
Qin Haotian, murid unggulan di Puncak Terang, halaman dalam Akademi Yuansu. Dia merupakan salah satu kesatria Klan Lin yang setia bekerja dan melindungi orang-orang Klan Lin dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, ketika Lin Xi datang mencari bantuan, ia langsung menyanggupinya. Baginya, Klan Lin adalah rumah. Siapa pun yang merendahkan rumahnya, tidak ada tempat untuk orang itu di dunia ini.
Pria yang selalu membawa pedang besar sebagai rekannya itu mulai menyelidiki segala hal tentang perempuan yang berani meremehkan Klan Lin-nya. Perempuan bernama Gu Yuena yang selalu membawa seekor kucing hitam kemanapun ia pergi. Selain cantik, dia juga berbakat, serta memiliki dukungan yang sangat kuat. Oleh karena itu, Qin Haotian tidak bisa sembarangan menyingkirkannya.
Menggunakan kucing hitam kecil kesayangan Gu Yuena, Qin Haotian mengarahkan Gu Yuena ke penangkaran monster untuk menyingkirkannya tanpa membuat keributan tidak perlu.
Tapi dia tidak akan menyangka, kucing kecil kesayangan gadis itu akan sekuat ini. Siapa sebenarnya gadis itu?
Qin Haotian berdiri sambil melihat makhluk hitam bangkit. Iris hitamnya menajam, sedangkan di belakangnya lima murid yang sebelumnya lari mulai menghampiri.
"Tuan Muda, apa kita akan membunuhnya?" Salah satu dari murid itu bertanya dengan hati-hati, sedangkan yang lainnya membantu murid yang masih gemetar di tanah akibat ulah makhluk itu.
Qin Haotian mendengus. "Segel dia!"
Mereka mengangguk cepat. Meski ada rasa takut, keberanian mereka kembali ketika Qin Haotian muncul bagai pahlawan hidup.
Keempatnya mulai berlari ke empat arah yang berbeda membentuk persegi yang mengitari makhluk hitam. Makhluk hitam itu semakin waspada. Dia mengambil ancang-ancang untuk menyerang dan melompat ke salah satu murid, namun murid lainnya tiba-tiba muncul mengalihkan perhatiannya.
Pada saat yang sama, cahaya emas dalam bentuk garis lurus muncul dari tangan keempat murid itu. Garis lurus itu melesat ke udara, saling bertemu di satu titik, tepatnya di bawah makhluk hitam hingga memunculkan barrier yang menjulur ke tanah.
Murid yang menahan makhluk hitam telah kewalahan dan penuh luka sampai terpental. Namun, usahanya tidak sia-sia. Tepat ketika makhluk hitam melemparnya begitu jauh, empat buah rantai emas mencuat dari tanah dan melilit keempat kaki makhluk hitam itu.
Makhluk hitam semakin memberontak sampai rantai-rantai besar itu berdenting dan bertubrukan ketika melilit keempat kakinya. Lilitannya semakin keras ketika makhluk hitam meningkatkan kekuatannya.
Tubuh makhluk hitam itu jatuh dalam keadaan tidak bisa menggerakkan keempat kaki yang diikat. Rantai emas terakhir muncul dari tanah, melilit bagian tubuhnya dengan erat sampai makhluk hitam benar-benar tidak dapat bergerak.
Qin Haotian menampilkan senyum miring melihat makhluk itu telah takluk sekali lagi. Ia pun melangkahkan kaki mendekati makhluk hitam.
"Kau tenang saja. Sampai pemilikmu datang, aku masih tidak akan membunuhmu. Bersikaplah dengan baik."
Xiao Hei menggertakkan gigi, melihat Qin Haotian dengan penuh kemarahan di iris merah darahnya. Andai kekuatan spiritualnya tidak disegel dengan borgol aneh ini, ia sudah menghancurkan mereka semua sejak awal.
Tak jauh dari lokasi mereka berada di hutan penangkaran monster, sepasang kaki melangkah dengan cepat menelusuri hutan menuju sumber cahaya emas yang mewakilkan energi segel rantai yang mengikat makhluk hitam.
