Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
28. Cemburu?



Makan siang tiba setelah sekian lama Gu Yuena menahan suara pemberontak dalam perutnya yang meminta asupan. Dari kelas, ia buru-buru pergi ke kantin untuk melihat ada apa saja di sana.


Ini kali pertamanya ke kantin karena baru dibuka hari ini. Kemarin ia hanya makan makanan yang tersisa di dalam tas bekal, lalu tidak makan pagi karena masih merasa kenyang.


Ia tiba di kantin yang terpisah dari gedung kelas. Terdapat di sisi barat, di mana gedung kantin berada. Makanan yang disediakan juga berbeda menurut harga dan menu. Lantai dasar adalah makanan gratis yang hanya berupa roti, nasi, dan beberapa jenis sayur serta buah. Hampir tidak ada daging.


Sedangkan di lantai atas adalah tempatnya kantin mewah. Makanan di sana lebih lengkap dan bernutrisi, kebanyakan berasal dari daging monster yang penuh energi qi yang baik untuk kultivasi. Tidak lupa juga, harga makanan di sana sesuai dengan kualitas. Sangat jelas perbedaannya.


Sebenarnya Akademi Yuansu hanya ingin mengumpulkan uang dari hasil penjualan makanan, baik untuk tenaga kerja maupun pengembangan.


Untuk Gu Yuena yang tidak membawa terlalu banyak uang hanya bisa memakan makanan gratis. Jika ia melepaskan uangnya begitu saja layaknya 'Valentina' yang dulu, dalam satu hari ia akan menjadi miskin. Ia bukan wanita kurang kerjaan itu lagi.


Gu Yuena pergi untuk mengambil makan. Ketika sampai di tempat di mana makanan dibagikan seperti dalam pesta, makanan yang terlihat sama sekali tidak terlihat seperti makanan pesta.


Roti gandum, daging asap, dan sayur rebus yang menurunkan selera makan Gu Yuena. Kenapa akademi besar seperti ini menyediakan makanan gratis yang terkesan seperti makanan kemiliteran yang hanya menggunakan garam?


"Ck, membosankan." Gu Yuena berdecak sebal selagi mengantre. Ia juga dapat mendengar beberapa keluhan di belakangnya. Masalahnya, makanan di lantai atas sangat mahal.


Ketika sampai di meja di mana makanan berentetan, ia mengambil apa saja yang ada. Yang penting ia makan.


Makanan di atas nampan miliknya begitu sederhana, berbeda dari ketika ia berada di kediaman. Semangkok nasi, beberapa daging asap dan sayur setengah matang, serta sedikit roti yang ia ambil secara acak untuk disimpan.


Ia membawa nampan ke arah kursi. Bertepatan dengan itu, ia berpapasan dengan Mu Xinhuan yang juga baru selesai mengambil makanan.


"Gu Yue, ternyata kau di sini." Mu Xinhuan langsung menghampiri Gu Yuena dengan semangat. Makanan yang ia bawa tidak berbeda dari milik Gu Yuena.


"Ada apa?" Gu Yuena bertanya. Ia tidak ingat mereka begitu dekat sampai bisa menyapa dengan akrab. Bukankah ini baru pertemuan kedua?


"Lin'er bercerita tentangmu. Aku dengar kalian sekelas di kelas mage."


Gu Yuena mengangguk pelan. "Lalu?"


"Ah, kau sendiri saja? Bagaimana jika bergabung denganku dan Lin'er? Jika hanya pergi sendiri, mau tidak mau kau harus semeja dengan orang yang tidak kau kenal. Belum tentu mereka orang baik." Sepertinya Mu Xinhuan tidak memiliki kesan baik pada semua orang. Sangat terlihat.


Gu Yuena mengedarkan pandangan sesaat melihat banyak murid yang bergerombol di meja makan, kemudian mengangguk setuju. "Tidak masalah."


Ia pikir Mu Xinhuan ada benarnya juga. Daripada didekati anak nakal waktu itu yang menemukannya di sini lalu diganggu, lebih baik bergabung dengan seseorang meski baru kenal.


