
"Lihat? Sudah diambang kematian, tidak ada peduli akan hidup dan matimu."
Gu Yuena menutup telinganya dengan kedua tangan sambil menutup mata. Sosok yang memiliki rupa persis seperti dirinya terus berkicau. Ia sudah muak.
"Jangan berlagak kuat, kamu tidak sekuat itu. Bahkan dapat kalah dari seekor ular. Jika bukan karena keberanianmu sendiri, darah phoenix dalam tubuhmu sudah lama menghilang."
"Yang kulakukan dan tidak kulakukan, apa hubungannya denganmu?" Gu Yuena menatapnya dengan tajam. Sosok pucat itu hanya memiringkan kepala dengan senyuman aneh. Gu Yuena tertawa singkat. "Jangan bersikap seolah kau akan menggantikanku. Jika itu terjadi, aku bersumpah akan mencabik-cabikmu meski harus menghancurkan jiwaku."
"Itu baru Gu Yuena yang sebenarnya." Wanita itu tertawa. Tawa jahat yang membuat Gu Yuena sangat ingin mencekiknya.
"Diam!" Gu Yuena meninggikan nada suaranya. Jiwanya masih sangat sakit, lalu harus mendengarkan ocehan wanita itu, mengatakan betapa menyedihkan ia. Gu Yuena membenci seseorang yang menganggapnya menyedihkan.
"Sekarang, tidak ada yang membantumu yang diambang kehancuran ini. Jiwamu rusak, tubuhmu terluka sangat parah karena jatuh dari ketinggian. Dua kucing itu terjebak dalam ruang spiritual yang terkunci karena darah phoenix secara otomatis memblokir kekuatan spiritualmu karena serangan balik kekuatan jiwa dan luka dalam. Kau tidak ada bedanya dengan manusia biasa. Kalaupun mati, siapa yang akan mencari?"
Gu Yuena mendengus. "Aku tidak butuh itu."
"Oh, ya? Kamu buruk dalam membohongi diri sendiri. Nyatanya, keinginan hidupmu sangat kuat. Sayangnya, tidak ada yang menolongmu." Wanita itu menghela napas. "Hanya bisa menunggu kematian."
Gu Yuena tidak menyahut. Ia membuka matanya, melihat langit-langit bebatuan yang sama sekali tidak menarik. Ia dapat merasakan rasa panas di permukaan di mana ia terbaring, serta udara panas yang menyengat seolah sedang memanggangnya.
Ia benar-benar terpanggang. Pasalnya, Gu Yuena tengah berada di tanah yang diliputi oleh lahar panas serta meletup-letup. Sepertinya ia sudah ada di perut gunung, tepatnya kawah gunung yang akan meletus.
Melihat ke sisi lain, samar-samar ada sesuatu yang bersinar tertanam di dinding dekatnya. Sosok phoenix kecil yang tertidur, terlihat transparan dan diliputi oleh energi spiritual merah yang melindunginya dari dunia luar.
Roh phoenix .....
Gu Yuena tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia sekarat. Sekali saja ia menggerakkan tubuh, mulutnya mengeluarkan darah yang keluar, mengalir di pipinya. Tubuhnya bergetar dan terasa tidak nyaman.
Ia menggunakan kekuatan jiwa untuk menyembuhkan jiwanya perlahan. Menutup mata, ia memusatkan kekuatannya pada jiwa dan memperbaiki secara perlahan. Rasanya sangat sakit, namun Gu Yuena sama sekali tidak bisa berteriak.
"Gu Yuena ...."
Gu Yuena mengepalkan tangannya. Suara itu ... seperti suara wanita. Suara yang menggema dan memiliki nada lembut. Tapi di telinga Gu Yuena, suara yang memanggil namanya memiliki ketertarikan tersendiri yang membuatnya gelisah.
"Gu Yuena ...."
Gu Yuena membuka mata. Pandangannya masih buram, lalu tatapannya terarah pada roh phoenix yang memancarkan aura kuat.
"Tunggu apa lagi? Ambil dia ...." Suara wanita dalam alam spiritual terdengar, membisiki Gu Yuena seolah ada tepat di telinganya.
"Aku sekarat." Gu Yuena berbisik, merasa sangat lemah. Bahkan matanya begitu sayup.
"Gu Yuena ...." Suara aneh itu terdengar lagi, berasal dari roh phoenix. Gu Yuena semakin gelisah.
"Nana!"
Gu Yuena tersadar dari kekacauannya sendiri dan menyadari seseorang mendekat. Kepalanya sangat sakit seperti tertimpa sesuatu sampai sulit untuk mengalihkan pandangan. Ia merasa sangat panas seperti terbakar api secara langsung. Tanah ini terlalu panas untuknya.