Sosok itu menghentikan langkah kala segel rantai tersebut terlihat. Segel yang begitu besar, menjerat tubuh seekor makhluk hitam bermata merah di atas tanah tanpa memberinya kesempatan bergerak. Selain kepala dan ekor, bagian lain tidak dapat digerakkan.
Sepasang iris merah itu mendingin dan begitu gelap. Ia mengepalkan tangan halusnya dengan erat sampai urat terlihat di permukaan kulit seputih salju.
Qin Haotian di depan makhluk hitam itu tidak menyadari, seseorang yang ia undang telah hadir tepat di belakangnya.
Para murid itu dibuat terkejut. Mereka segera memberitahu Qin Haotian menggunakan isyarat mata.
Melihat murid-murid yang terlihat panik dan gelisah, Qin Haotian mengerutkan kening. Ia pun menoleh ke arah yang diisyaratkan mereka.
Tapi ketika ia menoleh, ada sebuah energi panas yang melesat dengan kecepatan tinggi melewati bagian samping wajahnya begitu saja seolah meleset. Bola api yang sangat panas, membentur salah satu rantai sampai rantai tersebut putus saat itu juga.
Begitu dekat dengan wajahnya. Qin Haotian nyaris saja membuat wajahnya terbakar oleh bola api menakutkan yang baru saja menghancurkan salah satu rantai. Salah satu murid yang menahan segel mengalami serangan balik sampai murid itu memuntahkan seteguk darah.
Iris hitam Qin Haotian mendapati perempuan yang baru saja mengeluarkan bola api dari tangannya. Perempuan cantik tanpa cela, namun memiliki aura tidak menyenangkan yang membuatnya sesak. Aura ini seperti niat membunuh.
Iris merah yang dingin dan unik. Ia belum pernah melihat sepasang mata merah yang begitu cantik dan penuh daya tarik, dengan rambut hitam kemerahan yang terlihat ketika nyala api muncul di sekitar ledakan rantai yang memberi pantulan cahaya.
"Kau Gu Yuena?" Qin Haotian menebak dengan benar. Karakteristik yang diucapkan Lin Xi memang benar. Ia tidak pernah membayangkan gadis itu akan memiliki penampilan yang lebih menarik dari bayangannya.
"Lepaskan dia." Gu Yuena berkata tanpa fluktuasi emosi. Ia hanya menatap Qin Haotian yang asing itu dengan datar.
"Atas dasar apa?" Qin Haotian mendengus. "Kau telah membuat monster milik Lin Susu terbunuh. Apa salahnya jika aku membalikkan apa yang telah kau perbuat dengan membunuh monstermu? Itu hanya seekor monster."
"Memang, hanya seekor monster." Gu Yuena tiba-tiba tersenyum. "Jadi, bagaimana jika tidak hanya seekor monster?"
Qin Haotian sepertinya mengetahui maksud Gu Yuena.
"Ini adalah hutan penangkaran monster, ada sangat banyak monster di tempat ini. Jika seseorang—maksudnya beberapa orang—mati karena monster, maka akademi akan menutup mata." Gu Yuena melanjutkan ucapannya sambil memandang hutan rimbun di sekitarnya. Hutan yang indah ini, sesekali mengadakan 'pesta' juga tidak buruk.
"Kau bahkan bukan summoner, apalagi dapat mengendalikan banyak monster sekaligus. Itu semua hanya angan-anganmu." Qin Haotian terkekeh.
"Ingin bertaruh?" Gu Yuena memiringkan kepalanya. "Yang kalah, harus merelakan nyawanya untuk pemenang. Aku tidak pernah bermain-main."
Raut Qin Haotian menjadi datar seketika. Andai para monster itu benar-benar datang, maka yang dikorbankan hanyalah enam murid tidak berguna itu. Qin Haotian masih memiliki pelindung khusus di tubuhnya yang diberikan tetua untuk memasuki hutan penangkaran monster.
