Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
73. Rahasia Keluarga



Buku tanpa isi memberitahu, ada semacam sihir keabadian yang dapat membuat seseorang tidak akan mati hanya karena usia. Penuaannya akan berhenti di umurnya yang sekarang. Hanya itu satu-satunya cara menghambat racun api yang akan melahap jiwa Gu Yuena.


Namun, cara itu tidak akan sepenuhnya efektif jika Gu Yuena lagi-lagi memaksakan peningkatan darah phoenix dalam tubuhnya. Andai kata Gu Yuena keras kepala karena menemui bahaya besar dan terpaksa menggunakannya, sihir keabadian di tubuhnya akan berbenturan dengan racun api dan dapat membahayakan nyawanya.


Itu adalah sihir terlarang. Karena fungsinya untuk keabadian, banyak yang menyalahgunakannya dan menjadi tamak sampai berniat menguasai dunia.


Efek negatif dari sihir keabadian adalah kekuatan kegelapan yang terlalu dalam dan akan menyebabkan orang yang menggunakannya menjadi iblis. Itu akan terjadi bila kekuatan mentalnya tidak dapat menerima sihir keabadian yang besar.


Buku yang terbuat dari kulit itu telah dilumuri oleh darah dan mengeluarkan tulisan bertinta merah darah. Sudah beberapa lembar, sedangkan Gu Yuena mencoba menyerap semua informasi di dalamnya menggunakan kekuatan spiritual dan mempelajarinya.


Xiao Hei dan Xiao Bai merasa gelisah di dekat perempuan itu. Mereka tidak merubah posisi sejak Gu Yuena mempelajari sihir terlarang meski sudah dilarang berkali-kali.


Xiao Hei jadi menyesal memberitahu detailnya. Seharusnya ia diam saja!


"Nona, kamu harus bertahan." Xiao Hei merasa bersalah. Jika terjadi sesuatu pada Gu Yuena, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Perempuan itu terlihat pucat. Mungkin karena penggunaan darah yang cukup banyak sehingga membuat warna di kulitnya memudar. Bahkan kedua telapak tangannya masih memiliki noda merah dan luka.


Jika orang lain melihat ini, mereka akan menganggap Gu Yuena sudah kehilangan akal.


Aura berwarna merah terus berkeliaran di sekitar, terserap ke dalam tubuhnya. Simbol phoenix di antara alisnya berkilau, memberi respon akan sihir keabadian yang masuk.


Ketika sihir keabadian menyatu dengan lingkaran sihir di tubuhnya, kekuatan qi dalam tubuh langsung bereaksi dan mulai tidak beraturan. Meridian dalam tubuhnya menjadi benang kusut yang menyebabkan seluruh tubuh Gu Yuena merasakan rasa sakit luar biasa.


Sihir keabadian terlalu keras untuknya. Tapi Gu Yuena tidak akan memutus fokus hanya karena beberapa rasa sakit itu.


Ia masih harus hidup lebih dari setahun lagi.


Xiao Hei dan Xiao Bai sangat panik ketika merasakan napas Gu Yuena tersumbat. Seluruh tubuh Gu Yuena terganggu dan ia menjadi gemetar sampai keringat dingin bercucuran. Tapi gadis itu sama sekali tidak membuka matanya, tetap bertahan di posisi yang sama tanpa bergerak.


Kekuatan darah phoenix di tubuhnya mulai menyatu dengan sihir keabadian setelah melewati lingkaran sihir. Itu adalah bagian yang paling menyakitkan karena racun api kembali memunculkan keaktifannya.


Ia merasa seperti ditempa dengan kobaran api.


"Hitam, cepat beri dia pil itu!" Xiao Bai sepertinya sadar akan sesuatu.


Xiao Hei langsung pergi mengambil pil di ruang spiritual yang kacau balau. Setelah mengambil sisa pil yang diberikan Warren, Xiao Hei langsung memberi pil itu ke mulut Gu Yuena.


