Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
44. Solo Vs Squad



Ketiga pemuda itu menyerang dengan ganas. Fang Shu dan Han Jie sama-sama hunter, sedangkan Jun Mo adalah guardian tipe tanah. Sangat jelas mereka bertiga memiliki keunggulan absolut yang dapat menekan Gu Yue sebagai seorang mage yang memiliki fisik lemah. Belum lagi dengan bantuan Lin Susu sebagai summoner.


Sudah dipastikan, Gu Yue akan babak belur saat itu juga.


Dua bilah pedang dan gumpalan batu menyambar secara bersamaan. Semburan api meluncur dari pedang Fang Shu, melalap segalanya dengan cepat. Sedangkan di sisi lain, Han Jie memiliki elemen angin yang mendukung api Fang Shu untuk menjadi lebih besar.


Gabungan dari dua kekuatan itu menyebabkan serangan eksplosif yang begitu dahsyat, bahkan orang biasa tidak akan bisa menahannya meski hanya dalam beberapa detik.


Jun Mo di sisi lain menggunakan pertahanannya untuk bersiap memblokir serangan Gu Yue. Sayangnya, anak itu sama sekali tidak terlihat bergerak dari tempatnya.


Atau bahkan tidak bergeming.


Seolah sedang melihat pertunjukkan sulap.


Kesal telah diabaikan, mereka langsung meluncurkan serangan saat itu juga. Serangan mereka berhasil membuat Gu Yuena bereaksi. Dia melompat dengan lincah, lalu menghilang dari tempatnya dan muncul kembali di sisi lain yang terhindar dari serangan.


Lin Susu melihatnya dengan terkejut. Kecepatan itu ... seperti kecepatan assassin. Bahkan lebih cepat dari assassin yang ia kalahkan.


Ia menjadi gelisah.


Jun Mo mendengus kesal melihat Gu Yuena yang hanya menghindar tanpa menyerang. Ia pun berteriak, "Jangan hanya menghindar seperti pengecut. Tunjukkan kemampuanmu!"


Fang Shu dan Han Jie tidak ingin banyak bicara seperti Jun Mo. Mereka langsung berpencar dan melancarkan serangan berikutnya.


Namun lagi-lagi Gu Yuena menghindar.


Ia menghindar, bukan karena takut atau meremehkan. Ia sedang menilai, sebesar apa kekuatan lawannya sebelum melakukan serangan. Jika ia dengan gegabah menyerang, itu hanya membuang tenaga jika serangannya gagal.


Bagaimanapun, merek lebih unggul jika dilihat dari tingkatan kultivasi.


Gabungan Fang Shu dan Han Jie sangat kuat, bahkan nyaris melampaui kultivator tingkat 5 biasa. Mereka pada dasarnya memiliki kultivasi tingkat 5 puncak, akan menerobos ke tingkat 6 dalam beberapa waktu. Mereka pantas menyombongkan diri di halaman luar di mana murid-murid lemah berada.


Hanya saja, itu tidak berlaku bagi Gu Yuena.


Gu Yuena masih menghindar sebisanya selama beberapa menit kedepan. Lin Susu bahkan bingung, apa orang itu tidak kehabisan tenaga hanya menghindar seperti itu? Ia bahkan sudah melihat Fang Shu, Han Jie, dan Jun Mo kehilangan banyak tenaga karena serangan yang gagal berulang kali.


Jun Mo meninju lantai arena dan menciptakan gundukan tanah yang lebih besar. Seperti sapuan gundukan tanah runcing yang terus mencuat di tiap sudut arena, menyebabkan jalan Gu Yuena terblokir. Jun Mo tersenyum senang akan hal itu.


"Gu Yue, kau tidak bisa lari lagi." Jun Mo mendengus, lalu melirik Fang Shu dan Han Jie memberihya kode.


Mereka langsung mengerti. Detik berikutnya, angin bertiup kencang disertai semburan api yang menyala. Tiap gundukan tanah itu diselimuti api, sedangkan hujan api terus muncul entah dari mana menyerang Gu Yuena bertubi-tubi.


Selain serangan hujan api dan gundukan tanah yang terus mencuat, mereka bertiga bergantian menyerang Gu Yuena secara langsung. Karena hal tersebut, Gu Yuena terpaksa mengeluarkan cambuknya dan membuat area dipenuhi dengan nyala api.


"Ck, bodoh." Fang Shu berdecak. Api adalah medannya. Gu Yue menggunakan api sebagai kekuatan sama saja bunuh diri!


