HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 176, Peace



Rama dan Candra akan membuat temu janji jika sudah berada didaratan Jakarta, Candra dan Mas Akmal ingin meninjau langsung Audah Hotel bersama Pak Sanjaya. Guna melihat bagaimana prospek bisnis Audah Hotel secara real. Lagipula Rama memang sudah bilang sebelumnya ke Candra jika kunjungannya ke Jaya Resort murni bulan madu, bukan untuk urusan bisnis, makanya sejak awal tidak berbicara tentang bisnis.


Rombongan Rama meninggalkan Jaya Resort hari Sabtu pagi, agar siang sudah bisa sampai di rumah. Sachi sudah rewel karena kangen sama Mommynya. Rencananya juga Sachi akan ikut menjemput Rama dan rombongannya di Ancol.


.


Dalam perjalanan pulang, Rama dan Alex berbincang ringan. Mang Ujang masih mengurus Maryam yang mabuk laut. Untunglah Mba Nur dan Izza tidak mabuk laut, keduanya sudah minum obat anti mabuk dan menempelkan plester dibagian pusar (udel) masing-masing (konon kepercayaan orang dulu, jika akan naik kendaraan dan jaraknya lumayan jauh, bisa menempelkan plester dibagian tersebut agar tidak mabuk perjalanan. Tidak ada penelitian ilmiahnya tentang hal ini, lebih kepada sugesti sehingga orang tersebut tidak mabuk dalam perjalanan).


"Waktu bersantai sudah berakhir Lex.. saatnya kembali kerja. Tapi kerjaan kamu sekarang udah jauh lebih teratur dibandingkan dulu. Sudah tidak ada misi mencari informasi lagi. Apapun nantinya yang akan terkuak lagi, biarlah muncul dengan sendirinya. Ga perlu kita cari-cari bagaimana awalnya. Terlalu mengerikan kenyataan masa lalu untuk kita ketahui semuanya, khawatir malah timbul lagi masalah baru kalo kita mengorek luka yang lama. Apalagi berkaitan dengan Izza. Sekarang dia sudah menjadi pribadi yang baru, biarlah dia berproses kedepannya menjadi insan unggul, tidak hanya pembuktian terhadap dirinya sendiri, tapi membuktikan orang-orang yang dulu menyakitinya. Agar mata mereka terbuka kalo orang yang selama ini dianggap hanya sampah ternyata adalah berlian yang terlihat setelah proses pengasahan perjalanan hidup" ungkap Rama.


"Siap Boss, pokoknya apapun yang diperintahkan akan saya jalankan dengan baik" jawab Alex.


"Sekarang kita sudah sama-sama bergelar suami, saatnya sadar diri kalo keselamatan kita itu penting untuk keluarga. Ga usah terlibat sesuatu masalah yang membahayakan jiwa. Tinggal tunggu sidang kasusnya Mba Gita yang akan memasuki sidang putusan Minggu depan, proses penjualan Audah Hotel dan kembali fokus ke Abrisam Group adalah agenda yang akan kita hadapi bersama dalam bulan ini. Silahkan kamu dan Mba Nur tinggal di rumah kalo memang nyaman, tapi kalo merasa ingin lebih mandiri pun saya ga larang untuk tinggal diluar" kata Rama.


"Saya sudah bersumpah akan mengabdikan diri saya buat Boss dan keluarga, kalo Boss ga memecat, maka saya akan terus kerja sama Boss. Kami sudah sepakat akan tinggal di rumah Boss saja, biar lebih cepat juga kalo dibutuhkan. Mengenai istri saya, terserah bagaimana Boss aja. Mau tetap bekerja sebagai pengasuh Sachi ya silahkan, mau diganti pun silahkan" jawab Alex.


