Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
112. Aku bukan kucing, Ibu



Seperti yang sudah diduga, Li Hua akan terburu-buru mengasah pisaunya agar tujuan yang selama ini diimpikan selesai lebih cepat. Dia membawa Gu Yuena ke ruangan altar sebelumnya untuk menunjukkan banyak hal. Termasuk beberapa monster mengerikan yang muncul dari kegelapan dengan rantai yang mengikat di tiap sisi ruangan.


Baru saja masuk ke dalam, Gu Yuena sudah dibuat sesak akan kehadiran banyak monster yang tiba-tiba meraung di sekitarnya. Sangat penuh dengan monster, seolah ruangannya berada adalah sebuah penangkaran.


Mereka terikat oleh rantai di dalam jeruji besi. Sebelumnya ruangan tersebut kosong, sampai akhirnya dinding batu ruangan menunjukkan rahasianya. Dinding itu berubah menjadi jeruji besi besar mengelilingi seluruh ruangan. Di dalamnya ada banyak monster iblis berbagai bentuk yang dirantai.


Rantai itu menggunakan sihir sehingga tidak mudah dilepas. Meski mereka dirantai dan tidak bisa lari, mereka tetap memgamuk dan mengeluarkan tekanan dahsyat begitu melihat makhluk lain. Seolah ingin menerkamnya.


Gu Yuena jelas tertekan, tapi hanya bisa diam di tempat melihat sang ratu tersenyum puas melihat monster-monster yang meronta dan meraung keras mengelilingi altar. Entah apa yang ada di pikirannya.


"Apa ini?" Gu Yuena bertanya sambil melihat sekelilingnya yang dipenuhi monster iblis. Ia seperti mengalami pengepungan monster. Sangat mengerikan.


"Energi mereka akan digunakan untuk bahan kultivasimu. Tidak perlu menggunakan esensi sihir, hanya perlu menyerap energi mereka sepanjang kultivasi. Jiwa mereka akan memberimu kekuatan." Li Hua menjelaskan secara singkat tanpa memberitahu detailnya. Ia telah menyiapkan ini semua khusus untuk Gu Yuena demi menerobos tingkat 9 lebih cepat. Itu adalah saat-saat penting.


"Apa ini bagian dari kultivasi kekuatan jiwa?" tanya Gu Yuena.


"Ya." Li Hua melihat putrinya dengan senyuman. "Kekuatan jiwamu tidak pernah dilatih, jadi sekalian saja melatihnya. Aku kekurangan batu jiwa, jadi gunakan mereka sebagai pengganti batu jiwa, tidak akan ada bedanya. Ketika pergi ke Dunia Bawah, kamu juga bisa mencari monster iblis untuk diserap."


Gu Yuena dapat merasakan bahwa Xiao Hei di dalam sana bergetar. Sebagai monster iblis, Xiao Hei jelas merasakan ancaman yang nyata dari ucapan Li Hua.


"Apa hanya monster iblis?"


"Monster iblis adalah keberadaan tertinggi setelah makhluk suci. Kamu adalah phoenix, salah satu makhluk suci, bukan masalah melahap monster iblis untuk memurnikan kegelapan."


Menyerap monster iblis yang memiliki energi kegelapan, sama saja membuat tubuh Gu Yuena menyatu dengan kegelapan. Aura Gu Yuena tidak akan ada bedanya dengan iblis. Apa itu masih bisa disebut makhluk suci yang memurnikan kegelapan?


Sepertinya pemahaman Li Hua berbeda dari apa yang dipikirkannya mengenai kultivasi iblis.


"Intinya, selama bisa menjadi kuat, kamu akan melakukan berbagai cara yang bisa kamu lakukan. Yang kuat melahap yang lemah, kamu tetap di sini dan membuat pilihan hidup atau mati. Jika hidup, lahap mereka." Li Hua melihat Gu Yuena penuh arti. Ini memang akan sedikit menyakitkan, tapi tidak ada pilihan lain. Gu Yuena akan memiliki kekuatan para monster tersebut dan meningkat seiring kekuatannya berkembang.