Tapi jika Gu Yuena mengajukan taruhan nyawa seperti itu, mengartikan bahwa gadis itu tidak berniat melepaskan semua orang di sini dan memaksanya mengakhiri hidup.
Gu Yuena tidak perlu mengotori tangannya sendiri untuk membunuh.
Menggunakan monster untuk membunuh keenam murid itu, serta memaksa Qin Haotian mengakhiri hidupnya sendiri menggunakan taruhan. Sudah jelas siapa yang berada dalam perangkap.
Namun, sekali lagi, itu hanya akan terjadi jika Gu Yuena berhasil dalam rencananya.
Jika Gu Yuena tidak berhasil, bukan hanya Xiao Hei yang mati. Maka Gu Yuena juga akan dipaksa mengakhiri hidupnya sendiri seperti dalam taruhan.
Jadi Qin Haotian hanya perlu membuat Gu Yuena gagal dalam rencananya.
"Seperti yang dikatakan rumor. Kau memang memiliki keberanian yang besar." Qin Haotian cukup mengapresiasi keberanian Gu Yuena.
"Terima kasih atas pujiannya." Gu Yuena tersenyum penuh. "Aku pikir, sudah seharusnya mengakhiri ini semua. Sayang, aku hanya bertemu sekali denganmu."
Gu Yuena menjatuhkan sebuah benda dari tangannya begitu saja. Ketika Qin Haotian menyadari apa yang akan ia hadapi, sudah terlambat baginya untuk menghentikan.
Ledakan asap muncul membuat semua orang terkejut. Gu Yuena sudah menghilang dari tempatnya, sedangkan Qin Haotian berusaha mati-matian pergi ke pusat asap dan berniat menghilangkan asap yang semakin tebal dan menutupi pandangan.
Asap ini dinamakan kabut iblis. Ketika medium sihir dijatuhkan, maka akan menyebabkan ledakan yang menyebabkan kabut iblis menyebar dalam radius dan durasi tertentu.
Masalahnya bukan pada kabut. Melainkan efek yang terjadi ketika monster terkena kabut tersebut. Hanya dalam beberapa detik selama kabut tersebar, cukup membuat kabut terhisap oleh monster dan merasuki pikirannya. Monster itu akan menjadi gila dan agresif.
Tidak perlu menggunakan summoner atau pengendali monster. Gu Yuena hanya perlu menggunakan kabut iblis yang ia pelajari secara singkat ketika berada di Tanah Tersembunyi untuk menggunakan monster sebagai senjata.
Hutan yang sebelumnya digunakan untuk membunuh Gu Yuena, kini berbalik arah dan akan membunuh Qin Haotian serta antek-anteknya.
Hanya dalam hitungan detik, kabut melebur dan menghilang. Barulah Qin Haotian menemukan bola besi yang digunakan sebagai medium kabut iblis.
Ketika ia berbalik, keempat murid yang menahan segel telah runtuh bersama dengan segel serta monster yang menghilang. Qin Haotian begitu marah, bola besi di tangannya diremas sampai remuk.
"Tuan Muda, tolong!"
Suara teriakan itu datang dari dua murid lainnya yang kini berlarian. Salah satunya merangkak di tanah karena tidak sanggup berlari ketika melihat seekor monster besar mendekatinya dengan rasa lapar.
Beberapa monster terbang mengitari tempat dengan raungan memekakkan telinga, menculik beberapa murid yang sebelumnya telah runtuh akibat serangan balik segel dan memakannya begitu saja di udara.
Qin Haotian memucat seketika, melihat murid-murid itu berteriak meminta tolong sebelum mati dikoyak-koyak.
Monster-monster itu benar-benar datang, membasahi hutan dengan darah.
Selagi teriakan menyedihkan menggema di hutan yang kini dipenuhi darah, Gu Yuena dan Xiao Hei telah tiba di luar hutan dalam keadaan utuh. Meski sebelumnya mereka sempat diserang, kecepatan Xiao Hei berlari cukup membuat mereka tiba tepat waktu.
