
Dengan jubah hitam serta pakaian kesatria sederhana, Gu Yuena melangkah menelusuri jalanan padat ke arah istana kekaisaran. Bangunan-bangunan yang terlihat mirip dilaluinya, bersama kuda-kuda yang berlalu-lalang dan beberapa hewan peliharaan yang membawa tuannya berlari.
Tiap kali ia berjalan sendirian di tengah kota yang dipenuhi rakyat biasa dengan berbagai kegiatannya, Gu Yuena kadang berpikir, akan sangat bagus jika ia hanya rakyat biasa tanpa keistimewaan.
Mereka mungkin melihat bahwa menjadi bangsawan sangat menyenangkan dan memuaskan, tapi itu salah. Manusia memang tidak pernah ada rasa puas.
Tapi untungnya, Gu Yuena senang-senang saja menghadapi hari yang penuh kerumitan ini. Ia menghargai nyawanya. Meski kadang ia harus melewati masa terpuruk dan kesedihan mendalam, serta menyalahkan takdir yang menyedihkan.
"Xiao Hei, bagaimana rasanya menjadi orang biasa?" Gu Yuena bertanya pada Xiao Hei di ruang spiritual.
Xiao Hei muncul setelah sekian lama, duduk di bahu Gu Yuena. "Coba saja, lihat apa itu sangat bagus untukmu atau tidak. Setidaknya, kau harus melupakan semua masalahmu terlebih dahulu, bersikap tidak ada yang terjadi."
"Aku pikir itu akan sulit dilakukan." Gu Yuena bukan tipe orang yang melupakan masalah begitu mudah. Ia bisa melupakan orang tidak penting, tapi tidak bisa melupakan masalah.
"Kalau begitu, kukatakan sesuatu padamu. Aku mencium aroma Gu Yuan di sekitar sini. Sepertinya di pelatihan kesatria pinggir kota."
"Sangat akurat."
Baiklah, kembali dalam mode serius. Gu Yuena langsung pergi ke pinggir kota, lebih tepatnya tempat di mana para kesatria kekaisaran berlatih. Entah apa yang dilakukan kakaknya di sana.
Sampai di perbatasan yang dikelilingi oleh dinding kota, ada sebuah tempat yang cukup luas dan terhubung dengan perhutanan negara. Gu Yuena memasuki wilayah diam-diam mengikuti arah yang Xiao Hei arahkan berdasarkan aroma Gu Yuan.
Sampai di tempat berlatihnya para kesatria berupa tenda-tenda militer, Gu Yuan terlihat memasuki sebuah tenda.
"Kakak." Gu Yuena hendak mengejar, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar derap langkah kuda yang cukup cepat.
Ia pun bersembunyi di balik bangunan, melihat kakaknya yang keluar dari tenda mendatangi si penunggang kuda.
Gu Yuan terlihat berbeda baik dari cara berpakaian maupun aura. Ia lebih terlihat seperti Pangeran Wyvernia dibandingkan bangsawan dari Kekaisaran Yi. Dengan pakaian Pangeran Wyvernia yang ia kenakan, disertai aura bangsawan yang kuat, Gu Yuena nyaris tidak mengenalinya sebagai Gu Yuan.
Satu hal yang membuat Gu Yuena tambah terkejut, seorang pria pirang yang menunggangi kuda barusan ternyata adalah Pangeran Mahkota Wyvernia, Alfonso.
Cepat sekali pria itu datang ke sini dari kediaman Baron Hills. Sepertinya dia pergi begitu tragedi terjadi, sama seperti Gu Yuena.
Mereka berdua tampak tengah berbicara. Gu Yuena mencoba mencari posisi yang tepat untuk menguping, tapi Gu Yuan justru membuat pelindung suara yang menghentikan Gu Yuena untuk menguping. Mereka juga terlihat sangat serius. Ini kali pertamanya melihat Gu Yuan berwajah dingin ketika iris merahnya menatap Alfonso.
"Apa-apaan ini?" Gu Yuena berdecak sebal. Apa ia keluar saja sekarang?
