
Gu Yuena terkejut menyadari bahwa ia sudah berada di tempat yang berbeda. Sepertinya cukup jauh dari Kota Tianlong, tapi dia masih dapat melihat asap yang berasal dari kobaran api yang mengamuk di ujung bukit di mana Kota Tianlong berada.
Kondisi di sana pasti sangat buruk setelah kekuatannya mengamuk barusan.
Terdengar suara batuk dari sisi lain. Meski singkat, tapi jelas di telinganya. Dia menoleh ke sisi lain, melihat pria berjubah hitam yang sedikit menjaga jarak darinya sambil memandang dengan iris hitam yang begitu dingin.
Pria itu kemungkinan terluka lagi, tapi tidak seburuk sebelumnya. Apa dia yang membuat Gu Yuena berada jauh dari kota?
"Sialan." Gu Yuena menghela napas panjang. Kekuatannya sudah benar-benar terkuras dan tidak mampu melakukan serangan. Tapi dia malah harus berhadapan dengan orang itu lagi.
"Kau berkembang sangat pesat," kata pria itu.
"Terima kasih, tapi aku akan lebih berterimakasih jika kau pergi sekarang." Ucapan sarkas Gu Yuena tidak menyentuh pria bertopeng. Gu Yuena tidak peduli lagi.
"Ratu ingin kau datang menghadapnya."
"Aku akan datang." Gu Yuena menatapnya dengan pandangan datar. "Tapi tidak sekarang." Dia tidak ingin mengambil resiko wanita itu membunuh anaknya. Lagi pula, pria bertopeng itu masih akan menyerang Istana Tianshuang meski ia sudah datang.
"Semakin lama kau mengulur waktu, semakin banyak yang akan jatuh ke jurang kematian."
"Semakin cepat aku datang, semakin banyak yang harus kubunuh." Gu Yuena mendengus, "Jangan berpikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Jika bukan kau yang diutus, maka aku yang akan diutus. Pada dasarnya, kau hanya menggantikan tugasku. Kau tahu aku peduli pada Istana Yuansu, maka kau menghancurkan mereka terlebih dahulu agar aku tidak segan menghancurkan yang lain. Sekarang Istana Tianshuang ...."
Karena Istana Tianshuang berperan penting dalam kebangkitan Istana Yuansu, Gu Yuena tidak bisa membiarkan mereka hancur. Ditambah, Istana Tianshuang adalah tempat Bai Youzhe seharusnya berada. Meski ia tidak sepenuhnya peduli pada Kota Tianlong atau segala hal menyangkut Istana Tianshuang, setidaknya Istana Tianshuang harus tetap ada.
Pria bertopeng itu ingin membuatnya kehilangan arah dan membantu Istana Linghun sepenuhnya. Sudah jelas target awalnya adalah Gu Yuena. Dimulai dari Kediaman Adipati, lalu Istana Yuansu, sampai saat ini di Istana Tianshuang. Mereka ingin membuat Gu Yuena kehilangan segalanya dan menjadikan Istana Linghun rumah seutuhnya.
Cara seperti itu, sudah sering dijumpai oleh Gu Yuena. Itu juga terjadi pada dirinya sendiri di masa lalu. Ia tidak akan mengulang masa lalu.
"Pada akhirnya kau tetap keras kepala." Pria bertopeng tidak bisa membantah Gu Yuena lagi dan memilih mengunuskan senjata.
Gu Yuena mundur beberapa langkah, waspada akan serangan tiba-tiba yang didaratkan.
Ia tidak boleh membiarkan pria itu menyakiti bayinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kota Tianlong dipenuhi oleh mayat berserakan. Baik penyihir maupun murid istana, semuanya mati hanya dalam hitungan detik. Bahkan tidak ada lagi makhluk kematian yang tersisa.
Beberapa murid istana masih bisa bertahan hidup, namun hanya terdiri dari murid-murid dengan tingkatan kultivasi tinggi serta memiliki fisik kuat yang dapat menahan serangan luar biasa barusan. Itu pun harus menanggung luka dalam yang buruk. Sisanya telah mati.
Tumpukan puing bangunan yang hancur didorong ke atas dari dalam. Su Churan keluar dari dalamnya, menyingkirkan puing yang menimpa tubuhnya dengan susah payah. Setelah yakin terbebas dari tumpukan puing bangunan yang runtuh, wanita itu pun menghela napas lega sambil melihat langit yang sudah menunjukkan warna alaminya.
