
Chu Xin buru-buru menuruni anak tangga, menahan Gu Yueli dan pelayannya yang ingin menerobos.
"Tunggu dulu. Nona Kelima, Nona Keempat sedang istirahat dan tidak bisa diganggu. Harap Nona Kelima tidak membuat masalah." Chu Xin berkata dengan tegas.
Gu Yueli melirik Chu Xin dengan tajam. Ia melihat dua pelayan di belakangnya, kemudian memberi isyarat untuk menahan Chu Xin. Kedua pelayan itu langsung melangkah untuk memegangi Chu Xin dan menjauhinya dari Gu Yueli.
"Hanya seorang pelayan rendahan, apa bisa memerintahku?" Gu Yueli berdecak sebal.
Chu Xin yang dipegangi mendengus. Ia memutar lengan kedua pelayan itu dengan cepat hingga dua pelayan wanita itu memekik kesakitan. Chu Xin mengabaikannya, kemudian menghadang jalan Gu Yueli.
"Nona Kelima, maaf atas ketidaksopanannya. Tapi Tuan Muda Yuan sudah memperingati bahwa Nona Keempat tidak menerima tamu yang ada hubungannya dengan Nyonya Ting."
"Kakakku sudah pulang, kau tidak takut pada kakakku? Cepat atau lambat, dia akan membunuhmu karena telah menghinaku!" Gu Yueli menggeram kesal. Ia melihat ke arah pintu kamar Gu Yuena, kemudian berteriak. "Gu Yuena, aku menghormatimu sebagai kakak, apa begini caramu memperlakukanku?"
"Hormat? Nona Kelima, jangan membual di siang bolong. Semua orang tahu, bahwa sikap 'hormat' yang Nona tunjukkan hanya untuk mencari sensasi." Chu Xin sudah kesal.
"Kau ...." Gu Yueli akan menampar wajah Chu Xin, namun Chu Xin menahannya tepat waktu. Itu membuat Gu Yueli sangat marah. "Pemberontak! Kau berani melawanku!"
Chu Xin langsung melepas genggamannya ketika teringat sesuatu. Ia pun menunduk. "Chu Xin tidak berani."
"Karena Gu Yuena tidak bisa mengajari pelayannya dengan baik, maka aku yang akan menggantikannya. Pelayan!" Gu Yueli memanggil dua pelayan yang masih kesakitan itu. Ia melirik mereka dengan tajam, membuat dua pelayan itu tidak jadi mengeluh.
"Hadir, Nona Kelima."
"Beritahu pelayan tidak tahu aturan ini, seorang pelayan harus tahu posisinya sebagai pelayan." Gu Yueli bicara dengan penuh penekanan.
Dua pelayan itu langsung membawakan tongkat kayu yang biasanya tersedia di sudut paviliun. Mereka pun mendekati Chu Xin dan sedikit menjaga jarak dengan waspada.
"Gu Yuena, jika kau tidak keluar, kau akan melihat mayat pelayanmu di depan pintu!" Gu Yueli mengancam.
Chu Xin menghela napas diam-diam. Ia sudah sangat sabar, tapi wanita bodoh satu ini malah membuatnya sangat kesal sampai nyaris tidak bisa mengendalikan diri. Bukan salahnya jika ia berbuat kasar dan melukai seseorang.
"Cepat beri dia pelajaran!" Gu Yueli memerintah pelayannya.
Mereka cepat-cepat mengangkat tongkat kayu tinggi-tinggi, kemudian mengayunkannya ke arah punggung Chu Xin dengan semangat membara. Mereka sangat senang memikirkan bagaimana mereka akan membalaskan dendam atas tangan mereka yang diputar sampai melemas.
Tapi sebelum tongkat itu menyentuh punggung Chu Xin, sebuah batu melayang tepat ke tangan kedua pelayan itu, membuat kayu yang mereka pegang terlepas. Mereka terkejut, sedangkan Gu Yueli menggeram kesal.
