
"Kakak ...." Gu Yuena menekan meja penuh kertas di depannya dengan tatapan frustasi.
Selama 6 tahun Gu Yuan tidak membalas suratnya. Setelah kehancuran kediaman Adipati, seharusnya Gu Yuan dan yang lain tetap di Istana Yinyang.
Tapi baru saja Gu Yesha berkata bahwa Gu Yuan dan Luo Yi tidak terlihat selama 6 tahun terakhir. Kenapa baru mengatakannya sekarang?
"Ah, sial." Kemana kakaknya pergi? Kenapa ia tidak diberitahu? Apa karena serangan itu?
Tidak, apa karena kakaknya tahu bahwa ia adalah penyihir? Atau pemilik darah phoenix?
Apa yang harus ia lakukan?
"Xiao Yuena, kamu harus melakukan perjalanan segera." Yan Shuiyin muncul di belakangnya memberitahu bahwa ia harus pergi.
Gu Yuena pikir, ia akan bertemu kakaknya lagi dalam pertemuan ini. Ia harus mencaritahu melalui Gu Yesha dan Gu Yihan. Mereka seharusnya ikut dalam pertemuan antar-istana.
Benar, untuk saat ini ia harus tetap tenang. Kakaknya pasti baik-baik saja.
"Xiao Yuena?" Yan Shuiyin merasa diabaikan.
Gu Yuena langsung menoleh ke belakang dengan tampilan normal. "Ya?"
"Ada sesuatu mengganggumu?" Yan Shuiyin menyipitkan mata.
"Tidak ada. Aku hanya berpikir, apa yang akan terjadi di sana. Seseorang berkata, selalu ada tragedi tiap kali diselenggarakan pertemuan." Gu Yuena mengambil alasan paling sederhana sebagai alibi. Ia pandai dalam hal ini.
Yan Shuiyin terkekeh. "Hanya pertengkaran kecil dan persaingan antar murid. Yang jelas, jangan menunjukkan permusuhan yang jelas terhadap istana mana pun. Kamu tahu tugasmu."
Itu mudah bagi Gu Yuena, tapi sepertinya akan sulit menghindari konflik. Gu Yuena akan menghadapinya. Bukankah ada Yun Qiao dan yang lain?
"Aku akan bersiap." Gu Yuena pun berlalu setelah membereskan semua kertas yang terbuka di atas meja.
Ia tidak boleh membebani gurunya karena masalah ini.
Bersikaplah profesional.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Xiao Yuena, aku akan merindukanmu~" Shen Jialin memeluk Gu Yuena seolah tidak akan bertemu lagi. Baiklah, ini lebay.
"Kau bersikap seakan aku tidak akan kembali." Gu Yuena mencibir.
"Kamu selalu seperti itu. Terakhir ketika Istana Yuansu mengirimmu ke utara, kau menghilang begitu lama dan terpisah dari rombongan."
Gu Yuena merasa perkataan Shen Jialin sangat menusuk. Ia pun melepas pelukan, lalu mengulas senyum terbaik untuk menenangkannya. "Aku tidak akan hilang lagi."
"Huh, aku akan memukulmu jika hilang lagi." Shen Jialin cemberut. Dia sebenarnya ingin ikut, tapi tugas dari guru tertentu menghentikannya. Beruntung sekali Ru Meng yang memiliki kesempatan ikut sebagai perwakilan bersama Gu Yuena dan Yun Qiao.
"Jaga Xiao Lin untukku." Gu Yuena melirik Mu Xinhuan. Kemungkinan ia akan pergi cukup lama.
"Seperti biasa." Mu Xinhuan tersenyum. "Ketika pulang nanti, aku akan menyambutmu."
"Berlebihan." Gu Yuena mencibir.
"Kakak Seperguruan Qiao juga, jangan lupa kirim surat dan menjaga Xiao Yuena dengan baik." Mu Xinhuan mengatakannya sambil terkekeh.
"Tidak perlu khawatir." Yun Qiao tetap tenang seperti biasa.
"Ayo!" Ru Meng langsung menarik dua kakak seperguruannya menjauh dari mereka semua ke kapal udara. Selain mereka bertiga, ada juga beberapa pelayan dengan kualifikasi terbaik untuk ikut membantu ketiga perwakilan.
