
"Ayo bertarung dengan adil. Selesaikan semua secepatnya." Lin Susu menantang dengan nada dingin. Ia sudah muak dengan semua kepura-puraan.
Gu Yuena memiringkan kepala, dengan senyuman yang masih seperti sedia kala. "Aku akan melayani."
Lin Susu melangkahkan kakinya perlahan, menoleh ke arah monster terbang yang menapakkan kaki di atas arena dengan gagah. Ia seperti mengisyaratkan sesuatu yang tidak dipahami siapa pun. Detik berikutnya, terjadi suatu hal tak terduga.
Pusaran angin menggulung di arena dan berhembus kencang mengitari Lin Susu. Monster itu merubah wujudnya menjadi serbuk angin yang berhembus, perlahan terarah pada Lin Susu dan diserapnya.
Itu seperti penyatuan raga.
Mengingatkan Gu Yuena pada Su Churan yang kerap menjadi gerombolan kupu-kupu darah.
Semua orang melihatnya terpana. Ketika monster terbang itu terserap ke dalam tubuh Lin Susu dalam pusaran angin besar, sepasang sayap perak muncul di punggungnya, mengepak di udara dan memberi tekanan dahsyat.
Kedua iris Lin Susu berubah menjadi abu-abu begitu membuka mata. Ia melihat Gu Yuena dengan seringaian.
"Kau akan kalah," gumamnya.
Sedangkan Gu Yuena mulai serius. Ia tidak lagi melipat kedua tangannya di depan dada, dan mulai menarik pedang terbangnya ke udara.
Lin Susu mengepakkan sayapnya, meluncur dengan cepat untuk melakukan secara langsung. Sedangkan pedang terbang mulai membelah diri menjadi beberapa bagian, dan melesat menghujani Lin Susu untuk menghalau pandangannya.
Pedang-pedang itu berhasil dihindari dengan gerakan cepat Lin Susu. Monster terbang yang ia miliki memiliki kecepatan luar biasa, sehingga ketika menyerap kekuatannya, ia dapat memiliki dan mengendalikan kecepatan itu untuk menghindar dan melancarkan serangan dengan mudah.
Gu Yuena melompat ke satu sudut ketika Lin Susu nyaris menyambar tubuhnya dengan sayap runcing itu. Tapi serangan Lin Susu tidak berhenti sampai sana. Ia dengan brutal menghantam Gu Yuena di bawah dengan pedang perak di tangannya.
Benturan pedang terdengar nyaring akan Gu Yuena yang menahan serangan Lin Susu dengan pedangnya. Ia mengambil posisi lain, lalu melompat untuk melakukan sihir jarak jauh sedangkan Lin Susu mengejar.
Bertempuran sengit yang tidak hanya diam di satu tempat itu berhasil membuat para penonton ternganga. Bahkan Mu Xinhuan dan Shen Jialin tidak bisa berkata-kata.
Di halaman luar, ini kali pertama pertempuran sesengit itu terjadi terlepas bagaimana tiga orang itu bergabung untuk mengalahkan seorang murid.
Sulur berapi-api merambat di berbagai sisi, melilit kedua tangan dan kaki Lin Susu dengan erat serta suhu panasnya yang menyebabkan Lin Susu berteriak kesakitan. Teriakan itu membuat semua orang merinding seketika.
Tapi sulur api itu tidak dapat bertahan lama. Aura dari monster tingkat 6 berhasil memutusnya, sedangkan sayap Lin Susu dilambungkan setinggi mungkin untuk menjauhi sulur yang mendekat.
Gu Yuena berusaha mengecoh lawan, tapi Lin Susu jauh lebih cepat sampai dapat melamapaui langkah Gu Yuena!
Ketika pandangan mereka bertemu, Lin Susu mengayunkan pedangnya, memberi tebasan kilat yang dicampur dengan hembusan angin untuk memukul mundur lawan.
Gu Yuena menciptakan lapisan pelindung di seluruh tubuhnya selagi tersapu angin dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk bertahan. Sayangnya, kilat tebasan pedang itu menyentuh salah satu lengannya sampai menciptakan goresan yang cukup dalam.
"Ah ...." Gu Yuena merintih kesakitan. Ia melihat tangannya sendiri yang terluka. Luka itu tampak matang dengan darah yang mengalir deras membasahi pakaiannya.
Menyebalkan.
Gu Yuena melirik Lin Susu diam-diam. Jari-jarinya bergerak dengan halus sampai tak disadari bahwa beberapa serpihan qi melayang di atas dan berhamburan tepat di atas Lin Susu.
