Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
191. Persiapan



"Kalau bukan karena bawahanmu yang berjanji akan merepotkanku jika tidak membantumu, aku tidak mungkin ada di sini." Jin Xiao berkata dengan nada kesal sambil memilah pil yang akan ia berikan pada Gu Yuena.


Gu Yuena memandangnya acuh tak acuh tanpa mengatakan apa pun.


Jin Xiao melanjutkan, "Luka dalammu masih dalam kategori ringan. Namun, masih ada banyak luka yang dalam masa penyembuhan, tapi terhambat karena kuka baru. Aku akui kau cukup kuat, tapi kau benar-benar tidak menyayangi dirimu sendiri dan malah merepotkanku."


"Aku tidak memintamu menyembuhkanku." Gu Yuena membalas dengan cibiran.


"Ini permintaan bawahanmu!"


Gu Yuena terkekeh. "Apa seorang Jin Xiao akan menuruti permintaan bawahan? Aku lihat, kamu cukup menghargaiku dan bertanggungjawab karena tidak bisa membantu dalam pertempuran."


Jin Xiao memutar bola mata, lalu meletakkan botol porselen berisikan pil yang sudah ia pilah, lalu berkata, "Minum tiap malam dan habiskan. Aku tidak peduli kau benar-benar akan meminumnya atau tidak, tapi setidaknya jangan menyianyiakan usahaku."


"Baik." Gu Yuena mengambil botol porselen itu, lalu menyimpannya.


Jin Xiao memperhatikan Gu Yuena untuk beberapa saat. Melihat mata abu-abu Gu Yuena, ia pun menghela napas. "Beberapa waktu lalu Raja Bai menemuiku, memintaku mencari cara atas kesembuhan matamu. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana kau bisa kehilangan pengelihatanmu."


"Aku mencungkil mataku."


".... Kau benar-benar gila." Jin Xiao mendengus. "Apa aku harus membantu memulihkan matamu yang kau cungkil sendiri? Aku pikir itu membuang-buang sumber daya."


"Kau tidak perlu melakukannya kalau tidak ingin, aku juga tidak meminta."


"Kau tidak tahu betapa cemas Raja Bai. Dia bahkan bersedia melakukan apa pun agar aku dapat membantumu memulihkan kedua matamu. Sekarang, kau malah berkata seperti itu."


Gu Yuena tersenyum kecut. "Lalu, apa yang harus kukatakan di saat seseorang menunjukkan keengganannya? Apa kau berharap aku akan memohon?"


"...." Jin Xiao memang merasa bahwa ia menjadi serba salah di depan Gu Yuena. Sebenarnya, dia cukup kasihan dan khawatir? Tapi ... dia tidak mau mengakuinya.


Ia mendengus kesal dan berkata, "Urus dirimu sendiri. Jangan merepotkan orang lain." Ia pun pergi dengan langkah sebal.


Gu Yuena tampak tidak peduli. Sampai akhirnya Jin Xiao benar-benar pergi, ia pun tersenyum kecil.


"Caranya mengungkapkan perasaannya sendiri sangat buruk," gumamnya.


Gu Yuena beranjak dari bangku, lalu pergi keluar. Ia memiliki masalah lain yang harus diselesaikan mengenai makhluk penuh kabut itu.


Dia pergi ke lokasi pertarungan yang baru saja terjadi. Ledakan itu menyebabkan banyak kerusakan. Ada lubang besar di area ledakan selain bagian yang terlindungi oleh cangkang kura-kura. Karena ledakan tidak bisa keluar melewati formasi, ledakan di dalam memiliki efek yang lebih kuat dari seharusnya hingga menciptakan jurang dalam dan gelap.


Ini lebih dalam dari lubang besar di Istana Yuansu. Gu Yuena turun ke bawah. Kegelapan tidak menghalanginya untuk turun, karena fokusnya tidak teralihkan dari benda merah yang baru saja ia hancurkan. Selain itu, senjatanya masih tertinggal.


Sampai di bawah tanah, Gu Yuena mengambil belati kecil yang tergeletak di tanah. Belati itu masih mengaliri sihir merah, namun terasa berbeda dari milik Gu Yuena.


Gu Yuena menarik alisnya. "Sepertinya aku mendapat barang bagus." Ia tersenyum puas.


Benda merah yang menjadi inti hidup makhluk itu adalah padatan kekuatan jiwa yang memiliki energi kehidupan berlimpah. Jika menyatu dengan sebuah objek, akan menciptakan kekuatan luar biasa dan dapat menyelamatkan nyawa penggunanya. Itu sebabnya kabut itu bisa begitu kuat. Itu hanyalah tengkorak yang sudah mati, tapi ketika menyatu dengan batu merah yang berisikan energi kehidupan, tengkorak itu akan memiliki kehidupan lain dan mendapat kekuatan ekstra.


