
Iris merahnya menyala begitu terang diikuti dengan simbol phoenix yang muncul di antara alisnya. Perubahan aura yang begitu besar membuat awan berubah menjadi merah darah.
Lingkaran sihir di tubuh Gu Yuena mengeluarkan kilau merah yang begitu pekat, didukung oleh kekuatan jiwa yang bangkit dalam tubuhnya.
Ketika menggunakannya, Gu Yuena merasa jiwanya seperti ditarik sesuatu hingga menimbulkan rasa sakit tak tertahankan, sampai darah memaksa keluar dari kerongkongan.
Bai Youzhe terkejut atas situasi tak terduga ini. Ia melihat langit merah. Energi langit dan bumi tampak terserap ke dalam tubuh Gu Yuena dalam penyatuan tiga kekuatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Jika terus seperti ini, Gu Yuena bisa mati!
"Gu Yuena, hentikan!" Bai Youzhe tidak ingin hal terburuk terjadi hanya karena satu pertarungan.
Ia mengepalkan tinjunya, mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan agar hal buruk tidak terjadi pada Gu Yuena. Ia tidak menyangka Gu Yuena akan melampaui batas seperti itu hanya untuk menyamakan kekuatan mereka.
Jika ia memaksa menghentikan Gu Yuena, gadis itu bisa mati. Apa yang harus ia lakukan?
Hingga akhirnya, sudah terlambat untuk menghentikan penyatuan tiga kekuatan. Sepasang sayap phoenix muncul di punggung Gu Yuena, tampak berapi-api dan memiliki aura penekanan yang kuat.
Akibat dari peningkatan paksa dan penyatua tiga kekuatan, kultivasi Gu Yuena menerobos secara tak terduga ke tingkat 6, melompati 2 bintang sekaligus. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi tubuh Gu Yuena dalam menampung kekuatan yang tidak bisa ia kendalikan seutuhnya.
Anomali alam yang terjadi berhenti ketika penyatuan tiga kekuatan usai. Di udara dengan sayap yang dikepakkan, iris merah darah Gu Yuena menyala dengan perasaan dingin serta niat membunuh yang kuat. Kekuatan jiwa di tubuhnya membesar, memberi penindasan total yang dapat membuat siapa pun sesak.
Dengan begini, dia sudah setara dengan kekuatan tingkat 8.
Ini jauh di luar akal sehat!
Tatapan Bai Youzhe menajam ketika melihat penampilan Gu Yuena yang berbeda drastis dari sebelumnya. Jadi seperti ini darah phoenix yang sesungguhnya.
Pertempuran ini akan sangat rumit.
Bai Youzhe mengeluarkan pedang satunya lagi di tangan sebelah kiri. Senjata utamanya adalah pedang ganda, yang hanya digunakan untuk lawan yang sama kuatnya atau lebih kuat darinya.
Sejauh ini, hanya beberapa orang dari Istana Linghun saja yang bisa memaksanya menggunakan pedang ganda.
Gu Yuena tidak ingin terlalu banyak mengulur waktu. Kekuatan yang ia pegang tidak bisa bertahan lama sehingga harus menyelesaikan pertarungan secepatnya. Atau cederanya akan bertambah buruk.
Ia mengangkat tangannya, mengumpulkan sihir merah yang berkeliaran di sekitarnya dan menyerang Bai Youzhe seperti jari-jari sihir yang meluncur.
Bai Youzhe menghindari jari-jari tersebut. Sosoknya begitu cepat sampai nyaris tak terlihat, sedangkan pedangnya diayunkan dengan lihai untuk menghancurkan serangan yang tidak ada habisnya.
Jari-jari itu keluar dari segala arah, baik langit maupun tanah. Itu berhasil membuat area serangan Bai Youzhe mengecil, memaksa pria itu menhabiskan tenaganya hanya untuk menebas jari-jari yang mencuat tanpa aba-aba.
Tapi sebagai pemilik darah naga, Bai Youzhe tidak akan ditekan hanya karena beberapa jari sihir yang menghadang. Ia muncul begitu tiba-tiba di dekat Gu Yuena, membuat Gu Yuena terkesiap dan terbang ke udara lebih tinggi untuk memberi jarak sekaligus menghindari serangan.
