Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
127. Langkah Terakhir



Alam spiritual mengalami perubahan signifikan. Sihir merah yang berterbangan seperti angin kini menjadi sangat tenang. Titik-titik merah muncul seperti butiran kristal dari sihir merah, berkumpul di sekitar phoenix kecil yang tertidur.


Itu bersinar, mengelilingi phoenix kecil dan memadatkan rohnya ke bentuk semula. Perlahan, cahaya membawanya ke lantai gelap dan semakin membesar.


Ketika cahaya menyebar—kembali menjadi sihir merah yang berterbangan—sosok perempuan terlihat tengah menutup matanya. Kulitnya sangat pucat seperti mayat. Kelopak mata indahnya sedikit bergerak, membuka celah dan menunjukkan sedikit iris merah yang redup. Namun, hal tersebut hanya berlangsung sebentar. Ia kembali menutup mata ketika melihat sihir merah yang berterbangan layaknya angin di sekitarnya.


Sepertinya wanita itu sedang menyelesaikan apa yang tidak bisa ia selesaikan.


Di samping itu, wanita yang ia maksud saat ini tengah duduk diam di ruang belajar. Melihat sisik berukuran telapak tangan yang tampak berkilau di tangannya, pikirannya tenggelam.


"Kedepannya akan sangat rumit. Sisik pelindung jantung akan melindungimu ketika nyawa terancam di saat-saat terakhir saat aku tidak ada di sisimu."


Gu Yuena meletakkan sisik pelindung jantung ke atas meja, merasa sesuatu membuat hatinya goyah. Bai Youzhe memberinya sisik pelindung jantung, di mana itu merupakan sisik naga bagian jantung milik Bai Youzhe sendiri. Pasti sangat sakit ketika mencabutnya.


"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Keningnya berkerut dalam-dalam.


Saat ia tengah memikirkan menurut sudut pandang Bai Youzhe yang gila itu, fluktuasi energi dari dalam alam spiritual membuatnya bereaksi. Cepat-cepat ia menutup mata, memasuki alam spiritual.


Sosok wanita bersurai merah masih menutup mata dalam keadaan lemah. Wanita pucat itu menghampiri, lalu berjongkok di dekatnya untuk memastikan bahwa kesadaran aslinya benar-benar pulih atau tidak.


Ternyata belum pulih.


"Kulihat kau begitu menyedihkan," katanya dengan nada rendah. Ia menyentuh rambut merah itu dengan halus, lalu tersenyum kecut. "Aku adalah iblis dalam hatimu, kau jelas tahu apa yang terjadi di luar sana melalui mataku. Perubahan hatimu, sangat mempengaruhi keberadaanku."


Gu Yuena masih tidak mengatakan apa pun meski mendengarnya. Ia hanya diam, merasa tidak bertenaga meski hanya ingin menyahut dengan dehaman.


Wanita itu melanjutkan, "Kau begitu mencintainya. Sudah kukatakan, cinta adalah kelemahan. Misalkan saja Bai Youzhe yang dimabuk cinta sampai menyerahkan nyawanya padamu begitu saja. Benar-benar tidak menghargai diri sendiri. Kamu jangan menjadi bodoh sepertinya."


Ia melihat Gu Yuena sekali lagi, lalu menghela napas. "Pengumpulan 1000 darah sudah tercukupi. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang terakhir sebelum kembali ke istana." Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu. "Tidak, aku masih harus membunuh musuh-musuhku, menjadikan mereka sebagai pelengkap pengorbanan. Klan Ye, Aula Linghun, Iblis ...."


Iblis telah membuatnya terluka cukup parah, ia telah memperhitungkannya. Meski para iblis yang melukainya sudah mati, beberapa masih hidup dan berlindung di kaki Tuan Iblis. Tuan Iblis juga pastinya bertanggungjawab akan apa yang terjadi di Pegunungan Iblis.


"Aku harap kau tidak bangun sebelum segalanya usai. Aku masih ingin menikmati suasana pembunuhan." Wanita itu tersenyum dingin, lalu pergi dari alam spiritual.


