
"Kau ...." Gu Yuena nyaris keceplosan ketika melihat sosok di depannya. Ia langsung mengatupkan mulutnya, kemudian menunduk agar tidak ketahuan.
"Yang Mulia." Gu Yuena membungkuk seperti anak laki-laki untuk menyapa pria di depannya.
Masalahnya, pria di depannya Putra Mahkota Kekaisaran Yi, Huang Jingtian, sekaligus teman kakaknya yang cukup sering berkunjung ke kediaman. Ia takut, wajahnya akan dikenali.
Meski kemungkinan dikenali 40% karena ia selalu mengenakan cadar dan jarang terlihat, tetap saja tidak bisa melewatkan pengelihatan Huang Jingtian. Bahkan ketika di kediaman, pria itu langsung mengenalinya begitu saja—tidak ingat jelas sih.
Huang Jingtian, pria tinggi dan termasuk dalam jejeran pria tertampan di kekaisaran. Selain tampan, ia dikenal akan kekuatan dan kontribusinya terhadap negara. Banyak wanita yang ingin menikah dengannya, tapi pria itu terlalu fokus pada studi sehingga tidak terpikirkan memiliki wanita manapun.
Selain itu, dia juga merupakan salah satu alasan Gu Shan sangat memperhatikan Gu Yuan. Karena Gu Yuan berteman baik dengan Putra Mahkota, semua orang pasti akan mencari perhatian Gu Yuan yang katanya akan mendapat banyak manfaat setelah Putra Mahkota naik tahta. Ini adalah urusan politik.
"Kau murid baru?" Huang Jingtian tersenyum. "Tidak perlu sopan, kita semua adalah murid."
"Ya." Gu Yuena sedikit membalas senyumannya.
Gu Yuena menggerutu dalam hati pada kakaknya yang tidak memberitahu bahwa Huang Jingtian bersekolah di sini. Tahu begitu, lebih baik ia pergi ke Akademi Yinyang.
Tapi kalau di Akademi Yinyang, bukankah akan betemu manusia sialan itu yang menjadi senior? Ia bisa ditindas setiap hari dengan alasan senioritas, lebih baik tidak masuk ke sana.
Huang Jingtian benar-benar tampak seperti murid biasa. Ia berjalan-jalan sendiri di bawah awan gelap dengan pakaian murid berwarna emas menandakan bahwa ia adalah murid Divisi Qingyuan.
Tiap warna seragam mewakili divisi masing-masing. Gu Yuena yang berada di Divisi Huoyuan akan mendapat seragam merah, begitu pula seterusnya beradasarkan warna unsur. Untuk murid halaman dalam, ada pakaian khusus yang disediakan tiap kelompok murid di dalam sana, seperti yang digunakan Huang Jingtian saat ini. Seragam berwarna emasnya berbeda dari seragam murid halaman luar.
"Yang Mulia bisa jalan-jalan sendiri, aku tidak akan mengganggu." Gu Yuena berkata dengan ramah. Bagaimanapun, Huang Jingtian adalah teman kakaknya. Ia tidak boleh mencoreng wajah kakaknya dengan sikap tak sopannya ketika mengungkapkan diri nanti.
"Sebenarnya tidak mengganggu. Jarang-jarang melihat murid baru di sini selama masa awal penerimaan." Huang Jingtian melihat Gu Yuena dengan teliti, membuat Gu Yuena semakin waspada. "Sepertinya aku pernah melihatmu di suatu tempat."
Benar, 'kan? Mata Huang Jingtian ini sangat jeli sampai bisa mencurigainya di saat pertama kali melihat. Gu Yuena hanya bisa memikirkan cara untuk lepas dari pria itu.
Gu Yuena tertawa canggung. "Sepertinya wajahku terlalu pasaran. Maaf tidak bisa menemani Yang Mulia, Yang Mulia juga tidak bisa diganggu, aku pamit terlebih dahulu."
"Sama sekali tidak mengganggu. Bukankah kau datang untuk berjalan-jalan sebentar? Asrama masih belum dibuka saat ini."