Borgol yang membatasi kekuatan Xiao Hei telah dilepas sehingga regenerasinya dapat aktif dan memulihkan tubuhnya dengan cepat. Gu Yuena sudah bisa lega.
"Maaf."
Xiao Hei melihat nonanya yang menunduk. Ini kali pertamanya melihat Gu Yuena meminta maaf, sehingga membuatnya merasa bersalah.
"Nona ...."
"Apa sakit?" Gu Yuena menatap Xiao Hei di depannya dengan raut sedih.
Dibandingkan dengan perempuan berdarah dingin yang membunuh sambil tersenyum barusan, Gu Yuena yang ini lebih terlihat seperti anak kecil yang merasa bersalah.
"Nona, aku baik-baik saja. Aku telah mengikutimu berlatih selama ini, kekuatanku tidak akan kalah dari Nona. Mereka hanya semut yang mudah dikalahkan."
"Tetap saja, kau harus mengalami bahaya karena aku." Gu Yuena menunduk sambil melanjutkan langkah. "Kedepannya, Klan Lin tidak akan pernah melepaskanku. Qin Haotian masih hidup, dia pasti akan melaporkannya pada Klan Lin dan akan terus membuat masalah padaku."
"Nona, aku adalah milik Nona. Aku akan melindungi Nona sampai kapan pun. Jadi Nona jangan khawatir." Xiao Hei buru-buru membujuk.
Ia yang paling tahu bagaimana sifat Gu Yuena. Keras di luar, namun lembut di dalam. Meski dia terlihat berdarah dingin, ambisius, dan tak berperasaan, ada banyak hal yang membuatnya goyah setiap saat ketika akan mengambil keputusan.
Gu Yuena melihat Xiao Hei dengan senyuman haru. Ia jadi merindukan kucing-kucing yang juga setia menjaganya sejak kecil layaknya sebuah keluarga. Memang, hewan bahkan lebih baik daripada manusia.
"Kita kembali ke paviliun," ujar Gu Yuena.
Xiao Hei mengecilkan ukuran tubuhnya, lalu melompat ke pelukan Gu Yuena.
Gu Yuena menghela napas. "Besok, kita masih harus menghadapi orang yang lebih banyak."
Dan benar saja, Paviliun Anggur telah diramaikan oleh banyak murid berseragam putih dari Puncak Terang di pagi hari yang cerah ini.
Bukan untuk mengantre menjadi murid Tanah Tersembunyi, melainkan mengajukan tuntutan untuk Gu Yuena!
Berita mengatakan bahwa Gu Yuena menggunakan murid-murid itu sebagai umpan di hutan penangkaran monster. Bukan Qin Haotian yang mengatakan rumor tersebut, tapi orang lain yang tak lain berhubungan dengan Lin Xi.
Lin Xi telah mendapat laporan dari Qin Haotian mengenai Gu Yuena di hutan penangkaran monster termasuk taruhan hidup dan mati itu. Qin Haotian tidak berniat menyebarkannya, karena jika taruhan itu diketahui, maka ialah yang akan mati.
Tapi siapa sangka ada seorang murid yang menyebabkan rumor tersebut tersebar begitu saja. Mau tidak mau Lin Xi harus sedikit memodifikasi rumor tersebut agar berpihak padanya.
Rumor berisikan Gu Yuena menyusup ke dalam hutan penangkaran monster diam-diam dan dihentikan oleh para murid Puncak Terang yang dipimpin Qin Haotian. Tapi Gu Yuena malah membuat para monster menggila menggunakan kabut iblis dan membunuh mereka dengan kejam.
Pada saat ini, Gu Yuena telah mendapatkan julukan penyihir jahat hanya dalam semalam.
Mereka mengajukan protes dan meneriaki Gu Yuena agar keluar dari Tanah Tersembunyi. Jelas, Gu Yuena di Tanah Tersembunyi tidak mendengarnya. Tapi Yan Shuiyin yang mendengar keributan itu dan langsung memanggil Gu Yuena untuk mengatasinya sendiri.
Entah permainan anak-anak mana lagi yang akan dimainkan.
