Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
16. Menuai Hasil yang Kamu Tanam



Ting Le terkejut ketika sebuah api besar melahap seluruh tanaman rambat yang ia buat untuk membunuh Gu Yuena. Tangannya terasa panas akan api yang menjalar sehingga terpaksa melepas cekikan dan membiarkan gadis itu berdiri sendiri.


Bukannya jatuh, Gu Yuena justru tetap berdiri dengan sihir semerah darah serta kobaran api yang mengitarinya. Di antara alisnya muncul sebuah simbol phoenix semerah darah, membesarkan api di sekitar dan membentuk sayap api mengepak di punggung gadis itu.


Sosok yang berapi-api itu begitu mengejutkan Ting Le. Munculnya api phoenix menyebabkan tekanan luar biasa yang menghempaskan Ting Le sampai membentur dinding dengan keras. Ia terjatuh, merasakan dadanya sakit karena serangan.


Tapi rasa sakit itu tidak sebesar rasa terkejutnya. Ia kembali melihat Gu Yuena dengan mata melebar. Hanya dengan melihat simbol yang tertera di antara alis Gu Yuena, ia sudah tahu apa artinya.


"Darah phoenix ... tidak mungkin ...." Ting Le tidak ingin mengakuinya. Darah phoenix sehwrusnya dimiliki oleh Gu Yueli. Ia sudah menuruti semua kemauan Istana Linghun dan membunuh Li Hua. Tidak mungkin yang mendapatkannya adalah Gu Yuena! Pasti ada kesalahan!


Setelah beberapa saat, simbol itu menghilang menarik semua api yang berkobar serta sayap yang mengepak. Gu Yuena tersadar. Ia membuka matanya dan merasa sangat lemas, sekaligus lega.


Ia merasa kelegaan serta dapat bernapas lancar kembali. Hanya saja, tubuhnya menjadi sangat lemas. Ia pun jatuh terduduk nyaris tidak bisa menopang tubuh. Ia mengangkat salah satu tangan, kemudian melihat telapak tangannya yang memunculkan kilatan merah samar.


"Aku naik tingkat?" Gu Yuena tidak tahu harus merasa bagaimana. Ia terlalu lemas sampai sulit berpikir dengan benar. Tubuhnya mati rasa dan telah remuk karena jeratan tanaman sulur.


Brakk


Pintu dibuka tiba-tiba, menampakkan Gu Shan dan Gu Yuan yang berwajah gelap, diikuti oleh Chu Xin yang khawatir. Begitu melihat Gu Yuena yang terduduk lemas dan nyaris runtuh, ia langsung buru-buru membantu nonanya.


"Nona, apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Chu Xin sangat cemas. Ia melihat sekitar tubuh nonanya, kemudian melihat bekas cekikan yang membiru di leher Gu Yuena. Ia pun melihat Gu Yuan dan Gu Shan dengan memohon. "Tuan Adipati, Tuan Muda Yuan, kondisi tubuh Nona sangat lemah dan baru saja mengalami kecelakaan, Nyonya Besar dengan sengaja membuat keributan dan melukai Nona Keempat. Mohon keadilannya untuk Nona!"


Wajah Gu Shan memerah karena marah. Sedangkan Gu Yuan tidak banyak bicara lagi. Ia langsung pergi ke arah Ting Le dengan sebilah pedang di tangannya yang dihunuskan.


Cepat-cepat Gu Shan menangkis pedangnya, kemudian menahan bahu Gu Yuan agar tidak bertindak gegabah membunuh Ting Le yang ketakutan setengah mati. Ting Le tidak mungkin mengatakan apa pun yang terjadi di sini, karena itu sangat merugikannya.


"Masalah ini, biar aku yang tangani. Kau bawa adikmu istirahat dan panggil dokter." Gu Shan tidak ingin terjadi pertumpahan darah di rumahnya. Kekuatan Gu Yuan jelas lebih tinggi dari Ting Le yang hanya tingkat 4. Ting Le akan mati hanya dengan tebasannya.


"Jika aku sampai melihatnya lagi di sini, aku tidak berjanji tidak membunuhnya," kata Gu Yuan dengan dingin.


Gu Yuan menyimpan kembali pedangnya. Ia menatap Ting Le dengan dingin, kemudian berbalik mendekati Gu Yuena. Chu Xin masih bersama Gu Yuena, membantunya agar tidak jatuh.