Peraihan ini bisa terbilang sangat bagus.


Gu Yuena menyimpannya baik-baik. Benda merah itu telah nenyatu dengan belatinya. Belatinya akan memiliki kekuatan tak terduga melebihi sebelumnya.


Kembali ke atas, Gu Yuena langsung dihadapkan oleh Su Churan yang tampak sangat lelah sambil bersedekap dada. Gu Yuena tersenyum tanpa dosa.


"Ada sesuatu?" tanya Gu Yuena.


Su Churan menghela napas untuk kesekian kalinya. "Sepertinya memang sulit untuk membuatmu istirahat walau hanya sebentar."


"Aku memiliki hal yang lebih penting dari istirahat, cukup untuk menambah umur."


Su Churan hanya menunjukkan senyum seolah berkata "terserah padamu, aku menyerah" lalu pergi dengan lemas. Ia lelah seharian ini.


Dia saat Su Churan sangat ingin merebahkan diri dan tidur sepuasnya, Gu Yuena malah berkeliaran mencari sesuatu yang bisa ia lakukan. Su Churan tidak bisa menasihatinya lagi dan memilih pergi untuk tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sejak serangan itu, berita kematian Kaisar dengan cepat tersebar. Kekaisaran Yi mengalami pergejolakan tahta untuk beberapa waktu tanpa ikut campur lima istana.


Pada saat yang sama, Istana Linghun kembali mengumpulkan pasukan setelah mundur sementara. Hanya dalam hitungan hari, mereka sudah berada di dekat Kota Shui.


Childe telah tiba bersama anggota aliansi lainnya. Dia memimpin, menunggangi kuda putih memasuki gerbang kota bersama ratusan murid aliansi yang dipersiapkan untuk bertarung di garis depan.


Selama beberapa waktu ini, mereka berkembang lebih cepat dari dugaan. Itu semua berkat kristal yang dibuat Gu Yuena di Gedung Aliansi Unsur Murni. Sejak itu, mereka semua melakukan pelatihan intensif dan meningkatkan kekuatan dengan cepat.


Satu bulan telah berlalu, perkembangan mereka dapat dilihat dengan jelas. Meski tingkatan kultivasi mereka tidak meningkat sangat banyak, tapi setidaknya mereka jauh lebih kuat dari sebelumnya. Hal itu dapat dilihat dari tatapan tegas yang mereka bawa.


Mereka segera ditempatkan di barak dan disediakan tenda khusus. Tidak ada yang berani memandang mereka sebagai junior, meski pada kenyataannya mereka memanglah junior.


Setidaknya, Bai Youzhe terbilang masih terlalu baik padanya dibandingkan pelatihan iblis Gu Yuena. Tidak hanya harus melalui kehidupan penuh darah dan simulasi ilusi yang menyakitkan, mereka juga harus menghadapi pukulan telak dan dibanting berkali-kali.


Benar-benar tidak berperikemanusiaan.


Namun, hasilnya cukup sepadan. Mereka kini tinggal di barak dengan perhatian yang cukup dari tentara lainnya. Childe juga memimpin lebih berhati-hati dan tidak merasa insecure lagi seperti sebelumnya. Di dalam hati mereka, Pemimpin Suci Aliansi Unsur Murni adalah idola mereka!


Gu Yuena tidak tahu bahwa ia telah menjadi sesuatu yang disebut-sebut dan dibanggakan di Aliansi Unsur Murni. Sejak kedatangan anak-anak itu, dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya.


Bagaimana ia bisa keluar di saat harus memantau Vale dengan kedua matanya ketika gadis itu akan melakukan penerobosan tingkat? Dari tingkat 4, Vale akan naik ke tingkat 5. Itu adalah detik-detik paling ekstrim.


Pergi ke tepi jendela, Gu Yuena mengedarkan kekuatan spiritualnya dan merasakan angin yang berhembus kencang. Sekilas, matanya bersinar dengan warna merah.


Orang tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, tapi sebenarnya Gu Yuena dengan 'melihat'.


Ya, dia melihat menggunakan perantara phoenix yang ia kirim. Bai Youzhe mengajarinya cara melihat melalui mata orang lain sebelum kepergiannya. Seperti yang Bai Youzhe lakukan ketika membiarkan Gu Yuena melihat melalui matanya, Gu Yuena mencoba hal yang sama untuk melihat melalui mata makhluk lain.


Asalkan tidak ada penolakan dari pihak lain, dia bisa melihat melalui sudut pandang pihak lain dalam durasi tertentu.


Phoenix kecil itu terbang ke wilayah musuh. Gu Yuena dapat melihat markas musuh dengan jelas dan mengamati situasi dan pasukan musuh. Ada sangat banyak makhkuk kematian yang disiapkan serta tentara penyihir.


