
Sudah beberapa jam sejak dansanya dengan Alves. Su Churan masih menunggu dengan bosan di tengah pesta sambil melihat-lihat. Dia ingin pulang, tapi seharusnya Gu Yuena akan melakukan pertunjukkannya di sini. Dia tidak boleh melewatkannya.
Tapi suasana ini membosankan!
Alves datang membawa sampanye di tangannya, dan memberi itu pada Su Churan. Su Churan menerinanya dengan setengah hati, lalu menenggaknya sampai habis seolah menenggak air putih.
Alves terkekeh. "Para gadis berkumpul dalam perayaan sosial, apa kamu tidak ikut?"
"Aku bukan bangsawan Wyvernia," sahut Su Churan dengan bosan, lalu menyadari sesuatu. Dia baru sadar Alves mendatanginya karena sibuk melamun. Dia langsung menjadi canggung dan memalingkan wajah.
"Ratu Tianshuang sedang bicara dengan Kaisar. Sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu." Alves mengalihkan topik.
Su Churan mengangguk. "Ya, aku sedang menunggunya. Aku mengenali Ratu sejak kami masih kecil, aku sangat mempercayainya."
"Sepertinya masa kecilmu dipenuhi hal menarik."
Su Churan diam untuk beberapa saat melihat ke gelas sampanye di tangan. Ia tersenyum kecil. "Ya." Lalu senyum itu menjadi sesuatu yang menyedihkan di matanya. "Sangat menarik. Ada banyak hal yang menarik di dunia ini, aku telah merasakan semuanya. Sayangnya, semua jadi membosankan."
Su Churan sensitif jika membicarakan masa kecilnya sehingga aura di sekitarnya berubah. Alves sadar, jadi tidak mengatakan apa pun. Ia berpikir bahwa Su Churan telah banyak berubah dari Su Churan yang dikenalnya.
Namun, aura dingin itu hanya melintas sesaat. Segalanya kembali normal, raut Su Churan kembali acuh tak acuh sebelum menyesap sisa sampanye di gelas. "Aku di sini untuk menonton pertunjukkan, jadi harus memikirkan hal menyenangkan."
Masih jauh bagi Alves untuk mengenal Su Churan lebih dalam. Wanita itu penuh misteri di matanya, yang membuatnya semakin terlihat menarik.
Pada saat ini, tiba-tiba saja mata Su Churan bergerak seperti menemukan sebuah kejutan. Alves baru saja akan mengatakan sesuatu ketika Su Churan mengalihkan pandangan ke arah belakang Alves yang ada di depannya. Wanita itu langsung berdiri.
Alves mengerutkan kening, lalu melihat ke belakang. Tidak ada apa pun yang menarik, semua orang tampak sibuk. Tapi mendadak Su Churan terlihat terburu-buru.
"Aku memiliki beberapa hal yang harus kutangani." Su Churan langsung pergi tanpa menunggu jawaban Alves. Dia pergi ke arah balkon di mana dia memandang tadi.
Dia melangkah terburu-buru dan pergi ke balkon. Balkon itu tidak terpapar salju karena adanya pembatas, sehingga udara dingin tidak masuk secara ekstrim. Tempat ini masih cukup hangat, dengan angin malam yang terasa alami.
Su Churan terlihat mencari sesuatu di sekitar balkon.
"Apa aku salah lihat?" gumamnya. Dia seperti melihat seseorang dari jendela tadi. Tapi ketika ia datang, orang itu sudah hilang.
Su Churan menghela napas panjang dan berbalik hendak kembali ke aula. Tapi langkahnya terhenti ketika tubuhnya nyaris saja menubruk seseorang yang berdiri kokoh di depannya. Su Churan tersentak dan mendongakkan kepala.
Orang itu mengenakan jubah biru gelap. Dengan rambut hitam panjang seperti satin yang diikat bersama jepit emas khas Istana Yuansu di kepalanya. Di bawah salju yang turun, dia terlihat sangat tampan.
Su Churan telah melihat banyak pria tampan seumur hidupnya. Ketampanan pria di depannya tidak cukup membuatnya mimisan seperti ketika melihat Bai Youzhe, tapi itu membuat jantungnya gelisah. Jarak mereka sangat dekat sampai bisa merasakan napas satu sama lain.
