Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
121. Phyton Pelahap Api



Dalam gua yang diterangi cahaya nyala api dari kawah, Phyton Pelahap Api meninggikan badannya yang lebih besar dari ular raksasa kebanyakan. Seperti monster yang pernah hidup di zaman purba. Iris merahnya melihat sosok manusia serta dua monster kecil yang berdiri di dekat sihir array miliknya.


Pergerakan monster itu menyebabkan banyak ular merespon, begitu rusuh dan mengepung tempat itu begitu saja layaknya lautan ular. Mereka bahkan tidak memberi celah. Tubuh mereka melata di tanah, saling menimbun dan menutupi tanah dengan sempurna oleh tubuh bersisik mereka.


Tidak ada jalan keluar.


Gu Yuena melepaskan kedua kucing di pelukannya dan menarik sihirnya. Percuma saja menggunakan sihir transparan, monster penjaga yang sesungguhnya kini menemukannya dan mengumpulkan monster penjaga yang lebih rendah untuk membunuhnya. Ular besar itu pasti merasa terganggu.


Begitu dilepaskan, Xiao Hei dan Xiao Bai langsung memperbesar ukuran mereka secara maksimal untuk melindungi Gu Yuena. Sosok Gu Yuena yang kecil nyaris tidak terlihat di antara dua kucing besar yang mengaum ganas menakuti ular-ular yang berkumpul.


Phyton pelahap api tidak bisa menolerir monster penjaga lain muncul di wilayahnya, sehingga mengeluarkan lengkingan yang sangat keras penuh kemarahan. Makhluk itu memberi perintah pada rakyatnya untuk menyerang tiga penyusup saat itu juga.


"Xiao Hei, Xiao Bai, tangani mereka!" Gu Yuena punya rencana. Meski agak menantang dengan membiarkan Xiao Hei dan Xiao Bai menangani ribuan ular yang berdatangan sedangkan Gu Yuena menghadapi Phyton pelahap api sendiri, ia tidak memiliki pilihan lain.


Saatnya menguji kultivasi tingkat 9-nya.


Tanpa memberi komentar, Xiao Bai membuat barrier yang membatasi jumlah ular yang berdatangan sehingga lautan ular itu terpisah menjadi dua bagian. Ular-ular itu semakin gila dan melata dengan cepat, Xiao Hei memulai serangannya menyingkirkan ribuan ular dengan berbagai serangan. Xiao Bai di sisi lain menahan barrier sambil menyingkirkan para ular yang akan menerobos dan menyerangnya dari belakang.


Phyton pelahap api tidak menunggu sampai rakyatnya dihabiskan semua oleh dua makhluk itu. Ia langsung meluncur menyerang Gu Yuena, menyemprotkan kobaran api dari mulut sampai menghanguskan segala hal di sekitar tanpa merusak array.


Gu Yuena melompat ke tiap bebatuan tinggi menghindari serangan api. Ia mengeluarkan pisau terbang, menciptakan sihir api di sekitar pisau yang membentuk serangan besar terhadap sang ular. Sejak kekuatannya mengalami penerobosan, qi yang terkuras ketika menggunakan sihir semakin lama semakin sedikit. Gu Yuena dapat lebih leluasa menggunakan kekuatannya dalam skala besar untuk menangani seekor monster penjaga.


Pisau terbang yang menyerang dalam bentuk sihir api yang begitu besar menghantam ulat itu bertubi-tubi. Ular itu dipenuhi nyala api akan ledakan yang diciptakan pisau terbang, namun itu tidak cukup untuk membunuhnya.


Tubuh ular itu terbakar, ia justru terlihat lebih mengerikan dibanding sebelumnya, apalagi ketika menyemburkan kobaran api dari mulutnya. Ia seolah tercipta dari api.


Gu Yuena mengepakkan sayap dan terbang di sekitar phyton pelahap api. Sayapnya telah mengalami perubahan setelah mengalami peningkatan. Ketika dikepakkan, itu tidak hanya memiliki dua sayap kanan dan kiri, tapi empat!


