Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
101. Sweet but psycho



Beberapa hari dilalui dengan sunyi. Namun, belakangan ini beberapa orang istana menghilang secara misterius. Para tetua menyadarinya, tapi menyembunyikan hilangnya murid dengan baik agar tidak menyebabkan keributan.


Diam-diam, para tetua mencari keberadaan murid yang hilang secara tiba-tiba dan tanpa meninggalkan jejak. Jika dipikirkan, hal ini bertepatan dengan kepergian sang raja. Pasti musuh sedang mengambil kesempatan itu untuk menyerang istana.


Di saat para tetua berkumpul untuk membahas krisis yang akan dihadapi istana selama beberapa waktu kedepan, Gu Yuena berjalan-jalan sendirian di bawah bulan purnama serta pohon penuh bunga merah muda yang bermekaran.


Dilihat dari dekat, bunga itu tampak sangat cantik ketika Gu Yuena memetik salah satunya. Namun, bunga merah muda di tangan Gu Yuena tiba-tiba ditetesi cairan merah pekat yang menyatu dengan warna merah muda.


Gu Yuena tidak terlihat terkejut, melainkan sedikit tersenyum. "Kamu sudah bekerja keras untuk itu."


Sihir merah di tangan Gu Yuena meluncur seperti hembusan angin dan menyelinap ke dalam semak-semak, mengakibatkan dorongan kuat terhadap sosok tersembunyi di baliknya.


Sesosok hitam muncul dari balik semak-semak, melompat ke udara menghindari serangan sihir merah yang menerjang. Dia adalah seorang wanita, dilihat dari postur serta rambutnya yang dikuncir kuda. Sihir ungu keluar dari tangannya membentuk jaring dan menarget Gu Yuena yang berdiri di bawah pohon.


Gu Yuena menghilang ketika sihir ungu itu nyaris mengenainya. Penyihir itu sadar akan posisi Gu Yuena. Dia langsung menghindar ketika sihir merah melintas tepat di depannya, kemudian pergi ke arah Gu Yuena berada untuk melakukan serangan langsung.


Di saat yang sama, sihirnya membuat sebuah medan yang dapat melambatkan gerakan siapa pun.


Namun, hal tersebut bukannya membuat penyihir itu berhasil menghambat pergerakan Gu Yuena, justru Gu Yuena memilih diam membiarkannya menyerang. Begitu tapak penyihir yang penuh dengan sihir ungu itu hendak menimpa tubuh Gu Yuena, sebuah jaring merah mencuat dari tanah memisahkan jarak keduanya.


Secara otomatis penyihir itu mundur, sedangkan jaring-jaring yang mencuat dari tanah itu mulai bergerak liar menyerangnya secara bertubi-tubi seperti serangan akar panjang yang tidak ada habisnya.


Ketika penyihir itu telah terjebak di antara kumpulan jaring merah sampai sihirnya tidak mampu melakukan pertahanan atau pun serangan, jaring itu menyusut mengelilinginya dan menjeratnya sampai ke dalam jiwa.


"Aaaaakh!"


Wanita itu berteriak kesakitan. Tubuhnya menjadi tegang dan ambruk ke atas tanah begitu saja seolah telah diikat sesuatu. Darah mengalir dari pakaiannya akibat pertarungan sebelumnya, ditambah dengan sihir—yang kini tak terlihat—mengikatnya, menambah rasa sakit itu sehingga membuatnya lemas.


"Berisik sekali." Gu Yuena muncul di depan penyihir itu seperti kilat. Ia menunduk, melihat wanita penyihir yang tampak memilukan di matanya.


Terlihat seperti lelucon. Bisa-bisanya kabur dari kejaran Su Churan, malah bersembunyi di sini tanpa tahu resikonya. Jelas-jelas dia tahu bahwa Gu Yuena adalah penyihir dan akan menyadari kehadirannya.


"Beberapa hari ini, kau telah berusaha keras untuk melarikan diri." Gu Yuena tersenyum. "Apa kau berpikir aku akan melindungimu dengan bersembunyi di sini? Sepertinya kau lupa apa yang terjadi di pertemuan antar-istana."


"Lepaskan aku ...." Wanita itu memohon. Tatapannya dipenuhi ketakutan ketika melihat sepasang iris merah darah Gu Yuena yang terlihat mengerikan.