Gu Yuena sendiri tidak memiliki masalah atau keberatan menyerap energi mereka. Ia pikir, sang ratu benar. Jika tidak melahap mereka, maka ia yang akan dilahap. Anggap saja sedang berada di tengah hutan dalam keadaan antara hidup dan mati. Meski harus menghancurkan moralnya sekalipun.


Li Hua mengarahkan Gu Yuena, memberitahu bagaimana caranya melahap mereka sekaligus. Selama periode ini, orang-orangnya akan memburu monster iblis dan mengirimkannya pada Gu Yuena sampai menerobos tingkat.


Cara paksa seperti ini sudah lama ditinggalkan karena efek samping yang berbahaya. Jika Gu Yuena tidak dapat menerima kekuatan monster tertentu, maka monster tersebut akan menguasainya dan menggantikan jiwanya. Ini menyangkut perebutan energi mengenai siapa yang melahap dan dilahap.


Ketika penyerapan dilakukan, monster tersebut akan menghilang, melebur menjadi bagian kekuatan penyerap. Pada saat itulah perebutan kendali dimulai, siapa yang menguasai siapa. Jika Gu Yuena dapat mengalahkan penolakan monster, maka ia akan menang dan dapat menggunakan kekuatannya. Namun, bila sebaliknya, maka Gu Yuena akan mati, monster itu akan menguasai tubuh Gu Yuena. Ini sama seperti kerasukan.


Li Hua telah menjelaskannya secara spesifik agar Gu Yuena memahami semua konsekuensi dan apa yang harus dilakukan. Karena memang tidak memiliki pilihan, Gu Yuena hanya bisa melanjutkannya tanpa bisa mundur atau memilih jalan lain.


Rencananya adalah meyakinkan Li Hua bahwa dia ada di pihaknya. Maka Gu Yuena harus menuruti semua keinginannya, setidaknya sampai Li Hua menunjukkan kuasanya membangkitkan Gu Ying dari kematian. Ia akan membantu sampai hari itu tiba sambil mencari kelemahan Li Hua dan menemukan kakaknya.


Proses penyerapan dilakukan. Gu Yuena menggunakan kekuatan jiwa, menarik energi semua monster tersebut ke dalam tubuhnya sebagai pengganti esensi sihir. Monster-monster itu mengamuk semakin parah, tapi berangsur pendiam ketika tubuh fisik mereka menjadi gumpalan kabut.


Kekuatan jiwa dapat menyerap jiwa manapun seperti yang dilakukan Gu Yuena kali ini. Bedanya, tidak hanya jiwa yang ia serap. Biasanya seseorang yang diserap jiwanya hanya mengalami perubahan fisik seperti tubuh yang mengering. Namun, kali ini Gu Yuena menyerap semuanya untuk dijadikan kekuatan individu.


Dalam kesadaran jiwa Gu Yuena, para monster menyerangnya. Berbagai macam serangan diluncurkan bagai gelombang monster yang siap menerkamnya. Gu Yuena bertahan di bawah tekanan dan menghabisi mereka layaknya dalam perburuan besar.


Kemampuan penyihir tidak berguna dalam kesadaran jiwa. Ia sepenuhnya menggunakan kekuatan jiwa dan memanfaatkan pisau terbang phoenix kematian untuk menghancurkan semua kesadaran monster yang ingin melahapnya.


Dalam waktu yang cukup lama, akhirnya semua monster mati di bawah tangan Gu Yuena. Mereka semua berkumpul menjadi kumpulan kabut dan diserap ke dalam jiwa Gu Yuena, untuk digunakan sebagai kekuatan individu. Kekuatan iblis yang masuk menyebabkan cukup gangguan pada tubuhnya.


Bahkan Gu Yuena sampai harus mengeluarkan darah dari mulut karena kekuatan iblis yang masuk secara tiba-tiba. Sebagai bagian dari adaptasi, ia harus merasakan perasaan tidak nyaman untuk sesaat. Itu berlangsung tak lama setelah penyerapan berhasil.


Rasanya cukup memuaskan. Ini kali pertama Gu Yuena menyerap atau melahap makhluk untuk dijadikan bahan kultivasinya sendiri.


