Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
66. Tidak baik untuk jantung



Alkemis guild menjadi sepi begitu malam tiba. Saking sepinya sampai-sampai tidak ada yang sadar bahwa sesosok hitam menyelinap masuk ke area guild dan memasuki sebuah ruangan di lantai atas melalui jendela. Gerakannya cepat seperti bayangan.


Sosok itu mendarat tepat di sebuah kamar dengan perapian yang masih aktif berkobar. Kamar gelap yang masih sangat diingatnya meski tiga bulan telah berlalu.


Benar, sudah hampir 5 bulan berlalu sejak Bai Youzhe pergi dari alkemis. Ia pergi pun tidak hanya karena panggilan biasa, melainkan sebuah masalah yang tidak ingin disebutkan.


Hanya semut-semut yang mencari masalah padanya, tidak perlu melibatkan siapa pun. Terutama perempuan bersurai merah yang tertidur pulas di atas tempat tidur yang hangat.


Meski gelap, Bai Youzhe tetap dapat melihat dalam kegelapan. Ia berjalan ke arah perempuan yang terbalut selimut, dan duduk di pinggir tempat tidur sambil melihat sosok manis yang terlelap.


"Ternyata kamu tidak kabur." Bai Youzhe tersenyum seraya menyisir helai rambut indah Gu Yuena. "Aku merindukanmu."


Ia penasaran kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan kucing nakal ini.


Bai Youzhe sempat memeriksa denyut nadi Gu Yuena, memastikan bahwa ia baik-baik saja dan racun api tidak menyakitinya. Setelah yakin gadis itu tidak mengalami cedera atau sejenisnya, ia pun bernapas lega.


Pasalnya, tiap kali mereka bertemu setelah lama berpisah, perempuan itu selalu saja terluka. Pertama dicambuk orang, lalu diracuni orang, selanjutnya racun api melahapnya, kemudian cedera karena ujian, terakhir pertemuan sebelumnya yang begitu kacau.


Ia sampai terbiasa.


Kedatangannya kali ini selain untuk memastikan Gu Yuena baik-baik saja adalah untuk melepas segel pikiran yang ia tanam. Meski efeknya tidak begitu kuat, itu pasti menyebalkan. Ia tidak ingin Gu Yuena terus terjebak dalam segel pikiran yang ia buat sendiri. Cukup sampai pil pereda racun api didapatkan.


Ia pun meletakkan jarinya di dahi Gu Yuena, menarik segel pikiran dari kepala Gu Yuena dan menghancurkannya tanpa membuat gadis itu terbangun.


"Istirahatlah dengan baik."


Bai Youzhe pikir ia harus pergi dan menemui gadis itu besok. Ia tidak ingin mengganggu mimpi gadis kecilnya.


Tapi ketika Bai Youzhe akan pergi, kelopak mata perempuan itu terbuka, memperlihatkan sepasang iris merah indahnya yang baru bangun tidur.


"Bai Youzhe?" Gu Yuena mengusap matanya, lalu melihat dengan jelas pria yang terdiam di tempat.


"Apa aku membangunkanmu?" Bai Youzhe bertanya, agak merasa bersalah.


Gu Yuena menggeleng. Ia pun sadar akan sesuatu sampai membuatnya benar-benar bangun dari posisi tidurnya, meski agak telambat, "Itu benar kau?"


"Ya."


"Bukan mimpi?" Gu Yuena mencoba memastikan.


"Apa terjadi sesuatu?" Bai Youzhe bertanya balik.


Gu Yuena melihatnya untuk beberapa saat, kemudian menghela napas dan bersandar di kepala tempat tidur. Belakangan ini karena merasa bersalah, ia sampai memimpikan Bai Youzhe—walau tidak sesering itu, tapi termasuk sering.


Termasuk mimpi buruk, sih.


Bahkan barusan ia memimpikan pria itu sampai nyaris tidak percaya bahwa ia sudah bangun sekarang.


"Seseorang mengganggumu?" Bai Youzhe kali ini tidak bisa menebak isi pikiran gadis itu.


"Apa aku terlihat bisa diganggu dengan mudah? Paling tidak orang di depanku ini yang mengganggu." Ia menatap Bai Youzhe untuk beberapa saat, kemudian memalingkan wajah. "Terima kasih."


