
Gu Yuena mengalami hari yang damai di Istana Phoenix. Dia tidak begitu terganggu karena pengelihatannya. Itu justru membuat inderanya semakin sensitif.
Bai Youzhe tidak memberitahu apa pun mengenai Wyvernia saat ini. Dia hanya fokus pada penyembuhan Gu Yuena, tidak ingin membuatnya merasa kacau lagi.
Seharusnya Gu Yuena sudah pulih berkat kemampuan regenerasinya yang mengerikan, tapi masa-masa ketenangan ini terlalu sulit ditolak. Jika mereka kembali ke Istana Penguasa, mereka hanya akan dibebankan oleh pekerjaan untuk kesekian kalinya.
Bai Youzhe tidak mau pekerjaan membuatnya menjauh dari Gu Yuena. Gu Yuena baru saja kehilangan pengelihatannya, dia ingin menemani lebih lama tanpa adanya gangguan. Jadi sejauh ini, dia tidak mengungkit masalah Istana Linghun atau sejenisnya.
Gu Yuena sendiri masih belajar membiasakan diri dan mengandalkan indera lainnya untuk melakukan sesuatu dalam sehari-hari. Belum lagi menggunakan sihirnya dan menyerang target dengan akurat. Itu bukan hal mudah, tapi dia bisa melakukannya melalui persepsi yang tajam.
Ini tidak semengerikan yang ia pikir. Meski seluruh pandangannya gelap, ia masih bisa 'melihat' pergerakan orang-orang di sekitarnya. Rasa sensitif ini sangat penting saat dalam pertempuran.
"Sepertinya aku mulai terbiasa. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana jika di pertempuran yang sebenarnya. Bisakah kau membantuku?"
Bai Youzhe yang ingin memberi kejutan dari belakang langsung berhenti. Untuk kesekian kalinya ia ketahuan.
Gu Yuena masih di tempat yang sama dengan mata abu-abu yang terlihat kosong. Namun, bibirnya membentuk senyuman antusias ketika merasakan Bai Youzhe mendekat.
Bai Youzhe berjalan ke depannya, lalu mencubit pipinya. "Aku pikir kau hanya akan semakin mengerikan."
"Bisakah seperti itu?"
"Aku selalu ketahuan olehmu tiap kali datang diam-diam."
Gu Yuena terkekeh. "Itu sudah tidak mempan."
"Yah, tidak masalah." Bai Youzhe membawa Gu Yuena ke pelukannya dan mengecup bibirnya. "Aku hanya ingin memelukmu setiap saat dan tiap kali aku melihatmu."
"Youzhe, maukah kau membantuku berlatih?"
Bai Youzhe diam sejenak dengan tampilan masam. "Apa kau tidak ada keinginan lain selain bertempur?"
"Huang Jiu tidak bisa menahan satu seranganku. Di sini, hanya kamu yang bisa. Aku tidak ada target berlatih lain dan ingin tahu sampai mana kemampuanku di saat seperti ini. Bagaimanapun, perang sudah sangat dekat. Aku tidak mungkin hanya diam di belakang. Meski aku tidak bisa melihat, aku juga tidak lemah."
"Baiklah, tapi jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku harus mencapai batasku." Gu Yuena keras kepala.
Bai Youzhe merasa gemas dan ingin menggigit istrinya yang terus memikirkan pekerjaan ini. Sepertinya kejadian itu membuat tekad dan ambisi Gu Yuena semakin besar, tidak peduli kondisi yang dialaminya.
"Aku akan membiarkanmu bersenang-senang malam ini. Bagaimana?" Gu Yuena memberi penawaran yang sulit ditolak.
"Baiklah." Bai Youzhe menyahut dengan cepat.
Justru karena Bai Youzhe menyahut secepat itu, Gu Yuena jadi curiga. Tapi dia tidak berpikir terlalu banyak. Dia hanya berpikir bahwa Bai Youzhe sudah lumutan menunggunya.
Karena kondisi tubuh Gu Yuena, setiap malam, Bai Youzhe hanya tidur dengan memeluknya. Tidak ada yang lebih dari itu.
Bai Youzhe berjalan 100 meter jauhnya. Dia harus memberi jarak yang cukup jauh untuk Gu Yuena mempersiapkan diri dalam pertempuran jarak jauh. Serangan utama Bai Youzhe adalah jarak dekat, dia sengaja memberi keuntungan untuk Gu Yuena saat ini.
Gu Yuena menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi ketika rautnya menjadi dingin. Iris abu-abu itu bersinar dengan pancaran merah samar disertai cinnabar merah darah di antara alisnya.