Selang beberapa detik, sepasang matanya menunjukkan kejutan ketika merasakan sesuatu yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Dia langsung bangun, susah payah untuk berdiri dan melihat sekitarnya yang penuh kehancuran.
Bangunan sudah tidak lagi berbentuk. Mayat dan darah di mana-mana bersama berbagai senjata yang berserakan. Dia sampai tidak dapat menebak mana mayat murid istana maupun musuh. Semuanya berserakan begitu saja.
Bahkan Chu Xin tertimpa mayat dan baru saja keluar dari sana. Penampilannya begitu kacau ketika berdiri dengan wajah pucat pasi.
Dia menggumamkan sesuatu, "Yang Mulia ...."
Tepat setelah Chu Xin bergumam, angin berhembus kencang dan sosok hitam melesat dari langit, mendarat di atas tanah. Diikuti dengan dua sosok lainnya di belakang. Dua sosok itu menampilkan garis wajah terkejut.
Melihat sosok hitam yang hadir di tengah kekacauan, mereka yang sudah sadar langsung berlutut untuk memberi penghormatan. Su Churan dan Chu Xin termasuk. Mereka bergetar mengingat apa yang baru saja terjadi.
Bagaimana tidak? Sosok hitam yang baru saja datang adalah Bai Youzhe dari Dunia Bawah!
"Di mana dia?" Bai Youzhe langsung bertanya tentang Gu Yuena. Ia mendengar bahwa Gu Yuena ikut dalam pertempuran, seharusnya wanita itu ada di sini. Namun, kenapa dia tidak melihatnya?
Keberadaan Gu Yuena sulit terlacak, atau bahkan tidak bisa dilacak. Itu sebabnya Bai Youzhe sangat gelisah ketika menyadari tidak ada Gu Yuena di tempat ini.
Ditambah dengan situasi kota yang sudah tak terbentuk serta kondisi anggota istana. Pasti telah terjadi kekacauan yang melebihi dugaannya.
Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Gu Yuena sebelumnya sampai membuat tempat ini hancur lebur. Wanita itu serta pria bertopeng menghilang begitu saja. Sedangkan mereka yang terluka tidak bisa memikirkan hal lain selain diri sendiri.
Bai Youzhe melihat beberapa helai bulu phoenix yang berapi-api di tanah. Ia mengambilnya. Saat itu juga, ekspresi Bai Youzhe mengeras dan semakin dingin sampai tidak ada yang berani melihatnya. Su Churan dan Chu Xin jelas tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi mereka juga tidak bisa mengatakan apa pun. Mereka benar-benar tidak tahu.
Bai Youzhe tiba-tiba melihat ke arah lain di luar kota. Sesuatu yang tidak dirasakan orang lain, tapi ia bisa dengan jelas merasakan adanya kekuatan besar dari arah sana.
Seharusnya Gu Yuena ada di sana.
Tanpa mengatakan apa pun, pria itu langsung pergi ke arah yang dituju meninggalkan dua bawahannya yang ditugaskan mengatasi sisa peperangan.
Ini bukan perang besar, tapi dampaknya begitu besar dan akan sulit ditanggung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepanjang waktu, Gu Yuena menghindari serangan pria bertopeng. Tiap serangannya selalu nyaris membunuh Gu Yuena jika tidak menghindar tepat waktu.
Ketika kekuatan gelap itu menerjang ke arahnya tanpa diduga, Gu Yuena mengeluarkan bilah pisau terbang di tangannya untuk membuat perlindungan dari kekuatan pisau terbang.
Namun, kekuatan Gu Yuena tidak cukup sehingga termundur beberapa meter. Perlindungan sihir keabadian pecah saat itu juga membuat Gu Yuena nyaris terjungkal. Sebisa mungkin, ia mempertahankan posisi berdiri sambil bertahan dari berbagai serangan.
Pria itu ingin memaksanya tidak sadar dan dibawa ke Istana Linghun. Tapi kesadaran Gu Yuena sangat kuat sampai dia kesulitan jika tidak melukai Gu Yuena.
Gu Yuena tahu, jika dia tidak sadarkan diri dan dibawa ke Istana Linghun, ibunya akan melakukan sesuatu pada bayinya. Ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi!