Gu Yuena pun keluar dari Tanah Terlarang, menghadap para murid yang protes. Pasalnya, tindakan membunuh sesama murid sangat dikecam di Akademi Yuansu. Tidak hanya para murid yang akan marah, tapi mentor juga akan turut serta.
"Apa ada bukti yang menyatakan bahwa aku membunuh?" Gu Yuena memperhatikan mereka dengan malas. Begini jadinya kalau asal menelan informasi tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
"Meski tidak membunuh secara langsung, tapi kau telah menyebabkan murid Puncak Terang mati! Kau harus bertanggungjawab!"
"Kau juga menyusup ke dalam hutan penangkaran monster, pasti tidak memiliki niat baik. Orang sepertimu lebih baik pergi saja dari Akademi Yuansu!"
Tidak salah, sih. Tapi Gu Yuena agak kesal jika hari yang tenang diganggu seperti ini. Apa mereka benar-benar menganggap remeh Tanah Tersembunyi?
Lalu bagaimana dengan Qin Haotian yang seharusnya melindungi mereka? Bukankah orang itu juga gagal?
"Kalau kalian tidak percaya, tanyakan sendiri pada Qin Haotian apa yang terjadi saat itu. Qin Haotian yang kalian kagumi itu, sudah tahu aku akan menarik para monster dan menerima tantangan hidup dan mati. Jadi, ini adalah kesalahannya yang tidak tepat membuat keputusan. Aku hanya mengikuti apa yang diinginkannya."
"Bagaimana bisa ini menjadi kesalahan Senior Qin? Gu Yuena, kau terlalu melebihkan dirimu sendiri dan mengambinghitamkan Senior Qin! Apa kau sudah bosan hidup?"
"Jika ingin bunuh, maka bunuhlah." Gu Yuena berkata dengan datar, membuat semua orang terdiam.
Bagaimana seseorang bisa berkata seperti itu seolah nyawanya sama sekalu tidak penting!
"Takut?" Gu Yuena mendengus. "Bunuhlah, aku tidak akan melawan."
Mereka semakin terlihat ragu dan saling tatap. Sampai akhirnya salah seorang melampiaskan emosinya dan mengangkat senjata sungguhan.
"Kalau itu maumu, jangan salahkan aku jika lancang!"
Pria itu melompat ke arah Gu Yuena dengan pedang yang diacungkan, membuat banyak orang terkejut. Pedang runcing itu diarahkan tepat ke arah Gu Yuena yang berdiri kokoh tanpa bergerak.
Tepat saat pedang pria itu nyaris menyentuh leher Gu Yuena, sebuah bayangan hitam melesat dengan cepat, menghantam pria itu dengan keras sampai terpental jauh.
Semua orang semakin terkejut. Apalagi ketika melihat sosok hitam yang sebenarnya, memiliki tubuh besar seperti seekor panther dengan raungan besar yang menakutkan.
"Gu Yuena, kau berkata tidak akan melawan!" Salah seorang merasa Gu Yuena melanggar kata-katanya.
"Apa kau melihat aku menggunakan sihir atau menghindar?" Gu Yuena menarik sudut bibirnya, membuat semua orang semakin kesal.
Gu Yuena memang tidak melawan. Tapi ada seekor monster besar yang melindunginya. Bagaimana mereka akan memberi pelajaran pada perempuan itu?
Mereka jelas tidak akan mampu menghadapi monster mengerikan itu meski ingin. Buktinya, pria yang baru saja menyerang Gu Yuena adalah yang terkuat di antara mereka, kalah dalam satu pukulan oleh makhluk hitam itu.
Gu Yuena mendengus. "Nyawa dibalas dengan nyawa, tapi karena kalian tidak bisa membunuhku, maka lupakan saja. Pulanglah dan bunuh aku dalam mimpi selagi berlatih, itu akan memperbaiki suasana hati."
Gu Yuena melambaikan tangannya dengan malas sambil memasuki paviliun. Ah, ia sudah sangat lapar dan ingin makan ayam goreng secepatnya.
