
Terdorong ke dalam array teleportasi membuat Gu Yuena dipenuhi kekacauan. Tidak ada senyuman yang biasanya terukir di wajahnya. Hanya ada kesuraman, tanpa adanya emosi.
Ketika teleportasi aktif, mereka semua diarahkan ke bawah gunung, tepatnya di hutan Gunung Huo.
Karena keterbatasan waktu saat persiapan teleportasi, mereka tidak bisa pergi lebih jauh dan harus sebisa mungkin menjauh dari wilayah istana. Mereka akhirnya memasuki hutan dan sedang menuju Kekaisaran Yi.
Selama perjalanan, Gu Yuena hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Bersama Yun Qiao, Ru Meng, Mu Xinhuan, dan Shen Jialin menemaninya, Gu Yuena tetap kosong setiap saat. Tatapannya penuh penyesalan.
Di dalam ledakan, ia seharusnya bisa bertahan di dalam sana tanpa terpental. Tapi pikirannya mendadak kosong ketika melihat orang itu menghabisi mereka begitu mudah.
Di dalam kabut sihir yang meledak, orang itu membunuh mereka dengan kabut hitam yang pekat. Ia sangat ingat akan tatapan itu. Tatapan penuh niat membunuh.
Orang itu membunuh tepat di depan matanya.
Yun Qiao juga sama terpuruknya. Ia hanya diam di tempat, tampak merasa bersalah sepanjang hari. Gu Yuena tidak berani mengatakan apa yang ia lihat pada Yun Qiao. Cukup ia sendiri yang tahu.
"Lagi-lagi seperti ini." Gu Yuena yang duduk di atas batu menundukkan kepalanya di antara lutut dan memeluk kedua lututnya yang ditekuk.
Ia lebih merasa bersalah. Ia tidak menepati janji dan tidak dapat melindungi orang yang ingin ia lindung. Justru, ia dilindungi oleh mereka. Itu bukan keinginannya.
Ia memiliki sihir keabadian, lingkaran sihir, kekuatan jiwa, dan darah phoenix. Kenapa ia tidak menggunakan semua itu untuk melawan?
Kenapa?
Kenapa ia membiarkan orang yang menerimanya ada adanya berakhir seperti itu? Tidak keluarganya, tidak guru dan orang terdekatnya. Kenapa harus berakhir seperti ini?
"Xiao Yuena, kamu belum makan sejak tadi." Shen Jialin menghampiri dengan perasaan sedih. Ia tahu Gu Yuena sangat terpuruk, tapi tetap tidak boleh mengabaikan kesehatannya.
Gu Yuena sama sekali tidak menjawab. Hal tersebut membuat Shen Jialin gelisah.
Mu Xinhuan yang melihat langsung mendekat bersama Ru Meng di sisinya. Mereka berdua sudah berhasil membujuk Yun Qiao yang terlalu terkejut, tapi sepertinya akan sulit membujuk gadis keras kepala ini.
"Xiao Yuena, kita harus melanjutkan perjalanan." Mu Xinhuan berkata dengan ragu.
Gu Yuena menegakkan kepalanya, lalu melihat mereka semua bergantian. Benar, mereka harus melanjutkan perjalanan.
Jangan sampai orang itu mengetahui jejaknya dan mengulangi kejadian yang sama. Mereka harus bergegas.
Gu Yuena pun berdiri. "Kita pergi secepatnya."
"Tapi ... ini sudah malam. Sangat berbahaya melakukan perjalanan malam di hutan." Ru Meng memberitahu kenyataannya sambil menunjuk langit.
"Benar, kamu harus istirahat juga. Kau menggunakan sangat banyak kekuatan sebelumnya, lebih baik memulihkannya terlebih dahulu." Mu Xinhuan memberi nasihat.
"Kamu juga belum makan. Aku sudah membuatkan ayam bakar untukmu. Untuk menambah kekuatan dan energi, kamu harus makan agar bisa melindungi kami." Shen Jialin menunjukkan ayam bakar yang ditusuk kayu ramping di tangannya.
Gu Yuena hanya melihat, tanpa ada nafsu makan. Meski begitu, Gu Yuena tetap menerimanya. Ia lumayan lapar.
Tapi tetap saja, ini demi memulihkan kekuatan yang terbuang sia-sia. Lain kali, ia tidak akan membuat keputusan yang sama. Ia akan melawan secara langsung dan melindungi mereka semua.