Ctarrr


Suara hentakan cambukan menggema disertai cipratan api. Ia menangkis semua serangan yang ditujukan padanya, lalu melambungkan tubuhnya sendiri ke atas menggunakan kumpulan qi yang mulai memadat.


Gu Yuena melayang di udara dengan serpihan qi di bawah kakinya. Iris merahnya yang tampak seperti kobaran api melihat mereka dengan tajam, sebelum akhirnya senyuman muncul di bibirnya.


"Hanya itu?" Gu Yuena terkekeh. "Sudah beberapa menit berlalu, apa kalian begitu lemah?"


"Kau ...." Fang Shu nyaris mengamuk jika tidak ditenangkan Han Jie. Mereka bertiga sangat kesal pada orang yang melayang di atas sana dengan wajah sombong.


"Gu Yue, apa hanya itu yang kau punya?" Jun Mo mendengus kesal. Bisa-bisanya Gu Yue berkata seperti itu.


Gu Yuena memasang wajah berpikir. "Bagaimana, ya? Sebenarnya tidak hanya ini, tapi aku pikir tidak perlu membuang banyak tenagaku untuk menangani beberapa tikus."


Ia sengaja memprovokasi.


"Jika berani, keluarkan senjata pamungkas kalian secara bersamaan. Aku beritahu, empat orang bersamaan." Gu Yuena tersenyum lebar, tampak sangat berani. Ia belum melihat Lin Susu maju, jadi masih menunggunya.


Lin Susu mengepalkan kedua tinjunya diam-diam. Bisa-bisanya orang itu menghinanya seperti ini. Apa Gu Yue sedang berkata bahwa ia adalah pengecut yang hanya bisa bersembunyi? Benar-benar keterlaluan!


Fang Shu yang marah berteriak dan mengumpat kasar, "Baj*ngan, kau yang memintanya!"


Karena geram, dengan gegabah Fang Shu menggunakan bola api yang begitu besar di kedua tangannya. Bola api yang lebih besar dari tubuhnya sendiri, bahkan sampai semua orang menganga tidak percaya.


Itu adalah bola api yang pernah ia gunakan untuk mengalahkan Han Jie kala nyaris mengalami kekalahan. Saat itu Han Jie langsung kalah telak dan nyaris mati. Barulah Fang Shu mendapat kesempatan berada di peringkat pertama.


"Bodoh." Lin Susu kesal. Ia harus menghentikan kebodohan ini sebelum Gu Yue mengambil kesempatan.


Tangan Lin Susu bersinar cerah, hembusan angin menerbangkan rambut hitamnya yang membuat semua perhatian terpusat padanya. Fang Shu juga menoleh, lalu terdiam ketika Lin Susu mengatakan sesuatu.


"Kakak Fang, tahan tenagamu. Itu akan membuatmu dan kami semua terluka!" Lin Susu menegaskan setegas mungkin. Pada saat yang sama, muncul sebuah pusaran angin di atas kepalanya dalam ukuran besar.


Suara pekikan muncul dari sana.


Kaaaaak


Sebuah portal lingkaran terbentuk nyata di atas kepalanya, berukuran sangat besar. Di dalamnya, sosok besar mengepakkan sayap, terbang keluar dengan kecepatan tinggi.


Itu adalah seekor burung. Dia itu sangat indah bersama bulu putih dan hitam yang mencolok serta paruh runcing abu-abu yang berkilauan. Matanya abu-abu, tampak sangat menarik. Dia terbang di udara dengan pekikan keras bak elang yang membuat semua orang terpana.


Lin Susu menutup portal di atas kepalanya. Ia melompat ke punggung monster terbang itu, melihat Gu Yuena yang melayang di udara bersama serpihan qi yang menopang.


Bukan hanya Gu Yuena yang bisa terbang, ia juga bisa!


"Gu Yue, aku sarankan padamu untuk menyerah jika tidak ingin monsterku mencabik-cabikmu. Dia masih belum sepenuhnya patuh jika tidak akan mangsa, jangan membuatku terpaksa melakukannya!" Lin Susu memberi peringatan.


Sepasang mata indah Gu Yuena melihat iris monster itu. Ia tetap dengan senyumannya, lalu melihat Lin Susu kembali. "Aku pikir kau akan mengeluarkan serangga kecilmu untuk melumpuhkanku."


Lin Susu menghela napas. "Gu Yue, aku tidak tahu apa yang kau katakan."


"Lupakan. Mari kita berduel seperti yang telah direncanakan."


Lin Susu tetap menahan amarahnya. Bisa-bisanya ia pernah menyukai pemuda menyebalkan ini. Ia pasti sudah buta. "Baik, jika kau yang meminta, aku tidak akan berbelas kasih."


