Dance Of The Phoenix

Dance Of The Phoenix
81. Aku tidak berpihak pada siapa pun



Gerbang Kota Yi penuh akan pertarungan sengit di mana para perwakilan istana mulai kewalahan akan ratusan pasukan yang menyerang. Jumlah perwakilan istana masing-masing pada umumya kurang dari 50 orang, dihadapkan oleh ratusan makhluk kematian yang mengerikan membuat mereka nyaris kalah telak.


Pada saat ini, kelima istana bersatu setelah sekian lama untuk melawan Aula Linghun. Fluktuasi energi terus muncul, menyebabkan banyak ledakan dari serangan berbagai elemen.


Murid Istana Tianshuang mengungguli pertarungan akan kekuatan tempur yang sangat kuat. Bahkan Zhou Ying yang sempat takut sebelumnya, mengeluarkan kuda giok tingkat 8 sebagai monster kontraknya dan mengalahkan beberapa pasukan kematian.


Yun Qiao sebisa mungkin melindungi Ru Meng yang sedang menahan pasukan kematian. Ia berhadapan langsung dengan seorang penyihir dibantu oleh murid lain. Elemennya adalah elemen cahaya yang sangat kuat, sehingga makhluk kematian enggan menyerangnya secara langsung.


Zhou Wei melakukan serangan udara menggunakan panah sebagai archer. Kekuatan esnya sangat kuat sampai menyebabkan seluruh medan membeku dan dihujani panah es. Para penyihir itu mengalami keterbatasan gerakan akan serangan udara Zhou Wei sehingga mereka harus mengirim monster udara untuk menyerang para penyerang udara.


Di bawah musim dingin yang sejuk, pengguna elemen es berada pada puncaknya sehingga pihak Istana Tianshuang mendapat keunggulan. Bahkan Zhou Tao yang biasanya diam saja, kini menunjukkan performa assassin yang sangat kuat seperti bayangan pembunuh. Ia terlihat sudah biasa menghadapi pertempuran besar.


Tapi keunggulan mereka tidak bertahan lama ketika para penyihir itu mulai membangkitkan pasukan kematian yang mati. Tanpa penyihir, pasukan kematian tidak dapat bangkit. Tapi para penyihir itu masih berdiri tegak di atas tanah setelah membunuh beberapa perwakilan istana.


Pria penyihir yang memimpin mereka terus memasang senyum mengerikan, menonton pertempuran antara manusia dan pasukan yang dibangkitkan tuan mereka.


Sayangnya, tuan mereka pergi ke tempat lain untuk menyelesaikan masalah istana.


Yun Qiao mengarahkan murid untuk menggabungkan kekuatan cahaya mereka dan mengurangi pasukan kematian. Itu dilakukan agar sisa perwakilan istana dapat menyerang penyihir.


Rencana Yun Qiao berjalan membuat kekuatan cahaya menahan pasukan kematian untuk sementara. Ia dan yang lainnya menghadapi penyihir secara langsung, sehingga pertempuran menjadi semakin intens.


Kekuatan penyihir pada dasarnya memiliki sihir yang sangat kuat. Apalagi bila memiliki tingkat kultivasi yang sangat besar dan terhubung dengan kekuatan jiwa. Mereka tidak bisa dikalahkan oleh satu orang dengan tingkatan yang sama.


Total penyihir di tempat ini ada sekitar 10 penyihir termasuk pemimpinnya. Jika kekuatan kesepuluh penyihir itu tidak sekuat tingkat 7, mereka akan mudah ditangani oleh murid-murid gabungan lima istana.


Tapi masalahnya, mereka semua berada di tingkat 7!


Sedangkan tidak semua murid perwakilan memiliki tingkat 7 yang artinya, pertempuran ini akan sangat sulit.


"Anak-anak ini sangat gigih." Pemimpin para penyihir memandangi tiap pewakilan istana dengan kepala yang dimiringkan. Pandangannya terarah pada Yun Qiao. "Pria itu agak merepotkan."