Sebelum mengalahkan sesuatu, cari kelemahannya. Gu Yuena terbang untuk itu. Ia menghindari serangan bertubi-tubi phyton sambil berputar-putar mencari bagian terlemah di tubuh keras itu. Namun, phyton itu begitu gesit ketika berpindah tempat untuk menyerang Gu Yuena dan tidak memberinya kesempatan menemukan apa yang diinginkan.


Phyton pelahap api tidak bodoh seperti monster pada umumnya. Ia memiliki kecerdasan setara dengan manusia sehingga dapat mengerti apa yang sedang dilakukan Gu Yuena. Ingin membunuhnya? Jangan mimpi!


Tubuh Gu Yuena memiliki aura manusia, iblis, dan phoenix bersamaan. Phyton pelahap api sebelumnya bingung jenis makhluk apa Gu Yuena, namun ia menyingkirkan pemikiran itu saat menyadari jantung makhluk itu memiliki darah phoenix yang sangat melegenda. Ia menginginkannya untuk menyempurnakan kekuatan api dan menjadi dewa!


(Dewa di sini hanya seseorang yang memiliki kekuatan puncak dunia. Tingkat 10 kalau berdasarkan kultivasi manusia. Jadi bukan Dewa sesungguhnya apalagi Tuhan.)


Gu Yuena jelas kesulitan. Phyton pelahap api sangat bersemangat memburunya karena darah phoenix yang menggiurkan. Ini lebih merepotkan dibanding bertarung untuk latihan dengan Xiao Hei dan Xiao Bai.


Mata Gu Yuena berubah warna menjadi merah muda. Lingkaran sihir yang diberi Li Hua berguna untuk mendeteksi pergerakan lawan selanjutnya agar ia dapat dengan mudah menghindari serangan yang akan berakibat fatal. Sayapnya mengepak cepat di sekitar tubuh ular yang melingkar di berbagai arah.


Kecepatan sayapnya menyaingi kecepatan phyton pelahap api. Itu melesat dari tubuh panjang phyton ke arah kepala besar itu, lalu berhenti tepat di depan matanya untuk memberi pengaruh pikiran dari sihir di mata Gu Yuena.


Warna merah muda menyala lebih pekat, menusuk salah satu mata Phyton Pelahap Api yang pikirannya mulai dibingungkan. Dalam sekejap, dia menutup mata dan mundur karena terkejut akan sesuatu yang menusuk matanya. Ketika membuka matanya kembali, itu sudah penuh dengan cairan merah yang mengalir deras.


Salah satu matanya telah buta, sedangkan yang lainnya terluka.


Gu Yuena sedikit tersenyum. Ia kembali melaju, menggunakan sihir di tangannya untuk memberi serangan api yang lebih besar. Bola api secara beruntun menembaki seperti peluru kecil yang tidak ada habisnya. Pisau terbang mulai bergerak dan mengeluarkan cipratan sihir yang berhasil menyayat kulit tebal sang ular.


Sekilas, Gu Yuena mendapat keuntungan dan memiliki posisi terbaik. Namun, itu salah. Begitu phyton pelahap api sadar dari rasa bingung, ia mengaum keras dan menyebabkan api di jurang sana mengamuk dan meledak ke atas.


Array sihir milik Phyton Pelahap Api mengalami perubahan. Menyusut dan membentuk sesuatu sebesar bola energi berwarna gelap, Phyton Pelahap Api langsung membawanya di mulut dan menelannya.


Gu Yuena tidak sempat menggagalkan apa yang dilakukan ular itu sampai akhirnya fluktuasi energi yang lebih besar muncul dari dalam jurang. Kekuatan Phyton Pelahap Api menjadi lebih besar, sedangkan sesuatu di dalam jurang menarik perhatian Gu Yuena. Darah phoenix-nya bereaksi lagi.


Phyton Pelahap Api semakin kuat setelah memakan bola energi tersebut. Itu adalah bola energi yang berisikan unsur api murni dari dalam jurang yang dikumpulkan selama ribuan tahun. Ternyata phyton pelahap api menyimpannya untuk digunakan sewaktu-waktu.