"Sebenarnya ini mah ngobrolnya sama Izza aja, tapi kalo saya ditanya ya maunya tetap Mba Nur yang mengasuh Sachi. Agenda paling dekat ini kan mau ada pernikahan Mas Haidar, pasti fokus kami semua akan tertuju kesana, Sachi butuh pendampingan diluar kami. Cuma Mba Nur yang bisa kami percaya buat mengasuh Sachi. Tapi tenang aja, akan diatur jam kerjanya sama Izza jadi bisa tetap fokus bisa urus kamu" kata Rama.


"Mas Haidar mau nikah sama siapa Boss? bukannya lagi ga ada calon istri? kok kaya buru-buru banget" ujar Alex yang belum tau perkembangan yang ada.


"Mba Rani.. ya sama-sama masih sayang. Kemarin mungkin ada kesalahpahaman ditambah ngobrol selagi badan cape, jadi kan ada percikan emosi didalamnya. Sekarang udah sama-sama bisa berpikir jernih, jadinya langsung memutuskan menikah aja. Semoga ini menjadi pernikahan terakhir buat Mas Haidar. Melihat kebahagiaan Mas Haidar itu keinginan terbesar saya, sepanjang hidupnya selalu bermasalah sama urusan asmara. Semoga Mba Rani bisa memberikan cinta luar biasa untuk Mas Haidar, tentunya juga bisa menciptakan keluarga yang utuh buat Sachi" harap Rama.


"Alhamdulillah.. akhirnya Mas Haidar menemukan orang yang tepat sebagai pendamping. Ya wajar sih kemarin berpisah sama Mba Anin, orangnya ribet kaya gitu. Saya aja yang ga kenal-kenal banget aja sebel sama Mba Anin, apalagi yang lebih kenal" ujar Alex.


"Opportunis banget ya.. kamu liat kan kemarin pas Mba Anin ketemu Izza. Bagaimana dia menyelamatkan diri tanpa mikir orang lain selamat atau tidak. Syukur Izza bisa menghadapi dia dengan baik. Kalo saya udah males banget ngadepin Mba Anin" lanjut Rama.


"Beuhhh .. itu mah kece badai. Membunuh tanpa menyentuh. Mba Izza saat itu kaya reinkarnasinya Boss.. cara bicara, gerak tubuh dan pembawaannya kaya kerasukan Boss.. hahaha .. belum pernah liat Mba Izza kaya gitu. Tau sendiri kan orangnya pasrah, ga banyak bicara, jarang marah, nada bicaranya juga biasa aja .. tapi kemarin itu Mba Izza menunjukkan kelasnya sebagai istri seorang pimpinan perusahaan besar. Selain itu, Mba Izza juga mampu bicara santai bersama Pak Akmal dan Pak Candra, ada keyakinan dalam diri saya kalo mereka sangat tertarik dengan Audah Hotel. Boss memang sutradara yang handal, tau kapan pemainnya tampil lengkap dengan karakternya" puji Alex habis-habisan.


"Ga percuma dong ya saya masukkan ilmu ke dia tiap malam .. hahaha" kata Rama.


"Itu mah bukan ilmu Boss .. tapi yang lain... hehehe" ledek Alex yang keliatannya sekarang udah mulai santai cara bicaranya.


"Izza memang punya potensi yang amat besar, perpaduan smart dan sumeh kalo orang Jawa bilang. Jauh sama karakter saya yang kaku dan detail. Saya ingin orang menilai dia tanpa bayang-bayang nama Abrisam, harga dirinya harus dipulihkan didepan Mba Anin dan lainnya. Membalas masa lalu bukan hanya dengan kekerasan, tapi cukup dengan kata-kata pun lebih tajam dari pedang. Selepas ini semua, saya berharap Izza bisa segera hamil, udah ingin banget liat bagaimana mini me ada" kata Rama.


"Oh jadi belum hamil Boss? kirain udah hamil. Tapi lucu juga kalo Boss punya anak sendiri, penasaran gimana sifatnya, secara Ayah dan Mommynya punya karakter yang berbeda" ucap Alex.


