
Gu Yuena melihat Gu Ying yang tengah duduk di bangku sambil melihat kolam cermin yang menampakkan kondisi beberapa tempat di Dataran Mitian. Wajahnya terlihat sangat tenang, sampai akhirnya menyadari kedatangan Gu Yuena di tempatnya.
Dia menunjukkan senyum halus, lalu berkata, "Apa yang sedang kamu tunggu?"
Gu Yuena yang kikuk sedikit menggeleng. Ia menghampiri pria itu dengan canggung. Kecanggungan Gu Yuena membuat Gu Ying tertawa, lalu meminta duduk di sebelahnya. Bangku yang ia tempati cukup panjang sehingga memberi ruang yang luas untuk Gu Yuena.
Namun, Gu Yuena masih terlihat canggung dan bingung. Apa yang harus ia katakan selanjutnya?
"Apa yang membuatmu gelisah?" tanya Gu Ying. Dia dapat melihat sepasang iris merah yang tampak bingung itu.
Gu Yuena dengan ragu bertanya, "Kau tahu aku?"
Gu Ying tertawa akan pertanyaan konyol Gu Yuena. Jadi itu yang putrinya gelisahkan sejak tadi. Ia melihat Gu Yuena dengan santai, lalu berkata, "Apa aku akan memintamu datang ketika aku tidak mengenalimu, Nana?"
Untuk sesaat, Gu Yuena merasa tindakannya sangat bodoh. Ia tertawa canggung, lalu duduk di samping Gu Ying dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia bicara dengan ayahnya ... setelah melewati kematian. Benar-benar tidak habis pikir.
"Kamu sudah sangat besar, aku senang melihatnya."
Gu Yuena berkata, "Apa kau sudah tahu segala yang terjadi selama ini?" Ia bertanya demikian karena melihat Gu Ying yang memperhatikan kolam cermin. Itu adalah sesuatu yang digunakan Li Hua untuk memantau situasi dunia, termasuk memantaunya.
"Tidak banyak." Sekiranya, ia hanya tahu apa yang dia lihat serta apa yang dikatakan Li Hua padanya.
"Oh." Gu Yuena menurunkan pandangan, lalu menghela napas. Pikirannya kembali terbebani.
Gu Ying menuangkan teh di meja, lalu memberikannya pada Gu Yuena. "Untuk menenangkan dirimu."
Gu Yuena menerimanya, tapi tidak diminum. Ia justru melihat air dalam cangkir untuk beberapa waktu. Pandangannya redup, lalu tanpa sadar berkata, "Sejak awal, apa kau sudah tahu kalau kau akan mati hari itu?"
Gu Ying sudah siap akan pertanyaan tersebut dan tersenyum kecut. "Tapi aku tidak berpikir bahwa segalanya akan lebih kacau. Maafkan ayah, membuatmu harus mengalami hari terburuk di mana seharusnya adalah hari bahagiamu."
Awalnya ia berencana membuat Gu Yuena senang dulu dan mengakhiri hari serta bepisah dengan baik. Waktunya berada di dunia itu terbatas, Li Hua dan Gu Yuan juga sama. Hanya Gu Yuena yang dapat selamat dari kematian berkali-kali.
"Bukan apa-apa. Ibu dan kakak juga melakukan hal yang sama." Ia kembali melihat ayahnya, "Apa kau baik-baik saja?"
"Seperti yang Nana lihat."
"Itu bagus." Mendadak, Gu Yuena tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Matanya sedikit berkaca-kaca. Ada perasaan takut dalam hatinya. Antara takut kehilangan dan takut kekacauan kembali terjadi.
Tiba-tiba Gu Ying terpikirkan sesuatu. "Jangan menyalahkan ibumu. Dia melakukan apa yang menurutnya benar untuk kita semua."
Gu Yuena mengalihkan pandangan. "Aku tidak menyalahkan." Ia pun tersenyum kecut, "Aku juga tidak menyalahkan fakta bahwa dia memanfaatkanku."
"Dia menyayangimu."
"Kau melihatnya seperti itu?" Gu Yuena terkekeh, "Dia pasti berkata seperti itu. Dia juga berkata seperti itu padaku. Tapi dia tidak terlihat seperti ibuku."
"Iblis hati menguasainya."
Gu Yuena terdiam, lalu menatap Gu Ying dengan terkejut. "Iblis hati?"
