
Warren meminta keduanya menunggu selagi pembuatan pil dilangsungkan. Pria itu meminta waktu 3 hari untuk prosesnya.
Karena hari sudah malam ketika diskusi dan makan malam berakhir, Karl menawarkan penginapan khusus tamu di dalam guild. Karena kamar tamu sudah penuh dan hanya tersisa satu, ia pun meminta pertimbangan keduanya.
Tentu saja Gu Yuena berucap, "Tidak perlu, aku ingin menginap di luar." Jelas alasannya tak lain karena tidak ingin sekamar lagi dengan iblis itu. Ia masih kesal atas kejadian tadi pagi.
"Di luar?" Karl terkekeh, "Guild kami memiliki fasilitas lengkap. Selama Nona menginap di sini, aku bisa menanggung semuanya tanpa pungutan biaya."
"Dia?" Gu Yuena menunjuk ke arah Bai Youzhe yang sedang tadi anteng mendengarkan.
"Tentu saja aku tidak bisa mengabaikan Tuan Muda Luo."
Wajah Gu Yuena menunjukkan penolakan yang intens. "Jadi kau ingin kami menggunakan kamar yang sama?"
"Apa masalahnya?" Karl terlihat tidak tahu masalahnya ada di mana. Dari tadi dua manusia ini terus bersama. Ia pikir mereka adalah kekasih, mengingat betapa pelit Bai Youzhe ketika ia melirik Gu Yuena sedikit saja. Tak masalah kan jika ditempatkan di ruangan yang sama?
Gu Yuena merasa ingin menghilang sekarang. Ia melirik Bai Youzhe, memintanya mengatakan sesuatu.
Tapi sepertinya pria itu tidak keberatan atas kesalahpahaman Karl.
Ini sih maunya saja!
"How's ****." Gu Yuena mengumpat. Untung saja kedua pria itu tidak tahu maksudnya.
Pada akhirnya, Gu Yuena tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak bisa kabur, tidak bisa menolak, tidak bisa berpendapat. Ia benar-benar diam sepanjang perjalanan, mengabaikan Karl yang terus mengoceh membanggakan guild-nya.
Penginapan dalam guild memiliki sangat banyak kamar. Sayangnya, hari ini ada terlalu banyak tamu melebihi hari biasanya. Mungkin karena adanya festival sehingga membuat banyaknya pengunjung dari berbagai daerah. Ditambah, ada sedikit renovasi di dalam.
Karl mengarahkan mereka berdua ke salah satu pintu. Pria itu membuka kunci pintu, lalu menyerahkannya pada Bai Youzhe.
"Selamat istirahat ...." Pria itu membungkuk, lalu pergi dengan langkah santai sambil melempar-lempar kumpulan kunci di tangannya.
Tersisa mereka berdua yang masih di luar ruangan. Setelah memastikan Karl telah menghilang, Gu Yuena berbicara, "Bisakah aku pergi keluar sendirian?"
"Racun api akan menyakitimu jika sedikit saja menggunakan sihir ketika orang jahat menghampiri." Bai Youzhe menolak dengan alasan.
"Bukankah orang jahatnya sudah di depan mata?" Gu Yuena mendengus.
Sedangkan Bai Youzhe terkekeh pelan. Ia membuka pintu, lalu masuk begitu saja ke dalam ruangan.
"Kau membawaku ke alkemis karena menyesal atau ada maksud tertentu?" Gu Yuena bertanya lagi sambil mengikuti pria itu memasuki ruangan.
"Karena itu adalah tujuanku."
"Kau sudah tahu racun api di tubuhku sejak dulu?"
"Bisa dibilang begitu."
"Kenapa?"
Bai Youzhe berbalik ke arah Gu Yuena ketika perempuan itu mengajukan pertanyaan mengapa ia melakukan ini semua. Wajah datarnya melihat Gu Yuena dengan serius.
"Apa aku perlu menjelaskannya lebih lanjut?" Bai Youzhe malah bertanya balik.
Sepertinya Gu Yuena paham akan sesuatu. Ia memalingkan wajah, "Tidak perlu .... Aku tidak akan bertanya lagi."
