
Selama seharian Gu Yuena mencoba menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan pisau terbang. Pisau yang tertancap di atas meja itu bergetar akan sentuhan qi yang mencoba menariknya.
Tangan Gu Yuena digerakkan secara perlahan, tetap fokus agar dapat menarik pisau itu ke genggamannya seperti apa yang dipelajari dalam buku yang dibawakan Xiao Hei.
Getaran pisau membuka celah agar pisau terlepas dari himpitan kayu. Gu Yuena mengeluarkan segenap tenaga untuk menariknya. Ketika pisau itu terangkat, terlepas dari kayu dan melayang di udara, arahnya tidak terkendali dan terhunus tepat di depan wajah Gu Yuena.
Cepat-cepat Gu Yuena menyingkir ke samping sehingga pisau melolos ke belakang. Ia baru saja akan menangkap pisau itu agar tidak lepas kendali, tapi suara panggilan Jiang Weiwei membuatnya berhenti.
"Nona Keempat~"
Pisau itu menancap di dinding begitu saja. Mata Gu Yuena berkedut. Kenapa pisau itu tidak melayang ke arah Jiang Weiwei yang mengganggunya saja!
Jiang Weiwei tidak sadar apa yang terjadi. Ia hanya membawa keranjang bunga sambil menghampiri Gu Yuena, kemudian memberinya keranjang bunga tersebut.
"Nyonya besar memintaku memberikan ini untuk Nona."
Gu Yuena melihat keranjang itu. "Bunga?"
"Sebentar lagi ulang tahun Tuan Muda Pertama. Selain Tuan Muda Pertama, Tuan Muda Kedua dan Tuan Muda Ketiga akan kembali untuk merayakannya. Saat perayaan ulang tahun, akan ada banyak orang dari berbagai kaum termasuk beberapa klan besar yang datang. Jadi, Nyonya ingin seluruh kediaman dihias dengan cantik."
Gu Yuena mengangguk mengiyakan. "Letakkan itu di dalam."
Ingatannya dengan Tuan Muda Pertama ini agak samar. Ia tidak bisa ingat dengan jelas bagaimana tampangnya, kecuali jika melihatnya langsung.
Gu Yuena jadi penasaran apa yang akan terjadi saat perayaan ulang tahu yang diadakan nanti. Pasti ibu dan anak itu akan berulah lagi. Dia tidak sabar menunggunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kabarnya besok ketiga tuan muda akan kembali ke kediman, membuat semua orang sangat bersemangat. Tiga pemuda tampan dan berbakat itu sangat dirindukan, bahkan oleh para tetangga sekaligus.
Tuan Muda Pertama, Gu Yuan, memiliki tempramen teratur dan sangat lembut pada semua orang. Dia adalah sosok kakak yang sangat baik sampai tidak bisa dilupakan, juga sangat posesif pada adik kandungnya yang tak lain adalah Gu Yuena.
Tuan Muda Kedua, Gu Yihan, memiliki sikap dingin dan jauh. Dia adalah kakak kandung Gu Yueli, namun sikapnya terlalu cuek seolah hidup seorang diri di dunia ini. Dia selalu bersaing dengan Gu Yuan—semua orang tahu hal itu—dan Gu Yuan menanggapinya dengan tenang terhadap persaingan ini.
Tuan Muda Ketiga, Gu Yesha, memiliki usia yang tidak beda jauh dengan Gu Yueli dan Gu Yuena, serta satu-satunya putra Selir Shen yang manja dan kekanakan. Tiap suasana tegang dan persaingan berat kakaknya selalu dicairkan olehnya. Bisa dibilang, dia adalah penengah dan idiot yang digemari.
Gu Yuena mendengar semua rumor itu sambil duduk dengan tenang di taman. Taman ini sangat ramai akan para pelayan yang mempersiapkan pesta sehingga banyak informasi berkeliaran. Gu Yuena harus memasang telinga lebar-lebar.
