Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
74. Perubahan Besar



Welcome to 6 years ago~


...----------------...


Bunga merah bertebar dari lapisan daging seekor kadal besar tepat di bagian tubuhnya yang terbelah secara sempurna. Raungan menyedihkan itu diakhiri dengan semburan darah, serta suara ambrukan yang cukup keras sampai tanah mengalami sedikit guncangan.


Cahaya merah bak laser yang membelah mobster itu kembali ke tangan pemiliknya. Tangan ramping seputih salju yang bersih dari noda darah. Serpihan qi merah yang melayang di atas telapak tangannya menghilang seketika.


Sosok pemuda berusia sekitar 15 tahun berdiri di dekat monster kadal yang barusan akan melahapnya. Pakaiannya memiliki noda merah sampai ke wajah akibat percikan bunga merah yang berasal dari monster. Ia tampak shock sampai tidak bisa tidak menjatuhkan rahang.


Sebelumnya ia berteriak sangat keras, tapi melihat pemandangan mengerikan itu, ia semakin ingin berteriak!


Bukan karena takut, melainkan karena kagum akan keterampilan perempuan tertentu yang telah melampaui ekspektasi!


"Kakak Seperguruan! Anda menyelamatkan hidup saya! Anda adalah dermawan saya!" Pemuda itu berteriak antara kagum dan takut.


"Lihatlah tingkah bodohmu." Perempuan itu menoyor dahi pemuda berdarah panas itu dan berlalu begitu saja, "Ambil energi spiritualnya serta batu roh, lalu kita kembali. Kau bau."


Pemuda itu cemberut. "Kakak Seperguruan, aku telah mengikutimu selama bertahun-tahun, apa kau tidak bisa sedikit lebih lembut?"


Perempuan itu menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah pemuda itu dengan senyuman dingin. Pemuda itu langsung merinding.


"Apa aku sudah cukup lembut, Ru Meng?" Perempuan itu berkata dengan halus yang membuat Ru Meng merinding.


"Su ... sudah cukup." Ru Meng tersenyum canggung, merasa salah tingkah.


Selain cantik, senyuman itu sangat mematikan. Ia jadi ingat ketika perempuan itu menunjukkan senyumnya sebelum membunuh puluhan monster besar yang menerjang mengganggu tidur malam mereka.


Ketika kedua manusia itu berjalan ke arah lapisan luar hutan, sosok pria tampan dengan balutan pakaian putih serta jubah birunya menghampiri sambil tersenyum sumringah.


"Xiao Yuena." Pria itu menyapa dengan akrab pada perempuan bergaun merah yang sangat cantik itu.


Sepasang iris merah darah perempuan itu melihat pria yang menghampiri. Setelah waktu berlalu dan bertahun-tahun telah dilalui sampai melewati masa krisisnya, ia telah tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa dan sangat cantik seperti dewi.


Orang tidak akan percaya bahwa ada wanita secantik dirinya. Dengan kedua iris merah unik serta rambut hitam kemerahan yang jarang ditemui, tubuh tinggi dan ramping, serta kulit seputih salju yang membuat kecantikannya bersinar meski dalam kegelapan.


Sepasang mata itu terlihat sangat tenang, ada perasaan riang di baliknya yang didukung dengan senyum cantik di bibir merah muda dan tipis itu.


Sang phoenix yang melegenda, ia luar biasa indah untuk disebut sebagai phoenix. Siapa lagi kalau bukan Gu Yuena?


"Kakak Seperguruan Qiao, kenapa kamu di sini?" tanya perempuan itu. Belakangan ini, mereka berdua memang cukup dekat sebagai adik-kakak seperguruan.


"Aku dengar kamu menemani Ru Meng berlatih. Apa dia menyulitkanmu lagi?" Yun Qiao tertawa ketika melihat Ru Meng berlumuran darah.


"Anggap saja sebagai pelatihan mental," sindir Gu Yuena.


"Ah, kalian ini. Aku masih kecil, jelas harus ditemani. Di antara anggota istana, hanya Kakak Seperguruan Yuena yang bersedia menemaniku."


"Lain kali jangan pergi ke hutan jika masih tidak bisa bertarung dengan benar." Yun Qiao mencibir.


"Aku sangat kuat, lho!" Ru Meng masih tidak bisa menerima ejekan.


"Sudahlah, kalian berisik." Gu Yuena berdecak sebal.


Yun Qiao tertawa setelah puas membully adik seperguruannya. Kemudian, ia pun kembali serius pada tujuannya mencari Gu Yuena. "Yang Mulia Raja memanggilmu untuk sebuah urusan."


