Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
98. Keraguan Gu Yuena



"Aku terkejut bisa melihatmu kembali. Kupikir, kita tidak akan pernah bertemu sejak penyerangan di Kota Yin." Jin Xiao berkata dengan senyuman yang terparti, tampak menunjukkan kesenangannya telah bertemu teman lama.


Meski kenyataannya tidak seperti itu.


Gu Yuena membalas, "Jin Xiao, kita memiliki pemikiran yang sama. Melihatmu di sini, aku jadi berpikir bahwa pertunjukkan kita sebelumnya harus diulang kembali. Mungkin saja, dengan ini tujuan kedatanganmu akan terpenuhi."


"Haha, aku menantikannya. Tapi ...."


"Apa ada hal yang membuatmu keberatan?"


"Aku pikir tidak pantas jika kita melakukan pertunjukan di Istana Tianshuang. Kamu tahu lebih jelas bagaimana aturannya dibanding aku."


"Tidak ada terlalu banyak aturan di tempat ini. Bila Jin Xiao tidak bersedia, aku juga tidak akan memaksa." Gu Yuena tersenyum mengejek.


Hal tersebut membuat Jin Xiao sangat ingin berteriak dan memaki perempuan itu!


Sayangnya, Jin Xiao hanya bisa memasa topeng setebal mungkin dan tertawa ringan. "Nona Gu memang sangat pengertian."


Gu Yuena menarik alisnya, lalu melirik Gu Yueli yang tampak menenung sendirian. "Aku pikir Yueli lebih halus dan pengertian dibanding aku yang kasar ini."


Jin Xiao melihat ke arah Gu Yueli, sedangkan yang dilihat hanya memasang wajah bingung. Jin Xiao ingat bahwa mereka adalah saudara tiri. Pasti hubungan mereka tidak sebaik itu, sama seperti semua saudara di Istana Luye.


"Aku membawa Nyonya Ye untuk ikut bersamaku membuka wawasan. Aku harap Nona Gu tidak keberatan."


"Bukan masalah. Hanya saja, aku sedikit khawatir karena keberadaannya tidak sebaik yang kamu pikirkan." Gu Yuena berkata dengan jujur.


"Tidak sebaik bagaimana yang Nona Gu maksud?" Jin Xiao bertanya-tanya.


"Untuk ini, Yueli tahu lebih jelas. Bukankah begitu?" Gu Yuena menatap Gu Yueli dengan senyuman dingin.


Gu Yueli menghela napas. "Nona Jin, mohon maaf atas ketidaknyamannya. Sepertinya aku harus kembali ke klan untuk sebuah urusan mendesak."


"Begitu terburu-buru." Gu Yuena menopang kepalanya, menatap Gu Yueli dengan tatapan tertarik. Jelas sekali dia sedang mengejek perempuan itu.


"Nona Gu, aku sarankan padamu untuk tidak terlalu banyak melakukan kegiatan. Mengingat situasimu, Yueli harap Nona dapat mempertimbangkannya."


Tatapan Gu Yuena menggelap. Meski senyumnya masih ada dan tampak sangat tenang, hatinya jelas merasa gelisah.


Perempuan sok tahu itu sedang menasihatinya. Meski Gu Yuena tidak ingin percaya atau mendengarkan, tetap saja hal tersebut terus terngiang di kepalanya.


"Sampaikan salamku pada adik ipar. Aku akan berkunjung ke Klan Ye bila berjodoh." Gu Yuena menanggapinya dengan peringatan yang tersirat.


Jin Xiao yang menjadi pengamat tidak akan sadar apa saja yang mereka maksud melalui ucapan perpisahan tersebut.


Pada akhirnya, Jin Xiao menghampiri Gu Yueli untuk meyakinkannya agar tetap di sini. "Yueli, apa kau tidak bisa menemaniku lebih lama?"


Gu Yueli tersenyum kecut. "Ada sedikit masalah, jadi aku harus kembali secepatnya." Dia melirik Gu Yuena sekilas, lalu menatap Jin Xiao kembali. "Kamu baik-baik saja di sini."


