Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
31. Reaksi Racun Darah



"Nona!" Xiao Hei sangat khawatir dan akan menggigit pria itu, tapi tangan pria itu mengeluarkan kabut hitam yang membuat Xiao Hei terpental.


Gu Yuena tidak bisa fokus pada apa yang terjadi di sekitarnya. Dadanya terasa sangat sakit sampai mengalami sesak napas. Iris merahnya bertemu dengan pandangan gelap pria itu. Tatapan itu membuatnya ngeri. Ia tidak merasakan niat membunuh, tapi ia merasa akan mati saat itu juga.


Sebelum akhirnya sebuah kabut hitam menyambar ke arahnya.


"Nana, awas!"


Gu Yuena merasakan seseorang menarik tubuhnya menjauh ketika ledakan terjadi. Genggaman tangan itu terlepas, berganti dengan sebuah tangan lain yang melingkari pinggangnya dan mendarat beberapa meter dari area ledakan yang disebabkan oleh pria asing itu.


Ledakan tidak berhenti sampai sama. Percikan ledakan menyebabkan banyak kerusakan, sedangkan Luo Youzhe yang baru saja menarik Gu Yuena dari bahaya langsung membuat perlindungan di sekitarnya.


Efek ledakan terlalu besar untuk ditahan. Tanpa disangka, serangan kekuatan jiwa itu menembus perisai. Secara spontan Luo Youzhe berbalik ke arah Gu Yuena, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai agar serangan tidak mengenai gadis di pelukannya. Iu berhasil merobek punggungnya.


Gu Yuena tidak bisa fokus dengan apa di depannya. Ketika jantungnya sudah sedikit tenang, ia baru sadar bahwa Luo Youzhe menyelamatkannya.


Tidak bisa dipercaya, tapi ia mengalaminya sendiri dan dipaksa harus percaya. Ia melihat ke arah pusat ledakan yang telah menghilang, pria misterius itu juga telah hilang bersama ledakan.


"Apa dia mati?"


"Belum. Dia melarikan diri." Pandangan Luo Youzhe tidak terlepas dari Gu Yuena.


Gu Yuena membalas tatapannya. Ia diam untuk beberapa saat, merasa pikirannya terjebak dengan mata biru di bawah langit gelap ini. Ia mengerjap mata, lalu mengalihkan pandangan ke samping untuk menyadarkan diri.


"Terima kasih." Gu Yuena mengatakannya dengan enggan.


Luo Youzhe menarik sudut bibirnya. "Aku harap kau bisa mengatakannya dengan lebih tulus."


Gu Yuena beradu pandang lagi dengan Luo Youzhe. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ketika kembali mencium bau darah yang pekat, pandangannya langsung teralih kembali.


Ia menunduk ke arah tangan Luo Youzhe. Melepas salah satu tangan yang melingkari pinggangnya itu, dan melihat luka bakar yang mulai menunjukkan tanda-tanda berdarah.


Gu Yuena terbiasa dengan darah, tapi entah bagaimana tiba-tiba perasaan yang sama kembali terulang. Kepalanya kembali pusing seperti terkena migrain, justru lebih parah. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan seperti akan meledak.


Ia juga dapat merasakan adanya perubahan pada racun api di tangannya. Seolah racun api memberinya tanda-tanda siksaan.


Gu Yuena melepas tangan Luo Youzhe begitu saja dan menjauh secara spontan. Ia terlalu gelisah dan terkejut, rasa sakit di dadanya akan racun darah menjadi-jadi ketika berdekatan dengan pria itu.


Luo Youzhe jadi bingung. "Kau baik-baik saja?"


Gu Yuena bersikap senormalnya sambil menahan rasa sakit. "Aku hanya sedikit sibuk. Untuk saat ini, aku tidak akan kembali ke asrama."


Luo Youzhe semakin bingung akan sikap Gu Yuena yang terlihat tidak baik-baik saja. Gadis itu tampak gelisah dengan alasan tertentu. Ia hendak mendekat, namun Gu Yuena terus mundur menjaga jarak.


Luo Youzhe yang ingin mengatakan sesuatu jadi menelan kalimatnya. "Aku akan kembali."


Gu Yuena tidak menyahut apa pun lagi. Bukannya tidak ingin, tapi ia harus menahan rasa sakit itu dalam diam sampai Luo Youzhe pergi.


