Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
109. Ibu Datang



Selama mengenal Bai Youzhe, Gu Yuena baru tahu bahwa pria itu memiliki seorang bibi yang sangat aneh bagai makhluk asing. Wanita yang hanya bersantai di Dunia Bawah tanpa beban seolah dunia baik-baik saja.


Bahkan sampai detik ini, wanita yang dikenal sebagai Xuan Yi duduk santai sambil memakan anggur di atas meja tepat di depannya dan Bai Youzhe. Dia datang tiba-tiba berkata ingin bertemu dengan Gu Yuena, bahkan Bai Youzhe tidak bisa melarang.


"Aku dengar kau adalah putrinya Putri Vanya. Sebenarnya, jika kau tidak memiliki darah phoenix, aku tidak akan membiarkanmu bersama keponakanku. Bagaimanapun, kau memiliki hubungan dengan pihak musuh," ujar Xuan Yi.


Tidak perlu sopan pada orang seperti ini, 'kan? Gu Yuena merasa agak jengkel. Tapi ia tidak boleh sembarangan untuk saat ini.


"Meskipun Gu Yuena tidak memiliki darah phoenix, kau juga tidak bisa menentangnya." Bai Youzhe terlihat kesal. Sangat jelas hubungan keponakan dan bibi ini tidak cukup akur—meski kadang dapat bekerja sama.


"Sensitif sekali. Aku juga tidak ada niat buruk pada kalian. Urusan kalian, aku tidak peduli." Xuan Yi memasang wajah kesal sambil memutar bola matanya. "Tapi ... melihat Gu Yuena, tentu saja aku jadi teringat pada Li Hua itu. Bai Yue dan Li Hua adalah teman lama, siapa sangka akan terlibat konflik dan saling membunuh. Mengingat masa lalu, membuatku sakit kepala."


Mereka teman lama? Gu Yuena baru tahu hal itu. Ia tidak tahu banyak tentang ibunya sehingga tidak terlalu memikirkan alasan mengapa ibunya menyerang Istana Tianshuang habis-habisan di saat ayahnya sudah tidak ada. Ia pikir itu adalah masalah lama antara konflik Istana Linghun dan istana lainnya.


"Padahal Gu Ying adalah pria baik dan lucu, sayang sekali." Xuan Yi menghela napas tanpa menjelaskan apa pun.


"Bagaimana kau bisa memiliki penilaian bagus terhadap ayahku? Seperti yang kau katakan sebelumnya, 'kami' adalah musuh." Gu Yuena tidak dapat menahan diri untuk melontarkan pertanyaan.


"Dibandingkan Raja Istana Linghun sebelumnya, Gu Ying jauh berbeda dari penguasan Istana Linghun kebanyakan. Mungkin karena masa-masanya dihabiskan di Dunia Bawah sebagai pemilik darah naga dan terlepas dari bayang-bayang istana. Jika kamu hidup di masa itu, kau akan tahu bagaimana memuakkannya kepemimpinan Raja Istana Linghun yang merupakan kakekmu."


Begitu memuakkan sampai Xuan Yi sendiri harus berada di tempat menyebalkan ini dalam waktu lama. Saat itu benar-benar kacau.


"Bai Yue membuat rencana bersama Gu Ying untuk mengakhiri perang yang dibuat Raja Istana Linghun. Siapa sangka, Li Hua menjadi salah paham dan membenci Bai Yue. Perubahannya sangat drastis. Aku pikir, apa yang terjadi pada Li Hua ada hubungannya dengan Raja Istana Linghun saat itu. Diketahui Raja Istana Linghun dapat memanipulasi pikiran targetnya, membuat Li Hua menjadi seperti ini. Setelah hari itu, rencana gagal dan perang terjadi. Bai Yue terluka parah dan menghilang dalam waktu lama."


"Orang itu masih hidup? Raja Istana Linghun?" tanya Gu Yuena.


"Gu Ying membunuhnya sebelum naik tahta." Xuan Yi menghela napas. "Sepertinya kau sama sekali tidak mengenal orang tuamu dengan baik."


