
Gu Yuena kembali pada kelompok siluman tanpa dicurigai. Kebetulan hari telah berlalu, para siluman terburu-buru pergi tanpa istirahat setelah fenomena alam serta ledakan gunung terjadi.
Ada pesan dari iblis, menyatakan bahwa mereka harus tiba secepatnya sebelum pemilik darah phoenix datang. Mau tidak mau, mereka melanjutkan perjalanan penuh sambil menghalau monster iblis yang menyerang.
Sepanjang jalan, Gu Yuena tenggelam dalam pikirannya sendiri karena wanita yang mengakui dirinya sendiri. Emosi yang dipicu wanita itu benar-benar membuat Gu Yuena dipenuhi pemikiran pembalasan.
Tidak masalah jika ingin membalas perbuatan Klan Ye dan Istana Linghun. Namun, bagaimana dengan kakaknya?
"Gu Yuan tahu banyak hal, tapi tidak mengatakannya padamu dan bersekongkol pada Ratu. Dia menipumu! Dia bisa jujur pada kekasihnya, tapi tidak denganmu sebagai adiknya. Gu Yuena, tidak ada yang bisa kau andalkan di dunia ini. Itu juga termasuk Bai Youzhe. Menurutmu, apa Bai Youzhe akan memperhatikanmu bila kau bukan pemilik darah phoenix?"
Kalimat itu terngiang di kepalanya. Wanita itu berhasil membuat Gu Yuana kesal setengah mati. Xiao Hei dan Xiao Bai tidak tahu apa yang terjadi pada Gu Yuena. Mereka hanya tahu bahwa Gu Yuena begitu kacau dan frustrasi sejak membuka mata.
"Sebenarnya apa yang harus kulakukan?" gumam Gu Yuena. Ia benar-benar kacau sampai tidak sadar bahwa kelompoknya telah menghentikan langkah. Gu Yuena pun menabrak punggung siluman yang berhenti mendadak di depannya.
Siluman itu menoleh ke arah Gu Yuena, sedangkan Gu Yuena hanya bisa menunjukkan senyum dan menuturkan permintaan maaf secara singkat.
Di depan sana, ada sebuah gua gelap berukuran dua orang dewasa. Kemungkinan kecil dimiliki oleh monster tingkat tinggi yang sebesar gunung. Gu Yuena tidak tahu apa itu, tapi firasatnya menjadi buruk. Ia membenci tempat sempit.
"Apa tidak ada yang ingin memeriksa ada apa di dalam sana?" Iblis yang memimpin jalan di depan bertanya pada para siluman. Saatnya menunjukkan kegunaan para siluman yang ia bawa.
Tidak ada yang menjawab. Dilihat dari sisi mana pun, gua itu jelas sangat mencurigakan. Selain memiliki ukuran kecil, lokasinya yang terang-terangan mengundang banyak monster iblis untuk masuk. Entah seberapa dalam dan apa yang ada di dalamnya.
Dari luar, Gu Yuena dapat merasakan aura beberapa monster iblis dari dalam sana. Seharusnya ada jalan lain yang lebih besar. Selain itu, ada pula fluktuasi energi yang tidak biasa.
"Kamu, cepat periksa!" Iblis itu menunjuk salah satu siluman gagak.
Siluman itu berubah wujud menjadi gagak normal, lalu terbang ke dalam sana. Dalam beberapa menit, gagak itu tidak kembali. Para siluman menjadi cemas.
Gu Yuena sendiri mengerutkan kening. Ia tidak merasakan apa pun dan yakin gagak itu masih di sana, hanya saja tidak tahu seberapa dalam gua tersebut.
"Apa ini berguna untuk pencarian roh phoenix?" tanya Gu Yuena. Menurutnya, terlalu membuang waktu.
"Jika bisa mendapatkan jalan pintas, itu akan menjadi lebih baik," jawab salah satu iblis.
"Sepertinya tidak ada yang menarik di dalam sana." Siluman lain berpendapat. Mereka sendiri tidak bisa merasakan jejak spiritual di dalam sana. Seolah gua itu buntu dan kosong.
