
Tubuh Izza lemas tapi masih dalam kesadaran penuh. Rama masih merangkulnya untuk menahan agar Izza tidak rebah menyentuh bumi, Izza pun masih nyaman menyenderkan kepalanya didada Rama sambil menangis.
"Walaupun tidak secara langsung Kakak ungkapkan, perlakuan Kakak terhadap Izza menunjukkan bahwa Kakak mulai menganggap bahwa Izza ada. Saat ini, jika Kakak ingin menyembuhkan luka hati terhadap masa lalu dengan wanita yang tidak bisa menerima Kakak, namun pernah dicintai dengan sangat dalam, Izza tidak akan berjanji akan bersabar dan akan selalu ada disisi Kak Rama, namun Izza akan selalu berusaha menghargai, mengerti dan melakukan apa yang Izza bisa" ungkap Izza dalam hatinya.
Walaupun Izza tidak merasakan sebuah rasa yang berbeda terhadap Rama, tapi dekat dengannya seakan menjadi sebuah solusi dalam hidupnya. Berkali-kali membantu dengan caranya yang tidak romantis bahkan terkadang menghujam sadis.
"Mampukah aku berjanji untuk tidak akan menyakitimu? rasanya tak ingin ada wanita lain yang mempunyai kisah seperti Mba Nay.
Mampukah aku belajar melupakan masa lalu? Mampukah aku belajar menerima keadaan dalam kenyataan yang ada?" gumam Rama pelan sambil mengusap kepalanya Izza untuk menenangkan.
Alex melihat Rama dan Izza saling berangkulan hanya tersenyum.
"Mereka berada di kubu yang berbeda, tapi sedari awal mengenal Mba Izza, rasanya pas buat Boss. Sekalipun mereka tidak saling kenal, pasti akan berusaha untuk saling dikenalkan. Boss.. berhentilah menyelidiki siapa Mba Izza, rasa penasaran itu muncul karena dialah cinta yang Boss cari. Percayalah Boss... dia wanita paling baik yang pernah saya kenal. Bahkan kalo bukan Boss yang ingin menikahinya, saya yang akan melindungi dia sepanjang hidupnya" ucap Alex pelan.
"Mas Boss ... Mas Boss... ini kaki gimana??? Mas Boss...." panggil Mang Ujang sambil duduk megangin kakinya yang rasanya ga sanggup buat berdiri.
*
Rama membimbing Izza menuju bangku yang ada disamping pintu darurat. Pihak security mendekati Izza dan Rama.
"Mba baik-baik aja?" tanya security.
"Hampir diculik sama empat orang lelaki kamu bisa nanya baik-baik aja?" semprot Rama.
"Maaf Pak, maksudnya kalo ada yang terluka bisa dibawa ke Klinik yang ada disamping apartemen" jawab security meluruskan ucapannya.
"Kenapa disini ga aman? bukankah harus ada security ditiap lantai? saya berkelahi dengan dua orang diantara mereka, ga ada tuh security yang datang. Memang tidak ada yang mengawasi CCTV. Bukankah ini prosedur standar menjaga keamanan suatu wilayah? para penyewa membayar biaya keamanan loh .. jangan pada makan gaji buta dong" protes Rama makin emosi.
Izza menyolek lengannya Rama. Setelah Rama melihat kearah Izza, Izza memberikan isyarat agar Rama bisa lebih sabar.
"Maaf Mas .. kami sedang ada pertukaran shift, jadi operan jaga dulu. Lagipula yang masuk kesini memang harus ada kartu aksesnya. Kartu akses itu hanya dimiliki oleh penyewa dan pemilik unit" jelas security.
"Saya nanti minta rekaman CCTV untuk pelaporan. Itu kan penculik yang satu udah ketangkap, tolong disiapkan juga berita acaranya disini. Saya akan bawa kasus ini ke pihak yang berwajib. Jika Anda semua ga bisa diajak kerjasama, saya juga akan melaporkan bahwa tempat ini tidak aman untuk penghuninya. Mau nama Apartemen ini dipertaruhkan?" ancam Rama makin ga main-main.