Dengar-dengar Klan Luo dan Klan Ye yang merupakan klan terbesar akan datang sebagai kerabat. Klan Luo memiliki hubungan baik dengan Kediaman Adipati Gu, sedangkan Klan Ye memiliki janji pernikahan dengan Gu Yueli.
Kedua keluarga ini dipertemukan, akan sangat menggemparkan banyak orang.
"Sepertinya, pesta ini akan semakin seru." Gu Yuena menunggu konflik apa pun yang muncul di tempat ini. Lumayan dapat tontonan bagus. Ia dengar Tuan Muda Luo itu sangat berbakat. Apa yang akan terjadi bila berhadapan dengan si mesum Ye?
Memikirkannya membuat Gu Yuena terkikik. Ia harus mencari cara untuk balas dendam pada si marga Ye itu dengan menggunakan si marga Luo. Selain tidak ada yang bisa menentang, ia juga tidak akan terlibat terlalu dalam dan hanya perlu menonton.
Andai saja ia tidak sedang dalam wajah 'anak baik', ia tidak perlu menahan diri untuk tidak menghajar si marga Ye itu. Sangat disayangkan hanya bisa menggunakan tangan orang lain.
Ketika tengah membayangkan akan menjadi apa si marga Ye itu, segerombolan ibu-ibu berjalan di sekitar taman sambil bergosip ria. Mereka berhenti di tepi danau dan akan duduk di gazebo, tapi pandangan salah satunya tertuju pada gadis bercadar yang sedang duduk bersandar di kursi menikmati angin.
"Eh, bukankah itu Gu Yuena?"
Yang lainnya langsung menoleh. Salah satunya berkata, "Aku baru melihatnya setelah sekian lama, dia terlihat sedikit berbeda. Aku dengar dia membatalkan pernikahan dan menyerahkannya pada Gu Yueli."
"Bukankah sebelumnya Klan Ye sudah akan membatalkan pertunangan terlebih dahulu? Seharusnya, Klan Ye membatalkan pertunangan dengan Gu Yuena, itu yang benar."
"Ah, kasihan sekali. Reputasinya menjadi hancur karena ini. Siapa yang ingin menikahinya di masa depan?"
"Dengan julukan sampah itu, siapa idiot yang akan menikahinya? Aku lihat, dia hanya akan menjadi perawan tua di masa depan."
Mereka adalah segerombolan ibu-ibu gosip pendukung Ting Le. Ting Le hanya duduk di kursi kayu dengan tenang sambil menyesap teh mendengarkan serangkaian cacian pada Gu Yuena yang seperti nyanyian lagu baginya.
"Sudahlah, bagaimanapun Gu Yuena adalah putriku juga. Dia memang terlihat kasihan, tapi hidupnya juga tidak buruk. Sebagai seorang ibu, aku akan mencarikan seorang pria yang baik untuknya." Ting Le berkata untuk menenangkan para penggosip itu. Jika mereka terus bicara, akan repot jika Gu Shan mendengarnya.
"Kakak Ting sangat perhatian pada Yuena. Apa karena dia telah menyelamatkan wajah putrimu, baru memberinya belas kasihan? Aku ingat, kau lah yang meminta Tuan memindahkannya ke rumah belakang selama bertahun-tahun sebagai hukuman." Seorang wanita cantik datang bersama beberapa pelayan di belakangnya. Ia mendekati Ting Le dengan senyuman, namun tatapannya bermaksud lain.
"Selir Shen, apa kamu begitu senggang sampai bisa meluangkan waktu di tengah pekerjaan? Tuan mempercayaimu untuk mengatur pesta, jangan sampai mempermalukan Kediaman Adipati hanyakan karena sedikit kecerobohan. Selir Shen, aku sedang menasihatimu agar tidak mendapat hukuman."
"Putraku akan datang besok, tentu aku harus mempersiapkannya dengan baik. Tapi ... membawa beberapa orang luar di saat-saat seperti ini, sepertinya agak tidak pantas. Selir ini datang untuk memberitahu, lebih baik Nyonya Besar berkumpul di tempat lain bersama nyonya lainnya. Kediaman Adipati Gu, sedang tidak menerima tamu."