Tongkat hitam di tangannya mengetuk tanah di bawahnya, memberi penekanan sihir yang menyebar dan membentuk bayangan phoenix di atas kepalanya.
Tekanan yang diberi Gu Yuena cukup besar. Bahkan Huang Jiu tidak dapat menerimanya. Bai Youzhe masih berdiri di tempatnya, tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan. Ini adalah perbedaan kekuatan di antara mereka.
Bai Youzhe belum mengeluarkan kekuatan sampai ketika sihir merah meluncur ke arahnya. Sihir itu seperti api yang berkobar, dengan bercak hitam seperti air mengalir. Bayangan phoenix muncul di antara kobaran api dan menyerang beriringan dengan pekikan keras.
Bai Youzhe menciptakan barrier dan menahan serangan tanpa bergerak dari tempatnya. Seluruh pandangannya dipenuhi dengan serangan seekor phoenix yang berkobar dengan cahaya merah serta api yang membara.
Gu Yuena telah menghilang dari tempatnya. Dia tiba di udara dan mengangkat tongkatnya ke arah Bai Youzhe di celah barrier. Tekanan yang lebih besar keluar dari tongkatnya, serpihan qi di belakangnya terbentuk dan berkumpul ke arah Bai Youzhe.
Tidak butuh waktu lama bagi Bai Youzhe untuk menyadarinya. Dia melepas auranya, diiringi dengan auman naga yang mendorong serangan phoenix untuk menundur sebelum memblokir serpihan qi serta tekanan api yang berdatangan.
Api itu membombardir area. Sedangkan serpihan qi menarget secara tunggal dan menembus pertahanan Bai Youzhe. Pada saat ini, sudut bibir Bai Youzhe terangkat sebelum sosokmya menghilang di antara ledakan.
"Yah, sepertinya kau tidak akan berbelas kasih meski pada suamimu sendiri." Bai Youzhe menyatu kembali dengan bayangan naga, lalu pergi ke udara untuk mendekati Gu Yuena. Tatapannya menjadi penuh antusias ketika melihat Gu Yuena di udara.
Gu Yuena sadar sangat cepat. Meski tatapannya kosong, ada ketajaman di baliknya saat mengepakkan sayap lebih tinggi untuk memberi jarak. Jangan sampai membiarkan Bai Youzhe mendekatinya, atau ia akan tamat.
Saat ia menginjak udara, lingkaran sihir ruang dan waktu muncul di bawah kakinya. Dia menghilang dari tempatnya dan muncul di sisi lain sambil melancarkan serangan korosif dari lingkaran sihir.
Bai Youzhe menghindari serangan korosif. Sebagai assassin, dia lebih cepat dari Gu Yuena dan tiba di dekatnya, tepat di hadapannya.
Api di sekeliling Gu Yuena berputar sangat cepat dan membentuk perlindungan jarak dekat. Selain itu, api itu juga menyembur sangat lebar dan menyebar seperti letusan gunung. Bai Youzhe dipaksa menjaga jarak. Dia tidak menyangka akan dipaksa mundur dengan cara kasar.
Api yang menyembur itu tidak terlalu mempengaruhi Bai Youzhe yang memiliki api neraka di tubuhnya. Daripada menggunakan aura dingin untuk melawan api, dia melawan api menggunakan api dari tubuhnya. Sosoknya berkedip sekali lagi dengan api neraka yang menyelimuti tubuhnya sebelum menerobos pertahanan api Gu Yuena.
Terobosan itu menciptakan ledakan besar di udara. Tapi ketika Bai Youzhe tiba, Gu Yuena sudah hanyut dalam api dan tak terlihat. Dia mengerutkan kening.
Kemampuan Gu Yuena bertarung dalam bayangan benar-benar mengejutkannya. Biasanya wanita itu akan menyerang secara brutal dan terang-terangan seperti orang marah.
Bai Youzhe teringat taktik Gu Yuena saat melawan Tuan Iblis bersamanya. Bai Youzhe mengedarkan kekuatannya untuk mencari Gu Yuena di sekitar api, tapi auranya terlalu samar.
Saat Bai Youzhe menemukan gerakan yang familiar, ia langsung meluncur ke satu sudut kumpulan api tanpa takut terbakar. Gu Yuena segera muncul di sisi itu, dengan tongkat giok di tangannya yang dihunuskan seperti pedang dan menekan dada Bai Youzhe yang meluncur ke arahnya.
Bai Youzhe terkejut, lalu mengeluarkan pedang dan menangkis tongkat yang menekan dadanya dengan kuat. Ia termundur keluar dari kobaran api.
