Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
139. Pengorbanan 1000 Darah



Akhirnya Gu Yuena kembali ke tempat di mana ia memulai penyerapan monster iblis. Pintu ganda terbuka, membiarkan Gu Yuena masuk ke dalam untuk melihat segala perubahan dalam altar.


Tulang iblis telah menjadi inti altar, menyalakan sinar merah yang pekat seperti darah disertai energi gelap yang berkeliaran. Itu belum diaktifkan, tapi sudah mengeluarkan aura kematian luar biasa.


Fokus Gu Yuena yang menatap tulang iblis kini teralih. Tatapannya terlihat malas hanya untuk pergi ke arah Li Hua. Namun, tanpa sadar langkahnya terhenti begitu melihat seseorang.


Pria tinggi bersurai kemerahan serta iris merah yang mirip dengan Gu Yuena. Dia mengenakan jubah hitam, terlihat sangat tegas dan misterius. Namun, ketika matanya tertuju pada wanita yang baru saja masuk ke ruang altar, kemisteriusan tersebut menghilang digantikan kehangatan.


"Nana." Dia tersenyum, lalu menghampiri Gu Yuena yang memaku.


Perasaan Gu Yuena menjadi rumit. Sebelumnya, ia sangat ingin bertemu pria itu. Tapi sekarang, di situasi seperti ini, ia merasa tidak berdaya.


Kakaknya ... ada di depannya, memanggilnya, dan menyentuh kepalanya dengan halus. Tatapan seorang kakak yang Gu Yuena rindukan kini hadir di depannya. Gu Yuena benar-benar tidak tahu harus berekspresi bagaimana.


"Kak ...." Gu Yuena mengerucutkan bibirnya, lalu memeluk pria itu dengan erat. Gu Yuan sempat tergelak akan reaksi tak terduga Gu Yuena, ia pun mengusap bahu Gu Yuena dengan lembut.


Gu Yuena melepas pelukan, lalu melihat Gu Yuan kembali dengan teliti. Penampilan dan auranya banyak berubah daripada beberapa tahun yang lalu.


Sudah tujuh tahun ... ada banyak perubahan di antara mereka.


"Kamu sudah besar." Gu Yuan mengusap pucak kepala Gu Yuena.


Tatapan rindu Gu Yuena berubah dalam sekejap. Melihat mata kakaknya dalam-dalam, dia teringat akan sesuatu. Li Hua pernah berkata bahwa ia dan Gu Yuan dikirim ke dunia lain bersama jiwa ayahnya dan hidup bersama. Itu berarti, kakak di depannya benar-benar kakaknya, bukan hanya sekadar mirip.


Tatapan itu berubah menjadi kesedihan. Gu Yuena menunduk, lalu menghela napas untuk menekan perasaan sakit di hatinya. Mengingat tragedi masa lalu, membuatnya sangat sakit.


Di dunia lain, Gu Yuan mati di depannya. Gu Yuan adalah agen di sebuah komunitas, sering melakukan hal berbahaya. Ketika Gu Yuena mengikuti Gu Yuan karena penasaran apa yang pria itu kerjakan selama mereka pindah ke luar negeri, ia hanya dapat melihat Gu Yuan yang meninggalkannya dalam ledakan bom di sebuah bangunan.


Saat itulah awal dari segalanya. Keberadaan Gu Yuena ditemukan dan diajak oleh ketua tim Gu Yuan untuk bergabung, dengan alasan balas dendam. Gu Yuena yang masih terlalu muda dan mudah dimanipulasi mengikut ke komunitas tersebut, dan menjadi dekat dengan ketua tim yang pada akhirnya akan membunuhnya.


Itu adalah cerita lama. Wajar jika ketua tim membunuhnya. Gu Yuena berkhianat karena komunitas itu meminta ketua timnya membunuh keluarga yang menampung Gu Yuena dan Gu Yuan setelah orang tua mereka meninggal. Sampai sekarang, ia masih tidak merasa bersalah.


(Bagi yang penasaran, di Bab 1 sudah diceritakan alasan Gu Yuena dibunuh. Untuk mengetahui tentang 'ketua tim' selengkapnya, bisa mampir ke novel sebelah yang sudah kutamatkan~)


Itu adalah hari yang buruk bagi Gu Yuena. Lebih baik melupakannya. Bagus jika kakaknya hidup kembali.


"Kau semakin tua." Gu Yuena tersenyum mengejek.


"Apakah begitu?" Gu Yuan terkejut. Perasaan usianya belum sampai 30.