"Orangku, hanya aku yang bisa menyentuhnya. Jika ingin menjadi petugas penegak hukum, lebih baik pergi ke divisi hukum dan mengajukan diri sebagai sipir penjara."
Pandangan mereka semua teralih pada seseorang di depan pintu kamar. Gu Yuena dengan pakaian tidurnya yang masih menempel disertai mata panda itu berdiri dengan tegak. Tak lupa juga cadar yang ia kenakan untuk menutupi wajah bantalnya.
"Kalian mengganggu istirahatku, apa tidak takut karma?" Gu Yuena berdecak sebal. Ia hanya ingin tidur, kenapa harus ada pengganggu ini?
"Gu Yuena, jangan berpura-pura lagi, aku tahu sifat busukmu. Jika kau tidak memohon pada ayah untuk memaafkan ibu, aku akan membuat harimu menjadi seperti di neraka!"
"Oh? Sudah keluar sifat aslinya." Gu Yuena terkekeh. "Kalau begitu, aku juga tidak perlu menutupi kebusukanku. Gu Yueli, jika aku membunuh ibumu, apa yang akan kau lakukan padaku?"
Gu Yueli menggertakkan giginya marah. "Aku akan membunuhmu! Gu Yuena, aku tidak pernah takut pada sampah sepertimu!"
"Kalau begitu, pas sekali. Ibumu membunuh ibuku, sepertinya aku harus membunuhnya untuk menenangkan ibuku di surga."
"Gu Yuena, dia juga ibumu! Ibumu mati diserang monster karenamu, tidak ada hubungan dengan ibuku. Apa kau tidak begitu keterlaluan menuduhnya?"
"Jika aku mengatakan ini pada kakakku dan ayah, mereka sudah mengeksekusi ibumu sejak kemarin. Kebetulan, aku adalah korban. Mana mungkin aku berbohong? Karena pada dasarnya, akulah satu-satunya sanksi mata hari itu."
"Kau ...." Gu Yueli kehabisan kata-kata. "Gu Yuena, kau tidak akan memiliki akhir yang baik!"
"Aku berharap seperti itu." Gu Yuena tersenyum mengejek, kemudian melihat pelayan-pelayan itu dengan dingin. "Nona Kelima kelelahan sampai kehilangan akal, harus merepotkan kalian untuk membawanya kembali ke kediaman untuk istirahat."
Dua pelayan itu terdiam. Tatapan dingin Gu Yuena membuat mereka bergidik. Mereka ingin melawan, namun ketika melihat Chu Xin, mereka langsung mundur. Aura membunuh yang kuat membuat mereka takut dan membujuk nonanya untuk kembali.
"Nona, kita kembali saja dan bicara pada Tuan Adipati."
"Tidak! Gu Yuena, kau tidak bisa melakukan ini padaku. Jika ibuku diusir dari kediaman, bagaimana dengan pernikahanku?"
"Pernikahanmu akan tetap berjalan, atau lebih cepat dijalankan. Aku bisa menjaminnya. Bukankah Ye Suanwu sangat mencintaimu?" balas Gu Yuena.
Gu Yueli lagi-lagi terdiam. Pikirannya kacau dan dipenuhi kebencian. Ia sangat ingin membunuh Gu Yuena, namun kehadiran Gu Yuan menghentikan pemikiran itu jika masih sayang nyawa. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan membuat kehidupan sampah itu seperti di neraka!
Kedua pelayannya terus membujuk untuk kembali. Gu Yueli pun menghentakkan lengan bajunya dan pergi dari sana.
Sayangnya, meski Gu Yueli sudah memutuskan untuk pergi, Gu Yuena tidak berniat melepaskannya begitu saja.
Ia sedikit menggerakkan jarinya, membuat api yang menyala di ujung pakaian Gu Yueli. Ia membuat api yang tidak bisa dimatikan kecuali menggunakan banyak air. Itu hanya trik kecil, dan ia menggunakannya sebagai percobaan pada Gu Yueli.
