
Kaki besar seekor monster menapak di tanah. Cakarnya yang runcing menggaruk tanah yang dipijaknya ketika berjalan. Saking besarnya, tinggi Gu Yuena bahkan tidak bisa mencapai tubuh monster itu.
Gu Yuena melihat kaki besar di depannya dalam diam. Ia mendongak, melihat betapa besar monster yang kini menundukkan wajah untuk melihatnya dari dekat. Kepala besar dan napas keras itu benar-benar di luar dugaan.
Mata merah setajam silet itu beradu dengan netra merah Gu Yuena. Gu Yuena mundur secara tak sadar, sebelum akhirnya monster itu mengeluarkan raungan yang menghembuskan angin keras.
Roarrrr!
Gu Yuena memberi jarak aman ketika monster itu mulai meraung. Ia terkejut melihat monster berbentuk aneh dan tak dikenali itu. Terlihat seperti dinosaurus, tapi bukan dinosaurus. Apa itu naga?
Pijakan monster mengguncang tanah dan mengganggu keseimbangan Gu Yuena. Gu Yuena melompat ke atas pohon, kemudian mengeluarkan senjatanya untuk memberi serangan pada monster itu. Ini kali pertamanya menghadapi monster raksasa sendirian.
Monster itu memiliki kekuatan sihir merah gelap seperti darah yang meluncur menyerang Gu Yuena. Gu Yuena menghindar sambil melepaskan sihir api dari tangannya. Senjata sama sekali tidak berguna, karena kulit makhluk itu sangat keras sampai pisau terbangnya patah. Ia tidak bisa menyianyiakan terlalu banyak pisau terbang sebelum menemukan titik terlemah monster.
Tapi Gu Yuena tidak bisa terus menghindar. Monster itu secara membabi buta mengejar, mengabaikan api yang membakar tubuhnya sedemikian rupa.
Justru api di tubuhnya itu tampak tidak menyakitinya, melainkan membuatnya terlihat lebih mengerikan.
Cakaran monster tercetak baik di tanah maupun pohon besar. Gu Yuena sebisanya menghindar, kemudian berguling di sela-sela pepohonan untuk menghambat monster. Tapi tempat persembunyiannya menjadi hancur akibat cengkraman monster.
Untuk kesekian kalinya, Gu Yuena terhempas. Tapi ia tidak kehabisan akal. Ia memusatkan qi ke kakinya dan melayang di udara untuk melakukan serangan pada monster itu. Selama ia di udara, monster itu akan sulit menerkamnya.
Hanya saja, ia dikejar oleh waktu.
Presetan dengan pengawasan para instruktur dan dekan, ia tidak ingin nyawanya hilang untuk kedua kalinya. Lebih baik mengerahkan kemampuannya untuk mengakhiri kesialan ini.
Seekor makhluk hitam tiba-tiba muncul mengeluarkan auman mengerikan. Meski tubuhnya tidak sebesar monster yang mirip dinosaurus atau naga itu, tetap saja aumannya dipenuhi aura mencengkam layaknya monster tingkat tinggi.
Gu Yuena sendiri terkejut ketika menoleh ke belakang. Iris merah makhluk hitam menatap tajam monster raksasa itu. Ia menunjukkan gigi tajam dan besarnya yang putih, kontras pada bulu hitam itu. Ia seperti harimau hitam yang tengah berburu.
Seketika sesuatu terlintas di kepala Gu Yuena. "Xiao Hei?"
Makhluk hitam itu berlari dengan kecepatan tinggi menyambar monster yang terus mengaum seperti monster gila. Kecepatan makhluk hitam itu sangat cepat seperti ceetah dan menampol wajah monster besar berulang kali.
Kemudian makhkuk hitam melompat ke punggung ketika monster itu hendak menghempasnya. Makhluk hitam langsung menggigit punggung monster dan mengoyaknya secara brutal.
Gu Yuena diam untuk beberapa saat melihat dua monster yang bertarung saling melukai. Jika benar itu Xiao Hei, ia menjadi khawatir bila monster itu melukai Xiao Hei, apalagi setelah melihat tubuh Xiao Hei dihempas begitu saja menggunakan cakar monster besar.
Cepat-cepat Gu Yuena menggunakan sihir agar Xiao Hei berhenti di udara ketika terhempas. Sihir penyihir dapat digunakan sesuka hati tanpa mantra, sehingga ia bisa mengendalikan Xiao Hei yang terhempas tanpa ribet membacakan mantra. Ia menurunkan Xiao Hei dengan cepat sebelum monster itu menyerangnya lagi.