"Semoga secepatnya ya, siapa tau pulang dari sini ada hasil" harap Rama.


"Aamiin ya rabbal'alamin, siapa tau kita bisa bareng jadi Bapaknya" jawab Alex.


🌺


Sesampainya di dermaga Ancol, Sachi langsung nempel ke Izza. Padahal ada Mba Rani dan Mas Haidar ikut menjemput, tapi Sachi maunya sama Izza aja.


Di rumah pun amat manja sama Izza, dari mulai tidur siang, makan, mandi dan bermain semua maunya sama Izza.


.


Malam ini Sachi minta tidur sendiri, katanya mau belajar mandiri. Sebelum tidur Izza menemani sambil sedikit bercerita tentang kegiatan Sachi selama Izza pergi.


Setelah Sachi tidur, Izza kembali ke kamar. Rama ada didalam, sibuk dengan pekerjaannya yang seakan ga kunjung usai.


Sebenarnya dari tadi siang, Izza sudah mulai agak gatal, tapi ga terlalu dirasa karena sempat berjemur terkena sinar matahari.


Dan hal yang dikhawatirkan Izza pun kejadian. Saat akan mengistirahatkan tubuhnya, mulai timbul rasa gatal dan kulitnya kemerahan.


Karena obat alerginya masih ada di kamar, jadi Izza langsung meminum obatnya. Karena terlalu fokus, Rama sampai tidak memperhatikan kalo Izza sedang kambuh alerginya.


Walhasil ga sampe sepuluh menit, Izza sudah mendarat di kasur yang empuk dan langsung tertidur nyenyak.


Setelah pekerjaan selesai, Rama merapihkan laptop dan berkas kedalam tas kerjanya. Mematikan lampu di meja kerja dan mengambil minum di kulkas yang ada didepan kamarnya.


Izza pakai baju lengan panjang lengkap dengan celana panjangnya dari bahan kaos. Ditambah pakai selimut tebal, AC suhunya dinaikkan biar ga terlalu dingin.


"De.... kok malah ditinggal tidur sih. Ibaratnya anak sekolah udah belajar giat sampe ambil jam tambahan tapi ga kunjung ujian nih, jadi ilmunya ga bisa dikeluarkan" panggil Rama ngomong sendirian.


Karena Rama memang tidak tau kalo Izza meminum obat alergi, jadinya Rama bete sendiri. Sudah berusaha memanggil Izza tapi Izza ga kunjung bangun.


Rama akhirnya memutuskan mandi malam, menghilangkan hawa panas ditubuhnya. Kemudian berganti sama kolor batik dan kaos buntung favoritnya kalo santai didalam kamar, apalagi kamar udaranya jadi panas karena AC nya ga dingin.


Setelah mandi, Rama baru memperhatikan wajahnya Izza yang masih memerah, tapi alerginya sudah mulai berkurang.


"Oh... lagi alergi rupanya... pantes dipanggil ga nyautin, abis minum obat nih pasti" kata Rama.


Diambilnya bedak tabur untuk gatal yang direkomendasikan oleh temannya. Rama menaburkan bedak tersebut ke wajah, kaki dan tangannya Izza.


Rama melihat kebagian dalam tubuh Izza, ada juga bekas alergi yang kemerahan. Sebenarnya agak khawatir untuk menaburkan bedak kebagian dalam tubuh Izza, dia khawatir ga bisa menahan hasrat kelaki-lakiannya. Tapi karena kasihan melihat kulit Izza yang kemerahan, akhirnya ditaburkan juga bedak tersebut keseluruh tubuh Izza.


Rama hanya tidur sebentar, jam dua lewat sudah bangun lagi dan "berbincang" dengan PenciptaNya. Lanjut hingga adzan subuh berkumandang, karena sudah jam lima lewat dan Izza belum kunjung bangun juga, Rama langsung membangunkan Izza dengan cara dipeluk dan dicium beberapa kali.


