
Sebagai Tetua Agung, Yan Shuiyin memiliki peran penting di Istana Yuansu yang membuatnya dapat bebas membuat keputusan tanpa memandang tetua lain. Itulah yang ia lakukan saat membawa Gu Yuena menjauh dari kelompok murid yang akan dikirim ke istana.
Ia sendirilah yang akan mengantar muridnya ke istana.
Bagaimana jika muridnya yang imut dan menyebalkan ini ditindas orang seperti kemarin?
Menggunakan seekor angsa sebagai tunggangan pribadi Yan Shuiyin, mereka pergi ke istana lebih awal.
Tindakan itu membuat banyak kecemburuan di antara murid-murid terpilih—termasuk Lin Xi. Mereka pergi bersama-sama menggunakan kapal terbang untuk melintasi perhutanan dan melewati pembatas istana.
Ini seperti perbedaan antara bus dan mobil pribadi.
Tapi 'bus' yang dimaksud bukan bus biasa. Itu adalah sebuah kapal mewah yang cukup besar dan sebagian terbuat dari emas. Meski kecepatannya kalah dari seekor angsa putih yang besar dan cantik, kapal terbang itu tetaplah kendaraan paling mahal yang tidak dimiliki instansi biasa.
Namun, jangan remehkan angsa milik Yan Shuiyin. Alasan mengapa Lin Xi sangat iri pada Gu Yuena adalah karena gadis itu dapat merasakan menunggangi seekor monster udara tingkat 9 yang sangat kuat!
Monster tingkat 9 lebih langka dibandingkan kapal udara ....
Mereka tidak tahu, Xiao Hei dan Xiao Bai yang biasa mengintili Gu Yuena sebagai kucing kecil yang imut dan bermanja setiap saat adalah monster kuno dan monster iblis.
Itu bukan langka lagi.
Tapi legenda!
Gu Yuena dan gurunya sampai lebih cepat dibandingkan kapal udara akademi. Mereka melewati pembatas istana yang berupa barrier transparan. Itu adalah gerbang masuk istana dengan array khusus agar tidak semua orang bisa masuk seenaknya.
Mereka turun dari punggung angsa. Di sekitar mereka masih berupa perhutanan, di mana semua 'kendaraan' diwajibkan mendarat sebelum memasuki istana.
Setelah angsa tersebut pergi atas perintah Yan Shuiyin, keduanya langsung melangkah melintasi hutan ke arah di mana cahaya berada.
Keluar dari wilayah perhutanan, mereka dihadapkan dengan tanah lapang yang luas. Ralat, sebuah area yang begitu luas dengan berbagai tanaman dan pepohonan unik yang berjejer teratur. Ada pula danau disertai air mancur yang begitu indah dengan bunga teratai yang menghiasi.
Danau itu mengelilingi istana utama, membuat istana tersebut berada di atas air dan di tengah danau tanpa adanya jalan penghubung.
Apa mereka menggunakan metode terbang untuk sampai di istana?
Tapi kalau dipikir-pikir, Gu Yuena bahkan tidak bisa mengeluarkan sayap di sini seolah tempat ini memiliki penghalang khusus.
Tempat yang indah, juga aneh bersamaan.
"Apa Guru tinggal di sini?" Gu Yuena bertanya.
Yan Shuiyin tersenyum bangga. "Ini adalah bagian terkecil Istana Yuansu. Di dalamnya memiliki banyak pintu penghubung, yang membawa kita ke berbagai tempat sesuai letak yang diberikan. Sama seperti Tanah Tersembunyi."
"Jadi, kau tidak tinggal di sini?"
"Aku tinggal di sini, tapi di bagian lain istana yang terhubung dengan istana utama. Di sanalah tempatku sebagai Tetua Agung berada."
Itu mengartikan, bahwa Istana Yuansu sangat besar. Atau bahkan lebih besar dari istana kekaisaran. Apa semua istana seperti itu?