Ia tidak bisa pergi, jadi hanya bisa bermalam di tempat ini. Gadis itu melangkahkan kaki ke atas bangku panjang yang tersedia, lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja sambil memeluk diri sendiri.
Seperti yang dikatakan Karl, mereka mendapat kamar premium. Ada sebuah tempat tidur besar yang berbeda dari Kekaisaran Yi dengan kelambu dan pemanas ruangan berupa perapian. Benar-benar khas kerajaan barat kuno.
Sedangkan Gu Yuena memilih tidur di bangku panjang yang cukup nyaman untuk dijadikan tempat tidur di depan perapian.
"Pasien tidak tidur di tempat yang tidak nyaman." Bai Youzhe menghampiri Gu Yuena, berdiri di depannya sambil menunduk melihat gadis yang ingin menutup mata.
"Diamlah dan jangan gunakan nada memerintah." Gu Yuena menyahut tak acuh.
Bai Youzhe berjongkok, melihat wajah Gu Yuena yang acuh tak acuh itu. "Kau adalah pasienku."
"Padahal kau bukan dokter sama sekali."
"Aku yang merawatmu."
Gu Yuena berdecak sebal. Ia membalikkan posisi ke arah sandaran kursi, tidak mau melihat wajah menyebalkan itu.
Bai Youzhe berdiri setelah beberapa saat melihat perempuan yang membelakanginya. Ia mengangkat perempuan itu begitu saja, menyebabkan Gu Yuena mengeluh kesal dan menendang-nendang udara dengan lemah.
"Padahal kau bisa memerintahku ...." Gu Yuena pasrah, sekaligus sangat kesal sampai ingin berteriak. Kenapa harus digendong, sih!
"Seperti katamu, 'jangan gunakan nada memerintah'." Bai Youzhe melangkahkan kaki, membiarkan Gu Yuena merutuk sendirian di pelukannya.
Pria itu merebahkan Gu Yuena di atas tempat tidur, lalu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Gu Yuena. Udara di sini cukup dingin meski sudah ada perapian.
"Bukankah biasanya kau pantang menyerah untuk mendapat kenyamanan?" Bai Youzhe melihat Gu Yuena dengan sedikit senyuman. Hanya sedikit.
"Biasanya kau mengambil kesempatan dalam kesempitan." Gu Yuena bicara dengan nada menyindir.
Hal tersebut membuat Bai Youzhe terkekeh. Ia meraih rambut Gu Yuena yang acak-acakan untuk merapikannya, namun gadis itu malah menjauh menghindar. Bai Youzhe pun menarik kembali tangannya.
"Tidurlah, jangan memikirkan hal aneh." Pria itu pergi ke arah bangku yang baru saja dijadikan tempat tidur oleh Gu Yuena.
Gu Yuena melihatnya dalam diam. Bai Youzhe tampak menjatuhkan tubuhnya di atas bangku dan mengambil posisi yang nyaman untuk tidur.
Sepertinya, ia hanya terlalu banyak berpikir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kayu perapian habis menjadi arang, membuat api yang membakarnya perlahan menghilang. Ruangan yang sebelumnya hangat akan perapian, kini dimasuki aura dingin yang cukup kuat.
Bai Youzhe bukannya kedinginan, keringat justru keluar membasahi tubuhnya. Keningnya berkerut, matanya terbuka menunjukkan iris biru malam yang unik. Wajahnya terlihat pucat. Dia bangun dari posisinya sambil memegangi dada yang terasa sakit.
Pertempuran sebelumnya terlalu banyak menggunakan kekuatan untuk menahan serangan phoenix dan kelompok roh. Tidak seharusnya ia menggunakan kekuatannya sampai melampaui batas, apalagi memadatkan naga yang merupakan bagian dari kekuatannya untuk menekan phoenix. Hal itu menyebabkan periode lemahnya berlangsung lebih cepat dari seharusnya.
Pandangannya terarah pada Gu Yuena yang tertidur pulas. Ia tidak bisa memulihkan diri di sini, atau auranya akan mengganggu Gu Yuena.