Mereka pun pergi ke tempat di mana Shen Jialin tengah menunggu. Kedatangan Gu Yuena membuat Shen Jialin semakin malu-malu kucing dan salah tingkah. Gu Yuena tidak peduli, tapi Mu Xinhuan melihatnya dengan jelas sehingga membuatnya memasang wajah bingung.


Mu Xinhuan mengalihkan pandangan ke arah Gu Yuena, kemudian mempersilahkannya duduk. "Duduklah. Sesama murid baru, tidak perlu canggung."


"Aku tidak canggung, tapi sepertinya seseorang akan canggung," gumam Gu Yuena melirik Shen Jialin yang merona. Ia memutar bola mata dan duduk di sebelah Mu Xinhuan. Sedangkan Mu Xinhuan berhadapan dengan Shen Jialin.


Gu Yuena memulai makan dalam diam. Ketika menggigit daging asap, keningnya berkerut. Wajahnya menjadi rumit, tampak ingin mengeluarkan air mata ketika memaksa menelan daging tersebut dengan wajah datar.


Masalahnya, dagingnya tidak matang, itu masih amis dan hambar!


Gu Yuena menelan daging menggunakan air dengan cepat seolah makan pil. Ia mengambil sayuran rebus, tapi ketika memakannya ....


"Aku merasa akan berubah jadi sapi."


Gumaman Gu Yuena terdengar Mu Xinhuan dan Shen Jialin. Mereka memandang Gu Yuena yang sibuk meminum minumannya seperti orang kehausan.


"Apa seburuk itu?" Mu Xinhuan belum mencobanya.


Shen Jialin melanjutkan, "Aku dengar makanan di sini dibuat setengah matang untuk menjaga nutrisi agar tidak hancur ketika dimasak."


"Aku tahu." Gu Yuena tahu setelah mencobanya. Pada akhirnya ia hanya bisa memaksakan diri memakan semuanya dan menggunakan nasi lebih banyak untuk menutupi rasa hambar.


"Jika tidak suka makanan di sini, lebih baik di lantai atas. Tenang saja, aku yang akan bayar."


Suara familiar itu membuat Gu Yuena, Mu Xinhuan, dan Shen Jialin menoleh secara spontan. Mereka melihat pria tampan yang berdiri di belakang Gu Yuena dengan senyum cemerlang yang menunjukkan keramahannya. Seragam yang dikenakan berwarna putih bermotif emas. Seragam putihnya menunjukkan bahwa ia adalah murid halaman dalam divisi Qingyuan.


"Putra Mahkota!" Shen Jialin terkejut dan akan berdiri bersama yang lain, namun Huang Jingtian langsung mengangkat telapak tangannya.


"Tidak perlu sopan. Aku di sini sebagai murid. Kalian bisa memanggilku senior atau nama saja."


"Kalau begitu, Senior, maksud perkataanmu tadi ...." Mu Xinhuan melirik Gu Yuena. Sebenarnya Putra Mahkota mengatakannya hanya untuk Gu Yuena atau mereka bertiga?


"Aku lihat Xiao Yue tidak terlihat nyaman, jadi menawarkannya untuk makan di lantai atas. Jika ingin, kalian bisa ikut. Aku yang akan membayar."


Iris merah Gu Yuena menampakkan kecurigaan. Ia melihat pria itu dengan menuntut. "Aku tidak kekurangan uang."


"Ini bukan masalah uang, tapi pertemanan. Jika boleh, aku ingin bergabung dengan kalian. Mungkin saja aku bisa membantu kalian memasuki halaman dalam dengan lancar."


Tentu saja itu hal yang menggiurkan. Tapi bagi Gu Yuena yang memiliki pengalaman keluar masuk sangkar harimau dengan utuh tidak mempercayai alasan klise Huang Jingtian.


"Sepertinya kau begitu kekurangan sampai harus mengikuti murid halaman dalam. Gu Yue, aku tidak berpikir kau akan sangat miskin." Luo Youzhe tiba-tiba muncul menuang minyak ke dalam api. Tatapannya yang terarah pada Gu Yuena terlihat mengejek.


"Tidak ada hubungannya denganmu." Gu Yuena membalasnya dengan dingin.