"Ayo kita masuk." Yan Shuiyin berjalan di depan, membiarkan Gu Yuena mengikuti.
Gu Yuena agak ragu, karena Yan Shuiyin melangkah ke tepi danau. Gadis itu terus memperhatikan sang guru melangkah secara perlahan layaknya seorang wanita anggun.
Secara tak terduga, Yan Shuiyin melangkah ke air danau. Gu Yuena yang sudah merasakan hal aneh sejak tadi langsung menghela napas melihat apa yang terjadi di depannya.
Yan Shuiyin tidak jatuh ke air, melainkan berjalan di atas air.
Inilah dunia fantasi.
"Ah, aku harus memeriksa otakku apa baik-baik saja." Gu Yuena dengan berat hati melangkahkan kaki mengikuti Yan Shuiyin 'berjalan di atas air'.
Padahal ia yakin air danau itu dalam, dilihat dari ikan-ikan yang berenang. Tangannya masih bisa menyentuh air tanpa penghalang ketika memastikan, tapi ia justru berjalan di atas sana seolah ditopang oleh kaca. Roknya tak basah pula.
Bagaimana menjelaskannya secara logika?
Tidak masuk akal.
Mengabaikan 'jembatan' aneh yang berputar-putar di kepalanya, Gu Yuena memilih cepat keluar dari danau sebelum jatuh tenggelam.
"Cepatlah." Yan Shuiyin langsung memasuki perkarangan istana saat itu juga.
Gu Yuena yang mengintil, terdiam ketika melihat ada banyak orang berseragam putih berlalu-lalang melakukan pekerjaan. Kebanyakan dari mereka adalah pelayan yang bekerja.
Perasaan ia tidak melihat atau merasakan siapa pun dari luar. Ilusi macam apa ini?
Ketika melihat kehadiran Yan Shuiyin, mereka semua langsung menghadap ke arahnya dan membungkuk memberi salam hormat. Bagaimanapun, Yan Shuiyin adalah orang tertua dan terhormat di Istana Yuansu selain Raja.
"Aku membawa muridku untuk menghadap sesuai perintah Raja." Yan Shuiyin berkata dengan nada sedikit arogan. Sepertinya ia begitu 'akrab' pada sang raja yang merupakan keturunan mantannya.
"Tetua Agung Yan, sebelah sini." Seorang pelayan pria memberi jalan pada Yan Shuiyin dan mengantarnya ke aula utama.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang begitu besar. Saking besarnya sampai cukup menampung ratusan orang, seperti ruangan pertemuan atau aula utama sebuah istana pada umumnya.
Ada beberapa orang yang hadir di dalam ruangan. Salah satunya adalah seorang pria tua dengan janggut dan rambut yang memutih karena uban. Ia terlihat puluhan tahun lebih tua dari tetua Puncak Terang.
Di samping pria tua itu, tampak sosok pria tampan yang sekiranya beberapa tahun lebih tua dari Gu Yuena. Sepertinya dia sepantaran Yang Xinyuan. Dia tampan dan terlihat ramah pada siapa pun. Berdiri di sana, dia tenang dan membawa aura positif ke semua orang. Pas sekali dengan tipikal pria idaman.
Yah, sebenarnya Gu Yuena sudah tahu siapa pria tampan itu. Dia adalah Yun Qiao, murid langsung Raja Istana Yuansu yang sepertinya adalah pria tua itu.
Sisanya adalah orang-orang yang tidak diketahui Gu Yuena. Tapi ia tebak, posisi mereka cukup tinggi di Istana Yuansu sehingga bisa mendapatkan tempat duduk di antara kursi tahta.
"Yan Shuiyin, menghadap Raja Yun." Yan Shuiyin memberi salam secara singkat. Gu Yuena langsung mengikuti dengan lebih sopan.
Mengingat identitas Yan Shuiyin, wajar jika wanita ribuan tahun itu ogah-ogahan memberi salam. Raja juga tidak terlihat tersinggung.
