
Pagi ini, Gu Yuena baru saja bangun dari tidur. Tiba-tiba saja ada surat dari Yang Xinyuan, mengatakan bahwa pria itu akan menunggunya di alun-alun kota.
"Apa dia mengintipku tidur?" Gu Yuena malah berpikiran negatif. Matanya menyipit curiga ke arah surat, tapi menjadi tak acuh ketika mengedipkan matanya.
Ia pun pergi keluar penginapan dengan pakaian kesatria. Ia seperti seorang gadis tomboy dengan rambut hitam kemerahan yang dikuncir kuda serta wajah acuh tak acuh yang tampak sangat cantik itu.
Oh iya, seharusnya ia mencari kakaknya.
Kira-kira di mana kakaknya berada?
"Xiao Hei, apa kau merasakan kehadiran kakakku?" Gu Yuena bertanya pada Xiao Hei di ruang spiritual.
"Apa kau ingin aku mencarinya?"
Gu Yuena berpikir sejenak, kemudian membiarkan Xiao Hei keluar dari ruang spiritual. Ia memandang kucing hitam itu dengan serius. "Kita bagi tugas, mencari di arah yang berbeda."
Xiao Hei menghela napas. "Nona, apa kamu sedang mencari alasan untuk berkencan?"
"Dengan siapa?" Gu Yuena malah bertanya.
"Yang Xinyuan."
Gu Yuena memutar bola matanya. "Dia memintaku ke alun-alun, pasti menemukan sesuatu mengenai kakakku. Kemarin kami sudah mendiskusikannya, bahwa dia juga akan mencari kakakku."
"Itu hanya alasannya agar tetap bersamamu, Nona." Xiao Hei ingin berkata demikian, tapi hanya mengeong dengan malas dan pergi ke arah lain sesuai tugas.
Gu Yuena membiarkan Xiao Hei pergi, tanpa peduli bagaimana pendapat kucing hitam itu. Ia pun pergi ke arah alun-alun untuk menemui Yang Xinyuan. Ia harap informasinya berguna untuk menemukan kakaknya.
Jika ada Su Churan di sini, gadis itu sudah menyalakan lilin terlebih dahulu untuk Yang Xinyuan karena menyukai gadis yang hanya mencintai kakaknya.
Sampai di alun-alun, Gu Yuena menemukan sosok pria berjubah hitam yang berdiri di bawah air pancuran dengan tenang. Pria itu tidak bergerak dari tempatnya meski angin berhembus mengibarkan jubahnya.
Dia terlihat sangat tampan.
Tapi baik tampan maupun tidak, semua sama di mata Gu Yuena. Hanya kakaknya yang terbaik.
Gu Yuena menghampiri pria yang sedang dipuja-puja para wanita itu. Ketika melihat ada seorang gadis cantik yang mendekati pria tampan itu, otomatis para wanita yang mengagumi keberadaan Yang Xinyuan merasa cemburu.
Mereka berdua tidak memperhatikan betapa cemburu dan kesal para wanita itu melihat Gu Yuena terlihat dekat dengan Yang Xinyuan.
Sedangkan yang dijadikan bahan gosip justru membicarakan hal serius.
"Apa kau menemukan kakakku?" tanya Gu Yuena, dengan wajah serius seolah sedang membicarakan militer.
Yang Xinyuan diam untuk sejenak, kemudian berkata, "Dia seharusnya berada di perbatasan."
"Kalau begitu, kenapa hanya diam di sini? Ayo kita ke perbatasan." Gu Yuena menarik lengan Yang Xinyuan, namun pria itu sama sekali tidak mengubah posisinya.
Gu Yuena melihatnya dengan bertanya-tanya. Sedangkan Yang Xinyuan tiba-tiba saja melingkarkan pinggang rampingnya untuk memutus jarak di antara mereka.
Gu Yuena jelas terkejut. Ia merasa ... dejavu. Pernakah ia di posisi seperti ini sebelumya?