Itu adalah pil pereda racun api terakhir dari total dua pil.


Setelah memakan pil itu, api phoenix di tubuhnya langsung mencerna dan mencairkan pil untuk menekan racun api. Mulut Gu Yuena memuntahkan darah sebagai bentuk racun api yang dijinakkan. Sedangkan sihir keabadian dan darah phoenix lebih cepat menyatu menjadi satu.


Kekuatan mental darah phoenix cukup kuat untuk menampung sihir keabadian sehingga Gu Yuena tidak akan mengalami efek negatif dari sihir keabadian. Dalam sekejap, sihir keabadian menyatu sempurna dan menyegel racun api. Sisa-sisa tanda racun api di tubuh Gu Yuena menghilang seketika.


Itu adalah kombinasi yang tepat. Pil pereda racun api dan sihir keabadian yang digunakan secara bersamaan, akan membuat racun api menjadi pasif.


Gu Yuena membuka mata perlahan. Kilau cahaya merah di matanya menghilang digantikan keredupan. Gadis itu pun terkulai lemah, namun tetap mempertahankan kesadarannya.


"Nona, apa kamu baik-baik saja?" Xiao Hei begitu khawatir.


"Nyaris saja." Xiao Bai menghela napas lega. Untung saja proses penyerapan sihir berlangsung lancar dan mereka tepat waktu memberi pil pereda racun api berdasarkan arahan Gu Yuena sebelum memulai penyerapan sihir.


"Aku masih harus memulihkan tubuhku, lalu mempelajari sihir keabadian lebih lanjut." Gu Yuena memaksakan diri untuk duduk tegak. Ia tidak boleh pingsan sekarang.


Xiao Bai berinisiatif memberi energi pada Gu Yuena agar dapat memulihkan tubuh dengan lancar. Dalam sekejap, Gu Yuena merasa tenaganya terisi oleh hawa sejuk yang menenangkan pikiran.


"Terima kasih." Gu Yuena tersenyum kecil, lalu menutup mata untuk memasuki tahap pemulihan.


Xiao Bai tersenyum kecut, lalu melirik buku tanpa isi dengan dingin. "Sembunyikan buku itu, aku tidak mau melihatnya." Ia memerintah Xiao Hei, karena hanya Xiao Hei yang bisa menyentuh buku itu.


Mau tidak mau, Xiao Hei pun menyimpan buku itu kembali ke tempatnya. Orang Istana Yuansu tidak boleh menyadari kalau buku itu dicuri. Darah yang membasahi buku itu juga menghilang begitu saja beserta tulisannya.


Ketika Xiao Hei meletakkan buku itu ke tempat semula, sihir pelindung di tempat asal buku itu kembali memberi segel akar yang membungkus buku itu seolah tidak pernah disentuh. Tidak akan ada yang tahu hal ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruangan gelap ini lagi ....


Gu Yuena memutar tubuhnya untuk melihat segala sisi yang begitu gelap dan dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri, merasakan hawa dingin yang tidak menyenangkan.


Ia pernah di tempat ini, saat itu ia bertemu ibunya yang bertingkah aneh. Seperti ingin membunuhnya.


Tidak mungkin ibunya seperti itu. Ini pasti hanya mimpi.


Tapi Gu Yuena tidak tahu bagaimana caranya keluar dari tempat ini. Apa yang harus ia lakukan?


Segalanya terasa hening dan aneh. Waktu dirasa berputar sangat lambat sehingga membuat Gu Yuena gelisah. Ia sampai bisa mendengar detak jantung, napas, dan aliran darahnya sendiri. Ini mengerikan.


Tapi hal tersebut tidak berlangsung begitu lama ketika Gu Yuena merasa dirinya akan menggila. Ia merasakan kehadiran seseorang yang tidak jauh dari tempatnya.


