Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
79. Persaingan Lima Istana



Waktu pertemuan semakin dekat. Para perwakilan istana yang telah tiba diarahkan untuk pergi ke istana di wilayah pegunungan Kota Yin di mana acara akan dilaksanakan.


Istana yang begitu megah dan luar biasa mewah. Itu bahkan lebih megah dari istana kekaisaran sehingga banyak dari mereka yang baru pertama kali datang langsung terpana.


Perwakilan utama masing-masing istana jelas tidak akan seheboh itu. Bahkan perwakilan Istana Tianshuang yang menjadi norak ketika di kota, kini hanya berjalan dalam diam seolah sudah terbiasa akan pemandangan megah seperti itu.


Pada dasarnya, Istana Tianshuang tidak beda jauh dengan tempat membosankan ini. Justru lebih besar sehingga mereka sama sekali tidak terkejut. Lebih tepatnya, mereka terlihat seperti kelompok bangsawan yang datang dengan aura tenang dan dingin yang tidak biasa.


Benar-benar berbeda.


Tak sedikit yang memandang tinggi mereka sampai merasa sungkan untuk mendekat. Terasa sangat dingin.


Jin Xiao melihat murid-murid istana yang tampak norak itu dengan tatapan merendahkan. Untung saja Istana Luye tidak akan senorak itu. Lihat saja, ia akan berhasil menarik Istana Tianshuang ke dalam pihak Istana Luye.


Tepat ketika Jin Xiao berpikir demikian, beberapa perwakilan Istana Tianshuang justru bereaksi ketika melihat perwakilan Istana Yuansu berdatangan.


Apalagi ketika salah seorang pria di dekat perempuan bergaun merah pergi bergabung dengan perwakilan Istana Tianhsuang. Mereka tampak akrab. Jin Xiao tidak percaya akan apa yang dilihatnya.


"Sialan!" Ia mengumpat diam-diam sambil mengutuki perempuan tidak tahu aturan itu. Bisa-bisanya ingin bersaing dengannya.


"Senior Jin, sepertinya perempuan itu tidak biasa." Murid yang mengikutinya melihat Gu Yuena dengan skpetis.


"Tapi dibandingkan dengan Senior, dia bukanlah apa-apa. Kami akan mendukungmu."


Mereka melantunkan kata-kata pujian dan semangat untuk Jin Xiao, membuat perempuan itu menunjukkan kepercayaan dirinya. Benar, perempuan antah berantah itu tidak sebanding dengannya.


Sedangkan di sisi Istana Yinyang, Gu Yihan yang melihat kehadiran Gu Yuena tidak menampilkan ekspresi apa pun. Sejauh ini, ia berada di posisi netral. Tapi ia harus berada di pihak Klan Ye yang bertolak belakang dengan Gu Yuena jika ingin bertahan hidup.


Pada akhirnya, ia harus memusuhi perempuan itu.


Berbeda dari Gu Yesha. Sejak kematian ayah dan ibunya, Gu Yesha menjadi semakin pendiam dan menetap di Akademi Yinyang seolah menunggu keajaiban tiba. Meski Tetua Gao telah memberinya tempat, pemuda yang biasanya sangat riang itu kini menjadi redup dan tanpa ambisi.


Anak-anak adipati Gu benar-benar terlantar tanpa latar belakang keluarganya.


Sebenarnya, seharusnya Gu Yuan atau Gu Yihan meneruskan posisi adipati sesuai aturan kekaisaran. Tapi Gu Yuan menghilang, sedangkan Gu Yihan mundur, memilih pergi ke Klan Ye. Tersisa Gu Yesha dan Gu Yuena yang masih tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun mengenai kepemilikan posisi adipati.


Lama kelamaan, Adipati Gu benar-benar akan menghilang jika mereka terus seperti ini.