Gu Yuena yang sebelumnya hanya menutup mata kini menujukkan iris merah darahnya. Ia juga mengharapkan hal seperti itu, tapi rasanya ada yang tidak beres.


Bai Youzhe memberinya sisik pelindung jantung, apa pria itu sudah tahu bahwa ia akan pergi membunuh Tuan Iblis sebagai langkah terakhir di Dunia Bawah?


Rasanya, ada terlalu banyak kebetulan.


"Yang Mulia." Huang Jiu datang memberi berita. Wajahnya tampak gugup saat ini, berbeda dari dirinya yang biasa.


"Ada apa?"


"Ada pesan dari pengintai di wilayah iblis."


"Apa itu?" tanyanya.


"Ini mengenai Tuan Iblis. Mereka mengatakan bahwa ada beberapa iblis yang berpencar dan melakukan perjalanan ke Wilayah Phoenix. Sepertinya Tuan Iblis tidak bisa diam lebih lama."


Gu Yuena menarik alisnya. Lagi-lagi sebuah kebetulan. Ia memang sengaja memprovokasi Tuan Iblis dengan melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap rakyatnya, siapa sangka akan datang hari ini sesuai yang diharapkan.


Apa benar ini semua hanya kebetulan?


"Kumpulkan pasukan istana di dalam pembatas ilusi. Buat para iblis tidak menyadari, bahwa kita mengetahui pergerakan mereka. Jangan beritahu berita ini kecuali pada para jenderal." Gu Yuena punya rencana.


"Tapi ... bagaimana jika pembatas ilusi dirusak ketika mereka menerobos paksa? Bagaimana dengan evakuasi?"


"Tidak perlu dilakukan. Aku memiliki kejutan untuk mereka." Gu Yuena menunjukkan senyum misterius yang membuat Huang Jiu tambah bingung. Namun, ada rasa percaya yang kuat ketika Gu Yuena mengatakannya. Wanita itu pun mengangguk.


Huang Jiu segera memberitahu para jenderal pasukan untuk mengontrol pasukan dan membuat pertahanan di sekitar istana. Ia tidak tahu apa rencana Gu Yuena, tapi ia akan sebisa mungkin melakukan yang terbaik untuk melindungi wilayah phoenix.


Begitu pembatas ilusi diterobos, mereka akan langsung menyerang.


Tidak ada yang tahu krisis apa yang akan terjadi sehingga wilayah phoenix tampak sangat damai. Bahkan mereka sendiri merasa aneh, karena tidak ada sedikitpun pergerakan dari pasukan yang biasanya keluar-masuk pembatas ilusi membawa bau darah.


Terasa sangat aneh. Huang Jiu sendiri semakin merasa gelisah.


Di sisi lain, Gu Yuena tiba di ruang bawah tanah yang ia buat selama ada di sini. Ruang bawah tanah ini terhubung dengan perbatasan ilusi, atau lebih tepatnya jalan pintas dari Pegunungan Iblis ke perbatasan ilusi. Sedangkan perbatasan ilusi adalah sebuah hutan belantara yang memisahkan antara wilayah phoenix dan dunia luar.


Ketika pembatas ilusi diterobos, maka mereka akan disambut oleh hutan belantara yang penuh aura kematian. Pasukan istana juga akan muncul. Pada saat itulah, ia akan bertindak.


Resiko yang terjadi bila ia gagal adalah diterobosnya hutan dan memasuki Wilayah Phoenix. Meski Gu Yuena memiliki rencana cadangan untuk mencegah kerusakan fatal, ia masih harus waspada akan kekuatan Tuan Iblis.


Tidak tahu orang itu akan datang atau tidak untuk balas dendam setelah ia melahap tunggangan kesayangannya.


Di dalam ruangan bawah tanah, Xiao Hei muncul dalam bentuk makhluk hitam sebesar macan kumbang normal. Gu Yuena melihatnya dengan senyuman.


"Kau sudah datang," sapanya.


"Nona, apa yang harus kulakukan dengan ini?" tanya Xiao Hei.


"Kita akan bersenang-senang setelah sekian lama. Sampai aku memulihkan diri dari serangan balik kekuatan jiwa, kamu akan membantu bersama 'mereka'."