Wajar saja, Gu Yuena hidup penuh kepalsuan. Ia juga tidak besar di dunia ini sehingga tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah mengenai apa yang terjadi sebenarnya.


"Sudahlah, tidak lagi membahas masa lalu." Xuan Yi kembali menjadi sosok yang malas sambil makan anggur. "Jadi, kapan kalian menikah?"


"Setelah masalah ini selesai," jawab Gu Yuena.


"Terlalu lama. Seharusnya kalian menikah saja besok." Xuan Yi bicara tanpa beban.


"Aku tidak masalah." Bai Youzhe menjawab seenaknya membuat Gu Yuena melotot.


Gu Yuena langsung berkata, "Ada beberapa hal mendesak yang masih harus diurus."


"Kalau kamu ingin mencari restu dari ibumu, lakukan saja sendiri. Aku tidak ikut campur. Namun, jangan harap segalanya berjalan lancar." Xuan Yi mendengus.


"Bagaimanapun, aku masih Putri Istana Linghun. Aku tidak perlu izinnya, tapi aku harus menyelesaikan masalahku teelebih dahulu. Youzhe juga memiliki masalahnya sendiri." Gu Yuena melirik Bai Youzhe penuh arti.


Bai Youzhe langsung mengangguk, mengiyakan perkataan Gu Yuena. "Lagi pula, tidak ada bedanya."


Padahal siapa yang barusan menyetujui saran gila Xuan Yi? Bibi dan keponakan sama saja.


"Kalau itu masalahnya, maka selesaikan secepatnya." Xuan Yi mengibaskan tangannya, menyerahkan segalanya pada mereka.


"Kapan kau akan kembali ke Dunia Bawah?" tanya Bai Youzhe. Dia bertanya seolah mengisyaratkan Xuan Yi untuk cepat pergi.


"Entahlah, mungkin besok, lusa, bulan depan, tahun depan, atau tidak kembali." Xuan Yi mengejek.


"Aku akan membawakan seseorang untuk mengantarmu besok." Bai Youzhe bicara acuh tak acuh sebelum akhirnya pergi bersama Gu Yuena.


Xuan Yi langsung berdiri dan menatap pria itu dengan tidak setuju. "Hei, siapa yang menyetujui saranmu? Aku tidak akan pergi!"


"Ini perintah!" Suara dingin Bai Youzhe yang pergi menjauh terdengar.


Xuan Yi membungkam mulutnya saat itu juga dengan wajah kesal. Ia berdecak, menghentakkan tangan dan kakinya seolah ingin mengajak bertengkar sebelum akhirnya kembali duduk makan anggur. Wajahnya masih saja tampak asam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah penyerangan yang terjadi belum lama ini, Kota Tianlong dalam proses perbaikan di mana banyak orang berlalu-lalang melakukan pekerjaan kasar memperbaiki bangunan yang rusak. Bao Jun ditugaskan di Kota Tianlong, mengawasi dan mengarahkan apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan kota seperti semula.


Bagaimanapun, kota hancur akibat pertempuran dua istana. Rakyat yang tidak bersalah menjadi korban atas itu dan telah menjadi pengungsi di gunung. Jika ingin mengembalikan kota seperti semula, setidaknya butuh waktu yang sangat lama.


Kota yang penuh reruntuhan itu tercetak di sepasang iris merah darah sosok wanita di luar gerbang kota. Dia muncul entah dari mana, melangkahkan kaki ke dalam membawa aura kematian yang sangat pekat. Rambut emasnya yang disanggul tampak sangat indah di bawah sinar matahari, gaun hitamnya yang menyapu tanah disertai tongkat bermata merah di tangannya menunjukkan identitasnya.


Mata merah darah menyala khas bangsawan Wyvernia, serta rambut emas itu sangat mirip dengan milik Kaisar Wyvernia saat ini. Senyum terbentuk di bibir merahnya, wajah cantiknya terlihat alami, namun mematikan.


Kehadirannya secara alami terlihat oleh banyak orang. Dalam sekejap, mereka menatapnya dengan perasaan aneh dan takut sambil minggir, memberi jalan untuk wanita itu memasuki kota.


Tidak ada siapa pun yang menemani wanita itu.