"Tetua Agung, apa dia adalah murid pribadi yang kau bawa dari Tanah Tersembunyi-mu? Aku sempat terkejut mendengar bahwa kau menerima seorang murid." Raja Istana Yun tampak sangat tenang dan bersahabat. Meski sudah tua, ia tidak kolot seperti para tetua yang begitu formal pada wanita awet muda yang bosan keformalan itu.
"Namanya adalah Gu Yuena, dari Kekaisaran Yi. Aku tentu tidak menerima murid secara asal. Kau sudah dengar rumor mengenainya."
Raja Yun tertawa mendengar ucapan Yan Shuiyin yang terkesan blak-blakkan dan malas menjelaskan. Itu memang sifat yang membuatnya mendapat reputasi tidak baik di kalangan tetua.
"Yah, aku tidak bisa hanya mendengarnya dari rumor belaka. Setelah dilihat langsung, muridmu benar-benar istimewa. Aku bahkan tidak bisa menebak kultivasinya."
"Sudah kukatakan padamu sebelumnya, jangan memeriksa muridku sembarangan!" Yan Shuiyin terlihat jengkel. Wajahnya menjadi masam.
Gu Yuena tertegun akan 'keakraban' orang tua dan wanita awet muda itu. Yang satunya adalah seorang Raja, tapi serasa tidak memiliki harga diri di depan seorang tetua. Ini ... benar-benar sesuatu.
Bahkan para tetua yang duduk di sana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Sedangkan Yun Qiao menahan tawa.
"Tetua Agung Yan, aku harap kamu tenang dan kembali ke tempatmu. Kami memanggil Gu Yuena, bukan untuk menindasnya seperti yang kau pikirkan." Salah seorang tetua menengahi perdebatan antara dua atasannya. Yang satu adalah raja, sedangkan yang satu adalah orang paling 'tua'. Ia sampai bingung sendiri.
Yan Shuiyin mendengus. Ia pun pergi ke kursinya, lalu duduk sambil memperhatikan gerak-gerik Gu Yuena yang sudah seperti patung di tempat. Ah, muridnya yang malang.
Menyadari semua orang menunggu, Gu Yuena langsung menunjukkan kesopanannya.
"Yang Mulia, saya adalah Gu Yuena, putri keempat kediaman adipati Gu Kekaisaran Yi, murid Tanah Tersembunyi Akademi Yuansu." Gu Yuena memperkenalkan diri secara formal. Ia tidak perlu menyembunyikan identitas, karena orang tua itu pasti sudah tahu latar belakangnya.
"Sebelumnya kamu telah mendapat peringkat pertama saat pertama kali ujian dan memiliki kesempatan memasuki Istana Yuansu. Aku ucapkan selamat untukmu."
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Lalu kemarin Tetua Agung Yan mengatakan padaku, bahwa kekuatanmu telah meningkat lebih cepat dari anak kebanyakan. Itu adalah bakat yang langka dalam sejarah. Istana Yuansu tidak akan menyianyiakan bakat seperti itu, jadi aku secara langsung mengundangmu untuk menjadi bagian dari Istana Yuansu dan berlatih di tempat ini."
Gu Yuena sudah menduganya. Ia tidak terkejut, karena itu memang harus ia dapatkan sebagai bagian dari imbalan usahanya.
"Yang Mulia terlalu memuji, murid hanya melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan." Gu Yuena kemudian teringat sesuatu. "Aku dengar Istana Yuansu akan memberiku hadiah untuk pencapaianku."
Raja Istana Yuansu tersenyum. "Hadiah apa yang kamu inginkan?"
"Apa aku bebas meminta?"
"Ya, satu permintaan. Jadi pikirkan baik-baik."
Gu Yuena mengangguk, lalu berkata dengan sungguh-sungguh. "Kalau begitu, murid ingin bisa memasuki perpustakaan Istana Yuansu dan mengakses seluruh bagian perpustakaan."