Xiao Hei mengangguk paham. Pandangannya yang tajam terarah pada kegelapan di lorong sana dengan penuh perhatian.


Itu adalah beberapa hal yang telah menjadi perhatian Gu Yuena selama beberapa bulan terakhir. Kini saatnya melepas mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepanjang hari, Bai Youzhe berdiri diam di satu tempat tanpa berpindah atau mengatakan sesuatu. Sejak dari Wilayah Phoenix, ia jadi lebih pendiam dari sebelumnya. Ia tidak kembali ke istana, justru menetap di pegunungan dekat hutan perbatasan Wilayah Phoenix sambil memperhatikan suasana hutan dari jauh.


Bao Jun yang berdiri lama menunggu tuannya tidak bisa tidak merasa lelah, tapi ia tidak boleh meninggalkan tuannya begitu saja. Su Churan baru saja kembali ke Dataran Mitian, sedangkan Chu Xin mengurus guild. Hei Changge menerima perintah dari Bai Youzhe untuk memastikan kondisi hutan belantara dalam bayang-bayang.


Bao Jun sendirian tanpa teman-teman.


"Yang Mulia, apa Anda tunggu sepanjang hari ini?" Bao Jun penasaran apa yang ingin dilihat Bai Youzhe. Tapi ia tidak bisa menebak.


"Memastikan keamanan."


Bao Jun mengangguk-angguk paham. Tanpa dijelaskan, ia sudah tahu bahwa tuannya yang menjadi budak cinta ini ingin memastikan keamanan Gu Yuena.


Namun, kenapa harus dari jauh seperti ini? Tidak bisakah pria itu menemui nona langsung?


"Itu ...." Bao Jun ingin mengatakan sesuatu lagi untuk memecah keheningan, namun beberapa bayangan hitam yang melesat di sekitar hutan mengejutkannya.


Tatapan Bai Youzhe menajam seketika. "Mereka datang."


Siapa? Siapa yang datang? Bao Jun benar-benar bingung dan melihat hutan yang kini menjadi sepi seperti sedia kala. Bayangan itu melesat sangat cepat.


Detik berikutnya, sebuah ledakan terjadi di tengah hutan menciptakan sihir merah yang menyala di udara. Pada saat yang sama, beberapa sosok merah meluncur ke udara dengan sayap indah dan mengeluarkan api yang begitu besar di sekitar hutan.


Pembatas ilusi telah dihancurkan.


Banyak bayangan hitam berterbangan dan melesat dari berbagai arah di sekitar hutan. Hutan ini terasa sangat sepi seolah tidak tidak ada kehidupan. Jika mereka tidak melihat beberapa phoenix yang kabur ke udara dan melakukan pertahanan seperti burung terkejut, mereka akan mengira ada jebakan di dalam hutan.


Pembatas ilusi sudah hancur, ada beberapa phoenix yang lari dari mereka ke arah istana dengan cepat. Para bayangan itu mengejar tanpa henti dan meluncur seperti meteor jatuh.


Sampai akhirnya tampak sebuah kastil besar dan megah dari kejauhan. Menara tinggi itu terlihat dari langit. Phoenix memang merupakan ras yang paling kaya sampai dapat menciptakan kastil yang begitu besar dan menyatu dengan wilayahnya.


Kastil dikelilingi oleh danau buatan, hanya bisa dimasuki dengan cara terbang. Karena kini kastil telah dikelilingi sebuah barrier, pasukan bayangan hitam itu mendarat di tanah dan membentuk banyak iblis berbaju zirah.


"Ratu Phoenix sangat teliti, bahkan membuat barrier di sekitar istana setelah pembatas ilusi dihancurkan." Salah satu iblis mendengus kesal.


"Hanya burung-burung bodoh yang bergantung pada wanita itu, mana bisa bertahan lebih lama selama pemimpin mereka dalam keadaan lemah. Jangan buang waktu! Selagi Ratu Phoenix terluka, jangan beri mereka kesempatan bernapas dari pertempuran!"


Mereka mengerahkan kekuatan mereka untuk menghancurkan barrier yang dibuat. Baru saja sihir kegelapan akan menyentuh barrier, sebuah sihir api menghantam sihir kegelapan dengan keras dari udara.