"Sosok aslinya adalah Li Hua yang berada di dunia itu. Sepertinya, iblis hati menguat ketika orang-orang itu membunuhmu." Gu Ying menghela napas, lalu melanjutkan, "Ketika Klan Ye menyakitimu saat itu, kamu seharusnya sudah tiada. Li Hua terlalu marah sampai terobsesi untuk mengembalikan semua nyawa. Di saat yang sama, Gu Yuan juga mengalami kritis karena kekuatan jiwa, yang menambah obsesinya."
"Jadi dia mengirim kita bertiga?" tanya Gu Yuena. Seberapa kuat ibunya? "Tapi ... kau ...."
"Jiwaku disimpan di tulang iblis, lalu ikut bersama kalian membentuk tubuh baru dan ingatan baru. Kamu dan Gu Yuan dilahirkan kembali, seperti segalanya tidak pernah terjadi."
"Jadi ... dunia itu adalah dunia buatan?"
Gu Ying menggeleng. "Dunia itu nyata, kita yang tidak nyata. Seperti saat ini."
Gu Yuena tidak habis pikir. Meski ia pernah berpikir demikian, itu baru angan-angan. Menarik jiwa ke dunia lain untuk membentuk kehidupan baru. Pengorbanan yang dilakukan tidak akan kecil.
"Sudah paham betapa ibumu sangat menyayangimu? Iblis hati hanya mengikuti keinginan terpendamnya dengan menggunakan cara ekstrim. Pada akhirnya, tetap harus ada orang yang membatasinya."
Gu Yuena mengangguk paham. Lalu ia teringat tentang Yang Xinyuan. Yang Xinyuan ada sebelum iblis hati memperburuk keadaan. "Yang Xinyuan ...."
"Dia adalah bagian dariku." Gu Ying langsung menjelaskan, "Li Hua tahu kamu memiliki darah phoenix, jadi takut akan kutukan darah phoenix. Karena keberadaan darah naga tidak jelas, Li Hua menggunakan bayi naga sebagai medium darah nagaku, membuat bayi naga itu memiliki darah manusia yang memiliki konstitusi darah naga."
Darah naga dari manusia adalah anugerah, berbeda dari darah milik naga asli. Itu sebabnya, untuk membuat penelitiannya berhasil, Li Hua menggunakan telur naga di dunia bawah untuk disuntikkan darah naga Gu Ying yang sudah mati. Rupanya eksperimen itu berhasil.
Ini juga termasuk meneruskan eksperimen Raja Istana Linghun terdahulu yang sempat terhenti karena telah melampaui batas kemanusiaan, membuat Istana Linghun diasingkan dari generasi ke generasi. Yang Xinyuan adalah hasil yang sempurna. Itu sebabnya dia tidak pernah melihat dunia sejak kecil dan mengalami kehidupan yang keras sebagai murid Li Hua.
Li Hua sangat memperhatikannya. Namun, Gu Yuena tidak bisa menerimanya.
"Tapi ... apa kau tahu ada darah naga lain di luar sana?" tanya Gu Yuena.
Gu Ying berpikir sejenak. Li Hua tidak memberitahu hal ini padanya, jadi dia menggeleng. Kolam cermin juga hanya menunjukkan situasi saat ini.
"Jika aku pergi dari sini, apa kau akan marah?" Gu Yuena bertanya lagi.
Gu Ying menatapnya dengan penuh pertimbangan. "Kau mungkin memiliki alasan."
"Apa pun alasannya, aku sudah memutuskan untuk tidak di sini. Bagaimana pendapatmu?"
Gu Ying tersenyum, lalu mengusap kepala putrinya. "Kenapa? Kamu ingin mengejar nagamu?"
Gu Yuena merasa tidak seharusnya Gu Ying bersikap begitu. "Kau tidak berpikir aku adalah pembangkang?"
"Ada saatnya kau harus pergi." Gu Ying tetap terlihat sangat tenang. "Ketika menyadari aku memiliki anak perempuan, aku sudah tahu suatu hari dia akan pergi. Itu sebabnya, aku ingin dia mendapatkan masa-masa terbaik agar tidak melupakan keluarganya. Sayangnya ...." Itu semua telah gagal. Bukannya kenangan terbaik, Gu Yuena justru mendapat trauma. Akan lebih baik jika melupakan semua itu.
