
Lingkungan baru, kamar baru, dan suasana baru. Tapi lingkungan tidak ramah ini membuat Gu Yuena merasa bahwa harinya yang tenang selama di rumah bobrok akan berakhir.
Tak apa, setidaknya ia bisa tidur di tempat tidur empuk dan nyaman, kemudian menikmati makanan enak setiap saat dan dilayani pelayan bak sang putri. Itu saja sudah cukup. Tidak perlu mempedulikan Gu Yueli yang kini memasang wajah suram setiap saat.
"Aku melihat kalimat 'monyet cantik sedang kesal' di dahinya." Gu Yuena bersandar di kursi ayunan dengan santai, melihat Gu Yueli datang 'berkunjung' dengan senyuman yang dipaksakan.
Dia terlihat lebih cantik dengan senyum itu dibandingkan senyum manis yang selama ini ditunjukkan.
Gu Yuena berdiri untuk menyambut 'adik tercinta' dengan sepenuh hati. "Adik Kelima, selamat datang."
Gu Yueli menahan gejolak emosi di dadanya, berusaha menahan citra sebagai putri yang lembut dan polos. Ia tidak boleh kalah dari anak yatim di depannya.
"Kakak Keempat terlihat sangat senang. Sepertinya Ayah kembali menyayangi Kakak Kelima, Adik ikut bersuka cita. Kakak Keempat sudah bekerja keras." Gu Yueli baru saja menegaskan, tanpa berusaha mencari perhatian ayahnya pun, ia tetap bisa tinggal di tempat yang lebih baik dibandingkan Gu Yuena. Bagaimanapun, Ayah mereka lebih menyayangi Gu Yueli sebagai putri bungsu.
"Kakak hanya menjalankan tugas sebagai putri tertua di Kediaman Gu. Saat ini Kakak Pertama, Kakak Kedua, dan Kakak Ketiga berada di tempat yang jauh, di sini Yuena lah yang paling tua. Tentu saja, sebagai seorang kakak dan putri tertua, Yuena harus menanggung segalanya. Ayah sangat puas dengan hasil kerja Yuena, barulah memindahkanku untuk belajar lebih baik. Bagaimanapun, selain putri tertua, aku juga putri sah Ayah."
Gu Yuena menegaskan bahwa ia lebih berguna daripada Gu Yueli. Selain posisinya sebagai putri tertua, ia juga memiliki posisi penting dalam keberlangsungan Kediaman Adipati. Itu berhasil menekan Gu Yueli dengan identitas gandanya.
Senyum Gu Yueli semakin dipaksakan. Ia tidak suka bila ada seseorang yang lebih unggul darinya. "Kakak Keempat, sebagai putri tertua, sudah sangat banyak menderita. Apa Kakak Keempat pernah mendengar? Seseorang menyebarkan rumor bahwa pembatalan pertunangan Kakak Keempat diakibatkan oleh tragedi penculikan. Reputasi Kakak Keempat semakin buruk. Aku takut, kedepannya akan kesulitan."
Gu Yuena tersenyum lebar di balik cadarnya. "Kalau begitu, sudah merepotkan Adik Kelima untuk membimbingku. Adik Kelima tenang saja. Kakak ini tidak akan membuat masalah bagi Adik Kelima dan akan memperbaiki rumor itu secepatnya."
Gu Yueli mencibir dalam hatinya bahwa Gu Yuena terlalu naif untuk menutup semua rumor. Dia pikir karena identitasnya sebagai putri sah bisa memperbaiki keadaan? Terlalu naif!
"Kalau begitu, Adik tidak akan mengganggu Kakak Keempat."
"Adik, kenapa terburu-buru? Aku baru saja datang ke sini, masih harus sedikit beradaptasi. Mohon bantuannya untuk Adik Kelima. Kita bisa minum teh sebentar atau ...."
"Kakak Keempat, aku sedang sibuk saat ini. Bagaimanapun, aku juga masih sekolah. Begini saja. Saat libur, kita akan minum teh bersama dan aku akan mengajarimu." Gu Yueli merasa paling pintar di sini. Gu Yuena tidak pernah sekolah. Dia pasti sangat bodoh sampai harus meminta dukungannya.
"Sudah merepotkan Adik Kelima." Gu Yuena tampak rendah hati.