"Sepagi ini?" Gu Yuena membulatkan mata. Perasaan langit baru saja terang. Niat sekali pak tua itu.


"Menjadi kesayangan Raja tidak akan mudah. Sepertinya, Tetua Agung Yan akan semakin cemburu dan tak lama lagi akan membawamu kembali ke Tanah Tersembunyi." Yun Qiao tertawa setelah mengatakannya.


"Hah, setidaknya aku tidak menemukan beban lain di sana." Gu Yuena menyindir Ru Meng sambil pergi dengan langkah lebar.


Ru Meng yang baru saja disebut beban langsung cemberut. Mereka memang biasa saling menyindir dan mengejek setiap harinya.


Sudah lima tahun sejak Gu Yuena melewati masa krisisnya ketika beranjak 20 tahun. Untung saja, sihir keabadian berhasil menekan racun api sekali lagi tanpa mengungkapkan identitasnya sebagai penyihir.


Itu berarti, sudah enam tahun sejak ia menerima sihir keabadian dan berpisah dengan Bai Youzhe di Wyvernia. Enam tahun ini ... adalah masa-masa sibuknya berlatih dalam kesunyian di dalam Istana Yuansu.


Raja Istana Yuansu memberi Gu Yuena akomodasi pelatihan terbaik, mengingat bakat Gu Yuena sangat langka dan melebihi Yun Qiao. Ia bahkan sudah mencapai tingkat 7 dengan cepat dan akan menerobos tingkat 8 sebentar lagi.


Bahkan Yun Qiao masih belum bisa mengejar kecepatan kultivasinya yang berhenti di tingkat 7. Itu pun dia sudah termasuk jenius di antara orang-orang seusianya.


Belakangan ini Gu Yuena terlalu sibuk sampai tidak sempat memikirkan masalahnya sendiri. Ia jarang bersosialisasi, tapi kebanyakan tidur sampai disebut tukang tidur oleh Shen Jialin dan lainnya.


Kesenangan apa lagi yang bisa ia dapatkan selain membunuh, makan ayam goreng, dan tidur? Ia hanya bosan selepas kultivasi, jadi memilih mengisi energi sampai tidak tahu bahwa kepopulerannya telah melampaui batas baik di akademi maupun Istana Yuansu.


Terlalu tertutup, bukan berarti ia kehilangan keterampilan sosial.


Seperti saat ini, tiba-tiba saja Lin Xi datang dengan wajah angkuh bersama Lin Susu di sisinya seperti dayang. Omong-omong, Gu Yuena jarang melihat mereka. Tapi sepertinya Lin Xi sering bertemu Gu Yuena dan menebarkan kebencian, sayang Gu Yuena selalu mengabaikan orang tidak penting.


"Suasana hati Yang Mulia sedang tidak baik. Sepertinya kamu akan terkena masalah." Lin Xi tersenyum licik. Entah berapa kali ia mencoba menjebak Gu Yuena, tapi tidak tahu kenapa selalu salah sasaran. Perempuan itu selalu selamat.


Gu Yuena ingin mengabaikannya untuk keratusan kali, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia menghentikan langkah di depan Lin Xi. "Kemarin aku lihat seseorang meletakkan beberapa serangga di kamarmu. Aku baru ingat sekarang, karena takutnya serangga itu beracun dan memasuki tubuhmu."


Lin Xi mendengus. "Aku tidak sebodoh itu membiarkan orang lain berlaku tidak sopan padaku."


Gu Yuena tersenyum dingin, "Entah siapa yang bodoh." Ia melirik Lin Susu, lalu pergi begitu saja.


Sedangkan Lin Susu tampak cemas seperti memikirkan sesuatu. Serangga itu ... bagaimana bisa ada di kamar kakaknya? Itu adalah serangga tak terlihat dan dapat memberi efek gatal-gatal dalam waktu 48 jam kedepan yang ia sediakan untuk memberi pelajaran pada Gu Yuena.


Ah, pasti Gu Yuena hanya mengancam. Tidak mungkin serangganya bisa dipindahkan.


Di saat Lin Susu tentah berpikir keras, seorang pria tua berambut putih penuh uban serta sepasang iris hijau keruh melangkah ke arah mereka berdua. Tapi ketika melewati Gu Yuena yang akan masuk ke dalam, sepasang iris hijau itu menampilkan kejutan luar biasa.


"Tunggu dulu."


Gu Yuena menghentikan langkah. Siapa lagi yang menghambatnya? Ah, membuatnya kesal saja.


Ia pun dengan enggan melihat pria tua itu. Gu Yuena tidak kenal siapa dia. "Ada yang bisa dibantu?"