Apa Huang Jingtian sudah tahu identitasnya? Gu Yuena jadi curiga bahwa sebenarnya wajahnya ini sudah sangat terkenal sampai orang lain bisa mengingatnya. Sepertinya ia harus sedikit memoleskan hiasan pengubah wajah.
Untuk saat ini, ia harus menghindari penyelidikan Huang Jingtian. "Tidak perlu. Yang Mulia, aku memiliki urusan dan harus bertemu temanku. Aku pergi duluan." Gu Yuena buru-buru pergi karena takut dikenali. Bisa gawat jika ia dikenali di hari pertama. Rencananya akan kacau.
Huang Jingtian tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi ia menelannya kembali. Ia hanya berkata, "Jika ada sesuatu, kau bisa katakan padaku."
"Baik, Yang Mulia!" Gu Yuena membungkuk 90° dan pergi secepatnya.
Huang Jingtian terkekeh melihatnya. Ia bergumam, "Gadis yang menarik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nona, Putra Mahkota sudah tahu identitasmu." Xiao Hei turut berduka cita.
Gu Yuena mondar-mandir tidak jelas sambil menggigiti tangannya dengan cemas. Jadi benar, pria itu sudah tahu identitasnya. Pantas saja sikapnya aneh.
Apa Gu Yuan yang memberitahu bahwa ia akan datang ke akademi lalu Huang Jingtian menebaknya?
Atau ... napasnya?
Seperti yang dikatakan Su Churan, mengenali seseorang dari napas. Seseorang dengan tingkat kultivasi tertentu akan dapat mengenali napas seseorang yang familiar dan membedakannya dengan napas lain.
Meski napas Gu Yuena hanya dapat dirasakan secara samar-samar dan tidak bisa dilacak dari jarak jauh, tetap saja ketahuan jika berhadapan langsung. Kecuali jika menggunakan metode khusus untuk mengubah napas seseorang.
Ia hanya berharap semua ini berakhir dengan cepat.
"Sepertinya Putra Mahkota murid halaman dalam. Tidak perlu khawatir, kita tidak akan sering bertemu." Xiao Hei mencoba menenangkan nonanya.
"Benar ...." Gu Yuena menghela napas untuk menenangkan hatinya. Menakutkan saja. Seharusnya ia tidak perlu sepanik ini. Hanya saja ... perasaannya tidak enak.
Semoga tidak terjadi hal buruk.
Atau mendapatkan hal buruk.
Ia duduk di kursi taman sambil melihat air hujan yang perlahan menetes. Ia benci hujan, karena itu adalah pertanda buruk baginya.
"Hei, katanya murid baru kali ini tidak biasa. Selain ada yang mendapat energi unsur monster tingkat 5, ada juga yang mendapat energi unsur monster tingkat 4 sangat banyak!"
"Sangat banyak? Seberapa banyak?"
"Aku dengar sekitar 100 lebih. Jumlah itu sangat banyak seperti sedang menggusur habis hutan lapisan luar. Selain itu, dia juga mendapat energi unsur monster tingkat 6 yang langka! Seperti ... energi unsur milik Rusa Giok Ungu."
"Ah, aku justru mendapat informasi bahwa dia sangat tampan. Apa akan setampan Putra Mahkota?"
"Tidak bisa, tidak boleh lebih tampan. Jika lebih tampan, akan sulit untuk memilih. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada dua pria sekaligus."
"Hei, apa setampan anak ini?"
Salah seorang menunjuk Gu Yuena yang sedang anteng mengelus Xiao Hei. Mereka bergosip tepat di belakang kursi yang ditempati Gu Yuena.
Para murid perempuan itu berbondong-bondong melihat Gu Yuena. Mata mereka langsung berbinar seperti melihat harta.
"Entahlah, tapi kau sangat cantik seperti wanita. Siapa namamu?" Salah satunya bertanya.
"Gu Yue." Firasat buruk Gu Yuena terjawab. Bagaimana jika datang sebagai perempuan? Pasti akan lebih kacau.
"Gu Yue ... jika kau bukan laki-laki, aku pasti akan mengira kau adalah Gu Yuena dari Kekaisaran Yi yang menyamar."
