Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
Extra Chapter - Tiga Batu Jiwa



Menyelinap keluar dari Kediaman Adipati Gu cukup melelahkan. Gu Yuena dengan sosok rampingnya yang bergaun sederhana mengintip dari atas tembok kediaman untuk memastikan keadaan.


Matanya menyipit sesaat, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.


"Kakak, mungkin aku harus mengkhawatirkanmu." Gu Yuena dengan wajah enggan berlari melintasi hutan dan pergi dari kota.


Kediaman Adipati Gu bukan tempatnya. Dia tidak ingin terus berada di sana dan dijadikan boneka yang dimainkan oleh anak-anak itu.


Jadi, dia memutuskan untuk pergi dan berharap tidak pernah kembali.


Namun, di tengah jalan setelah meloloskan diri keluar dari Ibu Kota, dia melihat api yang berkobar dari kejauhan. Api yang mengandung kekuatan sihir yang sangat besar dan memicu ledakan.


Ketika ledakan dari tempat itu mencuat ke langit dan menciptakan kembang api besar, Gu Yuena tanpa sadar menutup matanya karena terkejut.


Ia mengerutkan kening. "Apa itu?"


Bukankah harinya sangat sial?


Dia minim pengalaman dan tidak tahu harus melakukan apa. Ketika melihat banyak orang berpakaian hitam tersebar ke segala penjuru, bahu Gu Yuena melemas.


Dia baru mencapai tingkat 3 kultivasi, bagaimana ia bisa menangani banyak orang dewasa berpakaian hitam yang terasa sangat kuat itu?


Gu Yuena berbalik hendak melarikan diri. Namun, langkahnya justru berbelok ketika melihat beberapa orang berpakaian hitam berjalan ke arah asal ledakan dengan langkah cepat. Gu Yuena bersembunyi di balik pohon besar sambil menahan napas.


Sepasang iris merah itu tanpa sadar menemukan sosok kecil yang keluar dari lubang tembok. Gu Yuena pikir, sepertinya posisinya kali ini ada di halaman belakang kediaman seseorang. Tapi ... kekacauan yang terjadi cukup jauh. Apa kediamannya begitu besar? Lebih besar dari kediaman Adipati Gu?


Melihat gadis yang sepertinya seumuran dengannya, Gu Yuena mau tidak mau memastikan bahwa orang-orang itu telah pergi ke asal ledakan sebelum menghampirinya.


"Kau bisa berdiri?" tanyanya sambil menunduk.


Gadis itu sangat kotor. Wajahnya penuh abu dengan mata yang memerah karena menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Ketika mendongak untuk melihat Gu Yuena, dia tanpa sengaja mundur ketakutan.


Gu Yuena memiringkan kepalanya, lalu melihat ke dinding besar di depannya di mana gadis itu keluar. Ada kabut besar dari api yang membara di atas sana. Selain itu, energi sihir di sana sangat kuat, membuatnya merasa tertekan.


"Apa rumahmu diserang?" tanya Gu Yuena. Dia melihat ke arah gadis yang tampak ketakutan itu, lalu menghela napas.


Orang-orang berpakaian hitam tadi terlihat mencurigakan. Mereka datang saat ledakan terjadi dan tepat ketika gadis ini melarikan diri. Mereka pasti pelakunya.


Gu Yuena berjongkok, lalu mengulurkan tangannya, "Jangan takut. Meski aku tidak bisa membantumu melawan musuh, aku bisa membantumu melarikan diri."


Gadis itu melihat Gu Yuena dengan ragu. Dia awalnya curiga, tapi masih menerima uluran tangan Gu Yuena.


Tanpa mengatakan apa pun, Gu Yuena membawanya lari dari orang-orang berpaaian hitam.


Berkat darah phoenix, mereka tidak bisa menemukan jejak Gu Yuena. Namun, mereka tidak bisa pergi jauh-jauh dan masih harus bersembunyi.