"Aku seperti pernah melihatmu." Pria tua itu tampak mengerutkan kening. Tapi tiba-tiba wajahnya dipenuhi kejutan dan langsung pergi begitu saja.


Hal itu membuat Gu Yuena merasa aneh. Apa pak tua itu tahu identitasnya? Apa ia harus membunuhnya?


"Kakek, kenapa wajahmu seperti itu?" Lin Xi tampak bingung akan reaksi kakeknya ketika melihat Gu Yuena. Apa yang perlu dikejutkan?


"Apa kau membuat masalah padanya?" Pria tua yang merupakan Tetua dari Klan Lin memandang Lin Xi dengan serius.


"Apa Kakek lupa? Orang yang membuatku dianggap jelek oleh satu akademi waktu itu dan dihukum oleh Tetua Puncak Terang. Bukankah Kakek datang untuk mendukungku?"


Pria tua itu tampak panik sendiri, lalu menghela napas. "Aiya, kenapa kamu harus berurusan dengannya? Lupakan saja."


"Kakek, ada apa denganmu?" Lin Susu kebingungan.


Pria tua itu melirik Gu Yuena yang melihatnya dengan aneh. Ia tampak cemas dan pergi membawa kedua cucunya untuk diberitahu baik-baik.


Aneh.


Itulah yang terlintas di benak Gu Yuena ketika melihat orang tua itu. Apa semua anggota Klan Lin aneh-aneh?


"Raja Istana Tianshuang muncul, mengartikan bahwa Istana Tianshuang telah kembali ke dalam persaingan enam istana. Ini buruk baginya."


"Kenapa buruk?"


"Orang yang pernah berada di akademi untuk membelamu itu. Dia pernah muncul di Wyvernia dan membunuh pasukan Klan Lin dan klan lainnya. Itu sebabnya, Tetua Lin tidak ingin menyinggungmu."


Yan Shuiyin tiba-tiba muncul memberi kejutan pada Gu Yuena akan kata-kata yang dilontarkan.


"Ha?" Gu Yuena terkejut. Apa itu Bai Youzhe? Menghabisi pasukan gabungan klan?


"Itu terjadi enam tahun yang lalu," lanjut wanita itu.


Gu Yuena tersenyum kecut. "Jadi Yang Mulia mengundangku ke istana karena ini?"


"Tentu saja tidak. Raja Yan mengundangmu sebelum kejadian itu sampai di telinga Istana Yuansu. Itu juga salah Klan Lin sendiri, termasuk bocah itu yang membuat mereka harus dihukum."


Ia memanggil pria itu sebagai bocah. Yah, memang tidak salah, karena Yan Shuiyin jauh lebih tua. Tapi ... rasanya aneh menyebut seorang pria tua sebagai bocah sedangkan yang bicara tampak masih sangat muda.


"Lalu ... hubungannya dengan Istana Tianshuang—"


"Kau begitu dekat dengannya tapi malah tidak tahu."


"Aku meninggalkannya."


Ucapan Gu Yuena membuat Yan Shuiyin mengerjap mata. Benar juga. Muridnya ini memang sangat kejam dan tak berperasaan.


"Baiklah, akan kukatakan sekarang untuk berjaga-jaga." Ia pun menghela japas. "Raja Istana Tianshuang, adalah dia. Aku tidak tahu bagaimana rupa dan namanya, tapi aku yakin itu adalah dia."


Gu Yuena tertegun karena terkejut.


Sejak kapan?


"Sisanya, kamu akan tahu setelah masuk ke dalam."


Yan Shuiyin memasuki aula terlebih dahulu, lalu diikuti dengan Gu Yuena.


Perasaan Gu Yuena tidak enak.


Perempuan itu memasuki aula megah sang Raja yang dipenuhi dengan hiasan mewah. Yan Shuiyin duduk di tempatnya dengan penampilan malas, sedangkan Gu Yuena membungkuk untuk memberi hormat pada sang Raja dan para Tetua.


"Bagaimana harimu?" Raja Yun berniat basa-basi.


Gu Yuena tersenyum sopan. "Cukup bagus. Adik Seperguruan Ru Meng sangat suka bercanda dan memberi hari yang baik."


"Haha, aku tahu anak itu akan cocok untukmu. Bagaimana jika kau menjadi gurunya? Dia akan sangat senang."


Gu Yuena terkejut. "Ah, tidak perlu. Aku tidak bisa menerima murid, kekuatanku belum seberapa dibandingkan Yang Mulia dan Guru."