"Selir Shen, kau mencoba mengusir kami?" Teman-teman Ting Le tampak keberatan. Mereka melihat Selir Shen dengan kesal.
Selir Shen menghadap mereka, senyumnya tetap terlihat lembut dan cantik. "Aku tidak berani. Tapi, jika Tuan melihatnya, takutnya Kakak Ting akan terkena masalah. Aku hanya memberi sedikit nasihat, tidak tahu akan menyinggung para Nyonya."
"Nyonya Gu, sepertinya Kediaman Adipati tidak lagi menerima kami." Salah satu Nyonya mengeluh melihat Ting Le meminta dukungan.
Ting Le menghela napas. Ia melihat Selir Shen dengan sebal, kemudian berdiri. "Untuk masalah ini, aku minta maaf pada Selir Shen karena telah mengganggu. Tapi secara terang-terangan mengusir para Nyonya bangsawan, takutnya akan mengakibatkan Tuan dipersulit ketika di pengadilan. Jika Tuan melihatnya, aku percaya Tuan akan mengerti."
Selir Shen mempertahankan senyumnya secara paksa. Ia selalu kalah dari Ting Le. Ini membuatnya kesal. Pantas saja wanita itu bisa menempati posisi yang sebelumnya ditempati istri sah Gu Shan. "Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu."
Selir Shen berbalik hendak pergi. Namun langkahnya terhenti ketika teringat sesuatu. Ia berbalik melihat Ting Le, kemudian berkata. "Dinding memiliki telinga. Akan lebih baik jika menjaga ucapan ketika sedang di luar untuk mengurangi masalah."
"Selir Shen tenang saja. Tidak akan ada masalah." Ting Le merasa bahwa Selir Shen sedang membela Gu Yuena.
Selir Shen hanya memberinya senyuman, kemudian pergi bersama para pelayan di belakangnya meninggalkan tempat sesak itu. Suara mereka saat bergosip sangat keras sampai ia mendengarnya dengan jelas. Benar-benar mengesalkan.
Ting Le menghela napas dan kembali duduk. Ia melihat para Nyonya yang berwajah masam, kemudian membujuk mereka. "Sudahlah, hanya seorang selir, apa bisa mengubah suasana hati kalian dengan mudah?"
"Benar, hanya seorang selir." Mereka terkekeh dan duduk di tempat masing-masing.
"Sepertinya keberuntungan anak itu sedang baik."
"Beruntung? Nyonya Li Hua meninggal ketika menyelamatkannya, apa bisa dibilang anak itu memiliki keberuntungan? Yang kulihat, anak itu hanya membawa sial."
"Jika saja Nyonya Li tidak pergi mencari Gu Yuena sendiri dan dimakan monster, dia pasti masih ada sampai saat ini. Bukankah kematian Nyonya Li membuat Adipati Gu menghukum Gu Yuena dan mengasingkannya? Nyonya, apa aku benar?" Wanita itu bertanya pada Ting Le yang sejak tadi hanya diam.
Ting Le sebenarnya tidak ingin membicarakan ini, tapi ia dipaksa mengangguk. Kenapa mereka malah mengungkit wanita itu? Sudah bagus wanita itu mati sehingga dapat mengangkat posisinya dan menyingkirkan Gu Yuena sekaligus. Kenapa masih saja terus diingat?
Saat itu Gu Yueli kecil membuat masalah dengan keluar diam-diam. Kemudian Gu Yuena kecil mengikutinya untuk membawanya kembali, tapi siapa sangka mereka akan tersesat di hutan. Semua orang mencarinya. Entah apa yang terjadi, hanya Gu Yueli yang kembali dalam keadaan terluka dan menangis.
Ketika Gu Shan menemukan Gu Yuena dan Li Hua, istrinya itu justru tewas menggantikan Gu Yuena yang diserang monster. Anehnya Gu Yuena tidak ingat apa pun kejadian itu dan menjadi sampah yang dikenal sekarang. Dalam keadaan sedih, Gu Shan melampiaskannya kepada Gu Yuena setelah dipengaruhi oleh Ting Le.