Gu Yuena kembali terbang ke udara untuk menghindari serangan. Ia menumbuhkan sayap di punggungnya. Sayap berapi-api seperti phoenix, mengepak di udara dengan udara panas yang membakar. Dengan begini, Gu Yuena bisa bebas bergerak menyerang monster itu.
Xiao Hei bangkit setelah melihat aksi Gu Yuena. Ia berlari menerkam monster itu, menempel di tubuhnya dan mengoyaknya habis-habisan. Sedangkan Gu Yuena di langit melepaskan sihir untuk mencari titik lemah monster itu dengan cepat.
Monster itu semakin marah. Ia menumbuhkan perisai di sekitar tubuhnya sehingga Xiao Hei yang asik menggigit mau tidak mau harus merasakan sakit gigi. Xiao Hei langsung melesat menghindar ketika monster itu hendak menggulatnya.
Monster itu berhasil menangkap Xiao Hei dan menekan kepalanya di bawah seolah akan menghancurkannya. Ketika ia akan melahap kepala Xiao Hei bulat-bulat, sihir merah melesat menghancurkan kedua matanya.
Api berkobar di wajah monster itu ketika kedua matanya ditembus sihir. Monster itu meraung kesakitan, sehingga tanpa sadar memberi celah pada Xiao Hei untuk melepaskan diri dan mencabik-cabiknya.
Gu Yuena hanya bisa menyerang menggunakan sihir biasa, karena ia kekurangan keterampilan sihir. Karena ia tidak bisa menemukan kelemahannya di antara kulit keras itu, ia hanya bisa membutakan mata monster sebelum benar-benar menghabisi Xiao Hei.
Kekuatan Xiao Hei semakin lemah dan mulai kelelahan. Gu Yuena menggunakan apinya lebih besar untuk menghabisi monster, membentuknya dengan serangan yang sama seperti ketika ia melawan Ye Suanwu. Sihir berapi-api itu menghantam monster berulang kali sampai seluruh area dipenuhi lahan hangus.
Gu Yuena mendarat di samping Xiao Hei yang menjauh karena monster semakin menggila. Mereka kehabisan tenaga.
"Ini sulit. Dia lebih kuat dari semua monster yang kutemui." Gu Yuena berdecak sebal. Kenapa kulit makhluk itu harus sangat keras? Bahkan dengan mudah ganti kulit ketika ia membakar seluruh tubuh monster.
"Nona, monster tingkat 5 lebih kuat dari tingkat 1 dan 2 yang biasa kita hadapi."
"Kau sendiri?"
Xiao Hei diam untuk beberapa saat. "Baru tingkat 3." Ia berkata dengan malu.
Gu Yuena menghela napas. Ia melihat nadinya yang memiliki tanda merah. Tanda merah semakin memanjang, yang mengartikan bahwa racun api semakin menyebar. Ia tidak bisa bertarung lagi.
"Kita harus pergi." Gu Yuena melirik Xiao Hei. "Kau masih bisa berlari?"
Xiao Hei menggangguk. Pada akhirnya Gu Yuena menunggangi Xiao Hei untuk lari dari kejaran monster ke kedalaman hutan.
Sebisa mungkin lari menjauh dari wilayah ujian, atau akan ada banyak korban yang tidak bisa ditanggung. Xiao Hei terus berlari dengan kecepatan tinggi. Kecepatannya bahkan bisa menghindari monster yang semakin dekat dan melakukan serangan dadakan.
Pohon-pohon tumbang karena serangan monster, tapi Xiao Hei tidak menghentikan pelariannya. Sedangkan Gu Yuena menggunakan pisau terbang yang tersisa untuk menghambat kecepatan monster.
Di tengah pelarian, tiba-tiba segerombolan kupu-kupu berjumlah besar datang dan menabrak monster tu begitu saja. Kupu-kupu menyebar seperti serpihan kaca yang hancur, kemudian membuat pusaran kupu-kupu untuk mengepung monster itu. Kupu-kupu itu seperti lebah yang menyerang.
Xiao Hei menghentikan langkahnya dan melihat ke belakang, sedangkan Gu Yuena terdiam.
Hutan bagian terdalam ini ... semua monsternya benar-benar di luar nalar!
Sebelumnya ada perpaduan naga dan dinosaurus, sekarang ada kupu-kupu yang cosplay menjadi lebah!