Pertarungan ini belum berakhir dan semakin rumit.


Gu Yuena tidak memiliki pilihan lain selain menghadapinya langsung. Ular itu menyerangnya lagi lebih ganas seperti monster kelaparan. Api muncul di mana-mana, terasa sangat membakar dan bahkan mempengaruhi Gu Yuena sebagai pemilik api phoenix.


Gu Yuena tidak berani menggunakan kekuatan jiwa di saat-saat seperti ini, atau kekuatan jiwa akan mengendalikan pikirannya sekarang. Namun, jika terus seperti ini, ia akan mati tanpa meninggalkan jasad!


Iris merahnya melihat ke arah jurang berapi yang tidak diketahui ada apa di dalamnya. Itu hanya terdiri dari kabut kemerahan serta kobaran api dan lahar yang tidak ada habisnya, sangat panas. Aura yang dipancarkan di sana juga sangat kuat.


Tiba-tiba Gu Yuena terpikirkan sesuatu.


Ia melihat ke arah Xiao Hei dan Xiao Bai yang mulai terdesak karena kalah jumlah, lalu memanggil mereka. "Kembali ke ruang spiritual!"


Keduanya terkejut, lalu melihat Gu Yuena seperti seekor lalat terbang yang berusaha dibunuh. Xiao Hei begitu khawatir, "Nona, apa yang ingin kamu lakukan?" Mereka tidak ada di posisi menguntungkan, benar-benar tidak ada jalan keluar.


Gu Yuena berhenti beberapa meter dari ular yang terus mengejarnya. Tangannya bergerak membentuk sebuah simbol, sedangkan simbol phoenix di antara alisnya menyala.


Sosok phoenix dengan ukuran setengah dari besarnya Phyton Pelahap Api muncul disertai lengkingan suara yang khas. Sayap indahnya yang berjumlah empat dikepakkan, terlihat sangat nyata.


"Pergilah!" Gu Yuena membiarkan Phoenix melawan Phyton Pelahap Api. Setidaknya, dapat memberinya waktu untuk membawa Xiao Hei dan Xiao Bai terlepas dari ribuan ular.


Phoenix Api dengan penuh semangat meluncur ke arah ular yang menyerang, lalu membuat serangan sihir yang merusak ke tubuh ular tersebut.


Gu Yuena segera melesat ke arah Xiao Bai dan Xiao Hei, lalu membuat barrier besar yang membatasi wilayah pertempurannya dengan kumpulan ular. Ia melihat mereka berdua, memberi isyarat agar cepat kembali ke ruang spiritual. Kedua kucing itu segera menurut, kembali ke ruang spiritual.


Dalam sekejap, gua tertutup oleh barrier yang dibuat oleh Gu Yuena dan Xiao Bai. Barrier milik Xiao Bai sudah retak, sedangkan Gu Yuena menggunakan barriernya sendiri untuk barrier lapisan kedua serta memiliki jangkauan yang lebih luas agar ular itu tidak bisa menerobos. Kecuali menggali tanah, mereka tidak akan bisa keluar.


Ada hujan api yang begitu mengerikan berasal dari pertempuran dua makhluk itu. Ketika Phoenix terkena serangan, Gu Yuena memegang dadanya yang terasa sakit akibat serangan. Meski ia tidak terkena langsung, Phoenix itu terhubung dengan jiwanya. Jika Phoenix mati, maka jiwanya akan rusak. Ia harus cepat pergi dari sini sebelum jiwanya mengalami kerusakan.


Dengan kecepatan tinggi, sayap Gu Yuena dikepakkan dan menghindari hujan api yang muncul dari langit-langit gua. Akibat dari pertempuran tersebut, gua mengalami guncangan. Ada banyak bebatuan mulai runtuh dan jatuh di sekitar Gu Yuena bersamaan dengan hujan api.


