
Assassin Guild tidak memiliki banyak pekerjaan sehingga Chu Xin terlihat menganggur saat ini. Dia bersantai di rumah sambil rebahan dengan malas. Rasanya sangat damai tanpa harus mengikuti orang-orang berpikiran rumit.
Tapi kedamaian itu berakhir ketika pintu rumahnya dibuka secara kasar oleh kelompok kupu-kupu yang menyusup masuk. Kupu-kupu itu berhamburan ke arah Chu Xin, menakutinya setengah mati sampai harus melompat dari kursi panjang.
Ia pikir monster mana yang menerobos rumahnya untuk makan pagi sampai Chu Xin yang tidak siap ketakutan setengah mati dan terpojok. Ketika gerombolan kupu-kupu itu mengangkat tubuhnya dan menyeretnya ke luar, Chu Xin baru sadar siapa yang mengerjainya.
"Tetua Su, apa yang kau inginkan dariku!"
Ini sudah yang kesekian kalinya Su Churan memaksa Chu Xin untuk pergi keluar. Wanita malang itu dibawa oleh kelompok kupu-kupu ke halaman luar, lalu dijatuhkan begitu saja ke tanah.
Sosok Su Churan muncul dari kelompok kupu-kupu. Dia menepuk tangannya seperti menepuk debu, lalu melihat Chu Xin yang mengeluh di tanah.
"Hei, itu bukan tempat tidur. Aku tahu kau malas, tapi setidaknya jangan tidur di tanah!" Su Churan mencibir.
Chu Xin menangis dalam hatinya dan langsung berdiri. Dalam kondisi seperti ini, ia tidak perlu sopan pada wanita tidak ada akhlak itu. "Menurutmu siapa yang membuatku tidur di tanah?"
Su Churan meringis, lalu meraih lengan Chu Xin. "Aku membutuhkan bantuanmu."
"Apa itu?" Chu Xin sebenarnya malas. Ia tidak bisa melayani Gu Yuena di Wyvernia sehingga diberikan libur. Ia sudah menunggu hari ini. Tapi Su Churan malah mengganggu liburnya!
Su Churan tidak mengatakan bantuan seperti apa. Wanita itu langsung membawa Chu Xin secepat kilat ke Wyvernia.
Chu Xin tidak tahu cara apa yang digunakan Su Churan, tapi ia merasa perutnya bergejolak dan mual ketika angin berhembus disertai aroma bunga yang memabukkan. Ketika tiba, ia pun muntah-muntah.
"Hanya sedikit tektik perpindahan sudah seperti ini, kasihan sekali." Su Churan berdecak menyedihkan.
Chu Xin tidak suka dan hanya bisa mendengus. Ia pun berdiri tegak, lalu menghadap Su Churan yang sulit dibaca itu. "Apa yang harus kulakukan di sini?"
Su Churan masih tidak mengatakan tujuannya. Ia menggandeng tangan Chu Xin, lalu berjalan menelusuri ibu kota. Mereka tidak bicara sepanjang jalan, sedangkan Chu Xin yang memasang wajah berkerut tidak bisa melakukan apa pun selain menghela napas sepanjang waktu.
Sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah kediaman yang cukup besar dan mewah. Gerbangnya bahkan muat untuk dimasuki seekor monster tingkat 4 yang sangat besar.
Su Churan akhirnya berkata, "Count Erizra adalah pendukung faksi bangsawan. Pengaruhnya cukup besar. Aku pikir, aku bisa membantu Xiao Yuena melaluinya."
Chu Xin masih tidak mengerti mengapa Su Churan membutuhkannya. Ia tidak bergelut dalam bidang politik dan tidak mengerti apa pun. Memang apa yang bisa ia bantu. Rajanya saja berkata bahwa ia tidak bisa membantu.
"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Chu Xin.
Su Churan tersenyum. "Kamu hanya perlu menjadi juru bicaraku."
"Juru bicara?!" Chu Xin tidak habis pikir. Hari liburnya dipotong hanya untuk menjadi juru bicara? Bukankah itu terlalu konyol?
