
Seperti yang telah diduga, pasukan kematian kembali menyerang. Tidak hanya mereka, penyihir dan makhluk-makhluk hasil eksperimen juga dilepaskan dan menyerbu medan perang sekali lagi.
Kali ini, makhluk-makhluk asing itu menyebabkan banyak kejutan bagi orang banyak. Gu Yuena telah memperingati sebelumnya dan mereka telah khawatir untuk beberapa waktu. Sekarang, kekhawatiran itu memuncak.
Makhluk-makhluk itu sangat ganas dan memiliki kemampuan aneh. Mereka berbeda-beda jenis, tapi sangat kuat dan brutal. Seolah tidak mengenal kawan dan lawan, mereka menyerang apa pun di depan mereka bahkan makhluk kematian tak terkecuali.
Pasukan penyihir dan prajurit Istana Linghun lainnya telah berjaga-jaga dan memiliki sesuatu yang dapat menangkal pandangan makhluk buas itu. Mereka bertarung di sisi lain, membiarkan makhluk-makhluk menjijikan itu bertarung sesuka hati di garis depan.
Childe memimpin pasukannya untuk melawan pasukan kematian dan makhluk-makhluk aneh itu. Beragam warna serangan diluncurkan sesuai divisi tiap elemen, menyerang secara terorganisir dan menciptakan efek elemen yang mengerikan.
Ledakan es, api yang membara, sambaran petir, tornado, gulungan ombak, dan serangan dari tanah mendominasi medan perang dan memudahkan prajurit kekaisaran ketika menangani penyihir. Banyak kultivator ikut dalam perang dan menghadapi penyihir secara langsung, termasuk Su Churan dan lainnya.
Gu Yuena masih berada di benteng, mengamati jalannya pertempuran dalam diam. Dia sendirian, terlepas dari para pemanah dan penembak arteri yang bergantian menembak.
Dia masih tidak merasakan keikutsertaan Li Hua.
Itu berarti, Li Hua masih belum berniat maju di medan perang kali ini. Sepertinya sedang menunggu sesuatu.
Gu Yuena membuka sayapnya, mengepakkannya ke udara dan meluncur ke medan perang. Ada cukup banyak makhluk aneh di udara yang menargetkan garis belakang. Gu Yuena menggunakan api penyucian untuk membakar semuanya dalam satu kali serangan.
Makhluk-makhluk itu berubah menjadi abu yang berjatuhan ke dalam walam waktu singkat. Ketika abu hitam itu berjatuhan, sosok merah meluncur dari langit ke arah kerumunan monster.
Lingkaran sihir muncul di udara dalam bentuk rumit, memadat menjadi kumpulan api dan mendarat ke tanah. Gerakannya seperti benda yang batuh dari langit, membentur tanah dan menciptakan ledakan serta kobaran dahsyat yang merusak makhluk-makhluk aneh berukuran besar itu. Area apinya sangat besar, menyebabkan hampir seluruh medan perang terlalap oleh api.
Childe menarik pasukannya untuk menyingkir dan menangani sisa-sisa pasukan kematian yang lolos dari serangan langit. Dia melihat ke atas, matanya menunjukkan kejutan ketika melihat sosok merah yang terbang menjauh tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Gu Yuena sebenarnya membantu mereka. Childe agak terkejut. Ia pikir Gu Yuena hanya akan maju saat Li Hua turun ke medan perang.
Orang-orang yang sadar akan aksi Gu Yuena yang begitu tiba-tiba menghancurkan banyak pasukan kematian serta makhluk eksperimen menggunakan api penyucian yang dipadukan dengan lingkaran sihir. Mereka langsung terpana, terutama para anggota aliansi.
Itu adalah Pemimpin Suci aliansi mereka!
Sayangnya, Gu Yuena tidak berlama-lama di sini. Serangannya hanya memberi pukulan fatal bagi makhluk kematian dan makhluk eksperimen, tapi tidak membuat para penyihir ikut ke dalam lahapan api.
Meski begitu, itu saja sudah cukup membuat mereka mundur. Berkurangnya jumlah pasukan kematian dan hancurnya makhluk-makhluk yang baru mereka lepaskan adalah pukulan yang sangat fatal. Mereka khawatir, hal ini akan menyebabkan kemarahan sang Ratu.
Oleh karena itu, para penyihir tidak melanjutkan perang dan mundur bersama pasukan kematian yang tersisa. Mereka bahkan tidak mendapat satupun jiwa, karena api penyucian telah menghancurkan semua jiwa yang jatuh di medan perang tanpa sisa.
Itu adalah pukulan yang sangat berat bagi mereka!