"Untuk hal seperti itu bisa kami berikan Mas, nanti ada komandan kami yang akan menjelaskan. Tapi kan semua ada prosedurnya" jelas security merendah agar Rama ga makin emosi.
"Udah ... udah... nanti pengacara saya aja yang kesini, silahkan jelaskan prosedurnya seperti apa" kata Rama sewot.
"Sekali lagi kami atas nama tim keamanan, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian ini. Kami akan membantu memberikan kesaksian jika diperlukan" ucap security dengan sopannya.
Mang Ujang masih gemeteran melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat. Dia pernah menonton film action, tapi melihat Rama dan Alex baku hantam dengan para penculik, rasanya nyali ciut, kepala pusing, kekhawatirannya takut kena sasaran bogem mentah juga meningkat. Pernah melihat orang berkelahi tapi ga sampe pake pisau. Mang Ujang ga pernah merasakan apa itu tawuran. Sekolah di desa membuatnya sangat jauh dari kenakalan remaja, hanya sebatas cinta monyet dan bolos sekolah aja yang dia tau.
Alex menghampiri Rama dan Izza.
"Lex ... ini kunci.. mobil saya ada didekat pintu masuk, kamu bawa kesini. Sama nanti tolong bantu bawa barangnya Izza yang ada di kamarnya" perintah Rama.
"Baik Boss" jawab Alex sambil menuju parkiran mobil.
.
Untunglah barang milik Izza belum dibongkar, semua baju dan keperluan kuliah masih ada didalam tas. Jadi Alex bisa langsung membawanya. Hanya ada beberapa kosmetik dan buku yg ada di meja, Alex memasukkan kedalam kardus yang ada disana.
Izza sudah duduk di mobil didampingi sama Rama.
"Mau minum Za?" tawar Rama.
Izza menggeleng lemah.
"Shaum?" tanya Rama.
Izza mengangguk pelan.
"Mas Boss... kaki saya gemeteran, susah payah bangun dari sana ke mobil. Mas Boss ga ada sayang-sayangnya sama Mamang. Bantuin bangun kek atau ditanyain kek. Pokoknya Mamang ga sanggup nyetir kayanya. Mas Boss oke kan? ga ada yang sakit atau luka?" ucap Mang Ujang yang sudah duduk dibangku depan.
Alex datang membawa barang milik Izza, kemudian dimasukkan kedalam mobilnya Rama.
"Sudah semua dimasukkan Boss. Ini kartu akses unit apartemennya" lapor Alex sambil memberikan kartu ke Rama.
"Lex .. bisa tolong anterin saya sampai rumah? kamu nyetir ya" tanya Rama.
"Bisa Boss, saya kasih kunci motor dulu ke teman" pamit Alex.
.
Mobil bergerak menuju rumah Pak Isam. Alex lewat tol, memang jam segini sudah saatnya jam pulang kerja, jadi jalanan sudah mulai macet.
"Lex .. mampir ke minimarket dulu ya di rest area" perintah Rama.
"Siap Boss, sebentar lagi ada rest area" jawab Alex.
Mang Ujang yang dari tadi duduk disebelah Alex masih agak ketakutan, ditambah melihat sosok Alex yang tinggi besar seperti Rama, hanya bedanya Rama ga segemuk Alex. Suaranya juga sangat laki banget. Kulitnya juga tampak gelap walaupun dia bukan orang daerah Indonesia timur.
"Ini siapanya Mas Boss ya .. kok manggilnya Boss juga. Mas Boss juga kayanya udah akrab banget. Perasaan Mas Boss ga pernah ketemu sama orang ini deh" tanya Mang Ujang dalam hatinya.
Kondisi Izza sudah mulai agak tenang. Tangannya masih kuat menggenggam tangannya Rama tanpa dia sadari. Rasa takut yang dirasakan Izza sepertinya membuat dia agak shock.