Gu Yuena menoleh ke belakang, tersenyum pada gurunya. Apa pun yang terjadi di sana, ia akan menghadapinya dan kembali bersama saudara seperguruannya.
Istana Yuansu sudah seperti rumah. Mereka semua adalah keluarganya.
Mereka semua menaiki kapal udara bersama-sama. Kapan berwarna emas itu mulai aktif. Mesin dan sihir di dalamnya bergerak, menggerakkan sayap yang membawa kapal besar itu terbang ke udara.
Dalam perjalanan ini, Gu Yuena dan Yun Qiao telah menerima misi penting untuk Istana Yuansu.
Pergi ke Kota Yin hanya langkah awal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kota Yin, kota yang berada di perbatasan antara Kekaisaran Yi dan Wyvernia. Itu adalah kota penghasil tambang terbesar yang kerap kali diperebutkan Wyvernia.
Beberapa tahun lalu, terjadi perang untuk memperebutkan Kota Yin. Wyvernia mengalami kegagalan karena pertahanan Kota Yin yang sangat kuat dan strategis. Sampai saat ini, kota itu telah masuk ke dalam periode kedamaian.
Namun, tidak tahu sampai kapan kedamaian itu berlangsung. Sebagai kota di perbatasan, kapan saja bisa direbut oleh negara tetangga. Apalagi dengan kemajuan Wyvernia yang begitu drastis dibanding beberapa dekade yang lalu.
Sepertinya Wyvernia berniat menggunakan cara yang lebih aman demi menghindari perang. Yakni dengan mengirim pedagang dan menguasai pasar.
Kota Yin adalah penikmat barang Wyvernia dan sering mendapat barang-barang terbaru dari Wyvernia karena lokasi mereka yang berdekatan. Apalagi Kota Yin kerap menjadi jembatan antara Wyvernia dan negaranya sendiri.
Hal tersebut memang membuat adanya pergolakan budaya. Di mana budaya Wyvernia telah memasuki wilayah timur kekaisaran Yi—Kota Yi. Itu diperlihatkan dengan beberapa selera baik makanan, musik, tarian, gaya hidup maupun cara berpakaian di Kota Yin tampak menyamakan budaya Wyvernia. Hal tersebut tidak luput dengan kemampuan rakyat Kota Yin dalam menggunakan bahasa saxon yang sulit.
Mereka menganggap bahasa saxon itu keren dan kekinian sehingga sering digunakan sebagai bahasa gaul. Itu telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, dan telah merambat ke Ibu Kota.
Kembali ke delegasi antar-istana, para rakyat mendengar bahwa akan ada perwakilan enam istana yang datang. Jelas mereka telah mempersiapkan segalanya dimulai dengan menaikkan harga barang dan melakukan penjualan besar-besaran di sekitar kota guna menarik perhatian jenius dari berbagai istana.
Apalagi, kabarnya Istana Tianshuang juga turut hadir. Itu membangkitkan semangat para pedagang serta bangsawan yang mendiami Kota Yin.
Segera, istana megah yang biasa digunakan untuk pertemuan antar-istana direnovasi untuk penyambutan. Walikota Kota Yin lah yang akan mengaturnya, demi menghormati kedatangan enam istana.
Dua orang lelaki dan dan seorang perempuan muda dengan seragam putih berjalan di sekitar kota sambil melihat-lihat. Sang perempuan tampak berbinar, seolah telah lama tak melihat dunia secara langsung. Berbeda dari pria di sebelahnya yang lebih pendiam, sedangkan pria satunya terlihat berkelana dengan penuh rasa penasaran sambil melihat-lihat barang yang dijual.
"Kakak Seperguruan, lihatlah. Di Istana tidak ada lampion warna-warni seperti itu. Apa aku boleh membelinya? .... Lihatlah gelang-gelang ini! Cantik sekali. Di bawah gunung hanya memiliki warna primer, ini sangat cantik!" Perempuan muda yang tampak masih remaja itu berbinar tiap kali melihat barang warna-warni, seolah hidupnya dipenuhi hitam putih.