"Bisakah kami menanganinya?"


"Dia milikku, sisanya terserah kalian." Pria itu menunjuk ke arah Yun Qiao secara langsung.


Penyihir di belakangnya menyanggupi, segera pergi menyerang perwakilan kelima istana. Mereka adalah penyihir yang telah lama bertarung dan melawan jumlah yang lebih banyak sendirian. Mengalahkan tikus-tikus itu hanya masalah waktu.


Yun Qiao dilewatkan oleh para penyihir itu dan dihadapkan oleh pria penyihir yang memilihnya untuk disingkirkan. Zhou Tao awalnya ingin membantu, tapi para penyihir itu menariknya ke dalam pertempuran rumit.


"Sepertinya kau adalah penerus Istana Yuansu. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka jika mengetahui, bahwa penerus mereka tidak bisa mengalahkan seorang penyihir."


Tatapan Yun Qiao mengeras. "Itu belum tentu."


Yun Qiao yang biasanya sangat lembut dan ramah, kini menunjukkan sisi mengerikan di medan tempur. Pedangnya diayunkan dengan sepenuh tenaga pada penyihir tanpa senjata itu.


Penyihir itu menggunakan sihirnya dengan ahli dan menangkis tiap serangan Yun Qiao. Pertempuran mereka menjadi sengit ketika sihir penyihir itu mulai melakukan serangan.


Sihir hijau menyala dan membentuk lingkaran sihir di tanah. Cahaya dari dalam lingkaran sihir menyerang seperti laser, tepat ke arah Yun Qiao.


Cepat-cepat Yun Qiao melompat ke sisi lain. Tapi rupanya sihir hijau itu telah menguncinya hingga mau tidak mau ia harus menghadang sihir tersebut menggunakan pedang.


Tekanan sihir terhadapnya terlalu kuat sampai Yun Qiao tertahan di satu tempat. Kakinya mundur ke belakang, sebelum akhirnya sihir itu menekannya sampai terhempas.


Ia kalah hanya dalam satu serangan.


"Aku perihatin Raja Istana Yuansu masa depan hanya seperti ini. Sepertinya, lima istana sedang sangat menurun." Penyihir itu tertawa sambil mengangkat kedua tangannya untuk meluruskan serangan.


Yun Qiao mengangkat senjatanya kembali. Penyihir itu sengaja menargetnya untuk menjatuhkan mentalnya. Ia tidak boleh lengah.


"Oh? Masih ingin melawan?" Penyihir itu mengayunkan tangannya memberikan serangan sihir.


Yun Qiao menghindari serangan pertama, begitu pula berikutnya. Tapi ketika ia akan menyerang lagi, sihir hijau itu menghantam tubuhnya sampai Yun Qiao jatuh seketika.


Penyihir itu sepertinya menjadi bosan karena lawan terlalu lemah. Ia membentuk bilah yang terbuat dari sihir hijau, lalu melepasnya ke arah Yun Qiao.


Sihir itu seperti tombak yang terhunus di udara. Yun Qiao berdiri secepatnya dan akan menahan serangan dengan sisa tenaga, tapi tiba-tiba sebuah kilau merah melintas menarik sihir hijau tersebut.


Sihir hijau itu terhempas entah kemana dan hancur berkeping-keping meninggalkan ledakan yang terpicu. Sebuah cambuk berapi-api terulur dari arah ledakan, menghentakkan tanah sampai menimbulkan suara nyaring.


Sayap berapi-api mendarat tepat di depan Yun Qiao. Itu adalah Gu Yuena.


"Xiao Yuena, kenapa kamu di sini?" Yun Qiao terkejut. Seharusnya Gu Yuena meminta bantuan pada Istana Yuansu.


Pandangan Gu Yuena tetap melihat penyihir itu. Ia berkata pada Yun Qiao, "Pergilah dengan yang lain, aku memiliki rencana."