Begitu sampai di rest area, Rama meminta Alex membelikan minuman hangat untuk Izza dan minuman dingin untuknya sekedar membatalkan puasanya. Alex juga membelikan makanan dan minuman untuk dirinya sendiri dan Mang Ujang.
.
Selepas sholat Maghrib, perjalanan dilanjutkan.
"Bang Alex kok manggilnya Boss ke Kak Rama? Bang Alex kenal sama Kak Rama?" tanya Izza begitu otaknya mulai bisa berpikir.
Alex diam sambil melihat kaca mobil, sepertinya meminta Rama yang menjelaskan.
"Alex ini orang yang saya minta buat jagain kamu selama ini" buka Rama.
"Jagain? buat apa? Apa Kak Rama tau kalo hal ini bakalan terjadi sama Izza?" tanya Izza.
"Sejak kasus Mba Gita terkuak dan akhirnya ditangkap, sejak saat itu Alex selalu ada didekat kamu. Kalo kejadian hari ini diluar dugaan, tapi saya sudah memprediksi akan kejadian, karena jaringan itu sangat kuat dan luas. Seperti yang pernah saya bilang, Mba Zizi yang ada didalam penjara aja bisa mereka musnahkan, apalagi kamu yang bebas diluaran" jelas Rama panjang lebar.
"Buat apa Kakak meminta orang untuk menjaga saya? sebegitu berharganya saya buat Kakak?" tanya Izza makin penasaran.
"Nanti kalo kamu udah tenang .. saya jelasin ya. Pokoknya sekarang kamu fokus buat menenangkan diri" janji Rama.
"Makasih ya Kak.. entah gimana nasib saya kalo Kak Rama ga datang" ucap Izza tulus memandang wajah Rama yang sangat kusut karena tadi berkeringat.
"Udahlah .. hanya kebetulan aja. Bersyukur pada Allah sudah menggerakkan hati saya buat datang ke apartemen" kata Rama.
"Makasih" jawab Rama.
.
Pak Isam dan Mas Haidar tentunya sangat kaget mendengar cerita kalo Izza akan diculik. Rama juga belum bisa menjelaskan secara menyeluruh karena masih akan mendengar pengakuan dari salah satu penculik yang berhasil ditangkap.
Izza diminta bertenang di kamar milik Mba Mentari. Sedangkan ketiga lelaki masuk ke kamar Pak Isam untuk bicara lebih lanjut.
Alex diminta untuk tetap berada di rumah Pak Isam, dia sekamar sama Mang Ujang.
"Rama mandi dulu ya Pi .. bau banget" kata Rama sambil masuk ke kamar mandi Papinya.
Lima menit kemudian keluar hanya pakai lilitan handuk dipinggang.
"Pinjem kaos Pi .. baju Rama kan diatas" kata Rama sambil menuju lemari bajunya Pak Isam.
"Mas .. bisa minta tolong ga? ambilin daleman di kamar, bisa horor ini keluar pake handuk gini" ucap Rama.
Mas Haidar menuju pintu kamar dan keluar melangkahkan kakinya ke kamar Rama di lantai dua.
Kamar Mba Mentari ada didekat tangga. Lamat-lamat dia mendengar ada suara tangisan dari dalam kamar. Mas Haidar yakin itu suara Izza, dibiarkan Izza menumpahkan segala emosinya.
.
"Bang Alex udah kenal lama sama Mas Boss?" buka Mang Ujang.
"Ini Mang Ujang supirnya Boss Rama kan ya?" tanya Alex.
"Iya .. atuh siapa lagi yang pantas jadi supirnya Mas Boss" jawab Mang Ujang rada sombong.
"Saya kenal Boss Rama tuh udah lama, saat beliau masih SMA, ya sekitar sepuluh tahun kurang lah" kata Alex.