Para iblis itu terperangah, lalu mendongak ke atas melihat ada banyak pasukan phoenix terbang yang siap bertempur. Mereka memang sudah mengantisipasinya.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, mereka bertarung di dua tempat. Udara penuh akan sihir yang berterbangan, sedangkan tanah diramaikan oleh gencatan senjata dari dua pihak.


Tidak hanya ada pasukan phoenix yang keluar dari kastil. Ketika seekor kucing besar terlihat dari arah hutan, lebih dari puluhan monster besar seukuran gunung muncul menyerang para iblis.


Iblis-iblis itu jelas terkejut. Sejak kapan phoenix memiliki sangat banyak monster yang ditaklukan?


Xiao Hei bertarung dengan penuh semangat. Gu Yuena masih memulihkan diri sehingga tidak boleh bertarung terlebih dahulu, ia harus menyelesaikan para penyerang ini agar nonanya tidak perlu terlalu banyak membuang tenaga sebagai antisipasi kedatangan Tuan Iblis.


Dan benar saja, sosok kabut hitam muncul di medan perang menekan banyak phoenix dengan sihir kegelapan. Sihir itu membentuk pusaran yang begitu besar, menghempas banyak phoenix dan monster iblis bersamaan sampai terbentur barrier kastil.


Saat itu juga, sosok berjubah hitam muncul di udara. Rambut peraknya berkibar terbawa angin, matanya merah seperti darah dan terlihat sangat tajam.


Itu adalah Tuan Iblis!


Di istana, kekuatan jiwa yang mengamuk di tubuh Gu Yuena perlahan menyusut. Meski telah menyusut, sisa-sisa kekuatan jiwa itu masih tidak karuan sehingga kapan pun bisa menyakiti organ dalam Gu Yuena. Kekuatan jiwa bersifat korosif, sehingga menekan kekuatan sihir Gu Yuena dan berusaha mengambil alih.


Ketika bertarung nanti, tidak mungkin Gu Yuena tidak menggunakan kekuatan jiwa. Pondasi kekuatan phoenix-nya belum cukup baik karena masih awal evolusi, butuh waktu cukup lama untuk menempanya lebih baik. Apalagi, kesadaran aslinya masih tertekan akibat kekuatan jiwa.


Gu Yuena biasanya terlihat sangat tenang, saking tenangnya sampai tidak ada pelayan yang mengkhawatirkannya. Rasa sakit yang dideritanya hanya sampai alam spiritual, tidak ditunjukkan secara langsung sehingga ruangan menjadi sangat sunyi.


Namun, kesunyian itu tidak benar-benar bertahan ketika suasana ruangan kultivasi berubah dipenuhi kabut merah muda. Sedangkan Gu Yuena masih menutup matanya dalam kondisi meditasi tanpa terpengaruh.


Bayangan melesat masuk ke dalam, tertawa ringan dalam bayang-bayang sambil mendekat ke arah Gu Yuena. Ia memiliki sepasang mata merah yang penuh aura jahat, sama sekali tidak memiliki niat baik. Kukunya yang hitam dan panjang mendekat ke arah Gu Yuena.


Gu Yuena membuka matanya, menangkap tangan yang akan mencekiknya itu dan menghempasnya ringan ke sudut lain ruangan. Namun, sosok itu tidak sepenuhnya terhempas. Dia kembali meluncur dengan gerakan yang lebih ganas dan menebas Gu Yuena dengan cakarnya.


Dia bukan manusia, juga bukan monster, tapi siluman rubah berekor sembilan betina yang telah menjadi iblis. Serangannya tidak mampu melukai Gu Yuena. Namun, itu cukup menyebabkan banyak kerusakan akan sembilan ekornya yang muncul.


Ketika Gu Yuena menghindari cakarnya, salah satu ekor rubah itu hendak memukulnya dan mengeluarkan sihir merah muda yang korosif. Gu Yuena mrngayunkan tangannya, menyingkirkan serangan itu menggunakan sihir sebelum akhirnya menghilang dari tempat.


