Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
104. Badai Baru (1)



Istana Tianshuang diambang krisis akan kedatangan Aula Linghun yang begitu tiba-tiba. Ditambah dengan adanya pria bertopeng, mereka sama sekali bukan lawan orang itu meski sudah mengumpulkan kekuatan.


Selama bertahun-tahun, mereka telah mengumpulkan banyak elit dan berhasil menjadi istana terkuat. Namun, siapa yang akan menyangka diamnya Aula Linghun kali ini adalah untuk mempersiapkan hal yang lebih besar.


Bai Youzhe sedang tidak ada, membuat mereka harus memanggil Raja Bai terdahulu untuk datang menggantikan kepemimpinan sementara. Namun, selama menunggu kedatangan Raja Bai Tianzhi, para tetua sibuk akan pertahanan pertama di Kota Tianlong.


Pada pertemuan penting di aula utama—di mana kursi raja yang menjadi pusat masih kosong—semua petinggi serta tetua berkumpul. Jin Xiao yang masih di Istana Tianshuang juga berkumpul, serta Gu Yuena, dan Chu Xin sebagai komandan ketiga Assassin Guild.


"Serangan Aula Linghun kali ini lebih besar dari serangan di Istana Yuansu. Ada beberapa penyihir dengan tingkat 9 yang memimpin pasukan bersama pemimpin Aula Linghun. Takutnya, ini akan menjadi pertempuran yang sulit."


"Mata-mata mereka sebelumnya pasti sudah memberitahu bahwa kita sedang lengah, lalu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Mereka benar-benar telah menerobos kota, apa yang harus kita lakukan?"


"Para murid sudah dikerahkan untuk mengevakuasi warga dan membuat pertahanan di pusat kota. Itu tidak bisa berlangsung lama. Jika kota dihancurkan, akan semakin sulit bagi kita untuk menahan mereka agar tidak datang ke wilayah istana."


"Tetua, beberapa dari mereka juga telah mencoba memasuki pembatas istana dari arah gunung utara. Sekiranya, kita telah dikepung dari berbagai arah."


Tetua Han yang menjadi tetua utama di Istana Tianshuang benar-benar pusing akan berbagai laporan dari berbagai pihak. Aula Linghun sudah sangat kelewatan, bahkan sampai berani memprovokasi Istana Tianshuang. Mereka sudah mempersiapkannya dengan cermat.


"Kita tidak memiliki banyak waktu lagi. Tetua Su, apa Anda sudah memberi perintah pada murid halaman luar untuk persiapan selanjutnya?" Tetua Han bertanya pada Su Churan.


Su Churan mengangguk. "Namun, kerusakan pada gerbang kota utama terlalu parah. Banyak murid halaman luar yang berjaga di sana terluka parah sehingga menurunkan jumlah murid yang ikut dalam pertempuran. Aku sudah meminta para alkemis dan healer untuk mengendalikan kondisi, serta mengutus beberapa monster untuk berjaga di sekitar kota."


Jin Xiao berkata, "Para tetua, sebagai sekutu, aku bisa memanggil lebih banyak alkemis dari Istana Luye. Kami juga memiliki banyak elit pertempuran, mungkin bisa membantu kalian menghadapi krisis."


"Akan lebih baik jika kamu kembali ke Istana Luye. Di saat krisis ini, nyawa lebih penting. Untuk bantuanmu sebelumnya, kami berterima kasih, tapi Istana Tianshuang tidak ingin melibatkan istana lain dalam hal ini." Tetua Han merasa agak bersalah pada Jin Xiao. Wanita itu sudah jauh-jauh datang, tapi malah dihadapkan dengan peperangan.


Tetua Ming berkata, "Pasukan istana tidak akan bertahan terlalu lama di bawah penyerangan pasukan kematian yang begitu banyak. Ini terlalu tiba-tiba, tidak ada perisapan bagi para murid melakukan hal itu. Seharusnya, ada seorang yang bisa menangani pasukan kematian dan menghadapi pemimpin Aula Aula Linghun sekaligus. Masalahnya ada pada pria bertopeng itu."


Tetua Ming melirik Gu Yuena yang hanya menyimak sejak tadi. Sudah jelas apa yang ada di otak kecilnya. Semua orang juga paham hal tersebut.