"Kamu ini, senang sekali memberi kata-kata manis. Jelas-jelas kekuatanmu setara dengan para tetua." Raja Yun berkata dengan sindiran yang pas sekali membuat para tetua malu.


Bisa-bisanya mereka kalah dari anak muda.


"Yang Mulia, sebaiknya kita membicarakan hal penting terlebih dahulu dalam pertemuan kali ini." Salah seorang tetua mengajukan pendapat.


Sang Raja mengangguk setuju. "Yah, kau benar." Ia pun melihat Gu Yuena dengan serius. "Gu Yuena, kamu sudah menunjukkan bakat dan kemampuanmu sebagai bagian dari Istana Yuansu. Kontribusi yang kamu berikan juga sangat cukup untuk diberikan apresiasi. Oleh karena itu, aku mengirimmu sebagai sebuah kehormatan untuk menjadi perwakilan Istana Yuansu di pertemuan l antar-istana."


Bukannya senang, Gu Yuena malah mengerut. Pertemuan antar-istana? Ia tidak pernah dengar. Bukankah ketujuh istana tidak akur? Sejak kapan hubungan mereka sangat baik sampai membuat pertemuan?


"Sebenarnya, hal seperti ini sudah sering terjadi. Dalam kurun 10 tahun sekali, akan diadakan delegasi antar-istana, di mana tiap istana akan mengirim murid terbaik mereka untuk saling bersosialisasi dan menampilkan bakat terbaik. Karena Istana Tianshuang sudah muncul kembali, kemungkinan besar mereka juga akan ikut. Ini akan menjadi pertemuan enam istana yang berbeda dari sebelumnya sejak Istana Tianshuang mundur. Itu sebabnya, aku ingin mengirimmu bersama Yun Qiao sebagai perwakilan."


"Kapan itu dilaksanakan?"


"Bulan depan, di Kota Yin."


Kota Yin adalah kota perbatasan antara Kekaisaran Yi dan Wyvernia. Jadi tempat itu adalah tempat paling strategis dan ramai. Sering dijadikan tempat perkumpulan beberapa institusi.


Hanya saja, Gu Yuena merasakan perasaan yang aneh. Apa lebih baik ia datang? Atau tidak?


"Ini adalah kesempatan bagus untuk menjalin hubungan dengan istana lain, terutama Istana Tianshuang. Kedepannya, empat istana pasti akan berbondong-bondong mendekati Istana Tianshuang. Pikirkan baik-baik."


Gu Yuena mengangguk, lalu menunduk. "Murid akan memikirkannya dengan baik."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tanah Tersembunyi.


Tempat yang cukup berkesan bagi Gu Yuena di mana ia mengenal tiga orang penting yang mengubah hidupnya.


Lima yang lalu, Tetua Yan Mi meninggal karena sakit. Itu sebabnya ia dan Yan Shuiyin benar-benar pindah ke Istana Yuansu untuk menghindari kesedihan.


Namun, Gu Yuena merasa bahwa ia harus kembali ke tempat ini untuk mengenang segalanya. Tidak tahu apa saja yang akan terjadi selama ia berada di luar istana, sama seperti saat itu.


Melihat langit cerah dan tempat-tempat indah di sekitar Tanah Tersembunyi, ia jadi bernostalgia.


Sudah sangat lama.


Tanpa dirasa, waktu berlalu sangat cepat.


"Kau banyak berubah, Nana."


Tubuh Gu Yuena menegang seketika. Ia berbalik ke sudut lain, melihat sosok berjubah hitam dengan sepasang mata hitam legam yang dimilikinya. Meski tidak banyak berubah, ia terlihat jauh lebih dewasa.


Sudah enam tahun berlalu, wajar jika banyak perubahan di antara mereka.


"Yang Xinyuan." Gu Yuena tidak menyangka akan bertemu pria itu di sini. Ia merasa baru saja mereka bertengkar kemarin, lalu ia pergi dan tidak bertemu kembali.


Mengetahui apa yang sebenarnya Gu Yuena rasakan, Gu Yuena jadi tertekan.


Kepercayaan untuk naga.


Apa Yang Xinyuan memiliki darah naga?


Perasaan itu masih sama seperti dulu. Itu yang membuat Gu Yuena tertekan meski tidak ditunjukkan secara langsung.


Yang Xinyuan menghampiri. Wajah dinginnya memiliki sedikit senyum ketika melihat Gu Yuena yang sudah banyak berubah. Tidak hanya bisa mengendalikan temperamen lebih baik, kekuatannya juga meningkat sangat pesat.


Hal yang penting, gadis itu berhasil melewati krisis 20 tahun.