Gu Yuena pura-pura tidak mendengar.
"Gu Yuena? Siapa Gu Yuena?"
"Adik Gu Yuan, juga teman Putra Mahkota. Katanya dia sangat cantik, bahkan Putra Mahkota tidak bisa mengalihkan pandangannya. Sayangnya, hanya seorang sampah."
"Sampah? Apa benar?"
"Ah, kasihan sekali. Dia hanya bisa dijodohkan dengan seseorang dan melahirkan anak supaya beguna. Sama sekali tidak ada masa depan."
Gu Yuena merasa hatinya digelitiki hingga ingin tertawa, tapi ia hanya diam. Memikirkan bagaimana murid-murid penggosip itu membicarakan seseorang tepat di depan orangnya, atau memang tepat di belakang kursinya, ia sangat ingin tertawa.
Benar-benar definisi membicarakan orang di belakang.
Gu Yuena akhirnya memilih pergi menjauh dari para penggosip. Mereka awalnya ingin menanyakan banyak hal pada Gu Yuena, namun Gu Yuena langsung kabur begitu saja.
Ia tidak ingin berurusan dengan mulut cabai gadis muda. Biarlah mereka berfantasi sendiri.
Pada akhirnya, Gu Yuena memilih pergi ke asrama. Ia telah mengenali lingkungan sekolah ketika berkeliling tadi.
Ketika di halaman luar, ia akan mendapat jadwal belajar dan mengikuti pelajaran layaknya sekolah biasa. Selain itu, ada pula arena pelatihan dan arena pertempuran, dua arena itu memiliki fungsi seperti namanya.
Untuk mencapai halaman dalam, akan diadakan ujian tiap 6 bulan sekali. Jika selama 5 tahun tidak lolos ujian, maka akan dikeluarkan. Sedangkan yang lolos, akan mendapat kesempatan memasuki halaman dalam dan belajar secara bebas untuk mengikuti ujian peringkat.
Ujian peringkat menentukan apakah murid tersebut memiliki kualifikasi tinggal di Istana Yuansu sebagai anggota atau tidak. Di antaranya, hanya sepuluh besar yang mendapat kuota masuk.
Sedangkan untuk pergi ke Perpustakaan Yuansu, Gu Yuena harus pergi ke halaman dalam terlebih dahulu. Ia tidak perlu mendapat kuota tinggal di Istana Yuansu, tapi ia setidaknya harus masuk dua puluh besar untuk mendapatkan kesempatan berkunjung ke Istana Yuansu sebagai pengalaman.
Lagi-lagi kriteria dan pengaturan yang sederhana, namun rumit saat dikerjakan.
Sumber daya lengkap Akademi Yuansu memang tidak ada tandingannya. Segala hal disediakan secara mewah dan memiliki kualitas terbaik.
Tiap divisi memiliki kegiatan dan organisasi sendiri seperti sebuah fakultas. Ada pula organisasi wajib yang harus dimasuki tiap murid selama berada di halaman luar, yakni organisasi profesi.
Mage, assassin, hunter, summoner, guardian, archer, alkemis, forge, dan healing, masing-masing adalah cabang organiasi profesi yang melatih murid untuk fokus pada profesi yang dituju dan apa yang harus dilakukan selama di halamam luar. Semua jadwal berasal dari organisasi itu.
Ketika memasuki halaman dalam, murid bebas menentukan pilihan hidupnya asal dapat terus meningkatkan kekuatan dan lulus ujian. Akses mereka juga lebih bebas untuk mencari bahan kultivasi, apalagi mengikuti turnamen atau semacamnya.
Saat ini, Gu Yuena telah berada di gedung asrama di bagian barat akademi. Asrama ini dicampur untuk seluruh murid akademi dari semua divisi. Itu sebabnya, ada sangat banyak pintu bernomor ketika memasuki bagian dalam gedung.
Penjaga asrama tengah duduk sambil membaca buku di bagian lobby gedung. Gu Yuena menghampiri, kemudian menyerahkan token yang sebelumnya telah dimodifikasi selain menyimpan energi unsur, untuk menyimpan data diri.