Rubah itu waspada karena musuh telah menghilang. Ia menyadari pergerakan Gu Yuena, tapi tidak dapat melihat sosoknya. Tiba-tiba, sebuah sihir merah muncul menekan tubuhnya sampai terhempas dan menghancurkan dinding ruangan.


"Aku pernah melahap jenismu untuk mendapat kekuatan rubah. Sekarang, aku penasaran bagaimana rasa iblis rubah yang sesungguhnya." Gu Yuena muncul di antara sihir merah yang merebak. Senyumnya terukir sangat cantik dengan perasaan dingin yang mengerikan.


Rubah itu berdiri susah payah, lalu memasang sikap waspada melihat Gu Yuena. "Aku juga penasaran rasa manusia yang menjadi phoenix."


Rubah itu kembali maju menyerang. Sihir merah mudanya berterbangan di sekitar, membentuk serangan sulur yang siap menikam siapa pun. Gu Yuena menangkap sihir tersebut dengan tangan kosong, membuat rubah itu terkejut setengah mati.


Bagaimana sihir bisa disentuh?


"Hanya ini?" Gu Yuena menarik sihir tersebut dan mengembalikannya ke arah si rubah. Rubah itu kalang kabut dan sebisa mungkin menghindari serangan yang dibuatnya sendiri.


Gu Yuena tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak kekuatan untuk menghabisi seekor rubah menyebalkan yang mengganggunya memulihkan diri.


Pemulihan diri tidak sempat diselesaikan. Gu Yuena dapat merasakan keberadaan yang sangat kuat di luar. Mungkin itu juga yang menyebabkan barrier melemah dan membiarkan rubah ini masuk seenaknya.


Meski tidak semua iblis dapat masuk, setidaknya iblis seperti wanita rubah yang ditanganinya ini bisa memanipulasi energi dan menerobos barrier yang menipis. Barulah bisa menyerangnya di saat-saat kritis.


Selama kesadaran aslinya tidak pulih, kekuatan jiwa akan terus mengalami serangan balik. Jika ingin pulih sepenuhnya, ia takut segalanya tidak akan berjalan sesuai rencana. Jadi terpaksa ia hanya menekan kekuatan jiwa sampai batas dan bangun tepat waktu.


Namun, itu tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan mengalami serangan balik lagi di tengah pertempuran.


Ketika rubah itu tengah kalang kabut dan terus menghindar, Gu Yuena menggunakan sihir untuk menangkapnya. Rubah itu cepat tanggap, memblokir serangan Gu Yuena dengan perisai dan melesat keluar ruangan melalui dinding yang hancur sampai menciptakan lubang besar.


Rubah itu menghancurkan serangannya sendiri yang kini berbalik menyerangnya. Berdiri di udara, ia menyiapkan sihir yang lebih besar untuk menjatuhkan Gu Yuena.


"Merepotkan." Gu Yuena berdecak.


Serangan rubah itu membentuk sebuah lubang hitam besar. Lubang hitam itu bisa menyerap apa pun di sekitarnya sampai menciptakan hembusan angjn yang kencang seperti telah terjadi badai. Para phoenix ingin menghentikannya, tapi Gu Yuena menahan mereka.


Hanya seekor rubah kecil, apa bisa begitu menakutinya?


Gu Yuena pergi ke udara mendekati lubang hitam itu. Tekanan yang diciptakan sangat besar sampai bisa menyerap segala hal, yang membuat rubah itu terlihat sangat senang.


"Matilah!" Rubah itu melempakan lubang hitam ke arah Gu Yuena. Gu Yuena tidak melambatkan kecepatannya, justru semakin cepat ke arah lubang hitam yang meluncur.


Ketika wanita rubah tertentu berpikir bahwa musuhnya telah terperangkap di dalam lubang hitam yang penuh energi kekosongan dan tidak dapat melakukan apa pun, ia tertawa sangat keras sambil menggerakkan kesembilan ekornya.


Namun, begitu ledakan lubang hitam terjadi, wajahnya memucat seketika.


Gu Yuena bukannya terserap ke dalam, justru menggenggam lubang hitam yang menyusut di tangannya.