Ia ingat apa yang dikatakan Gu Yueli. Seseorang yang bicara dengan Ye Suanwu pasti orang Istana Linghun, karena mereka bekerja langsung dengan Istana Linghun.
Tidak hanya membunuh bayinya, tapi juga memanfaatkannya. Seperti yang dilakukan Li Hua padanya untuk mati dan hidup kembali.
Pria bertopeng itu menyerang sekali lagi menggunakan serangan jarak dekat. Tubuh Gu Yuena tetap gesit setiap saat, namun keseimbangannya terganggu karena lelah. Beberapa kali ia nyaris jatuh dan mengambil kesempatan untuk melakukan serangan fisik pada pria itu.
Tapi ketika tangannya menarik kerah pria itu dan menghindari serangan sihir, sihir tersebut berhembus membuka topeng pria itu di depan Gu Yuena.
Dengan langkah cepat, pria itu berbalik ke belakang untuk menyembunyikan wajahnya yang terekspos, sedangkan Gu Yuena terdiam.
Ia merasa familiar.
"Kau ...." Gu Yuena merasa ada sesuatu yang aneh. Ia seperti baru saja melihat sosok yang ia kenal.
Pria itu cepat-cepat menutup kembali wajahnya dengan topeng dan melepaskan sihir ke arah wanita itu. Gu Yuena terkejut karena melamun, alhasil sihir itu mendorongnya begitu keras sampai tubuhnya terbentur dinding bukit cukup keras.
Gu Yuena jatuh saat itu juga. Sihir yang menyerangnya sangat kuat sampai ia memuntahkan darah. Pikirannya kacau saat itu juga.
Bayinya ....
Perutnya terasa sakit bukan main saat ia akan berdiri. Ia memegangi perutnya dengan erat sampai pakaiannya teremas. Kekuatan spiritualnya habis sehingga dia sama seperti manusia biasa. Dalam keadaan seperti itu, dia sangat rentan.
Pria bertopeng yang merupakan Yang Xinyuan terlihat agak khawatir, tapi menutupinya dengan wajah datar. Ia tidak boleh goyah lagi seperti sebelumnya.
"Maafkan aku."
Namun, rupanya rencana itu tidak berjalan dengan lancar. Ketika sihirnya baru saja akan menyentuh Gu Yuena, sebuah kabut hitam meluncur dari langit menghalangi serangan dan memberi serangan balik yang lebih kuat sampai Yang Xinyuan harus melambung ke udara untuk menghindar.
Serangan itu begitu kuat sampai Yang Xinyuan tidak boleh menghadapinya secara langsung dalam keadaaan kekuatan spiritual yang terkuras banyak.
Matanya menyipit ketika melihat siapa yang baru saja datang.
"Bai Youzhe." Tatapannya menjadi sangat dingin ketika melihatnya. Ia tidak bisa melawan pria itu dalam keadaan terluka sehingga harus pergi untuk menghindari masalah.
Padahal tugasnya akan selesai sedikit lagi.
Di samping itu, Bai Youzhe tidak bisa mengejar Yang Xinyuan karena mencemaskan kondisi Gu Yuena. Dia berbalik ke arah wanita itu, lalu menghampirinya sambil menopang tubuhnya yang menjadi sangat lemah.
Gu Yuena sadar akan kedatangan Bai Youzhe. Ada rasa lega di matamya, tapi kegelisahan tetap mendominasi perasaannya. Apalagi merasakan perutnya yang sangat sakit seolah tergiling.
"Nana, bertahanlah." Bai Youzhe sangat takut sekarang. Ia mengangkat tubuh Gu Yuena yang sudah setengah sadar. Ia benar-benar melupakan masalah yang baru saja terjadi dan fokus terhadap Gu Yuena.
"Youzhe ... selamatkan dia," lirih Gu Yuena, sebelum akhirnya melepaskan kesadarannya di pelukan Bai Youzhe. Ia benar-benar tidak sadarkan diri karena kehabisan energi.
Bai Youzhe melihat wajah Gu Yuena, merasa sangat bersalah. Ia tidak bisa melakukan apa pun selain membawa Gu Yuena untuk segera diobati. Kekuatannya hanya bisa membantu luka luar Gu Yuena, bukan luka dalamnya, apalagi bayi mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bai Youzhe menunggu dalam diam tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya. Sejak membawa Gu Yuena ke balai pengobatan dan meminta dokter menanganinya, ia menunggu di depan pintu dengan pikiran yang berkecamuk.