Gu Yihan menghela napas. Dilihat-lihat, Gu Yuena sepertinya tidak tertarik pada posisi adipati dan lebih memilih mencari Gu Yuan. Ia hanya bisa mengharapkan Gu Yesha yang masih tahap pemulihan mental.


Setelah beberapa lama menunggu di halaman istana, pintu utama istana terbuka, membiarkan mereka semua masuk ke dalam dengan tertib.


Istana ini dijaga oleh seorang pria tua yang tidak diketahui asal-usulnya. Yang jelas, pria tua yang selalu memegang tongkat dan memiliki punggung bungkuk itu memiliki kemampuan tidak biasa.


Jangan menilai seseorang dari covernya.


Pria tua itu berdiri di tengah ruangan besar, membiarkan para perwakilan lima istana memasuki aula. Karena istana ini memiliki sihir, segala sesuatu di dalamnya beroperasi secara mandiri.


Pintu di belakang sana tertutup dengan sendirinya.


"Pertemuan antar-istana ini dibuka untuk memperbaiki hubungan seluruh istana dan menstabilkan dunia. Raja Istana masing-masing telah memberi kalian pesan dan dapat dilaksanakan di tempat ini. Segala pertumpahan darah dilarang, apa pun konfliknya. Jika tidak, maka aku berhak memberi hukuman pencabutan basis kultivasi dan pengasingan."


Pria tua itu berkata dengan nada perlahan, namun memiliki bobot yang cukup berat hingga membuat semua orang tertekan. Aura yang dikeluarkan tidak kalah dari para raja tiap istana.


"Untuk itu, silahkan pergi ke tempat yang sudah dialokasikan untuk masing-masing istana." Pria tua itu menghentakkan tongkatnya, membuka enam pintu yang mewakili tiap istana  dari lorong di belakangnya.


Mulai sekarang sampai acara tiba, mereka akan menginap di sini.


Mereka bergegas berjalan ke pintu masing-masing istana. Tak terkecuali Gu Yuena yang mengikuti rombongan sambil melihat-lihat segala hal di sekitar.


Pandangannya teralih pada pria tua itu, sedangkan pria tua itu juga melihatnya dengan selidik. Gu Yuena membuang wajah, lalu melihat Jin Xiao yang menatapnya dengan angkuh.


Gu Yuena tersenyum misterius, lalu menekukkan lututnya untuk memberi salam ala-ala putri dari Wyvernia. Hal itu membuat Jin Xiao harus membalikkan salamnya menggunakan salam Istana Luye, secara terpaksa untuk mempertahankan wajah.


Ah, senang sekali membuat orang kesal.


Xiao Hei di pelukannya tertawa. Sedangkan ular kecil yang duduk di bahunya hanya rebahan malas. Xiao Bai di sisi lain memilih berjalan mandiri layaknya kucing terhormat sambil menegakkan kepala di samping kaki nonanya.


Orang yang melihatnya mungkin akan berpikir bahwa Gu Yuena adalah seorang summoner yang mengoleksi hewan imut.


Pandangan Gu Yuena teralih pada pintu yang begitu sepi tanpa seorang pun memasukinya. Itu adalah pintu khusus Istana Linghun.


Pikiran untuk memeriksanya terlintas begitu tiba-tiba. Tapi apa itu bisa dilakukan?


Ular kecil di bahunya sadar akan pemikiran berbahaya Gu Yuena ketika melihat ruang gelap yang terbuka tersebut. Kadang, pemikiran Gu Yuena akan mudah ditebak bagi seseorang yang memahami sifatnya.


Itu kadang-kadang, lho.


Siapa yang tahu apa yang akan Gu Yuena lakukan setelah ini.


Gadis itu masuk bersama Yun Qiao dan yang lain untuk memastikan ruangan pribadi mereka. Tiap ruang di istana ini memiliki desain khusus yang mewakili karakteristik tiap istana.


Seperti Istana Yuansu yang dipenuhi kemewahan dan keeleganan layaknya sebuah kerajaan.