Mereka mungkin tidak dapat merasakannya, tapi dua iblis serta Gu Yuena merasakan dengan jelas ada sesuatu di dalam sana. Itu sebabnya, mereka diarahkan untuk berhenti dan memeriksa.
"Kamu, burung api, periksalah lebih cepat!" Iblis itu menunjuk Gu Yuena yang berada di barisan belakang.
Gu Yuena menunjuk dirinya sendiri, merasa heran. "Aku?"
"Siapa lagi burung api di sini?" Iblis itu menyahut dengan sarkas. Biar ia memberi pelajaran pada burung arogan atas tendangan waktu itu.
Gu Yuena melihat sekitarnya, merasa ragu. Tapi kakinya tetap melangkah ke tempat itu sebelum akhirnya didorong ke dalam oleh iblis yang menyuruhnya.
Berdecak sebal, Gu Yuena bersumpah akan mencabik-cabik iblis itu menjadi beberapa bagian. Ia membenci tempat sempit, sedangkan gua ini sangat panjang dan memiliki lebar sebesar dua pria dewasa yang saling berhimpitan.
Mata Gu Yuena bisa melihat dalam kegelapan, apalagi setelah menerobos ke tingkat 9 baru-baru ini. Pandangannya menjadi lebih luas dan tidak gelap di dalam kegelapan. Ia bisa melihat layaknya pada malam hari.
Entah seberapa jauh Gu Yuena berjalan, dia tidak menemukan apa pun yang menarik. Sampai akhirnya suara gagak memecah keheningan disertai sosok hitam yang melesat terbang melewatinya begitu saja—nyaris menabrak wajahnya.
"Bahaya!" Gagak itu mengepakkan sayap, kabur sambil berteriak di kegelapan. Gu Yuena sendirian dalam keadaan bingung.
Bahaya?
Gu Yuena tidak merasakan fluktuasi energi berbeda, hanya merasa aura tersebut semakin dekat. Tidak tahu apa yang dilihat siluman gagak ketika mengatakannya di luar sana. Sama sekali tidak terdengar. Padahal ia bisa mendengar suara pekikan gagak yang menggema.
Lebih baik kembali sebelum kecelakaan terjadi, pikir Gu Yuena.
Ia berbalik arah. Namun, langkahnya berhenti begitu dirasanya tanah mulai bergetar. Dinding dan atap gua meruntuhkan pasir-pasir disertai bebatuan kecil, seolah-olah tempat ini akan runtuh.
Yang benar saja ....
Gu Yuena mempercepat langkahnya. Menggunakan kecepatan penuh, ia melesat seperti bayangan ke ujung gua agar dapat keluar sebelum benar-benar runtuh. Tidak tahu apa yang dipicu gagak tersebut di dalam, Gu Yuena merasa harus keluar saat ini juga.
Cahaya sudah terlihat, sedangkan guncangan semakin buruk ketika ia menginjakkan kaki di dekat mulut gua. Tinggal satu langkah lagi, ia sudah bisa keluar dari sini.
Namun, nasib tak berpihak padanya. Tanah yang dipijaknya runtuh, menjatuhkan Gu Yuena ke dalam jurang curam sedangkan tangannya memegang tanah yang tersisa agar dapat bertahan. Sialnya, ia tidak bisa mengeluarkan sayap karena tempat yang kecil.
Tempat sempit sialan!
Guncangan semakin memburuk. Gu Yuena berusaha keras untuk sampai di atas, lalu akan melambung cepat menggunakan kekuatan spiritualnya agar dapat menerobos reruntuhan.
Pasalnya, mulut gua mulai tertutup akibat bebatuan yang jatuh. Batu-batu yang awalnya kecil menjadi lebih besar, menutup jalan keluar yang harus dilalui Gu Yuena.
Ketika Gu Yuena akan tiba, bebatuan itu tidak memberinya kesempatan dan memadatkan ruang bergerak saat itu juga. Gu Yuena membentur bebatuan tersebut dengan keras, ingin menerobos secara paksa. Sayangnya, itu telah dilapisi oleh sihir aneh yang membuat Gu Yuena hanya bisa merasakan sakit di tulangnya karena berusaha menerobos tumpukan batu.