"Roh apa yang merasukimu?" Bai Youzhe tidak percaya tiba-tiba gadis itu berterimakasih tanpa sebab. Mimpi apa dia semalam?


Gu Yuena berdecak sebal, lalu menatap pria itu dengan malas. Ia dengan sabar menjelaskan, "Pil yang kumakan beberapa bulan lalu, seharusnya bukan pil biasa. Harganya juga tidak akan semurah esensi sihir. Aku berterimakasih untuk itu."


Bai Youzhe tampak berpikir. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Gu Yuena, melihat gadis itu yang tengah gugup. "Siapa yang memberitahumu?"


Eh, bagaimana dia bisa menebak sejauh itu? Padahal jelas-jelas Gu Yuena menggunakan kalimat 'asumsi'.


"Tidak ada." Gu Yuena berbohong. Ia sudah berjanji tidak akan memberitahu pelaku pembocoran informasi.


Bai Youzhe sedikit tersenyum. "Kadang kau terlihat seperti pembohong yang andal, tapi sebenarnya sangat buruk bagiku."


"Apa itu pujian atau hinaan?" Wajah Gu Yuena menjadi datar.


"Karena kamu begitu melindunginya, maka aku tidak akan mencari tahu lagi." Nana-nya tidak pernah berubah, tapi ia suka itu.


Pandangan Gu Yuena terhadap Bai Youzhe telah berubah setelah berpikir dan galau berbulan-bulan. Ia pikir, pria tampan itu tidak seburuk yang ia bayangkan.


Yah, meski ada bagian buruknya yang sangat menjengkelkan, tapi selebihnya tidak seburuk itu. Ia tidak berkata bahwa Bai Youzhe orang baik, lho.


Tapi mengingat identitasnya ....


"Kau malah berniat menyelamatkan nyawa musuh, kau akan menyesal." Gu Yuena berkata tanpa mengalihkan pandangannya.


"Jika musuhnya itu kamu, aku tidak menyesal."


"Padahal jelas-jelas kau tahu umurku tidak panjang." Gu Yuena menghela napas. Umurnya sudah kurang dari satu setengah tahun lagi. Betapa menyedihkan itu.


"Aku akan menyelamatkanmu." Bai Youzhe berjanji. Ia bahkan telah mengatakannya berulang kali pada dirinya sendiri. Apa pun yang terjadi, ia akan menyelamatkan Gu Yuena.


Gu Yuena ingin mengatakan bahwa hanya darah naga yang dapat menyelamatkannya, tapi ia mengurungkan niatnya itu. Bukan seperti itu sikap menghadapi dermawannya.


"Aku harap seperti itu." Gu Yuena hanya bisa mengungkapkan kalimat lain—secara asal. Ia sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Apa itu ungkapan perdamaian?" Bai Youzhe terlihat sangat tenang menghadapi Gu Yuena.


"Anggap seperti itu." Gu Yuena menunduk, melihat jari-jarinya yang meremas selimut di genggamannya. Ia terlihat cemas, "Sejujurnya ... aku 'sedikit' merindukanmu ... mungkin?"


"Benarkah?" Bai Youzhe tersenyum senang. Ini adalah kali pertama Gu Yuena menunjukkan perhatiannya. Hati Bai Youzhe merasa bergejolak.


"Tidak. Aku ingatkan padamu, kau akan menyesalinya." Gu Yuena sebenarnya tidak ingin memberi harapan pada siapa pun. Tapi ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


"Aku justru akan menyesal jika memilih pergi, hanya karena umurmu yang pendek itu." Bai Youzhe menyentuh wajah Gu Yuena, dan mengusapnya dengan lembut.


Gu Yuena merasa ada sesuatu yang menggelitikinya, tapi jelas-jelas ia sedang memeluk selimut dengan erat. Sentuhan lembut Bai Youzhe membuatnya merasakan hal aneh.


Sepertinya ia belum sepenuhnya terbangun. Ayolah sadar!


"Cium aku."


Bai Youzhe tertegun. Apa itu benar Gu Yuena yang minta? Dia tidak sedang mabuk, 'kan?