Tanpa menunggunya menghilang, Gu Yuena langsung berlari pergi untuk memulihkan diri. Ada yang tidak beres pada tubuhnya.


Luo Youzhe yang sudah cukup jauh berbalik. Ia melihat Gu Yuena yang pergi bersama Xiao Hei. Entah apa yang dipikirkannya.


Tiga orang berpakaian hitam muncul di belakangnya. Salah satunya adalah perempuan yang merupakan salah satu assassin terbaik di Aliansi Assassin, Chu Xin, bersama kedua rekannya, Hei Changge dan Bao Jun.


"Tuan Muda, semua sudah selesai ditangani. Seluruh murid akademi telah diberi obat penenang sehingga tidak akan menyadari pertempuran yang terjadi. Selain Nona Gu, tidak ada orang lain yang tahu pertempuran Tuan Muda dan orang itu." Hei Changge menjelaskan situasi agar tidak mengalami banyak kecurigaan. Mereka melakukan itu sejak sadar bahwa tuan mereka telah bertemu 'teman lama'.


"Takutnya, orang tua di sana sudah mengetahuinya." Ucapan Luo Youzhe merujuk pada Istana Yuansu. Karena terjadi di wilayahnya, Raja Istana Yuansu pasti telah mengetahui keberadaannya. Ia harus secepatnya menyelesaikan misi.


"Kalau begitu, Tuan Muda tidak bisa pergi ke halaman dalam untuk mengikuti ujian masuk Istana Yuansu." Chu Xin mengambil kesimpulan. Akan sangat berbahaya jika ketahuan.


Bao Jun melihat luka di punggung Luo Youzhe sampai membuat pakaiannya dilumuri darah. Ia menjadi khawatir. "Tuan Muda, kau terluka. Lebih baik kembali terlebih dahulu untuk beristirahat, baru menyelidiki identitas orang itu."


Hei Changge meneruskan, "Benar, karena dia gagal untuk percobaan pertama, maka dia pasti akan datang kembali dengan rencana baru. Tuan Muda harus siap."


"Tuan Muda, tangan Anda ...." Chu Xin meringis melihat luka bakar itu. Luo Youzhe mewarisi kekuatan api neraka yang merupakan jenis api terkuat, sama sekali tidak pernah merasakan yang namanya terbakar seumur hidup. Ini kali pertamanya mengalami luka bakar.


Luo Youzhe melihat tangannya, lalu mendengus. "Hanya luka kecil, sama sekali tidak sakit."


Ia justru pernah merasakan rasa sakit yang lebih buruk dari ini. Ucapan pria itu benar, ia bahkan sampai tidak ingin hidup berkali-kali. Jika bukan karena masalah yang mengganggunya dan rencana balas dendam, ia tidak akan hidup sampai sekarang.


"Kalian tidak perlu pikirkan hal lain. Untuk sekarang, bersihkan semua kekacauan kembali ke bentuk semula, jangan membuat kecurigaan. Raja Istana Yuansu pasti akan mengirim seseorang untuk memeriksa halaman luar besok, kalian harus menyelesaikan kekacauan dengan cepat." Luo Youzhe pergi setelah membebani tugas pada tiga bawahannya.


Mereka langsung bersikap tegas. "Baik, Tuan Muda!"


Setelah memastikan Luo Youzhe telah pergi jauh, barulah ketiga pemuda itu menjatuhkan bahu dan duduk di atas tanah dengan pasrah.


Bao Jun menghela napas pasrah dengan menyedihkan. "Sekarang kita jadi tukang bangunan ...."


"Lagi ...." Hei Changge melanjutkan dengan sedih. Mereka assassin, tapi harus melakukan tugas seperti ini. Menjadi assassin di bawah tuan muda tertentu memang tidak mudah.


"Jangan mengeluh, atau gaji kalian akan dipotong lagi." Chu Xin langsung menyeret mereka untuk bekerja keras layaknya menyeret domba yang akan disembelih.


Hari ini adalah hari yang berat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gu Yuena menghela napas lega setelah berhasil menjauh dari Luo Youzhe. Ia langsung duduk dalam posisi lotus, lalu menggunakan qi untuk mengendalikan racun darah yang tiba-tiba aktif. Ia tidak tahu akan sesakit ini dan tidak tahu penyebabnya.