Tak salah, sih.
"Kakak Seperguruan, kenapa kau begitu membosankan? Berbeda sekali dari biasanya. Miniatur ini sangat keren, apa kita harus membelinya sebagai oleh-oleh?" Pemuda yang riang di belakang pemuda cuek itu menarik-narik sambil menunjukkan miniatur kendaraan mewah di tangannya.
Mereka seperti habis keluar dari gua.
"Kakak Seperguruan, apa kita harus berkeliling lebih jauh lagi untuk melihat-lihat dan berbelanja? Sepertinya kita harus mengubah Istana menjadi lebih berwarna." Pemuda itu melanjutkan ocehannya dan didukung oleh perempuan di sisinya.
"Aku setuju sekali!"
Pemuda datar itu terlihat kesal akan sikap norak kedua adik seperguruannya. Ia melihat mereka dengan malas, lalu berkata, "Jika kalian bisa mendapat izin Yang Mulia, maka aku tidak akan mempermasalahkannya. Jangan membuat masalah."
Kedua anak muda berdarah panas itu terdiam beribu kata. Jika sudah menyangkut Raja mereka, tidak ada yang berani menyebutnya. Sudahlah, lupakan miniatur dan barang warna-warni itu ....
Istana mereka ditakdirkan membosankan dan hitam putih.
Kedatangan mereka bertiga tidak begitu mencolok di antara istana lainnya. Mereka tidak bersosialisasi, tapi malah jalan-jalan sambil mengagumi seperti baru keluar dari gua.
Siapa lagi kalau bukan perwakilan dari Istana Tianshuang.
Mereka dikenal sangat tertutup dan dingin. Tapi siapa sangka, memiliki murid berbakat tapi begitu polos dan penuh keingintahuan dunia luar.
Bukan tanpa alasan Raja Istana Tianshuang mengirim mereka bertiga.
Yah, meski mereka agak-agak ....
"Wah, lihat di sana. Tariannya sangat indah! Aku ingin jadi seperti dia!" Perempuan riang itu berbinar memandangi pertunjukan tarian yang mempesona sambil jingkrak-jingkrak.
Begitulah reaksi anak-anak yang tidak pernah melihat dunia.
Di tengah pertunjukkan, perempuan riang yang terpana akan tarian teralih ketika melihat seseorang melintas tanpa menimbulkan aura sedikitpun.
Meski tanpa aura, perempuan itu justru merasa itu menarik sampai pandangannya teralih dan melihat perempuan cantik bergaun merah bersama dua pria di kedua sisinya.
"Cantik sekali ...." Perempuan itu tiba-tiba mengagumi perempuan bergaun merah. Selain memiliki pakaian yang indah, rambut hitam kemerahannya sangat unik. Ditambah dengan sepasang iris merah darah yang menambah daya pikatnya.
"Apa yang kau lihat?" Pemuda riang di sebelahnya melihat dengan penasaran. Perempuan bergaun merah itu telah berlalu begitu saja sehingga hanya menampilkan punggungnya.
Dalam sekejap, pemuda yang baru keluar gua itu tertegun. Punggungnya saja terasa sangat cantik.
Apa ada makhluk sesempurna itu?
Perempuan itu sadar beberapa anak mengaguminya. Ia sedikit tersenyum sebagai sapaan dan melanjutkan pergi bersama kedua rekannya.
"Dia tersenyum padaku!" Perempuan riang itu nyaris tidak percaya.
"Kau adalah perempuan, dia tersenyum padaku!" Pemuda di sisinya tidak mau kalah.
Sebelum perdebatan mereka semakin panjang, pria yang merupakan kakak seperguruan mereka yang sejak tadi diam langsung menengahi.
"Kita kembali ke penginapan."
Pemuda itu berdecak, "Kakak Seperguruan ...."
"Pergi atau tidak?" Pria itu melihat mereka berdua dengan tajam. Keduanya ciut seketika.
Aneh, kenapa kakak seperguruan mereka sangat berbeda dari hari biasanya?
Tidak ingin bertanya lebih jauh, kedua bocah itu pergi dengan patuh. Mungkin saja kakak seperguruan mereka sedang salah minum obat.