"Kau serius?" tanyanya.


Gu Yuena mengerjap mata. "Entahlah." Ia sendiri merasa sudah gila setelah mengatakannya. Tiba-tiba terlintas dan terucap begitu saja. Tapi ia sendiri tidak menyangkal kalau ia menginginkannya.


"Itu—"


Gu Yuena tidak sempat melengkapi kalimat ketika bibirnya dibungkam oleh ciuman panas dari Bai Youzhe. Ia terpojok di kepala tempat tidur, sedangkan jaraknya dengan Bai Youzhe mulai terhapus sempurna.


Terbawa oleh suasana panas yang membara, Gu Yuena melingkarkan kedua lengannya di leher Bai Youzhe dan memperdalam ciuman menjadi lebih panas.


Ia merasa suhu ruangan menjadi panas. Sentuhan lembut Bai Youzhe di sekujur tubuhnya, menambah tingkat gairah hingga tanpa sadar ia mencengkram bahu pria itu.


Bai Youzhe mengangkat kaki bagian atasnya, sehingga Gu Yuena terlihat lebih tinggi dan sedikit menunduk.


Gu Yuena itu melepas ciuman untuk mengambil napas, menatap iris biru malam Bai Youzhe yang membuatnya terperangkap lebih jauh. Ia tidak tahu apa yang ia pikirkan. Benar-benar kacau.


Sedangkan Bai Youzhe dilanda keraguan. Ia ingin hubungan ini menjadi lebih jauh, tapi ia tidak bisa memaksakan kehendak.


"Apa kita pernah melakukannya?" Gu Yuena bertanya. Ia ingin memastikan apa yang terjadi malam itu.


"Aku tidak memanfaatkan orang mabuk." Bai Youzhe mengatakan kebenarannya. Tidak mungkin ia terus menyembunyikannya sebagai senjata.


Gu Yuena diam untuk beberapa saat. "Jadi ... ini pertama kalinya?" Ia tidak terlihat kesal, melainkan bingung.


Bai Youzhe tersenyum, lalu memberi ciuman lembut pada bibir Gu Yuena. Tapi itu tidak berlangsung terlalu lama, karena ia melepasnya lagi sebagai penutup.


"Aku juga tidak memanfaatkan anak kecil."


"Anak kecil?"


"Bagiku, kamu masih terlalu kecil." Bai Youzhe tersenyum seraya menyentuh hidung mungil Gu Yuena.


Agak kesal dibilang anak kecil, tapi Gu Yuena sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru terlihat biasa saja.


"Lalu, bagaimana kau akan menanganinya?" Gu Yuena merasa ada sesuatu yang menonjol di bawah sana.


Senyum Bai Youzhe menjadi kecut. "Pernah terjadi beberapa kali. Aku bisa menanganinya."


Gu Yuena mengangguk pelan. Ia terlihat lebih patuh dibanding hari-hari sebelumnya. Bahkan ketika Bai Youzhe mengangkat tubuhnya untuk dibaringkan dan diselimuti, ia masih tidak bereaksi, sepenuhnya menjadi kucing jinak.


"Aku akan menemuimu besok." Bai Youzhe beranjak dari tempat tidur, lalu pergi dengan perasaan bercampur aduk.


Ini terjadi lagi.


Sedangkan Gu Yuena masih tenggelam dalam fantasinya yang kacau. Ketika sadar, ia langsung tersontak heboh.


"Oh, yaampun ...." Gu Yuena mengerang dan menarik selimutnya sampai kepala, menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Bahkan kakinya tidak bisa diam menendang-nendang udara.


Apa katanya tadi? Mulutnya baru saja membicarakan hal ambigu yang benar-benar di luar pemikirannya. Ia merasa tidak waras!


Sejak kapan ia dan Bai Youzhe memiliki hubungan seperti itu?


Apa status mereka sekarang?


Ah, Gu Yuena sama sekali tidak mengerti!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari setelah malam aneh itu, Gu Yuena jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Ia menghindari kontak mata dengan Bai Youzhe, hanya mengikutinya di belakang seperti anak ayam.


Bahkan ketika urusan mereka telah selesai di alkemis guild dan kembali ke Kota Wirefall, Gu Yuena masih diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Pasalnya, ia masih terlalu terkejut.