Bai Youzhe berdiri dan buru-buru pergi. Ia tidak bisa pergi keluar, karena seseorang akan menyadari kondisinya. Itu akan sangat merepotkan.
Karena tidak memiliki pilihan, ia pun memasuki pintu kamar mandi di sudut ruangan dan duduk memulihkan tubuhnya.
Bai Youzhe tidak tahu, hal tersebut disadari oleh Gu Yuena yang terbangun karena dinginnya suhu. Iris merah darah itu melihat jejak es di tempat di mana Bai Youzhe baru saja menginjakkan kaki.
Itu menuju kamar mandi.
"Ada apa dengannya?" Gu Yuena mengerutkan kening.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Gu Yuena beranjak dari tempat tidur. Kakinya melangkah ke arah kamar mandi, melewati jejak-jejak es yang tampak beruntun di lantai. Fenomena ini agak aneh, karena selama di asrama, ia tidak pernah melihat Bai Youzhe yang begitu di luar nalar.
Yah, meski sebenarnya pria itu sudah di luar nalar sejak awal. Tapi kali ini, tidak sampai terlihat olehnya sesuatu yang lebih mengejutkan.
Pelan-pelan, Gu Yuena membuka pintu kamar mandi yang rupanya tidak dikunci. Ada kalanya seseorang berbuat ceroboh di tengah situasi krisis.
Di dalam kamar mandi yang gelap, Gu Yuena melihat seorang pria tampan bersurai putih duduk bersila di tepi kolam. Dia tampak mengeluarkan banyak keringat, namun keringat itu berubah menjadi es beku yang jatuh ke lantai.
Gu Yuena jadi ingat ketika mereka bertarung sebelumnya. Bai Youzhe mengeluarkan kekuatan es untuk menahan phoenixnya. Tapi bukankah kekuatannya adalah api neraka?
Tunggu dulu, bagaimana Bai Youzhe bisa memiliki rambut putih?
Ini di luar nalar!
Gu Yuena mendekatinya untuk melihat lebih jelas. Ia pikir pria itu tidak menyadari kehadirannya, sehingga ia bebas melihat dari dekat.
Berdasarkan pengamatannya, Bai Youzhe sedang kesakitan. Aura spiritual di sekitar membantu tubuhnya bertahan dari rasa sakit luar biasa yang menyebabkan keringat dingin dan beku itu keluar.
Jadi ini asalnya jejak es itu.
Apa ini karena pertempuran kemarin?
"Kau bertindak sangat kuat. Dasar berwajah dua." Gu Yuena mendengus. Tidak tahu dari mana rambut yang berubah warna itu, ia merasa untuk sementara ini Bai Youzhe tidak bisa melakukan apa pun atau bahkan sedikit bereaksi.
Jika dia membunuh Bai Youzhe, segel pikiran yang menghambatnya ini akan terlepas dengan sendirinya. Apalagi, mereka adalah musuh. Jika satu musuh seperti Bai Youzhe tersingkirkan, sama saja seperti menghabisi ribuan musuh.
Pikiran jahat itu terlintas begitu saja di benaknya, bersamaan dengan sebilah belati yang dikeluarkan dari ruang spiritual.
Tapi ketika melihat Bai Youzhe untuk kesekian kalinya, terutama ketika melihat betapa berusaha ia menahan rasa sakit itu, entah kenapa ia jadi ragu.
Bai Youzhe tidak pernah berniat membunuhnya. Meski ia tidak percaya, tetap saja masih ada sedikit rasa percaya yang tersisa setelah menghadapi betapa peduli pria itu padanya. Bahkan sampai membawanya ke tempat ini.
Apa bagus jika ia membunuhnya?
"Valentina, kenapa kau malah ragu?" gumam Gu Yuena, mengeratkan pegangan belatinya.
Benar, ia adalah Valentina yang telah membunuh banyak orang semasa hidupnya. Ia membunuh tanpa memandang jenis maupun usia. Ia bahkan tidak berkedip ketika membunuh seorang anak kecil. Kenapa sekarang dia justru merasa ragu?