Ia memiliki kekuatan manipulasi energi milik rubah berekor sembilan, bukan masalah besar untuk menyusutkan lubang hitam yang sudah seperti vacum cleaner di matanya. Itu terlihat seperti bola kasti hitam yang melayang di atas telapak tangannya.


"Bagaimana mungkin?" Rubah itu sangat terkejut.


Gu Yuena mendengus. "Kau melupakan identitas lawanmu sendiri." Ia menyimpan bola hitam itu, lalu melesat ke arah si rubah dan mencekik lehernya dengan erat.


Rubah itu tidak sempat menghindar. Ketika sadar, ia sudah jatuh ke tangan Gu Yuena dan merasa nyawanya sudah ada digenggaman orang lain. Ia kesulitan bernapas, ditambah tubuhnya terus meluncur dijadikan alat penghancur dinding oleh Gu Yuena sampai menerobos bagian depan istana sampai benteng kastil.


Rubah itu telah mengeluarkan darah di mulutnya. Ia sangat lemas ketika Gu Yuena mencengkeram lehernya dengan erat di ujung kastil. Ia dapat melihat, di bawah kakinya adalah ketinggian yang sangat tinggi di atas benteng. Jika jatuh, maka ia tidak akan selamat.


Kedatangan Gu Yuena langsung menjadi pusat perhatian. Para phoenix terkejut ketika melihat iblis di tangan Gu Yuena. Itu berarti, ada iblis yang berani menyusup ke dalam untuk membuat masalah dan mengganggu pemulihan ratu mereka.


Iris merah Gu Yuena melihat ke arah medan perang. Ternyata kondisi pihaknya tidak sebaik yang ia pikirkan karena kehadiran seseorang.


Pria bersurai putih serta iris merah yang mengerikan. Meski dia tampak tampan, itu tidak cukup membuat Gu Yuena terpana. Dalam matanya hanya ada kabut kebencian.


"Selamat datang, Tuan Iblis. Maaf tidak bisa menyambut kedatanganku dengan baik." Gu Yuena menampilkan senyum terbaik. Ia melihat ke arah rubah yang berusaha melawan di tangannya. "Ada beberapa hal yang harus kutangani sebelum menyambutmu. Apa Tuan Iblis tidak keberatan?" Ia lalu mematahkan leher rubah di tangannya begitu saja, lalu melepasnya sampai jatuh bebas ke bawah.


Tuan Iblis yang melihatnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. "Seperti yang dirumorkan, kau cocok dianggap sebagai phoenix iblis. Namun, bukankah kau masih terlalu lembut dalam menangani banyak hal sebagai iblis?"


"Sayangnya, aku tidak bisa menjadi iblis yang baik di mata Tuan Iblis." Gu Yuena menghela napas. "Beberapa waktu lalu, macan kumbang milik Tuan Iblis membantuku melakukan penerobosan. Bisa dibilang, keberhasilanku dalam menyerap roh phoenix sebelumnya juga berkat dirimu. Aku belum sempat berterimakasih dan ingin pergi ke wilayah iblis. Siapa sangka, ada terlalu banyak kebetulan di dunia ini."


"Lalu, bagaimana caramu berterimakasih?"


"Tentu saja, memberi 'kedamaian' pada seluruh iblis dan mendapatkan kehormatan di dalam tulang iblis. Jika aku bisa memberi kehormatan itu pada Tuan Iblis, Yuena tidak akan memiliki penyesalan." Gu Yuena tersenyum dingin.


"Menarik." Tiba-tiba Tuan Iblis menarik sudut bibirnya. "Aku juga penasaran bagaimana rasanya darah phoenix." Ia mengincar roh phoenix untuk mendapatkan darah phoenix dan menjadikannya iblis terkuat. Ia sudah menunggu hari ini.


"Kalau begitu, aku akan memberimu kesempatan itu."


Senyum Gu Yuena luntur saat itu juga bersamaan dengan sebilah pedang yang muncul di tangannya.


Ia tidak yakin dapat membunuh orang itu dengan cepat. Namun, ia memiliki keyakinan untuk membunuhnya jika mengerahkan seluruh tenaga. Iblis itu akan menjadi bahan terbaik di dalam tulang iblis.


"Gu Yuena, kau akan berterimakasih padaku."