Musim gugur di Wyvernia sangat indah. Ini kali pertama Gu Yuena keluar guild setelah berbulan-bulan kultivasi sendirian dan tertutup. Ia merasa baru melihat dunia setelah sekian lama ketika melihat daun-daun kuning berguguran dari pohonnya.


"Kapan kau ulang tahun?" Bai Youzhe tiba-tiba bertanya.


"Aku pikir kau tahu banyak hal." Gu Yuena akhirnya bicara setelah sekian lama bungkam. Pikirannya benar-benar jernih ketika menghirup udara kebebasan.


"Kediaman Adipati tidak pernah merayakan ulang tahunmu, bahkan semua pelayan tidak tahu kapan kau dilahirkan."


"Bukankah sangat miris? Aku sendiri nyaris melupakan ulang tahunku ...." Gu Yuena tiba-tiba terdiam, seperti teringat sesuatu.


Bayang-bayang kematian ayahnya yang tertabrak mobil saat menjemputnya di sekolah dengan membawa kue mulai menghantuinya. Saat itu adalah ulang tahunnya yang ke-8.


Suara tabrakan yang begitu nyata di telinga mengganggunya, membuat Gu Yuena spontan menutup mata.


Ia membuka mata tak lama setelahnya, "Lebih baik tidak diingat, itu lebih baik."


Gu Yuena memilih mengabaikan ulang tahunnya sendiri selama bertahun-tahun. Itu hanya akan membuatnya sedih.


Ada kalanya Gu Yuan berniat merayakan ulang tahun atau sekadar memberinya hadiah, tapi ia selalu menolak segala hal berbau hadiah ulang tahun, seolah trauma akan ulang tahunnya sendiri. Ayahnya yang paling ia sayangi mati di hari itu, sedangkan ulang tahunnya menjadi bagian dari batu nisan.


Bai Youzhe tidak mengungkit lagi. Sepertinya ulang tahun Gu Yuena adalah hal menyedihkan. Ikuti saja kemauannya.


"Ingin mencari hiburan?" Bai Youzhe pikir Gu Yuena butuh hiburan agar tidak murung seperti itu.


"Aku tidak tahu hiburan apa yang cocok selain memukul orang." Gu Yuena menghela napas panjang. Hidupnya sangat tidak seru.


"Kalau begitu kita fokus pergi ke hutan untuk berburu, lalu pergi ke pasar gelap untuk menemui seseorang. Itu juga kau mau."


"Kalaupun aku tidak mau, aku tidak memiliki pilihan selain mengikut, 'kan?"


Sebenarnya itu tidak perlu, karena segel telah dilepas. Tapi Bai Youzhe lupa bahwa Gu Yuena belum mengetahuinya. Apa gadis itu akan pergi setelah mengetahuinya?


"Apa yang akan kau lakukan kalau aku melepas segel pikiran?" Bai Youzhe mengujinya.


"Pulang ke akademi. Aku merindukan guruku, si pecandu anggur yang gila." Setelah mengatakannya, pandangan Gu Yuena terarah ke arah lain akan sesuatu yang menarik perhatiannya.


Otomatis pandangan Bai Youzhe mengikuti arah pada Gu Yuena. Pada saat itulah, wajahnya menjadi dingin ketika melihat sosok pria berjubah hitam datang menghampiri mereka.


Kedua iris biru malam Bai Youzhe bertubrukan dengan sepasang iris hitam legam pria itu. Sama-sama dingin, sama-sama mengancam. Siapa pun tidak akan tahan melihatnya.


Itu adalah Yang Xinyuan!


"Nona, kita pergi saja, yuk." Xiao Hei tiba-tiba muncul entah dari mana menarik-narik ujung gaun merah Gu Yuena.


Gu Yuena melihat ke bawah, lalu membawa Xiao Hei ke gendongannya. Ia tersenyum kecut, "Aku tidak bisa."


Pandangan Gu Yuena terarah pada Bai Youzhe dan Yang Xinyuan yang sepertinya 'jatuh cinta pada pandangan pertama' yang membuatnya sesak. Oh yaampun, pandangan dingin itu. Seperti ada sambaran petir di antara keduanya.