Perang berakhir dalam waktu singkat, tanpa adanya korban yang berjatuhan dari pihak kekaisaran. Hanya ada beberapa cedera yang masih bisa disembuhkan oleh dokter dan alkemis. Merkea pun kembali ke gerbang kota dan melakukan perawatan atau kembali merencanakan strategi berikutnya.
Tindakan Gu Yuena benar-benar mengejutkan. Dia jarang ikut andil atau memberi pendapat saat menyusun strategi militer, karena dia tidak memiliki pengalaman dalam militer. Kemunculan Gu Yuena di tengah-tengah perang membawa banyak keuntungan.
Kalau seperti itu, bukankah hanya masalah waktu untuk menghapuskan Istana Linghun atau menekan mereka?
Karena hal ini, banyak dari mereka pergi menemui Gu Yuena untuk membicarakan keikutsertaannya dalam perang dan rencana yang akan mereka jalankan demi mendapatkan kembali wilayah kekaisaran. Dengan Gu Yuena maju di garis depan dan membuka jalan dengan api penyucian, mereka bisa menyerbu Istana Linghun dalam waktu singkat!
Sayangnya, mudah dikatakan, tapi sulit dilakukan. Gu Yuena menolak gagasan mereka.
"Kalau aku bisa melakukannya, aku tidak akan berada di sini melainkan menghadapi Ratu Istana Linghun secara langsung untuk kalian." Menurut Gu Yuena, itu adalah rencana berbahaya dan hanya akan memberi keuntungan jangka pendek. Apa yang ia lakukan barusan telah menguras banyak tenaganya. Selain itu, hanya makhluk ciptaan Istana Linghun yang mati. Penyihir mereka sama sekali tidak berkurang.
Mereka jelas tidak tahu, karena Gu Yuena terlihat sangat baik-baik saja seolah dia masih akan melancarkan serangan yang sama untuk kedua kalinya, atau bahkan ketiga kalinya.
Gu Yuena tentu saja tidak akan menunjukkan kelemahan diri sendiri.
"Urungkan gagasan kalian untuk memintaku membuka jalan. Aku di sini hanya untuk menghadapi Ratu Istana Linghun. Kedatanganku barusan bukan hanya untuk membantu orang-orangku, tapi untuk memaksa Ratu Istana Linghun untuk keluar dari sarangnya."
Ucapan Gu Yuena membuat para jenderal tenggelam. Para pemimpin istana—kecuali Yun Qiao—juga terdiam.
Memaksa Ratu Istana Linghun! Itu adalah mimpi buruk!
"Sebenarnya, caraku masih sangat halus. Aku bukannya tidak pernah berpikir untuk membuka jalan bagi kalian dan merebut kota-kota kalian kembali. Hanya saja, selama masih ada Ratu Istana Linghun, kalian hanya akan mencari mati. Andai kata kita berhasil mendapatkan wilayah, apa menurutmu, Ratu Istana Linghun akan diam? Saat itu aku pasti akan kelelahan, pertempuranku akan menjadi sangat tidak adil dan kita semua akan mati konyol."
Meski Gu Yuena agak kasar, ia sangat benar. Ungkapannya langsung memasuki logika semua orang dan tidak ada yang meragukannya.
Menggunakan kekuatan sebesar itu pasti sangat menguras tenaga. Untuk melawan Ratu Istana Linghun, Gu Yuena memang harus menyimpan tenaga. Kecuali ada Bai Youzhe, mereka tidak akan khawatir.
Namun, masih ada Yang Xinyuan. Bai Youzhe harus mengalahkan Yang Xinyuan terlebih dahulu dan tidak memiliki waktu menghadapi Ratu Istana Linghun dalam keadaan puncak.
"Kalau begitu, maaf telah mengganggu Ratu Bai." Salah satu jenderal merasa malu dan kembali ke barak bersama yang lain.
Para penguasa istana tidak mengatakan apa pun. Mereka tidak ikut para jendral membuat rencana militer sejak awal dan ada bersama Gu Yuena sejak perang berakhir. Mereka pikir, gagasan Gu Yuena lebih masuk akal.
Dengan memprovokasi Ratu Istana Linghun untuk maju ke medan perang, akan ada perang penentuan siapa yang akan kalah dan menang untuk mengakhiri semua kekacauan ini.
"Apa kau percaya diri dapat melawan Ratu Istana Linghun?" tanya Geng Ji.
Gu Yuena tersenyum pahit. "Entahlah? Bagaimana menurutmu?" Gu Yuena menjawab dengan tidak bertanggung-jawab. Hal itu membuat mereka tidak dapat berkata-kata.
Omong-omong, ia agak mengkhawatirkan kondisi Yun Qiao. Sejak serangan itu, Yun Qiao masih sakit. Lukanya lebih buruk dari yang terlihat.