Sedangkan Gu Yuena hanya diam, tidak peduli dengan keadaan sekitar. Ia hanya peduli pada buku yang baru saja ia rebut dari Ting Le. Diam-diam ia menyembunyikannya di dalam ruang spiritual yang terbuka sejak naik tingkat.


Begitu datang, Gu Yuan langsung mengangkat adiknya yang seperti akan pingsan. Ia buru-buru membawa Gu Yuena keluar ruangan, sedangkan Chu Xin menerima perintah memanggil dokter dan pergi dengan cepat.


Gu Yuan meletakkan Gu Yuena di atas tempat tidur. Wajah pucat Gu Yuena menunjukkan bahwa ia tidak baik-baik saja. Itu membuat Gu Yuan sangat khawatir. Ting Le itu ... ia tidak akan mengampuninya.


"Kak ...."


Suara Gu Yuena memecah lamunan Gu Yuan. Pria itu langsung melihat adiknya dengan cemas. "Apa ada yang sakit?"


Gu Yuena menggeleng. Hanya remuk sedikit, ia sudah terbiasa dan tidak terlalu sakit baginya. Nanti juga sembuh. Yang ia khawatirkan adalah kenyataan mengenai darah phoenix. Jika benar seperti yang dikatakan buku, ia tidak akan bisa hidup lebih dari 20 tahun. Meski ia tidak takut, ia mengkhawatirkan kakaknya.


Tiba-tiba Gu Yuena teringat sesuatu. "Sebelum Ibu meninggal, apa dia memberitahumu sesuatu?" Darah phoenix seharusnya sudah ada sejak kelahirannya, sedangkan ia sudah berkultivasi sejak lama dan terhambat karena Ting Le. Ibunya pasti mengetahui banyak hal sebelum kematiannya.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya?" Gu Yuan bertanya-tanya.


"Aku hanya penasaran," balas Gu Yuena. "Siapa tahu, Ibu kita memiliki wasiat."


Gu Yuan diam untuk beberapa saat, tampak berpikir. Ia melihat Gu Yuena, kemudian tersenyum. "Kamu tidak perlu memikirkannya. Jika ada, itu sudah pasti adalah pesan agar aku melindungimu dengan baik. Maaf, aku sedikit terlambat."


"Tak apa. Aku adalah Gu Yuena, tidak akan diam saja jika ditindas. Hanya saja ... aku merasa tidak bisa melawan Nyonya barusan. Kau lihat ini?" Gu Yuena menunjukkan bekas cekikan di lehernya. Ia berniat bermanja dengan kakaknya, sebisa mungkin untuk menutupi perasaannya yang kacau.


"Ting Le kali ini memang sudah kelewatan. Ayah terus melindunginya sampai dia berani melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Aku pastikan dia tidak akan muncul kembali di kediaman ini." Gu Yuan berjanji. Ia tidak akan membiarkan wanita itu menyakiti adiknya lagi.


Gu Yuena tersenyum dan akan memeluk kakaknya, namun ia merasa tubuhnya sakit ketika bergerak sehingga hanya bisa berdiam diri. Ini merepotkan. Gu Yuan yang melihatnya hanya terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di sebelah utara penghujung dunia, melewati pembatas sihir, terdapat sebuah dimensi lain di mana sebuah istana berdiri kokoh dengan menaranya yang memancarkan sinar merah yang terang. Menara itu seolah menjadi pusat dunia kecil yang penuh aura sihir yang kuat.


Dunia kecil yang berbeda dari dunia nyata. Terdiri dari sebuah istana dan beberapa daerah yang dikelilingi oleh bagian-bagian istana dan disatukan oleh jembatan penghubung. Pada pusat menara, cahaya merah yang sebelumnya bersinar, kini meledak dan menciptakan runtuhnya pembatas dimensi.


Fenomena terbukanya dunia kecil yang dahulu terasingi membuat banyak kerusuhan. Monster-monster mengaum dan saling bentrok di antara lingkaran sihir yang menyala.


Tepat di bawah cahaya merah yang meledak, sosok wanita berdiri di antara kolam cermin yang disalurkan oleh cahaya merah. Kolam cermin yang mewujudkan banyak kejadian di dunia ada di depan matanya, termasuk fenomena darah phoenix yang bangkit setelah penantian yang lama.


Sosok hitam berkabut dengan mata merah muncul di belakangnya. Sosok itu berlutut, kemudian memberi laporan. "Semua sudah berjalan sesuai rencana, Yang Mulia."