Api yang menyala di ujung gaun berhasil membuat Gu Yueli dan pelayannya panik setengah mati. Mereka menginjak-injak gaun panjang Gu Yueli berharap apinya padam. Namun, api tak kunjung padam. Chu Xin yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.
Karena api semakin membesar dan terus melahap rok Gu Yueli, Gu Yueli secara naluri pergi ke arah kolam ikan di dekatnya melompat begitu saja ke dalam seperti katak. Api pun padam, menyisakan asap yang berterbangan seperti air mendidih di punggung Gu Yueli.
"Nona!"
"Tolong aku! Cepat tarik! Aaaah!"
Dua pelayan itu berusaha menarik Gu Yueli yang dikelilingi ikan. Gu Yueli terus memekik jijik, sedangkan dua pelayannya panik sambil menariknya. Tapi karena kekuatan mereka rendah, merekalah yang tertarik ke dalam kolam sehingga menimpa Gu Yueli. Suara ceburan terdengar sampai air kolam terciprat mengejutkan banyak ikan.
Chu Xin tertawa semakin terbahak-bahak. Wajah jelek mereka dan aksi spontan Gu Yueli sangat menghibur di pagi hari yang cerah ini. Sedangkan Gu Yuena hanya tersenyum sinis. Sihirnya berhasil.
"Aku tidak tahu di sini ada pertunjukkan bagus. Seharusnya aku datang lebih awal."
Suara itu datang dari gerbang halaman. Itu adalah Luo Youzhe. Penampilannya membuat Gu Yueli dan kedua pelayannya sangat malu dan buru-buru naik ke atas kolam.
"Tuan Muda ...." Gu Yueli bersikap menyedihkan di depannya. Ia menunduk dengan sedih sambil memeluk dirinya sendiri, berharap pria di depannya memberinya jubah untuk menyelimutinya.
Luo Youzhe melangkah dengan tenang. Gu Yueli sudah sangat berharap bahwa pria itu akan berbaik hati menolongnya, apalagi ketika Luo Youzhe berjalan ke arahnya.
Tapi sayangnya, Luo Youzhe terus berjalan melewatinya seolah tidak terlihat, malah pergi ke arah Gu Yuena yang masih di depan pintu kamar. Gu Yueli membeku saat itu juga.
Ia berbalik melihat Luo Youzhe yang menyapa Gu Yuena terang-terangan. Itu membuat Gu Yuena sangat marah!
"Gu Yuena, tunggu saja!" Ia pun menghentakkan kaki dengan kesal dan pergi terburu-buru diikuti pelayannya.
Kehadiran Luo Youzhe mengubah suasana kediaman. Chu Xin membungkuk untuk memberi salam sebelum akhirnya terburu-buru memberikan Gu Yuena sebuah jubah, sedangkan Gu Yuena hanya melihat dengan dingin.
"Kenapa kau di sini?" tanya Gu Yuena.
"Aku akan pergi hari ini. Apa kau tidak akan merindukanku?" Luo Youzhe bicara dengan nada menjengkelkan.
"Aku justru berharap kita tidak pernah bertemu."
"Tenang saja, kita akan bertemu lagi."
Luo Youzhe tertawa melihat kelakuan Gu Yuena. "Seharusnya aku tidak salah mendengar, ketika di Pasar Gelap, seseorang berkata bahwa aku tidak boleh pergi."
Gu Yuena terdiam. Ketika mengingat-ingat, ia baru mengingatnya samar-samar bahwa ada percakapan seperti itu. Memikirkannya membuatnya sakit kepala.
"Aku sedang mabuk saat itu, jangan didengarkan. Kau pergilah, aku akan sangat senang sampai ingin terbang." Gu Yuena tersenyum lebar di balik cadarnya.
Luo Youzhe menaiki anak tangga untuk mendekati Gu Yuena. Ia tiba tepat di hadapan Gu Yuena, kemudian berkata, "Cadarmu mengganggu. Aku jadi tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas."
