Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
133. Tamu Klan Ye



"Ibu, aku datang!"


Sosok anak perempuan berlari ke dalam ruangan. Dia terlihat berusia kurang lebih 6 tahun, masih sangat kecil dan polos. Kaki kecilnya melangkah ke arah wanita cantik yang duduk di dalam ruangan sambil menidurkan bayi kecil di pelukannya.


Anak itu berhenti di depan ibunya, lalu menunjukkan hasil lukisan khas anak-anak di tangannya. Ia menggambar keluarga mereka yang terdiri dari 4 orang. Tampak seperti keluarga bahagia.


Namun, di balik gambar keluarga 4 orang itu, ada beberapa orang yang tidak ikut digambarkan.


Gu Yueli melihat lukisan itu dengan tatapan teduh. "Ye Mi, kenapa hanya ada empat?"


Bocah bernama Ye Mi menatap ibunya dengan polos, lalu melihat kembali ke dalam gambar. "Apa aku harus melukis para bibi juga?"


Gu Yueli tersenyum kecut. Ia pikir Ye Mi akan melukis nenek dan kakeknya juga. "Sudahlah, begitu saja sudah bagus." Para bibi yang dimaksud adalah selir-selir Ye Suanwu. Tidak perlu mengajarkan putrinya untuk menganggap mereka sebagai keluarga. Pada akhirnya, mereka semua hanya orang luar di matanya.


"Ibu, apa Junwu sedang tidur?" Ye Mi berjinjit untuk melihat adik kecilnya yang sedang pulas.


Gu Yueli mengangguk kecil. "Kamu bisa menjaganya sebentar? Aku harus menemui ayahmu."


Ye Mi mengangguk antusias sedangkan Gu Yueli beranjak dari kursi dan meletakkan putra kecilnya ke tempat tidur. Ia meminta salah seorang pelayan menjaga dua anaknya, lalu keluar ruangan untuk bertemu suaminya.


Pernikahan mereka baru berjalan hampir 8 tahun, tapi rasanya sudah sangat dingin. Meski posisinya sebagai istri sah sangat dihargai, latar belakang putri bangsawan yang telah runtuh mempengaruhi hidupnya. Orang-orang tidak lagi memandangnya seperti dulu, di mana ia adalah putri kesayangan Adipati Gu.


Ditambah, ia melahirkan seorang putri beberapa tahun lalu, mendistorsi harapan Nyonya besar. Itulah yang ia takutkan.


Masuk ke dalam ruang kerja Ketua Klan, matanya ternodai duluan oleh pasangan yang sedang ciuman di kursi kerja tanpa peduli kehadiran orang lain. Tatapan Gu Yueli menjadi datar saat itu juga.


Ada kalanya ia ingin Gu Yuena datang untuk membunuh semua selir yang sering mengganggunya seperti saat itu. Namun, itu tidak mungkin.


Gu Yueli berdeham, membuat kedua orang itu menyadari kehadirannya. Ketika keduanya melihat Gu Yueli yang tampak cuek, Gu Yueli langsung pada intinya. "Ada beberapa hal yang harus dibicarakan."


Ye Suanwu memposisikan dirinya dengan benar di atas kursi, sedangkan wanita cantik yang merupakan selir barunya itu dibiarkan pergi. Tatapan Gu Yueli tanpa sengaja bertubrukan dengan mata selir yang melewatinya.


Perang harem ini tidak akan berakhir.


"Ada apa?" tanya Ye Suanwu.


"Baru saja aku mendapat surat dari Ratu Istana Luye. Dia akan datang dalam waktu dekat."


Ye Suanwu menarik alisnya. "Apa itu Jin Xiao?"


"Ya."


Ye Suanwu tidak memiliki kesan baik pada wanita cantik itu. Ketika wanita itu berkunjung, ia sempat terpana dan merayunya. Sayangnya, Jin Xiao sangat pandai mengambil momen untuk mempermalukannya di depan murid istana dan Gu Yueli. Saat itu Jin Xiao masih murid istana, bukan sang Ratu.


Sekarang, wanita itu sudah menjadi Ratu. Ia harus menghormatinya dan melupakan masa lalu. Jangan sampai membuat masalah pada istana lain.