"Hanya makan di lantai atas, apa perlu harus menjadi bawahan seseorang? Huang Jingtian, harga diri Gu Yue sangat tinggi, jangan terlalu menyakitinya." Luo Youzhe menyindir.


"Sepertinya kau salah paham. Gu Yue juga pasti sudah paham akan niatku. Ini hanya masalah kecil, tidak perlu dibesar-besarkan."


Luo Youzhe membisikkan sesuatu ke arah Huang Jingtian. "Memang hanya masalah kecil, tapi masalah besar bagi Gu Yue. Kau tidak lihat suasana hatinya?"


Huang Jingtian mengabaikan Luo Youzhe dan beralih melihat Gu Yuena. "Xiao Yue, apa kamu keberatan?"


Gu Yuena melihat mereka berdua, seolah tersadar dari lamunan. Ia tertawa canggung, lalu melirik Mu Xinhuan dan Shen Jialin yang tampak canggung. Situasi ini tidak beres.


Tiba-tiba Luo Youzhe duduk di sebelah Gu Yuena dan mengambil makanannya dengan sumpit. "Aku dengar daging sapi gunung memiliki qi berlimpah dan bagus untuk pertumbuhan, kebetulan dimasak setengah matang. Gu Yue, kau tidak boleh melewatkannya. Jika dijual di pasar, harganya akan sangat tinggi. Tidak ada bedanya makan di lantai atas dan di sini."


"Sebenarnya kau sedang mendukung atau mengejek?" Gu Yuena heran dengan jalan pikir Luo Youzhe.


"Aku sedang membantu." Luo Youzhe mendengus. Ia mengarahkan sumpit ke mulut Gu Yuena.


"Aku pikir kau sedang balas dendam." Gu Yuena memundurkan tubuhnya dan melihat daging tersebut dengan ngeri.


Luo Youzhe berdecak sebal. Ia berbisik, "Lalu kau ingin digoda Huang Jingtian di lantai atas? Kau tahu, dia sudah menyadari identitasmu."


"Lalu apa urusannya denganmu?"


"Bukankah sudah kukatakan? Aku tidak suka jika ada aroma pria lain di tubuhmu." Luo Youzhe berbisik, namun Huang Jingtian masih mendengarnya. Pada saat itu juga, Huang Jingtian melihat Luo Youzhe layaknya rival.


Sedangkan Gu Yuena diam untuk beberapa saat. Ia melihat daging itu, lalu terarah pada Luo Youzhe dan Huang Jingtian. Jika boleh memilih, ia lebih baik kabur dari tempat ini segera dan memasak sendiri. Setidaknya, makanan yang ia masak jauh lebih enak.


"Bai Zhe, bukankah tidak baik mamaksa Xiao Yue?" Huang Jingtian menahan tangan Luo Youzhe yang ingin menyuapi Gu Yuena.


Luo Youzhe mendengus. "Aku sedang membantunya."


Baru saja Huang Jingtian akan membantah, Gu Yuena sudah melahap daging di sumpit yang disodorkan Luo Youzhe. Dengan cepat, ia sedikit mengunyah dan minum air agar langsung tertelan.


Gu Yuena berdiri. "Aku sudah kenyang, aku harus pergi." Ia melirik Mu Xinhuan dan Shen Jialin yang membeku sejak awal. "Sampai jumpa di kelas—jika sekelas."


Gu Yuena pun membawa roti dari piring nampan dan berlari dari area menyesakkan. Ia tidak ingin peduli pada mereka dan tidak ingin memikirkannya.


Mereka yang melihat kepergian Gu Yuena hanya diam, sedangkan Luo Youzhe langsung pergi mengejarnya. Huang Jingtian memasang wajah masam.


Luo Youzhe menemukan Gu Yuena yang hendak kembali ke asrama. Ia langsung menghampiri, kemudian meraih lengannya dan menariknya ke kantin lagi melalui jalan lain.


Tapi Gu Yuena langsung menepisnya. "Kau itu kenapa?"


Luo Youzhe melihat Gu Yuena untuk beberapa saat. "Bukankah kau lapar?"


"Kau tuli?"


"Karena aku tidak tuli, maka aku bisa mendengar suara demonstrasi cacing."


"Seharusnya itu berasal darimu."