Tak jauh dari sana, Bai Youzhe tengah kelimpungan mencari Gu Yuena di sekitar kawah gunung yang begitu luas. Ia telah mencari di tiap sisi, tapi tidak menemukan seseorang yang ia cari. Ia tidak dapat merasakan kehadiran wanita itu, membuatnya sangat gelisah.
"Nana!" Bai Youzhe masih mencari. Pandangannya terarah pada bagian kawah yang memiliki lebih banyak lahar, ia terkejut ketika melihat seseorang terkapar begitu saja di atas tanah yang dikelilingi lahar.
Sesegera mungkin Bai Youzhe terbang ke arah tersebut. Mendarat tepat di sisi wanita itu, lalu meraihnya dan memeluk tubuhnya yang sangat panas dan memerah. Tubuh Nana-nya sangat lemah saat ini, bahkan tidak bisa bergerak. Sedangkan Gu Yuena sendiri hanya bisa terdiam melihat kehadiran Bai Youzhe yang tiba-tiba.
"Nana, bertahanlah." Bai Youzhe menyalurkan aura dinginnya pada Gu Yuena agar suhu panas ini bisa teratasi. Gu Yuena pasti merasa seperti terbakar sampai seluruh energinya terkuras. Meski dia adalah phoenix api, ada batasan baginya yang telah terluka.
Ketika terjun dari tempat para ular penjaga, mereka tiba di tempat yang berbeda. Gu Yuena langsung diarahkan ke dekat roh phoenix, sedangkan Bai Youzhe harus menangani iblis yang hendak menerobos sambil mencari Gu Yuena. Pria itu tidak terpikirkan bahwa Gu Yuena akan tiba di dekat roh phoenix saking takutnya.
Udara dingin masuk ke dalam tubuh Gu Yuena. Pelukan Bai Youzhe hangat baginya, meski memiliki udara dingin yang menyejukkan fisiknya. Setidaknya efek panas lahar tidak lagi membakarnya.
Wanita itu salah. Ia masih memiliki orang yang peduli pada kematiannya. Memikirkan ini saja membuat Gu Yuena tenang.
"Haus." Gu Yuena merasa tenggorokannya kering. Ia berkata dengan lemah, serta mata sayup yang terlihat sulit dilebarkan. Ia masih merasakan energinya benar-benar habis.
Bai Youzhe segera mengambil persediaan minum yang tersedia di ruang spiritual dan memberikannya pada Gu Yuena. Ia masih tidak melepaskan dekapan, takut terjadi sesuatu pada Gu Yuena.
Setelah membasahi kerongkongannya yang kering, Gu Yuena merasa lebih baik. Ia memeluk lengan Bai Youzhe dengan nyaman, mencoba memulai memperbaiki jiwanya yang rusak. Ia harus bertahan.
"Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Gu Yuena, sambil memperbaiki jiwanya seraya menutup mata.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu berjalan sendiri di tempat ini."
"Kau mengikutiku? Jadi ... kau sudah tahu bahwa Li Nana adalah aku sebelumnya." Gu Yuena menebak dengan tepat. Gu Yuena hanya bisa bersyukur hipnotisnya dipatahkan. Kalau tidak, mungkin ia benar-benar sendiri.
Bai Youzhe tersenyum, lalu memeluk Gu Yuena lebih erat. "Kita keluar dari sini."
Gu Yuena diam untuk sesaat. "Roh phoenix ...."
"Lakukan nanti. Keselamatanmu lebih penting. Energi di sini tidak stabil, tidak bisa membantu mempercepat regenerasi."
Gu Yuena merasa keberatan. Ia menyelesaikan perbaikan jiwa lebih cepat, lalu bergerak menatap iris biru malam itu dengan serius. "Tidak bisa. Youzhe, aku melakukan perjalanan berbahaya sepanjang waktu untuk hari ini. Aku tidak bisa mundur ketika tujuanku sudah di depan mata."
"Menyerap roh phoenix tidak bisa dilakukan ketika terluka." Bai Youzhe tidak ingin terjadi sesuatu pada Gu Yuena di depan matanya saat menyerap roh phoenix. "Kita pergi ke kamp untuk mengobati lukamu, lalu aku akan mengantarmu kembali ke sini."
Gu Yuena tidak mengatakan apa pun. Pikirannya ada di tempat lain, tidak mendengarkan ucapan Bai Youzhe.