"Gu Yuena, bukankah kau dapat menangani ratusan pasukan kematian sekaligus di pertemuan antar-istana? Di tempat ini, hanya kamu yang pernah bertarung langsung dengan  mereka, terutama pemimpim Aula Linghun."


Jadi Tetua Ming sedang mendorong Gu Yuena untuk maju ke garis depan dan melawan pria bertopeng secara langsung. Dia benar-benar berniat menyingkirkan Gu Yuena dengan memanfaatkan penyerangan.


Su Churan tampak murka dan langsung berdiri dengan marah. "Siapa kau berani mengajukan permintaan seperti itu? Kau bukan lagi Tetua Ming yang berhak mengendalikan situasi sebagai pemimpin."


"Aku hanya memberi anjuran terbaik. Gu Yuena adalah calon Ratu masa depan, tentu saja harus memiliki kontribusi menggantikan Yang Mulia. Apalagi Gu Yuena adalah Putri Istana Linghun, orang itu tidak akan membunuhnya." Tetua Ming bicara seperti orang menyinyir.


"Lalu, apa orang yang kehilangan hak kemiliteran berhak berkata mengenai kontribusi? Semua orang tahu bahwa Gu Yuena nyaris mati ketika terakhir bertarung dengannya. Kalau ingin berkontribusi, sebaiknya kau saja yang pergi ke garis depan. Jangan menyuruh orang seenaknya."


Tetua Ming mendecih kesal akan Su Churan yang habis-habisan membela Gu Yuena. "Aku hanya berkata berdasarkan apa yang kuketahui. Bahkan Gu Yuena sendiri tidak menyangkal, tapi Tetua Su malah memberi jawaban secara sepihak. Itu tidak pantas."


Su Churan sangat geram sampai ingin mencabik-cabik orang tua itu secepatnya. Tapi lengannya ditahan Chu Xin yang berdiri di sampingnya.


Bagaimanapun, orang itu tetaplah seorang tetua. Su Churan tidak pantas bicara dengan nada tinggi di depan orang yang lebih tua.


"Sepertinya yang dikatakan Tetua Ming masuk akal. Gu Yuena tidak harus membunuhnya, hanya perlu mengulur waktu sampai Raja Bai terdahulu datang. Kalau orang itu melakukan sesuatu pada Gu Yuena sampai mengancam nyawanya, pasti akan mendapat amarah dari pihak istana." Tetua lainnya setuju akan pemikiran Tetua Ming.


Yang lainnya mulai mengangguk. Su Churan semakin marah melihatnya sampai benar-benar ingin meledak!


"Aku pikir memang tidak ada jalan lain. Gu Yuena juga pasti sudah pulih, 'kan?"


"Jika hanya untuk menahan pemimpin Aula Linghun, aku akan setuju. Gu Yuena tidak akan sendiri, kami akan bersatu melawannya."


"Kalian ...." Su Churan tahu lebih baik dari apa pun. Kekuatan orang itu ... bahkan Bai Youzhe harus berusaha keras untuk membunuhnya. Apa mereka tidak paham yang sedang sebetulnya terjadi?


Su Churan menatap Gu Yuena dengan perasaan cemas. Gu Yuena tidak boleh maju dalam pertempuran.


"Xiao Yuena, kau tidak harus maju berdasarkan keinginan mereka. Ini jebakan. Aku akan membantumu bicara pada mereka." Su Churan menatap Tetua Han yang hanya diam. "Tetua Han, Gu Yuena benar-benar tidak boleh bertarung. Dia—"


"Bukankah hanya bertarung?" Gu Yuena menyela ucapan Su Churan yang ingin mengungkap kehamilannya. Ia menatap wanita itu penuh arti, lalu melihat para tetua yang hadir. "Kebetulan, sudah lama aku tidak meregangkan tubuh yang kaku ini."


"Xiao Yuena ...." Su Churan tidak tahu harus apa. Ia ingin menangis, lalu menarik Gu Yuena yang suka kekacauan lari dari tempat menyeramkan ini.


"Nyonya, Anda tidak bisa melakukannya. Terlalu berbahaya." Chu Xin tampak sangat terkejut. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Kekuatan Gu Yuena saat ini tidak pada puncaknya.