Gu Yuena menghembuskan napas kesal. "Kau baru saja mengatakan bahwa harga diriku terlalu tinggi untuk mengikuti seseorang. Kau juga mengatakan aku terlalu miskin untuk makan di lantai atas, serta tidak boleh ada aroma pria lain di tubuhku. Seharusnya aroma itu juga aromamu, jadi aku sarankan untuk jaga jarak."


"Kata 'aroma pria lain' memiliki banyak pengecualian."


"Aku harap kau tidak benar-benar cemburu."


"Aku tidak cemburu. Yang kulakukan adalah untuk melindungimu berdasarkan amanat Gu Yuan. Sedangkan Huang Jingtian bukan pria baik meski dia adalah teman kakakmu." Luo Youzhe berkata dengan serius.


"Aku tahu, maka aku menghindarinya. Bagiku, kau juga termasuk pria tidak baik yang harus kuhindari."


"Sudahlah, kau ingin makan atau tidak? Jangan merasa tidak enak, kau pernah memakan uangku juga sebelumnya. Tidak perlu sungkan."


"Sejujurnya, aku tidak suka masakan orang lain." Gu Yuena berkata terus terang.


Luo Youzhe menjadi heran. "Waktu itu ...."


"Waktu itu karena aku ingin anggur. Jika kau mentraktirku anggur, maka aku akan mempertimbangkan. Tapi untuk makanan biasa, aku menolak."


Ada terlalu banyak kehati-hatian dalam hati Gu Yuena. Krisis kepercayaannya telah mencapai tahap ekstrem sehingga tidak bisa mempercayakan makanannya pada siapa pun. Bahkan di kediaman, ia selalu melihat proses pembuatan makanannya sendiri di dapur. Itu karena di masa lalu, terlalu banyak orang yang ingin membunuh dan meracuninya.


Ia membuat pengecualian menggunakan anggur, karena satu-satunya yang tidak bisa ia buat hanya anggur atau minuman sejenisnya. Selain itu, ia juga memanfaatkan anggur untuk menuangkan obat anti racun, jadi baik ada racun atau tidak dalam makanan, ia tetap memakannya.


Obat anti racun sendiri ia memintanya dari tabib dan selalu membawanya setiap saat. Obat itu hanya akan berfungsi bila dicampur dengan minuman beralkohol. Untuk makanan barusan, ia pikir tidak beracun karena ia sendiri yang mengambilnya.


Luo Youzhe tidak tahu hal itu, tapi ia tidak menyerah. "Kalau begitu, kau memilih tidak makan sampai kapan?" Makanan gratis itu bukan selera Gu Yuena. Gu Yuena hanya akan mengalami mati rasa dan diare jika terus memakannya.


"Kenapa aku harus memberitahu?"


"Karena kita teman sekamar." Luo Youzhe menyengir.


Gu Yuena menghela napas. "Baiklah, teman sekamar. Karena tidak bisa menyembunyikannya, aku akan mengatakannya. Aku akan berburu dan memasak, terserah bagaimana pendapatmu."


"Kau bisa masak?" Luo Youzhe terkejut. Bangsawan seperti Gu Yuena bisa masak di dapur?


"Jangan remehkan aku. Aku pastikan kau tidak mendapat bagian meski memohon." Gu Yuena memutar bola mata dan pergi. Ia sudah tahu akan ada banyak yang tidak percaya karena identitasnya, tapi itu semua terserah pendapat orang lain. Ia tidak peduli.


Kemampuan masaknya sangat bagus. Ia pernah mengikuti kompetensi tata boga dan berhasil meraih juara. Itu adalah sebab selera kulinernya sangat tinggi.


"Karena tidak ada urusan lain, sebaiknya kau tidak membujukku lagi. Aku tidak akan makan di kantin kecuali jika ada anggur atau arak." Ia pun melangkah pergi meninggalkan Luo Youzhe yang hanya melihatnya dalam diam.


Seusai melihat kepergian Gu Yuena yang semakin jauh, raut Luo Youzhe menjadi dingin tanpa emosi. Ia melirik ke sisi lain seolah menyadari sesuatu, kemudian pergi ke arah yang berlawanan tanpa peduli.