"Tidak masalah. Kita adalah saudara, harus saling membantu." Gu Yueli menepuk-nepuk tangan Gu Yuena, kemudian pergi bersama para pelayannya. Awalnya ia datang untuk menginjak-injak moral Gu Yuena, tapi siapa sangka akan ditekan seperti ini. Untung saja ia cukup pintar untuk menghindar dari si bodoh itu.
Sedangkan Gu Yuena yang melihat kepergian Gu Yueli hanya tersenyum miring di balik cadarnya. "Tidak bodoh, tapi tidak cukup pintar." Ia tersenyum misterius, kemudian berbalik memasuki kediaman.
Di dalam ruangannya yang cukup luas, Xiao Hei melompat dari langit-langit ruangan dan berdiri di atas meja. Xiao Hei sepertinya telah menemukan sarang yang cocok untuknya, yakni langit-langit yang penuh dengan kayu menyilang dan berpola. Memang kucing selalu memiliki tempat favorit yang aneh.
"Meow~" Xiao Hei mendorong sebuah buku yang sebelumnya ia gigit dan seret susah payah.
Gu Yuena duduk di atas kursi, kemudian mengambil buku yang didorong Xiao Hei. Buku itu adalah buku panduan kultivasi. Sepertinya Xiao Hei ingin ia belajar kultivasi untuk perlindungan diri.
"Selama ini aku belajar politik dan sejarah sampai tidak terpikirkan hal ini. Kamu sangat perhatian." Gu Yuena tersenyum tulus sambil mengusap bulu Xiao Hei dengan lembut.
Gu Yuena tidak terbiasa dengan sihir atau semacamnya sehingga nyaris mengabaikan kultivasi yang wajib diketahui. Ia sampai lupa bahwa ia ada di dunia penuh sihir saking sibuknya. Biasanya dia hanya berlatih fisik dan menembak, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan sihir.
Kecuali satu hal ....
Sebenarnya Gu Yuena—atau Valentina—di masa lalu percaya tidak percaya akan adanya sihir. Jika dibilang tidak percaya, maka ia berbohong. Tapi jika berkata bahwa ia percaya, sama saja mengatakan bahwa ia telah gila.
Sihir atau sejenisnya hanya ada dalam dongeng. Keberadaan sihir terlalu meragukan. Tapi setelah datang ke dunia ini, tepercayaannya terhadap sihir meningkat.
Saat masih kecil, ia percaya akan sihir sejak kejanggalan merenggut keluarganya. Tapi setelah dewasa, kepercayaan itu memudar alalagi setelah berbaur dengan orang-orang penuh kelogisan dan tidak percaya adanya hal berbau spiritual.
Pengetahuan Gu Yuena mengenai sihir sangat sedikit pada umumnya, namun ingatan yang mengalir dari tubuh yang ia tempati membuatnya memahami apa itu sihir.
Sihir hanyalah salah satu bagian dari pembentukan qi atau mana. Qi adalah energi yang mengalir di udara, seperti unsur oksigen atau hidrogen dalam ilmu kimia. Namun keberadaan qi lebih kompleks dari unsur dan senyawa.
Energi pembentuk sihir dan kekuatan lainnya disebut qi di Kekaisaran Yi. Namun di Wyvernia, mereka menyebutnya mana. Pada ilmiahnya kedua nama itu sebenarnya adalah satu benda, namun perbedaan dua bahasa menciptakan penyebutan yang berbeda pula.
Qi akan diserap oleh tubuh secara perlahan sejak masih belia. Mereka akan mengumpulkannya secara tidak sadar dan membentuk kekuatan spiritual dalam tubuh yang digunakan sebagai bekal kultivasi. Pada saat umur 7 tahun, barulah seseorang akan memulai tahap pertama kultivasi baik di sekolah dasar maupun pembelajaran rumahan.
Kultivasi tingkat pertama merupakan pembangunan dasar spiritual. Qi yang menjadi bekal dalam tubuh mulai digunakan tergantung berapa banyak qi yang diserap tubuh. Semakin banyak qi yang diserap, semakin cepat seseorang akan naik tingkat.
Tahapan tingkat pertama kultivasi memiliki tiga tingkat atau disebut 'bintang'. Pertama, seorang anak akan dibantu orang tua atau guru untuk membuka meridian.