Kaki rampingnya melangkah, mengikuti asal kehadiran samar yang dirasakan. Begitu melihat sesuatu dalam kegelapan, langkah kakinya berhenti sejenak.


Di depan saja, sosok wanita yang sama seperti sebelumnya hadir. Itu berhasil membawa rasa takut pada Gu Yuena, mengingat wanita itu ingin membunuh dirinya yang tidak berdaya. Apalagi ia tidak bisa menggunakan kekuatannya.


Wanita cantik beriris merah darah dengan rambut emas yang cantik. Ia mengenakan gaun hitam yang begitu elegan dan indah, menampilkan lekuk tubuhnya yang ramping dan tinggi.


Wajahnya memiliki banyak kemiripan dengan Gu Yuena. Sedangkan gadis itu terdiam di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.


Ia takut ... wanita itu akan mencoba membunuhnya lagi.


"Nana ...." Wanita itu tampak terkejut melihat kehadiran Gu Yuena. Ia tersenyum, lalu melangkah menghampiri gadis yang mematung itu.


Gu Yuena takut. Ia mundur beberapa langkah, tetap berwaspada akan siapa pun yang mencoba menyamar sebagai ibunya. Ia tidak boleh goyah, hanya karena panggilan itu.


Wanita itu tersenyum sedih ketika melihat Gu Yuena menjauhinya. Wajar saja, ia juga tahu posisinya yang sangat wajar jika kedua anaknya sendiri menjauhinya.


"Siapa kau?" Gu Yuena bertanya dengan dingin. Tidak mungkin ibunya ada di sini. Dia pasti orang yang menyamar untuk membingungkannya. "Di mana aku?"


"Nana, apa kamu melupakan ibumu sendiri?" Wanita itu berkata dengan sedih. Ia terlihat lembut dan penyayang saat ini. Berbeda dari sebelumnya yang terlihat mengerikan.


"Ibuku ... sudah mati." Gu Yuena tidak bisa menahan emosi dalam hatinya. Ia ingat jelas pembunuhan itu, yang membuatnya harus kehilangan segalanya.


Mata Gu Yuena berkaca-kaca, tapi tidak membiarkan air matanya jatuh setitikpun. Gu Yuena yang dulu dan sekarang berbeda. Kalaupun wanita itu adalah ibunya, itu hanya ibu dari Gu Yuena di dunia ini.


Seharusnya wanita itu tahu, bahwa jiwanya adalah jiwa orang lain.


Kenapa wajah wanita itu harus mirip dengan ibu yang meninggalkannya begitu tragis?


Pertama kakaknya, lalu ibunya.


Kenapa?


"Aku ingin kembali." Gu Yuena mengalihkan pandangannya, berusaha mencari cara kembali ke kenyataan.


"Ya, dia memang sudah mati." Wanita itu tersenyum kecut, "Tapi dia hidup kembali." Ia merentangkan kedua tangannya, "Sudah sangat lama, apa kamu tidak merindukan ibumu? Bukankah kamu juga hidup kembali?"


Gu Yuena terdiam. "Apa maksudmu?"


"Nana, ikutlah denganku, maka kamu akan mendapatkan segalanya." Wanita itu berkata dengan penuh harap, "Ayahmu, kakakmu, kamu ingin kita semua berkumpul kembali, 'kan? Itu impian yang kamu anggap tidak akan menjadi kenyataan, tapi aku bisa mewujudkannya. Kamu juga bisa menemukan nagamu."


"Ayahku sudah lama tiada." Gu Yuena tidak percaya.


"Tapi bukankah aku masih hidup sekarang? Itu hanya masalah waktu."


"Apa yang kau lakukan?" Gu Yuena merasa agak takut. Ia tidak seperti melihat ibunya, tapi orang lain.


"Kamu hanya perlu mengetahui bahwa kita akan seperti dulu."