Lin Susu terlambat menyadari. Ketika ia menoleh ke atas, serpihan qi telah menghujaninya hingga memblokir semua arena perhindaran, memaksa Lin Susu menggunakan sayapnya untuk berlindung.
Hantaman bertubi-tubi serpihan qi bagaikan ribuan peluru yang menembak. Sayap Lin Susu patah ketika serpihan qi membentur bagian terlemahnya, menyebabkan Lin Susu terpental saat itu juga.
Rupanya itu adalah jebakan.
"Sial!" Lin Susu memukul lantai arena sembari berusaha bangkit. Sayapnya rusak, sehingga ia akan kesulitan untuk melakukan serangan udara.
Lin Susu menyerang lagi. Ia mengetahui bahwa kelemahan Gu Yue ada pada serangan jarak dekat sehingga ia melesat mendekati Gu Yuena. Gu Yuena melompat menjauh, tapi serangan bulu-bulu tajam dari sayap Lin Susu memblokirnya. Bulu-bulu besar itu menancap tepat di belakangnya hingga nyaris saja menembus tubuh Gu Yuena.
Tekad Lin Susu sangat besar, ditambah emosi bergebu membuat kekuatannya semakin besar. Ia mengendalikan bulu-bulu runcing itu untuk menyergap Gu Yuena dari beberapa arah, sedangkan ia menyerang dari jarak dekat.
Ketika bulu-bulu itu melesat tepat ke arah Gu Yuena, semburan api menghancurkannya menjadi abu. Gu Yuena mengadahkan tangannya yang mengeluarkan kilatan api yang begitu pekat, kemudian diarahkan pada Lin Susu.
Ia memanipulasi qi, membuat kecepatan Lin Susu melambat dengan aliran api yang menari di udara dan menyelusup masuk ke sela-sela lantai arena.
Kecepatan Lin Susu benar-benar berkurang. Ia merasakannya dengan jelas, mulai panik. Dengan pikiran kacau, ia melompat ke arah Gu Yuena secara gegabah dan mengarahkan sayap runcingnya ke Gu Yuena.
Gu Yuena melompat ke belakang, menangkis pedang Lin Susu dan menendang sayapnya sampai gadis itu terkulai. Tapi Lin Susu tidak menyerah ataupun benar-benar jatuh, ia kembali menyerang Gu Yuena dengan tangan kosong.
Benar-benar putus asa.
Lin Susu mengingat sesuatu ketika melompat ke arah Gu Yuena. Karena tidak memiliki senjata, ia hanya bisa mengandalkan kekuatan tangannya untuk menjatuhkan Gu Yuena dengan cepat. Sebelum itu, ia harus melakukan sesuatu.
Ia mengambil sebuah botol porselen dari saku, lalu membuka tutupnya. Ketika sampai di depan Gu Yuena, sebelum Gu Yuena cepat beraksi, ia menaburkan isi botol porselen itu menggunakan kekuatan anginnya sampai berhembus ke arah Gu Yuena.
Gu Yuena terkejut, tidak menyangka Lin Susu akan mengambil cara licik itu untuk mengalahkannya. Karena isi botol porselen terlanjur memasuki matanya, Gu Yuena secara spontan menutup mata dan mundur beberapa langkah.
Sial, apa yang ditabur Lin Susu?
Gu Yuena berusaha membuka mata, tapi pandangannya terlalu buram dan sulit untuk melihat pergerakan Lin Susu.
Di samping itu, Lin Susu jelas sangat senang. Ia mengambil pedangnya kembali dan menyambar Gu Yuena dengan kecepatan kilat. Gu Yuena masih bisa menghindari serangannya meski dengan mata tertutup, meski tidak seefektif sebelumnya.
Lin Susu menyunggingkan senyum selama melakukan serangan secara beruntun. Ia senang melihat Gu Yue kewalahan tanpa bisa melihat, hanya bisa menebak-nebak mana serangan berikutnya dan berakhir tergores.
Terasa lebih baik dari sebelumnya.
"Sudah kukatakan, aku tidak akan kalah." Lin Susu melepaskan pedangnya dengan cepat dan memberi pukulan di dada Gu Yuena secara tiba-tiba.
Tapi ketika tangannya memberi tapak pada dada Gu Yuena, rautnya berubah ketika menyadari sesuatu.
Ia tidak sengaja ... menemukan hal mengejutkan yang tidak pernah ia sangka.