Gu Yuena mengangguk. "Lebih terlihat seperti sepantaran ibu." Ibunya sendiri terlihat sangat muda dibanding usianya.


"Apa kau sedang memuji atau sedang mengejek?" Gu Yuan merasa gemas dan mencubit pipi Gu Yuena.


"Tidak bermaksud mengganggu reuni, tapi waktu bulan merah akan berakhir." Li Hua tiba-tiba muncul di antara mereka, mengingatkan bahwa waktu yang tepat hampir habis.


Gu Yuena dapat melihat langit gelap dan bulan yang bersinar dengan warna merah. Tulang iblis menjadi media penyerapan energi bulan, menyebarkannya ke altar.


Dia segera mendekat, lalu berdiri di salah satu sudut altar. Ketiganya mengelilingi altar dengan energi masing-masing. Di tengah altar, sudah terdapat sebuah peti mati di mana seseorang tertidur di dalamnya.


Li Hua memulai pembangkitan altar. Tulang iblis diaktifkan, memancarkan sinar merah yang pekat dan menghiasi altar dengan darah.


Gu Yuena dan Gu Yuan ditugaskan untuk mempertahankan altar dari gejolak kekuatan tulang iblis. Kekuatan tulang iblis tidak dapat diprediksi. Jika energinya terlalu kuat, efek dari tulang iblis dapat menghancurkan altar dalam sekejap. Pengorbanan 1000 darah akan gagal.


Untuk mempertahankan altar pengorbanan 1000 darah, harus menggunakan kekuatan jiwa yang dimiliki oleh garis darah yang sama dengan target pengorbanan 1000 darah. Gu Yuena dan Gu Yuan adalah satu-satunya keturunan Keluarga Gu Istana Linghun, sedangkan Li Hua adalah perantara untuk mengaktifkan altar dan membangkitkan roh.


Kekuatan Li Hua bukan sesuatu yang dapat diukur kembali. Ketika menikah dengan Gu Ying, kekuatannya sudah mencapai tingkat 9. Ia hidup ribuan tahun di Dunia Bawah sampai bisa mengendalikan jiwa-jiwa yang mati. Mengaktifkan altar pengorbanan 1000 darah akan menggunakan ribuan tahun kultivasinya. Tapi itu sepadan untuk menghidupkan kembali Gu Ying.


Ia akan mendapatkan cintanya kembali.


Memikirkannya membuat Li Hua sangat senang. Ia sangat berharap segalanya bisa kembali sempurna seperti di dunia itu. Ia telah membuat kedua anaknya kembali ke tempat ini dan bertemu, tinggal membangkitkan Gu Ying untuk melengkapi kebahagiaan mereka.


Cahaya merah itu mengelilingi Gu Ying. Peti mati hitamnya memancarkan cahaya merah pekat dari bawah altar, lalu mengitari tubuh dingin pria itu.


Darah naga tidak bisa berinkarnasi. Ketika mati, jiwa mereka akan tercerai-berai dan tidak akan pernah ditemukan. Namun, Li Hua telah berhasil mempertahankan jiwa Gu Ying di dalam tulang iblis sebelum tercerai-berai, kini menyatukannya bersama 1000 darah untuk menghidupkannya kembali.


Ketika jiwa dan darah bersatu, maka kehidupan akan bangkit. Itulah yang terjadi saat sinar merah darah terus terserap ke dalam jiwa yang menyatu dengan tubuh fisik di dalam peti.


Mengetahui hal itu, Gu Yuena sangat terkejut. Ternyata selama ini, ia selalu membawa jiwa ayahnya selama di Dunia Bawah.


Di sisi lain, Gu Yuan tidak terlihat terkejut, sepertinya ia sudah tahu. Gu Yuena memandangnya sekilas, lalu menghela napas. Entah berapa banyak lagi yang tidak ia ketahui.


Kekuatan Li Hua semakin terkuras. Tekanan dalam tulang iblis terlalu besar sampai menyebabkan kekuatan spiritual mengalami cedera. Mulut Li Hua meneteskan darah, tapi dia sama sekali tidak berhenti menyalurkan kekuatan spiritualnya.


Tulang iblis berhasil memadatkan jiwa yang sebelumnya hampir hancur berkeping-keping, kembali ke tubuh asal. Kekuatan tulang iblis semakin kuat ketika lonjakan energi spiritual terjadi, menghempaskan Gu Yuena dan Gu Yuan secara bersamaan sehingga jaringan kekuatan spiritual mereka terputus.