Gu Ying melanjutkan, "Oleh karena itu, hiduplah dengan baik. Akan lebih baik jika kamu meninggalkan masa lalu. Lakukan apa yang kau inginkan."
Inilah yang ingin Gu Yuena dengar.
Dia tidak lagi canggung dan memiliki aura kacau seperti sebelumnya. Di sampingnya adalah ayahnya, sama sekali tidak berubah. Ia sangat senang.
Anda saja mereka hidup sebagai orang biasa. Baik dia maupun Gu Yuan, tidak akan mengalami masalah tak diinginkan seperti ini.
Gu Yuena pikir hatinya sudah cukup kuat. Tapi ia selalu lemah.
"Boleh aku memelukmu?" tanya Gu Yuena.
Gu Ying tersenyum hangat, lalu mengangguk. Gu Yuena memeluknya dari samping, lalu merasakan kesedihan yang mendalam di hatinya.
Ia tidak ingin memilikirkan berbagai kemungkinan terburuk, tapi ia tidak bisa merubah fakta. Fakta bahwa aura iblis ayahnya sangat kacau. Tulang iblis mengkorosinya.
"Aku akan menikah. Aku harap kau dapat mengantarku, Ayah."
Gu Ying memeluk balik putrinya, "Aku harap begitu."
Tapi sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi.
"Darah naga yang kusebut adalah putra Bai Yue. Aku akan menikah dengannya." Gu Yuena menjelaskan sambil menekan rasa sedih di hatinya.
"Tidak heran." Gu Ying sebenarnya memiliki spekulasi tentang itu. "Kamu mencintainya?"
"Ya."
"Aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu, aku harap dia memperlakukanmu lebih baik."
Ayah sudah sangat baik. Gu Yuena ingin berkata seperti itu, tapi lehernya tercekat. Ia pun hanya diam, bersikap seperti anak perempuan yang akan pergi pada umumnya.
Andai Gu Ying bisa hidup lebih lama, perang yang terjadi akan berhenti dengan sendirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bai Youzhe tidak bisa menghentikan fenomena bulan merah meski dia adalah penguasa dunia bawah. Ia hanya bisa meminimalisir kerusakan akibat menipisnya perbatasan dunia. Iblis mulai muncul di mana-mana, menyebabkan banyak korban jiwa dan ketakutan.
Ia pikir fenomena bulan merah ada hubungannya dengan tulang iblis dan kebangkitan Gu Ying. Ia semakin gelisah, apa Gu Yuena baik-baik saja di sana atau tidak.
Setelah mengatasi masalah perbatasan, dia langsung pergi ke wilayah Istana Linghun. Kota di dekat Istana Linghun terlihat normal. Mereka tidak tahu akan keberadaan Istana Linghun di sekitar mereka, serta beberapa orang Aula Linghun yang mendiami tempat.
Ketika Bai Youzhe tiba, ia dapat merasakan banyak aura penyihir di tempat ini. Terasa seperti memasuki kandang singa.
Dia menyamarkan auranya agar terkesan seperti rakyat biasa, lalu berjalan semakin dalam ke arah kota. Kota ini masih dalam lingkup Kekaisaran Yi sehingga para penyihir tidak bisa muncul secara mencolok.
Tapi sepertinya Bai Youzhe tidak akan bisa mendapatkan hari yang tenang. Sepasang mata elangnya menemukan sosok pria serba hitam tengah duduk di dalam ruang privat. Dia melihatnya dari jendela yang terbuka.
Kali ini pria itu tidak mengenakan topeng, menampakkan wajahnya yang tampan dan dingin. Di mejanya ada sebuah papan weiqi. Ketika meletakkan satu bidak weiqi, ia menyadari seseorang yang familiar hadir.
Yang Xinyuan melihat ke luar jendela, mendapati Bai Youzhe yang sepertinya berjalan ke arah lain. Ia menarik sebelah alisnya.
"Ada masalah yang belum terselesaikan," gumamnya, lalu mendengus.
Konflik keduanya belum selesai. Baik konflik di Dunia Bawah maupun masalah Gu Yuena, belum terselesaikan dengan baik. Bai Youzhe masih menyimpan cuka mengingat pria itu memiliki banyak waktu bertemu Gu Yuena di Istana Linghun.