Penjaga asrama menerima token, lalu memindainya dengan sebuah alat berbahan dasar batu berukiran rune. Sebuah cahaya masuk ke dalam token, sebelum akhirnya diserahkan.
"Gu Yue, ada di kamar nomer 2106. Token ini sudah menjadi kuncinya, pindai saja di samping pintu." Pria tua penjaga asrama kembali membaca bukunya setelah mengucapkan kalimat yang sudah hapal di luar kepala selama ada pendatang baru.
Gu Yuena menerimanya, kemudian melihat token miliknya yang menuliskan nomer asrama dengan cahaya putih. "2106."
Ia diam untuk beberapa saat, kemudian pergi menaiki tangga untuk pergi ke lantai yang tertera dalam token.
Lantai 21
Gedung ini memiliki total 30 lantai. Dapat dibayangkan betapa gila bila orang biasa naik turun ke lantai setinggi itu tanpa lift. Sepertinya, murid-murid juga malas kembali ke asrama karena lantai yang tinggi, atau murid malas keluar jika sudah ada di kamar asrama. Bisa dilihat akan gedung asrama yang sepi.
Sampai di lantai 21, Gu Yuena mencari kamarnya di tiap lorong. Gedung ini sangat besar sampai Gu Yuena harus mencari di tiap lorong panjang dan sepi hanya untuk satu kamar. Ia sampai lelah karena terus membawa tas di tangan selama pencarian.
Hingga akhirnya sampai di kamar yang dituju, ia pun memindai token di sebelah kiri pintu. Dinding di sebelah pintu menjorok ke dalam, sangat pas dengan ukuran token. Pintu pun menunjukkan suara tanda kunci terbuka.
Gu Yuena membuka pintu. Namun, sepertinya sudah ada seseorang di dalam karena lampu kamar yang menyala. Ia hanya masuk tanpa mengatakan apa pun dan kembali menutup pintu.
Tapi ketika Gu Yuena berbalik untuk melihat kamarnya yang besar, pandangannya terpacu pada sosok pria yang berdiri di balkon sambil melihat hujan yang mulai deras.
Punggungnya ... terasa tidak asing.
Pria itu menoleh, merasa seseorang memperhatikannya. Ketika wajah tampannya terungkap membelakangi derasnya hujan, disertai iris biru malam yang unik, tubuh Gu Yuena membeku seketika.
"Kau?"
Pria itu tersenyum. "Selamat datang, teman sekamar."
Wajah Gu Yuena memerah seketika. "Luo Youzhe, bagaimana kau bisa di sini?"
"Menurutmu, kenapa aku di sini?"
Gu Yuena tidak tahu harus tertawa atau menangis. Pria itu meminta pendapatnya? Yang benar saja!
"Ini tidak benar. Seharusnya kau di Akademi Yinyang."
"Aku pindah."
"Tapi tidak harus sekamar."
"Aku tidak memiliki kuasa di Akademi Yuansu. Jadi bukan aku yang mengatur asrama. Aku bahkan terkejut kau sekolah di sini." Luo Youzhe bersedekap dada.
Gu Yuena menghela napas. Sungguh, ia tidak pernah merasa sejengkel ini seumur hidupnya. Ia berbalik keluar kamar membawa semua barangnya untuk mengajukan pindah kamar.
Luo Youzhe mengikuti Gu Yuena pergi ke lantai dasar. Gu Yuena menuruni tangga terburu-buru. Jika tidak mati, ia lebih baik melompat dari ketinggian lantai 21 dibanding turun satu per satu.
Sampai di lantai dasar, Gu Yuena langsung meletakkan tokennya di meja penjaga asrama.
"Aku ingin pindah kamar." Ia menunjuk Luo Youzhe yang berdiri beberapa meter di belakangnya. "Asalkan tidak dengannya, dengan siapa pun boleh."
Penjaga asrama berkata tak acuh. "Dalam aturan asrama, tidak diperbolehkan mengganti teman asrama, kecuali teman asrama keluar atau dikeluarkan dari akademi."