"Bagaimana kau di sini?" Gu Yuena bertanya lebih dahulu.


"Aku memiliki akses tersendiri untuk pergi ke sini." Yang Xinyuan menyahut begitu santai. Tidak ada nada dingin dalam ucapannya.


Gu Yuena merasa canggung.


Apa ia basa-basi saja?


"Kau ... bagaimana kabarmu?" tanya Gu Yuena.


Yang Xinyuan tersenyum senang. Sepertinya Gu Yuena telah menyadari sesuatu dan mulai membuka hati.


"Tidak lebih baik darimu." Yang Xinyuan kemudian teringat sesuatu. "Aku dengar kau akan datang ke pertemuan antar-istana sebagai perwakilan Istana Yuansu."


"Sebaiknya aku datang atau tidak?" Gu Yuena meminta pendapat.


"Lebih baik kau datang." Yang Xinyuan berkata penuh arti. "Kadang akan ada beberapa insiden di tiap pertemuan entah itu pertengkaran antar-istana atau sejenisnya. Kau bisa melindungi Istana Yuansu-mu dari itu. itu adalah keahlianmu."


"Apa itu pujian?" Gu Yuena sedikit tersenyum tanpa meliriknya. Yang Xinyuan satu ini jadi banyak bicara.


"Ketika pergi, aku menemukan sesuatu untuk diberikan padamu." Yang Xinyuan mengeluarkan sebuah bola kecil berwarna hitam dari ruang spiritual.


"Apa ini?" Gu Yuena menerimanya dengan ragu. Ia tidak dapat merasakan aura apa pun, bentuknya juga sangat sederhana. Seperti kelereng.


"Mutiara kehidupan." Yang Xinyuan mulai menjelaskan, "Ketika kamu memecahkannya, mutiara itu akan membawamu ke tempat teraman ketika posisimu sedang dalam bahaya."


"Tempat teraman?"


"Di mana akan ada seseorang yang bisa melindungimu, serta orang yang paling kau percayai. Itulah tempat teraman."


Gu Yuena merenung untuk beberapa saat. Sama seperti Bai Youzhe waktu itu, apa Yang Xinyuan juga sedang mengujinya? Ia tidak bisa menerima mutiara ini.


"Tidak bisa." Gu Yuena hendak mengembalikannya, tapi Yang Xinyuan menolak.


"Setidaknya, mutiara ini bisa melindungimu dari bahaya. Itu adalah hadiah atas keberhasilanmu selama enam tahun ini. Kau tidak bisa menolak."


Yang Xinyuan memanfaatkan itu untuk menguji. Gu Yuena jadi bingung sendiri. Apa ia benar-benar tidak bisa lepas dari kisah menyebalkan ini?


Jelas-jelas nyawanya sudah tidak terancam karena racun api atau takdir phoenix.


"Baiklah." Tapi Gu Yuena tidak bisa menyangkal lagi. Ia hanya bisa menyimpannya untuk digunakan jika benar-benar dibutuhkan.


Ia juga penasaran, siapa sebenarnya yang benar-benar ia percayai. Masalahnya, ia masih belum bisa membedakannya.


"Bulan depan kau harus pergi ke Kota Yin. Kau harus segera kembali mempersiapkannya." Yang Xinyuan berkata dengan nada rendah.


Gu Yuena mengangguk pelan. Ia berbalik untuk pergi, merasa pikirannya terganggu dan padat karena situasi tidak nyaman ini. Lebih baik pergi sebelum kehilangan akal sehat.


Tapi ketika Gu Yuena akan menembus cahaya hijau yang membatasi paviliun dan Tanah Tersembunyi, lengannya ditahan dan tertarik. Gu Yuena secara ringan berputar dan jatuh ke pelukan Yang Xinyuan.


Pria itu memeluknya sangat erat.


Gu Yuena semakin canggung ....


"Yang Xinyuan." Gu Yuena memanggilnya, memberi isyarat untuk dilepaskan. Ia harus kembali ke Istana Yuansu.


Setelah diam beberapa saat, Yang Xinyuan melepas pelukannya dan menatap iris merah Gu Yuena dengan dalam. "Aku sangat merindukanmu."


Gu Yuena tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Ia hanya mengangguk pelan, lalu pergi dengan wajah canggung dan bingung.


Sungguh, bagaimana ia bisa jatuh ke kondisi seperti ini?


Setelah keluar dari Tanah Tersembunyi, Gu Yuena mengeluh.


"Hah, penyakitku bisa kumat!"


Penyakit baper maksudnya, kayak waktu sama Bai Youzhe :v