Istirahat malam ini berjalan dengan baik. Semua orang berhasil memulihkan diri—meski hanya separuh kekuatan—serta menyembuhkan luka. Dengan perban yang membalut serta pakaian kotor penuh bau darah, mereka tertidur melepas lelah di atas tanah beralaskan daun.
Hanya Gu Yuena yang tidak tidur. Ada perasaan takut jauh di lubuk hatinya, berpikir bahwa orang itu akan datang malam ini dan memberi mimpi buruk baginya. Ia merasa harus tetap berjaga.
Sebenarnya, sudah dua hari ini sejak mereka sampai di kaki gunung, Gu Yuena tidak tertidur karena takut.
Xiao Hei dan Xiao Bai keluar dalam wujud asli, memberi kehangatan pada Gu Yuena menggunakan bulu tebal mereka. Gu Yuena bersandar dengan nyaman.
"Apa ini sudah berakhir?" Ia bertanya pada diri sendiri.
Di masa lalu, ketika ia dalam keadaan terpuruk seperti ini, kakaknya selalu menemani. Seperti ketika ia mengalami trauma akan penyebab kematian ayah dan ibunya, Gu Yuan selalu ada menghiburnya.
Ia merindukan Gu Yuan.
Tanpa terasa, Gu Yuena mengantuk dan tidur setelah lama melihat bulan yang bersinar terang. Ia pun tidur setelah sekian lama terjaga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini seluruh anggota Istana Yuansu yang tersisa melanjutkan perjalanan. Para tetua istana memimpin jalan, bersama Gu Yuena, Yun Qiao, dan yang lain mengiringi di belakang tiga tetua. Hanya sekitar 10 kilometer lagi untuk menuju kekaisaran.
"Berapa lama lagi kita harus berjalan?" Shen Jialin mengeluh. Masalahnya, mereka semua berjalan tanpa henti, hanya memiliki waktu istirahat di malam hari.
"Jika ingin istirahat, istirahatlah. Aku akan menemani." Mu Xinhuan menawarkan diri, membuat Shen Jialin mencibir dirinya yang ingin mencari kesempatan.
"Aku tidak bisa meninggalkan kalian semua." Shen Jialin lebih tepatnya tidak ingin ditinggal. Entah apa saja jenis monster di hutan ini. Mereka tidak bertemu monster karena aura para tetua.
Banyak dari mereka yang mengeluh, tapi tidak berani terpisah dari rombongan. Sama halnya seperti Shen Jialin, termasuk Ru Meng yang kerap kali berhenti untuk minum air yang diambil dari sungai.
Perjalanan ini sangat panjang.
Di tengah perjalanan itu, tiba-tiba saja raut Gu Yuena yang sebelumnya hanya memasang wajah tanpa ekspresi menjadi berubah drastis. Matanya membulat, sedangkan langkahnya terhenti, membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Mereka ...." Gu Yuena dipenuhi rasa gelisah.
"Persepsimu cukup tajam."
Suara itu membuat pandangan mereka tertoleh ke arah bebatuan besar di dinding gunung. Tampak sosok pria bertopeng hitam, serupa dengan pria bertopeng yang menyerang Istana Yuansu.
Mereka semua memasang sikap waspada, sedangkan Gu Yuena hanya menatap pria itu dengan datar. Ia marah mengingat bagaimana pria itu membunuh gurunya.
"Aku terpana melihat kegigihan kalian dalam bertahan hidup, meski tanpa pemimpin."
Ketika ia mengatakannya, beberapa sosok berjubah hitam muncul dari berbagai sisi mengepung mereka semua. Seluruh murid Istana Yuansu terus memasang sikap waspada ketika melihat makhluk kematian yang mengepung.
"Orang tercela seperti kalian akan berakhir buruk! Langit akan menghukum kalian!" Salah seorang tetua mengutuk. Tapi dihadiahi oleh tawa pria bertopeng itu.
Tawa yang mengerikan.
"Jika langit selalu mengabulkan keinginan kalian, apa kalian akan berada di posisi seperti ini? Jelas-jelas langit mendukungku."
"Kamu ...."
Para tetua sudah sangat marah, tapi tidak bisa melakukan apa pun. Itu justru terlihat seperti lelucon di mata pria bertopeng.
