
"Terimalah!"
Gu Yuena menyerahkan kotak berisikan hadiah untuk Gu Yuan. Setelah tragedi membingungkan sebelumnya, Gu Yuena dan Luo Youzhe pergi ke paviliun di mana Klan Luo berada dan bertemu Gu Yuan serta Luo Yi.
"Ini ...." Gu Yuan menerima kotak tersebut dan membukanya. Ketika melihat isinya, ia langsung mengetahui benda apa itu. Matanya berbinar.
Gu Yuena menyahut, "Kemarin belum sempat membeli hadiah dan baru membelinya setelah perayaan. Itu adalah hadiah dari kami berdua. Aku yang memilih, dia yang membayar."
Luo Yi menarik sebelah alisnya. "Sejak kapan kalian menjadi akur?" Ia melirik sepupunya dengan curiga.
"Sedikit memperbaiki hubungan tak masalah." Luo Youzhe menyahut dengan santai. Namun ekspresi Gu Yuena menjadi tampak keberatan.
"Siapa yang memperbaiki hubungan?" Gu Yuena mencibir. Mana mau ia berdamai dengan pria pamer itu.
"Sebentar lagi kalian adalah kakak adik, jadi jangan sering berkelahi." Gu Yuan melirik adiknya yang mengikuti caranya bicara tanpa suara. Gu Yuena langsung diam ketika menyadarinya.
"Gu Yuan, jangan harap aku bisa memanggilmu sebagai 'kakak ipar', aku tetap tidak merestui." Luo Youzhe bicara dengan malas tanpa peduli tatapan Luo Yi terhadapnya, sedangkan Gu Yuan acuh tak acuh. Luo Youzhe pun melirik Gu Yuena, kemudian melanjutkan, "Tapi menjadi kakak dari Nana cukup bagus. Kau tenang saja, tidak ada yang bisa menindasnya selain aku."
Gu Yuena memutar bola mata. "Luo Youzhe, kau terlalu berharap banyak. Jangan berpikir aku akan memanggilmu dengan hormat. Selain itu, kau tidak berhak memanggilku 'Nana'."
Luo Youzhe mendengus. "Tidak tahu siapa yang mengenalkan diri sebagai Nana, kemudian kabur begitu menikmati sesuatu."
Wajah Gu Yuena merah padam. Bisa-bisanya pria tengil itu membahasnya di depan Gu Yuan dan Luo Yi. Apa dia tidak takut karma!
"Luo Youzhe, aku harap kita tidak pernah bertemu lagi!" Gu Yuena memalingkan wajah kesal sambil melipat kedua lengannya di dada.
Gu Yuan dan Luo Yi hanya memperhatikan perdebatan kecil itu tanpa ikut campur. Dua orang ini, hanya umurnya saja yang meningkat, tapi sikapnya menurun menjadi anak-anak.
Setelah perdebatan kecil tersebut, dua manusia itu kembali tenang dan hanya memperhatikan interaksi Gu Yuan dan Luo Yi. Mereka—terutama Gu Yuena—merasa berada di tempat yang salah. Ini kali pertama melihat kakaknya bersikap begitu lembut pada seorang wanita selain dirinya. Ia cemburu!
Karena tidak bisa menahan cemburu, Gu Yuena pun pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia memeluk Xiao Hei di lengannya, melangkah dengan langkah lebar keluar dari paviliun menuju paviliun miliknya sendiri.
Tersisa Luo Youzhe yang berada di tengah-tengah kemesraan pasangan itu. Ia merinding melihat kakaknya yang patuh dan manis. Karena hal itu, ia pun pergi keluar dari kediaman untuk cari angin. Ia tidak akan ikut campur urusan siapa pun.
Di samping itu, Gu Yuena telah tiba di paviliunnya. Kedatangannya disambut dengan baik oleh Chu Xin dan membantunya mengganti pakaian yang sedikit kotor. Bahkan Gu Yuena baru sadar bahwa pakaiannya memiliki bercak tanah dan debu dari hutan.
Chu Xin membantu Gu Yuena menyalin pakaian. Tapi ketika ia membantu melepas pakaian Gu Yuena, ia terkejut menemukan beberapa memar di tubuh Gu Yuena. Dia terlihat baik-baik saja, tapi siapa sangka akan menyimpan memar seburuk itu.
"Nona ...." Chu Xin merasa bersalah. Entah apa yang terjadi pada nonanya, seharusnya ia mengikuti nonanya sejak awal agar tidak terluka seperti ini.
Gu Yuena menyadarinya. Pantas saja ia merasa tubuhnya tidak nyaman, ternyata ia sedikit terluka. Tapi hanya luka kecil, sama sekali bukan masalah.
"Oleskan saja obat, itu bukan luka besar." Gu Yuena menanggapinya dengan enteng, namun Chu Xin tampak panik.
"Nona, tubuh sorang gadis harus dijaga dengan baik dan menghindari luka sekecil apa pun sebelum menikah."
"Aku hanya terjatuh, bukan masalah besar." Lagi pula siapa yang akan menikah? Gu Yuena malas membicarakan hal itu. Itu mengungkapkan betapa lemah ia. Sepertinya ia harus serius berlatih. Kalau perlu melakukan pelatihan tertutup. Musuh yang ia hadapi terlalu kuat.
Chu Xin mengobati memar di punggung Gu Yuena dengan hati-hati dan telaten. Setelah mengoleskan obat, ia mengambil pakaian Gu Yuena dan dikenakan olehnya.