Tulang iblis yang sebelumnya melayang di udara, mendarat di atas tubuh Gu Ying. Cahaya bulan merah semakin pekat, menyebar ke seluruh dunia disertai sambaran petir akibat telah menentang langit.


Di luar sana, bulan merah terlihat sangat jelas. Iblis semakin kuat dan menyebabkan masalah. Dunia Bawah juga terkena efek bulan merah. Para iblis semakin tidak terkendali dan menerobos pembatas alam, menyebar ke seluruh dunia.


Ini seperti pembangkitan dewa iblis.


Gu Yuena menyaksikan tulang iblis masuk ke dalam tubuh Gu Ying. Sinar merah berubah menjadi hitam pekat, dipenuhi aura kegelapan. Sedangkan Li Hua terlihat sangat senang dan penuh harap.


"Akhirnya ...." Li Hua melihat ke arah suaminya. Sinar di kedua tangannya menghilang, sedangkan tubuhnya runtuh ke lantai karena terlalu lelah. Ia berusaha mempertahankan kesadarannya sambil bangkit berdiri untuk menghampiri peti mati di tengah altar.


Wajah Gu Ying masih sangat pucat dan dingin. Matanya tertutup rapat seperti sedang tertidur. Terlihat sangat tampan.


Li Hua melihatnya dengan perasaan gelisah. Sinar merah di sekitar altar masih menyala, mengalir ke peti mati dan menembus saraf tubuh Gu Ying. Li Hua masih menunggu, sambil melihat dengan wajah pucat yang tampak sedih.


"Apa berhasil?" Gu Yuena melirik Gu Yuan dengan perasaan rumit. Gu Yuan segera bangkit, menghampiri Gu Yuena untuk membantunya bangun dan berdiri tepat di tepi altar yang menyala.


Li Hua tidak bisa membayangkan bila usahanya sia-sia. Ia mengorbankan kultivasi ribuan tahunnya untuk ini. Pemikiran berbahaya muncul ketika mengira bahwa pengorbanan telah gagal.


Ia membutuhkan darah lebih banyak.


Namun, pemikiran bahaya tersebut berakhir ketika menyadari pergerakan seseorang. Sepasang kelopak mata di dalam peti mati bergerak, disertai kerutan kening yang tampak seperti menahan rasa sakit.


Li Hua terkesiap. Ia mendekati Gu Ying, menyentuh wajahnya dengan lembut berusaha membantu meredakan rasa sakit. Tulang iblis sedang menyatu memberinya kehidupan, itu mungkin akan memberinya rasa sakit luar biasa.


Tak apa, asal Gu Ying bisa hidup kembali.


Ekspresinya menjadi rumit. Melihat wajah cantik dan pucat wanita itu, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ingatan demi ingatan muncul, dua dunia yang menyatu dalam satu ingatan dan memberinya perasaan yang baru.


"Hua'er," lirihnya. Tangan dinginnya meraih wajah cantik Li Hua dengan lembut.


Li Hua sempat terkejut, tidak menyangka Gu Ying akan ingat semuanya setelah sekian lama. Tapi ia menyingkirkan semua pemikiran negatif itu dan menangkup tangan yang menyentuh pipinya dengan perasaan haru. Air mata menetes di mata merahnya, sebelum akhirnya menunduk ketika membebaskan air matanya.


Gu Yuena dan Gu Yuan hanya melihat dalam diam. Mereka terkejut melihat Li Hua yang menangis. Wanita itu biasanya sangat kejam dan tertawa saat membunuh, penyuka darah dan kehancuran. Kini wanita itu terisak di atas peti mati yang terbuka.


Mereka seperti sedang melihat sosok ibu mereka yang pernah mereka lihat dulu.


Gu Yuan penasaran dan melangkah ke arah Li Hua. Ia melihat Gu Yuena yang hanya diam di tempat dalam ekspresi kosong, lalu menuntun tangannya agar ikut.


Gu Yuena tersentak melihat Gu Yuan menuntunnya, ia pun melangkah. Pikirannya rumit, hatinya juga rumit. Ia sadar apa yang Li Hua lihat sehingga tidak tahu harus berekspresi bagaimana.


Ketika pandangannya melihat sosok pria yang pernah dikenalnya itu membuka mata, menunjukkan tatapan kasih sayang pada ibunya, hati Gu Yuena merasa sesak.


Apa itu adalah orang yang pernah menjadi ayah baginya dulu? Orang yang pernah memanjakannya lalu meninggalkannya begitu saja?