Banyak anggota guild serta istana yang terkejut ketika merasakan aura mengancam yang mendekat. Buru-buru mereka memasang sikap waspada dan mengacungkan senjata, sedangkan yang lainnya segera memberi kabar pada sang raja.


Melihat banyak senjata yang diacungkan ke arahnya, wanita itu menunjukkan senyum lebar yang mengerikan. Ia memiringkan kepalanya, lalu berkata, "Apa begini cara Istana Tianshuang menyambut teman lama?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sudah dua hari kau melewatkan pertemuan. Apa tidak masalah?" Gu Yuena mencubit pipi Bai Yozuhe dengan gemas. Pria itu masih saja tidur di pangkuannya sejak pagi sampai melewatkan waktu pertemuan yang seharusnya dihadiri olehnya.


Bai Youzhe menahan tangan Gu Yuena yang terus menarik pipinya, "Aku rajanya, apa yang masalah?"


Enak sekali bicaranya.


"Xuan Yi menyogok orang-orang dari Dunia Bawah agar tidak pergi dan terus tinggal di istanamu, apa itu alasanmu tidak mau keluar? Tidak ingin mendengar ocehannya?"


"Dibanding itu, aku lebih tidak ingin melihat wajahnya." Bai Youzhe sangat enggan bertemu wanita menyebalkan itu.


Gu Yuena terkekeh, lalu kembali mencubit pipi Bai Youzhe dengan gemas menggunakan tangan satunya. Bai Youzhe menahan tangannya lagi untuk kedua kalinya sampai Gu Yuena tidak bisa lepas.


"Hei, lepaskan." Gu Yuena merasa pegal akan kedua posisi tangannya yang ditahan Bai Youzhe. Ia sudah menarik sebisanya, tapi pria itu masih lebih unggul tanpa bergerak.


Bai Youzhe tidak mengatakan apa pun, hanya tetap pada posisinya tanpa bergerak. Gu Yuena mendesah kesal dan menarik secara paksa—lebih kuat.


Pegangan Bai Youzhe akhirnya terlepas. Namun, bukannya benar-benar melepaskan Gu Yuena, pria itu malah bangkit dan merengkuh Gu Yuena ke sandaran tempat tidur.


Gu Yuena bersyukur kali ini bukan dinding yang akan membuatnya sakit pinggang karena terbentur. Bisakan pria tertentu tidak terlalu agresif?


Karena posisi Gu Yuena tidak mendukung, di mana dia yang sebelumnya duduk normal telah dipojokkan oleh Bai Youzhe, sehingga tidak memastikannya dapat menyelinap kabur. Gu Yuena hanya tersenyum pasrah, sambil melambaikan dua tangannya di depan wajah Bai Youzhe.


Bai Youzhe terkekeh. Sebenarnya, ia sengaja melepasnya agar tidak melukai tangan Gu Yuena yang terlalu memaksakan diri. Ia jadi khawatir bagaimana Gu Yuena di Dunia Bawah nanti.


Gu Yuena melingkarkan lengannya di leher Bai Youzhe ketika jarak di antara mereka semakin menipis dan terhapus. Bai Youzhe menciumnya dengan lembut, sampai akhirnya ketika Gu Yuena membalasnya, barulah ciuman itu menjadi sedikit lebih panas.


Namun, itu tidak berlangsung lama. Keduanya membuka mata secara bersamaan seolah menemukan sesuatu yang salah. Mereka sedikit memberi jarak, saling tatap dengan pandangan rumit.


"Dia ...." Gu Yuena tidak melanjutkan kalimatnya, tahu siapa yang saat ini menjadi belenggu pikiran Bai Youzhe yang tiba-tiba terdiam. Aura itu pasti sangat familiar. Rasanya sangat jelas seolah sudah ada di hadapan mereka.


Dia benar-benar datang.


Ratu Istana Linghun!


Segera, Gu Yuena dan Bai Youzhe pergi keluar untuk melihat kekacauan macam apa yang diciptakan Ratu Istana Linghun kali ini. Xuan Yi yang sudah keluar dari istana terlebih dahulu kini memasang tampang dingin yang jauh berbeda dari biasanya.