Di luar sana, sosok hitam melesat di udara menuju puncak gunung yang kini mulai menunjukkan keaktifannya. Kehadiran sosok itu dapat dirasakan dengan baik oleh Gu Yuena, membuat wanita itu semakin gelisah.
Yang Xinyuan di sini ....
Bai Youzhe mungkin tidak merasakannya karena pria itu menyembunyikan aura dengan sangat baik. Namun, Gu Yuena memiliki koneksi tertentu dengan Yang Xinyuan selama misi dilakukan untuk saling berkomunikasi. Gu Yuena mengetahui kedatangannya.
Tidak bisa begini. Jika Bai Youzhe dan Yang Xinyuan bertemu secara langsung, entah bencana apa yang akan terjadi. Gu Yuena juga tidak boleh melunturkan kepercayaan Li Hua karena hubungannya dengan Bai Youzhe. Yang Xinyuan mungkin akan tutup mulut, tapi yang lainnya tidak.
Untuk mengatasinya, ia harus menyerap roh phoenix dan mengahalau perhatian keduanya di tempat berbeda. Setelah itu, ia akan langsung menyudahi semua kekacauan ini. Tidak peduli apa jiwanya masih kacau atau tidak.
Untungnya, wanita di dalam ruang spiritual telah membuatnya bertindak implusif sebelumnya.
"Youzhe, sudah terlambat." Gu Yuena berkata dengan nada rendah. Ia menatap iris biru itu dengan senyum miris. "Prosesnya sudah selesai."
Bai Youzhe mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang mengganjal. Detik berikutnya, ia sadar adanya fluktuasi energi yang begitu besar datang dari roh phoenix, mengeluarkan cahaya merah yang meledak begitu saja. Ledakan yang memicu lahar melonjak ke atas dengan tekanan kuat dan mengguncang gunung.
Secepat mungkin Bai Youzhe membawa Gu Yuena ke dalam dekapannya, menghalangi ledakan tersebut menggunakan tubuhnya agar tidak menghantam Gu Yuena. Namun, Gu Yuena tetap memuntahkan darah dari mulutnya.
Begitu cepat ledakan terjadi tanpa dinanti-nanti. Bai Youzhe sempat membuat perisai, tapi perisai dadakan yang muncul tidak cukup menahan efek ledakan sehingga hancur setelah ledakan usai.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Sebelum kamu datang, seharusnya itu sudah meledak." Gu Yuena mengklarifikasi. "Anggap aku keras kepala."
Ketika suara itu menyebut namanya barusan, disertai desakan wanita itu, ia langsung menyalurkan kekuatan spiritualnya yang tersisa pada roh phoenix. Jika bukan karena kedatangan Bai Youzhe, roh phoenix sudah meledak sejak awal. Namun, bukan berarti Gu Yuena menarik kekuatan spiritualnya, ia hanya mengendurkannya agar menjadi lebih lama.
Bai Youzhe tidak sempat memikirkan hal lain selain apa yang akan terjadi pada Gu Yuena nantinya. Ketika energi roh phoenix memasuki tubuh Gu Yuena, wanita itu kesakitan selama energi itu masuk secara paksa ke tubuhnya.
Bai Youzhe tidak melepaskan pelukan. Jika sudah seperti ini, ia tidak bisa membantu Gu Yuena atau meringankan rasa sakitnya meski ingin. Menerima kekuatan yang berasal dari darah phoenix tidak bisa didukung oleh kekuatan luar, atau akan terjadi bentrok energi dan membahayakan nyawa.
Tidak seharusnya Gu Yuena menyerap dalam keadaan terluka, yang membuat rasa sakitnya menjadi dua kali lipat dari seharusnya.
Gu Yuena terus berteriak kesakitan. Tubuhnya diliputi cahaya merah, simbol phoenix di antara alisnya memanas dan semakin pekat. Bahkan udara di sekitar semakin panas akan api yang membara di sekitar.
Guncangan di gunung kembali terjadi. Lahar semakin naik ke atas membuat Bai Youzhe waspada. Jika lahar ini benar-benar naik dan menenggelamkan mereka, maka tidak akan ada yang selamat.
Bai Youzhe segera membuat pelindung di sekitar tanah yang ia pijaki bersama Gu Yuena. Lahar yang naik tidak bisa dihentikan, tapi ia bisa mengendalikan kecepatannya agar bencana yang terjadi tidak menyebabkan kerusakan fatal bagi Dunia Bawah.
Di luar sana, awan hitam berkumpul di atas gunung yang dipenuhi cairan lava serta asap yang berkumpul. Ledakan berikutnya terjadi, partikel-partikel dari dalam gunung menguap ke atas disertai awan gelap yang mengambang di udara.