Tapi jika keluar sekarang, pasti akan membuat keributan yang tidak perlu. Ia seharusnya menemui Gu Yuan secara diam-diam.
"Siapa di sana?" Seorang kesatria secara tak terduga melihat Gu Yuena.
Gu Yuena berbalik ke arahnya, tapi tanpa sengaja lengannya tergores jari-jari besi yang menempel di pembatas di belakang sampai kulit putih saljunya memiliki noda merah yang deras.
Kesialan apa lagi ini!
Karena kesatria itu menghunuskan pedang dan akan menangkap Gu Yuena, Gu Yuena berlari ke arah lain begitu saja. Keributan yang disebabkan oleh Gu Yuena secara alami membuat dua pangeran itu bereaksi.
"Tangkap penyusup!" Alfonso sangat terkejut bahwa ada penyusup di dekatnya. Untung saja pembicaraan mereka tersegel, atau semua rahasia akan terungkap saat itu juga.
Sedangkan Gu Yuan yang sebelumnya hanya diam di tempat langsung pergi. Entah kemana ia berjalan, itu membuat Alfonso sangat kesal merasa diabaikan.
Gu Yuena berlari dan menyelinap di tempat-tempat kecil untuk menyembunyikan diri. Ada sangat banyak kesatria berpedang, sedangkan ia tidak boleh menampakkan diri saat ini.
Ia harus pergi secepatnya dan menemui Gu Yuan lain kali. Yang terpenting, ia sudah mengetahui posisi Gu Yuan.
Saat ia hendak melanjutkan pelarian keluar dari area kesatria, sebuah tangan menariknya begitu kuat hingga mau tidak mau ia terseret ke arah lain dan bersembunyi di suatu tempat.
Gu Yuena jatuh ke pelukannya untuk sementara, sedangkan mereka berada di tempat yang cukup sempit. Xiao Hei sudah kembali ke ruang spiritual sejak ketahuan sehingga hanya ada mereka berdua.
Gu Yuena dapat mendengar detak jantung orang ini dari dekat. Pegangan pria yang menariknya masih melingkari lengannya.
Rasanya tidak nyaman.
Merasa ingin melihat siapa pria yang menariknya sembarangan, Gu Yuena mendongak ke atas. Sepasang iris merahnya bertemu dengan iris hitam legam yang ia kenali. Itu adalah Yang Xinyuan.
Sedang apa dia di sini?
"Kamu ...."
"Sssh." Yang Xinyuan meletakkan telunjuknya di bibir Gu Yuena, lalu melihat ke arah luar di mana para kesatria sudah pergi ke arah lain.
Setelah diyakini sudah aman, ia pun melepas pegangannya dan menarik telunjuknya. Situasi berubah menjadi canggung.
"Kenapa kau di sini?" Gu Yuena memecah kecanggungan itu dengan pertanyaan. Aneh saja, bukankah seharusnya Yang Xinyuan di Akademi Yuansu?
"Ada beberapa hal yang harus diselesaikan." Yang Xinyuan menjawab seadanya.
"Jadi bukan hanya aku yang memiliki urusan di sini. Begitu banyak kebetulan." Gu Yuena bergumam pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Yang Xinyuan yang masih sangat dekat dengannya.
Setelah sadar bahwa posisi mereka terlalu dekat, Gu Yuena buru-buru keluar dari persembunyian dan mengambil napas lega. Tadi itu pengap sekali. Ia merasa sulit bernapas.
Yang Xinyuan ikut keluar. Ia melihat Gu Yuena dengan serius. "Tadi nyaris saja tertangkap. Tidak seharusnya kau di sini."
"Aku mengunjungi kakakku, tapi siapa sangka malah ketahuan." Gu Yuena sadar bahwa ia ceroboh. Lain kali, ia akan lebih berhati-hati dan membuat dirinya transparan sebelum menguping.
"Bukankah seharusnya dia di Akademi Yinyang?" Yang Xinyuan terlihat tidak tahu apa pun.