"Ini bukan hal sepele." Su Churan memperingati. Ia pun dengan terpaksa menjelaskan, "Count Erizra adalah mantanku, aku tidak bisa bicara secara langsung dan harus ditemani olehmu. Aku ...."
"Kau takut terbawa perasaan lagi?" Chu Xin memutar bola mata. "Kenapa tidak sekalian saja meminta Raja Yun untuk membantumu? Dia lebih bisa diandalkan."
"Tidak bisa, dia adalah seorang Raja. Tidak pantas merendahkan harga diri datang ke tempat seorang Count hanya untuk menjadi juru bicara."
"Kau bahkan merendahkan diri untuk pergi ke kediaman seorang Count yang merupakan mantanmu. Ratu bisa menangani urusannya, tidak memerlukan bantuan Count-mu. Katakan saja kau ingin memperbaiki hubunganmu dengannya."
"Bukan bagitu!" Su Churan buru-buru menjelaskan, "Bagaimana aku bisa memperbaiki hubungan dengan orang yang sudah menikah? Aku tidak serendah itu!"
"Lalu apa yang kau lakukan di sini? Apa kau punya rencana?"
"Xiao Yuena berniat menjadikan Alfonso sebagai kambing hitam dan mengadu domba Kaisar. Keluarga dari istri Count Erizra ada di pihak faksi kaisar, aku hanya ingin memanfaatkannya."
"Bukankah itu tindakan tidak bermoral?" Chu Xin menghela napas, "Ayolah, kamu adalah Su Churan yang berhati lembut, mana bisa menjadi seperti Ratu?"
"Apa kau sedang memuji atau menghinaku?"
"Anggap saja keduanya."
Su Churan mendengus. "Aku benar-benar ingin membantu Xiao Yuena. Istana terasa sepi tanpanya. Aku ingin dia cepat kembali!"
Chu Xin pun menghela napas dan bergumam, "Aku juga begitu."
Dua wanita itu jadi seperti orang aneh yang berdiri di depan rumah orang tanpa tujuan. Su Churan mengurung niatnya memanfaatkan mantannya untuk pekerjaan. Ia sudah memutuskan untuk tidak berhubungan dengannya lagi. Jadi tidak perlu plin-plan.
"Ayo pergi, aku akan menunjukkanmu pertunjukan seni di stadium." Su Churan kembali menggandeng Chu Xin untuk pergi. Moodnya berantakan.
Tapi ketika ia akan pergi, tangan lainnya justru dihentikan oleh seseorang yang tiba-tiba datang mendekat. Su Churan pun terdiam.
"Chu Xin, apa kau yang menolak untuk pergi?" tanya Su Churan.
"Kau adalah seorang Tetua. Meski memintaku untuk terjun, aku mana bisa menolakmu," balas Chu Xin. Ia merasakan kehadiran seseorang di belakang, lalu menoleh. "Wah, sepertinya mantanmu ngajak balikan."
Su Churan mengerutkan kening. Ada orang lain di belakangnya, menahan lengannya. Ia pun menoleh ke belakang. Detik berikutnya, ekspresinya membeku.
Ah, kapan orang itu muncul?
"Qin Chuan." Alves memandangnya dengan perasaan senang. Ia tidak menduga Su Churan ada di depan rumahnya, menemuinya.
Su Churan melihat ke arah tangan yang menggenggamnya. Alves langsung melepas genggaman, sedangkan Su Churan jadi canggung. Chu Xin di sisi lain menjadi nyamuk.
"Apalah aku yang jomblo ini," gumam Chu Xin.
"Qin Chuan, bagaimana kabarmu?" Alves bertanya dengan senyuman hangat. Senyuman yang bahkan tidak dapat dilihat oleh istrinya sendiri.
Su Churan jadi merasa sangat bersalah. "Sangat baik." Dia menarik sudut bibirnya untuk tersenyum meski terasa canggung, "Count Erizra, mengapa kamu di sini?"
"Seharusnya aku menanyakan hal itu padamu. Mengapa kamu di sini? Di depan mansion-ku?"
"Aku ... hanya lewat."
"Lewat?"
Su Churan mengangguk, lalu menggeleng. Hal itu membuat Alves bingung, bahkan Chu Xin sudah memasang wajah datar untuknya.