Bai Youzhe bisa terbang meski tanpa sayap. Itu adalah kemampuan bawaan yang berasal dari darah naga, sehingga terjadilah pertarungan udara yang begitu sengit.
Serangan jarak dekat Bai Youzhe sangat mematikan dan sulit dihindari. Tiap kali serangannya membentur pertahanan Gu Yuena, Gu Yuena selalu termundur dan harus siap akan serangan balik.
Sihir merah di tangan Gu Yuena meluncur dengan kecepatan tinggi, mengikuti arah pergi Bai Youzhe dan menguncinya dengan akurat. Ia memang tidak bisa menandingi kecepatan Bai Youzhe, tapi sihirnya bisa.
Sayapnya dikepakkan, membawa tubuh Gu Yuena ke arah yang ditentukan untuk menghindari bentrok langsung dengan Bai Youzhe. Tapi Bai Youzhe selalu menemukannya dan memblokir jalan Gu Yuena sehingga gadis itu harus berlalu ke arah lain untuk menghindari tekanan.
Ketika jarak mereka mulai menipis, sedangkan pria itu ada tepat di sebelahnya dengan pedang ganda yang dihunuskan, Gu Yuena secara spontan mengayunkan lengannya hingga mengeluarkan sihir merah yang membelah udara.
Sihir merah yang terkumpul, membentuk seekor phoenix penuh api yang menyerang secara langsung ke arah Bai Youzhe. Phoenix itu mengepakkan sayapnya, meluncur dengan bebas dan menyambar Bai Youzhe.
Phoenix itu sangat kuat, bahkan berhasil memukul mundur Bai Youzhe hingga pria itu kembali ke darat dan menahan kedua pedangnya yang menancap di tanah—agar tidak terhempas terlalu jauh.
Bai Youzhe melihat ke langit di mana phoenix berapi-api itu terbang bebas mengitari Gu Yuena. Gu Yuena sendiri terdiam. Iris merahnya melihat ke arah phoenix yang menghampirinya, merasa agak tidak percaya.
Bukankah phoenix sebesar elang dewasa ini sangat kuat? Dia terlihat terbuat dari api yang menyala. Tapi ketika Gu Yuena menyentuhnya, tidak ada rasa panas, melainkan hangat layaknya menyentuh bulu.
Tidak banyak orang yang dapat memanggil wujud kekuatannya sendiri.
Tapi tiba-tiba Gu Yuena teringat. Aksinya ini hanya akan membuat pihak lain mengetahui bahwa ia memiliki darah phoenix. Ia harus menyelesaikan pertarungan ini segera.
Gu Yuena langsung mengendalikan phoenix di depannya untuk menyerang. Phoenix itu langsung meluncur ke bawah dengan aura mengerikan, tepat ke arah di mana Bai Youzhe berada.
Namun hal tersebut tidak membuat Bai Youzhe takut. Ia hanya tetap di tempatnya, berdiri tegak melihat phoenix yang menghampiri bersiap membunuhnya.
Tepat ketika phoenix berapi-api itu menyemburkan api yang begitu besar ke arah Bai Youzhe, sebuah kilau biru gelap muncul menghadang serangan api dahsyat dengan aura dingin yang besar.
Mendadak, daratan dipenuhi lapisan es yang berasal dari blokiran serangan api phoenix.
Phoenix itu menarik apinya, membiarkan sesuatu yang menghadangnya menampakkan diri. Begitu kabut menghilang, apa yang ada di dekat phoenix membuat Gu Yuena terkejut.
Seekor naga panjang dengan sisik gelap serta mata biru laut yang begitu dingin. Ukurannya lebih besar dari phoenix api. Selain itu, dia lebih nyata dibandingkan phoenix api yang masih dalam bentuk kumpulan api, membuat kekuatannya tampak jauh lebih besar.
Naga itu meraung dengan keras sehingga menciptakan tekanan gelombang udara yang menghembuskan daratan. Sedangkan phoenix api mengeluarkan tangisannya yang memekakkan telinga, disertai kobaran api yang mengamuk.
Jika ada orang yang melihat pemandangan semacam ini, hal tersebut sudah pasti menjadi bagian dari sejarah.