"Yang Xinyuan ...." Gu Yuena ingin mengatakan bahwa ia harus mencari kakaknya, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa melanjutkan kalimat.
Apa yang terjadi?
"Nana ... boleh aku memanggilmu seperti itu?" Yang Xinyuan bertanya dengan nada rendah.
Gu Yuena diam memandangnya, lalu mengangguk pelan, tapi detik berikutnya ia menggeleng. Tak lama setelahnya, ia pun mengangguk dengan ragu dan semakin tidak jelas.
Sebenarnya apa yang ingin dia katakan? Ya atau tidak?
Gu Yuena sendiri pusing tujuh keliling.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Nana." Yang Xinyuan tersenyum.
Gu Yuena masih gelagapan dengan otak yang nyaris menjadi sinting. Ia pun berkata tak acuh, "Sudah?" Ia masih ingin mencari kakaknya, lho.
"Sebentar lagi." Yang Xinyuan melihat Gu Yuena dengan lekat.
"Aku ... tidak nyaman dilihat seperti itu." Gu Yuena justru merasa bahwa Yang Xinyuan ingin menerkamnya dengan tatapan seperti itu. Atau ... lebih buruknya ingin mencabik-cabiknya.
Memang pria yang berbahaya.
"Boleh aku melakukan sesuatu?" tanyanya. Jarak mereka semakin dekat hingga Gu Yuena merasa akan menjadi tidak waras.
Gu Yuena tidak bisa menjawab. Melakukan sesuatu? Melakukan apa? Otaknya tiba-tiba kosong saat itu juga. Apa tidak bisa bicaranya sedikit menjauh?
"Aku anggap kamu setuju." Tepat setelah berkata demikian, Yang Xinyuan memiringkan kepalanya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Gu Yuena.
Gu Yuena membeku saat itu juga. Otaknya terasa meledak.
Kenapa ia tidak menghindar seperti ketika berhadapan dengan Ye Suanwu? Kenapa ia hanya diam?
Gu Yuena tidak mengerti.
Tanpa disadari keduanya, penampilan itu dilihat oleh sepasang iris biru malam yang tampak dingin dan tanpa emosi. Bagaimana tidak? Mereka berciuman di depan umum, lebih tepatnya di alun-alun yang ramai.
Tinju pria berjubah hitam itu terkepal erat. Meski wajah tampannya begitu dingin dan tidak memiliki emosi, siapa yang tahu apa yang terjadi dengan hatinya?
Ah, rasanya ingin membunuh pria bren*sek itu.
Untung saja, seorang gadis dengan jubah putih yang menutupi gaun merah mudanya datang tepat waktu sebelum bom meledak.
"Youzhe, apa yang kau lakukan di sini? Assassin Guild di Wyvernia sudah menunggu untuk perintah selanjutnya. Gu Yuan terlihat ingin keluar dari kota." Su Churan berkata dengan serius.
Pandangan Bai Youzhe teralih segera ke arah Su Churan. Wajahnya terlihat sangat dingin dan tak ada kehangatan sedikitpun. Ia tampak sangat marah sampai nyaris membuat Su Churan takut.
"Ada apa denganmu?" Su Churan memberanikan diri bertanya.
"Bukan apa-apa. Katakan pada mereka untuk tidak perlu bergerak. Aku sendiri yang akan menanganinya."
Su Churan terkejut. "Ini di luar rencana."
"Aku tahu." Bai Youzhe pergi begitu saja dengan langkah lebar.
Su Churan melihat kepergiannya dengan jengkel. Jika seperti ini, resiko identitas ketahuan semakin besar. Ada apa dengan pria aneh itu?
Pandangan Su Churan tanpa sengaja melihat ke arah Gu Yuena yang tampak mematung seperti orang bodoh setelah dicium oleh Yang Xinyuan. Su Churan mengerutkan keningnya dengan aneh.