Pada saat ini, kobaran api itu membentuk sosok phoenix berapi-api yang lebih besar. Gu Yuena duduk di atasnya, tanpa emosi dan dengan pandangan kosong di mata abu-abunya.
Gu Yuena tidak bisa mengerahkan kemampuan penuhnya karena tidak bisa melihat. Sebagian besar kemampuannya diluncurkan untuk serangan tunggal. Sedangkan serangan area tidak akan mempan untuk melawan Bai Youzhe. Itu sebabnya, dia menggunakan phoenix yang dikendalikan oleh kekuatan jiwa untuk mengetahui pergerakan Bai Youzhe lebih akurat.
Tiap manusia memiliki jiwa. Meski Gu Yuena tidak dapat melihat dunia, dia tetap dapat melihat jiwa seseorang di saat kekuatan jiwanya aktif. Asalkan seseorang memiliki jiwa, dia bisa melihatnya dalam waktu tertentu.
Bai Youzhe sangat mengenal Gu Yuena dan tahu apa yang Gu Yuena rencanakan. Secara otomatis, dia tidak memiliki kesempatan menghindari serangan tunggal Gu Yuena yang diarahkan melalui phoenix jiwa itu.
Bai Youzhe bergerak sangat cepat. Dia membuat domain area di mana seluruh area serangannya membeku seperti es. Hal itu membuat daya serangan Gu Yuena melambat. Serangan apinya diperlemah.
Namun, api phoenix sangat murni sehingga daya ledaknya tidak berubah sama sekali. Domain dingin itu tidak terlalu mempengaruhinya secara signifikan. Meski apinya sedikit redup, kekuatannya tidak nampak berubah dan berhasil menciptakan kembang api besar di langit.
Jika Bai Youzhe tidak menahan ledakan di langit menggunakan domainnya, ledakan itu akan memengaruhi istana. Akibatnya akan sangat merepotkan.
Serangan tunggal Gu Yuena jauh lebih kuat dari serangan area. Dia bisa membuat Bai Youzhe yang awalnya menahan diri, kini harus menggunakan pedangnya agar tidak terluka.
Pertahanan assassin tidak terlalu kuat, tapi serangannya lebih mematikan dari apa pun. Itu sebabnya, jangan memberi Bai Youzhe kesempatan untuk menyerang. Gu Yuena seperti akan memberikan segalanya dalam pertempuran ini agar dapat mengalahkan Bai Youzhe. Itu adalah tujuannya.
Phoenix meluncur dengan cepat ke arah Bai Youzhe sambil melepaskan sinar merah yang mengunci Bai Youzhe kemanapun dia pergi. Bai Youzhe tidak akan kalah dengan mudah. Dia berhasil merubah wujudnya sendiri menjadi seekor naga besar yang besarnya melebihi phoenix yang ditunggangi Gu Yuena.
Semua serangan tunggal meledak di sekitar tubuh kerasnya, memberi pertahanan tingkat tinggi sehingga hanga menyisakan kulit naga yang menghitam akibat ledakan. Namun, itu tidak menyakitinya.
Gu Yuena terdiam sesaat, lalu menarik sudut bibirnya. Pertarungan ini memang sangat menarik.
Karena Gu Yuena kehilangan pengelihatan, dia tidak boleh menjadi phoenix yang buta sehingga hanya bisa menggunakan proyeksi phoenix yang dikendalikan olehnya. Proyeksi phoenix menjadi lebih besar, sebesar bentuk aslinya. Meski naga di depannya masih jauh lebih besar, kekuatannya tidak akan kalah.
Gu Yuena sangat tenang saat ini. Dia sangat ingin melihat sosok Bai Youzhe dalam bentuk naga—selain naga kecil, tapi sayangnya dia tidak bisa melihat. Dia hanya dapat merasakan bagaimana sosoknya yang berubah dan mengagumkan.
Mereka berada di ketinggian langit dan kehadiran sebesar itu tidak akan terlalu menarik perhatian. Di langit, hanya ada kilatan sinar merah yang mengerikan serta aura gelap yang pekat. Hanya itu yang dapat dilihat para phoenix.
"Nana, apa kamu tidak bisa tidak begitu kejam?" Bai Youzhe mengeluh.
Gu Yuena hanya tersenyum ringan. "Aku sudah bilang kalau aku akan mencapai batasku."
"Ini sudah batasku!" Bai Youzhe meraung tak berdaya.
Gu Yuena menghapus senyumnya. "Bohong."