Satu hal yang membuat Gu Yuena tidak mengerti. Bagaimana bisa ada seekor naga di sini? Apa Bai Youzhe pemiliknya?
Sama seperti ia memiliki Xiao Hei, apa Bai Youzhe memiliki naga itu?
Atau ... itu adalah bagian dari kekuatannya, sama seperti hubungan Gu Yuena dengan sang phoenix.
"Gu Yuena, lebih baik hentikan ini." Bai Youzhe muncul di udara, beberapa meter dari Gu Yuena. Ia tidak ingin menyakiti gadis itu. Menggunakan darah phoenix secara berlebihan saja sudah cukup membuat Gu Yuena sekarat.
Bai Youzhe tidak ingin menjawab. Hal itu membuat Gu Yuena sangat kesal. Kenapa jawab saja tidak bisa?
Bai Youzhe dapat melihat dengan jelas racun api yang menjalar di leher Gu Yuena, tampak seperti urat. Semakin besar racun api, tubuh Gu Yuena akan semakin menderita. Gu Yuena tidak boleh terus menggunakannya secara paksa.
"Maaf." Setelah berkata demikian, ia melesat cepat ke arah Gu Yuena, berniat membuatnya pingsan.
Tapi phoenix api yang lepas dari pengamatan naga berhasil mencegah Bai Youzhe. Naga di bawah sana langsung terbang ke langit, menyambar phoenix untuk tidak mengganggu tuannya.
Kedua makhluk itu bertarung sendirian di udara, sedangkan Bai Youzhe berusaha meraih Gu Yuena untuk menghentikannya.
Tapi Gu Yuena mengartikannya dengan hal lain. Kepercayaannya terhadap Bai Youzhe telah rusak sejak pria itu melukai kakaknya. Ia tidak akan semudah itu ditaklukan.
Mereka lagi-lagi bertukar pukulan senjata di udara, menyebabkan awan berubah warna menjadi tak menentu. Cuaca menjadi gelap, seolah badai akan tiba.
Pertarungan itu disaksikan oleh beberapa orang, tapi tidak ada dari mereka yang berani mendekat sehingga hanya bisa melihat dua sosok serta sihir yang saling bertarung.
Su Churan yang melihat bersama anggota aliansi, hanya bisa diam di dalam hutan. Ia sangat terkejut akan pertarungan itu, terutama ketika melihat dua makhluk berupa naga dan phoenix yang begitu mencolok di udara.
"Mereka ...." Su Churan tiba-tiba saja teringat sesuatu.
Periode lemah yang dimiliki darah naga terus dialami oleh Bai Youzhe dalam jangka panjang. Sedangkan rentang hidup yang pernah dikatakan Gu Yuena adalah milik darah phoenix.
Apa itu berarti, dua orang itu memiliki darah naga dan phoenix yang melegenda itu?
"Seharusnya mereka tidak seperti ini." Jika benar, tidak seharusnya mereka malah bertarung hidup dan mati seperti itu!
Meski masih asumsi, Su Churan sudah gelisah setengah mati.
Di dalam pertempuran, Gu Yuena kewalahan menghadapi serangan Bai Youzhe. Ia sudah merasa tenaganya terserap begitu banyak tiap kali phoenix mengeluarkan kekuatan untuk melawan naga.
Tidak bisa seperti ini. Jika dibiarkan, Bai Youzhe akan mendapat batu jiwa dan kakaknya bisa dalam bahaya. Ia harus mencari kesempatan untuk lari.
Tapi sayangnya, tidak ada kesempatan untuk itu. Bai Youzhe selalu mengetahui pergerakannya setiap saat, sehingga tidak mungkin baginya untuk kabur.
Melihat awan gelap yang begitu pekat, ia teringat akan sesuatu. Ia ingat fungsi kekuatan jiwa yang pernah membuat seluruh dunia mengencamnya. Ia akan menggunakan kekuatan jiwa untuk kabur.
Kedua tangan Gu Yuena penuh dengan sihir merah. Sihir merah itu melonjak ke atas, memanggil banyak roh untuk melakukan serangan.