Perasaan kekuatan iblis yang mengalir di meridiannya sangat deras dan menciptakan perasaan nyaman. Meski awalnya Gu Yuena merasakan rasa sakit ketika dalam proses penyerapan pertama kali, darah phoenix dapat mengimbanginya. Untuk selanjutnya, tidak akan sesakit ini.


"Nona, kekuatanmu bertambah besar." Xiao Hei berbisik dari ruang spiritual.


Xiao Bai keluar dari ruang spiritual, menyeret Xiao Hei keluar bersamanya. Beruntung Li Hua sudah pergi sejak membiarkan Gu Yuena melahap monster sehingga mereka bebas bicara. Hanya saja, Xiao Hei menjadi sedikit ketakutan sejak tadi.


"Ada napas iblis dari auramu. Jika orang lain yang merasakannya, mereka akan menganggapmu sebagai iblis." Xiao Bai agak cemas. Keberadaan iblis sangat rentan. Orang pasti akan memburu Gu Yuena, lebih buruk dari fakta bahwa dia adalah penyihir.


"Itu akan berlangsung sampai aku meraih tingkat 9, tenang saja. Selama periode itu, aku tidak akan keluar dari istana." Gu Yuena menjamin bahwa aura iblisnya tidak akan keluar. Setelah mencapai tingkat 9 dan dipromosikan menjadi phoenix, aura iblisnya akan menghilang digantikan oleh aura phoenix yang nyata.


"Lalu, kita akan tetap di sini sampai hari itu tiba?" Xiao Bai merasa tidak nyaman. Tempat ini jelas sangat buruk melebihi kediaman marquess tempatnya disekap dulu. Monster-monster itu juga mengerikan.


"Nona, sepertinya ratu merencanakan sesuatu padamu. Selain memberi fasilitas kultivasi untuk menarik opinimu, dia pasti memiliki rencana lain untuk menguasaimu sepenuhnya," ujar Xiao Hei.


"Dia sudah melakukannya." Gu Yuena menghela napas. Ia melihat sekitar ruangan yang kosong dalam diam, kemudian melihat ke arah altar dan melanjutkan, "Dia ingin membuatku menggila karena kekuatan jiwa. Dengan melatih kekuatan jiwa menggunakan monster iblis, aku akan semakin sulit mengendalikan pikiranku sendiri. Setelah hal itu terjadi, dia baru bisa mengendalikanku seutuhnya."


"Kalau begitu, bukankah Nona dalam bahaya!" Xiao Bai semakin panik.


Gu Yuena tersenyum misterius. "Untuk itu, tentu saja aku memiliki persiapan. Xiao Bai, kamu harus membantuku saat itu terjadi."


"Apa yang bisa kulakukan?" Xiao Bai bertanya-tanya.


"Kamu akan tahu begitu saatnya tiba. Saat itu, seharusnya aku sudah berada di Dunia Bawah." Gu Yuena tersenyum penuh arti. Hal tersebut membuat dua kucing itu semakin penasaran, apa saja yang sedang direncanakan nona mereka.


Sedangkan Gu Yuena sendiri hanya bisa bertaruh pada dirinya sendiri atas keberhasilan rencana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat atas keberhasilanmu melahap monster iblis untuk pertama kalinya." Li Hua menyambut Gu Yuena dengan tangan terbuka saat wanita itu datang ke ruangannya. Tidak disangka akan selesai secepat ini, Gu Yuena memang berbakat.


"Tidak ingin memeluk ibumu?" Li Hua merasa agak kecewa akan sikap dingin Gu Yuena.


"Tidak perlu basa-basi. Kau memanggilku ada urusan apa?" Gu Yuena malas bicara panjang lebar pada orang ini. Di matanya, wanita itu bukan lagi ibunya, melainkan sang ratu. Wanita itu benar-benar tidak memberinya istirahat sejenak setelah melahap monster.


Li Hua menurunkan kedua tangannya, memegang tongkat di sampingnya dengan agung. Senyum di bibir merah itu masih terukir jelas ketika melihat Gu Yuena.