Istana Tianshuang dingin dan terasingi, anggap saja hitam-putih yang lebih memperhatikan ketenangan dalam kenyamanan.


Istana Luye dipenuhi dengan harta para alkemis dan memiliki nuansa alam yang khas untuk pengobatan.


Istana Yinyang terdiri dari sebuah keseimbangan antara yin dan yang sehingga memiliki kesan netral.


Terakhir, istana yang jarang disebutkan, Istana Tao yang terdiri dari para biksu yang mempelajari ilmu tao dan keseimbangan. Tempat mereka biasanya berupa kuil.


Istana keenam selalu menjadi misteri dan sejarah kelam yang menakutkan, Istana Linghun. Ruangan di mana orang-orang Istana Linghun seharusnya berada kini kosong dan dipenuhi kegelapan yang dalam.


Di wilayah Istana Yuansu, tempat di mana ada banyak lorong layaknya sebuh mansion besar. Gu Yuena melihat ruangan yang pintunya sudah tertuliskan namanya.


Tiap kamar memiliki nama anggota yang datang. Itu telah terdata sejak mereka melangkah masuk ke dalam wilayah istana.


Di dalam istana megah layaknya berada di abad pertengahan, Gu Yuena memperhatikan sekeliling yang sepi. Sepertinya semua orang sedang menikmati waktu mandiri. Hanya ia yang menganggur, tidak tahu ingin melakukan apa.


"Apa aku berkultivasi saja?" Gu Yuena bertanya pada diri sendiri. Hidupnya benar-benar membosankan, bukan?


Ia pun memasuki kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hallo?"


Gu Yuena terkejut ketika melihat sekitarnya yang begitu sepi dan gelap. Ini bukan tempat gelap di mana ia pernah bertemu Ratu Istana Linghun, tapi sebuah tempat yang aneh.


Ia merasa seperti berada di sebuah bangunan istana, namun memiliki banyak patung aneh di berbagai sisi seperti museum. Tidak ada penerangan, tapi Gu Yuena masih dapat melihat dengan jelas.


Ia dapat melihat banyak rak buku yang seolah digunakan sebagai dinding. Buku-buku terlihat sangat tua dan memiliki bahasa yang tidak dipahami. Sebenarnya di mana ia berada?


"Xiao Bai, Xiao Hei, apa kalian mendengarku?" Gu Yuena mencoba menghubungi ruang spiritual, tapi tidak mendengar sahutan apa pun.


Detik berikutnya, ia merasakan beberapa napas aneh yang hadir di ruangan ini. Napas samar yang memiliki jumlah lebih dari lima orang. Jelas-jelas ia tidak melihat siapa pun yang hadir.


Kecuali patung-patung yang berdiri di sekitarnya. Napas itu seolah berasal dari patung dan sedang menatapnya.


Gu Yuena merasa diperhatikan.


Ini bukan tempat yang aman.


Ia harus mencari jalan keluar.


Gu Yuena melangkah dengan langkah lebar menelusuri seluruh tempat. Tempat ini sangat luas seperti berada di istana, sehingga sulit baginya untuk menemukan jalan keluar.


Di saat semua napas itu menjadi lebih jelas dan semakin banyak, Gu Yuena mendengar suara langkah kaki.


Ia ingin mengeluarkan senjatanya, tapi kekuatannya ditekan sampai tidak bisa digunakan. Mau tidak mau Gu Yuena harus bersembunyi di dalam lemari yang tidak terkunci untuk mengamati situasi.


Hah, ini terasa seperti film horor.


Bagaimana ia bisa berada di sini?


Suara langkah kaki itu semakin dekat, diiringi napas berat yang terdengar. Kekuatan aneh sosok itu begitu terasa, menyentuh bagian terlemah Gu Yuena yang membuat perasaan takut menghampirinya.


Perasaan ini, seperti saat bertemu dengan kabut hitam yang ia temukan di kediaman.