"Sialan!"
Gu Yuena mengerang kesal, memukul reruntuhan batu tersebut sampai kulit tangannya mengeluarkan cairan hangat berwarna merah. Ia terlalu frustrasi.
Tidak tahu sihir macam apa yang menahannya di sini, Gu Yuena merasa harus mencari jalan lain. Ia tidak boleh menyerah begitu saja.
Karena gua ini memiliki sihir tertentu serta beberapa monster di dalamnya, seharusnya ia bisa menemukan jalan keluar lain. Meski tempat ini sempit dan membuatnya tidak nyaman, itu bukan masalah besar. Ia sudah terbiasa berada di posisi terdesak seperti ini.
Berjalan ke kedalaman gua yang tidak lagi mengalami gempa, Gu Yuena hanya bisa meneruskan apa yang ada di depan mata. Xiao Hei dan Xiao Bai keluar, berjalan berdampingan dengan Gu Yuena untuk menjaga Nona dari bahaya.
Pengelihatan kucing di dalam kegelapan jauh lebih baik dari manusia. Sehingga jika ada sesuatu mendekat, mereka bisa memberi peringatan lebih awal.
Dan benar saja, tidak pernah ada hal baik di tempat misterius apalagi gua. Xiao Hei dan Xiao Bai terkejut bersamaan ketika seekor ular besar melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
"Nona, awas!"
Gu Yuena juga sadar akan hal tersebut. Ia dapat melihat seekor ular besar membuka mulutnya lebar-lebar tepat di depannya sambil meluncur. Gu Yuena secara spontan menunduk ke belakang. Dari posisi itu, ia dapat melihat ular tersebut dengan mudah berbelok dan akan menyerangnya lagi.
Di tempat sempit, sangat sulit untuk menangani seekor ular besar dan panjang. Gu Yuena bahkan harus melompat sesegera mungkin agar tidak terkena lilitan. Namun, usahanya tidak sepenuhnya berhasil karena keterbatasan ruang bergerak hingga akhirnya tubuhnya dililit begitu saja.
Xiao Bai dan Xiao Hei tidak bisa memperbesar tubuh, hanya menghindar dan melompat ke berbagai arah sambil memberi cakaran serta serangan sihir.
Kombinasi sihir keduanya berhasil membuat ular itu melepas lilitan Gu Yuena. Gu Yuena jatuh ke tanah, lalu memcari posisi aman untuk melakukan serangan. Pisau terbang keluar dari tangannya, meluncur mencabik-cabik ular tersebut beberapa kali sebelum akhirnya memotong bagian tubuhnya begitu ganas.
Ketika ular itu mengamuk dan akan melahap Gu Yuena, pisau terbang tersebut kembali ke tangan Gu Yuena lalu menembus mulut besar ular tersebut tepat di tenggorokannya. Sihir dialirkan, menghancurkan tubuh ular agar tidak menumbuhkan daging lagi. Ular itu mati seketika.
Pertempuran singkat itu tidak membuat kewaspadaan Gu Yuena mengendur. Ketika ia berbalik ke arah di mana ular tadi datang, bulu kuduknya merinding seketika.
Ada sangat banyak ular di sana.
Pantas saja tempat ini sangat sempit dan panjang. Ini adalah sarang ular.
"Nona, mereka adalah monster blis penjaga." Xiao Hei berkata dengan nada suara bergetar. Tidak masalah jika satu atau dua monster, tapi ini lebih dari itu!
Kekuatan monster iblis penjaga tidak sama dengan kekuatan monster iblis tingkat tinggi biasa. Mereka sudah melebihi monster iblis tingkat tinggi. Kekuatan mereka tidak dapat diukur hanya menurut usia atau tingkat kekuatan, tapi jenis yang mereka miliki serta berapa banyak yang mereka makan.