Beritahu saja atau tidak?
"Masalahnya rumit." Gu Yuena masih enggan mengatakannya.
"Kita keluar dari sini." Yang Xinyuan menarik lengan Gu Yuena sekali lagi untuk mengikutinya melalui jalur aman.
Bisa dilihat, Yang Xinyuan sangat akrab dengan Wyvernia sampai menemui jalan tikus untuk mereka kabur dari pengelihatan kesatria.
Sampai di kota, barulah Gu Yuena bernapas lega. Tapi ia masih gelisah akan kakaknya.
"Tidak perlu khawatir, Gu Yuan bukan pria lemah."
Gu Yuena menatap iris hitam legam itu, dan mengangguk singkat. "Sangat sulit untuk menemuinya."
"Sepertinya dia mengambil identitasnya sebagai pangeran. Kau sudah tahu itu?"
"Kau tahu?"
"Mudah ditebak." Yang Xinyuan menunjuk ke arah iris merah darah Gu Yuena.
"Jadi kau sudah tahu sejak awal."
Gu Yuena tidak mempermasalahkannya lagi. Memang tidak banyak yang tahu, tapi jika Yan Shuiyin saja tahu, maka Yang Xinyuan sudah pasti tahu. Ia tidak perlu menanyakan banyak hal.
Iris hitam legam Yang Xinyuan melihat banyak darah yang mengalir dari siku Gu Yuena. Ia heran melihat Gu Yuena yang terlihat tidak menyadarinya sama sekali. Apa begitu tidak terasa?
Tanpa mengatakan apa pun, Yang Xinyuan membawa Gu Yuena ke suatu tempat. Gu Yuena memilih tidak banyak tanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kuda berlari begitu cepat di tengah kota, membawa Gu Yuan di punggungnya yang memiliki raut cemas. Ia cemas akan keberadaan Gu Yuena.
Sebelumnya, Alfonso berkata bahwa dia bertemu gadis beriris merah dan terlihat mirip dengannya di kediaman Baron Hills. Siapa lagi gadis beriris merah darah di dunia ini kalau bukan Gu Yuena? Bahkan Permaisuri dan para putri tidak memiliki ciri seperti itu.
Iris merah darah hanya dimiliki oleh keturunan murni dan memiliki hak sebagai kandidat pewaris tahta. Meski sudah ada Pangeran Mahkota, posisi itu tetaplah bisa goyah tiap kali kandidat pewaris tahta menunjukkan pengaruhnya.
Ia tiba di kediaman Baron Hills. Tapi melihat suasana suram dan gawat yang terjadi, ia semakin cemas, takut terjadi sesuatu pada adiknya.
Kediaman Baron Hills tampak sangat suram, berbeda dari biasanya. Tapi Gu Yuan tetap menerobos masuk tanpa berpikir panjang. Para penjaga yang berjaga di depan tidak bisa menghentikan ketika melihat siapa yang mereka hadapi. Mereka hanya bisa diam, menahan tangis dan gelisah.
"Pangeran, datang begitu mendadak, ada yang bisa saya bantu?" Baron Hills mendatangi Gu Yuan yang berwajah dingin dengan hati-hati. Di sebelahnya juga ada istrinya yang tampak sangat gelisah dan berkeringat dingin.
"Di mana dia?" Gu Yuan langsung pada intinya. Nada suaranya sangat dingin membuat mereka berdua sangat takut.
"Dia?"
"Gu Yuena."
Pasangan Baron dan Baroness itu saling bertukar pandang. Sang Baroness pun berkata, "Sebelumnya Nyonya Muda Ye berkata bahwa Nona Keempat Gu telah pergi bersama temannya, Nona Qin."
"Pangeran, kediaman Hills saat ini sedang dalam masalah besar. Maaf tidak bisa menyambutmu dengan benar." Baron Hills melanjutkan.
"Ke mana dia?" Gu Yuan tetap menanyakan keberadaan Gu Yuena.
"Kami ... tidak tahu."