Gu Yuena mengintip melalui celah lemari. Benar saja, gumpalan kabut hitam melintas di depannya membawa aura kuat yang membuat suasana sekitar menjadi dingin.


Sepertinya tidak hanya satu, mengingat napas berat itu terasa di berbagai tempat termasuk di belakang lemari. Mereka seolah sedang mencari Gu Yuena.


Ketika suara langkah kaki itu berhenti, sepertinya telah menjauh, Gu Yuena melepas rasa tegangnya. Ia kembali mengintip.


Aneh, semua napas itu hilang seketika.


Meski begitu, Gu Yuena tidak melonggarkan kewaspadaan. Ia masih memperhatikan sekitar dengan waspada.


Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Napas itu kembali, namun lebih dekat seolah ada di hadapannya.


Gu Yuena menolehkan pandangannya ke atas. Iris merahnya mendapati sepasang cahaya merah yang merupakan mata sosok kabut hitam yang muncul tepat di atas lemari.


Mata merah itu melihatnya!


"Mati!"


Gu Yuena membuka matanya lebar-lebar ketika suara berat itu memenuhi pendengarannya. Telinganya berdengung seketika. Tapi yang ia lihat kali ini bukanlah ruangan aneh dan sepasang mata merah yang mengerikan, tapi itu adalah sepasang iris biru malam yang tepat berada di hadapannya.


Sangat dekat ....


Gu Yuena ingin berteriak, tapi lehernya tercekat sampai tidak bisa sedikit pun bersuara. Detik berikutnya, pemilik iris biru malam itu menghilang begitu saja seolah ia adalah hantu.


Barulah Gu Yuena mendapatkan kewarasannya lagi. Gadis itu bangun dari posisi tidurnya, lalu melihat sekitar dengan penuh kewaspadaan.


Hanya mimpi ....


Pandangannya teralih pada ular kecil yang masih tertidur, serta Xiao Hei dan Xiao Bai juga tidur pulas di dekatnya.


Ia melihat ke arah jendela yang terbuka. Langit masih gelap, sedangkan ia kehilangan minat untuk kembali tertidur.


Mimpinya terlalu buruk.


Gu Yuena menghela napas sambil mengusap wajahnya frustrasi. Biasanya ia selalu bermimpi tentang masa lalunya yang kelam maupun teror ibunya. Ini kali pertamanya memimpikan ruangan aneh dan beberapa kabut hitam yang mengerikan.


Apa itu suatu petunjuk?


Gu Yuena gelisah sampai tidak sanggup memikirkannya. Ia beranjak dari tempat tidur, pergi ke balkon kamarnya untuk melihat dunia luar.


Angin yang berhembus begitu menyejukkan, menerjangkan jubah tidur dan rambut indah itu. Melihat langit malam yang penuh bintang dan disinari oleh rembulan, Gu Yuena merenung sendirian.


Tiap kali melihat langit malam, ia teringat pada seseorang, dan entah kenapa hal tersebut menenangkannya.


Gu Yuena jadi kepikiran tentang sepasang mata yang ia lihat barusan. Apa saking takutnya ia, sampai hal random muncul di kepalanya untuk dijadikan pelampiasan?


Sayangnya, Gu Yuena tidak tahu, apa yang ia lihat bukanlah ilusi atau khayalan semata.


Bai Youzhe dalam bentuk roh di dalam sana menghadap pintu balkon, melihat punggung Gu Yuena dalam diam.


Ia telah melihat apa yang Gu Yuena lihat barusan.


Atau lebih tepatnya, ia pernah berada di tempat yang sama. Itu adalah tempat yang mengerikan yang dapat memberi trauma besar.


Bai Youzhe ingin menghampiri gadis itu, lalu mengatakan agar jangan takut karena ia ada di sini. Tapi ia tidak bisa melakukannya sekarang.


Karena ia akan pergi.