Melewati pertempuran besar yang kerap kali nyaris menghantam tubuh Gu Yuena, ia akhirnya berhasil sampai di pinggir jurang. Ia berpikir untuk pergi ke sana dan mencari jalan, atau mencari sumber energi yang menyebabkan darah phoenix begitu gelisah.


Namun, sepertinya nasib tidak berpihak pada Gu Yuena. Phoenix yang baru terbentuk itu kalah dari Phyton Pelahap Api dan terhempas begitu saja ke dalam jurang berkabut. Gu Yuena terkejut, detik berikutnya ia muntah darah dan jatuh ke tanah.


Phoenix yang ia ciptakan telah kalah dan menghilang begitu saja. Jiwa Gu Yuena mengalami kerusakan, yang membuat tubuhnya melemah. Untungnya ia memiliki kekuatan jiwa untuk menahan jiwanya yang rusak.


Phyton Pelahap Api mendekati Gu Yuena. Iris merahnya terlihat sangat ingin memakan wanita itu dan melahap darah phoenix-nya. Ia sangat marah, selain karena seseorang berani memasuki wilayahnya, orang itu juga berani membutakan salah satu matanya. Jadi, biarkan darah phoenix wanita itu menebusnya.


Gu Yuena melihat ke arahnya, lalu sedikit tertawa. Ia tahu apa yang diinginkan phyton pelahap api berkat lingkaran sihir di matanya. Sangat jelas terlihat.


"Kau ingin darah phoenix-ku? Maka ambilah." Gu Yuena mengepakkan sayapnya untuk melambung ke atas, lalu terjun bebas ke dalam jurang berkabut.


Ular itu terkejut melihat mangsanya begitu tidak masuk akal melompat ke dalam sana. Dia sendiri tidak memiliki keberanian itu, tapi makhluk itu sepertinya sudah kehilangan kewarasannya.


Phyton Pelahap Api meraung marah sampai menakuti ribuan ular yang mencoba membebaskan diri. Bisa-bisanya mangsa yang sudah ia targetkan menghilang begitu saja. Darah phoenix harus menjadi miliknya!


Ia ingin lihat, seberapa jauh wanita itu bisa melarikan diri. Kalau tidak mati di sana, ia akan memburunya!


Phyton Pelahap Api sangat marah dan melampiaskannya pada ular lain yang tidak becus melakukan tugas. Pada saat ia mengamuk dan menyebabkan guncangan dalam gua, ia tidak sadar bahwa sihirnya yang melingkupi gua telah hancur bersamaan dengan guncangan lain.


Langit-langit gua amblas dalam ukuran yang cukup besar. Ribuan ular berserakan mati begitu saja, sedangkan Phyton Pelahap Api nyaris tertimpa puing-puing yang berjatuhan.


"Di mana dia?"


Suara dingin itu menyebabkan sang ular menoleh ke atas. Sosok pria penyebab runtuhnya gua muncul membuat pandangan sang ular mendingin.


Rupanya masih ada orang lain yang berani mencari masalah padanya. Sebelumnya itu adalah makhluk aneh tak diketahui, sekarang adalah naga!


Bai Youzhe merasakan ada sesuatu di bawah sini ketika sedang mencari jalan. Kebetulan, aura yang ia rasakan di gua tertutup itu mirip dengan tempat ini, yakni aura Phyton Pelahap Api. Ia juga merasakan adanya aura Phoenix, tapi hilang begitu saja membuatnya resah. Itu sebabnya ia 'menggali' gunung dan menyebabkan gua tersebut runtuh.


Phyton pelahap api sangat marah. Ia baru saja dengan gegabah akan menyerang Bai Youzhe, namun sesuatu tak terlihat tiba-tiba menahan tubuhnya di udara sampai tidak bisa bergerak. Phyton pelahap api ingin menyerang dengan ganas, tapi sulit menggerakkan tubuh sampai meronta dan terus mengaum.


"Berisik." Bai Youzhe menggerakkan tangannya ke arah monster itu. Kabut hitam muncul menghantam Phyton Pelahap Api begitu saja sampai membuatnya jatuh di atas puing-puing dan menciptakan keributan luar biasa.