"Gu Yue, kau ...."
Tatapan terkejut Lin Susu membuat semua orang penasaran. Detik berikutnya, gadis itu terlihat sangat marah dan kembali mengambil pedangnya.
Dia menghunuskannya dengan cepat ketika Gu Yuena sedang mengambil posisi sehabis dipukul cukup keras. Serangan pertama, Gu Yuena menangkisnya dengan tepat membuat Lin Susu meleset dan mengambil langkah lebar untuk berpindah posisi.
"Matilah!"
Lin Susu menebaskan pedangnya tepat di punggung Gu Yuena. Pedangnya merambat ke atas dan memutus tali pengikat rambut Gu Yuena sehingga rambut panjangnya terkulai ke bawah. Sedangkan darah mulai mengalir, membasahi punggung dan pakaian yang tertutupi oleh rambut panjang itu.
Sebuah kain jatuh dari tubuh Gu Yuena. Kain putih dengan noda darah yang melilit tubuhnya selama menyamar sebagai lelaki, jatuh begitu saja karena terbelah oleh sayatan pedang.
Semua orang terkejut.
Tidak tahu siapa yang menang dan kalah, mereka telah melihat hal mengejutkan yang tidak disangka-sangka.
Apa yang baru saja terjadi?
Bagaimana bisa Gu Yue yang merupakan seorang pria, kini memiliki tubuh seperti wanita?
Gu Yuena akhirnya bisa membuka mata setelah api dalam tubuhnya menghilangkan bubuk aneh itu. Iris merahnya melihat beberapa luka di tubuh, rambut yang terurai, dan rasa sakit di punggungnya.
Ia terkekeh, "Sudah ketahuan rupanya."
Ia tidak terlihat panik atau sejenisnya, justru menegakkan punggung dan melihat Lin Susu yang terdiam beberapa meter di belakangnya.
Mengabaikan semua rasa sakit itu, ia menghadap Lin Susu dengan tenang. "Ini kali pertama seseorang membuatku terluka setelah sekian lama."
"Aku anggap itu pujian." Lin Susu menyahut dengan nada dingin. Ia menangkat kepalanya dengan angkuh. "Di mana Gu Yue?"
"Aku Gu Yue."
"Kau bukan Gu Yue."
"Aku ragu kau benar-benar mengenali sosok Gu Yue yang sebenarnya. Apa aku perlu mengenalkan diriku sekali lagi?"
Lin Susu menggertakkan giginya. "Kau menipu semua orang."
"Seorang penipu tidak pantas berada di Akademi Yuansu. Hari ini, aku akan mewakilkan dekan untuk menghukummu!" Lin Susu merasa kecewa dan dikhianati. Ia tidak menyangka, Gu Yue yang selama ini ia kejar ternyata seorang wanita!
Pantas saja orang itu berkata bahwa ia menyukai pria.
Lin Susu melihat podium, memandangi para penonton yang kebingungan sejak tadi. Ia berkata dengan nada tinggi.
"Kalian lihat? Bagaimana seorang wanita menyamar sebagai pria dalam akademi? Sepertinya dia meremehkan Akademi Yuansu dan berniat mempermainkan kita semua. Entah apa saja yang dia lakukan di asrama pria selama menyamar."
Ucapan Lin Susu membuat mereka semua sangat terkejut, dan melihat Gu Yuena dengan tidak percaya.
Mu Xinhuan dan Shen Jialin sama halnya terkejut. Mereka ingat Gu Yuena pernah memberitahu sesuatu, mengenai rahasia yang tidak dapat diucapkan. Tapi mereka tidak akan menyangka, rahasia itu adalah identitas Gu Yuena sendiri.
"Aku pikir namamu juga bukan Gu Yue, 'kan? Kamu menipu semua orang dengan identitas gandamu." Lin Susu mendengus, terus memojokkan Gu Yuena di depan semua orang.
"Maaf, tapi margaku adalah 'Gu', dan karakter nama tengahku adalah 'Yue'. Jika ingin menuduh, bukankah harus memiliki alasan yang tepat?"
"Tapi kau menipu semua orang dengan identitasmu. Baiklah, kau tidak membohongi namamu, tapi kau membohongi gendermu sendiri."
"Bahkan Akademi tidak masalah jika aku menutupi identitasku, pada akhirnya mereka akan tahu dan menutup mata. Kenapa kamu menjadi sangat rumit?" Gu Yuena tetap tenang di saat seperti ini. Itu membuat Lin Susu semakin marah dan sangat ingin membunuhnya.