Pria itu diam di tempatnya untuk beberapa saat. Pandangannya terarah ke sosok gadis bergaun merah yang semakin menjauh. Tatapannya menjadi rumit, sebelum akhirnya pergi bersama dua anak-anak itu.
Di samping itu, perempuan bergaun merah yang sebelumnya menjadi pusat perhatian hanya menikmati kepopulerannya yang terasa istimewa.
"Sepertinya kita sia-sia menyamar sebagai rakyat biasa." Ru Meng mengeluh. Ia melirik Gu Yuena, "Penggemarmu di mana-mana."
Gu Yuena menggedikkan bahu, "Tidak heran aku sangat populer."
Yun Qiao terkekeh, "Kamu masih sangat mencolok meski sudah menyamarkan diri."
Menyamar? Hanya berganti pakaian disebut menyamar?
Gu Yuena tertawa dalam hatinya, lalu melihat mereka berdua, "Serius menyamar? Aku pikir tidak hanya aku yang mencolok di sini. Penggemarmu juga di mana-mana." Ia menyindir Yun Qiao terang-terangan.
Lihat saja beberapa wanita yang melihat Yun Qiao dengan kagum. Selain kekuatannya yang kuat, ia juga sangat tampan dan terlihat seperti pria idaman baik idaman wanita muda maupun idaman mertua.
Yun Qiao tersenyum kecut. "Sudahlah, bukankah kau ingin pergi ke rumah lelang?"
"Tiba-tiba suasana hatiku berubah. Aku ingin pergi ke acara pertunjukkan." Gu Yuena pergi begitu saja memimpin jalan. Tapi sebelum benar-benar jauh, ia berbalik lagi. "Kakak seperguruan, apakah kau tidak ingin menunjukkan jalan?"
Yun Qiao tertawa melihat sikap Gu Yuena yang berbeda drastis sebelum pergi dari Istana Yuansu dan sesudah pergi. Perempuan itu benar-benar tahu bagaimana bersikap di tempat yang berbeda.
Sedangkan Ru Meng hanya melihat percakapan itu seperti orang bodoh. Ia pun mengikuti dengan patuh, terus menempel pada Gu Yuena yang ia anggap sebagai dermawannya itu.
Mereka sampai di pertunjukkan yang diselenggarakan di alun-alun kota. Untuk melakukan penyambutan terhadap perwakilan istana yang dianggap luar biasa dan jenius, walikota sengaja mengadakan banyak acara untuk menarik perhatian sebagai bentuk ketulusan.
Termasuk pertunjukan bakat yang diselenggarakan.
Ru Meng terpana ketika melihat banyak orang menunjukkan bakat seni yang luar biasa. Di Istana Yuansu, jarang ada yang menunjukkan bakat seni. Jika bela diri, dia sudah bosan sampai mati.
Acara yang diadakan begitu meriah ini membuat banyak orang berdatangan. Di tengah kerumunan, ada banyak perwakilan istana yang ikut bergabung untuk menonton. Yah, meski kebanyakan dari mereka hanya pengikut kecil, bukan perwakilan utama.
Yun Qiao sendiri terkejut melihat betapa niat walikota menyambut enam istana.
Di tengah melihat parade dan pertunjukkan yang dibuat semeriah mungkin, tanpa disadari, Yun Qiao dan Ru Meng telah kehilangan anggota yang seharusnya mereka perhatikan agar tidak menghilang seperti waktu lalu.
Ini terulang lagi.
Gu Yuena telah berpencar untuk pergi melihat-lihat sendirian. Ia dipaksa Yun Qiao memakai cadar sejak banyak orang yang meliriknya di jalan, membuatnya teringat dengan Gu Yuan.
Gu Yuan ... ke mana dia pergi?
Ia harus mencari keberadaan Gu Yesha atau Gu Yihan. Ia harap salah satunya datang sebagai perwakilan atau pengikut.
Ketika Gu Yuena akan keluar dari kerumunan, tubuhnya terdorong oleh banyak orang yang heboh akan kedatangan perwakilan Istana Luye. Datang dengan mencolok menebar pesona dan aura, membuat banyak orang penasaran.