Tapi sepertinya itu berhubungan dengan Luo Youzhe dan pria itu. Pasalnya, setelah Gu Yuena menjauhi Luo Youzhe, sedangkan pria misterius menghilang, rasa sakit itu sedikit mereda meski masih terasa tidak nyaman.


Xiao Hei kecil melihat nonanya dengan khawatir. Ia berjalan ke atas pangkuan nonanya, lalu menggosok kepalanya ke lengan Gu Yuena untuk menyemangatinya. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Gu Yuena, tapi ia tidak akan meninggalkan nonanya.


Setelah seluruh energi dalam tubuh serta racun api telah tenang, Gu Yuena membuka mata. Ia melihat kucing kecil di bawah, lalu membawa Xiao Hei ke dalam pelukannya.


"Dalam satu minggu kedepan, apa Nona tidak akan kembali ke asrama?" Xiao Hei bertanya-tanya.


Gu Yuena menggeleng pelan. "Awalnya aku berencana tidak kembali sampai pertandingan dimulai, tapi reaksi racun darah membuatku berpikir untuk memastikannya."


"Nona berpikir Luo Youzhe ada hubungannya dengan racun darah?"


"Racun darah berasal dari darah phoenix, tidak mungkin Luo Youzhe memiliki hubungannya secara langsung. Jika memang ada, seharusnya aku tidak bisa dekat-dekat dengannya selama ini. Tapi keaktifan racun darah harus ada pemicu pasifnya. Seperti ...."


"Luka?"


Gu Yuena berpikir sejenak. "Penyusup itu juga memicu racun darahku. Mereka telah mengalami pertarungan sengit sampai mengalami luka seperti itu. Tapi jika hanya luka biasa, sudah pasti aku tidak akan pernah bisa menjadi mata-mata apalagi pembunuh semasa hidup."


"Jadi, apa luka itu diakibatkan oleh benda khusus atau ... darah mereka juga khusus?"


"Darah phoenix hanya bereaksi pada darah naga ...." Gu Yuena diam untuk beberapa saat, terpikirkan akan sesuatu. "Tidak mungkin, 'kan?"


"Apa Nona berpikir ada dua darah naga sekaligus? Bukankah ... terlalu mustahil?"


"Tidak mungkin." Gu Yuena menyangkal dengan cepat.


Ia dan Luo Youzhe begitu intim, tapi darah phoenix-nya tidak bereaksi apa pun selama ini. Tidak mungkin pria itu memiliki darah naga. Apalagi ada dua darah naga yang hanya legenda selama ini. Dua naga dan satu phoenix, bukankah terlalu banyak kebetulan?


"Yah, pasti karena benda sihir. Menurutmu, benda sihir apa yang dapat memicu racun api?" Gu Yuena penasaran.


"Entahlah, aku baru pertama kali mendengarnya." Xiao Hei bahkan baru pertama kali terlibat pada konflik manusia, ia tidak mungkin tahu segala hal tentang manusia.


"Nona, apa kamu tidak berniat bertanya pada orang itu? Mungkin dia tahu sesuatu." Xiao Hei menganjurkan untuk bertanya pada Luo Youzhe. Meski tingkat keberhasilan hampir nol, tetap saja harus dicoba.


Gu Yuena hanya diam, tampak berpikir. Sudahlah, sepertinya ia memang harus kembali ke asrama besok.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, berita mengenai utusan Istana Yuansu datang mulai tersebar membuat seluruh murid halaman luar antusias. Tidak ada tanda-tanda pertempuran di akademi, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Entah sihir apa yang digunakan trio itu.


Beberapa orang berpakaian seragam putih khas Istana Yuansu memasuki gerbang akademi. Mereka disambut hangat. Sosok pria rupawan yang memimpin di antara dua pria tampan lainnya membuat para wanita menjerit akan rupanya yang tidak manusiawi.


Pria dengan tampilan lembut dan berkelas. Ia tidak terlihat mewah, tapi sangat elegan. Jika ada di dunia modern, sudah pasti ia akan direkrut agensi untuk debut sebagai idola.


"Senior Yun Qiao!"


"Senior Yun Qiao, aku padamu!"


"Apa semua orang Istana Yuansu sangat tampan? Benar-benar membuat iri."


"Bahkan Senior Wen Bin dan Senior Tao Hui juga datang. Tiga pria berbakat di Istana Yuansu memang seperti yang dirumorkan."


Seorang murid perempuan melihat mereka dengan mata berbinar. Senyumnya mekar di balik kipas yang ia pegang di depan wajahnya.