Sedangkan di sisi lain, Gu Yuena yang menyadari situasi langsung mundur beberapa langkah dalam keadaan kacau. Ia benar-benar memberi jarak pada Yang Xinyuan.
Apa ia benar-benar sudah tidak waras?
"Maaf, aku harus mencari kakakku." Gu Yuena mencari alasan untuk kabur. Sungguh, ia tidak tahu harus menghadapihya bagaimana.
Ia pun kabur terbirit-birit tanpa menolehkan kepala.
Su Churan yang melihatnya menghela napas pasrah. Kisah cinta segitiga ini ... membuat jiwanya lelah.
"Rupanya ada semacam kesalahpahaman. Ini akan rumit." Apalagi yang salah paham di sini adalah Bai Youzhe. Apa yang harus dia lakukan?
Sudahlah, biar mereka bertiga yang mengurus percintaan mereka sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hutan yang begitu sunyi, Gu Yuan menunggangi kudanya dengan kecepatan sedang.
Sebelumnya, ia sibuk mencari Gu Yuena. Tapi tadi pagi, ia telah melihat Gu Yuena di penginapan dalam keadaan aman. Apalagi ada teman yang cukup kuat untuk melindunginya, ia sudah bisa tenang.
Alasan dia tidak bisa menemui Gu Yuena secara langsung tak lain karena identitasnya. Awalnya ia panik, mengetahui bahwa Alfonso telah menyadari kehadiran Gu Yuena. Tapi setelah melihat gadis itu secara langsung, ia sadar bahwa kepanikannya tidak ada artinya.
Sekarang, ia dalam perjalanan menuju Akademi Yinyang untuk menghindari pertanyaan Gu Yuena. Ia belum bisa menjawab semuanya, setidaknya untuk saat ini.
Di tengah perjalanan seorang diri, tiba-tiba sebuah kilau gelap muncul entah dari mana. Sesuatu yang gelap itu melintas begitu cepat, jatuh tepat di depan kudanya sehingga Gu Yuan harus melompat dari kuda akibat ledakan.
Gu Yuan mendarat dengan halus. Tapi sayang, kudanya mati terbakar oleh api hitam pekat yang begitu mengerikan.
Hanya dalam sekali serangan, sudah dapat membakar seekor kuda yang dilengkapi perlindungan sihir. Kekuatan macam apa itu?
"Siapa?" Gu Yuan memasang sikap waspada. Pedang dan perisai muncul di kedua tangannya untuk bersiap melawan musuh.
Sosok tinggi berjubah hitam muncul beberapa meter jauhnya. Dia bertopeng hitam berukiran naga yang menutupi wajah bagian atasnya—dari hidung sampai dahi—sehingga wajahnya tidak mudah dikenali. Hanya saja, ia sedikit familiar bagi Gu Yuan.
"Siapa kau?" Gu Yuan menatapnya dengan dingin. Kekuatan lawannya kali ini tidak biasa dan tidak dapat diprediksi. Ia harus berhati-hati.
Tekanan dari serangan itu begitu keras sampai membuat Gu Yuan mundur beberapa meter jauhnya. Terlalu keras, bahkan sampai membuat perisai miliknya mengalami lecet.
"Apa maumu?" Gu Yuan bertanya lagi. Ia tidak tahu siapa yang ia singgung sampai memunculkan pria asing yang begitu kuat. Kekuatannya jelas lebih tinggi dari Gu Yuan.
Apa Alfonso yang mengirimnya?
Pria itu melihat Gu Yuan dengan tatapan dingin dan padam. "Sederhana."
Entah kenapa, Gu Yuan merasa tidak asing dengan suaranya. Tapi ia tidak bisa mengingatnya dengan baik.
Sebelum ia sempat bereaksi, sosok itu sudah ada di depannya kembali dengan pedang yang ditebas dengan kecepatan tinggi.