Pandangan pria bertopeng terarah pada Gu Yuena sekilas, lalu menatap Yun Qiao. "Raja baru kita sepertinya sangat marah. Apa kamu sudah menerima pesan terakhir gurumu?"
Yun Qiao sudah kehilangan ketenangan yang selama ini ia pertahankan. Ia mengeluarkan pedangnya, namun Ru Meng dan Mu Xinhuan segera menghentikan.
"Itu bunuh diri!" Ru Meng memperingati.
"Lalu kau akan menyerah mati di tangannya?" Yun Qiao membalas dengan nada tegas. "Aku ... bersalah pada Guru jika menerima hinaannya."
"Dia memprovokasimu. Jangan terpengaruh!" Mu Xinhuan mencoba mengingatkan. Ucapan pria bertopeng itu sangat berbahaya untuk seseorang yang sedang sangat terkejut seperti Yun Qiao.
Shen Jialin menarik-narik ujung pakaian Gu Yuena yang sedang termenung. Ia khawatir, Gu Yuena akan bersikap keras seperti Yun Qiao.
"Xiao Yuena ...."
Pandangan Gu Yuena terarah pada pria bertopeng itu. Sepasang iris mata merah darah yang tampak redup tanpa emosi, melihat seseorang dengan pandangan kosong.
"Kau ... datang untuk membawaku, 'kan?" tebaknya..
Semua orang terkejut. Mereka tidak tahu, alasan Yan Shuiyin dan Raja Yun sangat menahan Gu Yuena untuk tetap di Istana Yuansu adalah agar tidak jatuh ke tangan Istana Linghun. Mereka memiliki ribuan cara untuk mencuci otak seseorang.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Pria bertopeng itu bertanya.
Gu Yuena melangkahkan kakinya melewati ketiga tetua yang panik. Tapi Gu Yuena mengabaikan mereka. Pandangannya tetap terarah pada pria bertopeng itu.
"Karena aku adalah bagian dari kalian." Ucapan Gu Yuena membuat orang-orang di belakangnya bingung setengah mati. Kemudian ia melanjutkan, "Kau ... ternyata tidak sekuat yang kupikirkan."
Pria itu tetap diam, melihat Gu Yuena dengan perasaan aneh.
Gu Yuena tiba-tiba menarik salah satu sudut bibirnya, lalu mengangkat tangannya. Sihir hitam di tangannya muncul, terhubung pada makhluk kematian membuat hampir semua makhluk kematian berbalik ke arah pria bertopeng sambil mengacungkan senjata.
"Jika aku harus mati, maka aku tidak akan mati sendirian." Sihir merah di sekitarnya meningkat drastis diiringi dengan simbol phoenix di antara alisnya. Tanda-tanda racun api muncul, merambat seperti akar di sekitar tangan dan leher sampai rahangnya.
Tidak peduli apa ia telah mengungkap identitasnya atau tidak, yang terpenting adalah membalaskan dendam gurunya. Yan Shuiyin tidak boleh mati sia-sia!
Orang-orang di belakangnya adalah orang yang ingin dilindungi Yan Shuiyin dan Raja Yun. Ia tidak akan mengecewakan mereka. Menggunakan hidupnya untuk menepati janjinya, itu sepadan.
"Kau harus membunuhku dulu sebelum menyelesaikan tugas," lanjut Gu Yuena.
"Xiao Yuena!" Teman-temannya di belakang memanggil, tapi tidak diindahkan.
Gu Yuena tetap menghadap pria bertopeng itu sambil bersiap menyerang kapan pun jika pria itu tidak menyerah. Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Aku kagum pada keberanianmu." Pria itu masih saja terlihat tenang. Meski pada akhirnya, semua ini akan jadi merepotkan.
Ini karena dua orang tua sialan itu.
"Kalian pergilah."
"Yang Mulia dan guruku telah mengorbankan hidup mereka agar teleportasi tidak dirusak, jangan buat itu sia-sia. Aku akan menahannya." Gu Yuena berkata tanpa fluktuasi emosi. Dan jika ia mati, orang-orang itu tidak akan bisa mendapatkannya.
Ucapan itu tepat mengenai mental terlemah mereka. Mereka semua terdiam, lalu melihat semua makhluk ini dengan rasa takut.