Permintaan Gu Yuena membuat mereka terkejut. Memasuki perpustakaan dan mengakses seluruh perpustakaan sudah termasuk memberikan seluruh rahasia Istana Yuansu padanya. Memang benar tidak semua berkas dapat dilihat sembarangan, tapi itu tetap saja membuka celah.
"Apa perpustakaan akademi tidak cukup memuaskanmu?"
"Perpustakaan Istana Yuansu memuat informasi yang rumit. Teknik sihir di dalamnya juga terlalu tinggi. Aku bisa memberimu akses memasuki tempat itu, tapi kekuatanmu mungkin tidak bisa menerima teknik sihir yang kamu inginkan. Mereka dilindungi dengan sihir, kamu hanya akan membuang waktu."
Raja Istana Yuansu berpikir sejenak, lalu melanjutkan, "Begini saja, ketika kamu menerobos tingkat 7, aku akan mempertimbangkan dirimu untuk memasuki perpustakaan. Jika dilakukan sekarang, kesempatan itu belum tentu muncul sehingga kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan karena batasan itu."
Gu Yuena tersenyum tipis. "Aku paham niat Yang Mulia, tapi aku bisa yakinkan tidak akan mengecewakan Yang Mulia dan Guru."
Raja Yan melirik Yan Shuiyin yang masih duduk santai seolah tidak ada masalah. Wanita itu menarik alisnya ketika sadar pria tua itu melihatnya.
Pada akhirnya, Raja Yan menghela napas. "Baiklah kalau begitu. Ini adalah kesempatan terakhirmu, maka jangan menyesalinya."
Gu Yuena tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Ia terlihat seperti seorang anak yang dibelikan boneka, sangat manis.
Gadis itu membungkuk untuk berterima kasih. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Aku harap kau mempelajari sesuatu dari sana. Yun Qiao, antarkan adik seperguruanmu ke perpustakaan."
Yun Qiao adalah satu-satunya murid yang memiliki izin mengakses perpustakaan secara bebas karena identitasnya sebagai murid pribadi dan penerus raja. Itu sebabnya Raja Yan memerintahkannya untuk mengantar Gu Yuena.
"Baik, Guru." Yun Qiao tersenyum senang, dan membungkuk pada gurunya. Ia melihat Gu Yuena dengan pandangan ramah, seperti kakak sedang melihat adiknya.
Setelah beberapa perbincangan singkat, Yun Qiao mengantar Gu Yuena keluar dari aula. Keluarnya mereka berdua bertepatan dengan kedatangan kelompok akademi yang baru datang untuk menerima perintah.
Lin Xi ada di antanya, melihat Yun Qiao jalan berdampingan bersama Gu Yuena. Tatapannya menjadi sangat dingin ketika dua orang itu melintas begitu saja seolah tidak melihat mereka.
Perempuan itu berani mendekati pria yang akan menjadi suaminya!
"Gu Yuena ...." Lin Xi mengepalkan tinjunya, lalu pergi mengikuti rombongan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Wajahnya terlihat jelek, apa kau tidak ingin menjelaskan?" Gu Yuena mencibir Lin Xi yang tampak suram. Ia ingin tertawa, tapi malas ditemukan masalah.
"Apa yang harus dijelaskan?" tanya Yun Qiao.
"Kau pasti tahu rumor tentangmu dan Lin Xi."
Yun Qiao tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ia merasa bahwa Gu Yuena sedang salah paham. "Tidak ada yang seperti itu. Lin Xi berasal dari Klan Lin dan memiliki reputasi baik, wajar jika banyak yang memasangkannya padaku yang merupakan murid langsung Raja Yan. Mereka pasti berpikir, aku adalah penerus tahta, sedangkan hanya Lin Xi yang pantas menjadi ratu."
Gu Yuena mengangguk paham. "Aku pikir rumor itu karena ada perjodohan keluarga."
