
Kedatangan Gu Yuena di akademi menggunakan kereta kuda kekaisaran membuat banyak orang bertanya-tanya apa hubungannya dengan Huang Jingtian. Apalagi mereka berada di kereta yang sama.
Pada saat itulah, mereka yang penasaran langsung berbondong-bondong mendekati Gu Yuena ketika Huang Jingtian mengucapkan selamat tinggal dan pergi ke halaman dalam. Lagi-lagi Gu Yuena harus menghadapi orang-orang sendirian.
Gu Yuena yang sudah berpakaian seperti 'Gu Yue' mengabaikan banyak pertanyaan itu sambil berjalan cepat dan berpura-pura tidak melihat. Langkah kakinya yang cepat nenelusuri tempat sampai asrama.
Huang Jingtian adalah calon Kaisar di masa depan, sudah pasti banyak yang ingin dekat dengannya untuk mencari keuntungan. Gu Yue tiba-tiba datang menunjukkan kedekatannya, membuat mereka berpikir untuk memperbaiki hubungan terlebih dahulu pada Gu Yue, baru mendekati Huang Jingtian demi masa depan di Kekaisaran Yi.
Pemikiran seperti itu sangat mudah ditebak. Bahkan para penggemar Lin Susu yang sebelumnya menghina Gu Yue mulai memasang wajah tebal.
Gu Yuena tidak suka perhatian semacam itu. Ia memilih langsung pergi ke kamar untuk beristirahat dan lari dari masalah sepele yang menimpanya. Lebih baik fokus pada ujian akhir.
Ketika ia membuka pintu kamar dengan terburu-buru karena orang-orang di belakangnya, ia langsung masuk begitu saja dan mengunci pintu.
Masa bodo, ia tidak ingin menerima tamu.
Ia menyeret tubuhnya yang lelah ke tempatnya. Tapi langkahnya berhenti saat itu juga, begitu melihat seorang lelaki kurus yang bersedekap dada beberapa meter di depannya. Orang itu melihatnya dengan penuh selidik.
Gu Yuena menyipitkan mata. Apa ia salah masuk ruangan? Ia tidak mengenal lelaki itu.
Ia mendesis kesal dan berbalik membuka pintu. Menoleh ke arah nomor kamar, lalu diam untuk beberapa saat.
Nomornya sudah benar.
Mengabaikan beberapa orang yang memperhatikan tingkahnya, Gu Yuena kembali ke dalam.
"Kurasa aku tidak pernah melihatmu. Aku menempati kamar ini sejak awal masuk bersama temanku, tidak tahu bagaimana kau bisa masuk dan apa tujuanmu." Gu Yuena melipat kedua tangannya di depan dada, bersikap cukup serius.
"Sayangnya, petugas asrama memberiku kunci kamar ini untuk ditempati. Seharusnya kau sudah tahu bahwa teman sekamarmu memilih keluar akademi."
Gu Yuena mengerutkan kening. Jadi Luo Youzhe benar-benar pergi seperti yang dikatakan sebelumnya. Kali ini dia tidak main-main.
Gu Yuena pikir ia akan tinggal sendirian dan bebas di asrama ini. Tapi rupanya ia masih harus satu kamar dengan murid lelaki lain. Apa boleh buat? Tak apa, selagi tidak saling mengganggu.
Tidak ingin terlibat dalam hal apa pun, Gu Yuena memilih mengabaikan lelaki yang menjadi teman sekamarnya itu. Murid itu juga tidak terlihat menyenangkan. Sejak tadi dia memasang wajah angkuh dan menyebalkan setiap saat sampai membuat Xiao Hei tidak senang melihatnya.
Mungkin jika Gu Yuena tidak berada di peringkat arena tiga besar, ia akan jadi bahan perundrungan.
Tapi setidaknya Gu Yuena cukup senang karena teman sekamarnya yang berwajah masam itu tidak bertindak konyol seperti orang-orang di luar.