Gu Yuena mendadak kosong untuk sesaat. Ia mengedipkan mata, kemudian memelototi Luo Youzhe dengan tajam. Itu membuat Luo Youzhe tertawa.
"Hanya bercanda." Luo Youzhe menyengir kuda.
Gu Yuena menghembuskan napas dengan berat, kemudian berbalik memasuki kamar. "Kau membuatku muak." Ia pun penutup pintu membiarkan Luo Youzhe di luar.
Chu Xin masih terdiam melihat dua manusia itu. Ia seperti melihat sesuatu yang mengejutkan dan luar biasa, tapi ia langsung mengubah ekspresinya agar tidak terlihat mencurigakan. Ia membungkuk pada Luo Youzhe.
"Tuan Muda, sepertinya Nona tidak ingin bicara pada siapa pun."
Luo Youzhe meliriknya sekilas, kemudian kemudian sedikit mengangguk untuk menerima salamnya. Ia pun berbalik untuk pergi.
Rautnya tiba-tiba menjadi datar ketika melihat kolam yang baru saja menampung Gu Yueli. Sebelumnya ia dengan jelas melihat Gu Yuena menggunakan sihir api untuk memberi pelajaran pada Gu Yueli, tapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Atau hanya perasaannya saja?
Ia melirik Chu Xin di depan pintu, kemudian melihat pintu kamar yang tertutup di mana Gu Yuena berada. Entah apa yang ia pikirkan, ia pun pergi dari sana.
Gu Yuena di atas tempat tidur menghela napas panjang begitu melepas bantal yang menutupi wajahnya. Bukan karena pengap, melainkan karena kepikiran percakapannya dengan Luo Youzhe ketika mabuk.
"Aku tidak pergi."
Kalimat sederhana, namun dengan suara yang terus terngiang. Itu membuatnya merasa kesal tanpa sebab jelas.
Ia berguling ke sisi lain sambil memeluk selimut yang ia gulung di pelukannya, tetap memaksakan diri tidak memikirkannya. Tapi tidak berhasil.
Ia pun bangun, beranjak dari tempat tidur dan memutuskan untuk melihat kepergian Klan Luo. Seharusnya ia senang mereka pergi, kalau bisa tidak perlu kembali dan tidak perlu berhadapan dengannya terutama untuk pria bernama Luo Youzhe itu.
Setelah bersiap dengan penampilan sederhana, Gu Yuena tidak mengantar secara langsung di gerbang kediaman seperti yang dilakukan Gu Yuan, Gu Shan, selir dan kedua anak lainnya, melainkan berdiri melihat dari atas gerbang bersama para penjaga.
Terlihat dari atas sana, Luo Youzhe menunggangi seekor kuda hitam bersama Ketua Klan, sedangkan adik dan sepupunya ada di masing-masing kereta kuda diiringi oleh beberapa pelayan dan pengawal.
Pandangan Gu Yuena terpaku pada seseorang yang menunggangi kuda hitam di paling depan. Meski hanya terlihat punggungnya, ia tetap tahu siapa itu. Entah bagaimana, tiba-tiba ia menyesal tidak menanggapinya dengan baik tadi dan sedikit berharap bahwa pria itu akan menoleh melihatnya untuk terakhir kali.
Tapi Gu Yuena langsung sadar dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bodoh, sepertinya aku terlalu mengantuk." Ia pun berbalik dan pergi.
Luo Youzhe sedikit menoleh ke belakang, melihat Gu Yuan dan yang lainnya mulai akan kembali ke dalam. Ia masih tidak melihat Gu Yuena. Sepertinya gadis itu benar-benar membencinya.
Luo Youzhe terkekeh kecil mengingat tingkah gadis itu ketika mabuk kemarin. Ia pun bergumam, "Kita akan bertemu lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Penyihir sangat dilarang di dunia ini, itu sebabnya pelatihan mereka sudah lama hilang atau dihancurkan. Karena keterbatasan sumber daya, Gu Yuena tidak bisa melatih lingkaran sihir lain selain yang tertera di buku. Ia tidak tahu bagaimana penggolongan lingkaran sihir, karena buku itu hanya membahas mengenai darah phoenix dan cara mengaplikasikannya ke dalam lingkaran sihir.