Akibat dari itu, banyak orang terseret termasuk anak kecil yang jatuh. Gu Yuena ikut menjadi korban sampai terseret entah kemana.
Entah apa yang ia injak dan kemana ia pergi. Jika dihadapkan dengan kerumunan seperti ini, Gu Yuena juga akan kalah jika tidak melawan menggunakan kekuatan.
Tapi jika ia melakukannya, itu akan menarik perhatian.
Mau tidak mau, ia terseret dan berusaha sebisa mungkin untuk tetap berdiri meski kakinya berjalan entah kemana.
Orang-orang sialan ini ....
Tiba-tiba, punggung Gu Yuena terasa membentur dinding di belakang, tapi kepalanya justru tertahan oleh sebuah telapak tangan sehingga tidak ikut terbentur.
Kerumunan yang kacau membuat keduanya terpojok di satu tempat sedangkan sosok itu menahan Gu Yuena agar tidak terseret. Gu Yuena terdiam tanpa bisa mengatakan apa pun. Begitu tiba-tiba.
Gu Yuena menatapnya, lalu tertegun. Sepasang mata merahnya terpaku pada iris biru yang terlihat familiar. Biru malam yang indah, begitu dalam dan mempesona.
Mendadak Gu Yuena tidak bisa memikirkan hal lain selain pemilik iris biru malam tersebut. Satu-satunya pemilik yang ia kenal ....
"Bai Youzhe?"
Nama itu terucap begitu saja, tapi wajah Gu Yuena tampak bingung. Detik berikutnya, sosok pemilik iris biru malam itu pergi tanpa mengatakan sepatah kata. Wajahnya tertutupi topeng sehingga tidak mudah dikenali, tapi Gu Yuena mengenali sosok itu.
"Tung ...." Gu Yuena ingin menghentikan, tapi sosok itu menghilang begitu cepat.
Mata itu ... hanya ada satu di dunia.
Itu pasti dia.
Mendadak, dada Gu Yuena merasakan perasaan yang aneh. Ia teringat akan perpisahan itu. Perpisahan yang tidak diinginkan, tapi harus dilakukan.
Bai Youzhe menepati ucapannya, tidak lagi menemui Gu Yuena.
Perasaan Gu Yuena tercampur aduk, tidak tahu langkah apa yang harus dilakukan. Ia tidak lagi bisa menemukan pemilik iris biru itu di kerumunan yang kacau.
Gu Yuena hanya bisa diam di tempatnya selagi arus lautan manusia berlalu. Setelah kekacauan berakhir, barulah Gu Yuena melangkahkan kakinya.
Perasaannya masih sama.
Kacau.
Sebenarnya, kenapa dia seperti ini?
"Kakak Seperguruan!"
"Xiao Yuena!"
Yun Qiao dan Ru Meng panik dan menghampiri Gu Yuena yang tampak terdiam. Mereka tidak tahu apa yang merasuki Gu Yuena, tapi mereka rasa bahwa Gu Yuena harus kembali ke penginapan.
"Kau baik-baik saja?" Yun Qiao bertanya.
Gu Yuena langsung menggeleng, lalu menunjukkan senyum bahwa ia baik-baik saja. "Ayo kita kembali. Aku lapar, ingin makan ayam," katanya.
Yun Qiao tidak bisa menemukan celah dalam ekspresi Gu Yuena yang berubah begitu cepat. Seakan tidak terjadi apa pun, Gu Yuena memimpin jalan dengan tampang riang seperti sedia kala.
Ada saatnya sikap Gu Yuena menjadi sulit ditebak.
Tanpa ketiganya sadari, sepasang iris biru malam melihat dari kejauhan dengan tatapan rumit, antara bingung dan senang. Tapi wajah datarnya tidak berubah, sampai akhirnya ketiga perwakilan Istana Yuansu itu menghilang dari pandangan.
Pria itu masih tidak menggerakkan posisi.
"Gu Yuena."
Nama itu terus terulang di pikirannya. Seluruh memori yang memiliki jarak begitu jauh terlintas, membuat hatinya meredup.
Pria itu sedikit menarik sudut bibirnya tanpa sadar. "Syukurlah kau baik-baik saja."