Luo Youzhe tidak melirik sisi kosong tanpa sebab. Di balik semak-semak yang menutupi celah gedung, seorang pria membeku di tempatnya setelah mendapati tatapan dingin tersebut. Ia seolah merasa darahnya tersedot habis.


"Apa-apaan itu?" Pria itu bergumam dengan nada rendah dan serak.


Awalnya ia pikir pria yang bersikap bertentangan dan melawan langsung di depan Putra Mahkota itu hanyalah orang bodoh yang tidak layak diperhatikan. Hanya dengan satu ancaman saja sudah cukup.


Tapi ketika melihat tatapan dingin itu, entah bagaimana ia merasa takut seolah nyawanya telah terancam. Padahal jelas-jelas pria itu tidak melakukan apa pun yang membahayakan.


"Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Mana mungkin dia tahu keberadaanku." Ia menampilkan wujudnya yang sebelumnya transparan. Keluar dari tempat persembunyian, lalu melipat kedua tangannya ke arah lokasi kepergian Gu Yuena.


Pemuda kecil dan lemah itu bisa-bisa mendapat dukungan Putra Mahkota untuk memasuki halaman dalam. Benar-benar menyebalkan. Apalagi ketika mendengar ucapan angkuhnya.


Serta beberapa ucapan yang menunjukkan seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang cemburu. Ia pikir dua murid baru itu memiliki hubungan yang lebih dalam dari sekadar teman sekamar.


"Sepertinya aku harus sedikit memberi pelajaran." Ia tersenyum miring.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gu Yuena berjongkok di tepi danau melihat dirinya sendiri di pencerminan air. Ia tidak jadi pergi ke asrama karena malas naik tangga, jadi memilih menunggu kelas selanjutnya sambil merenungkan diri.


Xiao Hei muncul di sisinya seperti hantu. Ia mengengong sambil menggosok kepalanya ke kaki Gu Yuena, kemudian menggulung tubuhnya di atas tanah.


"Apa aku terlihat terlalu feminim?" Gu Yuena masih pusing dengan penyamarannya. Ia tidak memiliki alat pengubah wajah yang biasa dipakai untuk menyamar, jadi merasa sangat sulit. Andai ia tahu mantra pengubah wajah.


"Nona, bagaimanapun wajahmu diubah, kau tetaplah cantik." Xiao Hei berniat memuja, namun itu membuat Gu Yuena semakin murung.


"Pantas saja orang itu mengenaliku dengan mudah. Huang Jingtian tidak tahu wajah asliku, tapi bisa mengenaliku begitu saja. Aku harus menghindarinya."


"Tapi dia datang padamu." Xiao Hei mengeong, meneruskan kegelisahan nonanya.


"Jadi bagaimana pendapatmu? Apa yang harus kulakukan?"


Xiao Hei melihat nonanya dengan kepala dimiringkan. "Nona, bagaimana jika meminta bantuan Luo Youzhe? Maksudku, jika Nona ingin menghindari Huang Jingtian, maka harus menggunakan Luo Youzhe."


"Tapi aku curiga Luo Youzhe memiliki banyak maksud tertentu. Dia datang ke akademi saja sudah mencurigakan."


"Yah, Luo Youzhe memang berbahaya. Jika ingin menghindarinya, maka Nona hanya bisa menggunakan Huang Jingtian. Bagaimanapun, Luo Youzhe tidak bisa melakukan apa pun pada Huang Jingtian, begitu pula sebaliknya. Jadi Nona harus memilih di antara keduanya."


Gu Yuena mengerutkan keningnya. Kenapa harus memilih di antara keduanya? Alasan ia menjadi laki-laki adalah untuk menghindari masalah, tapi siapa sangka keberadaan dua pria itu menjadi masalah utama dalam penutupan identitasnya. Sekarang ia justru disuruh memilih.


"Aku tidak mau memilih." Gu Yuena semakin cemberut.


Xiao Hei menghela napas. "Sebenarnya aku juga tidak ingin mereka dekat-dekat dengan Nona. Huang Jingtian jelas memiliki niat lain pada Nona, sedangkan Luo Youzhe terlalu berbahaya. Nona tidak bisa berada di sisi keduanya. Tapi untuk menghindari salah satu, harus bergantung pada yang satunya. Jika ingin menghindari keduanya, Nona harus secepatnya masuk ke halaman dalam dan menemukan guru yang cocok untuk Nona menyibukkan diri. Dengan begini, mereka akan sulit mengganggumu."