Gu Yuena benar, tapi itu bukan berarti mereka akan membiarkan Gu Yuena berkorban setelah raja, tetua, dan semua orang yang gugur.
"Kalian membuatku kesal." Gu Yuena mengangkat tangannya, membuka sihir teleportasi yang membuat lingkaran sihir terbentuk di bawah kaki mereka semua. Detik berikutnya, mereka yang dilanda kebingungan pun menghilang.
"Kamu sangat setia." Pria bertopeng itu berdecak kagum.
"Hentikan basa-basimu." Gu Yuena sudah muak.
"Kau tahu tujuanku, tapi bukannya menyerahkan diri untuk mereka, malah menantang bertarung. Mengendalikan pasukan kematian, pula. Kau benar-benar cocok disebut sebagai Putri Istana Linghun."
Gu Yuena sudah malas mendengarnya dan menghunuskan pedang ke arah pria itu. Ujung pedangnya nyaris mengenai leher pria bertopeng.
Dia benar-benar serius.
"Jangan menyesal." Pria bertopeng itu memutar pedang Gu Yuena, membuat pegangan Gu Yuena melonggar dan melepaskan pedang.
Namun, bukan berarti Gu Yuena akan kalah. Ketika pria itu mengeluarkan sabitnya yang melayang di udara seperti boomerang, Gu Yuena cepat-cepat memasang pelindung di sekitar tubuh agar tidak tertimpa senjata mengerikan itu.
Ia terbang ke udara bersama sayap lebarnya sambil menghindari tiap serangan yang meluncur. Efek ledakan dari serangan pria bertopeng menyebabkan kecepatan Gu Yuena terganggu. Ia telah mengaktifkan kekebalan terhadap efek lambat, tapi tidak berfungsi sepenuhnya. Untungnya reaksi Gu Yuena sangat baik dan menghindar tepat waktu sebelum terkena serangan.
Sambil menghindar dan terhenti di udara, Gu Yuena mengeluarkan sihir merahnya dan menyerang pria bertopeng. Sihirnya berhasil membuat serangan pria bertopeng berhenti, sehingga menciptakan ledakan di antara mereka berdua.
Kekuatan normal Gu Yuena setara dengan tingkat 8, tapi jika semua kekuatan di tubuhnya digabungkan, ia akan setara dengan tingkat 9 dan dapat mengimbangi pria itu. Ia akan mencari celah dan mengambil kesempatan membunuh.
Pria bertopeng itu masih berdiri di tempat yang sama, memandang Gu Yuena tanpa fluktuasi emosi. Ia melihat ke arah pasukan kegelapan yang akan menyerangnya, namun kekuatan jiwa di tubuhnya langsung mengambil alih kendali dan membuat seluruh pasukan kematian berhenti mendadak.
Akibatnya, kepala Gu Yuena merasakan pukulan besar karena hubungan kekuatan jiwa yang terputus secara paksa. Ia jatuh dari udara, memegang kepalanya yang sakit sambil merintih.
Ia belum cukup ahli mengendalikan kekuatan jiwa sehingga terkena serangan balik ketika pengaruh diputuskan secara paksa.
"Kau akan lebih kuat jika berada di Istana Linghun." Pria itu berkata tanpa nada khusus. Pandangannya terhadap Gu Yuena, tidak seperti ketika melihat orang-orang Istana Yuansu.
"Apa begitu?" Gu Yuena menekan rasa sakit di kepalanya, berdiri tegak melihat pria bertopeng itu. "Mungkin ... aku akan ikut pergi jika kau tidak membunuh mereka. Tapi bukankah sudah terlambat?"
"Kau akan menyesalinya."
Gu Yuena terkekeh. Entah berapa kali ia mendengar kalimat itu dari orang-orang yang berbeda atas tindakannya. Tapi ia sama sekali tidak pernah menyesal.
Hal yang paling ia sesali adalah tidak bisa menyelamatkan gurunya. Padahal jelas-jelas ia sangat mampu. Tapi ia dipenuhi rasa takut.
Gu Yuena tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
Pria itu kembali mengendalikan pasukan kematian untuk menyerang Gu Yuena. Pada saat yang sama, Xiao Hei dan Xiao Bai muncul untuk menangani pasukan kematian.