"Yun Qiao?" Su Churan mengedipkan mata beberapa kali dan mundur secara alami untuk menjaga jarak. Ia kembali normal hanya dalam hitungan detik dan mengerutkan kening. "Kenapa kau di sini? Kau menyelinap?"
Yun Qiao terkekeh. "Aku datang lewat pintu."
"Secara resmi?"
Yun Qiao mengangguk. "Menyelinap ke pesta orang lain tanpa undangan adalah tindakan kriminal. Aku tidak seperti itu."
Aneh, Su Churan tidak mendengar seseorang mengumumkan kedatangannya. Apa Yun Qiao sengaja? Pria ini juga biasanya sangat sibuk, sekarang dia malah seperti pengangguran. "Begitu senggang? Undangan siapa yang kau gunakan?"
"Xiao Yuena."
Ah, jadi mereka sudah berkomunikasi sebelumnya. Kenapa Su Churan baru tahu? Kalau begitu, dia akan menunggu Yun Qiao untuk menonton pertunjukan bersama-sama.
"Karena kamu sudah di sini, aku akan menunjukkan banyak hal menarik padamu. Seharusnya ini adalah kali pertamamu berada di pesta dansa?"
Yun Qiao diam untuk beberapa saat, laku menjawab, "Tidak juga."
Su Churan mengerucutkan bibirnya. "Kalau begitu kita masuk ke dalam dan menonton saja."
Su Churan menjepit dua jarinya pada lengan jubah Yun Qiao, lalu menariknya ke dalam. Tapi Yun Qiao meraih lengannya, lalu menariknya kembali hingga keduanya menjadi lebih dekat. Hal itu membuat Su Churan tersentak sekali lagi, lalu merasakan hal aneh dalam hatinya.
Matanya terjebak dengan pandangan Yun Qiao yang dalam dan jernih seperti air danau. Su Churan berusaha fokus dan berkata dengan nada ketus. "Apa!"
Yun Qiao tersenyum dangkal. "Kita berada di pesta dansa. Apa kamu tidak ingin berdansa denganku?"
"Bukan begitu cara bangsawan mengajak berdansa."
"Aku bukan bangsawan Wyvernia."
Su Churan merasa tidak asing dengan kalimat itu. Apa Yun Qiao menguping percakapannya dengan Alves?
Yun Qiao langsung mengambil posisi berdansa dan memegang pinggang Su Churan dengan salah satu tangannya. Mendadak Su Churan merasa gelisah di hatinya. Ini tidak normal.
Bukannya perasaan tidak nyaman seperti ketika berdansa denan Alves, melainkan perasaan lain. Su Churan tidak tahu artinya, tapi sepertinya ia akan jatuh hati pada pria membosankan ini. Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin!
Tidak mungkin! Su Churan terus menyangkalnya dalam hati. Tapi jantungnya berdetak tidak benar dan dia menjadi gugup sampai langkahnya menjadi kacau. Yun Qiao terus menatapnya dengan senyuman yang hangat.
Di depan sana, Alves dapat melihat Su Churan yang bersemu ketika berdansa dengan pria lain yang terlihat tidak biasa. Ada perasaan kacau dari tatapan Alves, tapi dia hanya bisa mengepalkan tinju dan menghela napas.
Di sisi lain, Su Churan mengalami perang dalam otaknya sendiri.
Su Churan tidak kuat! Dia terlalu tampan!
Wajahnya memerah seperti tomat. Kaki Su Churan semakin kacau dan terus salah langkah hingga berakhir menginjak diri sendiri. Tumitnya menekuk karena terkejut dan ia kehilangan keseimbangan.
Rasanya sakit sekali ....
Yun Qiao dengan sigap memeluk pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh. Secara otomatis, jarak mereka semakin terhapus yang membuat Su Churan semakin ingin pingsan.
Su Churan kehabisan kata-kata. Dia buru-buru berdiri dengan benar, tapi kakinya terkilir hingga dia meringis saat berdiri sampai melompat-lompat. Baiklah, ini memalukan.
"Kamu ...."