Jelas-jelas lawannya adalah assassin.
Gu Yuan menggunakan pedangnya untuk memberikan serangan balik. Api berwarna putih berkobar seperti cahaya dan memberi kilatan besar ke arah lawan. Tapi sosok itu terlalu cepat, lebih cepat dari serangannya.
Sosok itu kembali menyerang dari arah lain, membuat Gu Yuan mau tidak mau harus menahannya sekuat tenaga. Sayangnya, serangannya itu terlalu kuat sampai membuat kerusakan pada perisainya.
Ini gawat!
Gu Yuan telah mengerahkan seluruh kekuatannya, menyebabkan banyak ledakan akan dua serangan dan pertahanan tinggi. Tapi itu hanya akan menguras tenaganya, sedangkan pria itu tampak sama sekali belum mengerahkan sepenuh tenaga.
Ini tidak bisa dipercaya!
Ketika Gu Yuan akan menggunakan pedangnya lagi untuk menekan pria itu, pria itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya dengan pedang ramping yang haus akan darah.
Pedang itu sangat jelas memantulkan perceminannya, seolah mengundangnya untuk ikut melumuri darah.
Gu Yuan tidak sempat menghindar. Ketika ia berpikir bahwa dirinya akan terbelah, pria bertopeng itu justu mengubah arah pedangnya dan memukulnya menggunakan gagang pedang.
Tetap saja, Gu Yuan terhempas cukup jauh dan tersungkur seraya memuntahkan darah. Gagang pedang itu sangat tepat mengenai dada kirinya.
Sepertinya pria bertopeng itu tidak benar-benar ingin membunuhnya.
Tapi meskipun begitu, pria itu tetap memberi serangan yang cukup keras padanya seolah memiliki dendam.
Pria itu kembali meluncur ke arah Gu Yuan, hendak memberinya pukulan yang keras dari tinjunya.
Tapi tiba-tiba hal tak terduga terjadi.
Sebuah kilatan merah melintas dan menekan pria itu sampai harus mundur untuk menjaga jarak dari panasnya api merah yang muncul secara tak terduga.
Sesosok perempuan dengan kedua iris semerah darah muncul menghalangi pria itu untuk melanjutkan serangan. Perempuan cantik tanpa senjata dan terlihat tidak memiliki kemampuan bertarung, tapi sebenarnya ada api yang begitu kuat menyala di salah satu tangannya seperti darah yang berkobar.
Gu Yuena telah datang.
Untung saja Xiao Hei tepat waktu memberinya kabar bahwa Gu Yuan telah pergi dari kota. Jadi dia sempat mengejar. Tapi siapa sangka, seseorang dengan lancang menyerang kakaknya.
"Gu Yuena, cepat pergi!" Gu Yuan buru-buru meminta adiknya pergi. Ia tidak boleh membiarkan pria itu menyakiti adiknya.
Gu Yuena sedikit menoleh, lalu tersenyum, "Seharusnya aku mengatakan itu untukmu, Kakak." Tangannya yang mengeluarkan kilau merah diarahkan pada Gu Yuan.
Gu Yuan terkejut. Detik berikutnya, sebuah lingkaran sihir muncul dan membawa Gu Yuan berteleportasi ke tempat lain. Gu Yuan sudah berteriak untuk meminta Gu Yuena pergi, namun suaranya terbawa oleh kilau merah teleportasi yang membuatnya menghilang begitu saja.
"Selesai." Gu Yuena menghela napas. Kakaknya sudah aman.
Ia pun melihat pria bertopeng beberapa meter di depannya dengan dingin. Sosok Gu Yuena yang riang dan tidak peka itu telah menghilang entah kemana, digantikan dengan tatapan amarah dan niat membunuh yang jelas.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti kakakku. Seharusnya, akulah yang menjadi targetmu, Luo Youzhe." Gu Yuena menarik sebelah alisnya. "Tidak, sebaiknya aku memanggilmu, Bai Youzhe"
Pria bertopeng itu memanglah Bai Youzhe. Iris biru malamnya menyipit tajam. "Kau sudah tahu."
