Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
24. Tiada Hari Tanpa Masalah



Tidak ada banyak hal baru untuk saat ini, termasuk kekuatan monster tingkat rendah. Seperti contohnya Leopard tingkat 1, Gu Yuena menjatuhkannya hanya dengan tendangan mautnya dan sedikit trik seperti di kehidupan lampau.


Ternyata kekuatan monster tingkat 1 sama saja seperti hewan buas di dunianya dulu. Belakangan ini ia hanya menemukan monster tingkat 1 yang menyerang murid baru.


Tanpa mengambil energi unsur, hanya dengan membunuh para monster itu untuk percobaan, membuat para murid baru yang merasa 'diselamatkan' berpikir lelaki kecil yang cantik itu sangat keren.


Mereka salah paham bahwa Gu Yuena rela kehilangan energi unsur untuk mereka. Karena sejauh ini, Gu Yuena membiarkan para murid baru mengambil energi unsur, alias menyerahkannya secara sukarela. Jika tidak ada siapa pun di sekitar, ia akan membiarkan energi unsur itu menguap dengan sendirinya.


Gu Yuena tidak peduli dengan pencuri energi unsur atau sejenisnya. Tiap kali ada anak-anak nakal yang ingin mencuri energi unsur, ia menyerahkan tokennya yang kosong dengan senyuman. Hal itu membuatnya diabaikan anak-anak nakal.


Itu bagus. Ia tidak perlu melakukan kekerasan pada sesama manusia, apalagi membunuh.


Satu hari dilalui dengan lancar seperti derasan air sungai.


Malam sunyi menyambut Gu Yuena yang masih tidur untuk memulihkan energinya sejak sore. Ia tidur di atas dahan pohon besar. Tubuh kecil itu sangat pas dengan dahan pohon sehingga dapat tidur dengan nyaman.


Terlelap dalam ketenangan hutan dan angin malam yang menyejukkan, Gu Yuena merasa seperti ada di kamarnya.


Yah, meski tempat tidurnya kali ini lebih keras, tapi itu bukan masalah mengingat lokasinya saat ini ada di alam liar. Jika bisa bawa kasur, sudah dilakukan Gu Yuena sejak awal.


Di tengah sunyinya malam, sepasang mata amber cerah Xiao Hei yang tertidur di bagian dahan lain terbuka. Ia melihat ke arah kejauhan dengan mata menyipit, seperti sedang menyambut sesuatu.


Suara langkah kaki serentak terdengar. Tampak sekelompok murid baru berlari seperti dikejar sesuatu melintasi hutan. Mereka berlari dengan cepat, kemudian berhenti begitu beberapa murid lain menghadang jalan mereka dan mulai mengepung.


"Cepat! Serahkan semua energi unsur pada kami!"


"Jika tidak, jangan salahkan kami bersikap kasar. Kami sudah memberi kalian kesempatan, tapi malah menyianyiakannya."


Murid-murid yang terkepung itu mundur perlahan saling memunggungi. Raut mereka nampak khwatir, namun mereka tidak pasrah begitu saja.


"Jika ingin unsur api, ambillah dari monster yang kalian kalahkan, jangan mencuri milik orang lain!" Salah satunya membela.


"Huh, sekelompok sampah ini masih tidak tahu diri juga."


"Bos, bagaimana jika bermain-main terlebih dahulu untuk memberi mereka pelajaran?"


Pria tinggi yang disebut bos itu menunjukkan senyum jahat sambil bersedekap dada. "Ya, sepertinya akan seru. Di luar akademi, kita terbebas dari aturan. Sengaja atau tidak sengaja terbunuh juga tidak akan disalahkan."


"Bos Liu adalah pengawal Tuan Muda Xiao dari kediaman Perdana Menteri. Lebih baik kalian menyerah sekarang sebelum nyawa kalian melayang!"


"Kalian dengar itu? Cepat serahkan sekarang juga!"