Jumlah kupu-kupu semakin banyak seiring berlalunya waktu. Kelompok kupu-kupu itu mengambil kesempatan monster yang buta dan penuh luka dengan cara mengambil energinya sampai kering. Kelompok kupu-kupu kini menyelimuti seluruh tubuh monster itu, mengubahnya menjadi kepompong kupu-kupu tanpa bisa melakukan serangan balik.
Ketika dirasa monster sudah melemah, barulah kupu-kupu kembali menyebar di udara, menampakkan monster yang kini menjadi lunak seperti boneka. Monster yang tadinya mengerikan, jatuh lemas begitu saja dalam keadaan kehabisan darah.
"Kupu-kupu darah!" Xiao Hei sangat terkejut.
Gu Yuena melihat kelompok kupu-kupu itu dengan waspada. Jika kupu-kupu itu dapat membunuh monster tingkat 5 begitu mudah, maka bisa membunuh mereka berdua lebih mudah daripada membunuh semut.
Hanya saja, entah mengapa Gu Yuena tidak merasakan aura membunuh atau tekanan apa pun dari kelompok kupu-kupu itu. Tidak seperti monster sebelumnya, mereka justru hanya diam di udara sebelum akhirnya mendarat ke atas tanah.
Kupu-kupu bergerak membentuk sosok lain yang jauh di luar dugaan. Mereka berkumpul dalam bentuk manusia, sebelum akhirnya menghilang dalam cahaya digantikan oleh sosok gadis cantik dengan seruling indah di tangannya.
Xiao Hei tidak terlihat terlalu terkejut ketika melihat fenomena itu, tapi Gu Yuena terkejut.
Monster yang berubah menjadi manusia, atau manusia yang berubah menjadi monster ... ini benar-benar ....
"Gu Yuena? Apa itu kau?" Gadis itu tampak memasang ekspresi terkejut. Ia sedikit berlari menghampiri Gu Yuena yang terdiam di punggung Xiao Hei.
"Kau ...." Gu Yuena bingung. Apa mereka saling kenal?
"Apa kau datang sebagai murid baru Akademi Yuansu? Kebetulan, aku memiliki kenalan murid akademi yang seangkatan denganmu. Aku di sini untuk mengantarnya." Suara lembutnya terdengar antusias. Iris cokelat itu melihat Gu Yuena dengan senyum lebar. "Sudah sangat lama, kamu masih saja pendiam." Ia merasa dicuekin.
"Yaa ... bagaimana kau mengenaliku?" Gu Yuena bicara sambil turun dari punggung Xiao Hei.
Ia masih berpikir keras siapa gadis ini sebenarnya. Ia terlihat ceria seperti anak-anak dan selalu membawa seruling kemanapun ia pergi sehingga tampak tidak berbahaya.
Tapi ia sangat terkejut menghadapi kenyataan bahwa kupu-kupu penghisap darah adalah gadis yang tampak polos itu. Dunia ini aneh. Ia bisa sakit mental menghadapinya.
"Awalnya aku tidak mengenalimu karena penampilanmu yang berubah drastis. Tapi setelah melihat dengan baik, wajahmu tidak banyak berubah. Napasmu juga familiar, jadi aku mengetahuinya." Ia berkata sambil memutar-mutarkan seruling di tangannya.
"Kau ...." Gu Yuena masih berpikir. Ia memeriksa kekuatan gadis itu dengan membuka persepsinya untuk melihat lebih jelas. Qi yang mengalir di tubuh gadis di depannya adalah ciri-ciri kultivator tingkat 6. Benar-benar tingkat 6 ... semuda itu ....
"Kau penasaran dengan kultivasiku?" Gadis itu tiba-tiba menebak dengan benar. Ia tersenyum dengan lebar, kemudian tertawa. "Terakhir kita bertemu 2 tahun yang lalu, tentu saja ada banyak perubahan. Sudah kukatakan, aku tidak akan menjadi gadis cengeng seperti dulu ketika kau memarahiku. Sekarang aku menyelamatkanmu, kita termasuk sudah impas. Tapi ... dengan kekuatanmu, seharusnya kau bisa mengalahkan monster payah itu. Kau malah kabur dengan peliharaan kecilmu."
"Tunggu dulu ... bagaimana kau mengenalku sebelumnya? Aku tidak bicara tentang kau yang mengenaliku sekarang, tapi dua tahun yang lalu seperti yang kau katakan." Gu Yuena masih berpikir keras di mana mereka bertemu.