"Maksudmu ... kau bisa menghidupkan ayahku?" Gu Yuena terkejut. Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa ada orang mati yang dihidupkan kembali?


"Ya, sama seperti aku menghidupkanmu kembali."


Gu Yuena merinding seketika. Ia tidak mengerti maksud wanita itu, tapi satu hal yang pasti, kedatangannya ke dunia ini ada ikut campur tangan wanita itu. Apa wanita itu sudah gila menempatkan jiwa lain ke tubuh putrinya?


Ia jadi teringat ucapan Bai Youzhe. "Kau adalah Ratu Istana Linghun, 'kan? Aku ... tidak memiliki ibu seorang ratu." Gu Yuena menolak dengan terang-terangan. Ia tidak bisa mempercayai orang mengerikan seperti itu.


"Kenapa?"


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau membawaku ke tempat ini? Kenapa kau ingin membangkitkan orang yang sudah mati? Seharusnya aku sudah mati."


"Karena kamu adalah putriku."


"Tapi kenapa harus aku? Kau bisa membangkitkan putrimu, tapi kenapa harus aku?" Gu Yuena berkata sebagai Gu Yuena dari dunia lain. Seharusnya ia sudah mati dan tidak menghadapi bencana seperti ini.


Wanita itu tetap terlihat tenang meski Gu Yuena meninggikan nada suaranya sekalipun. "Karena kamu adalah putriku."


"Nana, kamu pasti sangat sedih melihat kematian semua orang terdekatmu tepat di depanmu. Aku, ayahmu, lalu kakakmu. Oleh karena itu, kita bisa berkumpul kembali setelah kamu ikut denganku ke Istana Linghun."


"Apa?" Gu Yuena nyaris gila. Apa yang baru saja ia dengar? Wanita itu ... tahu masa lalunya. Wanita itu berkata seolah-olah Gu Yuena-dari dunia lain-adalah putrinya. Apa maksudnya?


Wanita itu tersenyum dengan raut yang begitu tenang, setenang air. "Aku sudah menyelesaikan sanksi utama atas kehidupanmu. Itulah caraku menebusnya."


"Apa maksudmu?"


"Orang-orang yang melihat kelahiranmu, aku sudah menyingkirkannya. Kedepannya, kamu bisa datang ke Istana Linghun bukan sebagai Putri Adipati, tapi sebagai Putri Istana Linghun."


Gu Yuena nyaris tidak bisa berkata-kata. Menyingkirkan sanksi kelahirannya dan melepas status putri Adipati. Bukankah itu berarti ... kediaman Adipati Gu telah terhapus?


"Aku memberimu kesempatan untuk berpikir."


Tepat setelah wanita itu berkata demikian, Gu Yuena merasa tubuhnya tertarik oleh sesuatu yang membuat seluruh pandangannya gelap seketika.


Ketika membuka mata, ia sudah berada di perpustakaan dalam keadaan berbaring. Langit-langit perpustakaan yang begitu tinggi dan aroma khas kayu tercium olehnya.


Apa itu tadi?


Baru saja ... wanita itu berkata bahwa kediaman Adipati Gu telah lenyap?


Bagaimana mungkin ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Begitu keluar dari perpustakaan, Gu Yuena langsung pergi menemui Yan Shuiyin untuk izin pergi ke Ibu Kota Kekaisaran Yi segera karena urusan mendesak.


Ia tidak bisa percaya sebelum melihat secara langsung, kenyataan bahwa Kediaman Adipati Gu telah lenyap.


Yan Shuiyin mengerti kecemasan Gu Yuena setelah gadis itu memberitahu mengenai Ratu Istana Linghun yang datang memberitahunya mengenai Kediaman Adipati. Ia mengizinkan Gu Yuena pergi sebentar dari Istana Yuansu.


Menggunakan sayap yang dimiliki, Gu Yuena pergi melalui jalur udara dengan kecepatan tinggi.