Dia seperti iblis.


"Kau sangat bau, aku ingin mual." Gu Yuena menurunkan senyumnya menjadi datar. Andai saja ia tidak sedang mengandung, ia tidak akan mual seperti ini ketika mencium aroma darah yang pekat.


"Kau adalah Putri Istana Linghun, tidak seharusnya menjatuhkan orang sendiri. Kita berada di pihak yang sama!"


Gu Yuena tertawa mendengarnya. "Aku bahkan belum menentukan akan berdiri di pihak siapa, jadi ternyata kalian Aula Linghun sudah menentukannya, hebat sekali. Asal kau tahu, mungkin aku akan berada di pihak Istana Linghun, tapi tidak Aula Linghun."


Gu Yuena mengangkat tangan di mana sihir merah menari-nari di jarinya. "Ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa membunuhmu sekarang."


Penyihir itu semakin was-was. Detik berikutnya, ia merasa bahwa jiwanya dililit terlalu keras sampai menciptakan rasa sakit luar biasa seolah nyawanya akan dicabut. Ia pun berteriak sangat keras.


"Aaaaaa! Hentikan! Hentikan!"


Gu Yuena meredakan siksaannya, lalu menunjukkan senyum terbaiknya. "Tuanmu pasti yang memerintahkanmu untuk mematai Istana Tianshuang. Sepertinya tuanmu sangat mengenaliku sampai dia tahu bahwa aku ada di tempat ini. Aku berpikir ... dia adalah seseorang yang kukenal. Siapa dia sebenarnya?"


Penyihir itu menutup mulutnya rapat-rapat. Jika memberitahunya, hal tersebut akan menyebabkan masalah bagi tuannya. Ia tidak boleh memberitahu apa pun.


"Aku suka bawahan yang setia, tapi aku aku tidak suka orang yang tidak paham situasi sendiri." Gu Yuena kembali mengeratkan jeratannya. Jarinya hanya sedikit bergerak, tapi sudah cukup membuat wanita itu kesakitan luar biasa.


Penyihir itu masih tidak mau mengatakan apa pun membuat Gu Yuena harus menambah hukuman. Ia mengeluarkan pisau terbang yang diberikan oleh Bai Youzhe, lalu mengendalikannya untuk memberi sayatan pada penyihir itu.


"Ini akan cocok seperti namanya, pembunuh penyihir." Gu Yuena tersenyum miring, tampak menikmati apa yang dilakukannya.


Penyihir itu berteriak sejadinya dengan darah yang mengucur di sekujur tubuh. Ini lebih menyakitkan daripada kematian!


"Sepertinya masih kurang." Gu Yuena menarik semua pisau terbang itu ke tangannya, menyisakan satu pisau dan maju lebih dekat ke penyihir itu.


Ia berjongkok, menaruh ujung pisau ke wajah mulus penyihir itu dan memberinya goresan lembut secara perlahan seraya berkata, "Aku sudah lama tidak menginterogasi orang, sepertinya akan sedikit berlebihan. Salahkan dirimu yang terlalu setia. Seharusnya kamu menyenangkan putri ini agar tetap hidup."


"Bunuh aku ... kumohon ...." Penyihir itu bergetar hebat ketika melihat pisau yang bergerak di wajahnya.


"Tidak menyenangkan bila langsung dibunuh. Kamu juga belum memberitahu apa pun." Gu Yuena menekan pisaunya ke kulit wajah penyihir itu sampai menciptakan goresan yang memberi aliran jejak merah.


Penyihir itu hanya menangis tanpa bisa mengatakan apa pun. Dia bahkan tidak berani berteriak kesakitan di depan Gu Yuena yang sangat dekat dengannya. Ia hanya bisa menangis pilu.


Merasa bosan, Gu Yuena menghela napas sejenak. Ia berdiri, lalu menoleh ke belakang di mana seseorang bersembunyi dengan tubuh bergetar di balik dinding. Seseorang baru saja mengintipnya.


Gu Yuena mendengus. "Apa kau menikmati tontonannya?"


Sosok di balik dinding yang tengah menutup mulutnya itu terdiam. Ia ketahuan.