"Bangun De ... belum sholat subuh kan?" bisik Rama yang membuat Izza kegelian karena udara yang masuk ke telinganya lewat hembusan nafasnya Rama.


"Mata bawaanya rapet aja nih kalo abis minum obat alergi" jawab Izza sambil memejamkan matanya.


"Sholat dulu lah... nanti tidur lagi juga boleh" ucap Rama sambil menarik tangan Izza biar duduk.


"Ya" ucap Izza lemas.


Izza jalan masih sempoyongan karena masih terasa ngantuk berat. Izza ambil wudhu dan langsung sholat subuh. Selepas sholat dia tidur lagi.


🌺


Pekan ini sangat padat kegiatan karena di keluarga Pak Isam sedang mempersiapkan pernikahannya Mas Haidar sama Mba Rani bulan depan.


Hanya Rama yang tidak ikutan sibuk sama sekali, baginya buat apa ikut sibuk jika semua sudah ada WO (Wedding Organizer) yang urus.


Hari ini Izza diajak sama Mba Rani dan Mas Haidar untuk test food catering rekanan dari pihak WO. Rama ga mau ikut karena hari libur adalah hari dimana dia ingin santai di rumah dan bisa menikmati kasur dengan puas. Apalagi pekan ini dia harus merapihkan semua pekerjaan untuk dua pekan kedepan. Izza sudah meminta Rama mengosongkan jadwal menjelang pernikahan Mas Haidar.


.


Pak Isam, Izza dan Mas Haidar sedang duduk santai sambil mengawasi Sachi yang main sepeda di halaman belakang rumah.


"Za... Rama kayanya pulang malam mulu ya belakangan ini" tanya Mas Haidar.


"Ya.. Lagi sibuk Mas, kan mau ambil cuti buat pernikahan Mas" jawab Izza sambil menikmati kudapan yang ada di meja.


"Tapi Mas perhatiin juga udah ga semesra dulu, kalian baik-baik aja kan Za?" tanya Mas Haidar lagi.


"Alhamdulillah baik Mas, bukan ga mesra ya.. lebih tepatnya pas Kak Rama pulang, semua orang sudah tidur, jadi ga keliatan kami berduaan" jawab Izza.


"Tapi kok feeling Mas tuh kayanya gimana gitu, dia jadi makin diam sama keluarga. Apalagi nih ya, Mas lagi nyiapin pernikahan, kok dia kayanya kurang antusias, biasanya kalo ada acara pasti dia tanya ini itu" beber Mas Haidar.


"Maaf ya Mas, mungkin Kak Ramnya cape kali, kalo banyak diam memang dasarnya pendiam kan? Kadang sampai ke rumah juga banyak langsung tidur, ga sering diskusi lagi. Kaya sekarang nih, udah bilang mau tidur aja, ga mau kemana-mana dan ga mau ngapa-ngapain" jawab Izza.


"Udahlah Mas .. orang kan punya masalahnya sendiri, mungkin dia ga mau berbagi dulu sama kita. Tapi Papi yakin kok kalo anak yang satu itu bisa handle masalahnya sendiri. Dia ga mau ganggu kita dengan persoalan dia" tengah Pak Isam.


.


Sudah ada beberapa perusahaan yang berminat dengan Audah Hotel, tinggal semua mempelajari tinjauan bisnis yang diberikan oleh Rama.


Ahad pagi, Rama sudah siap sama motornya. Dia mau ke makamnya Mami, Mba Nay dan makam mertuanya yang ga jauh dari makam Mba Nay. Izza tidak diajak, karena Sachi ga mau ditinggal sama Izza dan Sachi masih takut sama areal pemakaman.


.


Sepulang dari makam, Rama meminta uang ke Izza lima ratus ribu, untuk ke bengkel motor, mau ganti oli. Rama meminta tolong ke supirnya Pak Isam untuk ke bengkel.