"Awalnya aku ingin menanyakan beberapa hal, tapi sepertinya itu tidak diperlukan."
Alves sepertinya paham apa yang ingin ditanyakan Su Churan. Su Churan adalah Tetua Su dari Istana Tianshuang. Sedangkan pasangan penguasa Istana Tianshuang berada di Kediaman Duke Elberg. Ratu mereka adalah Putri Valentina.
Agak sedih mengetahui Su Churan datang untuk pekerjaan, bukan untuk dia. Tapi tak apa. Selama dapat melihat Su Churan, ia sudah sangat senang.
"Apa kamu tidak ingin masuk? Aku akan menjamumu dengan baik."
Su Churan melihat gerbang itu dengan pandangan asing, lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu. Awalnya aku hanya ingin mengirim bawahanku untuk bicara karena terlalu sibuk. Aku harus pergi."
"Lalu ...."
"Oh iya, Countess Erizra memiliki keluarga yang berasal dari faksi kaisar. Kau tahu artinya." Su Churan memberi peringatan.
"Aku tahu. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengecewakan. Lagi pula, Ratu Tianshuang sudah membuat rencana jangka panjang." Setidaknya demi Su Churan. Ia sudah tahu betapa gila atasan Su Churan. Ia ingin membawa Su Churan keluar dari lingkungan seperti itu, pasti sangat memberatkan. Tapi sayangnya, ia tidak bisa.
"Itu bagus." Su Churan menarik Chu Xin kembali, lalu pergi dengan perasaan canggung.
Chu Xin yang tidak terbiasa melihat Su Churan yang canggung langsung menarik daging di pinggangnya. Su Churan nyaris memekik jika tidak ada Alves yang menunggu di belakangnya.
Chu Xin menyengir, sedangkan Su Churan mengutuk dalam hati. Dia melihat ke arah Alves lagi, lalu menjadi canggung kembali dengan senyuman. Chu Xin pun dengan sangaja menginjak kakinya.
"Ini adalah pekerjaan nyamuk." Chu Xin menyengir ketika melihat Su Churan menahan rasa sakit dengan senyuman pahit. Dia terlihat ingin mengutuk atau berteriak, tapi harus menjaga wajah di depan mantannya.
Jika Alves tahu kegilaan Su Churan, mungkin dia akan sangat terkejut. Biasanya Su Churan terlihat anggun dan saleh, sama sekali tidak terlihat bobrok di depannya.
"Tetua Su, apa kau pernah tidur dengannya? Sikapmu sangat aneh."
Su Churan menoleh ke arah Chu Xin dengan senyuman mengerikan. "Apa kamu tidak menginginkan darahmu?"
"Ak-aku hanya bertanya ...." Chu Xin merinding.
Su Churan menghela napas. "Jangan bicara omong kosong. Aku tidak pernah tidur dengan siapa pun."
"Bagaimana dengan ciuman?"
"...."
"Baik, aku salah bicara."
Su Churan tidak berdalih yang artinya mereka memang pernah berciuman. Wajar saja. Mereka hampir menikah, lho.
Memangnya apa yang perlu dipermasalahkan?
"Apa Raja Yun tahu?"
Su Churan merasa ingin menyegel mulut itu. "Apa hubungannya dengan Raja Yun?"
Chu Xin mengerutkan kening, tampak serius. "Bukankah kalian sangat dekat? Apa kau tidak mengatakan bahwa ciuman pertamamu adalah dengan Count Erizra?"
"Ciuman pertamaku bukan dengan Count Erizra, tapi dengan pohon." Di depan Bai Youzhe pula. "Satu lagi, aku dan Yun Qiao tidak sedekat itu."
Chu Xin mencibir. Apanya tidak dekat? Ia perhatikan, keduanya kadang minum bersama dan saling bercerita. Selain itu, Su Churan juga sering membantu Yun Qiao mengatasi masalah Istana Yuansu. Apanya yang tidak dekat?
"Bilang saja gengsi," gumamnya.
"Sudah kukatakan, aku tidak dekat dengannya." Su Churan ternyata masih bisa mendengar gumaman Chu Xin dan mencibir.
