang polisi. Izza ditahan oleh dua orang Polwan agar tidak memperlambat penangkapan Mba Gita.


Rama muncul didepan pintu rumah Mba Gita. Melihat situasi yang terjadi didalam rumah secara langsung didepan matanya.


Mata Mba Gita bertatapan tajam dengan Rama. Izza juga kaget ada Rama di teras rumahnya.


Mba Gita dibawah penjagaan Polisi berjalan keluar rumah. Begitu berhadapan sama Rama, langkah Mba Gita terhenti.


"Kamu rupanya.... sudah saya duga sebelumnya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Sekarang sudah puas melihat saya seperti ini?" tanya Mba Gita didepan muka Rama.


Rama yang orangnya ga ada takutnya sama orang pun akhirnya menyeringai tanda kemenangan. Mengembangkan senyumnya yang manis tapi mematikan lawan tanpa ampun.


"Saya hanya ga menyangka, kalo Mba adalah otak dibalik kerugian besar Abrisam Group selama ini. Selama sepuluh tahun menikmati uang kami tanpa ada rasa bersalah. Mengorbankan banyak orang untuk Mba fitnah. Sekarang saatnya semua berubah, saya pastikan Mba akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah Mba lakukan ... cantik sekali bermainnya Mba selama ini" jawab Rama penuh amarah.


"Pak ... jangan bawa Kakak saya, ini ada kesalahan. Kita duduk berbincang dulu" mohon Izza sekali lagi.


Polisi tidak mengindahkan rengekan Izza sama sekali, mereka tetap menggelandang Mba Gita keluar rumah menuju mobil petugas. Para tetangga hanya bisa saling berbisik melihat kejadian didepan matanya.


Isak tangis Izza ga tertahankan lagi. Kalau saja tangannya tidak ditahan sama Rama, sudah berlari dia mendekati Mba Gita.


Rama makin menarik lengannya Izza, Izza pun berontak ingin melepaskan diri dari Rama.


"Tenang ... tenang ... saya ga akan berbuat macam-macam sama kamu" kata Rama sambil masih menahan tangannya Izza.


"Lepasin ... lepasin saya" jawab Izza mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rama yang jauh lebih kuat.


"Za... kamu harus jadi warga negara yang baik, hormati tugas pihak yang berwajib. Apa kamu mau ikut ditangkap karena menghalangi tugas pihak yang berwajib?" kata Rama setengah berteriak.


Izza membalikkan badannya dan menarik tangannya dari genggaman Rama dengan kuat, kini tangannya sudah bebas. Izza menatap kearah Rama, masih tergenang air mata disana.


"Mau apa Kakak sebenarnya? Setelah apa yang diberikan Mba Gita ke keluarga Kakak .. sekarang dihempaskan begitu aja... Ga nyangka inilah kelakuan keluarga Abrisam yang konon katanya terhormat ... pantas kalo banyak kena karma selama ini" marah Izza sambil berteriak.


"Kamu berani berkata seperti itu ke saya???" jawab Rama meninggikan suaranya.


"Tuan Rama yang terhormat, Anda pasti tau betapa loyalitasnya Mba Gita terhadap Abrisam Group. Ini balasannya? atau masih mau menunggu balasan Tuhan yang lebih pedih lagi? Kematian Nyonya Isam karena pendarahan pasca melahirkan, kecelakaan pesawat yang memakan korban Kakak perempuan satu-satunya, kecelakaan mobil yang nyaris membuat kehilangan satu nyawa lagi .. atau hadirnya Sachi ... anak yang kalian tutupi identitasnya karena hasil hubungan gelap yang terlarang... mau sampai kapan bersandiwara lagi? Suatu saat keluarga kalian akan merasakan apa yang kami rasakan" papar Izza yang membuat Rama naik darah.


"Jangan sebut saya Raffasya Qiyas Ramadhan kalo ga bisa membuat kamu untuk berlutut dan menyesal sudah berkata seperti tadi. Kamu orang luar yang hanya mendengar dari pihak Mba Gita saja. Jaga mulut kamu baik-baik, bisa saja saya menjebloskan kamu bersama Mba Gita ke bui. Apa yang terjadi dengan keluarga saya adalah takdir. Anak kemarin sore mulut ga bisa dijaga" kata Rama mencoba menahan amarahnya.