"Xiao Yuena—"


"Butuh waktu bagi mereka untuk datang. Jangan sampai terjadi lebih banyak korban." Gu Yuena menekankan kata-katanya tanpa mengalihkan pandangan.


Yun Qiao masih terlihat ragu. Kedatangan Gu Yuena juga menarik perhatian istana lainnya. Ru Meng datang dengan rasa khawatir dan menggeleng cepat tidak ingin meninggalkan Gu Yuena.


"Kakak Seperguruan, aku akan tetap di sini denganmu." Meski kekuatannya tidak sebaik yang lain, Ru Meng tetap bisa membantu.


"Jika kami harus pergi, kamu juga harus pergi." Yun Qiao bersikeras membuat Gu Yuena pusing sendiri.


Masalahnya, Gu Yuena tidak bisa menggunakan kekuatan penyihirnya di depan mereka semua. Bukannya takut ketahuan, melainkan metodenya kali ini tidak akan bisa disanggupi oleh mereka.


"Pergi." Gu Yuena menjentikkan sihir hipnotis pada mereka. Tidak hanya Yun Qiao dan Ru Meng, melainkan semua perwakilan istana dan prajurit walikota di gerbang.


Mendadak pertempuran mereka berhenti. Penyihir maupun pasukan kematian yang menyerang, tiba-tiba memantul akan reaksi sihir yang menyelimut mereka semua.


Terlihat keraguan di mata Yun Qiao dan Ru Meng. Mereka tidak memiliki pilihan selain patuh setelah terkena sihir hipnotis dan berpikir bahwa ucapan Gu Yuena benar adanya.


"Hati-hatilah." Yun Qiao memberi pesan terakhir. Pandangannya agak linglung, sebelum akhirnya mengarahkan semua orang untuk mundur.


Seluruh perwakilan dan pasukan walikota mundur ke dalam gerbang, membiarkan penyihir yang kebingungan dan pasukan kematian yang tertahan.


Setelah semua orang pergi, pintu gerbang ditutup sempurna.


Tersisa Gu Yuena di medan perang.


Pria penyihir yang sebelumnya melawan Yun Qiao memiringkan kepalanya. "Penyihir mengenali penyihir lainnya. Kenapa kau berpihak pada mereka?"


Gu Yuena meliriknya, lalu tersenyum. "Aku tidak berpihak pada siapa pun," katanya menarik cambuk di tangan, menggantinya dengan gumpalan sihir merah lalu melangkah, "Aku berpihak pada diriku sendiri."


"Hmph, mari kita lihat siapa yang lebih berguna antara pengkhianat dan abdi setia."


"Oh? Maksudmu, anjing setia?"


Pria penyihir itu mengeluarkan sihir hijaunya. Seperti bola api yang menyerang, ia mengarahkannya ke arah Gu Yuena.


Gu Yuena mengangkat tangannya, menghentikan serangan sihir hijau itu sehingga tertahan di udara. Detik berikutnya, sihir hijau itu dikembalikan dengan kekuatan yang lebih besar ke arah pria itu.


Pria itu memiliki kecepatan yang tidak sebagus Gu Yuena, sehingga tidak bisa sepenuhnya menghindar dan terkena sedikit sihir yang berbalik di lengannya.


Hal itu tidak berhenti di sana. Gu Yuena langsung memperlebar luka sihir pada penyihir itu secara tidak langsung dan merobek kulit dan dagingnya sampai mematahkan tulang-tulangnya yang terlihat.


Gadis itu hanya sedikit menggerakkan tangan, pria penyihir itu telah berteriak kesakitan dan mati saat itu juga. Hal tersebut membuat para penyihir lainnya terkejut.


Pria yang baru saja dibunuh adalah yang terkuat di antara mereka. Tapi mati begitu saja hanya dengan sedikit sihir.


Siapa gadis itu sebenarnya? Apa dia monster?