"Ratu Istana Luye hanya akan datang sebentar karena urusan mendesak, sekalian melakukan perjalanan ke Ibu Kota. Dia berkata tidak perlu ada penyambutan istimewa, lakukan saja seperti biasa."


"Aku tahu, aku tahu. Wanita itu banyak maunya." Ye Suanwu merasa agak kesal. Jin Xiao jelas tidak akan sebanding dengan Ratu Istana Linghun dan Tuan Putri. Namun, ia tidak boleh mengungkapkan itu demi rencana Ratu.


"Satu lagi. Aku pikir sudah saatnya membawakan guru untuk Ye Mi. Setidaknya, untuk belajar hal dasar." Gu Yueli tidak ingin putrinya kalah dari anak selir lain.


"Yueli, bukankah Ye Mi masih terlalu kecil untuk belajar? Biarlah dia bermain-main, jangan terlalu keras."


Gu Yueli sedikit tersenyum. "Ayahku membawakanku guru sejak berusia 5 tahun. Ye Mi sudah cukup terlambat."


"Kalau begitu carilah. Bukankah koneksimu sangat luas? Atau, carikan di Istana Luye untuk mengajarinya menjadi alkemis. Jadi kita tidak perlu bergantung pada Istana Luye hanya untuk beberapa pil."


"Baik." Gu Yueli tidak memiliki apa pun untuk menjadi bahan bantahan. Meski ide Ye Suanwu tidak buruk, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangannya. Jika Ye Mi memiliki guru dari Istana Luye, maka Ye Mi harus pergi ke Istana Luye.


Jin Xiao mungkin bisa membantu. Tapi dengan identitas Ye Mi sebagai putri sulung Klan Ye di bawah Istana Linghun, itu agak beresiko. Ia khawatir bagaimana Ye Mi akan menjalani harinya yang keras.


Kenapa tidak memanggil guru dari kekaisaran saja? Koneksi Ye Suanwu kebanyakan dari kekaisaran, kenapa tidak dia saja yang memberikannya untuk Ye Mi?


Selama bertahun-tahun, hanya Gu Yueli yang berusaha mencari berbagai koneksi dari tiap istana. Ia mengumpulkan banyak kekuatan, tapi kemampuannya jelas tidak cukup dan Ye Suanwu hanya mendapat hasilnya selagi menebar benih di mana-mana.


Bajingan itu benar-benar membuatnya muak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sudah malam ketika rombongan Istana Luye tiba di depan pagar besar milik Klan Ye. Jin Xiao di dalam kereta kuda segera keluar, bersama seorang wanita berjubah hitam yang tampak misterius di sisinya.


Kedatangan mereka disambut oleh anggota klan. Para penjaga membawa mereka ke dalam, lalu bertemu Ye Suanwu yang menyambut mereka dengan rasa hormat.


Seperti yang dipesankan, sambutan sederhana tanpa keistimewaan. Jin Xiao merasa harinya sangat tenang setelah tertekan begitu lama oleh wanita tertentu.


"Hari ini, Istana Luye tidak datang sendiri. Ketua Klan mungkin mengenalnya, jadi aku tidak akan menjelaskan lebih jauh mengenai tamu yang mendampingi perjalanan kami sampai saat ini." Pandangan Jin Xiao teralih pada sosok berjubah hitam di tengah rombongan.


Sosok berjubah hitam itu membuka tudung jubahnya, menunjukkan surai merah gelap yang indah serta kecantikan luar biasa. Wajahnya tampak seputih salju dan pucat di bawah sinar rembulan, namun iris merahnya penuh kehidupan.


"Gu Yuena?" Ye Suanwu terkejut. Ada perasaan aneh di dalam hatinya. Gu Yuena datang padanya. Apa wanita itu telah berpikir selama bertahun-tahun, menyadari siapa yang lebih menyukainya dan berniat kembali?


Ye Suanwu merasa suasana hati buruknya berubah menjadi kebahagiaan. Kedatangan Istana Luye tidak selamanya buruk.


Kecantikan Gu Yuena yang semakin tidak manusiawi membuat banyak orang terpana. Tidak hanya pria, bahkan wanita juga ikut terpana. Jin Xiao merupakan wanita tercantik di Istana Luye. Kini kehadiran Gu Yuena menutupi kecantikannya. Gu Yuena lebih terlihat seperti Ratu dibandingkan Jin Xiao.