Phyton Pelahap Api sudah dibuat buta karena wania tertentu dan telah dilukai seekor phoenix sampai menghabiskan banyak tenaganya. Sekarang mengahadapi seseorang yang jauh lebih kuat sampai hancur tanpa perlawanan, ia benar-benar tidak terima!


Sayangnya, Phyton Pelahap Api tidak bisa melakukan apa pun selain menjadi ular jinak yang memojokkan diri di dinding gua. Ia membiarkan pria itu mendarat ke atas tanah, masuk ke wilayahnya begitu saja untuk melihat-lihat.


Bai Youzhe jelas-jelas merasakan aura phoenix yang kuat di sini, tapi sekarang sudah tidak ada. Apa Gu Yuena sudah pergi? Atau ....


Pandangannya terarah pada Phyton Pelahap Api dengan tajam penuh niat membunuh. Phyton Pelahap Api tidak tahu apa yang membuat pihak lain marah, segera menunduk di depannya dengan menyedihkan.


"Jangan pura-pura bisu." Bai Youzhe tahu semua monster penjaga bisa bicara. Mereka memiliki kecerdasan setara dengan manusia dan bisa bicara bahasa manusia. Hanya monster penjaga yang baru lahir atau meningkat saja yang tidak bisa bicara, tapi masih memiliki kecerdasan.


Phyton Pelahap Api hanya bisa patuh. "Itu ... siapa yang Tuan cari?"


"Phoenix."


Phyton Pelahap Api membeku seketika. Phoenix .... Bukankah itu berarti Naga di depannya sedang mencari wanita yang barusan membuatnya marah karena pergi begitu saja? Apa yang harus ia katakan? Apa yang akan terjadi jika makhluk aneh yang dicari sang Naga menjatuhkan diri ke jurang?


Pasalnya, jurang itu adalah kawah berapi! Makhluk apa pun tidak bisa selamat jika memasukinya! Karena dia memiliki darah phoenix, mungkin saja selamat. Tapi kemungkinan selamat ketika jatuh dari ketinggian setinggi itu ... takutnya ....


Sepertinya ini adalah akhir dari hidupnya. Jika tahu makhluk aneh itu memiliki orang yang sangat kuat di belakangnya, ia tidak akan memiliki keberanian untuk menyerang. Ia akan menjamu wanita itu layaknya ratu, menunggu naga-nya datang!


Bai Youzhe semakin gelisah ketika melihat reaksi Phyton Pelahap Api yang tidak beres. Pandangannya terarah pada jurang berkabut tak jauh dari tempatnya berada, matanya menyipit seketika.


Itu adalah ....


Baru saja Phyton Pelahap Api akan menjawab dengan pasrah, Bai Youzhe sudah pergi ke tepi jurang dan melihat darah yang telah mengering di pinggir jurang. Itu adalah darah manusia.


Melihat ke arah jurang, ia berpikir apa Gu Yuena melompat ke sana untuk menyelamatkan diri? Darah ini menunjukkan bahwa wanita itu terluka dan melompat ke sana agar Phyton Pelahap Api tidak bisa mengejarnya.


Wajahnya menggelap seketika. Ia tahu tempat itu. Meski Gu Yuena memang harus ke tempat itu, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Jatuh ke dalam sana dalam keadaan terluka sangat beresiko.


Pada akhirnya, Bai Youzhe yang berwajah gelap langsung menarik Phyton Pelahap Api dan melemparnya begitu saja ke dalam jurang berkabut.


"Tuan, tolong aku! Ampuni aku!"


Phyton Pelahap Api berteriak ketakutan sambil memohon sampai sosoknya menghilang. Dia tidak mati, tapi memasuki kedalaman api dan tertidur kembali adalah hukuman yang cocok untuknya.


Bai Youzhe segera berubah menjadi kabut hitam dan memasuki kabut berapi untuk menemukan Gu Yuena. Sepasang iris biru itu terus terlihat gelisah.


"Nana, bertahanlah."