Ro-roh jahat yang terpanggil mulai berkumpul di udara, berterbangan liar seperti burung-burung yang bergerombol. Mereka menyerbu Bai Youzhe dan naga miliknya saat itu juga.
Gu Yuena menghabiskan sisa tenaganya untuk memanggil roh-roh itu. Untuk mengendalikannya, tenaganya telah terkuras terlalu banyak sampai tubuhnya melemah.
Setidaknya, hal itu akan membuat Bai Youzhe sibuk dan membiarkannya pergi.
Sayap Gu Yuena menghilang seketika karena kekuatan yang habis. Gu Yuena jatuh ke daratan seperti layangan putus, lalu mendarat dalam keadaan setengah berlutut karena tubuhnya yang terasa berat.
Ia harus segera pergi dari sini.
Ia melihat ke atas. Roh-roh yang tak terkendali itu mengubur Bai Youzhe dengan kejam. Sedangkan Gu Yuena yang sudah terlalu lelah tidak bisa melihat dengan jelas. Pandangannya buram.
Racun api yang merambat semakin menjalar melalui saluran arteri. Hal tersebut begitu terasa. Rasa panas dan perih menjalar di tubuhnya hingga Gu Yuena nyaris tidak bisa mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri.
"Ayolah ...." Gu Yuena melangkahkan kakinya sambil menahan semua rasa sakit itu. Kakinya terasa berat, tapi ia berhasil melangkah.
Hanya saja, tenaganya benar-benar telah kering sehingga langkahnya begitu oleng sampai tubuhnya melayang begitu saja.
Bai Youzhe di langit saja, melepaskan diri dari kepungan roh dan menghancurkan mereka dengan tebasan pedang. Iris biru malamnya melihat ke arah di mana Gu Yuena berada.
"Gu Yuena."
Dia melesat begitu cepat. Hanya dalam satu kedipan mata, ia telah sampai di darat dan menangkap tubuh Gu Yuena yang kehabisan tenaga.
Gadis itu terlelap tanpa merasakan apa pun.
Bai Youzhe melihat perempuan di pelukannya yang telah menutup mata. Ekspresinya menjadi rumit.
Ia melihat ke arah langit di mana masih banyak roh yang menyerbu secara liar. Kekuatan jiwa Gu Yuena terlalu besar dan tak terkendali sampai banyak roh yang menerobos pembatas alam di luar kendalinya. Ini buruk.
Pria itu mengeluarkan batu jiwa dari ruang spiritual. Ia telah meletakkan dua batu jiwa ke dalam kotak kaca sehingga tidak akan berbahaya jika disentuh. Apalagi diletakkan di ruang spiritualnya.
Ia mengadahkan batu spiritual ke udara, lalu menggunakan kekuatan spiritualnya untuk menarik semua roh yang menerobos keluar dari pembatas alam ke dalam batu jiwa.
Fungsi batu jiwa adalah menyerap roh, semakin banyak roh yang diserap, semakin kuat batu jiwa. Meskipun tidak mendapat batu jiwa ketiga, kedua batu jiwa itu sudah cukup untuk menyerap semua roh jahat yang berkeliaran.
Semua roh jahat yang menerobos keluar terserap oleh dua batu jiwa yang memancarkan sinar. Mereka seperti pusaran angin yang terhisap ke dalam lubang. Bedanya, mereka adalah roh dan tidak masuk ke lubang, melainkan diserap sebuah benda untuk menjadi energi.
Sayangnya, pemandangan langka seperti itu tertutupi oleh kabut hitam yang disebabkan oleh datangnya roh-roh yang dipanggil Gu Yuena.
Setelah semua roh jahat telah terserap ke dalam batu jiwa, Bai Youzhe menyimpan batu jiwa ke dalam ruang spiritual. Awan gelap di atasnya berubah menjadi orange cerah, menunjukkan bahwa hari sudah petang.
Untuk pertama kalinya Bai Youzhe merasa tenang ketika melihat sinar matahari.
Lalu, masalah selanjutnya adalah Gu Yuena.
Dia melihat ke arah perempuan di pelukannya. Tatapan dingin itu menghilang entah kemana—tapi masih tetap datar.
Dia masih harus menangani Gu Yuena setelah bangun nanti.