Jin Xiao pun menghela napas. "Baiklah jika begitu mendesak, aku tidak akan memaksa. Ingatlah, sering-sering berkunjung ke Istana Luye bersama putrimu, aku akan menyambut dengan baik."


Gu Yueli mengangguk pelan. Tatapannya terarah pada Gu Yuena yang tampak merenung. Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu pada Gu Yuena, sosok tinggi muncul begitu tiba-tiba di belakang perempuan itu hingga membuat mereka berdua terkejut.


Ketika mengenalinya, sontak Jin Xiao dan Gu Yueli membungkuk untuk memberi salam.


"Yang Mulia."


Secara otomatis, mereka berdua diam di tempat tanpa berani mengatakan sepatah kata pun apalagi menaikkan pandangan. Ini pertama kalinya Jin Xiao bertemu dengan Bai Youzhe. Ia nyaris tidak bisa menahan tekanan yang dibawanya.


Gu Yueli di sisi lain terdiam tanpa bisa mengatakan apa pun. Dia menelan kembali kalimatnya sambil memperhatikan Gu Yuena dan Bai Youzhe diam-diam. Tidak disangka, pria yang pernah dikaguminya di masa lalu memiliki identitas seperti itu.


Mengabaikan dua perempuan yang terdiam akan kedatangannya, Bai Youzhe sepenuhnya terfokus pada Gu Yuena. Gu Yuena terlihat tertekan. Apa dua perempuan itu mengganggunya lagi?


"Nana."


Gu Yuena tersentak, kemudian menoleh ke belakang mengikuti asal suara. Entah bagaimana, ia menjadi kaku ketika melihat Bai Youzhe.


"Kamu di sini." Gu Yuena tidak dapat mengatakan hal lain karena pikiran yang kacau. Ucapan Gu Yueli masih terngiang-ngiang sehingga tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Bai Youzhe sadar atas ketidakyamanan Gu Yuena. Ia melirik dua perempuan itu dengan pandangan dingin yang membuat mereka menggigil.


"Antar tamu." Dia menyuruh pelayan yang muncul entah dari mana mengantar Jin Xiao dan Gu Yueli menjauh dari taman istana di mana mereka bicara sebelumnya.


Jin Xiao ingin mengatakan sesuatu, namun aura dingin dari Bai Youzhe membuatnya tutup mulut sehingga memilih pergi bersama pelayan. Gu Yueli melihat Gu Yuena untuk beberapa saat sebelum akhirnya pergi.


Dia harap, Gu Yuena mau menerima sarannya sebelum sesuatu yang buruk terjadi.


Setelah taman menjadi sepi, Bai Youzhe melangkah ke hadapan Gu Yuena dan duduk di kursi yang tersedia di dekatnya. Raut dinginnya berubah dalam sekejap menjadi penuh perhatian.


"Nana, apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Bai Youzhe. Sebaik apa pun Gu Yuena berusaha bersikap tenang, tetap saja kecemasan di matanya terlihat oleh Bai Youzhe.


Gu Yuena menggeleng pelan. "Bukan apa-apa." Ia berniat mencari topik lain. "Apa kamu benar akan pergi malam ini?"


Bai Youzhe mengangguk lemah. "Jika kamu meminta agar aku tetap di sini untuk beberapa waktu, aku akan menurutinya."


"Tidak perlu. Selesaikan, lalu kembali lebih awal." Awalnya Gu Yuena tidak ingin Bai Youzhe pergi, tapi ia tidak bisa mengabaikan hal penting hanya karena kepentingan pribadi.


"Jika aku bisa ikut, itu akan menjadi lebih baik." Gu Yuena tiba-tiba saja terpikirkan untuk ikut. "Tapi itu tidak bisa dilakukan, 'kan?"


Bai Youzhe terdiam untuk beberapa saat. Sebenarnya, dia bisa saja membawa Gu Yuena bersamanya. Tapi itu terlalu berbahaya. Kekuatan dunia bawah tidak bisa dihitung dengan kekuatan Dataran Mitian.