"Ada beberapa hal yang ingin kuberikan padamu." Li Hua mengeluarkan cincin ruang miliknya, lalu memberikannya ke tangan Gu Yuena.


Gu Yuena menangkapnya, lalu memeriksa apa saja barang di dalam cincin ruang tersebut. Ketika matanya mengintip ke dalam cincin, ia terkejut ketika sebuah sinar merah muda meluncur ke arahnya dan memasuki kedua matanya begitu saja. Spontan Gu Yuena menutup mata.


"Apa-apaan ini?" Gu Yuena benar-benar menutup matanya akibat sinar merah yang tiba-tiba menusuk matanya. Terasa perih.


"Jangan khawatir, itu adalah hadiah yang kupersiapkan untukmu. Terima, dan rasakan dengan jelas." Li Hua tetap tenang sambil duduk di kursi kerjanya.


Menenangkan diri, Gu Yuena perlahan membuka mata. Sinar merah muda memancar dari matanya ketika dibuka, sedangkan pandangan Gu Yuena yang mulai menerima sinar terasa sangat berat. Seperti ada cahaya yang begitu terang di depan matanya, masuk begitu saja.


Ketika pandangan Gu Yuena dapat melihat dengan jelas, hal yang ia lihat adalah sebuah lingkaran sihir merah muda yang tertera tepat di depan matanya. Memang tidak muncul langsung di depannya, tapi itu tertanam di bola mata merahnya sehingga ia dapat melihat lebih jelas apa saja di dalam sana.


Lingkaran sihir dengan pola rumit serta kekuatan yang besar. Gu Yuena mencetaknya dalam pikiran dan menanamnya dalam kekuatan spiritual untuk digunakan. Itu adalah lingkaran sihir yang digunakan di bagian mata.


Selain dapat melihat kejauhan bagai melihat dunia luas, dia juga dapat memanfaatkan mata orang lain melalui lingkaran sihir tersebut untuk mengamati keadaan. Fungsi lainnya adalah melakukan pembidikan serangan secara akurat ke titik vital secara langsung. Itu juga dapat digunakan untuk menghipnotis siapa pun yang memandang matanya.


"Itu adalah lingkaran sihir mata iblis, akan berguna saat kamu berada di Dunia Bawah. Selama di sana, informasi yang tepat sangat dibutuhkan." Li Hua berkata dengan bangga.


"Terima kasih." Gu Yuena sedikit menunjukkan senyumnya. Kemampuan ini sangat ia butuhkan.


"Selain itu, ada juga beberapa barang di dalam sana yang bisa menjadi barang kebutuhanmu. Suatu hari, kamu akan membutuhkannya."


Gu Yuena sedikit mengangguk, lalu melihat ke arah cincin ruang tersebut lagi. Kali ini tidak ada kejutan tiba-tiba.


Tapi tiba-tiba saja Gu Yuena teringat sesuatu. "Setelah misi ini, aku akan mengembalikannya padamu." Ini bukan miliknya, dan ia sudah berencana akan pergi dari sini. Dia tidak boleh bersikap tidak tahu diri dengan membawa semua barang ini.


"Mari kita lihat apa kau bisa melakukannya atau tidak." Li Hua diam-diam tahu apa yang dipikirkan Gu Yuena. Ia tidak akan membiarkan Gu Yuena pergi dari sini apa pun yang terjadi.


"Apa ada urusan lain?" tanya Gu Yuena. Ia tidak ingin dipanggil terus, jadi sekalian saja selesaikan hari ini.


"Menurutmu, bagaimana muridku?" Li Hua sepertinya terpikirkan sesuatu.


Gu Yuena memahami maksudnya. "Entahlah. Aku juga tidak terlalu memikirkannya, dan berharap kau juga tidak memikirkannya."


"Sayang sekali. Kamu adalah phoenix, akan sangat baik jika bisa berkultivasi bersama naga."


"Tidak, terima kasih." Gu Yuena tersenyum. "Aku memiliki nagaku sendiri."