Yang baru saja mereka kalahkan hanya yang terlemah. Bahkan Xiao Hei bisa membunuhnya dengan mudah menggunakan satu serangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di luar gua, para siluman terdiam ketika melihat salah satu rekan mereka terperangkap di dalam. Sedangkan di sisi iblis, mereka tidak mau tahu dan memilih melanjutkan perjalanan.
"Itu adalah resiko melakukan perjalanan panjang dan berbahaya ini. Kedepannya, akan ada lebih banyak bahaya. Kalian yang takut mati, tidak memiliki kesempatan kedua untuk lari." Iblis itu bicara dengan arogan, membuat para siluman yang ingin protes pun terdiam.
Burung api itu tidak ada hubungan dengan mereka. Meski klan burung api sangat ganas, mereka adalah tokoh individualisme, tidak akan perhitungan hanya karena salah satu dari mereka mati dalam ekspedisi. Lagipula, ini adalah perintah sang iblis.
"Burung api itu sangat arogan, dia pantas mendapatkannya." Iblis yang sebeumnya terkena tendangan maut siluman tertentu mendengus.
"Ayo lanjutkan perjalanan!" Iblis lainnya segera memberi komando. Berjalan di depan, memimpin para siluman.
Mereka tidak tahu, sepasang iris biru malam di dalam kegelapan memperhatikan dengan penuh aura membunuh.
Tidak peduli siapa atau mengapa seseorang mendorong Gu Yuena dalam jurang kematian, ia tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Aura dingin itu terasa di punggung mereka semua—para siluman serta iblis yang memimpin. Menghentikan langkah dan memeriksa sekitar, tidak ditemukan adanya sesuatu yang membuat perasaan dingin itu muncul membekukan mereka. Entah kenapa, mereka merasa ketakutan.
Iblis pengganggu yang berjalan di belakang terkejut ketika melihat seseorang muncul begitu saja menghalangi perjalanan. Ia menepuk rekannya yang sibuk dengan para siluman, memberitahu bahwa ada makhluk lain yang menghalangi jalan.
Ketika melihat sosok berjubah hitam tersebut, tatapannya dipenuhi kejutan.
Aura naga yang pekat di tubuh sosok itu menunjukkan identitas naganya, membuat para iblis tersebut menjadi dingin. Seekor naga berani menghalangi jalan mereka? Benar-benar memiliki keberanian yang besar.
"Ternyata masih ada naga yang berani mengantar kematian secara sukarela di sini. Benar-benar tidak menyayangi nyawa sendiri. Apa kau datang untuk menyerahkan raga dan jiwamu untuk dimakan?" Iblis pengganggu itu mendengus dan mengejek terang-terangan sambil tertawa.
Sedangkan rekannya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aura naga itu jelas tidak biasa. Sedangkan para siluman ikut tertawa, meski ada perasaan dingin di hati mereka. Ada rasa takut, tapi salah satu iblis yang tertawa itu mencairkan suasana dingin di hati mereka.
Sosok itu hanya memandang tanpa ekspresi. Iblis itu pernah mengganggu Nana-nya seperti orang cabul dan merendahkan Nana-nya. Ia tidak akan melepaskan yang satu itu. Sedangkan yang lain mendorong Nana-nya pergi ke dalam bahaya.
Sosok yang tak lain adalah Bai Youzhe tidak hanya bisa menonton dari jauh. Ia mengangkat salah satu tangannya yang mengeluarkan kabut hitam tipis. Hanya dengan sedikit gerakan tangan, beberapa kabut hitam melesat seperti pisau kecil yang berterbangan menebas mereka satu per satu.
Iblis yang sebelumnya tertawa langsung terdiam begitu kabut hitam melesat ke arahnya. Ia segera memasang pelindung, tapi tidak cukup untuk menahan serangan sampai kabut hitam itu mendorongnya sangat jauh dan menyayat lehernya saat itu juga. Hal tersebut juga berlaku bagi iblis lain serta para siluman yang ikut tertawa.