"Aku akan kembali secepatnya." Bai Youzhe tidak tahu kenapa bisa merasa sangat cemas. Dia mendekati Gu Yuena, lalu memeluknya dengan erat sambil berkata, "Setelah menyelesaikan masalah, aku akan langung menemuimu."


Gu Yuena sedikit mengangguk. Pikirannya terus terganggu. Andai saja Gu Yueli tidak mengatakan hal itu, ia tidak akan secemas ini. Padahal Gu Yuena sudah berencana untuk pergi ke Istana Linghun menyelesaikan tugasnya.


Mengenai kondisinya sendiri, sepertinya dia masih harus melakukan pemeriksaan ulang untuk detailnya. Ia harap ucapan Gu Yueli hanya dugaan belaka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di bawah sinar bulan yang menyinari langit gelap, Bai Youzhe di halaman istana pamit pergi pada Gu Yuena. Kepergian Bai Youzhe sebenarnya bukan hal baru, dia biasa pergi dan muncul tiba-tiba sehingga tidak begitu mengejutkan seluruh istana.


Yah, meski frekuensi kepergiannya kali ini akan lebih lama dari sebelumnya. Itu sebabnya, dia sangat enggan berpisah dengan Gu Yuena.


Gu Yuena sendiri masih kacau sejak tadi. Dia tidak terlihat bersemangat atau sejenisnya, terlihat lebih pendiam bersama pikiran berkecamuk itu.


"Apa kamu sakit?" Bai Youzhe heran dengan perubahan sikap Gu Yuena yang begitu tiba-tiba. Kemarin wanita itu masih terlihat galak, tapi sekarang justru menjadi pendiam dan banyak melamun. Wajahnya juga pucat.


Gu Yuena menggeleng sebagai tanggapan. Dia tersenyum, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak bisa membicarakan masalahnya sekarang.


Tidak boleh sekarang.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu merasa khawatir. Hanya sedikit merasa kesal karena baru saja beradu argumen dengan Gu Yueli dan Jin Xiao."


"Apa aku perlu mengusir mereka?"


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri. Lagi pula, mereka tidak berniat jahat. Aku juga sudah meyakinkan Gu Yueli untuk pergi. Dia akan pergi besok."


"Kedepannya, kamu bisa beritahu Chu Xin jika ada yang mengganggumu. Aku meninggalkannya di sini untuk membantumu."


Gu Yuena sedikit mengangguk, kemudian menatap Bai Youzhe dengan aneh. "Kau tidak bermaksud menjadikannya mata-mata, 'kan?"


Bai Youzhe tersenyum kecut. "Aku tidak akan melakukannya padamu. Paling tidak, memastikan kamu tetap aman selama aku tidak ada."


"Itu baru benar." Gu Yuena tersenyum lebar, lalu memutar balik tubuh Bai Youzhe ke luar sana. "Jangan buang waktumu, cepat selesaikan dan kembali lebih cepat. Aku akan menunggu."


Bai Youzhe menoleh ke arah Gu Yuena. "Setelah selesai, aku akan langsung mencarimu."


"Sepertinya kau telah menebak bahwa aku akan bermain di luar." Gu Yuena terkekeh.


Bai Youzhe berbalik ke arah Gu Yuena, melangkah ke arahnya, lalu memeluknya dengan hangat dan memberi kecupan di kening wanita itu.


"Aku mencintaimu."


Gu Yuena tidak menyahut atau mengatakan apa pun. Sampai akhirnya Bai Youzhe melepas pelukan, lalu menghilang begitu saja ke udara seolah dia adalah bintang yang melintas di kegelapan langit.


Pandangan Gu Yuena kosong sejenak. Ia sedikit tersenyum, lalu bergumam, "Aku juga ... mencintaimu."


Tersisa Chu Xin yang berdiri tidak jauh dari Gu Yuena berada. Wanita itu menghampiri Gu Yuena dengan senyuman cerah, bersiap melayaninya lagi seperti dulu.


"Nona." Chu Xin berpikir bahwa Gu Yuena kemungkinan besar tidak akan diam di Istana Tianshuang. Wanita itu pasti akan berkelana. Dia akan sangat senang menemani.