Gadis itu diam untuk beberapa saat. Wajahnya menjadi terkejut. "Kau tidak mungkin melupakanku, 'kan?"
Gu Yuena diam untuk beberapa saat, masih terus berpikir. "Mungkin ... aku akan ingat setelah kau sedikit menjelaskannya."
Gadis itu melemaskan kedua bahu dan menghembuskan napas panjang. "Gu Yuena, kau sangat jahat." Ia menggerutu. "Kalau begitu, mari kita berkenalan kembali. Aku adalah Su Churan, kita bertemu di Klan Su dua tahun yang lalu. Kau menyelamatkanku ketika keluargaku ... kira-kira seperti itu." Suara gadis itu menjadi lemah ketika mengatakan kalimat terakhir.
Gu Yuena mencernanya perlahan. Samar-samar ia mendapat gambaran kehancuran dan tangisan yang menggema di telinganya. Ia ingat seorang anak yang menangis di depan gerbang klan yang dilahap api. Ia menangis, ditemani olehnya saat bersembunyi di semak-semak.
"Aku minta maaf." Gu Yuena paham mengapa gadis di depannya tampak sedih.
"Tak apa." Su Churan menggedikkan bahu.
Ingatan itu sangat jelas tergambar di kepala Gu Yuena. Su Churan sedikit lebih muda darinya, yang artinga gadis itu masih berusia 14 tahun, sedangkan Gu Yuena berusia 15 tahun. Itu adalah masa di mana seharusnya mereka menghabiskan waktu remaja bersama teman-teman.
Ia ingat, Su Churan tidak tahu identitas aslinya sebagai Nona Keempat Kediaman Adipati. Su Churan hanya tahu bahwa ia adalah seorang gadis yang kabur dari rumah untuk melihat dunia.
Memang seperti itu kenyataannya.
"Dunia begitu sempit. Ketika di akademi, kau harus berkenalan dengan kenalanku. Tapi mengingat sifatmu ... aku yakin kalian sulit akrab." Su Churan menghela napas panjang.
"Kalau begitu jangan rekomendasikan." Gu Yuena berkata dengan cuek.
"Ah, ternyata dia seekor kucing." Su Churan tampak terpana, ingin mengusap Xiao Hei tapi ragu. Ia adalah pecinta hewan, apalagi hewan imut dan cantik seperti Xiao Hei.
"Kupu-kupu itu ...." Gu Yuena ingin bertanya.
"Ah, itu. Mereka adalah peliharaanku. Sangat manis dan cantik, 'kan?"
"Aku pikir itu sedikit ...."
"Mengerikan? Yah, memang kadang seperti itu. Tapi aku suka meski harus memberi makan menggunakan darah. Sebagai summoner yang baik, aku tidak akan menelantarkan anak-anakku yang cantik." Ia berkata sambil tersenyum tanpa beban.
"Ya ... memang keren." Gu Yuena tidak ada komentar lain.
Cara berpikir summoner dan orang lain berbeda. Pada dasarnya, summoner berisikan orang-orang aneh atau psikopat pecinta hewan. Mereka mencintai dan membunuh hewan bersamaan. Atau bisa dikatakan monster(?)
"Oh, jangan lupa ambil energi unsur di sana, aku sudah menyisakannya untukmu."
"Kau tidak mendaftar?"
"Memangnya ada yang bisa mengajariku?" Su Churan terkekeh. "Bercanda."
"Tidak lucu." Gu Yuena tetap bertampan datar.
Tapi Su Churan mengabaikannya dan tetap pada dunianya sendiri sambil melanjutkan, "Sebenarnya, aku harus menyembunyikan identitasku sementara. Kau tahu, identitasku sensitif. Aku harus bersembunyi untuk sementara di tempat aman sampai waktunya tiba. Lagi pula, aku memiliki guruku sendiri, dan seorang teman hebat yang membantu."
"Keberuntunganmu cukup baik."
"Aku pikir kau akan berkata bahwa aku menyedihkan." Su Churan tampak tidak terbiasa dengan Gu Yuena yang mengalah.
"Aku harus pergi secepatnya." Gu Yuena hendak pergi, namun Su Churan menahan lengannya.
Su Churan melirik mayat monster sebesar gunung itu. "Ambil energi unsurnya. Meski kau tidak membutuhkan hadiahnya, kau bisa mengambil bagian lain dari monster untuk dijadikan sesuatu. Inti kehidupan monster sangat berguna bila dijadikan alat kultivasi. Energi unsur juga berguna untuk membuat esensi sihir."