Kelompok murid baru yang dikepung itu didesak sedemikian rupa. Beberapa dari mereka didorong, kemudian diinjak-injak lalu merampas tas mereka.


Melihat teman-temannya dianiaya, salah seorang pemuda memberontak dan menunjuk si marga Liu disertai tatapan tajam.


"Liu Zhang, jangan kira aku akan menyerah padamu! Lepaskan mereka!" Pemuda itu mengamuk sambil menyerang murid yang menganiaya teman-temannya.


"Lepas? Kalau begitu, usahakan sendiri." Liu Zhang tertawa terbahak-bahak melihat pemuda itu yang tampak menggila.


Para bawahan Liu Zhang memegangi pemuda itu dan mengeroyoknya sampai tidak bisa mengeluarkan kekuatan. Setelah pemuda itu tidak bisa melakukan apa pun, mereka memukul pemuda itu bersama-sama sambil tertawa.


"Bukankah menyenangkan berusaha sendiri? Salahkan dirimu menolak ajakan Tuan Muda Xiao, jika tidak kau pasti tidak akan berada di situasi seperti itu." Liu Zhang mendengus sambil menonton.


Ia melirik murid baru perempuan yang tengah duduk ketakutan setelah tasnya dirampok. Ia menunjukkan senyum miring. "Wajahmu lumayan. Jika kamu bersedia bergabung, aku akan memberi sedikit keringanan atas hukumanmu." Ia mengulurkan tangannya hendak meraba wajah perempuan yang terdiam di depannya.


Ketika kelompok anak nakal itu memukuli pemuda itu, sebuah sinar biru cerah meledak dari arahnya melempar anak-anak nakal yang berkeroyok. Pemuda itu bangkit dengan wajah lebam dan penuh luka. Dengan bilah pedang di tangannya, ia menyerang Liu Zhang dengan penuh amarah.


"Liu Zhang! Jauhkan tangan kotormu dari temanku!"


Anak-anak nakal lain menghadang pria itu menggunakan perisai. Tapi kekuatan mereka kalah sampai harus terhempas. Mau tidak mau, pria berbadan besar di belakang Liu Zhang harus turun tangan dan memberinya pukulan maut tepat di bagian wajah.


"Temanmu tidak marah, tapi kau malah marah. Benar-benar teman yang setia, aku sangat iri." Liu Zhang mengejek sambil melihat pemuda yang kini tergeletak penuh memar. Ia meringis kemudian melihat perempuan itu dan memcengram rahangnya.


Perempuan itu masih berusia sekitar 17 tahun. Wajah halusnya ditekan tangan Liu Zhang hingga membuatnya kesakitan. Bulir-bulir air mata mulai keluar ketika ia menahan rasa sakit itu.


"Kau menangis?" Liu Zhang mendengus. "Simpan air matamu. Sekarang kau harus ikut kami atau semua temanmu akan menjadi santapan harimau yang kami pancing!"


Perempuan itu tidak mengatakan apa pun. Diam-diam tangannya mengeluarkan sinar biru muda yang samar, tampak mengalir seperti air dan akan menyerang Liu Zhang.


Liu Zhang mengetahuinya terlebih dahulu. Ia langsung menahan tangan perempuan itu dengan keras.


"Kau jadi semakin berani." Liu Zhang mengeluarkan bilah pisau untuk memberi pelajaran pada perempuan itu.


Tapi hal tak terduga terjadi.


Sebuah pisau kecil melayang di udara menyayat tangannya yang mencengkram wajah perempuan itu. Liu Zhang terkejut, secara spontan melepas cengkraman dan melihat pisau yang berbalik arah seperti boomerang untuk menyerangnya kembali.


Perempuan yang ditahan itu tidak menyianyiaan kesempatan yang ada. Ia menggigit tangan Liu Zhang yang mencengkram tangannya, kemudian menendang bagian sensitif pria itu dengan keras sampai terjungkal.


Perempuan bersurai hitam itu melepaskan diri dengan cepat dan pergi ke pemuda yang babak belur untuk menolong.