Gu Yuena menarik sihirnya, mengumpulkannya di tangan kanan dan membentuk sebilah pedang panjang dan ramping. Ia sudah siap akam hal ini.
"Kau bisa tahu identitasku, kenapa aku tidak bisa tahu identitasmu? Aku sempat ragu, tapi kau sudah mengakuinya." Matanya menajam. "Seharusnya kau membunuhku sejak awal."
Gu Yuena tahu Bai Youzhe tidak ada niat membunuh Gu Yuan. Tapi ia tetap sangat marah, melihat kakaknya dilukai seperti itu. Kenapa tidak dia saja?
"Kau tidak perlu penjelasan untuk itu."
"Kau ingin informasi, 'kan?" Gu Yuena berkata dengan nada dingin. "Sekarang informasi itu sudah hilang. Apa yang akan kau lakukan?"
Gu Yuan mengetahui banyak hal yang tidak ia ketahui, itu sebabnya Bai Youzhe memilih menarget Gu Yuan. Andai Bai Youzhe bersikeras mengejar Gu Yuan, Gu Yuena tidak keberatan bertarung dengannya.
Meski ia tahu perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh, dan tidak memiliki kesempatan menang.
Bai Youzhe tidak mengatakan apa pun. Ini kali pertamanya melihat Gu Yuena begitu marah sampai tidak ragu-ragu menunjukkan kekuatan penyihirnya yang kuat.
Ia akui, ini akan merepotkan.
"Kau seharusnya membunuhku. Selama masih hidup, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluargaku." Gu Yuena memberi peringatan.
"Apa itu termasuk Istana Linghun?" Bai Youzhe menyahut.
Hal itu membuat Gu Yuena diam.
Istana Linghun ....
Ia bahkan ragu apa dia benar-benar memiliki hubungan dengan Istana Linghun atau tidak. Ayah dan ibunya sudah mati. Ia hanya memiliki Gu Yuan saja. Tapi kenapa Gu Yuan menyembunyikan banyak hal mengenai Istana Linghun?
"Sepertinya kau memang tidak tahu apa pun." Bai Youzhe tersenyum kecut. Ia melepas topeng hitamnya, memperlihatkan wajah tampannya yang menatap Gu Yuena dengan dingin.
Melihat wajah itu, entah kenapa Gu Yuena merasakan hal aneh dalam hatinya. Ia kesal mengapa Bai Youzhe malah melepas topeng hitam itu. Perasaan aneh itu, membuatnya sangat marah.
Gu Yuena mengeluarkan batu jiwa di tangannya. Untuk menekan perasaan aneh yang menyesakkan itu, ia memilih untuk melampiaskannya.
"Kau memiliki batu jiwa lainnya, sedangkan salah satunya ada padaku. Kau sedang mencari ini, 'kan? Maka ambillah, sebelum aku menghancurkannya."
Batu jiwa itu persis di tangan Gu Yuena, memancarkan aura gelap yang membuat siapa pun ketakutan. Bai Youzhe tidak lagi heran ketika melihat batu jiwa dipegang langsung oleh Gu Yuena. Itu karena Gu Yuena tidak hanya sekadar bagian dari Istana Linghun.
Pertama kali ia menyadari bahwa batu jiwa kedua ada di tangan Gu Yuena ketika di akademi, ia terkejut dan bertanya-tanya mengapa Gu Yuena bisa memegang batu jiwa secara langsung sedangkan ia harus melapisi tangannya agar kekuatan batu jiwa tidak membakarnya—seperti ketika ia mengambil batu jiwa pertama.
