HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 146, Failed



Sesampainya di rumah, kamar Mba Mentari sudah penuh sama hadiah-hadiah yang tersusun rapih. Kunci kamar diserahkan ke Izza setelah semua hadiah masuk kedalam kamar.


Rama dan Izza tidur di kamarnya Rama, Sachi sudah terus bersama mereka sejak pulang dari tempat resepsi.


"Sachi bobo disini ya Yah" pinta Sachi.


"Iya" jawab Rama.


"Sachi mandi dulu terus ganti baju, Mommy juga mau mandi. Mau bareng aja sama Mommy?" tanya Izza.


"Kok Ayah ga diajak mandi bareng?" ucap Rama.


"Tidak boleh Ayah .. Ayah lupa ya? kan Ayah bilang Sachi hanya boleh dimandiin sama Mommy, Mba Nur dan Mba Nenden. Yang lain tidak boleh apalagi laki-laki. Ayah kan laki-laki" ingat Sachi.


"Oh iya... Ayah lupa" kata Rama sambil menepuk jidatnya.


"Ga usah genit deh.. ada anaknya jangan aneh-aneh" ujar Izza dengan suara pelan mendekati Rama.


"Kita kan belum pernah mandi bareng De.. mau juga dong" sahut Rama nakal setengah berbisik.


Untunglah Sachi sudah ke kamar mandi, jadi tidak mendengar pembicaraan orang tuanya.


.


Izza dan Sachi sudah tidur, tampak keduanya sudah lelah. Rama masih bersantai di sofa sambil melihat HP nya. Banyak ucapan yang masuk, serta ada juga permintaan maaf dari beberapa orang koleganya yang tidak bisa hadir tapi mengirimkan perwakilan untuk ke acara resepsi.


Tidak ada rangkaian bunga yang mereka terima karena memang sudah ada rules nya dalam undangan agar tidak mengirimkan bunga untuk Rama dan Izza.


Di meja tergeletak hadiah dari Pak Flandy dan Mba Anindya serta titipan Mas Ivan, karena saat keduanya datang, semua hadiah sudah dibawa pulang ke rumah, jadi hadiah ini dibawa langsung oleh Rama.


Rama tergelitik penasaran ingin membuka kado yang ada di kamarnya. Kado yang pertama dibuka dari Mba Anindya, sepasang jam tangan yang ditaksir harganya mencapai dua ratus jutaan. Ada kartu ucapan standar dari brand tersebut, kartu garansi bahkan nota pembeliannya (hal ini berkaitan jika ada masalah dengan jam maka bisa ditukar atau diperbaiki).


Kado kedua dari Mas Ivan yang memberikan piyama dan lingerie hitam, sepertinya ini sepasang karena ada hiasan bordir yang mirip. Merek ternama pula dan yang Rama tau belum ada merek ini membuka outletnya di Indonesia.


Kado ketiga dari Pak Flandy, baru aja mau dibuka, ada orang yang mengetuk pintu kamarnya.


Rama membuka pintu kemudian keluar kamar.


"Ada apa Lex?" tanya Rama.


"Ayo Boss... ikut ke pos security" ajak Alex.


"Kenapa?" tanya Rama.


"Ojol bikin rusuh" jawab Alex.


"Terus apa hubungannya sama saya? punya aplikasi ojol aja ngga kok" kata Rama.


"Saya curiga dia ini suruhan dari Big Boss.. celingak celingukan aja di pagar. Ditanya security kaya orang bingung, akhirnya kita amankan dulu di pos. Menyebut-nyebut nama Mba Izza terus, ditanya tetap tidak mau jawab karena hanya ingin menyampaikan langsung ke Mba Izza" lapor Alex.


.


Rama dan Alex bergegas menuju pos security.


Sesampainya disana, ada driver ojol terduduk menunduk agak takut.


.


"Orderan buat siapa dan dari siapa?" tanya Rama langsung.


"Dari seseorang untuk my lovely Izza" jawab driver ojol sambil membaca nama yang ada dipaket.


"Siapa seseorangnya?" tanya Rama lagi.


"Maaf Pak.. pasti Bapak bukan my lovely Izza kan? nama Izza setau saya itu nama perempuan. Apa benar ada yang bernama Izza disini?" kata driver ojol.


"Ini rumah saya, jadi semua paket bisa titip di security, sudah saya instruksikan seperti itu.. paham?" ucap Rama masih datar.