"Kenapa kalian hanya diam saja? Cepat cari pelakunya dan serang mereka semua!" Liu Zhang berteriak sambil merintih kesakitan memegangi bawah perutnya yang nyeri.


Para murid baru yang babak belur tidak bisa melawan lagi. Perempuan yang baru saja menghampiri temannya langsung menoleh, kemudian merapalkan mantra untuk membuat perisai melindungi teman-temannya dari serangan kelompok itu.


Perisai yang disertai gelembung air muncul, bersamaan dengan berbagai senjata yang dihunuskan seolah akan menembus gelembung air yang membesar menghalangi mereka.


Salah satu pedang mendekati gelembung dan akan merusaknya, namun tiba-tiba pisau terbang yang sama muncul menangkis pedang tersebut dan senjata lainnya.


Pisau terbang bergerak dengan cepat di tiap senjata seperti dikendalikan. Dalam sekejap, para pemegang senjata itu menjatuhkan senjata mereka karena tekanan pisau terbang yang memukul terlalu keras.


"Siapa!" Liu Zhang sangat terkejut. Jelas-jelas mangsa mereka sedang terluka dan berada dalam gelembung, tidak mungkin ia melewatkan seseorang. Pasti ada yang membantu mereka.


Anak-anak nakal itu mengedarkan pandangan ke tiap sisi dan pepohonan rindang. Sangat sunyi seolah tidak ada kehidupan di kejauhan sana, namun pisau terbang yang lagi-lagi muncul mengejutkan mereka semua.


Pisau terbang itu membelah udara nyaris mengenai mereka. Jika tidak menghindar dengan tepat, maka pisau terbang itu sudah pasti akan menusuk berbagai titik vital mereka dan mati dalam sekejap.


Pisau terbang tidak berhenti bergerak, namun tidak ada satu pun yang berhasil menumpahkan darah seolah hanya main-main saja. Lebih tepatnya, sosok di balik pisau terbang itu sengaja memelesetkan serangan untuk mengganggu mental mereka!


Liu Zhang kesulitan, belum lagi dengan bagian kepriaannya yang ngilu habis ditendang. Ia menangkis pisau terbang itu, tapi selalu meleset sehingga ia hanya membelah angin. Hanya satu pisau terbang, tapi mereka yang berjumlah delapan orang sudah kewalahan seperti ini.


"Jangan hanya bersembunyi dalam bayang-bayang seperti pengecut. Kalau berani, keluar dan hadapi langsung!" Liu Zhang sangat kesal pada pemilik pisau terbang. Buruknya, kemampuannya sangat terlihat berbeda jauh dari sosok dalam bayangan itu!


"Benar-benar mengganggu."


Suara itu terdengar dari satu arah di mana pepohonan berhimpitan dengan tebal. Mereka semua memandang ke sebuah pohon besar, lalu melihat sosok pemuda mungil dengan fitur halus di wajahnya yang bersandar di dahan pohon sambil menguap.


Liu Zhang terkejut. Kenapa ia tidak bisa merasakan kehadiran bocah itu?


"Sudah malam, masih saja ribut. Apa kalian tidak diajarkan bahwa anak kecil tidak boleh tidur terlalu larut?" Pemuda mungil di atas pohon berdecak sebal. iris merahnya seolah bercahaya di kegelapan malam.


Liu Zhang mendecih, kemudian menunjuk pemuda itu. "Kau yang menyerang kami menggunakan pisau terbang?"


Pisau terbang yang entah dari mana jatuh ke tangan pemuda itu."Siapa lagi? Salahkan kalian sendiri yang menggangguku tidur. Sejak sore aku di sini, kalian saja yang tidak tahu." Pemuda itu mencibir dan mulai menggerutu diam-diam. Wajahnya tampak malas.


"Kau ...." Liu Zhang merasa sangat kesal. "Turun dan selesaikan secara terbuka bila kau adalah pria sejati!"