Dengan perasaan takut, ia keluar dari persembunyian untuk menunjukkan keberadaannya di depan Gu Yuena. Sepasang iris hitamnya melihat Gu Yuena penuh rasa takut, namun sebisa mungkin bersikap berani mengingat di mana ia berada.


"Gu Yuena, beraninya kamu melakukan hal kotor di sini." Ming Chin yang sejak tadi membuntuti Gu Yuena meneguk saliva. Ia pasti sudah sangat gila saat mengatakannya.


"Kotor?" Gu Yuena memiringkan kepala. "Lalu, mengintip seperti itu seperti orang mesum, apa itu bukan tindakan kotor?"


"Kau membunuh orang! Para tetua akan menghukummu!"


"Aku membunuh mata-mata, para tetua akan memberiku apresiasi."


Ming Chin terdiam. Apa wanita itu adalah mata-mata? Ia sama sekali tidak tahu. Percakapan mereka sebelumnya sama sekali tidak terdengar karena sebuah sihir halangan. Ia merasa bodoh.


"Seharusnya kau melaporkannya ke tetua."


"Aku sudah terlanjur menghukumnya." Gu Yuena berkata tanpa rasa bersalah. Ia kembali mengangkat tangannya, memgangkat penyihir itu dan melemparnya ke arah Ming Chin.


"Aaaaa!" Ming Chin spontan teriak ketakutan ketika wanita yang tak lagi berbentuk manusia normal itu dilempar ke arahnya. Wanita itu jatuh tepat di depannya, membuat Ming Chin melihat dengan jelas segala bentuk sayatan daging dan darah yang berceceran.


Ia pun muntah.


"Gu Yuena, kau iblis! Singkirkan dia dariku!" Ming Chin terlalu takut sampai kakinya melembek dan jatuh.


Itu terasa seperti hiburan bagi Gu Yuena.


"Apa? Kau ingin melihatnya lebih jelas?"


"Tidak!" Ming Chin berteriak histeris. Teriakannya terlalu keras sampai terdengar oleh para tetua yang sedang berdiskusi di depan istana.


Dengan cepat para tetua—termasuk Jin Xiao—berdatangan.


"Ada apa ini?" Tetua Ming terkejut ketika melihat Ming Chin merangkak di tanah sambil mundur dari wanita yang tampak sangat mengerikan.


Sebelum Ming Chin mengadu, Gu Yuena langsung bicara, "Ketika keluar, aku menemukan penyusup ini nyaris saja membunuh Ming Chin. Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuatnya seperti itu di tempat. Ming Chin sangat terkejut sampai tidak bisa menjelaskan."


"Bukan ...." Ming Chin ingin menyangkal ucapan Gu Yuena dan mengatakan kebenarannya, atau bahkan menyudutkan Gu Yuena. Tapi ia terlalu takut sampai lehernya tercekat tanpa bisa berkata-kata.


"Kalau begitu, terima kasih telah membantu menangkap penjahat ini. Serahkan sisanya pada kami. Kami akan menanganinya dengan baik."


Para tetua mempercayai ucapan Gu Yuena. Meski awalnya agak ragu, tapi apa yang mereka lihat adalah kenyataan. Mengenai bagaimana bisa ada penyusup, mereka akan mencaritahu.


"Sebenarnya, dia adalah mata-mata yang dikirim seseorang. Hilangnya murid yang sedang kalian selidiki, ada hubungan dengannya." Gu Yuena menjelaskan secara singkat.


"Mata-mata? Apa Nyonya Gu mengetahui siapa yang mengirimnya?"


Gu Yuena menjawab perlahan. "Seseorang yang memiliki masalah dengan Istana Tianshuang, kalian lebih tahu daripada aku. Aku hanya ingin memberitahu, bahwa mereka datang bersama rombongan Klan Ye beberapa waktu lalu."


Dalam sekejap, pandangan para tetua terarah pada Jin Xiao. Jin Xiao terkejut, lalu membela diri, "Mengenai hal ini, Istana Luye kami tidak tahu apa yang terjadi. Nyonya Ye memang ikut bersamaku, tapi hanya ada dia dan pelayannya. Kalian semua sudah tahu, bahwa dia sudah pergi sejak beberapa hari yang lalu."