"Omong-omong, apa hubunganmu dengan teman sekamar sebelumnya? Sepertinya cukup spesial." Lelaki itu tampak memegang sebuah surat yang tersegel di tangannya.
Gu Yuena melihat surat itu dengan mata menyipit. Ia dapat melihat tulisan kecil bertuliskan "Gu Yue" di permukaan surat tersebut.
Cepat-cepat Gu Yuena mengambil surat itu, namun lelaki yang memiliki tulisan "Xi Cheng" di seragam sebagai nama itu meninggikan tangannya, Gu Yuena yang lebih pendek tidak bisa meraih surat sampai harus melompat-lompat.
"Berikan!" Gu Yuena tidak lagi melompat-lompat bodoh, memilih mengulurkan tangan dan berkata dengan nada memerintah.
"Kenapa aku harus memberimu ini?" Xi Cheng mendengus.
"Karena itu ditujukan untukku."
Lelaki itu melihat surat di tangannya dengan wajah berpikir. "Sepertinya sangat penting. Bagaimana jika ambilkan dulu barangku yang tertinggal di bawah gunung?"
Gu Yuena terkekeh geli seolah melihat lelucon. Orang ini sangat berani memerintahnya. Dia pikir Gu Yuena tidak bisa mendapatkan keinginannya secara paksa?
"Asal kamu tahu, aku bukan jenis orang yang akan berbelas kasih. Aku suka membakar manusia." Gu Yuena menunjukkan senyum yang membuat Xi Cheng ngeri sendiri.
Tapi Xi Cheng masih bertindak berani. Ia tetap pada pendiriannya demi emosi dalam hatinya yang tidak menyukai Gu Yue. "Ini adalah akademi, kau tidak bisa membunuh sesama murid."
Gu Yuena memutar bola mata. Lama-lama ia lelah berdebat dengan orang seperti ini. Dengan kecepatan tinggi, ia menyambar tangan Xi Cheng sampai lelaki itu terbawa sambaran dan berputar. Sedangkan Gu Yuena telah mendapatkan surat di tangannya.
Tidak tahu pesan apa yang ditinggalkan Luo Youzhe. Penting atau tidak, ia akan mengetahuinya.
Membuka surat yang tersegel tersebut, ia pun mengambil kertas di dalamnya. Gu Yuena diam untuk beberapa saat melihat satu kalimat yang tertera di dalam secarik kertas.
Hanya satu kalimat.
"Aku akan kembali."
Wajah Gu Yuena menggelap sepenuhnya. Hanya ini? Tahu begitu, ia tidak perlu membuang waktu untuk surat tidak penting dan membiarkan Xi Cheng menahannya seumur hidup.
Ditambah lagi, selain satu kalimat itu, terdapat gambar serigala (Luo Youzhe) mendominasi di depan seekor kucing kecil (Gu Yuena) yang menutup telinganya sambil menunduk. Gu Yuena semakin kesal!
"Luo Youzhe sialan!" gumamnya sambil membakar surat tersebut di bawah genggamannya. Awas saja jika berani kembali.
Xi Cheng hanya melihat betapa kesal Gu Yuena. Ia seperti melihat seekor singa yang sedang marah sehingga tidak berani berkata apa pun. Sudah cukup tangannya nyaris patah karena sambaran itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hari berikutnya, akademi berjalan seperti yang telah direncanakan. Semua murid telah tiba sejak kemarin sehingga ujian akhir akan dilaksanakan secara lengkap.
Ujian kedua ini diadakan dalam bentuk pertandingan. Siapa pun yang berhasil memenuhi syarat dalam bentuk kekuatan, akan lolos seleksi dan resmi menjadi murid halaman dalam.
Pertarungan akan diundi berdasarkan nomor yang didapatkan masing-masing peserta. Jika memiliki nomor yang sama, mereka akan bertanding di arena ketika nomor disebutkan.