"Sayangnya, aku bukan pria," gumam pemuda itu dengan suara yang sangat kecil. Ia jelas adalah seorang gadis yang menyamar sebagai pria. Tapi karena pihak lain telah menantangnya, apa yang bisa diperbuat?


Pemuda itu melompat turun dari atas pohon. Seekor kucing hitam mengikutinya, duduk di atas bahu sambil menggeram.


Dengan malas pemuda itu berkata, "Ayo, selesaikan dengan cepat."


Liu Zhang mengambil ancang-ancang. Hanya seorang bocah kurus dan lemah, sama sekali tidak perlu ditakuti. Paling-paling pisau terbang itu hanya ancaman belaka dan tidak akan bisa membunuh siapa pun. Ia tidak perlu takut.


Liu Zhang mengeluarkan pedangnya dan melompat ke pemuda itu. Kobaran api terbentuk di sekitar tubuhnya, memusatkan kekuatan ke pedang untuk menyelesaikan masalah dengan cepat.


Pemuda itu hanya melihat tanpa punya niat mengeluarkan senjata. Ia menunduk ke belakang menghindari pedang yang dihunuskan. Kakinya diangkat ke atas dan melompat ke belakang sembari memberi tendangan ringan pada Liu Zhang.


Liu Zhang mengelak, kemudian menggunakan apinya untuk melahap pemuda itu. Pedang di tangannya ditebaskan dengan kecepatan tinggi sehingga membentuk sayatan besar yang menyerang lawannya.


Pemuda itu menghindari tiap serangan. Gerakannya sangat cepat meski tanpa kekuatan elemen, seolah ia tidak memerlukannya.


Hanya dengan beberapa kali berpindah tempat, kakinya berhasil mendarat tepat di kepala Liu Zhang hingga pria itu terhuyung. Selanjutnya, lutut pemuda itu diangkat untuk memberi serangan di bagian ulu hati Liu Zhang.


Liu Zhang terjengkang saat itu juga karena kekuatan fisik lawan!


Tidak berhenti sampai sana, pedang penuh api Liu Zhang diterobos begitu saja dan dipatahkan hanya dengan satu leburan api dari tangan pemuda itu. Liu Zhang dibuat terpana, sebelum akhirnya tendangan terakhir melayang di kepalanya hingga ia benar-benar terperosok secara memalukan.


"Taekwondo-ku sangat berguna." Pemuda yang merupakan Gu Yuena itu tersenyum miring sambil membersihkan tangannya dari abu pedang yang ia lebur.


Anak buah Liu Zhang langsung menghampiri untuk membantu bos mereka sambil berseru berkali-kali. Mereka saling tatap setelah melihat penyerang bos mereka, kemudian sepakat menyerang bersama-sama.


Gu Yuena mendecih. "Ck, main keroyok." Lihat saja, ia akan mendapatkan savage berturut-turut dalam permainan ini.


Serangan mereka diladeni oleh Gu Yuena tanpa harus menggunakan kekuatan elemen. Gu Yuena menghindari beberapa untuk menyerang yang lain, kemudian menggunakan tangan lawannya untuk menangani lawan lain secara bersamaan.


Hanya dalam beberapa trik dan pukulan, Gu Yuena meruntuhkan domba-domba itu ke tanah dan merebut token energi unsur sampai terkumpul di satu tangannya.


Murid baru yang sebelumnya dilindungi gelembung air terpana melihatnya sampai tidak bisa tidak menjatuhkan rahang.


Kuat sekali!


Gu Yuena melempar token-token itu ke tanah begitu saja. Jumlah murid baru yang ditindas ada lima, sedangkan token yang ia ambil berjumlah tiga belas—sudah termasuk milik anak-anak nakal. Hanya dengan memindahkan energi unsur kedelapan token itu, sudah cukup untuk mengisi energi unsur dalam lima token milik mereka.