"Esensi sihir? Apa bisa?" Gu Yuena baru tahu.
"Itu adalah rahasia pembuatan esensi sihir. Energi unsur akan diekstrak dan menjadi esensi sihir. Ketika sampai di akademi, mereka akan meminta energi unsur darimu dan memberimu pilihan antara hadiah atau mempertahankan energi unsur. Memang, akan tidak berguna bila tidak bisa menggunakannya, maka dari itu kebanyakan dari mereka memilih hadiah."
"Jadi kau berpikir aku tahu cara menggunakannya?"
Su Churan tersenyum lebar. "Setidaknya kau harus tahu karena telah berada di Akademi Yuansu. Nilai esensi sihir sangat tinggi seperti pil, kau bisa menjualnya atau menggunakannya untuk pribadi."
Gu Yuena berpikir sejenak. Ucapan Su Churan memang benar, ia pun tidak bisa menolak. Sialan! Jika tahu seperti itu, ia tidak akan merelakan semua energi unsur yang disia-siakan setelah bertarung.
Kali ini, ia salah perhitungan. Untung saja Su Churan memberitahu sebelum ia menyianyiakan esensi sihir monster tingkat 5 yang berharga. Sisa puluhan energi unsur ia lewatkan, ia membuang semua uangnya ke tangan yang sia-sia. Ini benar-benar ... membuatnya tertekan.
"Bagaimana? Bukankah sangat bagus? Temanku itu juga mengambil energi unsur untuk esensi sihir." Su Churan berkata dengan bangga. Pengetahuannya ini sangat luar biasa!
"Sepertinya temanmu sangat banyak."
Su Churan tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya. "Tidak. Aku pikir aku hanya memiliki satu teman dan kau yang kedua."
"Lalu kau terus menyebut teman dengan sifat berbeda berkali-kali. Pertama tidak akan cocok denganku karena sifat, lalu teman yang hebat dan selalu membantumu, juga teman yang bisa membuat esensi sihir."
"Dia adalah satu orang."
Gu Yuena mengangguk paham. "Jadi begitu."
Ia pun pergi mendekati monster itu untuk mengambil energi unsur ke dalam token. Tidak lupa juga mengambil dagingnya untuk dimakan Xiao Hei yang lapar.
Gu Yuena bertanya lagi pada Su Churan. "Temanmu tahu cara membuat esensi sihir, 'kan? Apa menurutmu dia akan memberitahuku?"
"Kurasa tidak. Tempramennya sulit didekati, aku kadang lelah. Itu sebabnya aku berkata kalian akan sulit berkomunikasi. Positifnya, dia sangat hebat dan bisa segala hal. Meski kadang menjadi misterius, tapi tetap saja, pesona tidak bisa diabaikan. Aku sampai penasaran bagaimana wajah orang tuanya sampai memiliki anak seperti dia."
"Dia pria, 'kan?" Gu Yuena sudah menebak.
"Apa bedanya pria dan wanita? Jika dia wanita, aku justru lebih berani memanggilnya kakak."
"Sepertinya orang yang kau maksud sangat sensitif. Aku tanya ke orang lain saja." Gu Yuena tidak lagi berniat mengetahui hal tentang teman Su Churan yang entah orang aneh dari mana lagi. Ia hanya ingin sekolah dengan tenang.
"Tapi temanku juga tidak buruk. Aku pastikan, kau akan jatuh cinta begitu melihatnya!"
"Jadi kau sekarang sedang jatuh cinta?"
"Kenapa aku jatuh cinta?" Su Churan malah bertanya balik. "Kau pikir aku jatuh cinta padanya? Haha, jika aku jatuh cinta padanya, maka itu berarti aku sudah menjadi gila."
"Itu yang ingin kukatakan."
"Tapi kau belum lihat orangnya. Aku lihat kau cocok, jadi bisa saja dekat dengan temanku yang seperti kawat berduri itu."
"Kau memuji atau menghina?" Gu Yuena heran dengan gadis satu ini. Ia jadi kepikiran apa yang akan dikatakan Su Churan tentangnya pada orang lain.
"Aku hanya ... mengutarakan isi pikiranku. Aku menyukainya, tapi juga tidak menyukainya. Aku hanya curhat padamu."
Gu Yuena mendesis sambil menyelesaikan kegiatannya. Ia berdiri dan meminta Xiao Hei kembali menjadi besar setelah makan dan istirahat.