"Mereka tiga pria berbakat Istana Yuansu?" Ia bertanya pada teman di samping.


"Benar. Sebelumnya mereka juga murid seperti kita. Hanya dalam waktu setahun di halaman dalam, sudah menarik perhatian orang Istana Yuansu dan direkrut ke sana. Bahkan Yun Qiao, yang paling tampan itu, adalah murid langsung Raja Istana Yuansu dan berpotensi menjadi penerus Istana Yuansu."


"Jika dibandingkan dengan Bai Zhe, mana yang lebih tampan?" Ia bertanya lagi.


Temannya itu tampak berpikir. "Lin Susu, ini sangat rumit. Kalau bisa aku tidak akan memilih, haha." Ia menyengir kuda sambil tertawa.


Di sisi lain, Gu Yuena baru saja kembali ke kenyataan setelah semalaman berkultivasi. Ia meregangkan tubuhnya, lalu terarah pada murid perempuan yang berbondong-bondong ke arah gerbang akademi seperti dikejar sesuatu.


Gu Yuena yang penasaran mengikut secara alami. Ia menerobos kerumunan dengan tubuh mungilnya, dan melihat beberapa pria yang turun dari kuda tepat di depan aula. Ketiga pria itu terlihat tampan dan mencolok, apalagi salah satunya yang terlihat lembut seperti Gu Yuan.


Gu Yuena jadi merindukan kakaknya.


"Siapa mereka?" Gu Yuena bertanya pada seseorang di sebelahnya secara acak.


"Kau tidak tahu?" Pria itu terlihat terkejut. "Mereka adalah tiga pria berbakat di Istana Yuansu. Yang di tengah, yang paling mencolok adalah Yun Qiao. Lalu yang terlihat agak kasar adalah Tao Hui, sedangkan yang lebih terlihat cantik dan bertampang licik itu adalah Wen Bin."


"Beragam sekali." Sepertinya lawan bicara Gu Yuena kali ini tidak begitu suka pada mereka. Wajar saja, kebanyakan para pria di sini sangat iri pada mereka. Berbeda dengan para wanita yang seperti melihat harta karun.


Sayangnya, di mata Gu Yuena wajah mereka bertiga terlihat mirip. Jika bukan karena aura mereka yang sangat berbeda dari berbagai macam sisi, Gu Yuena pasti akan berpikir bahwa mereka adalah orang yang sama sedang membelah diri.


"Aku sarankan untuk membuat hubungan yang baik pada mereka. Paling-paling kau tidak boleh menyinggung mereka, atau akibatnya akan fatal. Yun Qiao adalah murid langsung Raja Istana Yuansu, sedangkan dua lainnya adalah teman seperjuangannya yang juga memiliki posisi penting di Istana Yuansu."


Gu Yuena memperhatikan mereka. Kekuatan mereka seharusnya sudah menembus tingkat 6. Mereka sangat berbakat. Lebih berbakat dibandingkan Ye Suanwu yang biasanya dipuji-puji.


Gu Yuena menggedikkan bahu tak acuh dan pergi dari sana. Entah apa tujuan mereka datang, bukan urusannya. Lebih baik fokus berkultivasi agar bisa menerobos tingkat lebih cepat dan mendapat kuota memasuki Istana Yuansu.


Gu Yuena berjalan ke arah gedung kelas untuk menantikan kelas pagi yang akan dilaksanakan. Tapi begitu memasuki divisi Huoyuan, ia secara spontan berbelok ke celah dua bangunan di sampingnya karena melihat Luo Youzhe yang melintas.


"Sialan." Gu Yuena mengusap wajahnya frustrasi sambil bersandar di dinding bangunan. Kenapa barus bertemu orang itu sekarang? Ia masih pusing memikirkan kejadian semalam dan ingin fokus pada tujuannya sebentar, tapi pria itu malah hadir. Kenapa dia di sini?


Dalam sekejap, Gu Yuena melupakan fakta bahwa Luo Youzhe juga belajar di divisi yang sama dengannya.


Sudahlah, tidak perlu pusing lagi. Anggap saja orang itu tidak ada dan mereka tidak saling mengenal.


Gu Yuena pun melangkahkan kakinya. Tapi ketika akan keluar dari gang di antara bangunan tersebut, ia dikejutkan oleh Luo Youzhe yang tiba-tiba hadir di hadapannya, menatapnya dengan tatapan seperti biasa.