Pemuda yang sebelumnya terluka sangat parah bangkit untuk menghampiri Gu Yuena yang acuh tak acuh. Teman-teman lainnya juga mengikuti, sebelum akhirnya berlutut untuk mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, aku berhutang budi padamu. Jika ada hal yang dibutuhkan atau perlu bantuan, kau bisa mencariku." Pemuda itu berkata dengan sungguh-sungguh.


Meski tubuhnya sedikit lebih besar dan tinggi dari Gu Yuena, ia tidak meremehkan kekuatan Gu Yuena setelah melihat bagaimana pemuda berfitur halus itu menghajar anak-anak nakal.


Perempuan yang membuat gelembung air juga sangat berterimakasih. "Aku juga berterimakasih padamu .... Aku tidak tahu apa yang bisa kuberikan untuk berterimakasih, mungkin kau bisa mengambil energi unsur dalam kedelapan token itu."


"Benar. Kau telah mengalahkan mereka, maka lebih baik kau yang menerimanya."


Yang lainnya juga berpendapat demikian dengan wajah gelisah yang mengganggu Gu Yuena. Wajah datar Gu Yuena terbentuk seketika.


"Aku tidak perlu." Gu Yuena baru saja ingin pergi, tapi kelima orang itu justru mendekatinya karena merasa tidak enak.


Pemuda itu berkata, "Kau telah menyelamatkanku, juga menyelamatkan Lin'er. Aku, Mu Xinhuan, tidak akan melupakannya. Maka dari itu, terimalah niat baik kami."


Gu Yuena justru merinding dengan niat baik mereka. Sungguh, ia tidak ingin apa pun. Ia hanya merasa kesal karena Liu Zhang yang memiliki niat buruk pada perempuan manis bernama Shen Jialin itu dan merasa tidurnya diganggu. Selebihnya, berjalan begitu saja.


"Kalian mungkin salah paham. Aku di sini hanya karena merasa terganggu. Aku sedang tidur, sedangkan kalian membuat keributan. Jika bukan karena kasihan, aku juga tidak akan mengampuni kalian." Gu Yuena menggunakan kata-kata yang agak kasar untuk mendorong mereka sejauh mungkin.


Mereka semua terdiam karena ucapan Gu Yuena. Bagus, Gu Yuena tidak akan berurusan dengan mereka lagi dan fokus pada kultivasi. Karena mereka sudah tidak mengatakan apa pun, Gu Yuena memilih pergi.


"Bisakah kamu bergabung dengan kami?" Shen Jialin tiba-tiba menawarkan Gu Yuena untuk bergabung. Gu Yuena meliriknya, membuat Shen Jialin salah tingkah. "Maksudku ... kita berenam bisa pergi ke akademi bersama. Lebih banyak orang lebih bagus. Kau baru saja menyinggung Liu Zhang, orang di belakangnya tidak akan tinggal diam."


Justru karena bergabung dengan mereka, Gu Yuena bisa terkena masalah. "Maaf, tidak tertarik." Toh, ia bisa mengatasi masalahnya sendiri.


Gu Yuena pun pergi ke dalam kegelapan.


Shen Jialin tampak ingin menghentikannya, tapi Mu Xinhuan menahannya lalu menggeleng.


"Kita akan bertemu lagi, tidak perlu khawatir. Aku yakin, dia bisa mengatasi Tuan Muda bernama Xiao Ming itu."


Shen Jialin menghela napas, tampak kecewa. "Padahal aku ingin berkenalan dan berteman dengannya."


Mu Xinhuan tersenyum. "Ketika di akademi, kita akan memiliki kesempatan." Ia pun melirik ketiga temannya. "Kita lanjutkan perjalanan."


Mu Xinhuan memgambil token-token yang berserakan sia-sia, kemudian membaginya sambil melanjutkan perjalanan. Mereka membiarkan kedelapan anak nakal itu tergeletak sendirian di hutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Langit menyambut musim baru di hutan yang lebat. Angin kencang bertiup disertai awan mendung, tanda bahwa semua peserta harus bergegas tiba di akademi.