Malam ini adalah malam terakhir rohnya dapat bertahan berkeliaran di luar. Ia akan berusaha secepatnya menyelesaikan masalah utama dan pergi menemui Gu Yuena.


Masalahnya, ada bahaya lain di luar sana sedang menghampiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Acara pertemuan antar-istana telah dimulai.


Pria tua yang menjaga istana utama telah menyiapkan aula perjamuan sebagai tempat bertemunya para perwakilan istana. Itu adalah tempat yang indah dan megah, memiliki panggung besar yang biasa digunakan untuk melakukan pertunjukkan bakat dan persaingan.


Ada banyak perwakilan istana yang menunjukkan bakat terbaik mereka. Dimulai dari pertarungan, persaingan membuat pil, persaingan kekuatan monster, sampai pertunjukkan seni.


Gu Yuena telah mempersiapkan diri untuk menunjukkan tariannya yang diiringi lagu dari Jin Xiao. Gaun merah yang ia kenakan sangat cantik dan mudah dibuat bergerak, terutama bertarung.


Dan yang paling penting adalah kenyamanan. Pakaiannya tidak terbuka atau pun terlalu tertutup. Lebih tepatnya, ia mengenakan rok panjang dengan belahan rok yang dapat membebaskan gerak kakinya. Selain itu, ia juga mengenakan jubah bludru mengingat saat ini sudah memasuki musim dingin.


Gu Yuena tampak lebih bersinar akan penampilan luar biasanya.


Jin Xiao di sisi lain tak kalah menarik. Ia mengenakan gaun putih yang menunjukkan feminitas seorang wanita serta beberapa aksesoris sederhana tapi mahal. Penampilan itu menonjolkan kecantikan dan keeleganan yang dimilikinya.


Kedua perempuan itu sangat menarik perhatian. Apalagi ketika keduanya berdiri berdampingan, seolah meminta semua orang membandingkan mana yang paling sempurna di antara keduanya.


Tentu saja Jin Xiao yang terlebih dahulu menghampiri bersama rombongannya yang menggeser para perwakilan Istana Yuansu. Itu membuat Gu Yuena dikerubungi orang-orang dari Istana Luye yang menatapnya dengan intens.


Gu Yuena merasa tergelitik akan tatapan itu.


"Sebentar lagi kita akan menaiki panggung. Tidak perlu gugup, aku sangat ahli bermain kecapi dan tidak akan mempersulitmu." Bagaimanapun, tarian harus senada dengan musik. Ia bisa bebas melantunkan musik apa pun untuk mempermalukan Gu Yuena.


Sayangnya, Gu Yuena tidak terlihat gugup apalagi gelisah. Ia memasang senyum terbaiknya, lalu berkata, "Kemampuan bermusikmu sangat terkenal, aku tidak akan menyangkalnya. Aku akan meminta maaf jika membuat suasana musikmu menjadi tidak baik karena tarianku."


Jin Xiao tertawa. "Bukankah kamu terlalu merendah?" Ia berpikir bahwa Gu Yuena mulai khawatir. Itu sangat menyenangkan.


"Aku tidak merendah. Kita bisa lihat nanti." Gu Yuena tersenyum misterius.


Ia jelas tidak merendah, justru meninggikan perfomanya sendiri yang terlalu baik sampai akan membuat musik Jin Xiao tenggelam. Tapi sepertinya Jin Xiao tidak sadar dan terus berasumsi bahwa Gu Yuena ketakutan.


Biarlah dia berpikir seperti itu, setidaknya untuk saat ini.


Gu Yuena melihat penampilan panggung yang sedang dilaksanakan sambil mengusap bulu Xiao Hei di tangannya.


Omong-omong, entah kemana perginya Xiao Lin. Sejak pagi, ia tidak menemukan ular imut itu. Padahal Xiao Lin belum sembuh total, tapi sudah menghilang begitu saja.


Sampai akhirnya beberapa menit telah dilalui, acara perjamuan menjadi lebih meriah ketika melihat dua sosok gadis menaiki panggung pertunjukkan secara bersamaan.