Gu Yuena telah mencari berbagai buku mengenai penyihir, tapi perpustakaan kediaman terbatas. Ia tidak bisa menemukan banyak hal yang ingin diketahui. Mulai dari darah phoenix dan darah naga, sampai kultivasi penyihir, Istana Linghun, dan beberapa hal rahasia di dunia yang tidak banyak orang ketahui. Kebanyakan dari yang ia ketahui adalah hal umum.
"Tidak ada yang bisa kupelajari." Gu Yuena menghela napas sambil meletakkan kembali buku yang baru ia ambil dari rak. Ia bersandar di rak sambil berpikir apa yang akan terjadi di masa depan. "Aku tidak bisa terus menyembunyikan kekuatanku. Tapi jika seseorang tahu bahwa aku adalah penyihir, akan sangat berbahaya."
Penyihir memiliki karakteristik yang hampir sama dengan mage. Hanya berbeda cara menggunakan kekuatan dan sifat kekuatannya, sisanya tidak ada bedanya. Karena itu, lebih baik mengumumkan diri sebagai mage jika ketahuan bahwa ia bisa berkultivasi. Lagi pula, seseorang tidak akan bisa mengetahui profesi orang lain kecuali mengujinya. Tidak buruk.
Gu Yuena pun mencari buku mengenai mage untuk menguasainya sebagai peran yang ia ambil untuk menyamar. Sampai ia menjadi cukup kuat, ia tidak boleh mengungkapkan identitas sebagai penyihir. Orang lain hanya mengenalnya sebagai mage. Begitu saja.
"Omong-omong, aku belum melihat Xiao Hei ...." Gu Yuena tiba-tiba merindukan kucing kecil itu. Ia pun menghela napas. "Sudahlah, selesaikan saja apa yang harus diselesaikan."
Gu Yuena meninggalkan perpustakaan setelah selesai membaca buku umum mengenai mage. Ia pergi ke kediamannya, kemudian menyelesaikan terjemahan yang belum diselesaikan.
Ia memiliki rencana untuk membuat Gu Yueli pergi secepatnya dari sini. Gadis itu merusak pandangan.
Setelah selesai dalam waktu singkat, ia tidak langsung pergi ke ruangan Gu Shan untuk menyerahkan berkas, melainkan pergi ke paviliun tetangga—milik Gu Yueli.
Karena baru saja Gu Yuena menggertak Gu Yueli dan membuatnya menceburkan diri ke dalam kolam, ditambah diabaikan Luo Youzhe, Gu Yueli merasa seperti orang teraniaya sepanjang hari. Gadis itu menangis tersedu-sedu seperti habis ditindas. Air matanya terus mengalir seperti air terjun tanpa henti.
Ye Suanwu yang tidak ikut keluarganya pulang dua hari lalu menghibur Gu Yueli yang terisak di pelukannya. Ia tidak tahu bagaimana Gu Yuena bisa begitu kejam.
"Kakak Suanwu, aku tidak pernah melakukan kesalahan padanya. Kenapa dia begitu kejam? Ibu memang tidak begitu memperhatikannya, tapi apa pantas dia berlaku seperti itu? Ibu diasingkan di paviliun dingin, aku tidak tega melihatnya, huhu ...."
"Jangan khawatir. Bukankah aku hanya perlu meminta Adipati Gu membebaskannya? Jika kediaman ini tidak menerimanya, masih ada Klan Ye. Setelah kita menikah, ibumu akan ikut dengan kita ke Klan Ye, bagaimana?"