Kali ini, barulah pertandingan serius.


Lin Susu memimpin tiga pria itu untuk menyerang Gu Yuena. Bola api yang sebelumnya dikerahkan, dikembalikan ke asalnya agar tidak merusak rencana.


Dengan seekor monster terbang dan Lin Susu yang memimpin, mereka semakin percaya bahwa kemenangan ada di depan mata.


Kedua serangan utama—Fang Shu dan Han Jie—menyerang secara langsung di barisan depan. Jun Mo mengikut sebagai guardian yang akan menerima serangan Gu Yuena nantinya, sedangkan Lin Susu menggunakan serangan langit.


Gu Yuena melepaskan serpihan qi di kakinya untuk menyerang tiga orang itu. Menurutnya, itu saja sudah cukup merepotkan mereka. Masalah utamanya ada di monster terbang yang dipijak Lin Susu.


Ia melompat ke udara dan menahan tubuhnya menggunakan qi. Dengan cambuk api di tangannya, hentakan yang terdengar begitu mengerikan menggema ketika cambuk membentur serangan monster yang berbentuk bulu-bulu runcing yang menimbun.


Kaaaaak


Monster itu melengking dengan keras, memberi penekanan pada Gu Yuena. Bahkan tiga pemuda itu gemetar ketika mendengar pekikan monster itu.


"Habisi dia!" Lin Susu bergunam dengan nada jahat. Ia tidak percaya Gu Yue akan menang melawan monster tingkat 6 miliknya.


Serangan bertubi-tubi terus bermunculan dari monster itu. Medan api yang Gu Yuena buat kini telah padam diganti dengan kehangusan dan gundukan tanah yang menyatu dengan serpihan bulu monster yang tajam itu. Monster itu kadang hendak menggunakan cakarnya untuk menangkap Gu Yuena, tapi gerakan Gu Yuena begitu licin sampai monster itu tidak bisa menangkapnya.


Tidak lagi menggunakan cambuk, Gu Yuena menggantinya dengan pedang. Pedang berapi-api semerah darah dan penuh dengan panas api yang menyala, membakar apa pun yang menyentuhnya.


Ketika pedang itu beradu dengan pedang Han Jie, pria itu langsung termundur akibat tekanan sebelum akhirnya berganti melawan Fang Shu. Gu Yuena sebisa mungkin menjauhkan diri untuk membuat serangan sihir, namun Jun Mo terus menerus memblokir jalannya.


Ia harus menyingkirkan Jun Mo terlebih dahulu.


Gerakannya sangat cepat sampai tidak ada yang bisa menerka. Tiba-tiba saja Gu Yuena sudah ada di dekat Jun Mo, lalu menghancurkan pertahanan tanah yang ia buat menggunakan kobaran api yang menyala.


Jun Mo menggunakan palunya untuk menghantam Gu Yuena mumpung sedang dalam radius dekat, tapi ternyata dugaannya salah. Bukannya ia yang dipukul, ia justru terkena tekanan qi yang begitu panas membakar tubuh sampai terhempas ke luar arena ketika Gu Yuena mengepalkan tinjunya.


Kekuatan seperti itu ... apa dia benar-benar manusia!


Pada akhirnya, Jun Mo tereliminasi.


"Sial!" Lin Susu menggertakkan giginya. Ia merasa gelisah. Padahal jelas-jelas kesempatan ada di depan mata, tapi Jun Mo malah kalah telak.


Lagi pula ... sejak kapan fisik mage sekuat itu?


Gu Yuena melemas-lemaskan telapak tangannya karena keram habis meninju orang dengan keras. Sudah lama ia tidak betarung seperti ini, jadi terasa kaku.


Pandangannya teralih pada Fang Shu dan Han Jie yang kembali menyerang dengan pedang. Masalah berikutnya, harus ditangani dari jarak jauh jika tidak ingin mati.


Gu Yuena lagi-lagi menghilang ketika akan menghadapi dua orang itu.


Mereka kelimpungan mencari. Ditambah, tiba-tiba saja kobaran api menghalangi pandangan mereka dan kerap kali menyembur menyerang.


Lin Susu di atas memperhatikan. Matanya menyipit, merasa ada yang tidak beres.


"Mencariku?"


Lin Susu terkejut. Ia berbalik, tapi yang ia dapatkan justru sebuah tapak berat yang didaratkan di dadanya. Dalam sekejap, tubuhnya oleng dan jatuh ke bawah.


Monster itu tidak sempat menolong karena kumisnya ditarik Gu Yuena dengan keras. Bahkan bulunya dijambak dengan tidak berperasaan membuat monster itu melengking setiap saat di atas sana.