"Tidak menutup kemungkinan bahwa j*lang sepertimu rela berada di kumpulan pria. Aku justru penasaran apa hubunganmu dengan teman asramamu."
Di tribun sana, Xi Cheng tidak dapat berkutik. Ia adalah teman asrama Gu Yue, tapi sama sekali tidak mengetahui kenyataan bahwa Gu Yue adalah seorang perempuan. Ia termenung sejak awal, memikirkan harinya selalu berada di ruangan yang sama dan tidur di kamar yang sama dengan perempuan.
Ditambah dengan ucapan Lin Susu, ia jadi teringat akan surat itu.
Apa murid asrama sebelumnya mengetahui identitas Gu Yue?
"Apa kamu merasa tidak malu mengatakannya sebagai sesama perempuan? Di mana citramu sebagai 'Dewi Lin yang riang'?" Gu Yuena menatapnya dengan miris.
Lin Susu terdiam. Oh tidak, ia kelepasan!
Ia semakin geram akan balasan yang Gu Yuena berikan hingga cengkramannya terhadap pedang semakin erat dan bergetar.
"Gu Yue, aku akan membalaskan atas penipuanmu terhadap semua orang!"
Lin Susu mengepakkan sayapnya yang mulai pulih dan menghunuskan pedangnya. Tapi sebuah hal tak terduga terjadi.
Tubuh Gu Yuena dipenuhi dengan aura api yang pekat. Iris merahnya tampak tajam, menatap lurus Lin Susu yang menyerang.
Begitu pedang Lin Susu akan menyentuh dadanya, pedang itu terhenti akan sebuah tekanan yang membuat tubuh Lin Susu gemetar.
Iris abu-abu Lin Susu terjebak di antara iris merah darah itu. Tiba-tiba saja ia merasa takut, seperti melihat monster yang akan melahapnya dengan api ke dalam genangan darah saat itu juga.
Ia seperti melihat seekor phoenix yang menyemburkan api, membuat tubuhnya tiba-tiba oleng dan terhempas ke belakang.
Aura pekat yang menekannya berhasil menembus tubuh, menyebabkan seluruh kekuatan Lin Susu menghilang. Pelindung qi di tubuhnya hancur, aura aneh itu menembus ke dalam tubuh, membuat mulutnya memuntahkan seteguk darah saat itu juga.
Lin Susu tidak memiliki luka luar yang serius, tapi luka dalamnya begitu serius sampai dadanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
"Anggap kamu sedang beruntung." Gu Yuena sedikit menarik salah satu sudut bibirnya. Tatapannya terhadap Lin Susu seperti monster yang sedang melihat korbannya.
Lin Susu ketakutan sampai tidak bisa berkata apa pun.
Sedangkan di tribun, Xi Cheng tersadar akan apa yang terjadi dan mengangkat bokongnya, berdiri dengan panik setelah melihat Lin Susu yang terluka parah.
"Gu Yue, kau keterlaluan! Dia ingin melakukan pembunuhan!"
Semua orang langsung sadar dan mendukung argumen Xi Cheng. Pandangan Gu Yuena terarah pada Xi Cheng dengan sorot tajam. Hal itu membuat Xi Cheng merinding, tapi berpura-pura berani.
Sedangkan Mu Xinhuan dan Shen Jialin langsung berdiri menghadap Xi Cheng.
"Ini adalah pertandingan, apa hak-mu ikut campur? Jika Xiao Yue ingin membunuh, dia sudah membunuh j*lang itu sejak awal!" Shen Jialin membela Gu Yuena dengan geram. Ia melihat Xi Cheng penuh amarah karena berani mengompori massa untuk menekan Gu Yuena.
"Xi Cheng, kau bukan siapa-siapa, lebih baik tidak ikut campur!" Mu Xinhuan memperingati. Xi Cheng ini hanya bisa mengompori orang.
Xi Cheng mendengus. "Kalian adalah komplotannya, 'kan? Siapa yang tahu, ternyata kalian bekerja sama untuk mengambil alih halaman luar dan menekan kami semua. Kalian pikir, dengan ini dapat menandingi kami dari keluarga besar?"
"Kau ...." Shen Jialin sangat kesal sampai ingin mengamuk!
"Gu Yue, kau menyinggung Lin Susu dan beberapa keluarga besar di sini. Kau tidak akan bisa lepas dari genggaman mereka!" Xi Cheng menunjuk Gu Yuena secara langsung dengan penuh penekanan.