Gu Yuena merasa jantungnya akan lepas saat itu juga.


"Apa aku begitu menakutkan?" Luo Youzhe bertanya.


"Apa aku terlihat seperti sedang ketakutan?" Gu Yuena menatapnya dengan menantang. Ia mundur dua langkah, lalu merentangkan kedua tangannya. "Kau bisa bunuh aku, aku tetap tidak takut."


"Aku tidak berselera membunuhmu." Luo Youzhe terkekeh. Hal tersebut membuat Gu Yuena sulit menerka pikirannya.


"Luo Youzhe, aku harap kau tidak berpura-pura di depanku. Kau menghitung semua jebakan dan peristiwa dengan cermat, mana mungkin kau adalah Tuan Muda Luo yang sering bertingkah itu. Aku tidak akan tertipu dengan tingkah kekanakanmu."


"Apa aku begitu palsu di matamu?"


"Setidaknya aku lebih percaya pria yang menculikku pada pertemuan pertama untuk interogasi yang gagal. Bukan pria yang menggangguku setiap saat seperti hiburan."


Luo Youzhe tetap melihat Gu Yuena dengan senyuman tipis yang biasa ditunjukkan. Tapi entah kenapa, pria itu terasa memiliki aura yang berbeda membuat Gu Yuena gugup. Aura dingin yang mencekat, seolah pria yang mengganggunya barusan tidak pernah ada.


Benar, ini aura yang sama ketika mereka pertama kali bertemu.


Luo Youzhe melangkah mendekati Gu Yuena lebih dekat. Ia menundukkan kepalanya ke telinga Gu Yuena, lalu berkata dengan suara pelan.


"Jika aku bersikap seperti ini setiap saat, kau tidak akan tahan."


Gu Yuena menjauhkan wajahnya dan melihat iris biru gelap itu. Ia menarik sudut bibirnya, mengangkat tangannya untuk menyentuh pelipis pria itu.


"Sudah kukatakan, aku tidak takut pada kematian, apalagi padamu." Gu Yuena bicara dengan nada pelan, tapi terkesan angkuh. Ia melanjutkan, "Aku bukan Gu Yuena yang berusaha kau pahami seberapa jauh kau mencarinya."


"Aku akan memahaminya."


"Berusaha memahami seseorang adalah awal dari sebuah perasaan yang dalam. Kau tidak mungkin jatuh cinta padaku, 'kan?"


"Bagaimana jika 'ya'?"


Gu Yuena menggeleng pelan. "Meski 'ya', tetap tidak bisa. Sebesar apa pun seseorang menyukaiku, tidak akan ada akhir yang baik."


"Apa itu ancaman?"


"Sayangnya itu semua adalah fakta yang tidak bisa diubah. Satu-satunya fakta yang tidak bisa diubah hanya kematian."


Luo Youzhe berpikir sejenak. Ia tampak serius untuk beberapa saat sebelum akhirnya melihat Gu Yuena kembali. "Kau seperti sedang mengatakan bahwa kau akan membunuhku jika benar-benar menyukaimu."


Tawa Gu Yuena pecah saat itu juga seolah mendengar lelucon. Ia menurunkan tangannya untuk bersedekap dada, melihat Luo Youzhe yang memiliki sedikit jarak di depannya dengan geli.


"Jika aku bisa membunuhmu, sudah kulakukan sejak kau menggagalkan pelarianku seenaknya, seperti orang-orang Klan Ye itu." Gu Yuena kemudian menegaskan kata-katanya. "Luo Youzhe, siapa pun kau, kupikir tidak ada gunanya bertemu dengan orang yang akan mati ini."


Luo Youzhe semakin bingung. Ia tidak merasa Gu Yuena memiliki riwayat penyakit, kenapa gadis itu mengatakan dengan yakin bahwa umurnya tidak lama?


Apa seseorang mengancam nyawanya sampai dia menjadi pasrah akan nyawanya sendiri?


Terdengar seperti bukan Gu Yuena yang ia kenal.


"Tidak perlu banyak tanya. Sekarang aku yang ajukan pertanyaan padamu. Kekuatanmu adalah api hitam—atau sebut saja api neraka. Kemungkinan terbakar oleh api lain sangat kecil. Tapi aku menemukan luka bakar di tanganmu. Aku ingin bertanya, apa pemicunya?"