Sebenarnya mereka heran, apa hubungan Pangeran James dengan Gu Yuena. Baroness Hills memperhatikan sang pangeran dengan teliti. Wajah Pangeran dengan Nona Gu terlihat sangat mirip. Ia baru sadar, ada sesuatu yang tersembunyi di balik identitas gadis itu. Sepertinya ia memahami sesuatu.
Gu Yuan tidak berkata apa pun lagi. Ia kembali ke kudanya, lalu menaiki punggung kuda dan menarik tali kekang.
Di saat yang sama, Gu Yueli keluar dari kediaman melihat Gu Yuan yang akan pergi dengan terkejut.
"Kakak Pertama?" Gu Yueli tanpa sengaja memanggilnya.
Hal tersebut membuat pandangan Gu Yuan terarah pada gadis berbadan dua itu. Sial, kenapa perempuan itu harus memanggilnya dengan akrab!
Pasangan baron dan baroness itu tampak terkejut dan melihat Gu Yueli serta Gu Yuan bergantian. Sekarang apa hubungan mereka?
"Kau salah orang." Gu Yuan langsung pergi setelah melemparkan tatapan dingin pada Gu Yueli. Ia tidak tahu bahwa Klan Ye ada di sini sampai harus bertemu Gu Yueli.
Kudanya langsung berbalik arah dan berlari dengan cepat. Sosoknya yang menjauh meninggalkan pertanyaan bagi banyak orang. Terutama Gu Yueli yang kebingungan setengah mati.
Jelas-jelas itu kakak pertama, bagaimana bisa tidak mengenalinya?
Apa ia terlalu gendut sampai tidak dikenali?
"Huh!" Gu Yueli berdecak sebal dan kembali ke dalam kediaman. Hilang sudah keinginannya untuk menenangkan diri si luar setelah berada di dalam lingkungan pengap.
Sedangkan Gu Yuan masih kelimpungan mencari adiknya. Ia takut Gu Yuena dikenali oleh para bangsawan itu dan berada dalam masalah besar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aww!"
Gu Yuena mengaduh kesakitan ketika Yang Xinyuan membaurkan obat di lengannya yang mengalami luka goresan besi. Tapi bila dibiarkan, akan terkena tetanus.
Saat ini mereka ada di sebuah taman setelah membeli perlengkapan pengobatan di toko obat. Sejak tadi Gu Yuena tidak dibiarkan pergi kemana pun.
"Aku bukan healer, jadi hanya bisa mengobati dengan cara ini." Yang Xinyuan menggulung luka Gu Yuena menggunakan kain putih yang ia beli dari toko.
Gu Yuena hanya melihat lukanya yang ditutupi menggunakan kain. Pasti akan meninggalkan bekas karena luka yang cukup dalam. Sangat merepotkan.
Yang Xinyuan sedikit tersenyum melihat Gu Yuena yang cemberut. Ia mengangkat tangannya, meraih helai rambut Gu Yuena yang berantakan menutupi wajahnya. Tapi itu justru membuat Gu Yuena terkejut dan mundur.
"Maaf." Yang Xinyuan melanjutkan menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Gu Yuena.
Gu Yuena mengerjap mata dua kali, lalu berdeham. Entah kenapa rasanya canggung sekali.
"Menurutmu, apa yang dibicarakan kakakku dengan Pangeran Alfonso?" tanya Gu Yuena. Yah, meski tidak berharap untuk dijawab.
"Mungkin ... hal yang ditemukan oleh Pangeran Alfonso untuk menekan Gu Yuan."
Gu Yuena terdiam memikirkannya. Apa itu batu jiwa? Tapi, itu seharusnya tidak ada hubungannya dengan Gu Yuan, apalagi bersifat rahasia.
Sesuatu yang bisa membuat Gu Yuan menyegel suara mereka. Kira-kira apa yang membuatnya seperti itu?
"Apa sebelumnya kau bertemu Pangeran Alfonso?"