Tapi lagi-lagi suara kecaman membuat langkahnya dipaksa berhenti.
"Gu Yuena!"
Gu Yuena berbalik. Alisnya naik ke atas ketika melihat empat sosok yang baru saja datang membawa aura permusuhan yang kuat. Ketiganya adalah orang yang pernah bertemu Gu Yuena sekali. Tapi mereka datang seolah sudah lama mengenal Gu Yuena sebagai musuh lama.
"Gu Yuena, apa kau tidak memiliki perasaan bersalah sedikit saja?" Seorang pria tua yang tidak terlalu diingat Gu Yuena bicara dengan nada penekanan tinggi.
Pria tua mrmiliki rambut dan kumis beruban—meski tidak seluruh rambutnya beruban. Dia melihat Gu Yuena dengan tatapan marah dan kecewa, membuat yang ditatap kesal sendiri.
Apa-apaan tatapan itu?
"Qin Haotian dan Lin Xi sudah mengatakannya padaku dengan jelas. Kamu adalah perempuan berbahaya yang tidak seharusnya berada di Akademi Yuansu. Membunuh satu murid saja sudah bisa membuatmu dikeluarkan dari akademi, apalagi 6 murid!"
"Dikeluarkan? Bagaimana dengan dia?" Gu Yuena menunjuk Qin Haotian terang-terangan. "Dia dan kelompoknya melakukan pembunuhan berencana, kenapa aku tidak bisa melawan?"
"Apa?"
"Aku tidak memaksa untuk percaya." Gu Yuena menggedikkan bahu acuh tak acuh.
Pria tua itu seharusnya adalah Tetua Puncak Terang yang pernah meminta Gu Yuena menjadi murid pribadinya. Kali ini pak tua itu menunjukkan taringnya, terang-terangan memihak Klan Lin.
Lin Susu yang berdiri di sebelah Lin Xi tidak mengatakan apa pun untuk menjaga citranya. Sedangkan Lin Xi maju sambil menatap Gu Yuena dengan menantang.
"Siapa yang ingin membunuhmu? Apa kau begitu istimewa sampai seseorang ingin membunuhmu?"
Gu Yuena melihat wanita itu dengan sedikit senyuman. "Siapa lagi yang akan memiliki keuntungan dengan membunuhku? Siapa dan kenapa, semua orang seharusnya sudah tahu. Kalau aku tidak menggunakan monster untuk melindungiku, sepertinya kalian sedang berpesta hari ini."
"Keterlaluan! Kau tahu siapa yang kau hadapi sekarang?" Lin Xi sangat marah. Bisa-bisanya perempuan itu menggiring opini publik melalui kata-katanya. "Satu-satunya sanksi mata sudah ada di sini. Kau adalah pelaku, tidak bisa membuat kesanksian untuk membuktikan kebenaran."
"Kalau begitu, bukankah seharusnya Qin Haotian mengakhiri hidupnya sendiri sekarang?" Gu Yuena melirik Qin Haotian, membuat laki-laki itu ngeri sendiri.
"Kau mengancamnya?"
"Aku sedang menguji kejujurannya. Seorang pria sejati, tidak akan melanggar kata-katanya. Dia memiliki konsekuensinya sendiri ketika melanggar aturan itu." Gu Yuena tetap bersikap tenang.
"Taruhan?" Tetua Puncak Terang tanpak bingung. Ia melihat Lin Xi dan Qin Haotian bersamaan.
"Jika aku tidak berhasil memanggil para monster untuk menyerang, maka aku akan bunuh diri. Begitu pula sebaliknya." Gu Yuena menjelaskan secara singkat. Hal itu berhasil membuat Qin Haotian menggertakkan giginya.
Mereka semua benar-benar terkejut dan melirik Qin Haotian. Tapi yang ditatap hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Pada saat itu, hanya Lin Xi yang bersikeras menunjukkan kesalahan Gu Yuena.
"Gu Yuena, bukankah kau terlalu kejam?" Bukan Lin Xi yang bicara, melainkan Lin Susu.