Masing-masing dari mereka adalah perwakilan utama yang dianggap memiliki masa depan tercerah dari Istana Yuansu dan Istana Luye. Nama mereka belakangan ini menjadi terkenal.


Yang satu telah berhasil menerobos tingkat 7 di usia yang begitu muda dan merupakan murid pribadi Tetua Agung Istana yang misterius, sedangkan yang satu merupakan putri dari Raja Istana Luye dan merupakan kandidat calon penerus tahta istana.


Hanya dengan sekali lihat, mereka sudah tahu kehadiran keduanya di atas panggung adalah untuk bersaing, bukan sekadar mempererat hubungan istana.


Pada umumnya, kedua istana itu sedang mengalami perang dingin meski masih saling ambil untung melalui distribusi pil dan perekrutan bakat. Itu sudah menjadi rahasia umum.


"Mohon bantuannya." Gu Yuena melirik Jin Xiao dengan senyum lebar.


Jin Xiao membalasnya menggunakan senyuman sekilas, sebelum akhirnya pergi ke tempat khusus menggunakan alat musik yang sudah disediakan. Gadis itu duduk di depan kecapi sebening kristal yang tampak begitu indah.


Gu Yuena melepas jubah yang menyelimuti tubuhnya. Penampilannya tampak sangat cantik membuat banyak orang terkesima. Dengan balutan gaun merah yang begitu indah, memadukan antara kesan sexy dan mewah tapi sederhana berdasarkan konsep campuran antara negara timur dan barat, ia terlihat seperti seorang putri.


Jin Xiao menyipitkan mata. Ia iri, tapi tidak bisa menunjukkannya. Tak apa, perempuan tebar pesona itu akan hilang dari dataran cepat atau lambat dan membiarkannya menjadi wanita tercantik di dunia.


Jin Xiao mulai memetik senar kecapi secara perlahan sebagai permulaan. Ia telah memilih lagu dengan tempo cepat dan rumit untuk membuat Gu Yuena jatuh di depan semua orang. Penari amatir itu tidak akan bisa menyeimbangkan nada dan gerakan secara sempurna.


Begitu suara senar kecapi terdengar, beralun begitu merdu, Gu Yuena mulai menggerakkan tubuhnya secara halus. Gerakan yang selaras dan sesuai nada yang lambat.


Tarian Gu Yuena yang indah menarik perhatian mereka dan mulai fokus padanya. Tampak sederhana, namun sulit ditiru. Seolah musik itu adalah bagian dari dirinya.


Jika mereka tidak tahu dua orang itu sedang bersaing, mereka pasti akan berpikir bahwa Gu Yuena dan Jin Xiao sedang bekerja sama membuat penampilan yang luar biasa


Jin Xiao masih tetap tenang. Ini baru permulaan.


Ia menggerakkan tangannya lebih cepat, memainkan kecapi dengan tempo yang lebih tinggi sehingga menambah daya sulit gerakan yang dilakukan Gu Yuena. Ia tersenyum diam-diam sambil menggedakkan jari lentiknya dengan lincah.


Namun, ketika ia melihat ke depan, orang yang seharusnya kesulitan akan perubahan nada yang mendadak justru tampak lebih memukau.


Gu Yuena menari menyamakan langkahnya dengan nada. Ia akui, Jin Xiao pandai menggunakan musik sehingga nada yang dikeluarkan menjadi sangat indah. Semakin indah sebuah nada, Gu Yuena akan menari secara maksimal sehingga tidak tertinggal dengan keindahan nada.


Langkah kakinya selalu tepat dengan tempo musik. Tangannya mengeluarkan percikan api yang menambah kesan sihir pada tariannya. Itu membuatnya terlihat seperti sosok gadis yang menyatu dengan api.


"Aku tidak tahu dia bisa melakukan gerakan rumit itu." Ru Meng yang menonton semakin mengagumi kemampuan Gu Yuena. Sedangkan yang lainnya menonton sambil terdiam.