Terkecuali untuk 10 besar yang memiliki hak khusus dalam ujian. Mereka akan bertanding semi-final untuk mendapatkan juara akhir. Setelah babak penyisihan, akan ada 20 murid yang tersisa. Barulah murid 10 besar dipertandingkan dengan murid-murid tersebut sebagai penentu pertandingan.
Para murid di peringkat 10 besar yang sebelumnya tidak lagi menantang akan menunjukkan potensi yang sebenarnya dan bisa saja meningkat ke peringkat yang lebih tinggi.
Pada tahap ini semua murid memang sudah memiliki kuota memasuki halaman dalam. Namun, untuk memaksimalkan pertandingan dan penentuan kelas, semakin tinggi peringkat yang dicapai, maka akan semakin besar sumber daya dan peraihan yang didapat.
Setelah semi-final dilaksanakan, akan diadakan pertandingan final untuk murid yang meraih 5 besar demi mendapatkan peringkat pertama. Akan ada tiga pertandingan lagi pada final kali ini, yang akan menentukan siapa yang mendapat peringkat pertama atau tidak.
Diketahui tiap murid peringkat pertama dapat dengan mudah memasuki Istana Yuansu. Tentu saja, potensi mereka akan lebih dikenal oleh anggota istana yang dapat membuat peluang untuk dijadikan murid pribadi. Itulah harapan semua orang yang saat ini berkumpul mendengarkan aturan-aturan kompetisi.
Sebagai murid peringkat 10 besar, Gu Yuena sama sekali tidak perlu mengikuti pertandingan penyisihan. Ia hanya perlu menunggu semi-final tiba untuk menunjukkan kekuatannya.
Terlepas dari betapa mengejutkannya Gu Yue dua bulan lalu ketika menolak Lin Susu, Mu Xinhuan dan Shen Jialin tetap akrab dengannya tanpa mempermasalahkan apa pun. Meski pandangan Shen Jialin terhadap Gu Yue telah berubah, ia tidak mempermasalahkan lebih lanjut dan bersikap sewajarnya.
Mereka berdua mengajak Gu Yuena pergi menonton pertandingan. Dari tribun, Gu Yuena dapat melihat dengan jelas pertandingan yang sedang dijalankan. Hanya saja, pertandingan menjadi membosankan karena tidak ada satu pun yang dapat menarik perhatian.
Mu Xinhuan dan Shen Jialin telah mengambil nomor dan akan bertanding tak lama lagi. Sampai saatnya mereka selesai bertanding, barulah Gu Yuena berencana kembali ke asrama untuk mempersiapkan pertandingan final.
"Xiao Yue, kau benar akan meneruskan tantangan dengan Lin Susu?" Mu Xinhuan masih agak khawatir. Masalahnya, kekuatan Lin Susu sendiri masih belum terlihat sepenuhnya setelah sekian lama. Murid-murid yang sudah lama di halaman luar bahkan tidak tahu bagaimana kekuatan sesungguhnya.
"Kalaupun aku ingin menolak, aku tidak bisa." Gu Yuena menggedikkan bahu acuh tak acuh.
Iris merahnya mendapati sosok perempuan berpakaian putih berdiri di seberang tribun bersama teman-temannya, melihat pertandingan sambil dikagumi oleh banyak pria. Dia tidak terlihat seperti perempuan berbahaya.
"Penggemarnya sangat banyak seperti sebuah komunitas. Mereka pasti akan mencari masalah padamu tak lama lagi." Shen Jialin berkata sambil melihat Lin Susu yang tampak sangat riang. Ia tidak suka ekspresi sok polos itu.
"Aku justru berpikir salah satu penggemarnya sudah menyerang." Gu Yuena tersenyum kecut. "Kuharap masalahnya akan diperbesar. Akan seru jika seseorang mengungkapkan niatnya sekaligus."
Ucapan Gu Yuena sama sekali tidak dipahami dua manusia itu. Mereka hanya memandang Gu Yuena dengan bingung, sedangkan yang dipandang hanya menunjukkan senyum manis seolah sedang menunggu sesuatu.