Jika keduanya bertemu secara langsung, entah apa yang terjadi selanjutnya. Kini keduanya ada di kota yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah dua hari sejak Gu Ying bangkit kembali, Gu Yuena beberapa kali menemuinya untuk memastikan bahwa segalanya baik-baik saja sebelum dia pergi. Gu Yuena ingin berpisah dengan benar. Dengan adanya Gu Ying, Li Hua juga pasti akan dibatasi.
Seperti ketika Bai Youzhe membatasi Gu Yuena yang terpengaruh iblis hati. Ia harap Li Hua dapat mengatasi iblis hati juga, agar mereka tidak perlu bermusuhan.
Tapi ... apa itu mungkin? Iblis hati sudah bertahun-tahun menguasai Li Hua, akan sulit bagi kesadaran aslinya untuk melawan. Itupun kalau kesadarannya ingin bangkit, tapi sepertinya Li Hua tidak berniat seperti itu.
Gu Yuena menghela napas panjang. Dia memandang pemandangan istana dari jendela kamarnya, bersama Xiao Hei dan Xiao Bai yang menemani.
Pintu diketuk seketika. Sadar siapa yang datang, Gu Yuena membiarkannya masuk. Gu Yuan melihat adiknya yang sedang murung itu dengan perasaan berat.
"Nana." Gu Yuan memanggil, lalu menghampiri.
Gu Yuena berbalik, melihat kakaknya dengan senyum paksa. "Kakak?"
"Luo Yi berkata kau akan pergi. Apa itu benar?" Gu Yuan memastikan.
Gu Yuena mengangguk pelan, lalu pergi ke bangku dan duduk di sana. Gu Yuan juga mengikut.
"Apa ayah dan ibu tahu?" tanya Gu Yuan begitu dia duduk di depan adiknya.
"Hanya ayah," balas Gu Yuena. Tatapannya melihat Gu Yuan penuh pertimbangan. "Aku harap kamu bisa ikut."
Gu Yuan menunjukkan senyumnya yang tulus. "Nana, jika diberi pilihan, aku pasti akan memilih tinggal di kota sebagai orang biasa. Ibu membutuhkanku." Itu artinya dia menolak.
"Dia akan meminta pengorbanan darah lagi. Tidak, dia akan 'mencuci' dunia dengan kuasanya."
"Aku akan memastikan dia tidak melakukannya. Ayah juga sudah ada di sini, segalanya akan baik-baik saja."
Gu Yuena tersenyum tipis. "Aku harap begitu."
Pada akhirnya, siapa pun tetap tidak ada yang bisa mengendalikan Li Hua. Gu Yuena sendiri tidak tahu seberapa kuat wanita itu. Ia tidak percaya diri untuk melawan setelah mendengar semua yang tidak ia ketahui mengenai Li Hua.
Iblis hati akan bertindak secara brutal dan kejam. Ditambah ambisi Li Hua yang semakin membesar, disertai amarah dan dendam. Dia tidak akan berhenti apa pun alasannya. Meski Gu Ying meyakinkannya sekalipun.
"Apa kamu harus pergi? Istana Linghun cukup bagus."
"Memang sangat bagus." Gu Yuena tersenyum kecut. "Tapi aku memiliki masalahku sendiri, tanggung jawabku sendiri, juga kehidupanku sendiri."
"Ibu tidak akan mengizinkan."
"Aku tahu." Gu Yuena sudah memiliki rencana agar Li Hua dapat melepaskannya secara sukarela. Ia tidak bisa berada di tempat ini seumur hidup. Meski ia mau, situasi tidak mendukung.
Gu Yuena adalah seorang Ratu. Dia memiliki dendam yang sangat besar terhadap Aula Linghun. Tidak mungkin dia berdampingan dengan mereka.
Dia ingin menghancurkan Aula Linghun. Namun ... Yang Xinyuan bukan orang yang mudah. Dia memiliki darah naga Gu Ying, dan terikat pada Gu Ying. Setelah Gu Ying mati dan jiwanya tercerai-berai, pria itu akan bebas tanpa ikatan dan menjadi lebih berbahaya.
Adapun Bai Youzhe. Ia telah memutuskan ingin seperti apa di masa depan dan bersama siapa. Seperti yang dikatakan Gu Ying, melakukan apa yang Gu Yuena inginkan. Asal tidak merugikan orang banyak, Gu Yuena akan melakukan apa pun.
"Aku hanya takut ibu melakukan sesuatu yang besar di masa depan. Aku pernah mendengar tentang sebuah rencana, apa yang dia rencanakan?"