"Ujian halaman dalam diadakan 6 bulan lagi. Sangat membosankan."


"Nona, apa tidak penasaran dengan ranking arena?"


"Ranking arena tidak terbuka untuk umum. Sebelum melewati masa 1 bulan pelatihan halaman luar, aku tidak bisa datang ke sana. Kecuali jika aku ikut andil dalam pertarungan arena."


"Nona akan bertarung di arena?"


"Ya, tapi aku tetap harus melihat dengan jelas standar kekuatan orang yang kutantang. Aku tidak bisa kalah dengan memalukan."


"Itu berarti yang Nona tantang adalah senior dengan kekuatan yang lebih kuat dari Nona. Omong-omong, kekuatan Nona sekarang adalah tingkat 4 bintang 3, orang yang Nona tantang harus ada di bawah atau setara dengan kultivasi nona."


"Aku pikir hanya anak baru yang memiliki kultivasi tingkat 4."


"Nona, kau akan bertarung melawan Ye Suanwu kedua!" Xiao Hei menjadi histeris.


"Ye Suanwu kedua tidak buruk." Gu Yuena mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nona tidak bisa menggunakan darah phoenix lagi, juga tidak bisa menggunakan sihir penyihir. Bagaimana Nona bisa menanganinya?" Xiao Hei jadi khawatir.


Gu Yuena diam untuk beberapa saat, tampak memikirkan sesuatu. "Xiao Hei, boleh kukatakan sesuatu? Jiwaku berasal dari dunia lain. Dan di dunia itu, aku telah menjadi pembunuh dan mata-mata yang paling dicari. Aku pernah berlatih anggar ketika kecil, kemudian menggunakan pedang untuk membunuh banyak orang. Meski tidak semahir temanku, aku tetap bisa menggunakan pedang."


"Anggar?"


"Pedang."


"Nona bisa berpedang?" Xiao Hei terkejut.


"Sedikit." Gu Yuena menyengir. "Tenang saja, aku tidak akan kalah berpedang melawan orang lain. Atau ... kugunakan saja cambuk api? Atau pisau terbang?"


"Nona, lebih baik menggunakan pisau terbang." Xiao Hei tidak percaya diri Gu Yuena yang biasa menggunakan senjata jarak jauh menjadi ahli pedang.


"Bagaimana jika ... kombinasi?" Gu Yuena tersenyum misterius. Teknik pedangnya memang tidak sebaik wanita bodoh itu, tapi ia juga tidak pernah kalah dari orang lain. Selain itu, ia bisa menggunakan kekuatan spiritualnya dan sedikit api untuk menciptakan serangan yang lebih berat.


Di tengah memikirkan bagaimana ia mengkombinasikan tiga senjata dalam satu serangan, beberapa pria berdatangan dengan tampang menyebalkan. Tatapan merendahkan mereka terlihat seperti sedang menatap mangsa.


Seragam mereka yang berwarna merah menunjukkan bahwa mereka adalah murid halaman luar divisi Huoyuan. Jumlah mereka ada 6 orang, dengan salah satu pria yang memimpin merupakan pria yang sebelumnya menguping Gu Yuena dan Luo Youzhe.


"Kupikir seorang pria spesial dengan bakat luar biasa, ternyata hanya seorang pemuda yang bahkan auranya tidak terasa. Jika kau bukan murid akademi yang lolos ujian seleksi, aku akan berpikir bahwa kau hanyalah sampah yang tidak bisa berkultivasi dan masuk akademi melalui hubungan orang dalam." Pria itu menyinyir dengan gaya bicara menyebalkan. Ia melihat punggung Gu Yuena dengan tatapan merendahkan.


Gu Yuena berdiri dari tempatnya membawa Xiao Hei. Ia berbalik, melihat 6 pemuda yang menampilkan aura permusuhan yang kuat. Bahkan beberapa dari mereka membawa tongkat yang begitu tebal. Sepertinya ia akan ditindas ... lagi.