Gu Yuena hanya memasang senyum. Senyum yang dipaksakan, sebelum akhirnya melihat ke arah Tetua Ming yang tampak sangat puas.


Bolehkah ia membunuh orang itu sekarang?


Di satu sisi sang ayah, di sisi lain sang anak. Keluarga dua orang itu membuat Gu Yuena sangat muak dan merasa gatal.


Pada akhirnya, keputusan telah dibuat.


Gu Yuena akan berada di garis depan melawan pria bertopeng, sekali lagi.


Mereka segera mendiskusikan rencana pengeluaran pasukan dan strategi yang akan dilakukan.


Meski rencana telah dibuat sematang mungkin, Gu Yuena tetap tidak tenang.


Setelah pertemuan kacau itu, Gu Yuena kembali ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menghela napas panjang.


Berat sekali hari ini. Apa ia benar-benar harus maju ke dalam peperangan?


Jika hanya menangani pasukan kematian, ia sama sekali tidak masalah. Namun, bagaimana dengan pria bertopeng? Pada akhirnya, mau tidak mau Gu Yuena tetap harus melawannya meski tidak ditunjuk untuk maju ke garis depan.


Istana Tianshuang kacau tanpa pemimpin. Kursi raja kosong karena pihak lain sedang di luar dunia, sedangkan raja terdahulu tidak ada kabarnya. Benar-benar kacau.


Di mata semua orang, Gu Yuena adalah sandera. Meski Gu Yuena tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan mereka, tidak akan ada yang mendengarkan. Pria bertopeng juga tidak dapat ditangani dengan mudah.


Ia dapat merasakan aura kepanikan dari semua orang yang membuatnya sangat gelisah.


Istana Tianshuang kuat. Tapi tanpa pemimpin, sekuat apa pun mereka akan tetap tersesat. Gu Yuena yang berada di Istana Tianshuang mau tidak mau terlibat dan tidak bisa menghindar.


Ia menyentuh perutnya, memberi usapan lembut untuk berinteraksi dengan si kecil. "Jangan takut, aku akan melindungimu."


Ia masih tidak bisa memberitahu semua orang di saat krisis ini. Itu akan berdampak buruk bagi seluruh istana dan menambah kepanikan. Jika itu terjadi, Gu Yuena sendiri tidak bisa melakukan apa pun.


Namun, ia juga tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti bayinya. Ia percaya bahwa ia cukup kuat. Meski begitu, ia tetap khawatir.


Bagaimana jika ia gagal?


"Youzhe, cepatlah kembali." Ia memandang langit-langit dengan pandangan teduh. Pikirannya kacau, sampai tidak tahu harus melakukan apa.


Ia takut, tapi tidak boleh menunjukkannya sedikitpun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya setelah sekian lama, perbatasan berhasil diperbaiki. Ada sangat banyak surat berdatangan seperti kejatuhan meteor dari Dataran Mitian yang terarah pada istana megah di pusat wilayah dan diterima oleh penjaga gerbang.


Hanya satu surat yang lolos dari penjaga gerbang. Surat yang terbang dengan sendirinya ke sebuah ruangan yang sunyi di kedalaman istana. Surat itu datang begitu saja, jatuh ke tangan seseorang sebelum akhirnya segel surat berupa sihir merah terbuka.


Pemilik sepasang iris biru malam itu tersenyum ketika membaca surat yang baru saja ia terima. Tulisan bertinta hitam yang sangat ia kenali, disertai gambar kucing dan serigala yang membuatnya teringat kenangan beberapa tahun lalu.


Meski tidak dituliskan siapa yang mengirimnya, ia sudah tahu siapa yang mengirim pesan singkat tersebut. Begitu singkat sampai hanya ada satu paragraf singkat. Itu saja dapat membuatnya sangat senang.


Namun, perhatiannya terarah pada satu kata 'kami' yang tertuliskan di sana.


"Kami merindukanmu."


Apa saat itu Gu Yuena menulisnya ketika sedang tidak sendiri?


"Yang Mulia." Bao Jun datang untuk melaporkan hal penting dari Dataran Mitian. Wajahnya tampak tergesa-gesa.


Bai Youzhe melihat ke arah Bao Jun. "Ada hal mendesak?"