"Baiklah, aku berbohong. Tapi aku sama sekali tidak diberi kesempatan menyerang olehmu. Nana, aku sudah kalah sejak mengubah wujudku menjadi naga. Dalam tubuh manusia, pertahananku sangat lemah. Seranganmu barusan sudah cukup untuk memaksaku berubah wujud dan mengalami kekalahan. Jika aku tidak berubah tepat waktu, aku akan terluka sangat parah."
"Tapi kau berhasil bertahan."
Bai Youzhe tersenyum kecut dalam hati. Dia menunduk lemah dalam wujud naga, lalu mendekati Gu Yuena yang berada di atas phoenix.
"Nana, aku sangat terluka ... tolong rawat aku ...."
Naga itu seperti menampilkan mata anjing yang penuh air. Bersyukur Gu Yuena tidak dapat melihatnya, atau dia akan segera muntah darah. Meski begitu, Gu Yuena tetap merasakan perubahan emosi naga di depannya.
Gu Yuena melembut kembali dan meraih kepala Bai Youzhe lalu mengusapnya dengan lembut. Jika orang lain melihat pemandangan di mana seekor naga besar dengan patuh berada di depan manusia yang berdiri di atas phoenix, itu akan menjadi momen langka yang sulit dilupakan.
"Apa ada yang terluka?" tanya Gu Yuena. Ia dapat merasa bahwa serangannya meledak di tubuh keras Bai Youzhe.
Tubuh Bai Youzhe bersinar sekali lagi dan menampilkan sosok manusianya. Dia langsung berdiri di atas phoenix dan membawa Gu Yuena ke pelukannya. Dia bahkan sedikit mengangkat tubuh Gu Yuena yang lebih pendek darinya.
"Aku selalu baik-baik saja."
Gu Yuena menjadi senang. "Apa itu berarti kita bisa melanjutkan pertarungan?"
Ekspresi Bai Youzhe berubah menjadi enggan. Ia menurunkan Gu Yuena agar berdiri kembali, lalu kepalanya menunduk di bahunya. Gu Yuena langsung mengerutkan kening.
"Sakit ... sangat sakit ... Nana, kekuatanku terkuras terlalu banyak dan ledakan itu membuat tubuhku memar. Tolong aku ...."
Bai Youzhe malas bertarung!
Gu Yuena sudah kehilangan senyumnya kali ini dan mencubit pinggang Bai Youzhe sampai pria itu mengaduh kesakitan.
"Jangan pura-pura. Aku tahu kau sama sekali tidak merasa sakit. Bahkan kau tidak merasa sakit saat seseorang menikammu."
".... Ini beda."
"Baiklah, berbeda." Gu Yuena tidak ingin berdebat mengenai persamaan dan perbedaan. Ia menarik semua auranya dan menurunkan phoenix ke daratan. Ia dan Bai Youzhe pun mendarat saat phoenix melebur ke tubuh Gu Yuena.
Sebenarnya, pertempuran kali ini sudah cukup bagi Gu Yuena untuk menilai sampai mana kekuatannya. Ia sudah mengeluarkan segenap kekuatan sampai batas. Semua yang ia keluarkan adalah serangan terkuat yang bisa ia capai.
Bai Youzhe tidak lagi tampak menyedihkan seperti anak kecil yang terus mengeluh di bahu Gu Yuena. Dia berdiri dengan normal tanpa melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Gu Yuena.
"Apa kau tidak berpikir untuk pergi ke Istana Penguasa? Bukankah kau sangat sibuk?"
Bai Youzhe terkekeh. "Dibandingkan kamu, apa lagi yang lebih penting? Aku lebih menyukai hari-hari kita di sini. Tempat yang sunyi ini memberiku lebih banyak waktu untuk bersamamu."
Gu Yuena tersenyum lembut tanpa sadar. "Akan sangat bagus jika tidak ada perang yang akan terjadi."
"Ya." Bai Youzhe menatapnya penuh arti. "Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan bersamamu. Sampai perang ini berakhir, kita akan menjalani hari dengan nyaman. Lalu kau akan melahirkan seorang anak, dan aku akan mengurusnya."
Itu adalah harapan kecil seseorang yang mendambakan hidup biasa. Tidak masalah jika Gu Yuena kehilangan salah satu inderanya. Setidainya, dia memiliki kehidupan yang indah dan damai.
"Ya." Gu Yuena menyahut dengan nada rendah. Sangat disayangkan, akan sulit menentukan siapa yang akan hidup dan mati dalam sebuah perang.
Dengan alasan ini, Gu Yuena memiliki tekad yang kuat untuk hidup. Dia tidak akan kalah dari Li Hua, ibunya sendiri. Setidaknya, dia harus mengerahkan segalanya dalam pertempuran.