"Nana, lama tidak bertemu." Yang Xinyuan menyapa dengan akrab, mengabaikan tatapan bermasalah Bai Youzhe seolah akan melubanginya.


"Nana? Hanya aku yang dapat memanggilnya seperti itu." Bai Youzhe langsung menyela pria itu dan menarik pinggang Gu Yuena untuk mendekat dengannya. Gu Yuena tidak boleh dekat-dekat dengan orang itu.


"Tapi Nana sudah setuju." Yang Xinyuan melihat tangan Bai Youzhe yang menarik Gu Yuena dengan tajam.


Bai Youzhe melirik Gu Yuena. "Kamu setuju?"


Gu Yuena merasa dua orang ini bermasalah. Jika ia menjawab 'ya', maka Bai Youzhe pasti akan mengamuk. Sedangkan jika ia menjawab 'tidak', entah apa yang akan dilakukan Yang Xinyuan.


"Yang Xinyuan, kenapa kau di sini?" Jadi Gu Yuena memilih mengabaikan pertanyaan menjebak itu.


"Beberapa waktu lalu aku kembali ke akademi. Yan Shuiyin sangat mengkhawatirkanmu. Jadi mengutusku untuk mencarimu karena sudah tidak ada kabar selama beberapa bulan ini. Aku pikir kau ada di Ibu Kota."


"Awalnya memang seperti itu. Tapi, terjadi beberapa tragedi." Gu Yuena tidak berniat menjelaskan secara detail.


"Apa kau terluka?" Yang Xinyuan tampak mencemaskan Gu Yuena. Wajah datarnya memiliki sedikit emosi ketika melihat perempuan itu.


"Tidak ...." Gu Yuena merasa punggungnya mendingin seketika. Ia melirik ke arah Bai Youzhe, lalu bicara cepat-cepat. "Aku akan segera kembali ke akademi untuk menemui Guru, tenang saja."


"Aku akan mengantarmu." Yang Xinyuan terlihat melirik ke arah Bai Youzhe, memberi isyarat untuk melepaskan Gu Yuena.


Tapi Bai Youzhe tetap bersikap dingin. "Dia bersamaku. Aku yang akan mengantarnya."


"Orang luar tidak diperkenankan datang ke wilayah Tetua Agung Yan." Yang Xinyuan memberi peringatan.


"Aku juga murid Akademi Yuansu dan pernah seasrama dengan Nana, tidak termasuk orang luar." Bai Youzhe membalas dengan fakta.


"Aku dan Nana berada di wilayah halaman dalam yang sama dan berlatih bersama selama beberapa bulan terakhir."


"Aku mengenalnya lebih dari satu tahun."


"Tapi waktuku bersamanya lebih banyak. Aku mengenalnya dengan baik."


"Bagaimana kau bisa mengira bahwa waktumu lebih banyak dariku?"


"Dia menceritakannya padaku." Yang Xinyuan menyahut begitu enteng sampai membuat Bai Youzhe nyaris mempercayainya.


Bai Youzhe melirik Gu Yuena dengan raut aneh. Gu Yuena bercerita? Bahkan perempuan itu tidak pernah menceritakan apa pun padanya.


Tapi tentu saja, Bai Youzhe tidak mau kalah. "Aku pernah tidur—aww!"


Gu Yuena tiba-tiba saja menginjak kaki Bai Youzhe begitu keras. Kakinya sudah seperti baja, sangat keras sampai Bai Youzhe mengaduh kesakitan dan menghentikan kalimatnya.


Gu Yuena pun berkata dengan perasaan tidak enak, "Kita bertiga pergi bersama. Sejujurnya aku bisa pergi sendiri, tapi jika kalian ingin ikut ... aku hanya bisa mengingatkan untuk tidak membuat keributan."


Gu Yuena meminta maaf pada Bai Youzhe dalam hati karena telah menginjaknya berlebihan. Salah siapa ingin membocorkan hal itu?


Sedangkan untuk Yang Xinyuan, kenapa pria itu melebihkan kata-kata untuk membuat Bai Youzhe kesal? Bisakah bersikap dingin seperti biasa?


Andai saja ia bisa meninggalkan mereka berdua ....