Jin Xiao sadar akan hal itu dan hanya bisa mendengus kesal. Wanita narsis ini selalu tebar pesona, membuatnya kesal dan tidak ingin mengatakan bahwa Gu Yuena adalah kenalannya.


Pakai menggenakan jubah misterius pula. Wanita itu benar-benar berniat mengejutkan semua orang dengan penampilannya.


"Ye Suanwu, lama tidak bertemu." Suara Gu Yuena yang halus membuat para pria meleleh. Senyumannya sangat cantik seperti seorang dewi. Dia sama sekali tidak terlihat seperti manusia.


Ye Suanwu sadar dari kesurupannya ketika Jin Xiao terbatuk cukup keras. Suasana menjadi cair, banyak orang cukup canggung karena kehadiran Gu Yuena. Termasuk Ye Suanwu.


"Nona Gu, selamat datang. Kamu banyak berubah." Ye Suanwu tidak menyangka Gu Yuena dewasa akan secantik itu.


Dulu wanita itu selalu menutup wajahnya menggunakan cadar. Terakhir ia melihat wajah cantik itu di Wyvernia dan tidak bertemu lagi. Sekarang, wanita itu jauh lebih dewasa dan cantik. Tubuhnya juga sangat bagus meski terbalut jubah besar.


Ia semakin ingin memiliki Gu Yuena.


"Adik ipar sangat sungkan. Sudah bertahun-tahun sejak Kediaman Adipati menurun, kami para saudara tidak memiliki waktu untuk bertemu. Sekarang, aku mengikuti Istana Luye, kebetulan melakukan persinggahan di Klan Ye sebelum lanjut ke Ibu Kota."


"Jadi begitu. Pas sekali, aku sudah mempersiapkan akomodasi untuk Istana Luye. Nona Gu, aku juga akan mempersiapkan kamar yang lebih nyaman untukmu sebagai kerabat Klan Ye." Ye Suanwu masih tidak tahu malu berpikir Gu Yuena malu mengungkapkan bahwa wanita itu ingin bertemu dengannya. Biarlah fantasinya berjalan.


"Aku hanya orang kecil, bagaimana bisa mendapat sesuatu yang lebih bagus dari Ratu Istana Luye?" Gu Yuena melirik Jin Xiao di sebelahnya dengan tatapan mengejek.


Jin Xiao memutar bola mata. "Apa pun yang disediakan Ketua Klan, Jin Xiao akan menerimanya." Jin Xiao bersikap sopan, lalu terpikirkan sesuatu yang nakal. Ia melirik Gu Yuena dengan ide yang terlintas. "Karena kalian para kerabat sudah lama tidak bertemu, Ratu ini tidak akan mengganggu."


Senyum Gu Yuena membeku. Tatapannya terarah pada Jin Xiao yang memasuki klan begitu saja bersama anggota lain, meninggalkannya. Tak lupa pula, senyuman mengejek yang dilontarkan Jin Xiao.


"Jin Xiao oh Jin Xiao, kau pikir aku tidak bisa membalasmu?" gumam Gu Yuena. Ia ingin mengikuti, tapi tatapan Ye Suanwu terhadapnya benar-benar mengganggu.


Apa ia keluar saja?


Ah, rasanya ingin membakar seluruh tempat ini menjadi abu. Ia belum balas dendam pada Klan Ye, jadi berpikir untuk sekalian membawa bencana di tempat ini. Hanya saja, ia malas berhadapan dengan pria mata keranjang. Bagaimana ia yang merupakan seorang Ratu Phoenix merendahkan diri seperti itu?


Jin Xiao sialan!


"Yuena."


Telinga Gu Yuena terasa sangat panas. Ia berbalik dengan senyuman ramah terpaksa, melihat Ye Suanwu yang benar-benar menjengkelkan. Ingin sekali ia mecungkil kedua mata penuh nafsu itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ye Suanwu.


"Cukup baik." Gu Yuena bersikap cuek. Ia mencari momen untuk segera pergi ke tempatnya sesegera mungkin. "Perjalanan sebelumnya sangat melelahkan. Apa pelayanmu tidak akan mengantarku istirahat?"