Tepat di depan pembatas istana, wanita beriris merah darah yang mengerikan itu hadir seorang diri. Orang yang tidak tahu memang hanya melihatnya yang hadir sendirian, tapi bagi orang-orang istana dengan kemampuan tinggi termasuk Gu Yuena dan Bai Youzhe tahu, bahwa wanita itu tidak sendiri.


Tidak membawa pasukan kematian atau pun penyihir atau manusia lainnya, tapi sejenis monster bermata merah yang akan membawa mimpi buruk bagi istana.


Gu Yuena dapat merasakannya dengan jelas. Ada banyak sekali sepasang mata merah di balik pepohonan yang tampak sunyi itu.


Gu Yuena nyaris tidak bisa berkata-kata. Ia melihat ke arah Bai Youzhe yang terlihat dingin. Tapi ketika melihat iris merah Gu Yuena yang terlihat cemas, Bai Youzhe melembutkan tatapannya dan menggenggam tangannya lebih erat.


Xuan Yi yang awalnya terlihat dingin, kini merubah air wajahnya menjadi 'normal' dan menunjukkan senyum seolah bertemu teman lama.


"Lama tidak berjumpa, Hua'er-ku yang malang." Xuan Yi menyapa dengan nada akrab seolah yang disapa adalah saudara sendiri.


"Kebetulan sekali. Selain menjemput putriku, aku datang untuk bertemu teman lama. Kau banyak berubah," sahut Li Hua.


"Aku bahkan nyaris tidak mengenalimu, kau jauh lebih banyak berubah. Sudah sangat lama tidak berjumpa, aku jadi merindukan masa-masa ketika permainan catur kita yang tidak pernah berakhir. Aku ingin tahu, siapa yang akan memenangkan catur ini pada akhirnya." Xuan Yi berkata penuh arti.


"Jika bersedia, aku bisa menunjukkan permainan caturku padamu sekarang." Li Hua tersenyum miring. "Namun sebelum itu, aku harus menempatkan kembali apa yang harus ditempatkan." Pandangannya terarah pada Gu Yuena.


Gu Yuena menghela napas panjang. Wanita itu ... kenapa sangat tidak sabaran sampai membuat masalah sebesar ini? Padahal besok adalah jadwal keberangkatannya.


"Yang Mulia Bai, kau sudah sangat besar. Terakhir kita bertemu, kau masih sekecil ini." Li Hua meletakkan tangannya setinggi pinggang sebagai ukuran tinggi badan. Ia melanjutkan, "Bukankah menyenangkan dapat melihat pertunjukan langka?"


Gu Yuena mulai khawatir. Bisa-bisanya wanita itu mengungkit masa lalu dan berniat memprovokasi Bai Youzhe. Ia melihat ke arah Bai Youzhe, memastikan bahwa pria itu tidak terkena pengaruh ucapan orang itu.


"Youzhe ...."


Wajah dingin Bai Youzhe sama sekali tidak berubah. Ia tertawa dingin, lalu menjawab, "Saat itu Raja ini masih kecil, tidak mengerti apa pun. Jika ada waktu, Yang Mulia bisa menjelaskannya secara langsung apa yang terjadi saat itu. Raja ini, akan mendengarkan dengan baik."


Itu adalah ancaman!


Bai Youzhe terlihat tenang, tapi pikirannya tengah berperang. Emosinya pasti tercampur aduk. Jika bukan karena Gu Yuena, takutnya sudah terjadi pertikaian. Bahkan tatapan mata Li Hua sudah setajam pisau.


Itulah yang membuat Gu Yuena was-was.


"Sudahlah, tidak lagi membicarakan masa lalu." Xuan Yi langsung mengakhirinya ketika merasakan aura dingin yang tidak menyenangkan dari dua belah pihak. "Hua'er, bukankah kau datang untuk menjemput putri kesayanganmu yang suka berkelana ini?"


Tatapan tajam Li Hua berubah dalam sekejap. "Benar." Dia tersenyum. "Gu Yuena suka berkelana dan penuh rasa ingin tahu, telah merepotkan kalian."