Melihat wajah itu, Gu Yuena merasa segala kesangan pahit di masa lalu terulang. Gambaran ketika Gu Yuena kecil melambaikan tangan di depan gerbang sekolah sambil melompat-lompat, menyapa pria yang membawakan kue ulang tahun di seberang jalan.


Ketika lampu pejalan kaki menjadi hijau, pria itu menyebrang. Tapi sebuah mobil melintas tanpa aturan seperti telah menggila dan menyebabkan kecelakaan menyedihkan begitu saja.


Gu Yuena nyaris tidak percaya orang yang terbaring di peti mati itu adalah ayahnya. Wajahnya masih sama seperti dulu, hanya sedikit lebih dewasa dari Gu Yuan. Ayahnya sudah mati sangat lama, tapi Gu Yuena tidak bisa menyangkal apa yang dilihatnya saat ini.


Rasanya terlalu menyedihkan, juga membahagiakan di saat yang sama.


Gu Yuan sama terdiam seperti Gu Yuena. Meski ia tidak menyaksikan kematian itu secara langsung, perasaan melihat sosok yang akrab di peti mati pemakaman serta foto yang dirangkai karangan bunga sangat menyakitkan. Apalagi dia menyaksikannya dua kali.


Pandangan Gu Ying terarah pada Gu Yuan dan Gu Yuena bergantian. Senyumnya yang lembut terpatri, melihat dua anaknya tumbuh sangat baik. Gu Yuena adalah yang paling ia sayangi. Ketika di kehidupan fana itu, ia tidak akan melupakan hari-harinya saat menjadi manusia biasa bersama mereka.


Gu Yuena pasti merasa sangat terpukul melihat kematiannya secara langsung. Dia masih sangat kecil saat itu.


Gu Ying ingin mengatakan sesuatu, tapi lehernya terasa sangat sakit. Tubuhnya juga. Li Hua dengan sigap membantu Gu Ying yang ingin bangun dari posisinya, lalu memanggil pelayan yang kompeten untuk membantu.


Beberapa pelayan masuk ketika dipanggil menggunakan telepati. Dengan sigap membawakan jubah yang telah disediakan, lalu menutupi Gu Yuan yang mengenakan pakaian tipis.


Pria itu masih dalam kondisi lemah. Dia terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, membuat mereka khawatir. Itu adalah efek dari tulang iblis. Ia tidak lagi memiliki kekuatan naga yang pernah dilatihnya di masa lalu, hanya ada kekuatan iblis yang korosif dari tulang iblis. Itu sebabnya, tubuhnya menjadi rentan.


Gu Yuena hanya diam melihat mereka pergi. Tatapannya tetap kosong, sedangkan Gu Yuan di sampingnya masih menggenggamnya. Gu Yuan terlihat bahagia dan lega, tapi Gu Yuena dipenuhi keraguan dan kekosongan.


"Apa dia benar ayah kita?" tanya Gu Yuena.


Gu Yuena menatap Gu Yuena, lalu tersenyum. "Kamu harus yakin segalanya akan baik-baik saja."


Gu Yuena masih penuh keraguan. "Tidak. Ada sesuatu."


Gu Yuan tidak tahu, tapi Gu Yuena tahu. Gu Yuena telah berinteraksi sangat lama dengan darah naga dan telah memahaminya. Gu Ying memiliki darah naga. Kekuatan naga yang digantikan kekuatan iblis begitu saja akan membuatnya berada di kondisi kritis.


Apalagi, tidak ada darah phoenix lain selain Gu Yuena. Meskipun ada, itu tidak lagi dapat ditangani oleh darah phoenix.


Pengorbanan 1000 darah digunakan untuk membangkitkan kematian atau meningkatkan kekuatan. Namun, sesuatu yang dijadikan objek akan berubah menjadi iblis. Jika tidak, hanya akan ada kematian.


Gu Ying kehilangan kekuatannya. Tapi kutukan darah naga akan terus ada. Itu akan memburuk selama tulang iblis ada di tubuhnya. Kalau begitu, kondisinya sama saja seperti menunggu kematian. Hidupnya sangat singkat, lebih singkat dari darah phoenix.


"Apa yang kamu pikirkan?" Luo Yi bertanya saat melihat Gu Yuena merenung sendirian di halaman istana. Ia duduk di sebelah Gu Yuena, memandangnya dengan penasaran.


"Bukan apa-apa." Gu Yuena mengalihkan pandangan dan memasang wajah acuh tak acuh. Ia melihat Luo Yi, lalu bertanya, "Kenapa kau memilih tinggal di sini?"