"Tapi saya sudah dibayar dengan pesan harus yang bernama Izza yang menerima, jika bukan maka paket harus dibawa balik" driver ojol makin ngotot.


"Ya udah kamu bawa pulang aja" jawab Rama akhirnya ikut ngotot.


"Bapak ga bisa arogan seperti itu, saya ini driver ojol, harus menyampaikan sesuai permintaan" tetap driver ojol teguh pendirian.


Rama menggebrak meja, sontak semua kaget bahkan driver ojol sampai loncat dari tempat duduknya.


"Orang yang kamu maksud itu istri saya. Jadi saya berhak memperbolehkan atau tidak dia menerima paket atau bertemu dengan siapapun. Ini juga rumah saya, jadi saya bisa berbuat apapun. Pemilik aplikasi ojol tempat kamu kerja itu teman saya, apa perlu saya telpon dia untuk melaporkan salah satu drivernya?" jawab Rama agak mulai tinggi nada bicaranya.


"Kalem Pak.. semua bisa dibicarakan baik-baik. Saya bisa sebentar aja bertemu langsung sama Ibu Pak? soalnya ini sudah dipesan sama yang order ojol kalo harus langsung Ibu Izza yang terima. Saya takut ada apa-apa sama saya kalo tidak menjalankan tugas" kata driver ojol.


"Saya yang terima aja, mendingan kamu pulang deh daripada saya habis kesabaran buat ngadepin kamu, yang ada kamu bisa babak belur disini atau mau urusan di kantor polisi aja yang cepetan?" usir Rama yang udah kesel.


"Saya foto dulu ya Pak buat laporan kalo barang diterima sama suaminya, jadi saya ga disalahin sama yang order" ucap driver ojol.


"Iya.. cepet foto aja.. ribet banget malam-malam bikin orang emosi aja" jawab Rama.


Driver ojol akhirnya pergi meninggalkan rumah, Rama minta Alex untuk membuka paket diluar pos security.


Karena khawatir isinya bahan peledak, makanya Alex coba mencium apa ada bau-bau mesiu apa ngga.


Para security yang tengah berjaga juga penasaran sama isinya, tapi takut untuk mendekat.


Setelah dibuka ternyata isinya sebuah mainan elektrik dewasa yang mirip dengan alat kelamin lelaki dengan ukuran yang sangat besar.


"Ada nama pengirimnya atau ada kartu ucapan?" tanya Rama.


"Ada kartu ucapan Boss" jawab Alex sambil menyerahkan ke Rama.


"Buang aja barangnya" kata Rama sambil kembali masuk kedalam rumah.


Rama membaca kartu tersebut sambil naik tangga.


#To my lovely Izza.


Jika tidak puas dengan suami, bisa pakai ini. Jika masih kurang puas, bisa menemui saya. 🖤#


Rama merobek kartu ucapan kemudian membuangnya ke tong sampah.


.


Rupanya Alex malah meletakkan di pos security dan jadi bahan candaan para security yang ada.


Mang Ujang yang sepertinya baru bangun tidur, ikut gabung ke pos security.


"Ngapain beli beginian?" tanya Mang Ujang kaget melihat alat tersebut sedang dimainkan sama security sambil ketawa geli.


"Ada orang kirim Mang" jawab Alex.


"Buat siapa?" tanya Mang Ujang penasaran.


"Buat Mba Izza" jawab Alex lagi.


"Ini orang mau nantangin Mas Rama atau gimana ya? segala kirim ini. Emang orang ini tau ukurannya Mas Rama sebesar apa?" kata security heran.


"Apa punya Mas Rama ga sebesar ini kali, jadi Mba Izza order" lanjut security lainnya.


"Kalo ngomong jangan sembarangan ya, Mba Izza bukan cewe model gila seperti itu. Dia wanita terhormat.. ini pasti ada yang ga suka sama kebahagiaan mereka" ujar Alex marah.


"Terus ini mau dibuang aja?" tanya security.


"Terserah aja, yang penting jangan sampai ketangannya Mba Izza" ingat Alex.


"Sini buat Mamang aja, lucu juga nih" kata Mang Ujang.


"Mang Ujang jangan macam-macam ya, nanti Boss marah baru tau rasa" ingat Alex.


"Ya kan lucu aja buat mainan" ucap Mang Ujang.