Para murid di podium mendukung argumen Xi Cheng dan menekan Gu Yuena yang dianggap semena-mena pada semua orang. Mereka berasal dari keluarga besar dan klan ternama di antara enam istana, harga diri mereka sangat tinggi.
Perempuan yang entah datang dari mana tidak bisa menandingi mereka!
Gu Yuena memiringkan kepalanya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Xi Cheng mendecih. "Apa yang kuinginkan? Gu Yue, seharusnya kau bisa berpikir dengan jelas. Kau telah melukai Dewi Lin begitu buruk. Lebih baik menyerah di pertandingan ini dan minta maaf pada Dewi Lin!" Ia diam untuk beberapa saat, sepertinya teringat sesuatu. "Ah, jangan lupakan hukuman untukmu yang melanggar batasan antara pria dan wanita dengan menyamar sebagai pria. Itu melukai harga diri pria! Sebagai hukumannya, kau harus melakukan semua yang sebelumnya kukatakan setelah melepas pakaian!"
Beberapa dari mereka sangat terkejut, namun banyak dari para pria yang tertawa terbahak-bahak akan ucapan Xi Cheng yang keterlaluan. Meski ada banyak perempuan yang kesal, tapi mereka tidak menunjukkannya, malah mendukung untuk mempermalukan Gu Yuena.
"Kau ...." Mu Xinhuan yang sebelumnya sangat sabar, kini menjadi sangat geram.
"Keterlaluan! Bagaimana kau bisa memperlakukan perempuan seperti itu!" Shen Jialin sangat marah.
Di mana petugas akademi? Di mana Dekan dan instruktur? Kenapa mereka tidak membantu Gu Yue yang dipojokkan!
Mereka benar-benar sudah kehabisan kesabaran. Tapi baru saja akan menghunuskan senjata ke arah Xi Cheng dan orang-orang yang menertawai, tatapan Gu Yuena menghentikan aksi mereka.
Apa yang gadis itu rencanakan?
"Hanya melepas pakaian, 'kan?" Gu Yuena tampak tidak keberatan. Ia melihat Lin Susu dengan misterius. "Apa ini keinginanmu?"
Lin Susu hanya melihat Gu Yuena dengan kilatan kebencian, tapi tidak mengatakan apa pun.
"Baik." Gu Yuena menggedikkan bahu acuh tak acuh.
Lin Susu justru curiga, apa yang orang itu rencanakan. Berdasarkan temperamennya, tidak akan semudah itu untuk menuruti ucapan seseorang.
Semua orang bersorak, menyuruh Gu Yuena untuk membuka pakaiannya. Sorakan seolah sedang melihat pertunjukan luar biasa dan penuh semangat. Apalagi kebanyakan dari mereka adalah lelaki berdarah panas.
Jika bisa melihat pemandangan indah yang jarang-jarang dilihat, tentu saja mereka akan sangat bersemangat.
Apalagi jika bisa mendapatkannya, mengingat Gu Yuena tak kalah cantik dari Lin Susu.
Sedangkan Mu Xinhuan dan Shen Jialin sudah sangat gelisah sampai menutup kedua mata dan telinga mereka. Dalam hati, mereka berdoa yang terbaik agar Gu Yue mengambil rencana yang tepat.
Di arena, Gu Yuena menarik tali jubah pakaiannya dengan ringan, membuat semua orang semakin gila. Gu Yuena hanya melihat mereka dengan malas sebelum mengabaikannya.
Namun, tiba-tiba saja aura arena menjadi dingin sedingin es.
Seolah musim berganti betitu cepat, dan aura membunuh yang kuat menyertai semua orang membuat seluruh tribun terdiam. Beberapa yang masih teriak-teriak juga ikut terdiam kala leher mereka terasa tercekik oleh sesuatu yang tak terlihat.
Apa yang terjadi?
Bahkan Mu Xinhuan dan Shen Jialin harus membuka mata dan telinga. Mereka langsung merinding merasakan aura yang sangat kuat seolah akan menghilangkan kepala mereka saat itu juga.
Hanya Gu Yuena tidak merasakan aura dingin itu.
Ia memang tidak merasakan aura dingin yang mencekat, tapi justru mendapat sebuah tangan kekar menahan kedua lengannya yang digunakan untuk menarik tali pakaian.
Gu Yuena diam untuk beberapa saat, lalu mendongak untuk melihat pemilik tangan tersebut. Matanya membulat seketika.
"Luo Youzhe?"