Tanpa diketahui oleh mereka, Gu Yuena mendengarkan hal tersebut dari lebatnya pepohonan. Duduk di dahan pohon sambil termenung, mencoba mencari memori itu, tapi tidak menemukannya. Ia tidak tahu apa yang dikatakan mereka benar atau tidak karena tidak memiliki ingatan itu.
Tapi satu hal yang pasti, ayahnya membencinya karena hasutan seseorang yang mengatakan bahwa ia telah membunuh ibunya sendiri. Tidak tahu apakah kakaknya juga membencinya atau tidak. Karena saat-saat itu seharusnya bertepatan dengan kepergian sang kakak ke akademi.
Gu Yuena tidak tahu harus tertawa atau menangis. "Bodoh."
Ia pun pergi dalam keadaan suasana hati buruk. Kepergiannya dilihat oleh Ting Le. Wanita itu menyunggingkan senyum jahat.
"Siapa yang mengatakannya pembawa sial?"
Suara berat dan dingin yang datang membuat pandangan mereka teralih. Wajah mereka memucat seketika, termasuk Ting Le.
"Kamu?" Ting Le sampai beranjak berdiri saking terkejutnya.
Sosok di depan mereka seharusnya akan datang besok, kenapa bisa ada di sini!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bodoh bodoh bodoh bodoh!" Gu Yuena tidak tahu mengapa ia begitu emosional. Memori yang ditinggalkan membuatnya sangat kesal!
Semua memori itu adalah peristiwa masa kecil sejak ibunya meninggal sampai kematiannya. Ketika mendengar ucapan mereka, memori itu semakin jelas membuatnya marah.
Berapa banyak cambukan, pukulan, dan cemoohan. Tidak ada yang membelanya selama bertahun-tahun. Bodohnya pemilik asli mengatakan bahwa ia baik-baik saja dalam surat yang dikirimkan untuk kakaknya meski dalam keadaan demam tinggi sendirian. Semua memori itu terlintas sangat detail.
Ia pergi ke depan cermin, kemudian memarahi pemilik asli sambil melihat pencerminannya. "Kau ... bisakah tidak merusak pencitraanku selama ini? Bersikap lemah dan bodoh hanya karena merasa bersalah? Benar-benar idiot. Aku menyesal masuk ke dalam tubuh orang idiot!"
Setidaknya jangan memberinya ingatan itu yang membuat darahnya mendidih. Ia hanya ingin hidup tenang!
"Setidaknya jangan samakan wajah dan namamu dengan wajah dan namaku. Aku Gu Yuena, kau Gu Yuena. Lalu ... kakakmu Gu Yuan ... kakakku juga bernama Gu Yuan. Ibuku ... juga Li Hua. Kenapa kau menyamakan dirimu dengan diriku? Oh, Isabella, mantra apa yang kau gunakan sampai mengutukku masuk ke tubuh idiot ini! Kau ingin aku membunuh keluargaku sendiri seperti yang kau lakukan, hah!"
Ia sangat kesal. Awalnya terasa biasa saja ketika mendengar bahwa Gu Yuan yang merupakan kakaknya yang telah meninggal, memiliki nama yang sama dengan kakak Gu Yuena yang idiot.
Tapi ketika mendengar nama lengkap ibunya ... dia bertambah kesal. Kenapa tidak sekalian saja nama ayah mereka juga sama?
"Sialan! Andai saja memorimu tidak setengah-setengah, aku tidak akan menjadi Gu Yuena yang baik untuk menyamakan diriku dengan dirimu." Gu Yuena mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal. Bahkan Xiao Hei sudah bersembunyi di bawah tempat tidur sambil mengintip tuannya yang sedang menggila.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk membuat Gu Yuena semakin kesal. Itu pasti Jiang Weiwei. Kali ini, ia tidak akan menahan diri dan mengusir mata-mata itu sekarang juga. Seenaknya melaporkan semua pergerakannya. Badut itu pasti sangat senang mendengarnya menderita seperti ini.