"Hanya itu?"


"Ya."


Luo Youzhe terlihat enggan menjelaskan. Ia melihat tangannya sendiri yang diperban. Kekuatan penyembuhnya tidak berguna karena luka yang didapat berasal dari batu jiwa. Ia juga tidak mungkin mengatakannya pada Gu Yuena.


"Aku juga terluka, jadi aku harus tahu penyebabnya." Gu Yuena terpaksa menggunakan cara tipuan. Terakhir kali Luo Youzhe tertipu. Ia harap kali ini berhasil.


"Kau tidak terluka." Luo Youzhe tidak bisa ditipu lagi. Ia sudah tahu trik Gu Yuena setelah ditipu sekali.


Gu Yuena menjadi gemas sendiri. "Alasan aku tidak kembali ke asrama dan menghindarimu adalah karena luka bakar itu. Kemungkinan besar pemicu yang tersisa memengaruhiku, aku harus menyelesaikannya. Jika tidak, aku akan mati lebih cepat."


"Kau membicarakan kematian seperti sedang membicarakan waktu."


"Karena itulah aku."


"Tidak ada pemicu lain. Aku hanya mengalami luka bakar akibat serangan balik api neraka."


Gu Yuena terdiam. Luka bakar karena api neraka? Tidak, Luo Youzhe berbohong. Api neraka tidak akan membuatnya kesakitan seperti akan mati yang dialaminya karena ia memiliki api dari darah phoenix, api terkuat dari semua api.


Jika yang dikatakan Luo Youzhe benar, bagaimana dengan penyusup itu?


"Lalu penyusup itu—"


"Tidak ada penyusup."


"Dia—"


"Hanya seorang teman lama yang bertanding denganku semalaman. Kebetulan dia memiliki kekuatan yang sama denganku."


"Teman lama?" Bisa-bisanya bertanding dengan teman lama sampai bertarung hidup dan mati. Apa mereka benar-benar teman lama?


Terlalu tidak masuk akal.


"Jangan berpikir aku akan terkejut dan menggila seperti gadis bodoh. Meski kekuatanku saat ini masih kurang dari kata cukup, setidaknya aku pasti akan menjadi lebih kuat dengan cepat, melebihi kecepatanmu berkultivasi."


"Gu Yuena, tidak ada gunanya membicarakan masalah penyusup atau semacamnya. Dia adalah teman lamaku dan kami hanya bertanding."


"Lalu bagaimana dengan reaksi racun ...." Gu Yuena tidak melanjutkan ucapannya. Ia diam untuk beberapa saat, lalu membenarkan kalimatnya. "Bagaimana dengan reaksi aneh yang menyerangku tiba-tiba? Apa kau bisa menjelaskan?"


"Tidak segala hal aku tahu." Luo Youzhe berkata dengan dingin. Jika ia tidak ingin membicarakan sesuatu, maka ia tidak akan pernah membicarakannya.


Hanya saja, ia jadi penasaran racun apa yang dimaksud Gu Yuena, serta reaksi aneh yang dimaksud Gu Yuena. Apa benar ada hubungannya dengan batu jiwa? Ia masih harus menyelidikinya.


"Baik, jika kau tidak ingin membicarakannya, aku tidak akan bicara." Gu Yuena pasrah akan sikap keras kepala Luo Yozuzhe. Ternyata sifatnya lebih keras dari yang dipikirkan. Ia sampai tidak mendapat informasi apa pun.


"Aku sarankan untuk tidak terlibat dalam masalah apa pun. Ini untuk kebaikanmu." Luo Youzhe memperingati. Wajahnya terlihat serius.


"Aku tahu." Gu Yuena menghela napas, berusaha untuk tetap tenang. "Aku ada kelas, kita bicara lagi nanti." Ia pun pergi dengan perasaan kacau dan bingung.


Tapi sebelum Gu Yuena benar-benar pergi, Luo Youzhe menahan lengannya. Ia berkata, "Jika terjadi sesuatu, katakan padaku."


Gu Yuena hanya melihatnya dalam diam. Tanpa menjawab setuju atau tidak, ia pergi dengan langkah lebar. Sedangkan Luo Youzhe hanya melihat kepergiannya yang semakin menjauh. Sosoknya mengecil dan hilang dari pandangan, namun pria itu masih di tempat yang sama dengan ekspresi yang sama.


Masalah ini akan semakin rumit.