"Yah, kau sudah akan pergi." Su Churan cemberut. Ia ditinggalkan dua kali berturut-turut.
Gu Yuena naik ke atas punggung Xiao Hei, kemudian menoleh ke arah Su Churan yang memainkan serulingnya. "Aku pikir lebih baik mengatakannya langsung bila kau suka."
"Tapi dia akan menolakku. Lagi pula, aku tidak sesuka itu. Aku sudah gila." Su Churan menghela napas, tampak tertekan.
"Kalau ditolak, cari yang lain. Pria tidak hanya ada satu." Gu Yuena diam untuk beberapa saat terpikirkan oleh sesuatu. "Yang penting kau sudah berusaha. Jangan sampai memperburuk hubungan."
"Aku mengerti." Su Churan tersenyum.
Gu Yuena kembali menghadap depan dan langsung meminta Xiao Hei langsung pergi ke akademi dengan cepat sebelum malam tiba. Mereka sudah cukup dekat dengan akademi.
Melihat kepergian Gu Yuena, Su Churan menghela napas untuk kesekian kalinya. Ia memikirkan kata-kata Gu Yuena. "Sayangnya, sepertinya dia menyukai orang lain." Ia menghela napas lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tepat pada waktu gerimis tiba, Gu Yuena telah sampai di akademi bersama Xiao Hei. Xiao Hei kembali ke wujud kucing kecil dan beristirahat di lengan Gu Yuena.
Atmosfer di depan gerbang besar akademi tampak memiliki aura tersendiri di bawah cuaca mendung. Akademi Yuansu ada di paling ujung, sedangkan ia masih berada di halaman luar akademi.
Para murid baru berbaris untuk melakukan pendataan diri dan mengumpulkan energi unsur. Petugas memeriksa token penyimpanan energi unsur satu per satu selagi murid baru melengkapi pendataan sebelum akhirnya memasuki gerbang.
Karena pengumuman pengumpulan terbanyak akan diumumkan ketika semua murid sudah mengumpulkan, mereka semua masih menunggu di sekitar gerbang sampai penuh.
Gu Yuena masuk ke dalam barisan, lalu menunggu sampai gilirannya tiba. Beberapa saat setelahnya, ia maju untuk mendata dan meletakkan token di atas meja sebagai syarat.
Petugas yang merupakan murid senior memeriksa isi token menggunakan sebuah alat. Ketika isi token terdeteksi, alat yang merupakan kristal itu menunjukkan reaksi berupa tampilan angka-angka.
Angka 5-1 tertera di atas kristal.
Murid senior itu terkejut. "Kau benar-benar membunuh monster tingkat 5? Apa kau tidak bermain curang?"
Gu Yuena menyelesaikan penulisan data dan menyerahkannya. "Curang maupun tidak, tidak ada hubungannya denganmu. Aku akan mengambil token dan energi unsurku serta tidak berpartisipasi dalam pemberian hadiah." Ia mengambil token miliknya begitu saja dan pergi.
"Hei! Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun!" Murid senior itu berdecak sebal. Bisa-bisanya ada junior yang bersikap kurang ajar seperti itu.
Gu Yuena benar-benar mengabaikannya dan terus masuk ke dalam akademi. Ia melihat seseorang berjubah hitam melewatinya dari arah yang berbeda untuk mengumpulkan energi unsur.
Awalnya Gu Yuena tidak peduli, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Sama seperti firasat Xiao Hei di hutan ketika perjalanan ke akademi, ia merasakan keberadaan yang familiar.
"Apa hanya perasaanku saja?"
"Akhirnya kau merasakannya. Sudah kukatakan aku tidak berbohong." Xiao Hei mengeong sambil membanggakan diri.
Gu Yuena menggedikkan bahu. "Lagi pula tidak penting. Siapa pun itu, hindari saja agar tidak ketahuan."
Ia pun pergi memasuki gedung halaman luar. Karena cuaca tidak mendukung, para murid baru langsung diarahkan untuk pergi ke asrama.
Tapi sebelum pergi ke asrama, Gu Yuena masih ingin melihat-lihat lingkungan akademi. Ia penasaran bagaimana Istana Yuansu menata akademinya. Apa akan sama seperti universitas di dunianya dulu atau tidak?
Tepat ketika memikirkannya sambil melangkahkan kaki, langkah Gu Yuena berhenti mendadak tepat ketika akan menabrak seseorang. Gu Yuena mendongak, kemudian terdiam ketika melihatnya.
"Kau ...."