"Saya tidak pernah menyesal sudah memaki Anda ... Tuan Rama yang mulia" kesal Izza sambil masuk kedalam rumah.


"Kamuuuuu .... arghhh" ucap Rama sambil meninju tembok karena kesal.


Bodyguardnya Rama hanya diam melihat adegan dua anak manusia yang sama-sama sedang emosi.


"Maaf ... rumah ini akan kami beri pita pembatas guna pemeriksaan lebih lanjut. Anda bisa membawa barang seperlunya dibawah pengawasan kami" kata Polisi wanita kepada Izza.


"Rumah ini mau disegel juga? bukankah ini rumah Mba Gita?" tanya Izza ga paham.


"Benar, kami akan menyelidiki bukti-bukti yang ada di rumah ini" jawab Polisi.


"Rumah ini juga diduga sebagai hasil penyelewengan.. jadi memang harus disita dulu sementara" Rama ikut nimbrung.


Rama mendekati Izza. Dari arah belakang Izza, Rama berkata.


"Za ... bawa barang-barang kamu keluar dari rumah ini. Kamu paham kan rumah ini sementara disita guna penyidikan lebih lanjut. Saya bisa antar kamu ke Panti Asuhan malam ini. Anggap saja tawaran saya sebagai perbuatan tolong menolong sesama manusia. Walaupun saya tersinggung sama ucapan kamu, hati saya ga tega ninggalin kamu di jalanan begitu aja" ucap Rama mencoba sedikit melunak ke Izza.


Rama merasa kasian sama Izza yang pastinya bingung mau kemana lagi. Ditambah lagi belum lama ini hampir menjadi korban rudapaksa. Pasti ada ketakutan untuk berjalan sendirian dikala malam hari.


Izza makin emosi mendengar penawaran dari Rama, dia berbalik melihat kearah Rama.


"Saya bisa ke Panti sendiri" jawab Izza.


"Sekarang udah jam sebelas malam. Kamu pernah kan mengalami kasus hampir jadi korban rudapaksa, atau memang benar-benar mau jadi korbannya dulu baru kapok?" bisik Rama tepat ditelinga kirinya Izza.


Izza terdiam.


"Bu Polisi .. silahkan Adiknya tersangka diikuti untuk masuk kedalam kamar, pastikan dia hanya membawa seperlunya saja. Daripada nanti menghilangkan jejak yang ada" pinta Rama kepada Polisi.


Izza didamping oleh dua orang polisi wanita untuk mengemasi barangnya yang ada di kamar. Dia membawa baju dan buku-buku kuliah serta laptop saja.


.


Mba Gita sudah dibawa ke Kantor Polisi. Warga yang berkerumun juga sudah mulai meninggalkan lokasi karena diminta oleh Ketua RW setempat.


Mobil petugas satu persatu juga mulai meninggalkan TKP.


Rama kembali mengajak Izza untuk bareng ke Kantor Polisi untuk melihat Mba Gita disana. Izza ga mikir panjang, dia langsung mengiyakan ajakan Rama. Cibiran dan pandangan warga kepada Mba Gita cukup membuat sakit telinganya. Jadi menurut pemikiran Izza, akan lebih aman dia bersama Rama, toh selama ini Rama ga pernah berbuat aneh-aneh terhadapnya.


.


Didalam mobil Rama ada dua bodyguard yang terus mengawal, salah satunya Alex. Izza dan Rama duduk di bangku belakang.


"Kamu udah makan?" tanya Rama datar.


Izza hanya diam. Rama membuka kulkas yang ada di mobilnya. Mengeluarkan air mineral dan menyodorkan ke Izza. Izza ga bergeming atas tawaran Rama. Bahkan tidak melihat tangan Rama yang memegang botol air mineral.


Rama membuka tutup botol dan meminumnya sendiri karena sewot. Bagi seorang Rama yang terbiasa mendapatkan apa yang di mau, sebuah penolakan adalah hinaan buat dia.


"Ini cewek emang kepala batu, ditolongin bukannya terima kasih malah acuh. Kita liat aja nanti... salah besar menantang seorang Rama" ucap Rama dalam hatinya.