"Itu—"


"Nona Gu, aku yang akan mengantarmu." Seorang wanita tiba-tiba menyela ucapan Ye Suanwu yang ingin mengantar Gu Yuena.


Dia adalah wanita yang sebelumnya berada di ruangan Ye Suanwu ketika Gu Yueli datang. Wajahnya memang cantik dan memiliki penampilan menggoda, tapi aura bangsawan Gu Yuena membuat semua itu tertutupi.


Gu Yuena tahu posisi selir pada wanita itu, tapi ia pura-pura tidak tahu dan bicara asal. "Apa semua pelayan di Klan Ye memiliki penampilan seperti itu?" Ia baru saja menghina penampilan wanita tertentu yang lebih mirip pelacur.


"Nona Gu, perkenalkan, namaku adalah He Xiang. Kamu bisa memanggilku sebagai Selir He." Dia berkata dengan nada halus dan lembut yang memanjakan.


Gu Yuena yang mendengarnya merinding. Apa seperti ini modelan wanita rumah bordil? Perasaan waktu ia bekerja di rumah bordil Dunia Bawah, tidak ada yang sampai memiliki suara menggelikan seperti itu.


"Ye Suanwu, apa dia selir barumu? Dari mana kau menemukannya?" tanya Gu Yuena. Ia bersikap lebih tidak tahu malu kali ini. Toh, posisinya sangat tinggi, bahkan Ye Suanwu tidak dapat membantahnya.


Ye Suanwu tampak keberatan menjawab. Wajar saja. Dia pasti merasa malu. Gu Yuena sangat puas melihat pria yang terdiam seperti itu karena ulah sendiri.


Kasihan sekali Gu Yueli mendapatkan pria seperti itu.


"Nona Gu, biar aku membantu menjawab. Beberapa bulan yang lalu, ayahku menikahkanku dengan Tuan Ye sebagai selir. Aku berasal dari Klan He di wilayah barat kekaisaran, kebetulan memiliki urusan politik dengan Klan Ye."


Jadi ini adalah masalah politik. Gu Yuena telah salah paham, tapi tidak merasa bersalah. Meski bukan masalah politik, orang seperti Ye Suanwu pasti akan memungut wanita lain dengan model yang sama.


Orang penting selalu bergelut dengan masalah politik. Bahkan menggunakan pernikahan untuk politik. Ia jadi khawatir, bagaimana jika Bai Youzhe dipaksa menikah politik dengan orang lain?


Sudahlah, siapa pula yang ingin menentang Bai Youzhe? Kalau bukan keinginannya sendiri, tidak akan ada yang berani memaksanya.


"Tuan, para tetua sedang menunggumu sejak tadi. Biarkan aku menggantikan tugas ini, mengantar Nona Gu ke kamarnya untuk istirahat." He Xiang membujuk Ye Suanwu. Nada suarannya menjijikkan.


Ye Suanwu menghela napas, lalu mengangguk pasrah. "Baiklah, aku serahkan padamu."


Ye Suanwu pun pergi menemui para tetua. Bagaimanapun, ia harus menangani urusan yang lebih penting terlebih dahulu.


Tersisa dua wanita cantik di tempat yang sama. Tidak ada aura persahabatan, hanya ada kecanggungan. Rasa saling tidak suka sangat kental, tapi tidak ada yang menunjukkannya secara langsung.


"Nona, mari." He Xiang tetap bersikap sopan meski sangat ingin mencabik-cabik wajah cantik itu. Berani sekali menghinanya terang-terangan.


Mereka berjalan di sekitar halaman klan. Gu Yuena melihat-lihat sekitar dalam diam. Klan Ye mengalami banyak perubahan selama bertahun-tahun tidak melihatnya.


"Ada banyak sekali perubahan dibandingkan terakhir kali aku berada di sini." Gu Yuena membuka percakapan.


He Xiang melirik wanita itu, lalu berkata, "Semenjak Tuan Ye menggantikan Ketua Klan lama, ada banyak perubahan di tempat ini. Dulu aku sering berada di sini, lalu baru menetap beberapa bulan yang lalu. Aku lebih familiar dengan tempat ini."


"Kau sering berada di sini di masa lalu, kenapa aku tidak pernah melihatmu saat pernikahan Gu Yueli?"