Sebelumnya mereka dilarang bertempur oleh Gu Yuena karena harus menyimpan kekuatan. Sekarang adalah waktunya membantu nona mereka.
"Nona, serahkan pada kami!" Xiao Hei mengaum seperti macan, lalu berlari bersama Xiao Bai menghabisi ratusan pasukan kematian yang menyerang.
Belakangan ini kekuatan Xiao Hei meningkat drastis. Ia sudah seperti berada pada puncak kekuatannya, apalagi setelah Xiao Bai menyembuhkan lukanya—dengan enggan. Kucing besar itu bertarung seperti sedang bersenang-senang.
Gu Yuena melesat dengan cepat ka arah pria bertopeng. Sihir merah si tangannya dikendalikan dengan baik untuk melakukan serangan beruntun ke arah orang itu.
Sedangkan dua bilah bulan sabit terus menangkis serangan Gu Yuena. Ia terbang ke udara, menyatukan dua bilah sabitnya dan membelah udara menghadap tanah tepat di arah Gu Yuena.
Tanah di bawah kaki Gu Yuena retak seketika, terbelah memberi celah jurang yang membuatnya harus melompat ke salah satu sisi agar tidak jatuh. Tanah terus bergoyang seperti terjadi gempa. Bahkan beberapa makhluk kematian telah oleng dan jatuh ke bawah sana.
Jurangnya sangat dalam.
Gu Yuena menghadap pria itu lagi, lalu mengepakkan sayapnya ke udara agar tidak terganggu oleh gempa. Kedua sosok itu saling memberikan serangan dan bertahan selama beberapa waktu di udara.
Tapi itu hanya menguras tenaga Gu Yuena, karena ia sama sekali tidak bisa meraih orang itu meski hanya helai jubahnya.
Gu Yuena mengalami kebuntuan sesaat menyadari bahwa ia tidak bisa meraih pria bertopeng sedikit pun. Sihirnya selalu ditahan dengan sempurna atau dihancurkan. Ketika pria itu menyerang balik, Gu Yuena hanya bisa menghindar.
Gu Yuena memanggil phoenix setelah sekian lama untuk menyerang pria itu. Seekor burung phoenix mengepakkan sayapnya yang berapi-api, membentuk padatan api dan menyerang seperti meteor.
Datangnya phoenix menyebabkan pria itu mau tidak mau harus menghindar. Serangan beruntun dari phoenix cukup merepotkannya. Tapi ia tidak kehilangan akal.
Tangannya mengeluarkan kabut hitam yang mengerikan. Itu mencuat ke langit, membuat sesuatu keluar dari langit dan menyerbu phoenix dengan ganas.
Gu Yuena secara otomatis mengalami serangannya juga. Ia menahan sihir hitam yang menyerbu dari langit dengan sekuat tenaga.
Ia sadar, bahwa pria itu menggunakan kekuatan jiwa untuk menekannya. Itu adalah kekuatan para roh yang bangkit dan menekan Gu Yuena.,
"Kau kalah." Pria bertopeng tidak melepaskan Gu Yuena sama sekali dan memaksanya mengakui kekalahan.
Bukan Gu Yuena namanya jika mengakui kekalahan. Gu Yuena hanya menatap pria itu dengan iris merah yang tajam. Sambil menahan tekanan, ia menutup mata.
Kedua tangannya memunculkan sinar merah pekat layaknya aliran darah yang menahan serangan roh dari langit. Aura di sekitar Gu Yuena dipenuhi oleh sihir merah darah yang begitu pekat.
Xiao Hei dan Xiao Bai di bawah sana terkejut. Mereka menjadi panik. Tidak tahu apa penyebabnya, mereka tiba-tiba saja kembali ke ruang spiritual meski tidak ingin.
Apa yang terjadi?
Pria bertopeng mengerutkan kening.
Sihir apa yang digunakan Gu Yuena?
Gu Yuena membuka mata. Iris merah darahnya bersinar pekat dan tajam. Simbol phoenix di antara alisnya tidak menghilang. Sedangkan tanda racun api semakin melebar dan merambat seperti akar ke wajahnya.
Ia sudah terlihat seperti monster.
Gu Yuena tiba-tiba menarik sudut bibirnya. "Kau pikir kau sudah menang? Sudah kukatakan, aku tidak akan mati sendirian."