Teriakan langsung menggema. Para siluman itu ketakutan setengah mati dan langsung memasang pertahanan, namun kekuatan mereka tidak cukup untuk menahan satu kabut hitam yang bahkan dapat membunuh seorang iblis dengan satu serangan.
Beberapa siluman yang tidak menjadi target pembunuhan langsung berlutut ketakutan dan bersujud. Mereka kemiliki posisi yang rendah, tidak akan masalah jika bersujud pada makhluk dengan posisi tinggi seperti naga atau iblis. Mereka bahkan bisa bersujud pada keduanya.
Bai Youzhe sebenarnya tidak ingin menyisakan siapa pun dari mereka, tapi ia ingat bahwa siluman memiliki peran cukup penting di Dunia Bawah. Ia tidak akan perhitungan lebih lanjut dan membiarkan mereka kabur kocar-kacir tanpa arah.
Kakinya melangkah ke arah gua yang kini tertutup rapat. Ada sihir tertentu yang membuatnya tidak bisa membuka jalan gua. Pasti itu juga yang membuat Gu Yuena tidak bisa keluar. Di dalamnya, selain monster penjaga, pasti ada sesuatu.
Ia harus mencari jalan lain di sekitar gunung dan mengunci aura monster penjaga sebagai titik pusatnya.
Assassin Guild masih dalam perjalanan, sedangkan roh phoenix sudah muncul di perut gunung. Ia telah menahan aktivitas gunung yang mulai aktif menggunakan pembatas, hanya tinggal menunggu Gu Yuena datang. Sayangnya, wanita itu terjebak di tempat lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kapan mereka tertidur?" Gu Yuena duduk di lorong gua bersama kucing peliharaannya, menunggu para ular itu tertidur. Wajahnya terlihat bosan. Entah berapa lama waktu yang ia habiskan.
Para ular itu akan melakukan pergantian kulit dan tertidur saat bulan purnama tiba. Itu adalah saat-saat terlemah mereka, sehingga Gu Yuena bisa mengambil kesempatan. Kebetulan, malam ini adalah malam bulan purnama.
Tempat yang sempit membuat Gu Yuena tidak nyaman. Di sini sangat pengap, sampai Gu Yuena kesulitan mendapat udara segar. Kulitnya sudah memerah karena udara yang panas tanpa sirkulasi.
"Seharusnya tidak lama lagi." Xiao Hei sebagai monster iblis dapat merasakan energi langit dan bumi. Langit saat ini sudah gelap, bulan purnama akan muncul.
"Lama sekali." Gu Yuena mengeluh sambil memeluk lututnya.
Xiao Bai berlari dari dalam kegelapan. Ia telah memeriksa para ular penjaga tersebut demi keamanan nonanya, kini mereka sudah tertidur. Kucing itu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa mereka sudah bisa bergerak.
Gu Yuena segera beranjak. Membawa Xiao Hei dan Xiao Bai ke dalm pelukannya, ia menggunakan sihir transparan agar sosoknya tidak terlihat oleh ular penjaga. Xiao Bai dan Xiao Hei juga menghilang bersama Gu Yuena. Kehadiran mereka tidak lagi dapat dirasakan.
Perlahan, Gu Yuena melangkahkan kakinya tanpa suara. Semakin lama, wilayah gua semakin membesar dan memiliki beberapa gundukan pasir di sekitarnya. Gu Yuena dapat melihat ada banyak ular kecil di antara gundukan tersebut tengah tertidur. Sedangkan yang besarnya ....
Gu Yuena nyaris menginjak salah satunya jika tidak segera menghentikan langkah. Saking besarnya sampai ekor tersebut menjulur berserakan di tanah bersama kulit ular yang terkelupas.
Sekiranya, ada banyak ular dengan ukuran seperti yang baru saja Gu Yuena bunuh. Mereka tidur secara sembarang, menggulung tubuh maupun membiarkannya terurai sampai membuat Gu Yuena kesulitan melompat melangkahi mereka.
Udaranya semakin panas dan pengap, seolah di dalam sana ada kobaran api yang menyala. Ada aura aneh di dalam, yang membuat kekuatan phoenixnya bereaksi.