Wanita itu menunjukkan senyum tipis yang tampak cantik. "Pergilah, dan jangan kembali."


"Baik, Yang Mulia." Makhluk itu pun menghilang dalam kumpulan kabut yang menyusut.


Wanita itu mengenakan sebuah tongkat di tangannya. Tongkat emas yang indah dan penuh kristal berkilauan, tampak sangat mewah. Kristal itu memancarkan sinar merah darah yang pekat ke arah kolam cermin, mengubah gambaran kolam cermin ke sebuah tempat yang tampak megah dan mewah.


"Kamu sudah datang." Wanita itu sedikit menoleh ke belakang menyadari seseorang mendekat.


Orang itu mengenakan jubah hitam yang menutupi wajahnya. Dari perawakannya, sangat jelas bahwa ia adalah seorang pria. Pria itu berlutut setengah kaki sambil menunduk dan meletakkan salah satu tangannya ke dada.


Ia pun memberi salam pada wanita itu. "Guru."


Wanita cantik itu tersenyum dengan lembut. "Ingatlah untuk tidak membocorkan identitas. Selama pengamatanku, kau hanya perlu mendekati Istana Yuansu. Pergilah ke Akademi Yuansu, lalu lakukan tugasmu."


"Baik, Guru."


"Satu lagi, jaga dia untukku." Senyumnya sedikit menurun ketika kembali melihat pemandangan istana mewah di depannya.


"Murid tidak akan mengecewakan Guru."


Pria itu pun pergi begitu cepat, meninggalkan gurunya sendirian di bawah cahaya merah yang menampilkan simbol phoenix. Pandangan wanita itu tampak redup, ekspresinya dipenuhi kesuraman sebelum akhirnya cahaya merah dari tongkatnya menghilang.


Kepalanya menoleh ke arah sebuah patung besar di tengah ruangan. Patung batu itu seolah adalah sebuah monumen yang penuh kewibawaan dan keagungan. Itu adalah seorang pria, dengan baju zirah yang menunjukkan betapa kuat ia di masa lalu.


Tatapan wanita itu dipenuhi kesedihan ketika melihatnya. Ia bicara, seolah bicara pada sosok di balik patung tersebut. "Aku harap aku melakukan hal yang benar, guru ... dan suamiku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seumur hidup, hal paling mengerikan bagi seorang Gu Yuena adalah tulang yang disembuhkan oleh healer. Ia merasa tulangnya bergerak sendiri dan ngilu ketika retakan terus terdengar. Itu seperti mimpi buruk, apalagi ia juga merasa gatal di tulangnya hingga tersiksa seharian penuh.


Syukurnya hal itu tidak berlangsung lama. Ia hanya perlu sedikit beristirahat dalam beberapa hari.


Tapi bukan Gu Yuena namanya jika tidak ada kesibukan. Meski sebenarnya ia sangat ingin rebahan dan bermalas-malasan sepanjang waktu sambil tidur, ia tidak boleh lengah akan kekuatannya sendiri.


Bayangkan saja. Ia memiliki darah phoenix yang artinya nyawanya hanya tersisa beberapa tahun sampai berusia 20 tahun. Selama itu, ia sebenarnya ingin melanjutkan hidup dengan tenang tanpa kekhawatiran, terus tidur dan bermalasan sambil memakan camilan dan menikmati hidup kaya raya serta dimanja sang kakak. Itu mimpinya.


Tapi mengingat serangan makhluk misterius saat itu, Gu Yuena merasa bahwa ia tidak bisa bermalas-malasan setiap saat. Ia mulai berpikir untuk menjadi lebih kuat dengan cepat di usianya saat ini. Karena umurnya sudah 17 tahun, maka sisanya untuk bertahan hidup hanyalah 3 tahun.


Dalam waktu itu, mustahil baginya untuk mencapai kekuatan yang dapat mengalahkan makhluk itu dengan kultivasi normal. Oleh karena itu, ia sudah memutuskan ingin menjadi apa kedepannya bersama darah phoenix.


Ia akan meneruskan penelitian Istana Linghun. Sebagai pemilik darah phoenix, ia akan berlatih sebagai penyihir!


Yah, meski penyihir adalah profesi terlarang dan terkutuk, Gu Yuena tidak peduli. Toh, pada akhirnya ia akan mati muda juga jika memilih profesi lain. Sekalian saja mencari yang paling kuat dan simpel. Ia memiliki ingatan fotografi, tidak akan sulit mempelajari lingkaran sihir. Dibanding profesi lain yang membutuhkan waktu lama untuk menjadi kuat, lebih baik ia menjadi penyihir yang instan.