Anak tersebut bisa saja membuka meridian sendiri, tapi keterbatasan pemahaman tentang kultivasi dapat membahayakan tubuh seorang anak sehingga harus didampingi orang dewasa. Hal ini menyebabkan banyak anak yatim piatu yang tidak berani membuka meridian sehingga terpaksa hidup penuh kemiskinan dan sengsara di tengah dunia yang kejam.
Setelah membuka meridian, penilaian akan dilakukan menggunakan sebuah batu spiritual. Jika kapasitas dantian seorang anak telah menempuh penampungan qi sebanyak 10 poin, maka dia bisa dianggap memiliki kultivasi tingkat 1 bintang 2. Tapi jika sebaliknya, mereka akan ditekan kembali untuk menyerap qi seorang diri dan kesepian.
Penilaian itu tidak berakhir sampai sana. Setelah lulus bintang 2, mereka akan kembali ditekan untuk melatih kekuatan mental. Kekuatan mental adalah kekuatan pikiran untuk mengendalikan qi semaksimal mungkin.
Bila kekuatan mental mereka tidak mencapai 10 poin, maka dianggap gagal dan harus kembali berkultivasi. Jika berhasil meraih 10 poin, ia telah dinyatakan lulus tingkat 1 bintang 3 dan akan melanjutkan kultivasi tingkat ke-2.
Hanya tingkat pertama saja sudah terdengar rumit. Jika total 10 tingkatan kultivasi dijelaskan, takutnya tidak akan cukup hanya selama satu hari. Benar-benar merepotkan.
Gu Yuena menutup bukunya setelah membaca kultivasi tingkat ke-2, yakni pembentukan qi yang memiliki total 3 bintang; kontrol, jiwa qi, dan wujud qi. Butuh tahapan sepanjang itu untuk mencapai pembangunan elemen di tingkat ke-4. Jalannya masih panjang.
"Xiao Hei, lindungi aku." Gu Yuena sudah memutuskan untuk memulai kultivasi.
Entah bagaimana orang-orang itu berkata bahwa ia tidak bisa berkultivasi, ia akan membuktikannya sendiri. Ia tidak percaya, tubuh sekuat ini tidak bisa berkultivasi—meski tidak sekuat tubuh Valentina dulu.
Kucing hitam itu berjaga di depan pintu dengan tegap seperti patung kucing. Gu Yuena pergi ke atas tempat tidur dan melakukan langkah-langkah yang tertuliskan dalam buku.
Entah kenapa, tiba-tiba saja ia dapat mengingatnya melalui ingatan pemilik tubuh. Bukankah pemilik tubuh tidak bisa berkultivasi? Bagaimana dia bisa dengan mudah memahaminya sedangkan Gu Yuena sendiri awalnya merasa sangat asing?
Mengabaikan semua pertanyaan tanpa jawaban itu, Gu Yuena mulai mengikuti buku tuntunan dengan tenang.
Orang bilang pembangunan dasar spiritual cukup tidak nyaman. Namun Gu Yuena sama sekali tidak merasakan apa pun selain aura dingin yang menyelimuti tubuhnya.
Ia menarik napas secara perlahan dan menyerap qi sebanyak mungkin. Udara dingin terus melapisi kultinya bagai angin yang berhembus.
Selain merasakan udara sepoi-sepoi yang membuatnya nyaman, ia merasa bahwa urat-urat tubuhnya merenggang dan berdenyut. Ia mulai merasa tidak nyaman untuk sesaat, namun tertutupi oleh udara hangat yang membuatnya nyaris tidur.
Tidak tahu udara apa itu, tapi terasa seperti musim gugur yang sejuk dengan selimut di tubuh yang memberinya rasa hangat. Semakin lama ia semakin ngantuk.
Gu Yuena tidak tahu sudah berapa banyak qi yang masuk ke tubuhnya. Ia hanya tahu bahwa ia tengah menyerap qi dan merasakan kesejukan dan kehangatan di tubuhnya. Ia merasa rileks dengan pikiran kosong dan gelap.
Hingga akhirnya ....
Ia benar-benar tertidur dalam keadaan duduk dan menunduk.
Hal yang tidak diketahuinya, meski dalam keadaan tidur, semua qi itu terus terserap ke tubuh dalam batas tidak normal. Seolah energi tersebut telah tidak terkendali dan mengamuk di dalam tubuhnya. Namun titik-titik merah dalam energi perlahan mengendalikannya dan menekannya agar mengalir secara teratur.