Izza sedang merapihkan daftar undangan bersama Pak Isam dan Mas Haidar. Rama tiduran dipangkuannya Izza.


"Tenang aja sayang.... nanti kakak ganti kalo gajian ... beneran deh" janji Rama.


"Minta sekarang ditransfernya Za, nanti akhir bulan dia pura-pura lupa" ingat Pak Isam.


"Bener juga nih idenya Papi. Nanti pura-pura lupa dengan alasan sibuk" jawab Izza antusias.


"Ampun deh perempuan udah kaya penyidik KPK aja, dicecer abis. Nih buka deh mobile banking di HP Kakak, masukin tuh jumlah yang tadi dipakai terus transfer ke rekening kamu, tau kan PIN mobile bankingnya apa" kata Rama sambil nyerahin HPnya.


Izza langsung mengambil HPnya Rama dan membuka mobile banking nya.


"Kuras aja Za... biar dia ga bisa macam-macam" tambah Mas Haidar.


"Lah.. uangnya Rama ga ada apa-apanya sama rekening dia Mas. Rama cuma pegang buat kebutuhan beli bensin sama kalo beli makan siang aja" jawab Rama sambil tersenyum.


"Bagus begitu, jadi semua diatur sama istri. Suami mah tugasnya nyari uang, setelah dapat ya serahin ke istri, mereka itu lebih pinter dari kita Ram. Prinsipnya mending uang kita diatur istri daripada diatur wanita lain" nasehat Pak Isam.


"Ehmmm... dapet dukungan nih dari mertua" ucap Rama ke Izza yang senyum-senyum aja setelah memindahkan saldo tabungan Rama kerekeningnya.


"Tinggal berapa uangnya Mas Boss sekarang Za?" tanya Mas Haidar becanda.


"Ya cukuplah kalo buat beli martabak Mas" canda Izza.


"Hahaha... kasian deh Mas Boss yang satu ini, manager keuangannya sadis.. hahaha, disisain buat beli martabak doang" ledek Mas Haidar.


"Jangan ketawa dulu, bentar lagi juga noh si reserse, lebih galak lagi. Tau sendiri Mba Rani biasanya interogasi gembong narkoba.. pucat-pucat deh Mas Haidar kalo diinterogasi ... wkwkwk" balas Rama sambil ketawa penuh kemenangan.


.


Senin pagi, Rama dan Izza mengunjungi Mba Gita. Rabu ini akan ada sidang keputusan, jadi tujuan mereka memberikan dukungan moril terhadap Mba Gita.


Mereka juga membawakan makanan dan minuman serta kebutuhan pribadi (seperti keperluan mandi, obat-obatan dan perlengkapan kewanitaan) buat Mba Gita.


Rama juga memberikan uang sekedarnya untuk Mba Gita, siapa tau nanti Mba Gita ingin membeli sesuatu.


"Terima kasih ya..." ucap Mba Gita berkali-kali.


"Yang sabar ya Mba.. semoga semua ada hikmahnya" kata Izza.


"Nanti kalo sudah ada keputusan, Mba akan dipindahkan ke lapas lainnya. Disini sudah overload" adu Mba Gita.


"Mba .. nanti kami coba upayakan untuk mengirimkan keperluan Mba lewat penjaga disana. Jika kami jarang berkunjung ya dimaklumi aja, selain jarak yang jauh, kedepannya kami akan coba ikut program kehamilan untuk Izza. Mohon do'anya aja ya Mba" pinta Rama.


"Ya.. semoga kalian cepat diberikan momongan" ucap Mba Gita.


"Aamiin ya rabbal'alamin.." jawab Rama dan Izza kompak.


"Terima kasih sudah memberikan bantuan hukum lewat pengacara, kalian orang-orang baik. Semoga setelah Mba bebas.. masih bisa kembali bersama kalian dengan kondisi yang lebih baik tentunya" kata Mba Gita.