Butuh waktu beberapa lama untuk sampai di Ibu Kota. Ia dapat melihat kekacauan yang terjadi di Ibu Kota akan berita penyerangan yang membuat seluruh pasukan harus bergerak dan nyaris terjadi peperangan.


Ada banyak orang terluka, sedangkan prajurit masih berjaga di mana-mana. Karena Ibu Kota masih dalam krisis, Gu Yuena harus berjalan melalui jalur darat agar tidak dicurigai sebagai penyusup.


Ia mendaratkan sayapnya, lalu berjalan di sekitar kota yang tampak berbeda dari yang pernah dilihatnya. Ketakutan di mana-mana, sedangkan para bangsawan semakin sibuk sehingga banyak kuda berlalu-lalang.


Sepertinya istana utama kekaisaran saat ini sedang dalam krisis yang begitu buruk.


Arah Gu Yuena berjalan adalah arah kediaman adipati Gu. Karena target mereka adalah kediaman itu, maka jalan menuju kediaman adipati menjadi begitu sepi dan penuh reruntuhan.


Penyerangan baru saja terjadi begitu besar di tempat ini.


Ketika sampai di depan gerbang, Gu Yuena melihat tulisan kediaman di atas gerbang yang sudah kacau. Gerbang pun sudah tinggal sebagian yang masih berdiri.


Tempat ini benar-benar sudah hancur.


Ia memasuki kediaman yang sudah menjadi reruntuhan. Melihat kediaman megah yang ia kenal, kini menjadi hancur lebur berupa reruntuhan. Meski ada banyak bagunan yang tersisa, semua itu memiliki jejak kehancuran yang penuh dengan abu.


Sejauh ini, Gu Yuena tidak menemukan mayat siapa pun. Apa mereka semua menjadi abu dan menghilang seperti yang pernah ia lihat?


"Chu Xin." Tiba-tiba saja Gu Yuena teringat pelayan pribadinya yang imut itu. Ia buru-buru pergi ke tempat tinggalnya untuk mencari jejak.


Tempat tinggalnya masih utuh. Meski beberapa bagian telah rusak, setidaknya masih bisa ditempati. Hanya saja, tempat ini penuh dengan kekosongan tanpa satu pun kehidupan.


Sebenarnya, kenapa Istana Linghun menghancurkan kediaman Adipati?


Gu Yuena mencari jejak Chu Xin di berbagai tempat. Tidak ada satu pun barang miliknya, seolah gadis itu tidak pernah ada di kediaman ini.


"Akan bagus jika dia masih hidup." Gu Yuena menghela napas.


Di tempat yang penuh kehancuran ini, hanya ada dia seorang diri.


Entah bagaimana reaksi kakaknya dan dua tuan muda serta Gu Yueli jika mengetahui bahwa rumah mereka telah hancur.


Tapi ... Klan Ye memiliki hubungan dengan Istana Yuansu. Apa benar Gu Yueli tidak mengetahui hal ini?


Kalau diingat-ingat, sepertinya Gu Yueli baru melahirkan ....


"Gu Yuena, kau ada di sini?"


Panggilan itu membuat Gu Yuena menoleh. Sosok pria tampan memasuki perkarangan yang penuh reruntuhan. Pakaian mewahnya sedikit kotor karena reruntuhan yang penuh debu ini.


"Terima hormatku, Pangeran Mahkota Huang." Gu Yuena memberi salam.


Pria itu adalah Huang Jingtian. Belakangan ini ia cuti sekolah karena harus mengurus urusan negara. Apalagi, terjadi banyak penyerangan dari Istana Linghun.


"Tidak perlu sopan, tidak ada siapa pun di sini." Huang Jingtian kemudian melihat Gu Yuena dengan perihatin. "Aku turut berduka."


"Terima kasih." Gu Yuena sedikit tersenyum.