"Terus kok tadi Mas Boss bilang kalo Bang Alex ditugasin buat ngawal Mba Izza, emang ada apa sama Mba Izza?" ujar Mang Ujang kepo.
"Mengenai siapa saya, kenapa saya harus ikutin Mba Izza dan lain sebagainya, silahkan langsung ditanyakan ke Boss Rama. Beliau yang lebih berhak untuk menjelaskan" ucap Alex yang masih mencoba berahasia sama Mang Ujang.
"Kenapa Mba Izza mau diculik ya? secara dia bukan orang kaya, lagian kalo tuh penculik minta tebusan juga kemana? orang tua ga ada, Kakak angkatnya di penjara, Panti Asuhan tempat dia tinggal udah dipindahin.. jangan-jangan salah sasaran kali tuh penculik" ungkap Mang Ujang.
Alex diam mendengarkan ocehan Mang Ujang yang tampak sok pintar dan gaya kaya jagoan.
"Mas Boss juga kaya punya indera keenam deh, jam dua siang bilang mau ke apartemen buat nemuin Mba Izza dan akan diajak pindah, terus di jalan pas adzan ashar, dia minta sholat dulu, alasannya nanti ga sempet. Kok ya kaya tau kalo Mba Izza mau diculik. Ini sebenarnya Mas Boss itu pengusaha atau gangster yang kaya di tipi itu ya? aneh deh" lanjut Mang Ujang.
Alex masih juga terdiam sambil memperhatikan Mang Ujang.
"Saya tuh tadi bukannya takut sampe ga bantuin Mas Boss. Cuma inget pesan orang tua saya, jangan mukul duluan kalo ga mau kena pukul" tambah Mang Ujang.
Alex cuma manggut-manggut.
"Bang Alex ini kalo ga berantem ga bisa ngomong ya? dari tadi diam menyimak, terus manggut-manggut.." tanya Mang Ujang.
"Udah selesai bicaranya? dari tadi ngoceh aja ga kelar-kelar" jawab Alex.
Mang Ujang rada takut juga ditanya seperti itu sama Alex.
"Udah Bang Alex" jawab Mang Ujang kalem.
Alex membuka jendela kamar, menyalakan rokoknya kemudian menghembuskan kepulan asap keluar dari jendela.
"Mba Izza memang dalam kondisi yang ga aman, hanya itu yang saya bisa kasih tau. Jadi saya harap Mang Ujang bisa ikut membantu menjaganya" kata Alex.
"Kenapa kita harus jagain?" tanya Mang Ujang ga paham.
"Apapun alasannya, dia adalah calon istri Boss kita kan? apa ga sedih nanti kalo Boss ga jadi nikah sama dia?" jawab Alex coba memutar cerita agar Mang Ujang ga banyak nanya.
"Iya sih .. tapi kayanya mereka ga pacaran kok, jadi ga bakalan sedih kalo ga jadi kawin" ujar Mang Ujang.
"Bisa aja kan mereka pacaran diam-diam? biasanya orang kaya ya gitu, alasannya karena menjaga privasi. Ranah asmara hanya bisa dirasakan berdua aja, ga perlu dibagi ke orang lain" lanjut Alex.
"Pacaran kalo diam-diaman gimana mau saling kenal? lewat chat gitu? cape amat ngetiknya" ujar Mang Ujang yang emang rada lola.
"Mikirin amat sih Mang.. itu bukan urusan kita. Mengenai apa Boss punya indera keenam, ketujuh, kedelapan.. saya ga tau. Tapi biasanya kalo orang udah klik tuh ya nyambung aja perasaannya" jawab Alex.
"Ah.. ga bener itu" sanggah Mang Ujang.
"Ga bener gimananya?" sahut Alex.
"Mamang sama Pipit aja saling mencintai, tapi ga punya tuh perasaan yang aneh pas dia dibawa cowo lain. Biasa aja kaya ga ada pikiran gimana-gimana kalo Pipit jalan sama orang lain" jawab Mang Ujang.