Luo Yi tersenyum, lalu menjawab, "Aku memilih mengikuti Gu Yuan."


"Klan Luo membutuhkanmu. Kau tahu betapa menyebalkannya Luo Zhiyi ketika menyalahkanku karena kau yang menghilang bersama kakakku."


Luo Yi menghela napas. "Apa terjadi sesuatu pada Klan Luo?"


"Ketua Klan sakit parah, diprediksi tidak akan hidup lama. Luo Zhiyi telah didesak untuk menjadi penerus, tapi dia belum siap. Kamu tenang saja, aku sudah merawat Ketua Klan, dia akan baik-baik saja. Hanya saja, jika sesuatu benar-benar terjadi, posisi ketua klan benar-benar akan kosong."


"Aku tidak pernah bermaksud menjadi penerus." Luo Yi menunduk, tampak memikirkan sesuatu. Mereka menuntutnya untuk menjadi wanita sempurna, memiliki kekuatan dan prestasi besar untuk menutupi segala kontroversi Luo Zhiyi. Ia pernah didesak untuk menjadi penerus karena Luo Zhiyi ingin hidup bebas. Tapi itu semua bukan keinginannya.


"Aku mengerti perasaanmu." Gu Yuena bersandar sambil menghela napas, "Aku berpikir untuk menyerahkan tahta phoenix pada phoenix lain yang lebih kompeten. Tapi ... aku tidak bisa melakukannya. Itu hanya akan membuat kekacauan. Jadi, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau menyukai kebebasan, semua orang menginginkannya. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkannya."


"Jika aku menjadi Ketua Klan, aku akan terikat di sana dan tidak bisa bersama orang yang kucintai. Gu Yuena, aku adalah orang yang egois. Sangat tidak pantas mendapatkan posisi itu." Luo Yi tidak peduli pada kekecewaan orang lain. Mereka bukan orang tuanya, hanya para paman dan bibi yang terus menuntutnya. Tidak ada hubungan dengannya.


Gu Yuena terkekeh. "Sepertinya tinggal di Istana Linghun membuatmu benar-benar berubah."


"Aku lihat kau tampak tidak senang atas bangkitnya Raja Istana Linghun. Dia adalah ayahmu." Luo Yi mengalihkan topik. Ia datang untuk menanyakan hal ini. Gu Yuan sendiri tidak tahu mengapa Gu Yuena terlihat suram.


Gu Yuena menggeleng pelan. "Hanya teringat masa lalu," katanya. "Aku sangat senang sampai tidak tahu harus melakukan apa. Tapi di sisi lain, aku juga sedih. Apa aku akan ditinggal untuk yang kesekian kali?"


"Raja sangat sehat, Ratu juga menemaninya setiap saat dan tidak akan terjadi sesuatu. Jika ingin memastikan, kamu bisa menemuinya."


Gu Yuena diam untuk beberapa saat. Rasanya sangat asing setelah lama tidak bertemu, membuatnya merasa canggung. Apa yang harus ia katakan di depan Gu Ying?


Menunjukkan kesenangannya? Kekecewaannya? Atau kekhawatirannya? Apa yang akan dikatakan Gu Ying padanya?


Li Hua di dunia itu dan dunia ini jauh berbeda. Ia tidak yakin pria itu akan memiliki sikap yang sama seperti di dunia itu. Bagaimanapun, di sini, dia adalah penguasa sebuah istana yang telah hidup selama ribuan tahun di Dunia Bawah. Berbeda dari pria biasa yang bekerja kantoran untuk keluarga kecilnya.


Gu Yuena jadi merindukan kehidupan dunia modern.


"Apa dia akan ingat aku?" Gu Yuena masih ragu. Terlalu ragu sampai merasa takut.


"Dia akan mengingatmu." Luo Yi meyakinkan. Ia sudah mendengar segalanya dari Gu Yuan, jadi paham mengapa Gu Yuena sangat khawatir.


Gu Ying akan ingat pada Gu Yuan, tapi Gu Yuena tidak pernah lahir di dunia ini saat Gu Ying masih hidup. Gu Yuena lahir saat Gu Ying sudah mati dan hanya bertemu sebagai ayah dan anak saat di dunia modern yang sudah seperti mimpi. Wajar jika dia merasa asing.


"Percayalah pada apa yang kamu ingin percaya." Luo Yi menangkup tangan Gu Yuena, memberinya semangat.


Gu Yuena tertekan, tapi tetap mengangguk pelan. Yah, tidak akan tahu kalau tidak mencoba.