Balai pengobatan istana sudah ramai sejak perang berakhir. Namun, dengan adanya Bai Youzhe yang datang dalam keadaan kacau sambil membawa Gu Yuena yang tak sadarkan diri, orang-orang di dalam balai pengobatan langsung mencari tempat lain untuk mengobati anggota istana yang terluka. Mereka mana berani membuat suara di dekat Bai Youzhe.
Biasanya anggota inti istana hanya akan memanggil dokter ke istana. Ini kali pertama Bai Youzhe terlihat di balai pengobatan. Karena kondisi mendesak, ia tidak memiliki waktu untuk memanggil dokter dan langsung menemuinya.
Sudah beberapa waktu diam di tempat, memandang pintu yang tertutup berulang kali dipenuhi kegelisahan. Tidak ada satu pun suara yang terdengar di sekitar.
Hingga akhirnya pintu dibuka. Pria tua yang pernah merawat Gu Yuena ketika baru datang ke istana muncul dari balik pintu dengan wajah pucat. Dia terlihat takut, juga ragu ketika ingin mengatakannya tepat di depan Bai Youzhe yang terlihat gelisah.
Ptia tua itu terasa berat mengatakannya, "Yang Mulia, yang tua ini tidak bisa menyelamatkan kandungan Nona Gu. Nona sudah keguguran sejak sebelum sampai di balai pengobatan. Kondisi Nona saat ini baik-baik saja dan dalam masa pemulihan karena kehabisan energi, masih harus banyak istirahat."
Perasaan Bai Youzhe saat ini tercampur aduk. Gu Yuena pasti akan sangat sedih mendengarnya. Pria itu masuk ke dalam ruangan di mana Gu Yuena terbaring lemah di atas tempat tidur dengan mata tertutup.
Beberapa perawat secara otomatis pergi ketika melihat kehadiran Bai Youzhe, membiarkan mereka berdua di dalam ruangan. Pria itu langsung menghampiri Gu Yuena dan duduk di samping tempat tidur sambil meraih tangan Gu Yuena dengan erat.
"Maaf ... kamu harus mengalami hal ini." Bai Youzhe menunduk sambil menggenggam tangan Gu Yuena erat-erat. "Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu ... maaf ... maaf ...."
Bai Youzhe benar-benar menundukkan kepalanya di samping Gu Yuena. Ia tidak merubah posisi untuk beberapa saat, membuat suasana ruangan benar-benar sunyi.
Hingga akhirnya jari-jari Gu Yuena menunjukkan gerakan kecil. Matanya terbuka lebar seperti mengalami mimpi buruk, menampakkan sepasang iris merahnya yang indah. Bai Youzhe segera menegakkan kepalanya, melihat Gu Yuena yang terbangun dengan perasaa cemas.
"Nana."
Gu Yuena diam untuk beberapa saat, terlihat linglung. "Youzhe?" Bai Youzhe di depannya? Detik berikutnya, ia sadar akan beberapa hal.
Itu semua bukan mimpi.
Ia meraih perutnya yang rata kembali. Ada perasaan nyeri di hatinya, tapi ia menahannya sebaik mungkin untuk bersikap senormalnya. Ia akhirnya paham mengapa Bai Youzhe terlihat gelisah ketika melihatnya.
Ini terjadi lagi. Ia membenci perasaan ini.
"Semuanya ... baik-baik saja, 'kan?" tanya Gu Yuena untuk mengesampingkan perasaannya yang kacau.
Bai Youzhe mengangguk pelan. "Baik-baik saja."
"Baguslah." Gu Yuena sedikit tersenyum. "Aku sempat membuat kekacauan. Aku pikir ... kau akan menyalahkanku."
Bai Youzhe tahu apa saja yang dilakukan Gu Yuena di medan perang dan sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ia dapat melihat Gu Yuena yang sedang menahan perasannya sendiri agar tidak terlihat lemah. Ia pun memeluknya dengan erat. "Tidak, kamu tidak melakukan kesalahan. Bagaimana aku bisa menyalahkanmu?"
"Ya, tidak ada yang perlu disesali, aku tidak membuat kesalahan," gumam Gu Yuena. Ia menutup mata sejenak, menahan perasaan yang ia benci di hatinya. "Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir."
"Tiap kita bertemu, kamu selalu dalam keadaan buruk, bagaimana aku tidak khawatir?"
"Kali ini aku baik-baik saja."