"Tak apa, tak apa. Ini sudah biasa. Aku bisa menanganinya." Su Churan berdiri dengan satu kaki, lalu melompat-lompat untuk meraih pagar balkon.
Dia mengenakan hak tinggi. Ini bencana! Wajahnya sangat terlihat tersiksa sampai Yun Qiao harus menahan tawanya saat melihat wajah frustasi itu.
Dia berinisiatif membantu. Mengangkat tubuh ringan Su Churan dan mendudukkannya di atas pagar balkon yang cukup tebal. Ia berlutut, melihat kakinya yang memerah karena terkilir saat mengenakan hak tinggi.
Su Churan jelas terkejut. "Yun Qiao, bagaimana kamu bisa—"
"Diam." Yun Qiao fokus memeriksa kaki Su Churan.
"...."
Engsel kakinya bergeser. Yun Qiao mengembalikannya seperti semula sehingga terdengar retakan ketika menekannya. Su Churan sudah terbiasa dengan rasa sakit sehingga dia hanya mendesis singkat.
Rasanya sudah lebih baik dari sebelumnya. Su Churan pun menghela napas. "Terima kasih."
Yun Qiao mendongak ke atas, menatap iris Su Churan dengan dalam. Su Churan merasa segala sesuatu tidak seharusnya berjalan seperti ini. Ia terbatuk, sebelum akhirnya berkomentar.
"Kamu seorang raja, bagaimana bisa berlutut di depan wanita sepertiku? Aku akan merasa tidak enak." Su Churan menekankan batasan mereka dengan jelas.
Su Churan menatapnya, "Aku bahkan bisa terbang."
"Baiklah." Yun Qiao sadar Su Churan menolak bantuannya dan tidak ingin mereka menjadi lebih dekat. Su Churan benar-benar memasang jarak sekokoh mungkin.
Tapi bukan berarti Yun Qiao akan menyerah. Ia mengulurkan tangannya ke arah Su Churan, membantunya berdiri. Su Churan menyambut tangannya, lalu turun dari pagar balkon. Dia bersikap seolah tidak kesakitan sama sekali, ia sudah terbiasa terhadap situasi ini.
Meski rasanya sangat sakit. Dia bahkan harus berjalan dengan terpincang meski dituntun oleh Yun Qiao.
Su Churan tidak ingin bantuan Yun Qiao menggerakkan hatinya lagi. Dia sangat tidak ingin. Dia hanya ingin fokus pada balas dendamnya, setidaknya untuk saat ini. Perasaan romantis hanya akan menghambat perkembangannya.
Yun Qiao secara alami mengetahui apa yang dipikirkan Su Churan dari tindakannya. Jadi dia tidak mengatakan apa pun.
Yun Qiao secara khusus datang ketika Ru Meng melaporkan bahwa Su Churan kembali bersama Alves. Ia awalnya tidak percaya, tapi tidak bisa tidak gelisah dan pergi ke Wyvernia secepat mungkin. Dia juga menghubungi Gu Yuena untuk meminta undangan yang tersisa dan menghentikan petugas mengumumkan kedatangannya.
Ternyata, dia terkena informasi yang salah dari Ru Meng sialan itu. Bocah itu akan mendapat ganjarannya nanti.
Nyatanya, Su Churan masih sangat berhati-hati terhadap perasaannya dan memperkokoh batasan. Yun Qiao menyukai Su Churan, entah sejak kapan. Tapi dia tidak ingin mengakui secara langsung, karena Su Churan sendiri masih mengalami rasa sakit akan cinta. Dia tidak ingin hubungannya dengan Su Churan merenggang karena ini.
Seperti ini juga bagus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alfonso terlihat menikmati waktunya dengan Vale. Setelah berbincang singkat, dia mengajak Vale ke ruangan yang lebih privasi di istana untuk menghabiskan waktu berdua. Dia sepertinya sangat tergila-gila pada Vale.
Vale memerankan perannya dengan sangat baik setelah belajar dari Gu Yuena. Dia tidak terlihat gugup. Ketika Alfonso menggenggam tangannya dan membawanya, kepalanya tertoleh ke arah Gu Yuena.