Di sisi lain, Gu Yihan yang pernah menjadi korban kejutan Gu Yuena saat pernikahan Gu Yueli sama sekali tidak terkejut. Ia jadi merasa kasihan pada Jin Xiao.


Sangat terlihat jelas wajah jelek Jin Xiao melihat Gu Yuena yang begitu gemilang.


"Gu Yuena ..." geram Jin Xiao.


Sepertinya ia harus melakukan sedikit trik.


Ia memainkan kecapi dengan lihai sampai membuat banyak orang kagum. Namun tarian indah Gu Yuena terus menutupi penampilannya.


Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya buruk.


Jin Xiao tersenyum misterius.


Beberapa mage melakukan sihir menggunakan tongkat sihir. Tapi ia bisa melakukannya tanpa menggunakan tongkat sihir.


Alasan ia dapat dipilih sebagai kandidat penerus tahta tak lain karena kemampuannya yang unik. Senjata aslinya adalah apa yang sering ia gunakan, kecapi itu sendiri.


Ia tidak boleh menggunakan kecapinya untuk memengaruhi orang-orang di sini, atau tamatlah riwayatnya. Tapi itu bukan berarti ia tidak bisa mengganggu tarian Gu Yuena, 'kan?


Kecepatan langkah Gu Yuena dalam tarian akan sulit membuatnya menghindar meski menyadari serangan yang datang. Itu adalah keuntungan bagi Jin Xiao.


Sinar hijau mengalir dari tangannya, mewarnai senar kecapi dengan sihir halus. Ketika Jin Xiao memetik senarnya, sihir hijau yang transparan itu melesat di udara menuju ke arah Gu Yuena.


Gu Yuena sadar secepatnya.


Anak itu rupanya sedang bermain-main.


Dengan langkah lihai, Gu Yuena berputar menghindari serangan tak terlihat tersebut dan melompat dengan halus sesuai tempo musik. Gerakan ekstrem yang tiba-tiba membuat banyak orang semakin terpana. Bahkan Jin Xiao terkejut.


Tangan Gu Yuena mengeluarkan percikan api yang tajam. Tubuhnya di udara, berputar dan menuju Jin Xiao untuk mengakhiri pertunjukkan.


Sihir di tangannya dihembuskan, memotong beberaha helai rambut halus Jin Xiao tepat di depan matanya. Pada saat itulah, Jin Xiao mematung di tempatnya tanpa bisa berkedip.


Ia baru saja menerima serangan balik.


Sepasang matanya melihat Gu Yuena yang mengulurkan tangannya ke leher Jin Xiao seolah tangannya adalah bilah pisau. Sebenarnya tak salah, karena Jin Xiao dapat melihat jarum tersembunyi di balik telapak tangan itu.


Gu Yuena terang-terangan mengancamnya!


Gu Yuena menarik sudut bibir tanpa membuat matanya menyipit. Ia memiringkan kepala sambil menunjukkan senyuman miring. "Sihir yang bagus."


Jin Xiao tidak lagi memainkan kecapinya sejak 'kecelakaan' itu terjadi. Ia hanya diam di tempat, melihat Gu Yuena dengan tidak percaya.


Apa ia telah kalah?


Detik berikutnya, suara riuh tepuk tangan menggema di aula perjamuan.


Jin Xiao sangat marah, tapi tidak bisa melakukan apa pun ketika mendengar ungkapan kekaguman terhadap Gu Yuena. Jelas ini adalah persaingan dan mereka telah melihat tindakan licik Jin Xiao sejak Gu Yuena menghindarinya. Jejak sihir itu terlihat sangat jelas.


Sudah dipastikan siapa yang dipermalukan di sini.


Gu Yuena menurunkan tangannya, lalu menunduk untuk membisikkan sesuatu pada Jin Xiao.


"Kamu kalah."