"Oke siap, kamu fokus nyetir aja. Saya bisa jaga diri saya sendiri" jawab Rama sambil melihat kearah belakang mobil.


Benar saja, ga lama kemudian, kaca samping mobil persis disebelah Rama dihantam pakai batu. Rama langsung spontan melindungi tubuh Izza dengan cara merangkul dan langsung menunduk. Tangan Rama melindungi kepalanya Izza.


"Aahhhhhh" teriak Izza ketakutan.


"Boss ... Boss okay?" tanya bodyguardnya Rama.


"Tepikan dulu mobilnya, kamu minta yang lain buat ngejar pelaku" perintah Rama.


"Siap Boss" jawab sang bodyguard.


Mobil langsung menepi. Kedua bodyguardnya Rama dengan sigap langsung keluar dari mobil dan berjaga di pintu mobil.


Untunglah mobil terbaru milik Rama ini sudah dipasang kaca film yang diperuntukkan untuk mobil premium. Produk ini masih berupa lapisan film, tetapi justru dipasang dibagian luar kaca. Tujuannya, untuk melindungi kaca mobil dari hantaman batu atau kerikil yang dapat menyebabkan kaca menjadi rusak atau bahkan pecah. Dengan formula bahan coating pelapis yang mampu melindungi kaca dengan maksimal. Jadi jika terjadi kecelakaan atau terkena hantaman benda keras, kaca tidak akan pecah berserakan karena masih menempel pada lapisan filmnya.


Rama memasang yang double layer yang harganya berkisar tiga juta rupiah per kaca samping dan tujuh juta rupiah untuk kaca bagian depan dan belakang.


"Are you okay Za?" tanya Rama.


"Ya ... ya ... okay ..." jawab Izza rada gemetar.


"Kacanya memang pecah, tapi ga kena ke kita. Ambil minum didekat kaki kamu biar lebih tenang" kata Rama.


Rama keluar dari mobil. Izza buru-buru minum karena jantungnya berdebar kencang dengan kejadian yang sangat cepat.


"Dapat fotonya?" tanya Rama.


"Beres Boss .. sudah saya kirim ke HP nya Boss. Tinggal dilaporkan saja" jawab bodyguard.


"Saya juga pasang kamera depan dimobil, nanti saya cek rekamannya. Masih jaringan dari mereka?" tanya Rama.


"Sepertinya seperti itu Boss... penangkapan Mba Gita membuat mereka panik" jawab bodyguard.


Rama membuka pintu mobil.


"Kamu mau langsung saya antar ke Panti atau mau lanjut ke Kantor Polisi?" tanya Rama.


"Ke Panti dulu aja. Saya takut ... saya mau ketemu Ibu biar tenang" jawab Izza udah panik.


"Oke.. saya antar kamu ke Panti" kata Rama.


Didalam mobil, Rama sedang ditelepon sama Pak Isam dan Haidar. Lawyernya Rama sudah ada di Kantor Polisi.


.


Di Panti Asuhan, Izza langsung dipeluk oleh Ibu. Rama menceritakan garis besarnya dan segera pamit untuk pergi menuju ke Kantor Polisi.


Pak Isam dan Haidar diminta tunggu di rumah dulu sampai semua kondisi aman terkendali. Keduanya belum tau kalo Rama hampir jadi korban kejahatan.


.


Di kantor Polisi, Mba Gita menolak untuk didampingi oleh pengacara, padahal Rama sudah menyediakan pengacara kantor buat mendampingi Mba Gita. Bahkan Mba Gita minta ke pihak kepolisian untuk bicara berdua dengan Rama sejenak.


Pihak kepolisian mengijinkan. Rama meminta semua pembicaraan direkam baik audio maupun video (Mba Gita ga tau).


Dibalik bajunya Rama sudah ditempel clip on wireless jadi bisa direkam dan didengar dari luar ruangan.


.


Langkah tegap pasti penuh amarah ditunjukkan oleh Rama ke Mba Gita. Kini keduanya ada didalam ruangan.


Mba Gita dan Rama duduk saling berhadapan.


"Apa salah keluarga saya sampai tega Mba berbuat seperti ini?" tanya Rama ga habis mengerti.