Detik berikutnya, beberapa sihir melesat seperti helai kain panjang dan menyerang pria bertopeng itu dengan kecepatan tinggi. Pria bertopeng menangkis semua sihir menggunakan dua bilah bulan sabit di tangannya.
Ia dapat merasakan kekuatan Gu Yuena meningkat begitu pesat. Entah apa yang gadis itu gunakan, itu harusnya bukan sesuatu yang menguntungkan.
Ketika ia akan melanjutkan serangan, Gu Yuena menghilang entah kemana. Instingnya merasa ada yang salah di antara sihir panjang yang menghalangi pandangan.
Detik berikutnya, kebedadaan Gu Yuena ditemui tepat di sampngnya. Ketika Gu Yuena akan meluncurkan serangan dekat, pria itu menahan lengannya dan memutarnya.
Gu Yuena terhempas, tapi ia tidak jatuh atau menghentikan langkah. Kedua tangannya yang penuh akan sihir merah darah berayun mengendalikan sihir merah di sekitarnya.
Sihir merah yang terlihat seperti kain panjang itu bergerak liar menerjang pria bertopeng. Pria itu langsung melepaskan salah satu sabitnya ke sela sihir tepat ke arah Gu Yuena, sedangkan sabit satunya membelah semua sihirnya.
Gu Yuena terkejut akan bilah sabit yang melayang ke arahnya. Ia menggunakan tangan kosong untuk bertahan, tapi tekanan benda itu begitu kuat sampai berhasil melukai tangan Gu Yuena.
Benda itu melayang di udara seolah memiliki kesadaran. Itu menyerang Gu Yuena dari berbagai sisi, melukai sedikit demi sedikit kekuatan jiwanya yang terintegrasi dengan sihir keabadian.
Benar, ia menggunakan sihir keabadian untuk mengakhiri pertempuran dengan cepat. Meski ia harus mati karena penyimpangan racun api dan sihir keabadian, setidaknya pria bertopeng itu harus mati.
Gu Yuena memanggil phoenix kembali dan memintanya menyerang pria bertopeng itu secara langsung.
Akibatnya, Gu Yuena memuntahkan seteguk darah ketika ia menahan bilah sabit yang menyerang sekali lagi.
Racun api kembali melahapnya.
Gu Yuena mengambil bilah sabit itu secara langsung, mengabaikan bagaimana tangannya tersayat sampai mengalihkan darah segar. Ia melemparnya secara acak, lalu mengerahkan seluruh sihirnya untuk membuat serangan yang lebih besar.
Sihir di tubuhnya merebak seperti jaring besar yang terurai keluar. Semua sihir itu memasuki phoenix yang dalam perjalanan melakukan serangan, membuat phoenix miliknya menjadi lebih besar dan kuat.
Ia telah memadatkan phoenix seperti bentuk asli sang phoenix itu sendiri. Dengan ukuran besar, mengepakkan sayap berbulunya yang mengobarkan api merah. Phoenix terbang di angkasa, menyemburkan api ke arah pria bertopeng yang sibuk menangani sihir merah.
Dalam sekejap, pria bertopeng itu terdorong oleh api. Sihir merah menerjangnya seperti ular-ular yang menyerang, melilitnya dan menghancurkannya bersama phoenix yang menyerang.
Gu Yuena tidak tahu bagaimana kekuatannya bisa sekuat itu. Ledakan kekuatannya memiliki dampak besar bagi wilayah tempur mereka sehingga menciptakan kabut berapi.
Gu Yuena terdorong ke bawah oleh dentuman yang sangat keras. Ia kehilangan kendali tubuh akibat tenaga yang terkuras untuk melepaskan semua sihir.
Tanah di mana ia terjatuh sudah bukan lagi tanah, melainkan hasil ledakan berupa jurang dalam tak berujung.
Tubuh Gu Yuena jatuh lepas begitu saja ke dalam kegelapan.
Apa ini adalah akhir?
Apa ia telah membalaskan dendam?
Ia tidak melihat sosok pria bertopeng lagi setelah ledakan itu tercipta dan phoenix kembali ke tubuhnya.
"Guru, aku tidak mengecewakanmu." Gu Yuena merasa tenang. Matanya sayup, sebelum akhirnya menutup.
Tanpa ia sadari, sesuatu bersinar dari balik saku pakaiannya, membawanya pergi ke dalam kegelapan.