Gu Yuena melarikan diri dari diskusi antar penguasa istana. Ia sudah cukup lama di dalam tenda dan hendak menjenguk Yun Qiao. Bagaimanapun, pria itu telah banyak membantu dan terluka karenanya. Gu Yuena agak merasa bersalah.
Namun, sebelum Gu Yuena memasuki tempat di mana Yun Qiao berada. Langkahnya terhenti ketika menemukan sosok pria yang berdiri di depan pintu kediaman.
Gu Yuena terdiam. Dia diam di tempat tanpa bergerak atau mengatakan sepatah kata, membiarkan pria itu mendekat ke arahnya dengan langkah lebar namun santai.
Wajah Gu Yuena menjadi dingin seketika. "Kenapa kau di sini?"
Pria itu tidak lain adalah Yang Xinyuan. Sebenarnya, Gu Yuena sangat terkejut dan tidak menyangka pria itu akan masuk tanpa diduga ke dalam Kota Shui yang dijaga ketat.
Mengingat Bai Youzhe dapat keluar-masuk seenaknya, ia tidak lagi terkejut dan memasang wajah dingin.
"Kita perlu bicara." Yang Xinyuan langung berbalik dan pergi, mengisyaratkan Gu Yuena untuk ikut.
Gu Yuena penuh kewaspadaan selagi mengikuti sambil menyimpan sebilah belati dari tangannya yang diletakkan di balik rok. Mereka berhenti tidak terlalu jauh, berada di tempat sepi dan terbuka.
Situasi ini membuat firasat Gu Yuena memburuk.
Yang Xinyuan melihat ke arah Gu Yuena, lalu terkekeh. "Aku tidak akan membunuhmu, ataupun bertarung denganmu. Kamu bisa menyimpan pisaumu dengan aman—kalau kau percaya."
Gu Yuena berpikir sejenak. Ia pun menyimpan pisaunya ke dalam ruang spiritual. Lagipula, pisau itu tidak akan bisa melukai Yang Xinyuan dengan mudah.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Gu Yuena.
Sorot mata Yang Xinyuan menjadi serius. Dia mendekat ke hadapan Gu Yuena, lalu berkata, "Aku datang untuk memberi peringatan ... dan pertimbangan."
"Oh ya? Apa itu?"
"Ratu mengambil jalan keilahian dan membentuk kekuatan ilahi sendiri. Kamu tahu, dewa sudah tidak ada. Itu membuat Ratu menjadi seseorang yang tidak dapat kau bayangkan. Aku sendiri tidak percaya diri melawannya." Yang Xinyuan berkata dengan jujur. "Alasanku tidak memberi tulang iblis padanya, tidak lain agar tulang iblis tidak memberinya lebih banyak kekuatan. Selain untuk membangkitkan Raja Gu, juga untuk memperkuat dirinya sendiri. Itulah yang dia lakukan selama ini."
Gu Yuena agak terkejut, tapi sebisa mungkin bereaksi secara normal. "Kenapa kau memberitahuku?"
"Karena kamu perlu mengetahuinya. Juga ... untuk memberi pertimbangan terakhir. Dalam waktu dekat, aku akan melancarkan serangan di Dunia Bawah. Bai Youzhe tidak akan bisa melindungimu dari Ratu. Ratu sudah berkata akan membunuhmu, maka dia akan melakukannya."
"Apa kau takut aku mati?"
Yang Xinyuan diam untuk beberapa saat, terlihat ragu. "Gu Yuena, pergilah bersamaku, aku akan menjauhkanmu darinya dan terbebas dari perang ini, terlepas dari siapa yang akan menang."
Yang Xinyuan tidak tahu pasti siapa yang akan memenangkan peperangan. Namun, dia sangat jelas mengenai kekuatan Li Hua. Antara Gu Yuena dan Li Hua, akan sulit bagi Gu Yuena untuk menang. Bahkan Bai Youzhe tidak bisa ada di sisinya dan melindunginya.
"Kau tidak dapat memberiku alasan yang tepat mengapa aku harus mengikutimu. Seharusnya kau tahu mengapa aku berkata seperti itu."
"Aku tidak peduli bagaimana pandanganmu. Bai Youzhe tidak dapat melindunginu, karena aku tidak akan membiarkannya."
"Maka kau juga tidak bisa melakukan apa yang baru saja kau katakan sebagai pertimbangan. Kau pikir ... seseorang akan melepaskanmu dengan mudah? Yang Xinyuan, kau berada di situasi rumit."