Sebenarnya Huang Jingtian agak heran akan Gu Yuena yang masih terlihat begitu tenang setelah menghadapi kehancuran keluarganya. Tapi mengingat perlakuan mereka pada Gu Yuena di masa lalu, ia tidak perlu terlalu heran.


"Aku sudah mengirim pesan padamu, Gu Yuan, dan yang lain mengenai Tuan Adipati. Rupanya, kamu datang lebih cepat dari mereka."


"Pangeran Mahkota, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. Menurutmu, apa yang membuat kediaman hancur seperti ini?" Kultivasi Gu Shan setidaknya sudah mencapai tingkat 6. Itu cukup kuat untuk mempertahankan sebuah tempat bersama satu pasukan. Tapi sepertinya serangan itu terlalu besar, atau penyerangnya yang memiliki kekuatan besar.


"Ini aku kurang tahu. Tapi berdasarkan ucapan sanksi mata, ada kabut hitam yang berdatangan melakukan serangan beruntun. Tidak hanya kediaman Adipati, beberapa bagian Ibu Kota juga terkena serangan makhluk itu. Diketahui, makhluk itu adalah beberapa roh jahat dari Istana Linghun. Aku datang untuk menyelidikinya."


Gu Yuena pernah memanggil roh jahat. Bentuknya tidak seperti itu. Pasti itu adalah kabut yang pernah ia temui sebelumnya. Lagi-lagi masalah ini merujuk pada Klan Ye dan Ting Le.


"Ada orang lain yang hadir?" tanya Gu Yuena. "Bagaimana dengan istri Adipati?"


"Aku dengar, istri adipati diasingkan. Kemudian Klan Ye meminta Nyonya Ting untuk pergi bersamanya atas permintaan Nona Kelima Gu yang akan melahirkan."


"Jadi dia selamat dan berada di Klan Ye." Ini adalah lelucon. Mereka membunuh orang-orang tidak bersalah di kediaman, sedangkan pelaku utamanya berlindung di Klan Ye.


Puncak lelucon.


"Apa ada sesuatu?" tanya Huang Jingtian.


"Bukan apa-apa. Terima kasih sudah memberitahuku."


"Tidak masalah. Karena kamu sudah datang, apa tidak ingin mampir ke istana terlebih dahulu? Jarak Akademi Yuansu dan Ibu Kota sangat jauh."


"Sebenarnya aku ingin sedikit lebih lama, tapi aku sudah berjanji untuk kembali secepatnya."


"Kalau begitu, aku tidak akan mempersulitmu." Huang Jingtian mempersilahkan Gu Yuena pergi. Ia ditolak lagi ....


Gu Yuena pun bergegas keluar dari kediaman setelah menunduk untuk sedikit memberi pehormatan pada Pangeran Mahkota.


Pelaku pembunuhannya sudah bebas. Tapi ia kesal tidak bisa menyentuh orang itu karena lindungan Klan Ye. Sepertinya mereka memang sudah ada kerja sama.


Ini akan rumit.


Andai saja ia jauh lebih kuat untuk menginjak-injak Klan Ye.


Ya, dia harus menjadi lebih kuat!


...----------------...


Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca ceritaku sampai saat ini~


Bab ini adalah end dari s1, selanjutnya akan dilanjutkan dua hari kedepan di mana lanjutan perjalanan Gu Yuena yang sesungguhnya telah dimulai!


Kira-kira kalian ada di tim yang mana?


Bai Youzhe?


Yang Xinyuan?


Gu Yuena jomblo aja, kah? Masa krisis racun api sudah berakhir ini. Umurnya juga bisa tembus kepala dua.


Hmm, tapi apa masalahnya sudah berakhir?


FL, ML, second lead, dan villain sudah muncul semuanya. Tinggal diaduk-aduk aja ceritanya untuk menjadi apa dan ke arah mana alur berjalan.


Tetap stay tuned untuk menunggu kisah selanjutnya~