Orang ini memang sulit dimengerti.
Sampai pada akhirnya Mu Xinhuan dan Shen Jialin maju secara bergantian dan memenangkan pertandingan pertama tanpa waktu yang lama, Gu Yuena langsung pergi dari venue sendirian.
Kepergian Gu Yuena terlihat oleh Lin Susu yang sejak tadi diam-diam memperhatikan sambil mengobrol. Ia berpamitan pada temannya, lalu pergi, entah apa yang dipikirkan.
Lin Susu sedikit berlari keluar dan melihat Gu Yuena yang berjalan secara perlahan menjauhi lokasi pertandingan. Ia pun terburu-buru memanggil.
"Gu Yue!"
Gu Yuena menghentikan langkah. Sudut bibirnya sedikit terangkat, sebelum akhirnya berbalik dengan wajah normal seolah tidak memiliki niat apa pun. Ia melihat Lin Susu, lalu tersenyum dengan tenang.
"Apa kau memanggilku?" Gu Yuena bermaksud berbasa-basi.
"Beberapa waktu lalu, aku mungkin telah menyinggungmu. Daripada salah satu dari kita dipermalukan di akhir permainan, akan lebih baik jika kita berdamai sekarang. Penawaranku masih sama. Aku juga berpikir bahwa jawabanmu saat itu adalah dalih agar dapat menghindari masalah. Tidak ada siapa pun di sini, kau bisa mengatakan keenggananmu yang sebenarnya, aku akan mengerti."
"Apa hanya itu?" Gu Yuena memiringkan kepalanya. Lin Susu ini sangat gigih pada pendiriannya.
"Gu Yue, aku sudah bersikap sangat ringan padamu, apa kamu masih tidak mengerti?" Lin Susu sepertinya agak kesal.
Gu Yuena mendengus. Bocah ini lama-lama semakin menyebalkan. "Bukannya aku tidak mengerti. Tapi aku bukan seseorang yang akan dengan mudah memutuskan sesuatu hanya karena beberapa alasan sepele. Kita baru bertemu, dan tidak tahu satu sama lain, kenapa aku harus mempercayai seseorang yang baru kutemui? Kenapa kau harus mendesakku seolah aku telah melakukan sesuatu padamu?"
Lin Susu terdiam untuk beberapa saat. Untuk apa? Tentu saja untuk kepuasan dirinya sendiri. Ia adalah Putri Klan Lin yang bermartabat di Kekaisaran Yi dan telah melayani Istana Yuansu secara turun temurun.
Ia adalah putri kebanggaan dan tidak pernah kekurangan, tentu saja tidak nyaman jika ada orang lain yang memandangnya seperti wanita biasa. Apalagi seorang pria.
Gu Yue sangat cocok dengan semua kriteria. Ia tidak bisa menarget Yun Qiao dari Istana Yuansu karena identitasnya, sehingga membuatnya kesal. Lalu Gu Yue, yang memiliki bakat dan visual tidak kalah dari Yun Qiao muncul. Ia harus mendapatkannya untuk Klan Li sebelum direbut Istana Yuansu.
Dengan begini, ketika Istana Yuansu melirik Gu Yue, ia juga akan terseret ke dalam keberuntungan itu.
"Gu Yue, apa aku begitu menjijikkan bagimu?" Lin Susu bersikap menyedihkan lagi. Itu membuat Gu Yuena sebagai sesama perempuan muak.
"Kau tidak akan mengerti saat ini. Tapi kau akan mengerti saat pertandingan selesai, itupun jika kau berhasil menang." Gu Yuena bersikap tak acuh sekali lagi dan pergi begitu saja.
Lin Susu menjadi panik sendiri. Ia buru-buru menghampiri Gu Yuena, lalu berniat menghadang jalannya. Tapi tiba-tiba kakinya tersandung bebatuan sampai tubuhnya oleng dan jatuh ke depan.