"Kau berpikir Bai Youzhe bisa menghentikanku? Apa kau melupakan dendamnya pada ibumu? Ibumu membunuh keluarganya, apa menurutmu dia akan melepaskannya begitu saja? Dia bisa mengabaikanku, tapi dia tidak akan mengabaikan ibumu."
"Maka dari itu, aku akan mengakhirinya. Kalau kau ingin pergi, maka pergilah. Aku tidak akan pergi dari tugasku."
"Apa kau tidak mementingkan nyawamu sendiri!"
Gu Yuena tertawa miris. "Nyawa? Apa pun hasil dari perang ini, nyawaku tidak lagi penting. Aku akan melawan ibuku, maka aku akan melawannya dengan nyawaku. Kau tidak memiliki hak untuk mengaturku. Kau bukan siapa-siapa."
Yang Xinyuan mengepalkan tinjunya erat-erat. "Gu Yuena ... kenapa kamu masih tidak mengerti! Menurutmu, apa dengan membantu Bai Youzhe akan membuatmu senang? Kau datang ke medan perang untuknya. Kau juga menjadikan ibumu musuh untuknya. Lalu, apa kau juga akan mati untuknya!"
Gu Yuena menggigit bibirnya merasa geram dan berkata dengan tegas. "Apa yang kau tahu! Kau ... kau hanya mesin pembunuh yang diciptakan ibuku. Senjata tidak memiliki emosi. Jangan berpikir kalau kau mengenalku lebih baik dari diriku sendiri. Jangan gunakan alasan itu untuk menutupi kecemburuanmu."
Yang Xinyuan sangat kesal. Ia terkekeh, lalu berkata, "Cemburu? Yah, kau tidak salah."
Gu Yuena mengerutkan kening. Emosi Yang Xinyuan berubah sangat cepat, membuatnya merasa sangat waspada.
"Aku sangat kesal mengetahui kau menikah dengan orang itu, sampai sekarang." Yang Xinyuan memandangnya dengan dingin. "Sayangnya, orang yang kau nikahi bahkan tidak akan bisa melindungimu sampai akhir hayatmu. Apa kau akan kecewa?"
Gu Yuena berkata dengan tegas, "Jika keadaan berbalik, apa kau masih bisa melakukan dua hal di saat yang sama?"
"Seperti yang kau katakan, aku adalah senjata tanpa emosi. Apa aku perlu mementingkan nyawa orang-orang tidak berguna itu?" Yang Xinyuan menjadi tenang sesaat, lalu menyentuh wajah Gu Yuena sebelum berkata, "Aku akan memilih Dunia Bawah dihancurkan daripada kau yang dihancurkan."
Gu Yuena memiringkan kepalanya. "Yang Xinyuan, bukankah kau yang kesepian terlalu menyedihkan?" Gu Yuena menunjukkan senyum mengejek, yang membuat Yang Xingyuan tidak senang.
Tatapan Yang Xinyuan mengeras. Gu Yuena tidak bisa diajak kompromi, membuatnya sangat kesal. Ia pun mendengus, "Aku selalu merinding ketika kau menyebut namaku."
"Jika hanya itu yang ingin kau katakan, lebih baik aku pergi." Gu Yuena menghela napas.
"Tunggu dulu."
Gu Yuena bahkan belum sempat berbalik ketika Yang Xinyuan menarik lengannya dan memeluknya. Yang Xinyuan memeluknya sangat erat dan memendamkan kepalanya di leher Gu Yuena.
"...." Gu Yuena diam karena terlalu terkejut. Ia pun mengerutkan kening dan akan mendorongnya jauh-jauh menggunakan sihir.
"Tunggu sebentar. Jangan takut, aku tidak akan memicu segel mimpi buruk. Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa segel mimpi buruk akan lepas dengan sendirinya setelah kamu membunuh Ratu ...."
Gu Yuena semakin mengerutkan keningnya. Dia menurunkan tangannya, mendengarkan Yang Xinyuan membisikinya beberapa hal penting. Wajahnya semakin rumit.
Yang Xinyuan mengangkat pandangan ke atas, lalu melihat sosok berjubah biru gelap yang berdiri di atas bukit. Ia sedikit tersenyum mengejek, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Gu Yuena yang tidak melawan.
Gu Yuena masih serius pada penjelasannya, tanpa menyadari apa yang sedang terjadi di belakangnya. Dia bahkan melupakan fakta bahwa ia masih di pelukan Yang Xinyuan. Bukan hanya karena ia tidak bisa melihat, tapi karena dia fokus pada ucapan terakhir yang pria itu katakan.
Dia lebih tidak sadar bahwa pria di atas bukit itu mengepalkan tinjunya erat-erat dan memandang dengan dingin apa yang ada di depan matanya.