Gadis itu terus menangis selama menggenggam ujung pakaiam Gu Yuena sambil berjalan mengikut, lalu bersembunyi di antara pohon besar dan semak-semak selagi dalam pelarian.


"Diamlah, kau akan membuat kita ketahuan." Gu Yuena berkata dengan hati-hati.


Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, menekan tangisnya. Setelah kondisi situasi longgar, Gu Yuena menarik lengan gadis itu dan berlari cukup jauh.


Mereka sama sekali tidak ditemukan.


Gadis itu masih sesenggukan ketika berjalan di belakang Gu Yuena tanpa melepas pegangan. Gu Yuena meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada jalan.


Gadis itu tiba-tiba berkata, "Maaf. Apa aku telah mengganggu dan merepotkanmu?"


Gu Yuena menoleh ke arahnya, lalu mengangguk dengan jujur. Ia tersenyum, lalu berkata, "Bukan masalah. Kita rencana pelarian yang sama, meski memiliki alasan yang berbeda."


Gadis itu menunduk dalam-dalam, tampak sangat sedih. "Tapi ... aku tidak ingin lari. Meski mereka telah membunuh keluargaku, aku tetap tidak boleh lari dan masih memiliki beban yang harus ditanggung. Kakak, kenapa kamu juga ingin lari?"


Gu Yuena terdiam sejenak. "Tidak ada yang menginginkanku, aku tidak memiliki alasan untuk tetap di tempat yang bahkan tidak terasa seperti rumah."


Gadis itu tersenyum kecut. "Setidaknya, pasti ada satu orang yang akan mengkhawatirkanmu."


Itu adalah kata-kata yang berasal dari gadis yang dipenuhi kasih sayang keluarga. Bagaimana dia bisa mengerti Gu Yuena? Jadi Gu Yuena tidak akan menganggapnya serius.


"Aku memang memiliki kakak, tapi dia tinggal sangat jauh. Jika ada kesempatan, aku akan pergi mencarinya."


"Lalu, kemana kita akan pergi?"


Gu Yuena berpikir sejenak. Dia memiliki rencananya sendiri, tapi tidak bisa membawa orang lain ikut bersamanya.


Ada banyak rahasia dalam tubuhnya. Darah phoenix, kekuatan jiwa, lalu ....


Ada terlalu banyak hal berbahaya menantinya. Dia tidak ingin melibatkan siapa pun. Dalam perjalanan ini, setidaknya dia harus mencapai target agar dapat menjadi lebih kuat dan membalaskan dendam kematian ibunya.


Dia sudah terlalu lama berpura-pura tidak tahu apa pun dan menerima penindasan. Orang waras mana yang akan tahan?


"Aku adalah Su Churan. Bagaimana aku memanggil Kakak?"


Gu Yuena sedikit tersenyum lalu menjawab, "Jangan panggil aku kakak. Sepertinya kita seumuran. Panggil aku Gu Yuena."


"Lalu, apa aku boleh memanggilmu Xiao Yuena?"


Gu Yuena mengangguk pelan. Dia tidak banyak bicara dan hanya bisa membawa Su Churan ke kota terdekat.


Setelah membelikan makanan untuk Su Churan agar berhenti bersedih, dia pergi sendiri ke suatu tempat untuk membeli peta dan perlengkapan lain. Untung saja ia memiliki sedikit uang yang ia kumpulkan dari hasil pemberian Gu Yuan tiap kali dia datang. Kediaman Adipati Gu sama sekali tidak memberinya uang.


Mencari peta benua lumayan susah dan mahal. Gu Yuena dan Su Churan melewati beberapa hari di kota hingga uang simpanan Gu Yuena menipis. Ia pun akhirnya menemukan peta yang sesuai dengan mengorbankan hampir seluruh uangnya.


Rasanya sangat tidak sepadan ....