Batu jiwa tidak bisa disentuh secara langsung begitu saja, kecuali bagi pemegang kekuatan jiwa. Semakin tinggi kekuatan jiwa seseorang, efek negatif batu jiwa semakin tidak terasa. Itu sebabnya, batu jiwa diletakkan dalam kotak kayu dengan sihir pelindung ketika Klan Ye memilikinya.
Bai Youzhe, bagaimanapun caranya, harus mendapatkan batu jiwa ketiga sesuai rencana awal. Saat ini Gu Yuena bisa menghancurkannya tanpa mengalami efek negatif.
"Baik, jika itu maumu." Bai Youzhe langsung melesat, hendak mengambil batu jiwa itu secara langsung.
Cepat sekali.
Tapi gerakan Gu Yuena tak kalah cepat. Gadis itu menghindar tepat ketika batu jiwa akan direbut, lalu mengayunkan pedangnya untuk menyerang Bai Youzhe.
Pedang di tangannya melayang di udara, terhunus dan menekan Bai Youzhe untuk memberi waktu pada Gu Yuena. Pedang tunggal itu membelah diri menjadi beberapa bagian dan menyerang Bai Youzhe seperti pusaran angin.
Gu Yuena menyimpan batu jiwa ke ruang spiritual, lalu mengendalikan pedang-pedang itu dari jauh. Bai Youzhe menggunakan satu pedang di tangannya untuk menghancurkan serangan Gu Yuena, lalu melesat ke arah Gu Yuena.
Jari-jari sihir berwarna merah terbentuk. Itu mencuat dari tanah dan menyerang Bai Youzhe bertubi-tubi. Tapi pria itu dapat menghindarinya dan terus menghilang dari area serangan.
Ia seolah sudah memprediksi serangan Gu Yuena.
Punggung Gu Yuena tiba-tiba mendingin. Ia buru-buru berbalik, lalu menarik pedang di udara tepat waktu ke tangannya sebelum pedang Bai Youzhe menyentuhnya. Kedua pedang mereka saling bertemu, namun Gu Yuena tidak bisa menakan tekanan lebih lama.
Kekuatan mereka jelas memiliki perbedaan yang sangat jauh bagai jurang yang memisahkan.
Gu Yuena berteleportasi ke tempat lain, membiarkan pedangnya membantu menahan serangan Bai Youzhe meski pada akhirnya harus hancur berkeping-keping.
Padahal ia sudah bersiap melawan Bai Youzhe setelah mendengar kisahnya dari Su Churan. Tapi perbedaan ini terlalu terlihat. Gu Yuena harus memikirkan cara untuk menutup perbedaan, meski hanya sementara.
Selagi melemparkan sihir dengan cepat ke arah Bai Youzhe yang terus mencoba mendekat, Gu Yuena terus berpikir apa saja yang ia lewatkan.
Ia memiliki lingkaran sihir, kekuatan jiwa, dan darah phoenix. Benar ... dia memiliki ketiganya, maka harus menyatukannya bila ingin menyeimbangkan pertempuran. Ia juga bisa memiliki kesempatan kabur.
Tapi jika ia menggabungkan ketiganya, racun api akan menjalar lebih cepat. Itu sama saja bunuh diri.
Sudahlah, daripada harus menyerah dan ditekan terus-menerus, lebih baik mengambil resiko.
Ketika seluruh serangan Gu Yuena tidak mempan, namun Bai Youzhe tetap mengungguli pertempuran tanpa mengeluarkan seluruh tenaganya untuk memukul mundur Gu Yuena, Gu Yuena mengumpulkan seluruh energi di sekitarnya untuk mendukung penyatuan tiga kekuatan.
Sebelumnya ia tidak mengerti mengenai kekuatan jiwa. Tapi sejak Yan Shuiyin memberinya lingkaran sihir, ia merasa kekuatan jiwa di tubuhnya bereaksi dan dapat digunakan. Ia hanya perlu mencoba, sama seperti ketika mencoba kekuatan darah phoenix.
"Yah, aku bisa mencobanya."