"Sudah lama aku tidak membunuh manusia." Sepasang iris merah itu melirik para penyihir yang tertegun. Ia menunjukkan senyum yang tidak sampai mengerucutkan matanya. "Apa kalian tidak ingin pergi melaporkan, atau bergabung dengannya?"


Ucapan provokasi Gu Yuena membuat mereka geram. Mengabaikan bagaimana pemimpin mereka mati begitu mengerikan, mereka maju menyerang Gu Yuena secara bersamaan menggunakan sihir.


Mereka yakin, dengan melawan gadis itu bersama-sama, mereka memiliki kesempatan besar untuk menang.


Sayangnya mereka salah perkiraan.


"Padahal aku sudah memberi kesempatan, lho." Gu Yuena mengepakkan sayapnya dan melambung ke udara.


Kedua tangannya yang memancarkan sihir bergerak ke depan, menyebarkan sihir merah seperti jaring besar dan menyerang mereka semua.


Para penyihir itu merasa kekuatan mereka ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat. Beberapa dari mereka telah mati karena jaring besar yang menembus tubuh mereka. Sisanya, harus dihadapkan dengan pasukan kematian yang tiba-tiba saja mengubah pihak.


Pasukan kematian dapat dikendalikan oleh pemilik kekuatan jiwa yang kuat. Semakin kuat, semakin mudah mengendalikannya dan merebut kendali dari penyihir lain.


Mereka membunuh pasukan kematian dengan penuh tenaga. Sampai akhirnya kekuatan mereka habis total, Gu Yuena mengambil alih pikiran mereka menggunakan sihir terlarang yang ia pelajari.


Mata mereka berubah menjadi merah, mirip dengan warna sihir Gu Yuena. Layaknya boneka, Gu Yuena menggerakkan jarinya untuk menggerakkan tubuh mereka untuk mengakhiri hidup dengan cara menikam jantung sendiri.


Mereka sadar apa yang mereka lakukan salah, tapi tidak bisa mengendalikan pikiran mereka dengan baik sampai kematian tiba begitu saja.


Tanpa perlu melumuri tangan dan pakaian indahnya dengan darah, Gu Yuena membunuh semua penyihir di tempat ini tanpa sisa. Jika orang lain melihatnya, ia akan dianggap sebagai jelmaan monster.


Itu sebabnya ia mengusir semua orang.


Pasukan kematian yang tersisa ambruk begitu saja setelah Gu Yuena memutuskan kekuatan jiwanya dan membunuh mereka dari dalam. Gadis itu mendarat ke atas tanah.


Wajahnya terlihat pucat.


Ia telah menghabiskan hampir seluruh tenaganya untuk membunuh mereka dalam waktu singkat. Selalu ada batasan untuk melakukan sesuatu yang besar.


Xiao Hei pun muncul untuk menjadi tunggangan Gu Yuena yang kehabisan tenaga.


"Nona, istirahatlah. Kita akan kembali ke Istana Yuansu bersama yang lain setelah ini." Xiao Hei tampak khawatir.


Gu Yuena tersenyum tipis, terlihat tulus dibandingkan senyuman sebelumnya. "Benar."


Hanya saja, firasatnya menjadi buruk.


Ia tidak tahu, seseorang di luar sana menunggu kedatangannya untuk menyelamatkan 'benda' kesayangan.


Di bawah awan gelap dan petir yang menyambar sebuah tempat yang sebelumnya sangat megah dan indah, sosok pria bertopeng dengan jubah hitam yang tampak misterius berdiri di atas tebing.


Ia membuka mata, melihat kobaran api dan suara peperangan yang bagaikan nyanyian merdu baginya.


"Lama sekali," ucapnya.


Kakinya melangkah ke bawah sana. Tubuhnya perlahan melayang di udara dan melesat dengan kecepatan tinggi.


Ketika ia datang ke wilayah peperangan, banyak pasukan bersorak menyambutnya sambil menumpahkan darah dengan girang.


...----------------...


Lawan Nana nih, guys.


Kira-kira siapa yang akan menang?