"Mau tau jawabannya?" ucap Mba Gita dengan sombongnya.


"Tentu... atas apa yang sudah perusahaan berikan ke Mba Gita, saya rasa ini semua keterlaluan" jawab Rama menantang.


"Abrisam Group seringkali menjegal bisnis orang lain, termasuk dulu calon suami saya sampai bunuh diri karena kalah tender padahal sudah banyak menggelontorkan dana hasil meminjam. Dan keluarga Abrisam yang membuat Ayah saya tutup usaha dan pulang kampung, stress dan jadi sakit-sakitan sampai meninggal dunia" jelas Mba Gita.


"Sekejam itu Papi dalam menjalankan bisnisnya?" tanya Rama penasaran.


"Mungkin secara terang-terangan tidak, tapi


dengan keluarga Abrisam memegang semua sektor lini usaha dengan modal besar, apa kami ga tergencet dan gulung tikar?" jawab Mba Gita.


"Kenapa juga harus membuat Papi menjadi seorang pecandu berat?" tembak Rama.


Hal yang amat sangat menjadi poin utama kemarahan Rama bermula dari penyelidikan kenapa Papinya selalu ke Pesantren pimpinan Abah Ikin yang disana banyak korban obat terlarang mencoba kembali lepas dari jeratan. Kalo sekedar insyaf mungkin bisa saja ditempat lain, Rama curiga Papinya juga seorang pecandu.


Pak Isam yang hidupnya hanya terfokus pada bisnis, rupanya masih mentah untuk tau mengenai obat terlarang. Mba Gita yang menjadi biang kerok pada awalnya.


Setiap hari disuguhkan kopi yang sudah dicampur gerusan ganja kering. Dimulai dari efek yang ringan hingga dinaikkan dosisnya menjadi level kecanduan. Hingga Pak Isam tidak bisa hidup tanpa meminum kopi racikan Mba Gita. Saat libur kerja pun, Mba Gita sudah menyiapkan bungkusan tinggal seduh saja. Tidak pernah ada kecurigaan dari Pak Isam sedikit pun kalo ternyata dia sudah dijerat ke lembah hitam dunia obat terlarang. Bahkan kalo sakit kepala, Mba Gita yang memberikan pil sebagai penawar rasa sakit.


Mba Gita beralasan obat itu dari luar negeri jadinya harga lebih mahal dari obat sakit kepala di Indonesia.


Untuk orang berduit seperti Pak Isam, ga ada masalah harga obat berapa pun. Makanya dengan mudahnya Mba Gita mengelabui Pak Isam. Dalam kondisi setengah sadar menandatangani cek dan surat-surat penting untuk disalah gunakan oleh Mba Gita.


Kemunculan Rama di Abrisam Group, makin membuat Mba Gita ga nyaman karena tipenya Rama yang sangat berahasia dengannya. Oleh karena curiga sama Mba Gita dari awal, dia ga pernah mau disuguhi minuman sama Mba Gita.


Rama saat itu menghubungi Alex untuk membantunya menyelidiki tentang Mba Gita. Banyak hal yang dia dapatkan, termasuk informasi kalo Mba Gita adalah salah satu jaringan pengedar obat terlarang yang cukup dikenal dilingkungannya.


"Tujuan saya satu ... menghancurkan semua keluarga Pak Isam tanpa bersisa. Bukankah Tuhan pun ikut membantu? Maminya Mas Rama meninggal saat melahirkan, Mba Mentari kecelakaan pesawat, Mas Haidar hampir meninggal ... termasuk kamu yang pernah jadi korban dikeroyok sepuluh orang saat pertama kali pulang ke Indonesia saat Nay melahirkan" ucap Mba Gita.


"Jangan bawa-bawa Tuhan Mba" ingat Rama.


"Kamu ga pernah Mba hitung karena anak yang selalu bikin onar, malah jadi orang yang menjebloskan saya hari ini" umpat Mba Gita.


"Apa ada hubungannya Mba Gita sama kematian Mba Nay?" tanya Rama.


"Hahahaha ... Nay itu mati karena melahirkan. Kamu kan ada saat itu di Rumah Sakit, melihat semua yang terjadi. Terus mau nyalahin saya?" Mba Gita malah balik bertanya.