"Tau Mang... udah mah ntar Mas Rama marah, eh sama istri juga kena embargo loh. Punya istri sholehah gitu mah disayang-sayang, jangan malah berbuat aneh-aneh" nasehat security.


.


Rama masuk kedalam kamar kemudian menuju kamar mandi untuk cuci kaki.


"Abis dari mana Kak? kok keluar kamar jam segini" tanya Izza mengejutkan Rama yang baru aja keluar dari kamar mandi.


"Ngecek kondisi sekitar rumah aja" jawab Rama yang berjalan mendekat kearah tempat tidur.


"Tidur Kak.. emang ga cape tadi diresepsi kita berdiri terus?" tanya Izza.


"Capelah.. ini anak ya.. kalo tidur pasti nguasain kasur .. Kakak tidur dimana ini?" kata Rama yang melihat Sachi tidur membentangkan tangan dan kakinya.


"Dipindahin dulu lah Kak, dia ditengah kaya biasanya kan muat. Tempat tidur ini kan gede" jawab Izza.


Rama mengatur posisi tidurnya Sachi.


"Kok malah digeser ke pinggir sih Kak, nanti jatuh dianya" protes Izza.


"Kan dikasih guling dulu, nanti baru dipindahin ketengah, Ayahnya mau bermesraan dulu sama Mommy" jawab Rama sambil mematikan semua lampu kamar.


Setelah itu Rama langsung berada tepat diatas tubuhnya Izza.


"Nanti dia bangun Kak.. nanti kalo mau mesra-mesraan pas ga ada Sachi aja" pinta Izza.


"Makanya lampu dimatikan semua, biar dia ga liat De. Dia kan sekarang tidurnya pasti minta sama Mommy.. terus kapan kita bisa indehoy kalo dia nempel kita terus" ucap Rama pelan.


"Kemarin kan udah Kak.. kayanya setiap hari deh" bisik Izza.


"Namanya juga pengantin baru.. wajar aja ambil jatah setiap hari. Lagipula yang kemarin ya kemarin.. yang sekarang ya lain lagi" ujar Rama dengan genitnya.


Izza agak khawatir Sachi bangun, makanya mencoba tetap menolak dengan halus. Tapi Rama rupanya tidak mampu menahan gejolak dalam dirinya.


"Ga pake macem-macem deh, kita langsung aja, ya paling ga sampe sepuluh menit" bisik Rama.


"Nanti kalo Sachi bangun gimana?" tanya Izza yang masih aja khawatir.


Rama ga pake basa-basi, dia masuk kedalam selimut dan memulai permainan. Rupanya gerakan dan nafas keduanya yang agak cepat membuat Sachi bangun (keduanya masih berpakaian lengkap dibagian atas, sedangkan bagian bawah pun tertutup rapat selimut walaupun tidak pakai bawahan).


"Ayah ... Mommy..." panggil Sachi yang sudah duduk sambil ngucek matanya.


Rupanya dia ketakutan karena gelap gulita, satu-satunya sumber cahaya hanya dari lampu yang ada diluar kamar dan itu tidak mampu menerangi kamar Rama.


Memang tujuan mematikan lampu, agar kalo Sachi terbangun dia tidak melihat aktivitas Rama dan Izza yang sedang bermesraan.


"Iya.. Mommy disini" jawab Izza yang buru-buru menaikkan celananya.


"Kok gelap" ucap Sachi ketakutan.


"Ayah nyalain dulu ya lampunya" kata Rama sambil kembali memakai celananya didalam selimut.


Beberapa menit kemudian, lampu kamar sudah nyala kembali.


Izza kembali meminta Sachi untuk tidur. Rama cuma bisa senyum-senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala.


"Lampunya mati tadi ya Yah?" tanya Sachi yang sekarang posisi tidurnya berada diantara kedua orangtuanya.


"Ya.. " jawab Rama langsung.


"Sachi pindah ke kamar Sachi ya Yah.. disana lampunya ga pernah mati. Biasanya kamar Ayah ga pernah mati lampu, lampunya udah jelek kali Yah.. diganti aja" ujar Sachi.


"Iya nanti diganti... Sachi berani tidur sendiri di kamar?" tanya Rama memastikan.


"Sama Mommy lah" jawab Sachi.