Lin Susu yang jatuh, terbatuk karena asap api dan mulai ditolong dua pria yang membelanya. Ia sangat kesal sampai ingin berteriak!


Melihat ke atas, ia merasa ingin muntah darah ketika melihat Gu Yuena menindas monster miliknya.


"Gu Yue!" Lin Susu sangat marah. Ia kembali memanggil monsternya, hingga monster itu akhirnya merespon.


Dalam sekejap, monster itu mengabaikan Gu Yuena dan menyambar ke arena untuk membawa Lin Susu dari kobaran api yang mengerikan.


"Oh? Maminta pertolongan." Gu Yuena meringis.


Ketika Lin Susu sampai di punggung monsternya, ia langsung menghunuskan pedang menyerang Gu Yuena.


Terjadilah adu pedang di atas monster terbang. Pada dasarnya, teknik berpedang Gu Yuena tidak lebih bagus dari Lin Susu. Sehingga ketika beradu pedang dengannya, Gu Yuena merasa kesulitan.


Kali ini Lin Susu merasa senang berhasil menekan Gu Yuena.


Ia menghentakkan pedangnya lebih keras penuh amarah. Karena hentakannya dan teknik pemutarannya yang cepat, Gu Yuena kehilangan pedangnya dan nyaris jatuh.


"Lihat, kau bahkan tidak bisa memegang pedang dengan benar." Lin Susu tersenyum miring.


"Oh ya?" Gu Yuena mengangkat tangannya, menggerakka jarinya. Dalam sekejap, pedang yang jatuh itu bergerak ke atas dan terbang lurus ke arah Lin Susu.


Wushhh


Lin Susu dapat merasakan pedang itu melewatinya, tepat di dekat lehernya.


Rambut-rambutnya di bagian kanan patah saat itu juga.


"Gu Yue ... kau ...." Lin Susu sangat marah.


Rambutnya ....


Mahkotanya ....


"Itu hanya rambut." Gu Yuena tersenyum puas. Ia melimpat ke bawah, membawa pedang terbangnya yang melesat dengan kecepatan tinggi.


Gu Yuena mendarat dengan aman, sedangkan pedangnya mulai bekerja menebas dua orang yang mengganggu.


Kecepatan pedang terbangnya terlalu cepat untuk direspon. Hanya dalam beberapa saat, di dalam kobaran api, gagang pedang itu telah mukul mundur Fang Shu dan Han Jie bersamaan sampai keluar arena tanpa disadari mereka sendiri.


Andai saja Gu Yuena sengaja menghunuskan ujung pedangnya ke dua orang itu, tempat ini akan penuh dengan darah.


Sekarang, tinggal Lin Susu yang kehilangan 'beberapa' rambutnya.


Gu Yuena memadamkan semua api yang berkobar agar dapat memperlihatkan semua yang terjadi di arena. Segalanya, sampai setengah bagian rambut Lin Susu yang terpotong dan terbakar.


Semua orang terkejut akan apa yang mereka ketahui.


Bukan serangan besar yang menggemparkan, bukan juga serangan yang membuat fenomena aneh.


Itu juga bukan teknik aneh dan beberapa sihir berbahaya.


Hanya beberapa serangan sederhana, namun dengan cara kejam dan brutal yang menargetkan kelemahan secara langsung.


Benar-benar mengerikan!


Sekarang, hanya monster tingkat 6 yang memiliki harapan untuk mengakahkan Gu Yuena.


Atau tidak sama sekali.


Gu Yuena memandang Lin Susu yang termenung memikirkan rambutnya yang rusak. Ia pun berkata, "Apa masih ingin melanjutkan? Atau ingin menyerah?"


Sebenarnya Gu Yuena tidak sekejam itu pada sesama wanita. Apalagi, ia lihat Lin Susu sudah cukup menyedihkan dan tidak terlalu mengganggunya.


Lin Susu melihat Gu Yuena dengan pandangan kosong. Matanya menyipit, sebelum akhirnya kilatan kebencian yang dalam terlihat di matanya.


Ia turun dari udara, berdiri di depan Gu Yuena dengan tatapan dingin yang menusuk. Sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah tidak bersalah.


"Ayo bertarung dengan adil. Selesaikan semua secepatnya." Lin Susu menantang dengan nada dingin. Ia sudah muak dengan semua kepura-puraan.


Gu Yuena memiringkan kepalanya, dengan senyuman yang masih seperti sedia kala. "Aku akan melayani."


Siapa yang akan takut?


Ia bahkan bisa membunuh dua ekor monster tingkat 6 sekaligus.