"Saat itu Klan He mengalami masalah, tidak bisa datang untuk memberi selamat. Kami baru menyelesaikan masalah setelah menerima kerja sama dengan Klan Ye."


Gu Yuena mengangguk-angguk paham. "Itu berarti kau sangat paham tentangnya."


"Aku dengar kau adalah mantan tunangannya. Pasti sangat berat melihat adikmu sendiri menikah dengan orang yang kau cintai."


Gu Yuena mendengus. "Aku tidak mencintainya. Ini urusan politik." Lagipula Gu Yuena yang dulu menikahinya untuk dimanfaatkan, demi batu jiwa. Jika ia terlanjur menikah dengan Ye Suanwu, pria itu sudah lama mati di tangannya.


"Ah, jadi seperti itu." He Xiang pikir Gu Yuena ini benar-benar berhati batu dan sulit ditangani.


Tidak hanya mendekati Ratu Istana Luye sebagai tamu terhormat, juga membiarkan orang yang ingin dinikahinya menikah dengan orang lain. Meski hanya pernikahan politik, reputasinya pasti akan sangat jelek. Siapa sangka, dia bisa meraih Ratu Istana Luye dan berhubungan baik dengannya. Wanita ini tidak biasa.


Di tengah perjalanan yang kembali sunyi, seorang anak berlari dari kejauhan dan menabrak Gu Yuena. Posisi Gu Yuena sangat kokoh dan kuat sampai anak itu jatuh ke tanah.


Gu Yuena dibuat terkejut, tapi hanya melihatnya dengan datar.


He Xiang di sisi lain merasa jengkel. Namun, wajah jengkelnya berubah menjadi kelembutan. "Ye Mi, apa kamu baik-baik saja?"


Ye Mi mendongak melihat dua wanita di depannya. Ketika melihat He Xiang, tatapannya memiliki rasa takut. Gu Yuena terdiam melihatnya, lalu melirik He Xiang diam-diam.


Ye Mi bangun setelah mendapat bantuan dari He Xiang. Ia terlihat takut, tapi tidak mengatakan apa pun apalagi bergerak. Sedangkan He Xiang segera menjelaskan sesuatu pada Gu Yuena.


"Dia adalah Ye Mi, Putri pertama Kakak Yueli. Aku lupa memberitahumu bahwa Kakak Yueli memiliki dua anak. Ye Mi adalah yang tertua." Ia pun melirik ke arah Ye Mi. "Ye Mi, beri salam pada bibimu. Namanya adalah Gu Yuena, kakak dari ibumu."


"Bibi." Ye Mi membungkuk memberi salam.


Gu Yuena hanya diam memperhatikan. Rasanya aneh. Ia seperti melihat dirinya di masa lalu di dalam tatapan Ye Mi.


Pasti menyakitkan tinggal di lingkungan beracun ini.


"Selir He, apa aku bisa bertemu adikku?" tanya Gu Yuena.


"Itu ...." He Xiang tampak keberatan. "Bukannya tidak ingin. Kami memiliki beberapa konflik kecil yang membuat Kakak Yueli melarangku memasuki tempatnya."


"Aku akan pergi bersama Ye Mi." Gu Yuena juga sudah malas melihat He Xiang. Jadi manfaatkan saja.


He Xiang menghela napas. "Baiklah, jika itu maumu. Saat ingin kembali nanti, kamu bisa meminta pada Kakak Yueli atau pelayan untuk mengantarmu."


Gu Yuena hanya menunjukkan senyum sekilas. He Xiang pergi. Sebelum benar-benar pergi, tatapannya terarah pada Ye Mi, yang membuat anak itu semakin menciut.


Sadar akan situasi, Gu Yuena menghadang pandangan He Xiang di belakangnya, lalu menatap Ye Mi dengan senyuman manis. Ia tidak bisa membujuk seorang anak, tapi mungkin bisa menurunkan ketakutannya.


"Antarkan Bibi ini pada ibumu."


Ye Mi menatap Gu Yuena dengan polos. Rasa takut itu hilang, digantikan sebuah suka cita. Itu adalah bibinya dari Keluarga Gu, kakak perempuan ibunya. Kali ini benar-benar bibinya!


"Baik, Bibi."