"Itu mah Mang Ujang aja yang ga punya perasaan" ledek Alex.
"Jangan sembarangan ya Bang Alex .. biar begini juga saya nih mantan playboy, sekarang udah insap. Sejak sama Mas Boss, saya ngaku kalah playboy sama dia .. hahahaha" canda Mang Ujang.
"Mang Ujang sayang ga sama Boss Rama?" tanya Alex yang membuat tawa Mang Ujang berhenti.
"Lah emangnya kita cowo apaan? masa sayang sama cowo. Pisang makan pisang dong. Mamang masih doyan cewe, amit-amit deh kalo sesama jenis" kata Mang Ujang sambil ngetok dinding.
"Bukannya sayang sebagai pasangan atau pacar Mang. Ya sayang sebagai adik dan kakak, atau sebagai atasan dan bawahan .. gitu loh Mangggg" lama-lama Alex gemes ngobrol sama Mang Ujang.
"Oh kalo yang itu mah jangan ditanya lagi. Walaupun belum setahun kerja sama Mas Boss, tapi Mas Boss banyak bantuin Mang Ujang, mulai dari uang, nasehat dan kasih saran. Ga cuma sama Mamang, sama keluarga Mamang pun dia perhatian. Ngobrol sama dia dah kaya ngomong sama gugel, serba tau.. jadinya kita bisa pinter. Walaupun rada ngeselin cara bicaranya, tapi niat dia tuh sebenarnya baik, cuma terlalu blak-blakan dan spontan" papar Mang Ujang.
"Kalo saya ya .. apapun akan saya korbankan buat Boss. Bukan hanya sekedar teman, Boss sudah seperti Kakak, guru, mentor bahkan saya anggap orang tua walaupun usianya ga beda jauh. Boss yang membuat saya bisa seperti sekarang, kalo bukan karena Boss Rama, mungkin saya udah keluar masuk penjara karena berbuat kriminal" jelas Alex.
"Sampe begitunya Bang Alex? emang Mas Boss ngelakuin apa sampe Bang Alex merasa hutang budi?" tanya Mang Ujang.
"Banyak... banyak banget Mang" jawab Alex.
"Terus kayanya Bang Alex juga udah lama kenal Mba Izza, gimana ceritanya?" ujar Mang Ujang.
"Intinya saya kenal Mba Izza ya karena Boss Rama. Tapi dalam perjalanan kami kenal, Mba Izza itu sosok luar biasa. Muda memang usianya, tapi pikirannya matang dan tahan banting terhadap situasi apapun. Hatinya sangat lembut walaupun kita liat seolah dia perkasa, serba bisa dan mau melakukan apapun untuk orang disekitarnya. Sebuah perpaduan unik kalo beneran bisa bersanding sama Boss Rama. Dari awal saya kenal, saya merasa memang Mba Izza ini cocok sama Boss. Mamang perhatikan deh baik-baik, dibalik kerasnya Boss, kalo berhadapan sama Mba Izza pasti banyak ngalah, ataupun kalo lagi emosi .. ya ga bakalan mandang kearah Mba Izza. Terus tadi liat ga.. bagaimana Boss pontang panting jagain Mba Izza? saya tau jaman Boss masih SMA emang ga ada takutnya kalo tawuran, tapi liat dia gebukin orang hari ini tuh kayanya beda. Layaknya seorang lelaki yang mempertahankan wanitanya. Liat juga kan tadi di mobil bagaimana Mba Izza merebahkan kepalanya di pundak Boss dan Boss mengusap kepalanya Mba Izza? Mereka saling mengisi" papar Alex.
"Ah itu mah bisanya Mas Boss aja ambil kesempatan. Dia mah setiap ada cewe kena masalah juga pada nempel ke pundaknya" ucap Mang Ujang.
"Boss tuh tahan ya sama Mang Ujang.. saya aja baru sejam rasanya kepala udah pening" sindir Alex.
"Emang saya biang penyakit apa?" ucap Mang Ujang.