Gu Yuena secara alami mundur agar tubuh Lin Susu tidak menubruk dan membuatnya ikut jatuh. Namun tiba-tiba seseorang entah dari mana datang menahan Lin Susu yang akan mencium tanah sehingga melayang di udara.
Lin Susu terdiam. Ia pikir Gu Yue akan menangkapnya, tapi ia jelas melihat Gu Yue berdiri menjauhinya dengan pandangan lega. Jika bukan Gu Yue, lalu siapa?
Ia berdiri segera, lalu melihat pria kurus yang baru saja menahannya jatuh. Ia tidak tahu siapa pria itu, tapi pria itu justru memandangnya dengan terpana membuatnya kesal.
"Terima kasih." Demi menyelamatkan wajah, Lin Susu beeterimakasih dan menunduk. Ia melirik Gu Yuena yang tampak tak acuh. Lagi-lagi rencananya gagal.
Pria kurus itu berbalik melihat Gu Yuena dengan tatapan menuduh. Ia langsung berkata dengan sarkas. "Gu Yue, apa begini caramu memperlakukan perempuan?"
"Dia jatuh, apa hubungannya denganku?" Apa ia sebagai sesama perempuan harus memperlakukan perempuan seperti perlakuan lelaki ke perempuan?
"Jika aku tidak ada, Lin Susu pasti sudah terluka karenamu. Apa kau mau bertanggung-jawab! Kenapa kau mendorongnya? Seorang pria sejati tidak akan menindas perempuan!"
"Xi Cheng, aku tahu kau salah satu penggemarnya. Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku karena telah memberi kesempatan untuk membantu idolamu?" Gu Yuena menyahut dengan suara menantang. Berani menggertaknya? Ia akan memberi gertakan balik.
Xi Cheng, si teman sekamar baru Gu Yuena yang menyebakkan itu, mendengus kesal pada Gu Yuena. Inilah alasannya tidak menyukai Gu Yuena.
"Lebih baik kau temani dia, mungkin dia akan tertarik padamu." Gu Yuena pergi begitu saja meninggalkan kata-kata provokasi yang membuat kedua orang itu marah setengah mati.
Selagi Gu Yuena menjauh, Xi Cheng menunjuk dan meneriakinya dengan marah. "Gu Yue, aku akan membuatmu menyesal di pertandingan akhir!"
Gu Yuena menoleh, lalu menunjukkan senyuman provokasi. "Silahkan! Sekalian bawa teman-temanmu, aku akan melayani dengan senang hati."
"Kamu berani!" Xi Cheng sangat kesal sampai sangat ingin menghajar Gu Yue. Tapi mengingat masih ada Lin Susu, ia jadi mengurung diri.
Ia membiarkan Gu Yue pergi, lalu melihat Lin Susu dengan perasaan malu. Sedangkan yang ditatap merasa tidak nyaman dan kesal sampai ingin menghilang dari permukaan.
"Lin Susu, jangan khawatir. Aku pasti akan memberinya pelajaran agar tahu tempatnya dan memperlakukanmu lebih baik." Xi Cheng berjanji dengan hati bergebu-gebu. Berhadapan langsung dengan Lin Susu membuat jantungnya berdetak keras, melupakan fakta bahwa baru saja ia marah-marah pada seseorang.
Lin Susu hanya tersenyum sekilas. "Terima kasih. Tapi kamu tidak perlu sampai seperti itu. Ini adalah urusanku."
"Tak apa, aku sangat senang membantu." Xi Cheng berkata malu-malu.
Lin Susu hanya sedikit mengangguk. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. "Namamu Xi Cheng, 'kan? Bagaimana jika bergabung denganku menonton pertandingan dengan yang lain?"
"Benarkah? Tentu saja!" Xi Cheng sangat gembira sampai ingin melompat. Mereka pun berjalan bersisian memasuki tribun untuk menonton pertandingan.
Kali ini, Lin Susu memiliki ide menarik untuk membuat Gu Yue menyerah. Ia tidak percaya tidak bisa menaklukkan Gu Yue.