"Maaf, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu."
Gu Yuena diam untuk beberapa saat. Ia melepas pelukan, melihat Bai Youzhe dengan sedikit senyuman yang menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
"Ada beberapa keinginan yang tidak bisa dipenuhi secara langsung." Gu Yuena diam sekali lagi, tampak berpikir. "Aku juga masih harus menyelesaikan masalahku dengan Istana Linghun. Jika dipikir, kali ini juga tidak buruk. Jangan terlalu terbebani."
Jika itu orang lain, mungkin mereka akan berkata bahwa Gu Yuena berhati dingin. Tapi Bai Youzhe mengenal Gu Yuena dengan baik. Tatapan Gu Yuena yang terlihat bingung menjawab perasaan Gu Yuena yang sebenarnya.
Bai Youzhe tidak mengatakan apa pun lagi. Ia meminta Gu Yuena untuk istirahat sampai pulih, sedangkan dia mengatasi kekacauan yang diakibatkan oleh serangan yang baru saja terjadi.
Begitu Bai Youzhe keluar dari kamar, pandangan Gu Yuena kosong sejenak. Detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sebelum akhirnya melepas beban di hatinya dengan tangisan. Ruangan yang awalnya sunyi, kini dipenuhi dengan isak tangis.
Bai Youzhe mendengarnya dari luar, tapi tidak bisa melalukan apa pun. Dalam keadaan seperti ini, Gu Yuena butuh waktu untuk sendiri dan melepas semua beban di hatinya. Wanita itu tidak akan bisa dihibur sebelum beban hatinya lepas.
Hei Changge datang untuk memberi laporan. Ia menghela napas ketika melihat ekspresi rumit Bai Youzhe mendengar tangisan Gu Yuena dari dalam—meski tidak terlalu terdengar.
"Yang Mulia, beritanya sudah sampai istana." Berita mengenai Gu Yuena yang keguguran menyebabkan keributan di kalangan tetua.
Mereka saling melempar kesalahan karena telah mengirim Gu Yuena ke medan perang tanpa ada yang mau mengakui kesalahan. Sedangkan di sisi lain, Su Churan masih dalam perwatan sehingga tidak dapat hadir.
Di antara banyaknya tetua, hanya Su Churan yang maju langsung ke medan perang untuk melindungi Gu Yuena. Beberapa tetua termasuk Tetua Han memimpin formasi pertahanan dari serangan penyihir di sekitar istana sehingga tidak dapat hadir langsung. Sedangkan sisanya entah kemana.
Mungkin mereka begitu optimis akan kemenangan, mengingat adanya Gu Yuena yang maju sebagai umpan. Hal tersebut diperdebatkan di dalam aula sampai menyebabkan keributan.
Tetua Ming lebih panik saat ini. Ia khawatir. Jika Bai Youzhe mengetahui bahwa ialah yang mengusulkan pengiriman Gu Yuena ke medan perang untuk menghadapi pria bertopeng, maka tamatlah riwayatnya.
Gu Yuena keguguran karena pertarungan besar, tidak ada hubungan dengannya. Namun, baik sedang mengandung atau tidak, faktanya dia telah mengirim Gu Yuena ke kematian.
"Huh, wanita itu sendiri yang setuju dan tidak memberitahu faktanya, mana bisa kami yang tidak tahu disalahkan? Lagi pula, siapa lagi yang dapat menghadapi Pemimpin Aula Linghun di sini? Jika dia bilang sejak awal, kami tidak akan mendesaknya." Tetua Ming mengajukan pembelaan diri di depan para tetua. Mumpung Bai Youzhe belum datang.
Jika ada Su Churan, pria tua itu pasti sudah diserang mati-matian.
Tiba-tiba, suara wanita menggema di dalam ruangan.
"Di saat seperti ini, masih bisa saling menyalahkan satu sama lain, benar-benar tidak tahu malu."
Sosok wanita muncul dalam kumpulan kabut putih di atas kursi tetua yang kosong, menyahut dengan nada malas. Usianya terlihat seperti sudah kepala 3 dengan wajah cantik dan awet muda. Rambutnya putih dengan sepasang iris biru malam yang indah.
Tatapannya terlihat acuh tak acuh. Dia duduk dengan posisi malas sambil melihat keributan di depannya sambil memakan anggur yang tersedia di meja. Ia terlihat cuek di tengah keributan ini.