"Memang, tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Penyusup pasti mengambil kesempatan dengan menjadi seseorang saat kedatangan kalian. Buktinya, orang ini bersama rekannya menyamar menjadi beberapa murid, menyebabkan murid asli istana menghilang secara mendadak." Gu Yuena berkata dengan yakin.


"Ini pasti Istana Linghun! Siapa lagi yang bisa mengirim mata-mata sebanyak itu dan melakukan hal keji?" Para tetua langsung menebak siapa lagi musuh mereka selain Istana Linghun.


"Menurutku, Istana Linghun tidak ikut campur dalam hal ini. Kalian tahu, Istana Linghun dan Aula Linghun bertindak terpisah, meski mereka adalah satu. Aku bisa memastikan hal tersebut." Gu Yuena tidak ingin posisinya diragukan lagi seperti dulu. Dengan menyelamatkan latar belakangnya, maka ia akan mendapat pengakuan lebih.


"Gu Yuena, apa kamu mengatakan ini karena kamu adalah Putri Istana Linghun?" Tetua Han menebak apa yang dipikirkan Gu Yuena.


"Aku termasuk bertanggungjawab akan hal ini, memastikan tidak ada hubungannya denganku." Gu Yuena mengakuinya.


"Bagaimana aku bisa mempercayai putri dari musuh? Siapa yang tahu, ternyata kau berkomplot dengan mereka untuk mendapat pengakuan?" Tetua Ming mendapat kesempatan memojokkan Gu Yuena.


Gu Yuena hanya tersenyum. Jarinya digerakkan, mengangkat wanita malang itu ke udara membuat mereka semua waspada. Terutama Jin Xiao yang terlalu terkejut akan kenyataan bahwa Gu Yuena adalah penyihir.


Selama ini ia hanya tahu bahwa Gu Yuena adalah Putri Istana Linghun dari para tetua. Tapi tak disangka, dia juga penyihir.


"Tidak mungkin aku melakukan ini pada bawahanku sendiri. Dia bahkan terus menutup mulut ketika aku bertanya siapa yang mengirimnya." Gu Yuena melirik wanita itu dengan senyuman miris. "Kau juga tidak akan memberitahu di mana kau menyembunyikan mayat murid-murid itu, 'kan?"


Wanita itu hanya diam, melemaskan tubuhnya selemas mungkin dan menutup mata. Dia sama sekali tidak mau buka suara.


"Sudah kuduga." Gu Yuena menjatuhkannya begitu saja seolah menjatuhkan barang. Orang-orang yang melihat hanya bisa terdiam.


Semudah itu memegang nyawa seseorang.


Salah satu tetua berdeham untuk mencairkan suasana dingin, lalu berkata, "Kalau masalah itu, kami sedang mencari murid-murid yang hilang. Serahkan dia pada kami, kami akan mencari cara membuatnya bicara."


"Sebenarnya, tidak perlu susah payah mencari lagi." Su Churan muncul ketika kupu-kupu berkumpul di antara mereka dan meletakkan sebuah peti besar begitu saja.


Peti cokelat yang tampak sangat kokoh dan tidak mengeluarkan aroma apa pun. Terlihat sangat sunyi.


"Bukalah!" Su Churan bersedekap dada. Ia melirik Ming Chin dengan senang hati. Jelas sekali dia menonton dari kejauhan sejak tadi—karena mengejar penyihir.


Salah satu tetua membuka peti itu. Ketika peti terbuka, aroma darah dan daging busuk menyeruak membuat mereka spontan menutup hidung.


Gu Yuena menahan napas saat itu juga dan memegang perutnya yang mual lagi. Su Churan sadar, ia langsung menutup aroma busuk itu dengan serbuk bunga yang diambil dari kupu-kupu.


"Selama beberapa hari ini, aku telah mengarahkan semua mata-mata ke hutan dan menyingkirkan mereka. Salah satunya membocorkan lokasi di mana mereka membuang murid yang mereka gantikan posisinya, lalu aku menemukan ini dan menyimpannya dalam peti. Masing-masing murid berada di tempat yang berbeda, sehingga membutuhkan waktu untuk mengumpulkannya."


Laporan yang diberikan Su Churan membuat mereka semua sangat terkejut. Betapa kejam orang-orang ini dalam menggantikan posisi murid-murid mereka.