"Itu hanya asumsi orang-orang, terutama orang yang berpihak pada Klan Lin. Belakangan ini Klan Lin menjadi kacau."
"Sangat terlihat." Memang sangat kacau. Bahkan dua putri mereka sangat aneh, sampai ia malas berhadapan dengan dua perempuan aneh dan bodoh itu.
"Kedepannya, tidak perlu memikirkan rumor-rumor tidak jelas itu. Aku juga yakin, kau tidak seperti yang dikatakan rumor."
Gu Yuena melihat Yun Qiao, lalu tertawa hampa. "Aku benar membunuh orang, lho."
"Di sini, siapa yang tidak pernah membunuh orang? Lagi pula, kamu tidak melakukannya dengan tanganmu sendiri. Itu adalah kesalahan mereka."
Gu Yuena sangat ingin tertawa, tapi hanya bisa memberi kekehan kecil. Yun Qiao ini memiliki mulut yang manis dan pandai membujuk orang. Beda sekali dengan dua pria dingin dan menyebalkan itu.
Yun Qiao mengingatkannya pada Gu Yuan. Bagaimana kabarnya setelah pertempuran itu? Apa kakaknya sedang mengkhawatirkannya? Apa lebih baik ia mengirim surat?
Hah, tiba-tiba Gu Yuena sangat merindukan sosok kakak yang sangat memanjakannya itu.
Mereka melanjutkan percakapan ringan dengan seru sampai tak sadar bahwa pintu perpustakaan sudah di depan mata. Meski letaknya agak jauh, terasa sangat dekat karena mereka lebih cepat akrab.
Dibandingkan semua pria aneh yang ditemuinya, sepertinya hanya Yun Qiao yang normal dan netral.
Gu Yuena sangat bersyukur.
Yun Qiao memberikan sebuah benda yang terbuat dari logam berbentuk lingkaran ke tangan Gu Yuena. Itu memiliki kristal berwarna emas di tengahnya, terlihat seperti sebuah tombol yang indah.
"Jika ingin keluar, kau bisa memanggilku dengan ini. Aku akan membukakan pintunya lagi."
Gu Yuena mengangguk, lalu menyimpan logam tersebut ke dalam ruang spiritual. "Terima kasih."
Ia pun pergi memasuki perpustakaan yang dibukakan oleh Yun Qiao. Pintu besar perpustakaan tertutup begitu saja setelah Gu Yuena masuk ke dalamnya.
Yun Qiao melihat pintu yang tertutup penuh arti. "Aku harap kamu mendapatkan sesuatu di sana."
Di dalam gelapnya perpustakaan, Gu Yuena menyalakan sebuah lentera yang diberi sedikit api untuk menerangi ruangan. Terlalu gelap sampai matanya tidak dapat menembus cahaya. Serta ada terlalu banyak sihir sampai membuat Gu Yuena tidak dapat merasakan kekuatan apa pun dalam tubuhnya.
Apa ini alasan Raja Yan memperingatinya?
Tidak ingin berlama-lama, Gu Yuena langsung mencari lampu mana pun yang bisa digunakan untuk menerangi ruangan. Ia tidak percaya, perpustakaan sebesar ini tidak memiliki sumber cahaya.
Ia pergi ke tiap sudut, melihat berbagai rak yang tersusun secara terbuka serta beberapa lemari penyimpanan yang berdiri kokoh. Ia pikir, perpustakaan ini jauh lebih besar dari perpustakaan akademi.
Nyatanya, ia belum menemukan bagian ujung perpustakaan. Terlalu besar.
Xiao Hei dan Xiao Bai keluar dari ruang spiritual. Cahaya yang diciptakan oleh kemunculan mereka membuat Gu Yuena menoleh ke arah mereka berdua.
Belakangan ini, dua kucing itu jadi lebih pendiam. Ada apa dengan mereka?
"Menemukan sesuatu?" tanya Gu Yuena.