Meski pada akhirnya tidak ada yang instan di dunia ini, serta harus menerima banyak resiko seperti dikucilkan dan harus bersembunyi, itu adalah tantangan menarik untuknya. Seperti kondisinya saat ini, bersembunyi dan berpura-pura lemah untuk menjadi kuat. Dunia ini akan ngelunjak bila ia terus mengikuti keinginan dunia.


"Xiao Hei~" Gu Yuena memanggil Xiao Hei yang tak terlihat belakangan ini. Sejak ia menyuruh Xiao Hei belajar sendiri, ia tidak menemukan kucing itu. Apa benar Xiao Hei bisa belajar sendiri? Lalu di mana kucing itu belajar?


Sudahlah, yang terpenting sekarang adalah memulai pelatihan. Tapi sebelum itu ....


"Chu Xin!" Gu Yuena memanggil pelayan pribadinya untuk datang menghadap. Ia harus menginterogasi gadis satu ini.


Chu Xin datang terburu-buru dan memberi salam pada Gu Yuena. Melihat gadis itu telah datang, Gu Yuena memandangnya penuh curiga.


Sejak sadar, ia bertanya-tanya bagaimana Chu Xin bisa mengetahui bahwa ia dalam bahaya sampai nekat membawa Gu Shan dan Gu Yuan ke tempatnya.


"Aku tidak peduli siapa yang menyuruhmu datang ke sisiku, tapi apa pun yang kau dengar kemarin, jangan sampai terdengar oleh tuanmu." Ia masih berpikir bahwa Chu Xin adalah mata-mata. Ia tidak bisa percaya orang lain kecuali kakaknya.


"Saya tidak mengerti maksud Nona." Chu Xin bingung.


"Intinya, apa pun yang kau dengar, jangan sampai keluar dari mulutmu," jelas Gu Yuena.


"Nona tidak percaya pada Chu Xin?"


"Bukan seperti itu. Masalahnya, kau terlalu mencurigakan. Jelas-jelas aku hanya menyuruhmu berjaga di luar, tapi tiba-tiba kau datang bersama ayah dan kakakku. Apa saja yang kau dengar?"


Chu Xin terkejut. Ia berpikir sejenak, kemudian menjelaskan, "Saat itu, saya merasakan fluktuasi energi di dalam ruangan. Nona tidak bisa berkultivasi, tidak mungkin Nona mengeluarkan aura pembunuh yang kuat. Jadi, saya berpikir bahwa itu adalah Nyonya. Itu sebabnya saya buru-buru memanggil Kepala Keluarga dan Tuan Muda Yuan. Maaf jika membuat Nona salah paham."


Gu Yuena terdiam untuk beberapa saat. Sepertinya ia akan menangisi seorang gadis kecil. Tapi masalahnya, ia mengalami krisis kepercayaan. Maaf jika tidak bisa mempercayai siapa pun.


"Terima kasih sudah menjelaskan. Apa pun alasanmu, tidak boleh menyebarkannya keluar. Kau tahu konsekuensinya."


Chu Xin terkejut ketika mendengar kalimat terakhir Gu Yuena. Ia biasanya sangat sensitif terhadap sekecil apa pun energi yang dikeluarkan. Saat Gu Yuena mengakhiri kalimatnya dengan serius, ia dapat merasakan aura aneh yang membuatnya menahan napas.


Aura ini ....


Chu Xin tersadar dan buru-buru membungkuk dengan patuh. "Chu Xin tidak akan mengecewakan Nona."


Gu Yuena mengangguk pelan. "Keluarlah, aku ingin tidur." Lebih tepatnya ingin latihan. Ia bersyukur obat yang diberikan Jiang Weiwei memiliki etek panjang sehingga kekuatannya tidak terdeteksi.


Chu Xin pun keluar dan menutup pintu. Setelah tidak lagi merasakan kehadiran Chu Xin di sekitar kamar, Gu Yuena langsung mengambil buku besar itu dari ruang spiritual.


Sebelumnya ada beberapa lingkaran sihir yang tidak ia lihat dengan jelas karena fokus pada tulisan demi membaca cepat. Ia melihat beberapa lingkaran sihir sekali lagi. Pada beberapa halaman buku, terdapat penjelasan mengenai lingkaran sihir yang menyatu dengan darah phoenix


Lingkaran sihir terbentuk dari pemadatan qi yang telah membentuk elemen. Elemen Gu Yuena adalah api, sehingga untuk memadatkan lingkaran sihir dibutuhkan pengendalian api yang lebih besar.