Gu Yuena masih terlihat sangat santai seolah sedang menonton pertunjukkan. Hal itu membuat Vale yang awalnya gelisah mendapatkan kembali ketenangannya.
Nyonyanya sangat tenang, itu berarti tindakan Alfonso sudah ada dalam perhitungannya. Nyonyanya memang sangat keren!
"Apa kita hanya perlu menunggu?" tanya Bai Youzhe. Dia sepertinya mengerti apa yang direncanakan Gu Yuena.
Gu Yuena tersenyum. "Bukan menunggu, tapi menonton. Di mana cokelatku?"
Bai Youzhe langsung memberinya sebungkus cokelat yang dibawa dari kediaman. Cokelat renyah ini sangat cocok dimakan sambil menonton pertunjukan seperti dalam teater. Gu Yuena menerimanya dengan senang hati.
Alfonso membawa Vale sedikit tergesa-gesa dan bersemangat. Ia memiliki sesuatu dalam pikirannya untuk menghabiskan malam dengan Vale dan menjadi sangat tidak sabar. Vale hanya mengikuti tanpa tahu apa yang akan dilakukan Alfonso terhadapnya.
Namun, langkah Alfonso terhenti ketika menyadari ada keberadaan yang sangat kuat di sekitarnya. Dia meminta Vale untuk tetap di tempatnya, sedangkan ia menelusuri.
Aura gelap yang sangat kuat dipancarkan dari sebuah ruangan. Aura ini mengandung keserakahan akan kekuatan yang besar dan terlalu jahat. Alfonso sendiri mengerutkan kening.
Dia tiba di depan pintu yang tidak dijaga, lalu sedikit membukanya untuk mengintip. Kedua matanya menunjukkan kejutan luar biasa ketika melihat sebuah benda hitam yang mengeluarkan kekuatan gelap yang luar biasa ada di tangan pria tua yang menampilkan tampang serakah.
Kening Alfonso berkerut, tinjunya terkepal erat. Di dalam sana, Kaisar menyerap kekuatan kegelapan dari benda hitam yang sangat kuat. Saking kuatnya, aura Kaisar langsung melonjak dan dipenuhi kegelapan. Sepasang mata merahnya langsung berubah warna menjadi hitam pekat.
Raut Alfonso menggelap. Bagaimana Kaisar memiliki batu jiwa? Batu jiwa hanya bisa dibawa oleh orang Istana Linghun. Bagaimana dia bisa memilikinya tanpa koneksi dari Istana Linghun?
Kecuali jika Istana Linghun sengaja ....
Alfonso memiliki koneksi dengan orang-orang Istana Linghun dan merasa dikhianati. Dia sepakat untuk naik tahta lebih cepat demi batu jiwa, tapi batu jiwa itu malah diberikan pada Kaisar. Apa-apaan ini!
Batu jiwa adalah harta langka dan berharga. Nilainya tidak bisa diukur oleh beberapa koin emas atau batu alam sekalipun. Hanya ada sedikit di dunia, tapi dia telah kehilangan satu di bawah hidungnya. Sekarang, saat batu jiwa lainnya ada di depan mata, Kaisar merenggutnya.
Alfonso marah!
Vale sadar perubahan yang terjadi. Dia menghampiri, lalu menyentuh bahu Alfonso yang dingin. Ia dapat merasakan niat membunuh yang intens, tapi dia tidak takut. Dia hanya takut pada pria di sisi nyonyanya dan amarah nyonyanya.
"Yang Mulia ...." Vale menegur. Tatapannya masih terlihat polos ketika memanggilnya.
Alfonso menoleh ke arah Vale. Tatapannya penuh tuntutan. "Apa orang itu menemuimu lagi?"
Vale paham siapa yang dimaksud Alfonso. "Dia hanya ingin batu jiwa dimiliki oleh seseorang yang paling berpengaruh di kekaisaran."
"Aku akan segera naik tahta—"
"Yang Mulia, maaf jika aku harus mengatakannya. Dilihat dari kondisi Kaisar, sepertinya akan sulit."
Dengan kekuatan jiwa, Kaisar akan mendapat umur yang panjang. Dia tidak akan semudah itu memberikan tahtanya pada Alfonso apa pun yang Alfonso lakukan. Ini sama saja mendesak Alfonso untuk melakukan kudeta!