Chu Xin, Bao Jun, dan Hei Changge di gunung tertegun melihat pemandangan langka yang muncul di depan mata mereka. Bahkan para siluman yang berada di pegunungan iblis juga ikut terpana.
Gunung kembali mengalami ledakan. Ledakan kali ini merambat ke segala penjuru dan mengeluarkan partikel gunung berapi yang meluncur ke segala arah seperti hujan meteor. Ledakan tersebut dapat dirasakan semua orang, bahkan tanah begoyang dan mengalami retakan disertai hujan bola api yang merusak.
"Pasang formasi!" Hei Changge sadar terlebih dahulu dan memimpin pasukan yang tersebar di tiap sudut gunung untuk membuat formasi perlindungan. Jangan sampai ledakan itu merampat keluar pegunungan iblis.
Semua orang langsung sadar dan buru-buru mengambil posisi dan menciptakan formasi. Sebelum hujan api mengenai kelompok mereka, formasi segera terpasang dan menghadang segala benturan akibat ledakan gunung.
Yang Xinyuan di sisi lain masih terbang di udara menuju gunung yang dipenuhi awan hitam. Ketika ledakan terjadi, ia menggunakan kekuatan spiritualnya untuk membuat perisai dan berhasil bertahan di udara. Hujan api tidak begitu mempengaruhi kecepatannya. Ia terbang sambil menghindari hujan api dari gunung.
Namun, sebelum benar-benar sampai di gunung, ia dihadapkan dengan beberapa iblis yang berjaga di sekitar gunung sambil bertahan dalam formasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kondisi Gu Yuena tidak baik-baik saja. Bai Youzhe masih mempertahankan perisai sambil menunggu Gu Yuena yang pingsan. Mereka tidak bisa keluar dari sini sebelum bencana berakhir sehingga harus menunggu lebih lama.
Bai Youzhe telah mengatur energi di dalam perisai sehingga tidak akan terlalu menyiksa Gu Yuena. Dengan begini, Gu Yuena akan baik-baik saja selama evolusi.
Namun, tentu saja mereka tidak bisa lepas dari bahaya. Setelah ledakan kedua gunung yang meletus, sisi lain gunung berlubang karena hujan api yang berasal dari partikel saat gunung meledak. Itu membuka celah untuk musuh yang telah menunggu lama memasuki tempat.
Bai Youzhe sadar akan kedatangan para iblis yang berniat mengganggu proses evolusi agar phoenix tidak muncul. Gu Yuena dalam keadaan lemah saat ini, iblis-iblis itu mengambil kesempatan masuk untuk menyerang.
Bai Youzhe berbisik di telinga Gu Yuena yang pingsan. "Tunggu aku."
Meletakkan Gu Yuena dari pangkuannya ke tanah yang dilapisi sihir untuk tetap menjaga suhu tubuh Gu Yuena, Bai Youzhe berdiri dan menembus perisai yang ia buat.
Kondisi perut gunung sangat parah karena lahar yang tidak ada habisnya terus mencuat dan membanjiri tempat. Bai Youzhe terbang di udara tanpa terpengaruh aktivitas gunung berapi, menarik perhatian para iblis yang berdatangan agar dapat menjauh dari Gu Yuena.
Jumlah iblis yang datang cukup banyak. Kekuatan mereka tidak lebih buruk dari monster penjaga sehingga Bai Youzhe harus berhati-hati. Mendarat di salah satu batu, ia melihat ke arah para iblis yang mengejar.
Sadar bahwa yang dikejarnya bukanlah target yang sebenarnya melainkan sang Penguasa Dunia Bawah, para iblis itu terkejut sampai mundur beberapa langkah.
Meski mereka tidak tahu bagaimana wajah sang raja, tapi mereka tidak dapat mengabaikan aura menekan yang membuat mereka membeku seketika. Tempat ini sangat panas, tapi tubuh mereka menggigil. Mereka segera berwaspada dan memasang formasi.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Bai Youzhe menangani formasi yang aktif menyerangnya begitu ganas.
Di saat bersamaan, di dalam kegelapan yang dipenuhi sihir merah, Gu Yuena melayang di udara dalam keadaan mata tertutup bersama cahaya merah yang mengitari tubuhnya. Terasa sangat sunyi, sampai pikiran Gu Yuena benar-benar kosong.
Hanya saja, sosok pucat serta beriris hitam pekat mendekati Gu Yuena dan menyentuh bahunya dari belakang. Ia membisikkan sesuatu.
"Bangunlah, jangan menjadi membosankan."