Pria di depannya menyusahkannya. Siapa yang tahu apa yang ada di dalam otak kecil itu? Pria yang licik dan penuh perhitungan. Dia bahkan bisa menebak apa yang akan dilakukan Gu Yuena selanjutnya. Gu Yuena tidak boleh menyisakan musuh seperti itu.
Ini adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan kesempatan di depan mata.
Belum tentu akan ada kesempatan lain!
Pikiran Gu Yuena terus mendesaknya untuk membunuh, tapi hatinya terus merasa ragu meski hanya untuk mengangkat belatinya. Hingga akhirnya ketika ia sadar, belati sudah diangkat ke udara dan akan didaratkan ke titik vital pria itu.
Keraguan itu terus berlanjut, sampai mengacaukan pikirannya.
Baiklah, jika berhasil, ia tidak boleh menyesal dan harus menyelesaikan masalahnya dengan cepat. Tapi jika gagal—seperti Bai Youzhe bangun tiba-tiba atau ketahuan seseorang—ia akan berhenti berpikir untuk membunuhnya.
Tetap saja, dia tidak boleh melewatkan kesempatan langka ini.
Gu Yuena sudah memutuskan, bahwa ia akan melanjutkan dan sisanya akan terserah pada keberuntungan Bai Youzhe.
Jantung Gu Yuena berdegup terlalu keras sampai membuatnya tidak nyaman. Tangannya bergetar, tapi ia tidak bisa menghentikan keinginannya.
Pada akhirnya, belati itu meluncur tepat ke arah jantung yang berada di dada sebelah kiri.
Tapi ketika ujung belati itu melubangi helai benang pakaian Bai Youzhe dan menggores kulitnya, sebuah tangan menahan lengan Gu Yuena dengan erat hingga belati tidak berhasil menusuk terlalu dalam.
Gu Yuena terkejut. Ia melepas belati begitu saja sampai jatuh, sedangkan noda merah terlihat di pakaian Bai Youzhe.
Ia ketahuan!
Gu Yuena melihat Bai Youzhe yang masih menutup mata, menahan rasa sakit. Pegangannya terhadap lengan Gu Yuena sangat kuat.
Apa pria itu marah?
Benar, sudah sewajarnya dia marah.
Saat Gu Yuena berpikir bahwa Bai Youzhe mengetahui apa yang ingin dia lakukan dan marah, tiba-tiba saja kepala pria itu tertunduk dan jatuh ke bahu kiri Gu Yuena.
"...."
Gu Yuena terdiam.
Ada apa ini?
Gu Yuena melihat pria itu sekilas, "Bai Youzhe—"
"Hangat."
"Apa?"
Tiba-tiba saja Bai Youzhe memeluknya begitu erat, seolah Gu Yuena adalah boneka. Gu Yuena benar-benar tersentak akan apa yang baru saja terjadi.
Sebenarnya ia ketahuan atau tidak?
"Bai Youzhe?" Gu Yuena menepuk bahu pria itu beberapa kali. Ia merinding ketika napas dingin milik Bai Youzhe menerpa lehernya.
"Tetaplah seperti ini," bisiknya.
Meski tubuh Bai Youzhe sangat dingin seperti akan membeku kapan saja, Gu Yuena sama sekali tidak kedinginan. Tidak seperti ia kedinginan karena suhu. Ia tidak tahu sebabnya.
"Baik." Gu Yuena akhirnya luluh. Ia pun memeluk balik pria itu dengan ragu.
Gu Yuena gagal membunuh. Apa itu berarti ia harus berhenti mencoba membunuh Bai Youzhe?
Kalau begitu, ia akan sedikit memberi keringanan. Asalkan Bai Youzhe tidak mencelakai kakaknya dan tidak berniat membunuhnya, ia tidak akan membunuh pria malang ini.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gu Yuena, sebagai basa-basi dan memastikan Bai Youzhe sadar atau tidak.
"Mm?"
Hembusan napas dingin itu begitu terasa. Hal itu membuat sensasi aneh yang tidak asing pada Gu Yuena. Tapi ia sama sekali tidak bergerak.
"Bai Youzhe ...."
Ada sesuatu yang basah menerpa lehernya. Dingin, tapi membakar tubuhnya dengan tak biasa. Gu Yuena mencengkram pegangannya, menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan menjalar yang berbeda dari seharusnya.