Alfonso terlalu marah sampai tidak mementingkan hal lain dan menekan leher Vale dengan keras. Leher Vale tercekik, tapi tidak cukup membuat Vale terkejut.
Dia sudah diantisipasi bahwa Alfonso kemungkinan akan melakukan hal gila saat marah, jadi sudah mempersiapkannya. Meski hati kecilnya sedikit takut, dia berhasil mendapat ketenangannya setelah serangkaian pembelajaran dari Su Churan.
"Apa kau berusaha membohongiku tentang batu jiwa? Kau adalah orang itu, kan?"
"Yang Mulia .... apa maksudmu?" Vale merasa tercekat. Lehernya sangat sakit.
"Kau yang memberi Kaisar batu jiwa!"
Vale menggeleng dan berkata dengan cepat, "Orang itu tidak sabaran dan harus kembali ke Istana Linghun secepatnya sehingga batu jiwa sudah harus diberikan pada kekuasaan tertinggi. Aku tidak tahu selengkapnya."
Cekikan di leher Vale dilepas. Vale terbatuk sambil memegang dinding untuk menahan tubuhnya agar tidak runtuh. Dia masih terlalu lemah.
"Jadi orang itu sudah pergi?"
"Aku tidak tahu." Vale diinstruksikan hanya untuk mengatakan yang baru saja dia katakan. Jika Alfonso menanyakan hal lain, dia harus menjawab tidak tahu.
Alfonso selalu merasa bermasalah sejak awal. Dia sudah mengawasi tiap orang yang ditemui Vale termasuk Gu Yuena, tapi tidak menemukan apa pun. Vale adalah orang yang dekat dengan Gu Yuena. Gu Yuena memiliki hubungan dengan Istana Linghun. Apa Gu Yuena pelakunya?
Tapi hubungan Gu Yuena dan Kaisar jelas tidak baik. Untuk apa Gu Yuena memberi keuntungan pada Kaisar? Dengan temperamen Gu Yuena, tidak akan semudah itu memberikan harta berharga pada Kaisar yang akan turun tahta dalam beberapa waktu ke depan.
Hari ini seharusnya menjadi hari kenaikannya menjadi Putra Mahkota. Alfonso sudah menunggu hari ini. Tapi orang itu malah memberikannya pada Kaisar.
"Yang Mulia, Kaisar pasti terkena pengaruh batu jiwa yang akan menghambatmu menjadi Kaisar selanjutnya. Tidak ada jalan lain. Cepat atau lambat, Istana Linghun pasti hanya akan mendukung Kaisar. Apalagi, Istana Tianshuang juga sudah menjadi kerabat Kaisar."
Alfonso berpikir sejenak. Kadang ia merasa Vale bukanlah gadis biasa. Pikirannya tajam dan berbahaya. "Kau ingin aku merebut tahta?"
Vale menunduk. "Aku tidak berani."
Alfonso mendapatkan kembali ketenangannya. Kaisar akan menggila sebentar lagi dan negara akan berubah secara drastis. Dia harus mengerahkan apa yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Tidak sekali atau dua kali Alfonso berpikir untuk melakukan kudeta. Dia telah mempersiapkan pasukannya dan dukungan dari faksi kaisar. Di depan saja para faksi kaisar ada di pihak Kaisar, tapi sebenarnya mereka diam-diam mendukung Alfonso. Di mata mereka, Alfonso adalah Kaisar yang sebenarnya.
Itu sebabnya dia tidak terlalu mencurigai Vale yang berasal dari keluarga faksi kaisar. Dia justru ingin menikahinya, mengingat umurnya sudah cukup.
Alfonso kembali lembut pada Vale dan mengusap wajahnya dengan seringaian. "Kamu tenang saja, aku pasti akan menjadikanmu permaisuri jika membantuku sekali lagi."
Hati Vale mendingin. Apa yang akan dilakukan Alfonso di saat-saat seperti ini?
Apa pun yang Alfonso lakukan, sepintar apa pun dia, dia sudah masuk ke dalam perangkap skema Gu Yuena. Vale hanyalah perekamnya.