Tidak mungkin itu roh phoenix, 'kan?
Gu Yuena melanjutkan perjalanan sembunyi-sembunyi. Entah sampai kapan ia melewati sarang ular yang besar ini. Ia merasa seperti berada di sebuah gua tak berujung.
Langkahnya terhenti begitu menyadari sesuatu bergerak di belakangnya. Xiao Bai melihat ke arah belakang, lalu melotot lebar.
"Nona, lanjutkan jalannya." Xiao Bai bicara hati-hati.
Gu Yuena tidak tahu harus tertawa atau menangis. Apa ia tertangkap? Ia jelas tidak melakukan kesalahan, mengapa mereka sangat peka?
Gu Yuena menoleh ke belakang, melihat beberapa ular yang bergerak dan mulai membuka mata. Mereka melata begitu saja melewati Gu Yuena.
"Sudah kukatakan untuk terus berjalan." Xiao Bai menyusut takut.
"Untungnya mereka tidak bisa melihat." Gu Yuena menghela napas. Bukan lega, namun karena tertekan. Tubuhnya yang transparan benar-benar tidak terlihat oleh makhluk-makhluk itu.
Kenapa mereka harus bangun begitu cepat!
Gu Yuena melanjutkan langkahnya. Ia dapat melihat ada banyak ular yang mulai bergerak. Bahkan sampai ada yang bertengkar kecil karena saling terkena pukul oleh ekor satu sama lain. Semakin kedalam Gu Yuena berjalan, ia semakin melihat banyak ular kecil yang melata baik di tanah maupun di dinding dan menggantung langit-langit gua. Telur mereka juga sangat banyak.
Tidak ada jalan lain selain jalan yang Gu Yuena lalui. Andai asa jalan lain, Gu Yuena lebih memilih mengambil jalan lain dibanding harus menghadapi ribuan ular dan melihat bagaimana kehidupan sehari-hari mereka.
Sampai akhirnya tiba di sebuah tempat, di mana par ular menghindari satu wilayah yang dipenuhi dengan sihir. Sihir gelap yang begitu hidup, membentuk area lingkaran dan dijaga oleh makhluk besar yang menakutkan. Dia lebih besar dari yang pernah Gu Yuena lihat selama ini.
Ular besar itu berada di tepi jurang curam. Sebagian tubuhnya menghadap sihir tersebut, menjaganya. Sedangkan sebagiannya lagi menggantung ke bawah jurang yang dipenuhi dengan aura panas dan cahaya merah api.
"Itu adalah Phyton Pelahap Api." Xiao Hei terkejut melihatnya.
"Kau bisa menanganinya?" Gu Yuena tidak peduli jenis makhluk apa itu, tapi ia rasa makhluk itu lebih mengerikan dari yang pernah ia lihat. Bahkan lebih kuat dari macan kumbang.
"Entahlah." Xiao Hei agak ragu. Mereka adalah jenis monster yang sama—monster penjaga.
Xiao Hei kuat, tapi dia telah terluka dalam waktu lama dan tidak memiliki cukup waktu meningkatkan kekuatan lebih banyak. Namun, ular itu memiliki keberuntungan yang lebih besar. Energi api di sekitar sangat murni, ular itu menyerapnya setiap saat sambil tertidur dalam waktu yang sangat lama, mungkin sudah ribuan tahun di Dunia Bawah. Xiao Hei jelas kalah saing.
Tentang energi api, seharusnya itu berasal dari jurang yang ditempati sang ular. Adanya api yang begitu besar dan murni di sebuah gua di dalam gunung, tidak perlu diragukan lagi bahwa jurang itu adalah kawah berapi yang hanya ada di perut gunung.
Sebenarnya Gu Yuena telah berjalan sejauh itu.
Gu Yuena yang menyadarinya tidak memiliki waktu untuk terkejut. Sepertinya ular besar itu sangat sensitif sampai membuka mata berwarna merah itu dari tidur panjangnya, melihat Gu Yuena dengan niat membunuh tinggi.
"Tamatlah ...." Gu Yuena menghela napas.