Ketika ia berhasil mengendalikan api secara penuh, itu artinya ia berhasil menerobos bintang kedua dari tingkat keempat resonansi elemen. Tingkat empat resonansi elemen terbagi menjadi lima bintang; pembentukan, kontrol, bentuk elemen, dan kesuksesan sihir. Jika sudah memenuhi kelima bintang itu, ia dapat menyerap esensi sihir untuk menerobos ke tingkat kelima.


Gu Yuena memusatkan qi yang terkumpul, lalu menciptakan api kecil di salah satu tangannya. Api tersebut melayang seperti bola-bola api kecil tanpa rasa panas. Untuk mengendalikan api yang terbentuk, dibutuhkan kekuatan pikiran untuk menggerakkannya dan mengambil kontrol penuh terhadap kekuatan spiritual.


Gu Yuena menciptakan api di tangan satunya, kemudian menyatukan bola-bola api kecil dari kedua tangannya ke satu titik. Ia memusatkan pikiran mengendalikan bola-bola api tersebut. Bola-bola api bergerak secara tersendat dan macat.


Gu Yuena semakin memfokuskan diri agar pergerakannya tidak tersendat. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk menghaluskan gerakan bola api agar dapat bergerak tanpa hambatan. Ketika bola api mulai memutar dengan halus dan cepat, bola-bola kecil itu menjadi satu dan membentuk bola api tunggal sebesar telapak tangan.


Bola api sebesar telapak tangan itu menunjukkan bahwa kendali Gu Yuena semakin baik. Namun berikutnya, bola api tersebut mengalami guncangan. Gu Yuena mencoba menenangkannya, namun guncangan tak hentinya bergerak dan menyebabkan bola api meletup seperti kembang api.


Ia gagal untuk percobaan pertama.


Hal seperti itu terus terulang. Gu Yuena sesekali mengumpulkan qi ke dalam tubuh agar tidak kehabisan dan kembali mengulang pelatihannya sepanjang malam.


Kamar Gu Yuena dipenuhi percikan api saat itu juga.


Sampai akhirnya matahari terbit, Gu Yuena masih tidak bisa tidur dalam keadaan kamar yang penuh percikan kembang api. Setelah beberapa percobaan, akhirnya ia berhasil membentuk bola api tunggal yang utuh dan tidak meledak.


Bola api sebesar telapak tangan itu seolah adalah barang berharga di mata Gu Yuena hingga ia terharu dan terus mempertahankannya dengan hati-hati. Gu Yuena runtuh ke atas tempat tidur saat itu juga.


Pintu terbuka, menampakkan Chu Xin yang bingung akan kekacauan kamar yang benar-benar kacau. Entah apa yang dilakukan nonanya semalaman.


"Nona ...." Chu Xin sangat terkejut ketika melihat kantung mata yang menghitam di mata nonanya, terlihat seperti panda.


Gu Yuena sudah menarik semua kembang api itu ke dalam tubuhnya, namun kekacauan akibat efek dari ledakan kembang api membuat kamarnya berantakan. Itulah yang dilihat Chu Xin.


Chu Xin langsung menghampiri Gu Yuena yang terkapar dan memeluk bantal dengan lelah. "Nona, Klan Luo akan pergi hari ini. Apa tidak ingin melihat kepergian mereka?"


Gu Yuena memiringkan posisi sambil memeluk bantal dengan erat. Matanya sayup dan mulai terpejam. Ia bicara dengan malas, "Kirim saja salamku pada mereka, maaf tidak bisa mengantar karena kecelakaan kemarin dan terima kasih atas bantuannya."


Chu Xin mengangguk. "Baik, Nona."


Karena kamar yang berantakan, Chu Xin berinisiatif membereskannya dengan cepat. Ia sangat cekatan ketika membereskan kamar. Tidak sampai satu jam, ia pun keluar dari kamar, sedangkan Gu Yuena telah tertidur pulas.


Ketika Chu Xin menutup kamar dan berbalik hendak menyiapkan sarapan dan lainnya, langkahnya terhenti melihat Gu Yueli terburu-buru menerobos halaman dengan langkah lebar.


Pasti karena masalah Ting Le.