Itu adalah alasan rasa nyaman yang dirasakan Gu Yuena ketika semua orang merasa tersiksa akan kebangkitan dasar spiritual.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit telah menggelap sepenuhnya. Gu Yuena terbangun dari tidur ketika mendengar suara ribut benda jatuh dan pecah disertai teriakan kucing dari luar pintu.
"What the hell ...." Gu Yuena mengusap wajah sambil menghela napas panjang. Bisa-bisanya ada kericuhan di tengah mimpi indahnya!
Ia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Pada saat itulah, ia melihat Xiao Hei melebarkan keempat kakinya dengan tatapan ganas kepada Jiang Weiwei yang tampak pucat. Melihat itu, Gu Yuena memutar bola mata.
"Apa yang terjadi?" Gu Yuena melipat kedua tangannya dan bersandar dengan malas. Bisa-bisanya ada yang berani mengganggu tidurnya. Jika ia ada di tempatnya dulu, ia sudah melemparkan pisau ke orang itu.
"Nona, kucing lancang itu masuk ke dalam dan membuat keributan. Hamba hanya ingin mengusirnya." Jiang Weiwei bicara dengan tegas. Ia merasa aneh.
Gu Yuena menghela napas, berjalan je arah kucing hitam itu, kemudian mengangkatnya. "Dia milikku, Xiao Hei."
Jiang Weiwei terdiam. Kucing milik nona? Sejak kapan Nona Keempat suka kucing?
"Tidak perlu heran seperti itu. Aku lihat dia di rumah lama dan terlihat kasihan, jadi aku memutuskan untuk merawatnya. Kau tahu, aku selalu kasihan melihat seekor hewan yang tersesat, jadi aku menampungnya."
Entah kenapa Jiang Weiwei merasa bahwa Gu Yuena tidak sedang membicarakan kucing itu melainkan dirinya. Apa hanya perasaannya saja.
Jiang Weiwei bersikap senormal mungkin dan mendekati Gu Yuena. "Nona, ini salahku. Weiwei tidak tahu kalau kucing manis ini adalah peliharaan Nona. Nona tidak menyalahkan Weiwei, 'kan?"
Gu Yuena tersenyum. "Kenapa aku harus menyalahkanmu? Weiwei, kamu baru saja sembuh, tidak harus melayaniku sekarang juga."
Jiang Weiwei menghela napas. "Nona, Weiwei sangat merindukan Nona. Apa Nona tidak merindukan Weiwei? Sebelumnya Nona tinggal di rumah lama yang bobrok, sangat tidak cocok untuk Nona. Weiwei sangat senang Kepala Keluarga membiarkan Nona kembali ke kediaman utama." Ia juga senang tidak akan melewati danau angker itu lagi.
Gu Yuena mengangguk setuju. "Kau kembalilah ke tempatmu, aku ingin lanjut tidur."
"Nona, maaf telah mengganggumu. Weiwei akan kembali besok, tidurlah dengan nyenyak."
Gu Yuena tersenyum menunjukkan kelembutannya. Ia bersama Xiao Hei pun masuk kamar meninggalkan Jiang Weiwei sendiri.
Jiang Weiwei menghela napas, terlihat lega akan sesuatu. Ia membereskan kekacauan yang terjadi berkat Xiao Hei dan pergi dari sana dalam keadaan kacau. Jika bukan karena perintah Gu Yueli, ia tidak akan datang ke sini saat kondisinya masih belum pulih.
Gu Yuena di dalam kamar tidak mau terlalu memperhatikan Jiang Weiwei. Ia duduk di atas tempat tidur dan meletakkan Xiao Hei yang mengibaskan ekornya berkali-kali. Tampaknya Xiao Hei kesal pada Jiang Weiwei.
Ketika duduk dan melepaskan pikirannya, Gu Yuena sadar bahwa kondisi tubuhnya berubah drastis. Sebelumnya ia merasa sangat lemah dan berat, namun sekarang ia justru merasa seperti bulu. Ia baru menyadari hal ini setelah pikirannya terlepas dari Jiang Weiwei.