"Baiklah Tetua Su, bawahan ini percaya." Chu Xin berkata dengan setengah hati.
Su Churan tiba-tiba menghentikan langkah dan menarik Chu Xin yang hampir diterobos kuda yang berlari di tengah jalan. Chu Xin juga terkejut, lalu melihat ke arah seekor kuda yang berlari kencang. Tampak terburu-buru.
"Itu adalah Pangeran Alfonso." Su Churan tiba-tiba menunjukkan senyum miring. "Sepertinya permainan tekah dimulai."
"Kita akan menonton?"
"Dan mendukung dari belakang," sambung Su Churan, lalu menarik Chu Xin mengikuti ke arah istana.
Kuda itu berlari ke arah istana dengan kecepatan tinggi. Setelah mendengar kabar dari istana serta panggilan oleh Kaisar, Alfonso langsung datang dengan hati gelisah.
Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Valentina muncul di saat-saat seperti ini, Earl Mandey terbunuh dengan cara tragis dan mengancam, lalu Kaisar memanggilnya. Ini pasti permainan wanita Elberg itu.
Sampai di istana, ia langsung melangkah masuk ke dalam. Para pelayan yang bekerja serta penjaga memberinya hormat tanpa berani menatap sepasang iris merahnya.
Pria berurai emas itu tiba di aula dan memihat sang Kaisar duduk di kursi kebesarannya dengan gagah. Kaisar saat ini sudah cukup tua, sekiranya sudah berusia 50an tahun dan memiliki banyak kekhawatiran. Apalagi dengan tragdei yang baru-baru ini terjadi.
"Dari mana saja kamu?" tanya Kaisar.
Alfonso langsung berlutut dan menjawab, "Menjawab Yang Mulia, pangeran ini berada di kota perbatasan utara membawa bala bantuan dari serangan monster. Monster di wilayah sangat agresif dan sulit ditangani, sehingga kesatria kekaisaran harus datang sebagai bala bantuan. Dalam dua hari ini, monster berhasil dipukul mundur."
"Dua hari? Apa kau yakin?" Kaisar bertanya lagi.
Alfonso semakin gelisah dan menjawab dengan mantab. "Benar, Yang Mulia."
"Itu adalah usaha yang bagus." Kaisar memberi apresiasi. "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
Alfonso berpikir sejenak, "Tidak ada, Yang Mulia."
"Benarkah?" Dia melihat wajah Alfonso yang gelisah, seperti telah merencanakan sesuatu.
Wajah Kaisar semakin tidak sedap dipandang. Baru kemarin Duke Elberg mengumumkan anggota baru bernama Valentina yang merupakan putri dari Putri Vanya. Secara dia adalah cucu dari kaisar sebelumnya dan merupakan keponakan kaisar. Apalagi dia memiliki ciri fisik kandidat pewaris tahta.
Duke Elberg benar-benar telah menunjukkan taringnya melalui pengumuman itu.
Dua hari yang lalu adalah kematian Earl Mandey. Earl Mandey berasal dari faksi bangsawan yang bekerja langsung di bawah Kaisar untuk menjadi mata-mata. Dia mati, sama saja menantang Kaisar.
Earl Mandey memberi informasi pada Alfonso saat itu. Lupakan tentang monster di wilayah timur, Alfonso tidak harus datang ke sana. Dia mengatakan telah membunuh monster selama dua hari, sedangkan dua hari yang lalu adalah harinya pergi ke utara. Cukup untuk membuat dalih.
Wilayah timur tidak terlalu jauh dari ibu kota. Setidaknya butuh waktu seminggu untuk melakukan perjalanan menggunakan kuda. Tapi karena Alfonso adalah pemilik kekuatan ruang dan waktu, dia bisa berpindah tempat secara singkat. Hanya ke wilayah timur, tidak membutuhkan waktu dua jam perjalanan.
Alfonso pantas menjadi tersangka pembunuhan Earl Mandey. Bahkan dengan penampilannya saat ini, dia terlihat seperti menyembunyikan banyak hal di balik kepatuhannya. Kaisar jadi skeptis padanya.
"Pergilah." Kaisar membiarkannya pergi untuk saat ini. Ia akan memantau lebih jauh.