Namun, saat ia baru saja selesai membeli peta, dia dikejutkan oleh beberapa orang dengan lencana pasukan Adipati Gu di sekitar kota.


Ah, dia masih tidak ingin tertangkap ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat seekor kuda hitam berjalan ke arahnya dan berhenti.


Su Churan mengerutkan kening dan memiringkan kepala bingung sambil mengunyah kue. Berusaha mengingat-ingat siapa pria beriris biru malam yang ada di atas kuda hitam, matanya dipenuhi kejutan sampai kue di tangannya nyaris jatuh.


"Kamu ... kamu ...." Su Churan panik sendiri. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika mengenali sepasang iris itu. Ia tidak tahu siapa pemuda berjubah hitam itu, tapi sepasang matanya sangat unik dan ia pernah sesekali melihatnya.


Pria itu menurunkan tudung jubahnya, menunjukkan wajah tampan tiada tara yang dapat membuat wanita manapun tak dapat berpaling darinya. Sorot matanya menunjukkan rasa dingin yang ekstrim.


Itu membuat Su Churan ketakutan dan terus meneriaki Gu Yuena untuk datang membelanya berkali-kali dalam hati. Bagaimanapun, dia memiliki trauma tertentu pada orang berpakaian hitam.


"Su Churan, bukankah itu namamu?" tanyanya.


Su Churan mengangguk ragu-ragu. "Kamu ... apa kamu adalah Luo Youzhe dari Klan Luo? Ayahku pernah memberitahu—"


"Mulai saat ini namamu adalah Qin Chuan. Kamu akan tinggal di Klan Luo untuk sementara," sela Bai Youzhe, yang saat ini masih mengambil identitas sebagai Tuan Muda Klan Luo, Luo Youzhe.


Su Churan tersentak. Ia mundur beberapa langkah, jelas tidak mempercayai Bai Youzhe. Bagaimanapun, dia masih anak-anak yang belum mengerti kejamnya dunia. Apalagi, dia baru saja kehilangan seluruh keluarganya. Dia hanya mempercayai Gu Yuena, penyelamatnya.


Bai Youzhe menghela napas. "Ayahmu, Su Qian, mempercayakan seseorang untukmu yang saat ini telah berada di Klan Luo. Aku akan mengantarkanmu padanya."


Mendengar ayahnya disebut, mata Su Churan semakin berlinang dan dia mulai meneteskan air mata.


Wajah Bai Youzhe semakin gelap. Dia membenci wanita yang menangis, karena itu sangat merepotkan.


Melihat Su Churan, dia jadi teringat pada dirinya sendiri. Entah bagaimana Su Churan bisa berada di sini. Ia pikir ia masih harus menyelinap ke dalam Klan Su untuk membawanya pergi, tapi ternyata semudah ini.


Ia jadi bertanya-tanya, siapa yang menyelamatkan bocah cengeng ini?


"Siapa yang menyelamatkanmu?" tanya Bai Youzhe.


Su Churan menatapnya ragu. "Itu ...."


Belum sempat Su Churan menjawab, Bai Youzhe sudah menyelanya. "Lupakan. Karena identitasmu tidak biasa, tidak seharusnya kau bersama orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Istana Tianshuang. Itu akan membahayakan orang lain."


Su Churan mengangguk. Namun, dia buru-buru berkata, "Tapi ... aku tidak boleh pergi ke Klan Luo! Tuan Muda, biarkan aku menunggu temanku datang. Aku belum sempat berterimakasih padanya."


"Apa itu penting?"


"Ayah berkata bahwa aku tidak boleh tidak memiliki rasa terima kasih setelah seseorang menolongku. Aku berhutang padanya, jadi aku harus menunggunya kembali!"


"Bagaimana jika dia tidak kembali?"


"Dia akan kembali!"


"Tidak!"


"Dia pasti akan kembali!"