Tapi bagi Gu Yuena, tidak ada hari yang berpihak padanya yang mendambakan ketenangan. Baru beberapa hari, Gu Yuena telah berjalan ke pinggiran pembatas yang biasa digunakan akademi agar tidak ada murid yang masuk terlalu dalam.


Ternyata, pembatas tersebut kini telah dirusak. Ada banyak tanda keretakkan pada pembatas daerah transparan. Retakan itu menyala dengan sinar emas, membuatnya terlihat mengerikan.


"Apa monster tingkat tinggi merusaknya?" Xiao Hei terkejut dengan argumennya sendiri sampai matanya melotot. "Bagaimana ini? Di mana monster kuat yang merusaknya? Nona, kita harus secepatnya pergi dari sini!"


"Diam!" Gu Yuena agak kesal pada ocehan Xiao Hei. Ia meliriknya, kemudian menghela napas. "Orang-orang akademi pasti sudah tahu mengenai hal ini. Mereka akan segera memperbaikinya. Pembatas ini sudah terlalu kama, bisa saja menjadi melemah dan terkena tubrukan monster. Lagi pula, pembatas belum hancur, tidak ada monster tingkat tinggi."


Xiao Hei ber'oh'ria dengan tampang polos itu. Ia mengendus-endus, rautnya menjadi rumit ketika mencium sesuatu. "Aku merasakan bau yang familiar."


"Apa hidungmu tersumbat?" Jelas-jelas ia tidak merasakan kehadiran siapa pun selain monster yang berkeliaran dan murid baru yang tidak dikenalnya.


"Nona, aku sungguh-sungguh mengatakannya." Xiao Hei merasa sakit mendengar Gu Yuena yang mengejeknya.


Gu Yuena memutar bola mata. Harinya selalu tidak baik, kebetulan juga ia melihat sesuatu di luar sana yang bersembunyi di semak-semak. Sepasang mata merah yang tajam.


Ia melihat langit yang mendung, kemudian berkata, "Kita lanjutkan perjalanan, aku tidak ingin basah kuyup."


Xiao Hei cemberut sepanjang jalan mengikuti Gu Yuena seperti anak ayam.


Tapi sebelum mereka benar-benar pergi, suara pecahan disertai serpihan yang berhamburan menghembuskan Gu Yuena dan Xiao Hei dari tempatnya.


"Meoww!" Xiao Hei terbentur batang pohon, jauh dari Gu Yuena yang terhempas. Ia langsung berdiri dan memanjat pohon untuk mencari nonanya. "Miaw! Nona!"


Gu Yuena terhempas cukup jauh oleh angin yang berhembus sangat kencang seolah ada sesuatu yang mendekat. Ia berhasil mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh, tapi pandangannya terganggu karena pusaran angin.


Lubang besar tampak di pembatas yang retak. Retakannya semakin besar di antara lubang yang terbentuk dari pecahan pembatas di mana angin berasal. Ukuran lubang yang sangat besar, tidak mungkin berasal dari manusia atau monster tingkat rendah.


"Ternyata benar ada monster tingkat tinggi." Gu Yuena berdecak. Memang harinya selalu sial.


Kaki besar seekor monster menapak di tanah. Cakarnya yang runcing menggaruk tanah yang dipijaknya ketika berjalan. Saking besarnya, tinggi Gu Yuena bahkan tidak bisa mencapai tubuh monster itu.


Gu Yuena melihat kaki besar di depannya dalam diam. Ia mendongak, melihat betapa besar monster yang kini menundukkan wajah untuk melihatnya dari dekat. Kepala besar dan napas keras itu benar-benar di luar dugaan.


Mata merah setajam silet itu beradu dengan netra merah darah Gu Yuena. Gu Yuena mundur secara tak sadar, sebelum akhirnya monster itu mengeluarkan rauman yang menghembuskan angin kencang.


Roarrrr!