"Pasti ada pengecualian." Gu Yuena bersikeras. Ia tidak mau kesehariannya dikacaukan oleh pria sialan itu. Tidak mau!
"Dengar, aku di sini hanya bertugas sebagai penjaga asrama dan mempertahankan tata tertib. Bila kau tidak memenuhinya, aku tidak akan tinggal diam."
"Kau ...." Gu Yuena kehilangan kata-kata. Karena kesal, ia pun mengambil kembali toketnya dan pergi ke kamar dengan terpaksa.
Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan orang tua. Ia akan menanganinya sendiri.
"Kau sudah tidur denganku, masih ingin berganti pasangan? Betapa tidak berperasaan." Luo Youzhe menyindir di sebelahnya.
"Diamlah!"
Asrama ini mulai ramai akan murid berlalu lalang sehingga Gu Yuena terlalu malas membahasnya. Bodohnya Luo Youzhe malah membahas hal ambigu itu.
"Seharusnya kau bersyukur mendapat kamar yang sama dengan orang yang kau kenal. Kita adalah adik dan kakak ipar, apalagi pernah menjalani hubungan singkat, tidak perlu sungkan."
Gu Yuena menghentikan langkahnya. Ia mendorong Luo Youzhe hingga pria itu terpojok di dinding. Gu Yuena menatapnya dengan tajam.
"Kalau kau bicara lagi, aku akan memotong lidahmu."
Luo Youzhe justru tersenyum, dan mendekatkan wajah mereka. "Dengan cara apa? Digigit?"
Gu Yuena menginjak kaki Luo Youzhe dengan keras sebelum akhirnya pergi. Luo Youzhe mengaduh kesakitan, lalu berlari menghampiri Gu Yuena.
"Aku tidak ada teman di sini, lebih baik kita saling membantu sebagai teman sekamar." Luo Youzhe bicara dengan santai.
"Aku punya Xiao Hei."
"Meow~" Xiao Hei menyapa dari tas selempang Gu Yuena.
"Dia binatang."
"Apa bedanya denganmu?" Gu Yuena melirik dengan tajam.
Luo Youzhe terkekeh. "Jadi kau menganggapku sebagai binatang? Jika aku menjadi binatang seperti yang kau katakan, takutnya kau sudah menangis."
"Aku tidak cengeng."
"Lalu siapa yang waktu itu menangis mengatakan dirinya ditinggal semua orang?" Luo Youzhe pura-pura berpikir.
Gu Yuena semakin sakit kepala dan mempercepat langkahnya sampai kamar. Setelah membuka pintu, ia langsung menutupnya sebelum Luo Youzhe masuk. Nyaris saja pintu itu membentur kepalanya.
Luo Youzhe membuka pintu, lalu melihat Gu Yuena yang sedang membereskan barang. Kamar mereka sangat besar sampai bisa muat lima tempat tidur.
Ada tempat tidur, lemari, meja belajar, dan rak buku untuk barang pribadi. Di sudut lain ada meja dan kursi untuk menerima tamu, tempat berkultivasi dengan alas lantai beludru, dan satu kamar mandi besar dengan dua bak. Semua lengkap ada di kamar besar yang sudah seperti apartemen. Kurang dapur saja.
"Omong-omong, jika kau tidak menyamar sebagai laki-laki, kita tidak akan satu kamar." Luo Youzhe duduk dengan santai sambil memperhatikan Gu Yuena.
"Jika aku datang sebagai perempuan, takutnya masalah berdatangan dan membawa Kediaman Adipati."
"Jadi kau datang sebagai siapa?"
"Gu Yue. Kakaku yang memberi nama." Gu Yuena tidak perlu menyembunyikannya.
"Aku rasa ada alasan lain mengapa kau harus menyamar. Tidak takut aku membongkarnya?" Berdasarkan temperamen Gu Yuan, tidak mungkin pria itu mengizinkan Gu Yuena. Harus ada alasan tertentu sebagai pengecualian.