"Ada kabar baik dan buruk. Yang Mulia ingin mendengar yang mana dahulu?" Bao Jun tidak bisa melaporkan semuanya serempak karena terlalu acak. Ia hanya bisa memisahkannya dengan cara itu.


Tatapan Bai Youzhe terlihat seperti bekata "jangan main-main padaku" membuat Bao Jun harus memberikan alasannya.


"Kabar baiknya mengenai Nona Gu, sedangkan kabar buruknya mengenai keseluruhan Istana Tianshuang."


"Kalau begitu kabar baiknya dulu." Bai Youzhe menyampingkan istana demi mendengar apa saja yang dilakukan Gu Yuena selama ini.


Bao Jun sudah menebaknya.


"Berdasarkan laporan Chu Xin dan Su Churan selama 5 bulan terakhir berdasarkan waktu di Dataran Mitian, keduanya memberi laporan di waktu yang berbeda mengenai situasi Nona Gu."


"Jangan bertele-tele." Bai Youzhe tidak ingin terlalu banyak mendengar omong kosong.


Bao Jun meneguk saliva. "Nona Gu ... sedang mengandung. Usianya sudah hampir 6 bulan."


Bai Youzhe terdiam. Pandangannya yang sebelumnya sibuk melihat-lihat surat yang diberi Gu Yuena kini terarah pada Bao Jun dengan raut serius.


"Jangan bercanda." Biasanya Bao Jun sering bercanda untuk mengganggunya secara tidak langsung.


Bao Jun tersenyum kecut. "Yang Mulia, aku mana berani bercanda di saat genting seperti ini."


Bai Youzhe tidak bisa berkata-kata. Gu Yuena ... hamil?


Bagaimana ia bisa tidak tahu?


Sudah 5 bulan berlalu. Bukankah itu artinya, ia pergi meninggalakan Gu Yuena yang sedang mengandung anaknya?


Pantas saja sikap Gu Yuena menjadi aneh saat itu. Seharusnya ia menyadari lebih cepat.


Mendadak, perasaan Bai Youzhe menjadi rumit. Ia merasa sangat tidak bertanggungjawab meninggalkan Gu Yuena seperti itu. Ia harus kembali!


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Bai Youzhe melangkahkan kakinya keluar ruangan membuat Bao Jun keteteran. Ayolah, pria itu belum mendengar berita buruknya, tapi sudah pergi begitu saja?


"Yang Mulia, berita buruknya masih belum tersampaikan!" Bao Jun mengejar pria itu seperti orang konyol.


"Katakan langsung secara singkat, jangan membuang waktu." Bai Youzhe menegaskan kata-katanya.


"Aula Linghun melakukan pengepungan terhadap Istana Tianshuang. Kota Tianlong sudah nyaris dihancurkan. Para tetua telah menundang Yang Mulia Bai Tianzhi, tapi tidak ada tanggapan. Sekarang, mereka mendorong Nona Gu ke dalam peperangan untuk menghadapi pemimpin Aula Linghun secara langsung."


Wajah Bai Youzhe menjadi gelap dan dingin saat itu juga. Tinjunya terkepal erat. Orang-orang itu, berani berniat buruk pada Gu Yuena. Sudah jelas Gu Yuena nyaris mati ketika menghadapi kloning pemimpin Aula Linghun. Itu baru kloning. Bagaimana jika yang dihadapinya saat ini adalah yang asli?


Bai Youzhe sangat marah sampai aura disekitarnya menjadi berbahaya. Bahkan Bao Jun tidak berani mengatakan apa pun apalagi menatapnya.


Hanya dalam hitungan detik, pria itu pergi secepat kilat dalam kabut hitam yang melesat ke langit.


Ia harus sampai tepat waktu, sebelum hal buruk terjadi pada Gu Yuena.


"Nana, tunggu aku."


Di sisi lain, pasukan Istana Tianshuang sudah bersiap menghadapi ribuan makhluk kematian. Untuk menghadapi makhluk kematian, Gu Yuena mendapat persetujuan untuk tidak langsung berada di garis depan selama pemimpin Aula Linghun belum muncul.


Iris merah Gu Yuena melihat lautan manusia dari ketinggian istana dengan perasaan bercampur aduk.


Hatinya gelisah.


Apa ia bisa melakukannya dengan baik?