Selain itu, ada juga makhluk-makhluk aneh yang tidak pernah dilihat Gu Yuena. Tiap makhluk memiliki bentuk berbeda dan aneh. Pasti mereka adalah senjata hasil eksperimen.


Satu hal yang menjadi perhatian Gu Yuena ... tak lain adalah sosok hitam yang duduk di kursi mewah dengan anggun. Jantung Gu Yuena berdetak sangat cepat sebelum akhirnya mata phoenixnya bertemu dengan iris merah wanita itu.


Phoenix kecil langsung terbang tinggi dan menghilang, sedangkan Gu Yuena kembali ke kesadaran semula. Ia pun menghela napas berat, lalu kembali serius.


Ia sedikit tersenyum, lalu bergumam, "Sepertinya, kita akan bertemu lebih cepat, Ibu."


"Yang Mulia, apa besok kita akan pergi berperang?" tanya Vale yang sudah membuka matanya. Dia telah melewati tahap penerobosan. Kekuatan spiritualnya semakin pekat dengan warna merah yang indah.


Gu Yuena tersenyum ke arahnya. "Mungkin?" Ia memiringkan kepala dengan serius, lalu berkata, "Mungkin ... sudah saatnya aku mengajarimu lingkaran sihir."


Mata Vale menjadi sangat cerah. Ia tahu apa itu lingkaran sihir dan segera menghampiri dengan antusias. "Yang Mulia, apa itu benar? Apa aku akhirnya bisa menjadi penyihir?"


Saat ini Vale adalah mage. Dari mage, bisa menjadi penyihir. Pada dasarnya, keterampilan mage tidak beda jauh dari penyihir dan mencangkup dasar-dasar menjadi penyihir. Menggambar lingkaran sihir membutuhkan kekuatan spiritual yang sangat besar.


Dulu Gu Yuena langsung mengambil jalur penyihir karena ia percaya diri dengan kekuatannya. Ditambah dengan darah phoenix dan ingatan luar biasanya, ia bisa menggambar lingkaran phoenix pertama dengan mudah.


Bakat Vale berbeda darinya. Jika Vale yang saat itu mempelajari lingkaran sihir, dia akan tersiksa. Selain karena identitasnya dan kekuatannya yang sangat terlambat dan lemah, lingkaran sihir akan melahapnya sebelum dapat mengendalikannya. Apalagi, saat itu Gu Yuena masih berpikir untuk tidak membawa Vale ke Istana.


Jalur penyihir adalah jalur berbahaya, tapi kekuatannya sangat sepadan. Itu sebabnya banyak penyihir yang memulai kultivasinya melalui mage.


"Duduklah." Gu Yuena meminta Vale untuk duduk.


Vale segera menuruti dan kembali ke tempatnya semula. Gu Yuena meletakkan telunjuknya di dahi Vale, lalu mengalirkan kekuatan spiritualnya.


Secara bertahap, Vale menerima banyak ingatan tentang lingkaran sihir serta informasi dari buku kulit yang pernah Gu Yuena temui di Kediaman Adipati Gu. Hanya dengan begini, Gu Yuena memaksa Vale mempelajari dan mengingatnya untuk dipraktekan sendiri.


Setelah proses selesai, Gu Yuena menarik kembali tangannya. Vale membuka mata dan memasang wajah terkejut.


"Pelajari semua itu." Gu Yuena berkata dengan cuek.


Vale diam untuk beberapa waktu sambil melihat ke arah Gu Yuena. Matanya bebrinar kagum. "Yang Mulia ... kamu sangat keren!"


"Dari mana kamu mempelajari kata itu?"


"Ah, Zhou Ying selalu menyebutkannya saat sedang memujimu. Yang Mulia memang selalu keren dan luar biasa."


Gu Yuena mengangguk paham. "Ya, aku memang keren. Lain kali, katakan hal itu di depan Jin Xiao juga." Gu Yuena tersenyum aneh.


Dia sebenarnya sedang mengajari Vale untuk memprovokasi Jin Xiao! Gu Yuena sangat pendendam!


Jin Xiao di kejauhan sana, bersin saat sedang bicara dengan beberapa murid Istana Luye untuk membahas hal penting. Murid-murid istana secara otomatis terdiam, berusaha untuk berpura-pura tidak melihat.


Wajah Jin Xiao memerah karena malu. Siapa yang dengan tidak tahu malu membicarakannya di belakang!


...----------------...


Sedikit lagi ending, guys. Karena stok draft habis, dan aku sudah mulai sibuk kuliah, mungkin update akan sedikit telat. Tapi akan aku usahakan untuk update setiap malam dan tidak miss lagi seperti tempo hari.


Bonus pict Gu Yuena yang baru kubuat menggunakan AI ....


Mukanya agak kebaratan, sih. Abisnya AI rasis sama orang asia 🤣