"Jika bukan karena Gu Yuena yang memberitahuku posisi mata-mata ini, kita pasti tetap tinggal dengan mata-mata dan akan berakhir seperti mereka." Su Churan agak gelisah. Sebenarnya, ucapan yang sebelumnya diperintahkan Gu Yuena ini adalah bom waktu.


Jika para tetua itu tidak memiliki keyakinan dengan Gu Yuena, mereka pasti akan menyudutkan Gu Yuena dan mengatakan bahwa Gu Yuena telah merencanakannya. Apalagi Tetua Ming terlihat sangat bersemangat menyudutkan Gu Yuena.


Namun, sepertinya kekhawatiran Su Churan berlebihan.


"Karena masalah ini sudah diselesaikan oleh Tetua Su, kami tidak akan memperpanjangnya lagi. Sebelumnya kami yang tidak kompeten menjaga murid. Murid-murid ini, biar kami yang tangani." Tetua Han memilih melepaskan masalah ini begitu saja dan fokus mengurus murid. Tetua lainnya mengangguk—kecuali Tetua Ming yang tampak terkejut.


"Lalu, mata-mata ini ...." Tetua Ming melirik Gu Yuena dengan sinis. "Tidak mungkin Nona Gu ingin menahannya sendiri, 'kan?"


"Aku memiliki urusan dengannya." Gu Yuena bicara dengan santai. Bahkan Su Churan terkejut. Ini di luar rencana.


Tetua Ming mendengus. "Apa kau ingin menghapuskan sanksi yang ada?"


Gu Yuena menjawab, "Karena dia adalah anggota yang tersisa dan orang yang kutangkap langsung, sebagai Putri Istana Linghun, ingin memanfaatkannya juga bukan urusan kalian. Kalian memiliki masalah sendiri, aku juga begitu. Tenang saja, aku tidak akan mempertahankan mata-mata terlalu lama di sini."


Gu Yuena berhasil meyakinkan mereka. Meski Tetua Ming masih ingin membantah, tetua lainnya memilih mundur sehingga dia tidak memiliki dukungan. Ditambah, Su Churan begitu menindas saat ini.


"Kalau begitu, berhati-hatilah." Tetua lainnya mengangguk sekali pada Gu Yuena, lalu pergi bersama Jin Xiao serta Ming Chin yang masih terdiam. Tak lupa pula mereka meminta pelayan mengangkat peti mati berisikan jasad murid istana.


Ming Chin yang menyaksikan dari awal sampai akhir tidak bisa berkata-kata.


Selesai begitu saja?


Seharusnya mereka menuduh Gu Yuena berkomplot, kenapa dilewati begitu saja! Sial! Seharusnya Su Churan tidak datang hari ini.


Ming Chin marah dalam hatinya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hal yang sama juga terjadi pada Tetua Ming. Sedangkan Jin Xiao masih saja bingung sejak tadi.


Apa hubungannya Klan Ye dengan Aula Linghun dan Istana Linghun?


Di sisi lain, Su Churan menghela napas sambil melihat Gu Yuena yang tampak diam sejak kepergian mereka.


"Gu Yuena, ingatlah bahwa kau sedang mengandung, jangan lakukan perbuatan sekejam apa pun. Kasihan bayimu."


Gu Yuena tersenyum. "Tenang saja. Sejauh ini, aku masih sangat 'lembut'."


"Aku tidak percaya." Wajah Su Churan menjadi suram ketika melihat kondisi sang penyihir yang tersimpuh di tanah.


Menurut Gu Yuena, yang ia lakukan sungguh masih terlalu lembut. Biasanya, ia menguliti orang secara langsung atau memotong-motongnya agar mau mengaku. Kalau perlu, ia menyiram orang dengan asam sulfat.


Yang dirasakan penyihir itu hanya bagian paling dasar yang pernah dilakukan Gu Yuena selama latihan dengan rivalnya dulu—meski ada tambahan sihir saat ini.


"Lebih baik kau bunuh saja langsung. Bukankah kau sudah mual sejak tadi?" Su Churan masih khawatir mental Gu Yuena jadi psikopat sungguhan.


"Bisa diatasi." Gu Yuena masih percaya diri seolah hanya melakukan tugas interogasi biasa.


Su Churan masih tidak percaya.


Lama-kelamaan ia seperti menghadapi Bai Youzhe versi perempuan.