"Aku pikir putrimu ini lebih baik darimu, tentu saja aku tidak keberatan. Ambillah!" Xuan Yi memberi isyarat pada Gu Yuena untuk pergi dan menghindari masalah. Ia tidak bisa menanggung apa yang ada di belakang Li Hua saat ini.


Ekspresi Bai Youzhe menjadi rumit, lalu menatap Gu Yuena yang tampak melihat ibunya dengan mata menyipit. "Nana."


Gu Yuena langsung menoleh. Ia tidak sadar bahwa Xuan Yi sudah memberinya isyarat untuk pergi. Bai Youzhe sadar, tapi mengabaikannya.


"Kau bilang kita akan bertemu di Dunia Bawah, aku akan mencarimu di sana." Bai Youzhe tersenyum tipis. Ia bisa saja menghentikan Gu Yuena pergi dan memilih berperang melawan Li Hua, tapi ia tidak boleh mengganggu rencana Gu Yuena.


"Itu masih sangat lama. Kamu tenang saja, aku pasti akan kembali," balas Gu Yuena.


"Tidak peduli berapa lama, aku akan tetap mencarimu. Aku pasti akan menemukanmu dan menjemputmu." Bai Youzhe berkata dengan yakin.


Gu Yuena tersenyum tipis, merasa agak berat. Ia pun memeluk Bai Youzhe, tidak peduli kalau ini ada di depan umum dan di depan ibunya sendiri. Bai Youzhe memeluknya lebih erat.


"Aku akan menunggumu." Gu Yuena berkata dengan nada rendah.


Setelah beberapa lama berpelukan, Gu Yuena segera menjauhkan diri dan pergi dari sisi Bai Youzhe. Pegangan Bai Youzhe terlepas begitu saja seiring menjauhnya Gu Yuena.


Gu Yuena menoleh ke arahnya, melihat Bai Youzhe mengungkapkan sebuah kalimat melalui gerakan bibir, menyatakan bahwa dia mencintai Gu Yuena. Gu Yuena tersenyum, lalu membalasnya dengan gerakan bibir tanpa suara.


Gu Yuena yang menjauh, membuat hati Bai Youzhe kosong seketika.


Tatapan Gu Yuena kini teralih pada Li Hua dengan raut serius. Sepasang iris phoenixnya terlihat tajam ketika menghampiri ibunya sendiri.


"Kita perlu bicara," kata Gu Yuena dengan nada rendah.


"Baik, tapi sebelum itu biarkan aku menyele—"


"Tidak ada waktu atau aku tidak akan pernah membantumu," sela Gu Yuena disertai ancaman. Tentu saja itu hanya ancaman.


"Kau tidak bisa melakukannya."


Gu Yuena tersenyum miring. "Ingin bertaruh?" Ia menantang Li Hua.


Li Hua tampak keberatan, tapi dia tidak bisa menyanggah Gu Yuena kali ini. Berdasarkan sifat Gu Yuena, bagaimana jika wanita itu benar-benar melakukan hal bodoh? Ia harus membawa Gu Yuena ke Istana Linghun terlebih dahulu, baru dapat mengendalikannya.


"Baik." Li Hua setuju tanpa syarat. Ia pun melihat ke arah Istana Tianshuang, terutama pria bermarga Bai itu. "Kali ini, aku tidak bisa mampir dan menerima kesopanan kalian karena putriku yang terburu-buru."


Li Hua berbalik ke belakang, pergi memimpin jalan diikuti oleh Gu Yuena sebelum akhirnya menghilang. Gu Yuena sempat menoleh ke belakang, melihat Bai Youzhe yang masih hanya diam sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Semua mata merah di balik hutan rindang pun menghilang.


Xuan Yi yang sejak tadi menahan napas langsung berhembus lega. Ia mendesah, berjongkok sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. "Orang itu benar sudah tidak waras."


Bai Youzhe di sisi lain hanya diam ketika semua orang diperintahkan untuk bubar oleh Xuan Yi. Pikirannya dipenuhi oleh Gu Yuena yang pergi.


Meski sampai ke ujung dunia sekalipun, ia akan mencari Gu Yuena di mana pun wanita itu berada.