"Besok temani aku ke Kota Tianlong." Gu Yuena berencana meluruskan segalanya. Ia ingin membuktikan, bahwa Gu Yueli salah. Dia tidak mungkin hamil dan tidak perlu menggugurkannya.


Chu Xin mengangguk antusias.


"Yoo, ada yang habis ditinggal. Ah, sekarang kamu tidak memiliki pendukung di istana, memang lebih baik pergi sebelum dipojokkan para tetua yang menyebalkan. Lagi pula, keberadaanmu tidak begitu penting." Jin Xiao muncul sambil mengucapkan kata-kata sarkas yang membuat Chu Xin sangat marah.


Chu Xin melihat wanita itu dengan tatapan tajam. Ketika ia akan membalas, Gu Yuena menghentikannya.


"Hanya orang yang tidak tahu siapa yang butuh siapa, tidak perlu dilayani." Sindiran Gu Yuena sangat tepat ditujukan pada Jin Xiao. Wanita itu pergi selagi Jin Xiao menunjukkan wajah acuh tak acuh.


Sebenarnya, Jin Xiao tidak begitu membenci Gu Yuena. Dia hanya menganggap Gu Yuena sebagai saingan. Mereka berdua sama-sama menghormati posisi masing-masing.


Jadi sindiran-sindiran yang dilontarkan keduanya tentu tidak akan menyebabkan banyak masalah. Hubungan mereka sebatas saling mengejek jika hanya berdua. Jika di depan orang, tentu saja mereka akan bersikap formal dan 'ramah'.


Ketika kembali memasuki istana, Ming Chin yang sebelumnya menyembunyikan diri kini muncul menghampiri Gu Yuena. Tidak ada dukungan yang ditujukan secara langsung pada Gu Yuena. Dia bisa bertindak dengan cara apa pun.


Gu Yuena dapat bertindak sangat berani karena ada Bai Youzhe yang mendukungnya. Sekarang Bai Youzhe pergi untuk waktu yang lama. Wanita itu adalah sasaran empuk.


"Gu Yuena, apa kamu begitu tidak tahu malu tetap tinggal di sini sedangkan Yang Mulia sedang pergi? Jangan berpikir bahwa kau adalah tunangan Yang Mulia, maka bisa seenaknya tinggal di istana. Bagi para tetua, kau tidak lain adalah sandera dari Istana Linghun." Ming Chin bersedekap dada dan menarik alisnya, terlihat sinis dan angkuh. "Setidaknya, jika ingin tetap tinggal, maka harus mematuhi aturan dan menghormatiku sebagai putri Istana Tianshuang."


Gu Yuena menggaruk telinganya, lalu melirik Chu Xin yang sepertinya akan meledak. "Apa kau mendengar sesuatu?"


Chu Xin melihat Gu Yuena, paham akan sesuatu. "Ya, seperti suara lalat yang mengamuk, berisik sekali."


"Hah, membuatku pusing saja. Pasti karena istana yang kotor. Nanti kamu pinta pelayan membersihkan istana agar tidak ada lalat lain yang datang."


"Baik, Nona." Chu Xin terkekeh, lalu melanjutkan jalan bersama Gu Yuena mengabaikan Ming Chin yang saat ini memiliki wajah merah padam.


Beraninya mereka menyebutnya lalat yang kotor!


Jin Xiao yang melihat tidak jauh dari mereka berada hanya bisa memandang dengan wajah datar. "Apa ada orang sebodoh itu?"


Jelas-jelas Gu Yuena lebih unggul, tapi wanita tak tahu malu itu malah menyombongkan diri. Putri Istana Tianshuang? Ia baru dengar ada orang bodoh yang menyebut dirinya seorang putri padahal tidak memiliki darah raja sebelumnya secara langsung.


Jin Xiao yang benar-benar Putri Istana Luye, bahkan penerus Istana Luye perasaan tidak sampai seperti itu. Meski sulit mengakuinya, setidaknya dia dan Gu Yuena memiliki posisi yang setara sebagai seorang putri.