"Kau tidak akan." Gu Yuena menatapnya dengan tajam. "Untuk alasan lain, bukan urusanmu. Kau sendiri seharusnya ada di Akademi Yinyang sebagai murid dalam, malah pergi ke Akademi Yuansu untuk mengulang pelajaran."
"Tidak masalah menambah pengalaman dan wawasan, 'kan? Aku juga butuh koneksi di sini. Begitulah caraku bekerja."
"Jadi ketika di pasar gelap, kau bergabung dengan para assassin untuk koneksi? Bisnis?"
Luo Youzhe hanya menjawab dengan senyuman, entah benar atau tidak.
"Aku anggap itu benar." Gu Yuena tidak mau ambil pusing.
Assassin selalu menjadi profesi yang ditakuti, namun tidak dilarang seperti penyihir. Karena cara pelatihan yang berat dan rumit, sangat jarang yang menjadi assassin kecuali jika bergabung dengan kelompok tertentu yang berisikan assassin, atau terlahir di keluarga assassin.
Sangat jarang ada keluarga assassin, karena kebanyakan dari mereka adalah keluarga psikopat yang haus darah. Assassin memang haus darah. Jika hunter haus darah monster, maka assassin haus darah manusia.
Klan Luo bukan keluarga assassin, jadi kemungkinan besar Luo Youzhe berlatih dalam kelompok tertentu. Sedangkan Istana Yinyang tidak mempelajari ilmu Assassin, melainkan konsep yin dan yang. Salah satu kelompok itu haruslah pengelola pasar gelap. Itu berarti, selain menjual barang di pelelangan, Luo Youzhe juga bekerja sebagai pembunuh bayaran.
Baru itu yang bisa Gu Yuena simpulkan. Selebihnya, Luo Youzhe masih misteri di matanya, termasuk kenyataan bahwa Luo Youzhe mengetahui kultivasinya di saat semua orang tidak bisa mendeteksi. Ini tidak ada hubungannya dengan hubungan satu malam. Ia tetap harus berhati-hati.
Luo Youzhe memperhatikan Gu Yuena yang tampak membuka buku mage untuk pengetahuannya tentang mage.
"Kau bertanya begitu banyak padaku, apa sudah termasuk tertarik?" Luo Youzhe tiba-tiba melontarkan ucapan yang membuat telinga Gu Yuena panas.
Gu Yuena menatapnya dengan datar. "Kau sendiri banyak tanya, apa tertarik padaku?"
"Ya, bisa dibilang begitu." Ia berjalan mendekati Gu Yuena, kemudian menunduk ke arahnya. "Aku tertarik padamu."
"Mencurigakan," gumam Gu Yuena sambil menoyor kepala Luo Youzhe agar menjauh. "Jangan mencoba mencari tahu apa pun dariku."
"Ayolah, kau melupakan janjimu untuk memberitahu rahasia Klan Ye."
"Tak ada, aku menipumu."
"Jadi kau menipuku untuk tidur denganmu?"
"Aku menipumu untuk menyelamatkan nyawaku." Gu Yuena menutup bukunya menahan rasa kesal. "Aku masih menyayangi nyawaku, kenapa aku harus berkata jujur di saat kau ingin membunuhku? Saat itu kau tidak tahu bahwa aku adalah Gu Yuena, jadi bisa saja kau membunuhku karena mengetahui terlalu banyak. Aku hanya berusaha melindungi diri sendiri."
"Aku tidak membunuhmu."
"Kau akan membunuhku. Luka itu akan membusuk, kau sendiri yang berkata lukanya terlalu buruk. Kau menahanku keluar dari penginapan, sama saja membunuhku. Jadi aku buat karangan singkat dan memastikan kau percaya agar aku disembuhkan. Rencanaku adalah lari setelah membuatmu mabuk, tapi rupanya kau tidak mabuk dengan segelas anggur. Aku yang mabuk karena awalnya aku berpikir tidak akan mabuk karena sudah terbiasa, tapi ternyata salah." Gu Yuena akhirnya mengungkapkan segalanya.
Luo Youzhe tidak terlihat terkejut. "Jadi kau sedang mengakui kesalahan?"