Gu Yuena mengambik tongkat yang tergeletak di sudut ruangan yang biasa digunakan untuk mengambil benda dari ketinggian. Ia melangkahkan kaki lebar-lebar dan membuka pintu sambil mengangkat tongkatnya.
"Jiang Weiwei, sudah kukatakan ...." Ucapan Gu Yuena berhenti bersamaan dengan ayunan tongkatnya yang terhenti. Tubuhnya membeku melihat sosok yang hadir di depannya.
Paras tampan yang lembut dan mempesona. Matanya yang tajam serta tegas bagai elang yang melihat musuhnya. Tapi saat ini, tatapan elang itu digantikan dengan kelembutan dan kerinduan yang terpapar jelas. Ia tampak mirip dengan Gu Yuena, namun juga tidak bersamaan. Meski tampan, ia juga tidak mirip dengan ayahnya, lebih terlihat sebagai putra dari surga.
"Nana?" Kali ini pria itu terlihat terkejut melihat penampilan acak-acakan dan kacau Gu Yuena.
Rambut panjang yang kemana-mana, tangannya memerah karena habis memukul benda keras. Bekas merah di wajahnya akibat tarikan paksa cadar juga menambah kesan bahwa Gu Yuena baru saja disiksa, atau baru saja menyiksa diri sendiri.
"Kakak(?)" Gu Yuena melepas tongkat di tangannya begitu saja. Ia berbalik membelakangi pria itu, kemudian memukul wajahnya berkali-kali untuk sadar.
Tidak mungkin ... tidak mungkin kakak pemilik tubuh ini memiliki nama dan wajah yang sama dengan kakaknya. Ini pasti hanya ilusi karena mengingat peristiwa itu. Ia tidak boleh terganggu hanya karena masalah sepele.
Ia kembali berbalik untuk melihat pria itu. Tapi lagi-lagi membeku seolah habis melihat hantu. Memori milik pemilik tubuh asli kembali terlintas membuatnya mundur tanpa sadar.
Tidak mungkin ....
Gu Yuena merasa sesak ketika melihat wajah itu. Ia melihat wajah Gu Yuan yang sangat persis dengan kakaknya. Satu-satunya keluarga yang saat itu juga meninggalkannya dan membuatnya terpaksa jatuh ke dalam penangkaran pembunuh.
Wajah lembut dan seputih salju itu berubah menjadi wajah kuyu dan penuh darah di iris merahnya. Tatapan harapan dan selamat tinggal sangat terukir jelas di benaknya. Gu Yuena sangat takut sampai tubuhnya bergetar. Ia ingin meraih sang kakak, tapi terasa berat.
Gu Yuan memandang adiknya dengan bingung. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu dan mencoba mendekatinya. Namun semakin ia mendekat, kaki Gu Yuena semakin merasa lemas sampai menjadi mie.
Gu Yuan dengan cepat menangkap tubuh kecil gadis itu. Gu Yuena jatuh ke pelukannya, sebelum akhirnya sadar dengan kenyataan dan meneteskan air mata.
Kakaknya ... keluarga satu-satunya yang selalu ia andalkan kini ada di depannya. Tapi ia tidak bisa berkata apa pun. Ia ketakutan mengingat peristiwa yang merebut Gu Yuan darinya.
"Nana, jangan menakutiku. Aku sudah tahu semuanya, tenanglah. Tidak ada yang bisa menindasmu." Gu Yuan memeluk adiknya dengan penuh rasa gelisah. Andai ia tidak pergi, adiknya tidak akan menderita separah itu. Ia merasa bersalah.
"Kakak ... Nana takut ...." Gu Yuena tanpa sadar mengungkapkan ketakutannya. Ia memeluk kakaknya dengan erat dan tidak bisa menahan tangis. Bayang-bayang kematian itu terus menghantuinya.
Ia takut sang kakak akan pergi lagi meninggalkannya sendiri.