Li Hua melihat ke arah cincin biru yang menempel di jari manis Gu Yuena. Tatapannya menjadi tidak senang. Ia jelas tahu cincin apa itu dan siapa yang memilikinya dulu. Bisa-bisanya ada di tangan putrinya.


"Hubungan kalian sangat baik." Li Hua berkata dengan nada sindiran.


"Sangat baik."


"Saking baiknya, bahkan nagamu saat ini tidak menemuimu. Kalian berpisah dalam waktu lama, apa dia masih bisa dipercaya?"


"Untuk itu, Yang Mulia tidak perlu memikirkannya. Aku ... tidak akan mengganti nagaku." Gu Yuena menegaskannya dengan tenang disertai senyuman terbaik. Setelah mengatakannya, ia pun berbalik pergi.


Li Hua terlihat tidak senang melihat Gu Yuena membantahnya bertubi-tubi. Apalagi memiliki hubungan dengan musuh, itu sama saja pengkhianatan.


Sadar akan tatapan seseorang, Gu Yuena menghentikan langkah sebelum benar-benar keluar ruangan. Ia sedikit menoleh, lalu berkata, "Satu lagi. Aku bukan kucing, Ibu." Ia pun pergi tanpa menoleh untuk melihat wajah buruk ibunya sendiri.


Li Hua menghentakkan lengannya kesal, lalu menghela napas panjang. Ini adalah toleransi baginya karena masih membutuhkan Gu Yuena. Baik, jika putri kesayangannya itu tidak mau menuruti apa katanya.


"Baik, kuserahkan semua padamu." Pada akhirnya, Gu Yuena tetap tidak akan bisa lepas dari genggamannya. Ia akan membuat Gu Yuena menjauh dengan sendirinya dari orang-orang itu dan memihaknya.


Di dunia ini, tidak ada siapa pun yang lebih mengerti Gu Yuena dibandingkan dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Tidak seorangpun.


Di sisi lain, Gu Yuena berjalan dengan lesu menuju kamarnya sendiri. Berani sekali mentalnya berkata demikian pada sang ratu. Meski ia masa bodoh, tapi tetap saja terasa berat. Kucing? Ia memang kucing, tapi bukan kucing yang itu. Ia bukan kucing yang bergonta-ganti pasangan!


Jelas-jelas ucapannya tidak salah, tapi ia merasa merasa bersalah mengatakannya setelah menerima pemberian wanita itu seolah ia adalah manusia tak tahu diri. Li Hua pasti sedang mengamuk sekarang.


"Sudahlah, tenangkan pikiranmu ...." Gu Yuena yang merebahkan tubuh di atas tempat tidur mengambil napas panjang dan menghembuskannya.


Xiao Bai di dalam sana pasti merasa tertuduh. Ia harus minta maaf, menjelaskan kalau dia tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya kesal karena Li Hua menjodohkannya dengan orang lain, apalagi orang itu telah membunuh orang terdekatnya.


Namun, sepertinya Xiao Bai tidak terlalu peduli. Nyatanya kucing itu anteng-anteng saja makan ikan kering ketika Gu Yuena menemuinya untuk minta maaf. Justru, kucing itu sendiri yang tidak mengerti maksud perkataan Gu Yuena.


Gu Yuena tidak perlu sulit menjelaskannya lagi sambil menahan malu. Tidak ada yang perlu dijelaskan.


Setelah hari itu, Gu Yuena melanjutkan kultivasi seperti yang telah direncanakan. Ketika petugas mengumpulkan monster iblis untuk dilahap, Gu Yuena langsung melanjutkan kultivasinya.


Untuk pelahapan selanjutnya, Gu Yuena tidak membutuhkan terlalu banyak waktu apalagi merasakan rasa sakit. Ia melahap dengan lancar selama beberapa waktu sampai kekuatannya penuh akan energi iblis.


Gu Yuena telah mengembangkan banyak keterampilan sihir sendiri sebagai penunjang kekuatan tempurnya. Memang butuh waktu yang lama serta kultivasi yang membosankan, tapi dia tidak berhenti demi melaksanakan rencananya.


Hingga akhirnya, waktu yang telah direncanakan sudah di depan mata.