"Aku sedang menjelaskan situasi yang kuingat. Jadi jangan menganggapnya karena aku tertarik dengan tubuhmu. Aku bukan orang mesum. Untuk alasan mengapa aku menarikmu, itu karena pikiranku sedang kacau dan terbawa efek panas anggur. Lagi pula, itu bukan ciuman pertamaku." Gu Yuena mengatakannya dengan jelas tanpa malu. Ia bahkan tidak setengah-setengah mengatakan hal vulgar.
Luo Youzhe diam untuk beberapa saat, tampak menyembunyikan sesuatu tapi tidak mengatakannya. Ia melihat Gu Yuena dengan teliti.
"Kau pernah ciuman dengan Ye Suanwu?" tanya Luo Youzhe.
"Jujur saja, dulu otakku kemasukan air sehingga sempat menyukainya. Tapi aku sama sekali tidak memikirkan tentang ciuman pertama. Sedangkan Ye Suanwu, bukan satu dari sekian orang yang pernah menciumku."
Entah kenapa Luo Youzhe merasa kesal. Sekian orang? Gu Yuena pernah berciuman dengan banyak pria? Bagaimana mungkin?
Luo Youzhe tertawa tiba-tiba membuat Gu Yuena mengerutkan kening. Sepertinya Luo Youzhe tidak percaya. Tak apa, tidak perlu dijelaskan.
"Jika kau adalah orang lain, tentu aku akan percaya. Tapi Gu Yuena, sejak kapan perempuan sepertimu sembarang mencium orang?"
"Perempuan sepertiku? Apa maksudmu?" Gu Yuena semakin kesal.
"Kau sangat menyayangi kakakmu, tidak mungkin berpindah hati dan mencium orang sembarangan, 'kan? Selain itu, dengan temperamenmu, sangat tidak mungkin kecuali jika sedang mabuk atau dipaksa keadaan."
Gu Yuena terdiam. Sejauh ini, ia berciuman karena dipaksa keadaan dan pekerjaan. Ia sih tidak terlalu memikirkannya, tapi semua pelaku itu sudah pindah alam. Hanya Luo Youzhe yang masih hidup dari sekian banyak pria yang menyentuh bibirnya.
Ia kesal menyadari Luo Youzhe mengenalinya dengan baik.
"Jangan bersikap seolah kau mengenalku dengan baik." Gu Yuena bersedekap dada sambil bersandar di penyangga kursi.
Luo Youzhe meletakkan kedua tangannya di pegangan kursi Gu Yuena. Ia mendunduk lebih rendah, nyaris menghapus jarak antar keduanya.
"Aku memang tidak mengenalmu lebih baik dari dirimu sendiri. Sama seperti kau tidak mengenalku dengan baik." Ia diam untuk beberapa saat melihat netra merah darah Gu Yuena yang memantulkan sosok dirinya. "Satu hal yang harus kau tahu, aku tidak suka bila ada bau pria lain di sekitarmu, juga tidak suka jika kau mengatakan bahwa kau telah berciuman dengan orang lain."
Gu Yuena kosong menatap iris biru malam itu. Sampai tidak sadar bahwa pria itu merendahkan wajahnya untuk menyatukan bibir mereka dan menyelinapkan lidahnya untuk bermain.
Gu Yuena secara spontan menutup mata, tidak bisa memikirkan apa pun selain mendengarkan derasan hujan dan rasa geli seolah ada kupu-kupu berterbangan di perutnya.
Napasnya memburu ketika memperdalam ciuman dan lidah yang bersentuhan. Sampai akhirnya suara guntur menyadarkan keduanya, barulah mereka melepas tautan bersama.
Gu Yuena secara spontan menutup mulutnya dan memalingkan wajah, sedangkan Luo Youzhe menegakkan punggungnya. Tidak tahu apa yang ia pikirkan, pria itu pergi dari kamar begitu saja.
Gu Yuena melepas bikapannya sendiri dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Ia merasa sangat ... gila!
"Apa yang kulakukan? Seharusnya aku memukulnya .... Benar-benar sudah gila!"