Baru saja Gu Yuena akan meladeni ucapan Lin Susu, Tetua Puncak Terang langsung berkata dengan nada tinggi.
"Apa pun yang terjadi, memasuki hutan penangkaran monster bukan hal kecil. Selain membunuh enam muridku, meracuni monster menggunakan kabut iblis adalah kejahatan. Gu Yuena, apa kau bisa mengelak untuk tuduhan ini?"
Gu Yuena terdiam. Ah, kalau masalah meracuni monster, itu memang salahnya. Percuma juga kalau dijelaskan untuk melakukan pembelaaan diri. Tatapan mereka semua sudah tertuju padanya sebagai penjahat paling bersalah.
"Sebagai Tetua, aku tidak bisa diam saja melihatmu semena-mena di akademi. Karena kamu telah menyentuh murid-muridku, dan melukai Qin Haotian sebagai murid pribadiku, aku akan memberimu hukuman yang pantas."
Pria tua itu mengangkat tangannya yang mengekuarkan cahaya emas. Hal tersebut membuat Gu Yuena waspada. Sedangkan Xiao Hei mulai memasang ancang-ancang menyerang.
Detik berikutnya, tiba-tiba saja sebuah tekanan muncul memaksa Gu Yuena untuk berlutut. Tekanan yang sangat kuat kini dirasakan, membuat kaki Gu Yuena gemetar karena menahan tekanan yang terlalu kuat. Ia sebisa mungkin tetap berdiri tanpa bergerak, sedangkan tubuhnya mulai berkeringat karena menahan tekanan.
Xiao Hei menyadarinya dengan cepat. Ia baru saja akan menyerang pria tua itu, namun pria tua itu langsung melemparkan kalimat yang membuat Xiao Hei terdiam.
"Gu Yuena sudah di tanganku. Jika monster peliharaanmu maju, sama saja menjatuhkan dirimu sendiri lebih buruk."
Gu Yuena paham maksud pria tua itu. Ia melirik Xiao Hei, memintanya untuk tidak membuat masalah lebih panjang. Jika tidak, tidak tahu apa saja yang akan dilakukan pria tua menyebalkan itu.
Situasi ini rumit.
Lin Xi dan Lin Susu diam-diam tersenyum puas. Sebentar lagi, Gu Yuena akan tersingkirkan. Memikirkannya saja membuat mereka sangat bersemangat.
Karena kekuatan pria tua tertentu tidak lagi bisa ditahan dalam posisi yang sama, Gu Yuena kehilangan keseimbangan dan menjadi setengah berlutut. Tubuhnya sudah bergetar menerima tekanan yang seolah-olah akan meremukkan tulangnya. Ia merasa deperti dipikul beban berat sampai menyakiti kepalanya.
"Berlutut!" Pria tua itu menggertak.
Xiao Hei ingin membela Gu Yuena, tapi Gu Yuena menghentikannya. Ia tidak boleh membahayakan Xiao Hei lagi. Meski pada akhirnya ia kesulitan menahan tekanan yang memaksanya berlutut.
Di tengah ketidakberdayaan itu, sebuah energi dingin dan mendominasi keluar dari dalam paviliun. Aroma anggur tercium begitu pekat, membuat semua orang merasakan perasaan berbahaya di sekitar.
Sebuah kilatan hijau keluar begitu saja ketika pintu paviliun terbuka. Kilatan hijau itu menembus cahaya emas yang bersinar di tangan Tetua Puncak Terang, lalu menembus tubuhnya sehingga pria tua itu nyaris terpental.
Pada saat itulah, tekanan yang dirasakan Gu Yuena hilang.
Tapi ia bisa merasakan dengan jelas aura dingin bercampur dengan aroma anggur yang memabukkan.
Di saat semua orang bertanya-tanya siapa yang berani melawan Tetua Puncak Terang, sebuah suara wanita menggema di Paviliun Anggur.
"Berani menindas muridku? Pak tua, kau memiliki keberanian yang besar."
Itu adalah Yan Shuiyin!