"Kakak Suanwu, kenapa kamu harus mengalah pada Gu Yuena itu? Apa kamu masih berpikir bahwa ibuku benar-benar menindasnya? Ini adalah rencana licik Gu Yuena, ibuku dijebak! Kau tidak boleh melonggarkannya begitu saja. Topeng yang dia gunakan benar-benar menutupi wajah aslinya, aku bahkan sangat terkejut. Sejak hari itu, apa kamu tidak merasa bahwa dia sangat berubah?"
"Jika dia berubah, apa dia akan membiarkan kita bertunangan?" Ye Suanwu menyangkal.
"Ini pasti adalah rencananya. Kakak Suanwu, percaya padaku, pasti ada jebakan di balik semua ini. Dia ingin mengusirku dan ibu sekaligus dan membuat segalanya terlihat berjalan secara alami. Sebenarnya semua yang terjadi adalah dalangnya! Kakak Suanwu, kamu harus memberiku keadilan!" Gu Yueli merengek dan menangis lebih keras.
Ye Suanwu mengusap kepalanya dan memeluknya sekali lagi agar Gu Yueli bisa tenang. "Aku akan memberikan keadilan untukmu. Sebenarnya aku sudah merasa bahwa dia berbeda. Kamu tenang saja, semuanya akan terungkap."
Gu Yuena menontonnya seolah sedang melihat drama dengan asik di atap kamar Gu Yueli sambil makan kuaci. Ia menarik sudut bibirnya dengan seringaian jahat.
"Bukankah aku sudah berjanji tidak akan mengganggu pernikahan kalian? Kalau begitu, aku akan membantu mempercepatnya sebagai bentuk permintaan maaf telah membuat skema yang merugikan kalian." Gu Yuena mengeluarkan sebuah botol porselen di tangannya. Ia tertawa kecil. "Siapa suruh ibumu menyimpan afrosidiak? Aku akan membuat impianmu menjadi kenyataan, Adik Kelima."
Ia menuang isi botol porselen ke lubang atap tepat di atas dua sejoli itu. Api di tangan Gu Yuena membantu penyebaran dan menjadikan bubuk itu tersebar di udara. Bubuk itu akan terhirup oleh Gu Yueli dan Ye Suanwu. Tidak ada yang bisa menghindarinya.
Gu Yuena menuangkan seluruh isi bubuk sampai melebihi dari batas seharusnya. Semakin banyak obat yang ia tuangkan, efeknya akan semakin kuat dan tahan lama. Ia tidak perlu khawatir bila mereka sadar dengan cepat sebelum hal tak terduga terjadi.
Gu Yueli yang dipeluk Ye Suanwu tiba-tiba merasa tidak nyaman. Ia tidak tahu apa yang terjadi, ia menggeliat dan menegakkan punggung melihat kekasihnya.
"Kakak Suanwu, kenapa udaranya sangat panas?" Gu Yueli melihat sekitar. Padahal jendela terbuka, kenapa terasa sangat panas seperti terbakar api?
"Ya, sangat panas." Pikiran Ye Suanwu menjadi kacau karena suasana ini.
Ia melihat Gu Yueli yang berkeringat sangat banyak menempel padanya. Ia juga merasakan rasa panas luar biasa yang menjalar di sarafnya hingga tanpa sadar mendorong Gu Yueli ke atas tempat tidur.
"Li'er, sepertinya aku tidak tahan lagi." Ia tahu ada masalah di sini, tapi tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia hanya merasa sangat bersemangat untuk melakukan sesuatu dengan Gu Yueli.
"Kakak Suanwu ...." Gu Yueli juga sama parahnya. Ia merasa napasnya lebih cepat. Rasa panas di tubuhnya membuatnya secara alami melepas helai pakaian.
Hingga akhirnya, sesuatu telah terjadi. Gu Yuena di atas sana hanya melihat dengan anteng seolah sudah biasa. Setelah memastikan mereka berdua melakukannya dengan baik dan bersemangat, ia pun menutup lubang atap dan pergi dari paviliun.
"Ayah, kau pasti akan sangat terkejut dengan kejutan ini." Gu Yuena tersenyum miring seraya meninggalkan Paviliun Gu Yueli.