Gu Yuena membuka mata. Iris merahnya telihat linglung sejenak sebelum menatap sepasang mata hitam yang menatapnya dengan senyuman.
"Seharusnya kamu dapat merasakan perubahan pada tubuhmu. Bukankah menyenangkan?" Wanita itu berkata penuh arti.
Wajah Gu Yuena masih datar ketika melihatnya. Pandangannya teralih pada kedua tangan yang diliputi sihir merah. Simbol phoenix di dahinya masih menyala, sedangkan kekuatan roh phoenix perlahan mengubah jiwanya.
Sosok phoenix kecil muncul di dekatnya. Itu berwarna merah api dan memiliki dua pasang sayap yang indah. Meski dia tertidur di udara, dia masih terlihat cantik.
"Bisa dikatakan, kamu bukan lagi manusia. Ketika roh phoenix menyatu dengan jiwamu, kamu bukan lagi manusia. Kamu adalah phoenix. Phoenix iblis."
Gu Yuena memandang phoenix tersebut yang merupakan gambaran jiwanya sendiri. Ia sedikit tertawa karena perkataan wanita itu. "Sejak awal aku memang bukan manusia."
"Tidak seharusnya rasa kemanusiaan ada dalam dirimu, karena kamu bukan manusia. Maka dari itu, kamu bebas melakukan apa pun untuk dirimu sendiri."
Gu Yuena meliriknya sinis. "Kapan kau pergi?"
"Menurutmu, kapan aku akan pergi?" Wanita itu tersenyum lebar. Selama masih ada kemarahan dan dendam dalam hati Gu Yuena, ia tidak akan pergi. Gu Yuena lah yang memanggilnya melalui aura iblis. Ia adalah iblis dalam hati Gu Yuena.
Kekuatan jiwa yang berlebihan dapat mempengaruhi pikiran Gu Yuena untuk menjadi sesuatu yang jahat. Namun, karena Gu Yuena bisa mengendalikan pemikiran jahat itu dan menekannya menjadi keinginan terpendam, serta pelatihan aura iblis, wujud lain muncul dari kegelapan sebagai sisi tergelap seseorang, iblis hati.
Gu Yuena mengalihkan pandangannya dengan raut yang tidak enak dipandang. "Menyingkirlah sebelum aku mengusirmu secara paksa."
"Ada terlalu banyak keraguan dalam hatimu, aku tidak bisa pergi, kecuali kau mati ...."
Gu Yuena mendengus. Ia bergerak cepat dan memcekik leher wanita pucat itu dengan keras. Wanita itu bukannya merasakan sakit, justru tersenyum dengan pandangan yang dalam.
Gu Yuena merasa ada sesuatu melilit lehernya. Semakin ia mengeraskan cekikan, cekikan itu seolah mencekik dirinya sendiri. Sangat keras sampai sulit bernapas. Pada akhirnya, Gu Yuena melepas cekikannya dengan enggan, barulah rasa cekikan di lehernya terlepas dan dapat bernapas lega. Ia pun terbatuk.
Tindakan Gu Yuena seperti lelucon di mata wanita pucat itu. "Sudah kukatakan, kita adalah orang yang sama. Kita adalah satu."
Wanita itu melihat ke arah roh berbentuk phoenix yang masih melayang di udara. Ia menyentuh roh tersebut menggunakan jarinya, sebelum akhirnya roh itu menghilang terbawa angin.
"Roh phoenix telah menyatu. Gu Yuena, selamat untukmu." Wanita itu terkekeh, mendekati Gu Yuena kembali. "Sudah saatnya bagimu mengambil alih dunia. Singkirkan semua musuh dan orang-orang yang menghambat perkembanganmu. Jadikan mereka bagian dari pengorbanan 1000 darah sebagai bentuk penghormatan untukmu."
Gu Yuena hanya diam menatapnya dengan pikiran yang gelisah. Memang ada pemikiran jahat terlintas di pikiran, tapi ia teringat semua penderitaan dunia yang tidak hanya dialami olehnya saja. Di dunia ini, ia bukanlah satu-satunya yang menjadi korban kekejaman dunia.
Wanita pucat itu menyipitkan matanya. "Jika merasa sulit, aku bisa membantumu mewujudkannya."
"Kau berani ...." Gu Yuena tidak dapat melanjutkan ucapannya ketika kekuatan jiwa mulai menyerangnya kembali. Ia semakin jatuh tak berdaya, merasakan rasa sakit pada jiwanya yang belum pulih.
Melihat Gu Yuena yang terluka, wanita itu menyeringai, "Kau akan berterimakasih padaku."