Gu Yuena mengangguk dengan ragu. "Mungkin dia akan berpikir bahwa aku adalah anggota keluarga kerajaan yang lama hilang atau tidak diketahui keberadaannya. Dia juga tidak mengatakan apa pun padaku. Apa menurutmu, dia memberitahu kakakku?"
"Tidak ada hal yang bisa dikhawatirkan Gu Yuan selain dirimu. Sama sepertimu."
Seperti yang diduga untuk seorang Yang Xinyuan, ia sangat mudah menebak dan memperhitungkan banyak hal. "Jika kau menjadi musuhku, itu akan sangat merepotkan."
"Tidak akan."
Huh, bahkan Gu Yuena sudah siap menjadi musuh Luo Youzhe yang sulit ditangani. Kenapa ia selalu bertemu dengan pria pintar namun berbahaya?
Yah, selama ini hanya Huang Jingtian, Mu Xinhuan, dan kakaknya saja yang tidak berbahaya.
Yang Xinyuan melihat langit yang terik, kemudian berkata, "Sudah siang. Apa kau lapar?"
Gu Yuena tersenyum lebar dan berdiri begitu saja. "Ayo, aku mengajakmu makan ayam goreng. Aku yang traktir!"
Yang Xinyuan pasrah saja tangannya ditarik Gu Yuena ke kota. Mereka pergi makan di sebuah kedai, dan membeli ayam goreng kesukaan Gu Yuena.
Gu Yuena tidak tahu, kakaknya yang sejak tadi ia pikirkan tengah kelabakan mencarinya di seluruh Ibu Kota. Tapi ia malah makan ayam goreng bersama seorang pria.
Bisa dibilang ... kencan?
Tapi sayangnya, Gu Yuena menganggapnya sebagai makan siang biasa. Karena tujuannya ke tempat ini adalah untuk sebuah misi yang ia buat sendiri, bukan jalan-jalan.
Selama seharian itu, Gu Yuena berkeliling kota bersama Yang Xinyuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kumpulan kupu-kupu bertebaran di udara dan menyatu, membentuk seorang gadis bergaun merah muda. Ia masih menggunakan gaun Wyvernia, sehingga terlihat mencolok di antara orang-orang berpakaian ala timur.
"Youzhe, aku sudah memastikan, Klan Ye memiliki batu jiwanya." Dia adalah Su Churan yang baru saja dari Wyvernia. Sebelum benar-benar pergi, ia telah memeriksa batu jiwa di ruangan rahasia. Sayangnya, kekuatannya tidak mendukung untuk menyentuhnya.
Sepasang iris biru malam itu melihat ke arah Su Churan. Tatapannya dingin seperti biasa, meski di bawah terik matahari sebuah hutan yang begitu rimbun akan pepohonan.
"Sudah kuduga." Ia telah mencari batu jiwa ketiga setelah sekian lama. Akhirnya, ia menemukannya.
"Tapi ... Gu Yuena mengambilnya." Su Churan berkata dengan ragu. Ia hanya bisa meminta maaf pada Gu Yuena dalam hati karena ia memang harus mengatakannya. Batu jiwa itu terlalu berbahaya jika di tangan Gu Yuena.
Wajah Bai Youzhe menggelap seketika. Akan sulit memintanya, apalagi jika Gu Yuena mengetahui benda apa itu sebenarnya.
Tapi ia tidak akan kehabisan rencana.
"Gu Yuan juga ada di Wyvernia, 'kan? Kita bisa pergi ke Wyvernia sekarang."
...----------------...
Cuplikan Bab 61
"Kau bisa tahu identitasku, kenapa aku tidak bisa tahu identitasmu? Aku sempat ragu, tapi kau sudah mengakuinya." Iris merahnya menajam. "Seharusnya kau membunuhku sejak awal."
"Kau tidak perlu penjelasan untuk itu." Bai Youzhe menolak menjelaskan.
Kira-kira apa yang akan terjadi di Wyvernia dan apa yang direncanakan Bai Youzhe sampai Gu Yuena semarah itu?
Ditunggu kelanjutannya besok~