Gu Yuan terlihat serius. "Aku tidak yakin kau akan bisa menerimanya."
"Aku akan mendengarkan."
Gu Yuan mempertimbangkan apa harus mengatakannya atau tidak. Li Hua tidak memberitahu Gu Yuena karena kurang adanya kepercayaan. Jika ia memberitahu Gu Yuena, apa akan menjadi boomerang?
Tapi dia juga harus memiliki seseorang yang dapat membatasi tindakan Li Hua. Gu Yuena adalah orang yang tepat.
Saat Gu Yuan akan menjelaskan apa yang telah direncanakan bersama Aula Linghun, pintu kamar Gu Yuena diketuk lagi dengan tempo tergesa-gesa.
Gu Yuena berdecak, lalu membiarkan orang itu masuk untuk memberi berita. Itu adalah pelayan di sisi Li Hua.
"Terjadi sesuatu pada Yang Mulia Raja."
Satu kalimat yang berhasil membuat jantung Gu Yuena berdenyut. Dia dan Gu Yuan saling bertukar pandang, sebelum akhirnya buru-buru pergi ke kamar Gu Ying.
Perasaan Gu Yuena semakin buruk. Dia ingin berpisah baik-baik dan tidak ingin mengalami kejadian seperti di masa lalu, lebih baik tidak melihat dan mengalaminya. Namun, kenyataan tak mendukung.
Ketika keduanya sampai di kamar Gu Ying, mereka melihat Li Hua yang terlihat frustrasi menyalurkan kekuatannya untuk mempertahankan vitalitas Gu Ying. Pria itu terlihat tidak berdaya dengan kesadaran yang hampir terhapus.
Gu Yuan langsung menghampiri, lalu bertanya apa yang terjadi. Rupanya tulang iblis benar-benar mengkorosi tubuhnya. Kekuatan darah naga dan tulang iblis berada di jalan berbeda, membuat keduanya bentrok dan tidak dapat ditampung oleh tubuh fisik.
Pikiran Gu Yuena kosong seketika.
Li Hua menyadari kehadirannya, lalu membiarkan Gu Yuan mengurus Gu Ying sementara dia pergi menghampiri Gu Yuena.
"Nana, kamu bisa kembali ke Dunia Bawah, kan? Tidak, tidak harus ke Dunia Bawah. Kamu hanya perlu mengambil lebih banyak darah. Kamu bisa melakukannya. Aku membutuhkan lebih banyak darah untuk mempertahankan nyawa ayahmu." Li Hua bicara dengan tergesa-gesa, berusaha meyakinkan Gu Yuena untuk 'mengambil' darah lagi.
Gu Yuena menatapnya dengan pandangan rumit. Ia melihat ke arah Gu Ying, ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Jika tidak ingin segalanya berantakan, ia harus menuruti Li Hua dengan membawa lebih banyak darah. Darah manusia lebih baik.
Tapi ....
Gu Yuena mendapati Gu Ying yang menatapnya dengan sebuah isyarat. Pria itu menggeleng, membuat Gu Yuena tertekan. Apa yang harus ia lakukan.
"Nana, ambil ini dan simpan di sini. Cari lebih banyak dalam waktu singkat. Kamu bisa melakukannya." Li Hua memberikan Gu Yuena sebuah alat untuk menampung darah. Itu bukan lagi tulang iblis, melainkan sebuah mutiara berwarna merah darah. Mutiara pemakan darah.
Gu Yuena tetap diam, merasa gelisah. Ia melihat ke arah Gu Ying yang terus memintanya untuk tidak membiarkan Li Hua melakukan hal yang sama. Selain menyebabkan kekacauan dunia dan ketidakseimbangan, kekuatan Li Hua juga dikorbankan yang akan membahayakannya.
Gu Yuena melihat ke arah mutiara pemakan darah. Ia tidak ingin Gu Ying pergi lagi, dia ingin Gu Ying tetap hidup.
"Nana?" Li Hua melihat mata Gu Yuena yang menjadi redup tanpa mengatakan apa pun. Ia merasa kalau Gu Yuena akan menolak.
Gu Yuena mengambil mutiara pemakan darah dengan ragu. Perasaan mendesir dan bau darah tercium dari benda itu, membuatnya dipenuhi perasaan haus darah yang kuat.
Benar-benar benda yang jahat.
"Bagus." Li Hua tersenyum. Putrinya memang tidak akan mengecewakan.