Sepertinya jarak mereka benar-benar terhapus. Gu Yuena tidak tahu, karena ia benar-benar tidak bisa fokus pada apa di depannya.
Tanpa Gu Yuena sadari, tubuhnya terangkat ke pangkuan Bai Youzhe sebelum akhirnya ia dapat melihat sepasang iris biru malam itu lagi. Ia merasa hatinya mengganjal, pikirannya kosong ketika iris merahnya melihat sepasang mata indah yang hanya berjarak beberapa senti.
"Kenapa kamu di sini?" Bai Youzhe bertanya.
Gu Yuena melamun untuk beberapa saat, "Aku ...."
Gu Yuena tidak bisa menjawab. Apa ia perlu mengatakan bahwa ia datang untuk membunuh tapi gagal?
Apa pun alasannya, bukankah seharusnya Bai Youzhe telah menebak?
Tapi pria itu tidak mengatakan apa pun lagi. Ia menekan tubuh Gu Yuena untuk menempel sempurna dengan tubuhnya, lalu menyatukan bibir mereka dengan ******* lembut.
Gu Yuena benar-benar terdiam. Oh yaampun, bagaimana ia bisa sampai di posisi seperti ini?
Gu Yuena tidak mau tahu. Ia diam tanpa bisa melakukan apa pun, sampai akhirnya tubuhnya sendiri yang mengambil alih. Ia menutup mata, mengikuti perasaan aneh dalam tubuhnya yang memancingnya untuk menggigit bibir Bai Youzhe dan membalas lumatannya.
Ciuman diperdalam ketika Bai Youzhe menekan tengkuk Gu Yuena dan bermain dengan lidahnya. Seolah masalah sebelumnya tidak pernah ada, ia terperangkap dalam sensasi aneh yang menurunkan rasa dingin di tubuhnya. Ia justru merasa terbakar.
Tapi secepatnya Bai Youzhe sadar, situasinya tidak dibenarkan. Ia melepas ciuman dengan enggan, menatap sepasang iris merah darah yang begitu indah dan membuatnya sangat ingin melakukannya yang lebih jauh.
Gu Yuena di sisi lain merasa harus mengambil napas sebanyak-banyaknya. Napasnya memburu sampai dadanya naik-turun tanpa melepas pandangannya terhadap sepasang iris biru malam itu.
Ah, sepertinya wajahnya terlihat konyol.
Bai Youzhe menyentuh wajah Gu Yuena dengan lembut, lalu mengusapnya perlahan dan menyatukan dahi mereka. Ia pun berkata dengan berbisik, "Kembalilah."
"Apa?" Gu Yuena baru sadar dari kesurupannya. Sentuhan tangan Bai Youzhe di wajahnya benar-benar membuatnya gila!
"Besok masih harus bertemu dengan yang lain. Kamu tidur terlebih dahulu."
Ada banyak pertanyaan di benak Gu Yuena. Tapi ia sadar sekarang bukan saatnya yang tepat untuk bertanya.
Sebenarnya, ada rasa kecewa di hatinya ketika mendengar Bai Youzhe memintanya kembali tidur. Ia sendiri tidak tahu harapannya seperti apa.
Pada akhirnya, Gu Yuena mengangguk singkat. Ia tidak tahu perasaannya sendiri, tapi buru-buru pergi dari ruangan dan kembali ke tempat tidurnya secepat kilat. Ia menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala.
Dia benar-benar akan gila!
Sedangkan Bai Youzhe masih tetap pada posisinya, melihat kepergian Gu Yuena yang terkesan lucu. Jika ini di waktu lain, ia pasti akan memiliki kesempatan menertawakan gadis itu seperti tempo hari.
Untuk sekarang, ia harus menetralkan energinya yang sempat kacau.
Tapi sebelum kembali ke dalam posisi meditasi, ia melihat sebilah belati yang jatuh di dekatnya. Pandangannya tertunduk ke arah dadanya yang memiliki sedikit noda merah.
Tiba-tiba bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum miring.
Memang, kucing nakal itu tidak berubah.