"Terlalu gelap." Xiao Bai menghela napas. Kegelapan ini tidak biasa karena dipengaruhi oleh sihir. Sedangkan ia mengalami cedera.
Berbeda dengan Xiao Hei yang berlari begitu saja dan menghilang dalam kegelapan. Gu Yuena dan Xiao Bai tidak bisa menemukannya lagi di tengah perpustakaan yang begitu besar.
Detik berikutnya, seluruh perpustakaan dipenuhi cahaya seolah memiliki lampu besar di atasnya. Terlalu mendadak sampai Gu Yuena harus menutup mata karena silau.
"Wah." Xiao Bai terpana.
Gu Yuena membuka mata perlahan. Matanya berbinar seketika begitu melihat berbagai macam bentuk rak yang penuh akan buku menyambut di berbagai sisi ruangan yang sangat besar.
Ada banyak sekali rak yang bergerak di udara, dilindungi oleh sebuah sihir. Beberapa buku sihir juga tampak berterbangan bebas dalam bentuk cahaya dan menembus rak begitu saja. Mereka seperti bintang jatuh yang sangat indah.
Xiao Hei kembali ke sisi Gu Yuena dengan senyum bangga. "Istana Yuansu sangat pintar meletakkan lampu spiritual di sudut perpustakaan. Untung saja aku menemukannya."
Xiao Bai memutar bola mata malas. Ia pun bergerak mencari sesuatu yang mungkin berguna baik untuk dirinya sendiri maupun nonanya.
"Kamu bantu aku." Gu Yuena memerintah Xiao Hei. Kucing hitam itu langsung menghilang dari pandangan, mencari barang yang Gu Yuena inginkan.
Ia tentu sudah tahu apa yang diinginkan nonanya.
Entah berapa lama waktu dilalui. Gu Yuena bergelut dengan buku-buku yang ia ambil secara bebas.
Jika orang melihatnya, mereka jelas akan sangat terkejut. Pasalnya, semua buku di sini dilindungi sihir sehingga tidak ada orang sembarangan yang bisa mencurinya.
Bagaimana Gu Yuena bisa melakukannya?
Jika ditanya, Gu Yuena sendiri juga tidak tahu. Ia hanya melihat buku yang menarik, lalu mengambilnya seperti biasa. Meski ada sedikit fluktuasi energi, ia bisa mengabaikannya dengan santai seolah itu adalah angin lewat.
Karena tidak menemukan apa yang diinginkan, ia pun mengembalikan beberapa buku itu ke tempat asalnya.
Xiao Hei dan Xiao Bai juga merasakan hal yang sama. Meski ada banyak teknik sihir kuat dan langka, tidak semua teknik sihir itu berguna untuk mereka bertiga.
Apalagi Gu Yuena adalah penyihir.
Ketika Xiao Hei menaiki bagian teratas rak, ia tanpa sengaja menginjak bagian celah rak yang tidak disadarinya karena ilusi sihir dan jatuh begitu saja ke bawah.
Jatuhnya Xiao Hei menyebabkan beberapa buku di atas sana ikut jatuh menimpanya. Xiao Bai menertawakan kejadian itu sampai guling-guling.
"Huh, dasar betina." Xiao Hei mendengus kesal sambil berusaha keluar dari tumpukan buku.
Ketika ia menginjak buku paling atas, ia menemukan sebuah fluktuasi yang aneh. Ia pun menyingkirkan beberapa buku dengan santai, lalu menemukan sebuah buku usang yang tidak menarik.
Ia mengendus buku itu, lalu membuka halaman pertama. Hal pertama yang ia lihat adalah ... Naga.
Memang hal biasa, karena banyak yang membahas mengenai seberapa kuat naga itu. Tapi hal yang membuat Xiao Hei terkejut bukan hanya karena sebuah tulisan naga, melainkan sesuatu yang berkaitan dengan darah naga serta darah phoenix.
Itu benar!
"Nona, aku menemukan sesuatu!"