Sepasang iris merah itu ditutup guna memeriksa kekuatan spiritual. Hal pertama yang ia lihat adalah kegelapan yang berbeda dari biasanya. Terdapat aliran samar yang mondar-mandir di sekitarnya, seolah menyelimutinya dari kegelapan.
Gu Yuena agak shock, tapi seketika tidak lagi merasa terkejut ketika ingatan asing mengenai gambaran kekuatan spiritual menguasainya.
Sepertinya ada terlalu banyak rahasia dalam tubuh ini yang disembunyikan oleh ingatan pemilik asli. Ingatan itu akan muncul ketika hal yang disembunyikan mulai ditemukan.
Gu Yuena hanya bisa bersabar menunggu ingatan itu muncul secara perlahan untuk membuatnya beradaptasi dengan situasi terbaru. Ia penasaran, apa saja yang dialami pemilik asli yang tidak dapat diketahui secara langsung.
"Gu Yuena, apa saja yang kau sembunyikan dariku ...." Ia bergumam pada diri sendiri sambil melihat aliran kekuatan spiritual itu.
Ia memperhatikan dengan seksama. Tangannya meraih aliran qi yang berterbangan. Ketika tangannya menyentuh aliran tersebut, qi di depannya seolah mengalami perubahan dan bergerak lurus memusatkan jari Gu Yuena.
Seolah dalam kendalinya, qi bergerak mengikuti arah pergerakan tangan Gu Yuena seperti gelombang air yang mengikuti arus. Ketika qi mengikuti arah tangannya, Gu Yuena menggerakkan jari-jarinya untuk mengendalikan bentuk qi hingga aliran di depannya berubah wujud menjadi sebuah holo besar sesuai pergerakan tangan Gu Yuena yang menuntunnya berubah wujud.
Ini adalah tingkat kedua kultivasi, pembentukan qi.
"Sebenarnya aku menyelesaikan dua tingkat sekaligus?" Gu Yuena agak terkejut. Cara curang apa yang ia pakai? Ia hanya ingat bahwa ia tertidur sangat pulas karena pembukaan meridian.
Apa ia berkultivasi saat sedang tidur? Tidak masuk akal!
Tingkat ke-2 bintang 1 adalah pengontrolan qi. Baru saja Gu Yuena melakukannya dengan lancar seolah sedang bermain. Ia hanya melakukan apa yang ingatannya tunjukkan.
Selanjutnya, bintang 2 adalah jiwa qi. Yang barusan ia lihat adalah jiwa qi yang mengikuti arah jarinya bergerak.
Tapi jiwa qi itu kini berubah menjadi wujud qi yang merupakan kualifikasi bintang 3, tahap terakhir tingkat ke-2 dan akan memasuki kultivasi tingkat ke-3, pembentukan pondasi. Hanya satu langkah baginya untuk membangunkan elemen dalam tubuh.
Elemen diturunkan dari orang tua. Elemen Keluarga Adipati Gu adalah Api. Kemungkinan besar Gu Yuena akan mewarisinya. Ia tidak akan terkejut lagi. Namun untuk saat ini, ia harus memfokuskan diri untuk tantangan tersulit di tahap awal kultivasi.
Pembentukan pondasi memiliki tingkat kesulitan tinggi. Kebanyakan orang-orang mengalami kecacatan dalam kekuatan spiritualnya dan mengalami kemacatan permanen di tingkat ke-2 karena gagal di tingkat ke-3. Itu disebabkan oleh ujian tingkat ke-3 yang hanya bisa dilakukan satu kali seumur hidup.
Untuk lolos tingkat ke-3, harus dilakukan pelatihan fisik yang sebenarnya. Biasanya orang-orang akan memilih senjata dan mulai menentukan arah kultivasi akan menjadi apa kedepannya. Itu mulai diterapkan saat kekuatan elemen dibangkitkan.
"Baik, Xiao Hei, kau harus membantuku mencari buku bela diri besok. Meski aku sangat pandai bela diri, tapi tubuh ini memiliki ketahanan yang lebih lemah dibanding kekuatan spiritualnya. Ini menyiksaku."
"Meow~"
"Untuk alasan mengapa Gu Yuena menyembunyikan kekuatannya selama ini sehingga rela dianggap sampah, aku akan mengungkapnya segera." Ia menyipitkan mata kemerahannya. "Aku ingin lihat kejutan apa lagi yang akan kau tunjukkan."