"Kalo sama Mommy ya Sachi tidur aja disini, masa nanti Ayah tidur sendiri" kata Rama.


Izza meninabobokan Sachi lagi, karena sudah sangat ngantuk, Sachi langsung tertidur.


"Udah tidur dia?" tanya Rama.


"Jangan macam-macam deh Kak.. dia kan mulutnya sama kaya Mang Ujang, nyeplos aja. Malu nanti kalo dia ngomong tentang mati lampu atau dengar kalo kita tadi ngos-ngosan. Tau sendiri kan disini pada demen banget ngeledek" sahut Izza.


"Kentang banget ini De.. " jawab Rama.


"Apaan kentang?" tanya Izza.


"Kena tanggung" ujar Rama.


"Udah dibilang kan dari awal, nanti malah ada gangguan, bener kan kejadian" jawab Izza.


"Besok Sachi tidur sama Mba Nur lagi aja deh, udah gede juga, harus diajarin tidur pisah sama kita. Dulu bisa kok tidur sama Mba Nur" kata Rama.


"Sabarlah Kak.. dia baru ngerasain punya keluarga utuh, nanti kalo Mas Haidar sudah nikah juga dia akan punya Mama baru. Kakak lupa janji sama almarhumah Mamanya Sachi? kan katanya janji mau jaga Sachi" ucap Izza.


"Iyaaaa .." jawab Rama sambil menuju kamar mandi untuk mandi.


💐


"Segala beli barang seperti ini buat apa A'? astaghfirullahal'adzim... kita bukan orang yang ga punya agama A'. Mainan ini diciptakan oleh kaum yang melegalkan hubungan intim sebebas-bebasnya. Bisa jadi dipakai oleh kaum sesama jenis atau wanita yang tidak mau menikah sebagai pemuasnya. Aa' mau termasuk seperti kaum itu?" oceh Maryam yang marah melihat Mang Ujang menunjukkan mainan elektriknya.


"Ya kan cuma sekedar lucu-lucuan aja" jawab Mang Ujang.


"Dan ga lucu sama sekali" marah Maryam.


Maryam langsung tidur, padahal Mang Ujang udah mencoba merayunya.


🌷


Jam enam pagi, Rama dan Mas Haidar baru pulang dari Mesjid. Mereka berdua langsung menuju kolam renang.


Sachi juga sudah bangun dan ikut Izza ke dapur. Walaupun di dapur, kembali Sachi tiduran di bangku.


Ga mungkin meninggalkan Sachi di kamar sendirian karena dia ga akan bisa membuka pintu yang sudah elektronik seperti itu.


.


"Mas Haidar sama Mas Rama belum makan udah renang aja" kata Mba Nur.


"Udah biasa kan mereka abis subuh pada nyemplung.. oh ya Mba Nur.. tolong Sachi dibawa ke kamar tamu aja atau di sofa ruang tengah, kasian tidur sambil duduk" pinta Izza.


"Iya Mba" jawab Mba Nur.


Pas Mba Nur mau angkat tubuhnya Sachi, Alex masuk ke dapur. Akhirnya Alex yang menggendong Sachi untuk dipindahkan ke kamarnya Sachi diatas.


"Langsung keluar kamar ya Bang Alex.. ga boleh berduaan di kamar sama Mba Nur" wanti-wanti Izza.


"Siap Mba" kata Alex.


.


"Gimana perkembangan langkah hukumnya Mas?" tanya Rama sambil duduk ditepi kolam renang.


"Alhamdulillah kemarin pihak pengadilan sudah langsung ngobrol sama Sachi, ya masih polos memang, menceritakan tentang bagaimana dia di rumah ini, pintar jawabnya. Tapi tidak menghilangkan ciri khas anak-anak" lapor Mas Haidar.


"Semoga semua berjalan sesuai rencana" kata Rama.


"Aamiin ya rabbal'alamin.. gimana sudah nikah hampir satu setengah bulan ya.. rasanya enak atau enak banget?" goda Mas Haidar.


"Luar biasaaaa" sahut Rama.


Keduanya tertawa bersama.


"Bahagia banget itu Kakak Adik" kata Alex yang sudah kembali ke dapur.


"Laki-laki kalo ketawa geli berdua pasti obrolannya ga jauh dari perempuan" tebak Izza.


"Wah Mba Izza... paham banget dunia lelaki dari gestur ketawanya" ucap Alex.