Bai Youzhe hampir kehabisan kesabaran menangani bocah kecil yang keras kepala. Orang yang dapat melarikan diri dari Istana Linghun, pasti bukan orang biasa. Dia pasti memiliki rencana licik di kepalanya untuk memperalat Su Churan.


"Pergi atau kau tidak akan bertemu ayahmu."


"Ayahku masih hidup? Di mana dia?" Su Churan terperangah dan langsung menarik-narik jubah Bai Youzhe untuk segera memberitahu di mana ayahnya dan bagaimana kabarnya.


Bai Youzhe menyesal telah berbohong. Tapi dia hanya bisa melanjutkan, "Itu sebabnya aku mendatangimu. Kau harus pergi dari sini secepatnya sebelum ditemukan."


Su Churan mengangguk cepat. Bai Youzhe selama ini membawa satu kuda yang lebih kecil, khusus menjemput Su Churan dan menyeretnya di belakang kudanya. Dia langsung menyuruh Su Churan untuk naik.


"Tuan Muda, bagaimana dengan penyelamatku?" tanya Su Churan yang sudah duduk di atas kuda.


Bai Youzhe berpikir sejenak. Pada akhirnya, ia memiliki sebuah ide di kepalanya. Ia meminta Su Churan memberitahu di mana sebelumnya mereka menginap, lalu pergi ke penginapan itu.


Meninggalkan secarik surat ke atas tempat tidur, dia pun pergi lewat jendela dan memacu kudanya membawa Su Churan. Dia tidak boleh membuang terlalu banyak waktu hanya untuk gadis cengeng.


Di sisi lain, Gu Yuena masih bersembunyi dari pasukan Adipati Gu. Dari apa yang ia dengar, semua orang di kediaman sudah mengetahui bahwa ia menghilang dan sedang mencari.


Dia heran. Apa dia sangat berharga sampai harus pasukan itu sendiri yang mencari?


Padahal di kediaman, dia tidak ada bedanya dengan rongsokan di halaman belakang.


Gu Yuena pun melarikan diri ke penginapan untuk mencari Su Churan dan membawanya pergi lagi. Namun, ketika ia tiba di kamar penginapan, semuanya kosong.


Hanya menyisakan secarik kertas yang tergeletak di atas tempat tidur. Itu hanya kertas, tapi memiliki isi yang menarik.


"Tiga batu jiwa?" Gu Yuena menarik alisnya. Batu jiwa ... ia hanya tahu sedikit. Siapa sebenarnya yang memberinya informasi nanggung seperti ini?


Apa ada hal spesial tentang tiga batu jiwa?


Gu Yuena menyimpan surat itu dan pergi. Karena tidak menemukan Su Churan, dia tidak berpikir lebih banyak lagi. Mungkin saja orang yang memberinya suratlah yang membawa Su Churan pergi.


Tiga batu jiwa ... tiga kata menarik yang membuatnya penasaran ....


Gu Yuena tidak tahu, surat yang ditinggalkan oleh "naga" yang tidak ia ketahui itu akan memberinya banyak perubahan yang membawanya ke dua kehidupan berbeda sekaligus.


Demi tiga batu jiwa, seseorang merelakan diri bertunangan dengan bajingan. Demi tiga batu jiwa, seseorang membiarkannya tubuhnya dipukul sampai mati dan melintasi kehidupan kedua, lalu kembali ke waktu kematiam pertamanya.


Dan, tiga batu jiwa juga yang telah membawanya ke hadapan sang naga beberapa tahun kemudian ....


...----------------...


Jadi, seharusnya mereka dah bertemu sejak kecil ....


Seperti yang dijelaskan Luo Yi di Bab 39, Bai Youzhe berusia 13 tahun dan Gu Yuena berusia 10 tahun. Su Churan otomatis lebih muda antara 8 atau 9 tahun. Begitulah setting bab ini.


Untuk extra chapter selanjutnya masih menceritakan tentang masa lalu/flashback. Stay tuned~