Alfonso pun pergi dengan segudang pertanyaan di benaknya. Apa Kaisar mencurigainya telah membunuh Earl setelah mendapat informasi? Bukankah terlalu konyol?
Ia memang mendapat informasi. Mengenai rencana Valentina yang baru-baru ini dilakukan. Ia telah mendengar banyak hal terjadi di ibu kota seperti penyerangan terhadap pangeran, perceraian sang putri, sampai beberapa kematian yang aneh. Itu pasti bagian dari rencana Valentina. Jika Kaisar mengetahuinya, ia takut kalau Valentina akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bertindak terang-terangan seperti itu, bukankah untuk menunjukkannya pada Kaisar? Kaisar pasti akan menargetnya. Tapi posisi Kaisar saat ini sangat ekstrim di tengah pro dan kontra dari masyarakat. Jika ia mengungkapkan rencana Valentina, pasti wanita itu telah memiliki kartu as setelah kematian Earl Mandey yang tidak wajar. Ia tidak boleh memberitahu Kaisar, atau itu akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Batu jiwa diperiksa dengan saksama saat waktu luang. Sudah dua hari Gu Yuena mencoba mencaritahu apa maksud dari Gu Yuan memberinya ini. Tapi masih belum bisa memecahkannya.
Ia memperhatikan batu jiwa di tangannya, lalu menyimpannya saat mendengar seseorang mendekati kamarnya. Ia pun berbalik untuk melihat Bai Youzhe yang masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak melihatmu sejak pagi. Apa ada masalah?" tanya Gu Yuena.
Bai Youzhe menghampiri dengan raut tidak mengenakkan sebelum memeluk Gu Yuena dengan erat. "Aku harus pergi."
"Kenapa?"
"Kali ini bukan Dunia Bawah maupun Istana Tianshuang. Aku tidak bisa menjelaskannya."
"Lalu, aku hanya perlu menunggumu kembali. Hanya itu, 'kan?" Gu Yuena jadi merasa terbiasa. Bai Youzhe memiliki masalahnya sendiri yang tidak bisa dikatakan pada Gu Yuena. Gu Yuena tidak akan memaksanya bercerita.
"Aku akan kembali secepatnya, setidaknya sebelum kamu menyelesaikan masalahmu dengan keluarga kekaisaran."
"Aku mengerti."
Bai Youzhe memandang iris merah yang indah itu, lalu tersenyum. "Aku akan menemuimu untuk yang kesekian kalinya."
Gu Yuena mengangguk. Bai Youzhe bisa pergi, berarti percaya bahwa Gu Yuena akan baik-baik saja di sini. Meski Duke Elberg tidak bisa dipercaya sepenuhnya, Bai Youzhe masih memiliki banyak orang untuk menjaga Gu Yuena.
Ia mencium keningnya selama beberapa detik, lalu memeluknya lagi dan memendamkan wajahnya di leher Gu Yuena. Ia benar-benar tidak ingin pergi, tapi ada panggilan yang terus menghantuinya berulang kali.
Kadang Gu Yuena penasaran apa yang dilakukan Bai Youzhe di luar sana. Apa terlalu berbahaya untuk diketahui olehnya? Gu Yuena pikir, ia akan tahu segalanya jika sudah cukup kuat. Tapi ternyata belum cukup.
Meski Bai Youzhe akan menjawab bila ditanya, Gu Yuena tidak ingin selalu menekannya dengan pertanyaan. Ia ingin Bai Youzhe secara inisiatif mengatakannya tanpa paksaan.
Ketika Bai Youzhe pergi menjauh, Gu Yuena hanya melihat dalam diam. Pandangannya buram. Sosok itu semakin tidak terlihat meski fiturnya masih ada. Semakin lama, pandangan Gu Yuena juga semakin gelap.
Ia menurunkan pandangannya, lalu meremas ujung pakaiannya dengan gelisah. "Aku takut ... tidak bisa melihatmu lagi."
Ia harap Bai Youzhe datang sebelum pengelihatannya benar-benar menghilang. Dengan begini, ia memiliki kesempatan melihat wajah itu untuk terakhir kalinya.