Belakangan ini Gu Shan menjadi sangat baik memberikan pakaian bagus untuk Gu Yuena, apalagi setelah kepulangan Gu Yuan. Semua pakaian lusuh itu dibuang, digantikan dengan yang baru. Mereka bahkan memesan banyak pakaian.
Gu Yuena menghela napas, merasa sangat lelah dan ingin tidur saja. Sayangnya, ia masih harus menerjemahkan berkas yang Adipati Gu kirim dan diselesaikan malam ini. Ia harus bersabar.
Ia pergi ke ruang belajar dan mulai menerjemahkan. Tapi tiba-tiba terlintas sesuatu yang membuatnya menghentikan menulis.
Ia teringat dengan buku yang ia beli di Pasar Gelap, serta buku misterius yang ia curi dari paviliun Ting Le.
Gu Yuena mengeluarkan kedua buku itu. Xiao Hei juga muncul, berdiri di atas meja untuk melihat. Ketika Gu Yuena membuka buku lusuh itu, ia melirik Xiao Hei.
"Bagaimana kau akan berlatih? Aku bukan summoner dan tidak akan menjadi summoner."
"Meow~" Xiao Hei mengeong berkali-kali seolah memberitahu sesuatu. Namun Gu Yuena hanya diam, tidak mengerti maksud kucing itu.
"Kau lakukan saja sesukamu." Gu Yuena menyerah. Ia menyerahkan buku lusuh dan sobek-sobek itu begitu saja pada Xiao Hei.
Ia melihat buku besar dan tebal di sisi lain. Buku itu tampak sangat kuno dan memiliki kertas yang terbuat dari kulit sehingga terasa tebal. Buku ini sudah sangat lama seolah berasal dari ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu.
Membuka buku tersebut, tulisan di dalamnya terpapar secara acak dan sulit dimengerti. Gu Yuena mengerutkan kening. Untung saja ia mengerti bahasa mandarin kuno sehingga paham apa yang tertuliskan di sana.
Ia membolak-balik tiap halaman dan melihat banyak gambar aneh dilukiskan. Ada banyak gambar phoenix dan naga serta lingkaran sihir yang tidak diketahui artinya. Gambar-gambar itu juga terlihat sangat menyeramkan, seolah itu semua adalah monster haus darah dan pemburu manusia.
"Darah phoenix?" Sejauh Gu Yuena membaca, ia hanya menangkap istilah 'darah phoenix' yang tertera disertai gambar phoenix yang begitu gelap bersama lingkaran sihir.
Darah phoenix adalah sebuah anugerah atau kutukan yang datang untuk orang tertentu. Sangat jarang darah phoenix yang legendaris menunjukkan diri atau bahkan muncul di permukaan, karena mereka tidak seperti kekuatan elemen yang diturunkan dari orang tua.
Darah phoenix memiliki kekuatan tersendiri, yakni api surgawi yang paling murni di dunia. Tapi jika jenis phoenix dalam darah phoenix adalah phoenix kegelapan, maka api itu disebut sebagai api neraka. Mereka sangat kuat, bahkan dapat mengguncang dunia dengan keberadaannya.
Seorang anak yang terlahir dengan darah phoenix akan mendapat kekuatan tak terbatas dengan kecepatan kultivasi luar biasa. Tapi umur mereka begitu pendek, hanya bisa mencapai usia 20 tahun.
Satu-satunya cara untuk menyelesaikan kekurangan darah phoenix adalah melengkapinya dengan darah naga. Ketika phoenix dan naga bertemu, maka akan mewujudkan kekuatan yang abadi dan melepaskan kutukan darah phoenix yang mengikis umur pemiliknya.
Namun darah naga lebih langka dibanding darah phoenix dan sulit dilatih. Jika darah phoenix dapat mempercepat proses kultivasi, maka darah naga membutuhkan banyak pengorbanan untuk sebuah kultivasi yang akan menghasilkan kekuatan besar.
Kebanyakan dari mereka mati muda karena tidak bisa melewati proses pengorbanan yang dimulai sejak usia belia. Tiap kali pemilik darah naga menerobos tingkat, ia harus melalui banyak kesakitan untuk menerima kekuatan yang lebih besar dari umumnya.
Bahkan pada beberapa kasus, darah naga dapat mengikis jiwanya secara perlahan dan menyakitinya dalam waktu lama. Untuk menghindari penderitaan itu, darah naga membutuhkan darah phoenix untuk menolongnya. Ini akan menimpulkan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
Selain membicarakan rahasia darah phoenix dan naga, ia juga menemukan beberapa keterikatan informasi dengan penyihir serta Istana Linghun. Buku ini dibuat oleh pendahulu Istana Linghun dalam melakukan riset mengenai darah phoenix dan penyihir. Jika pemilik darah phoenix berlatih untuk menjadi penyihir, ia akan mendapat kekuatan yang lebih besar dari seharusnya.
Penyihir adalah profesi sakral dan terlarang. Siapa pun yang berlatih sebagai penyihir akan dibunuh, karena mereka dianggap sebagai kutukan dan pembawa nasib buruk.
Mereka adalah pengguna sihir tanpa mantra. Sedangkan sihir bila dikeluarkan tanpa mantra, dapat digunakan secara besar-besaran dan tak terbatas sehingga dapat mengganggu keseimbangan dunia.
Kekuatan mereka juga mengandalkan kutukan dengan berbagai efek sihir yang merugikan banyak orang. Mereka mematikan dan dapat mengubah bumi menjadi lautan darah dengan menanamkan kutukan terlarang dan membunuh dengan cara mengerikan.
Bila pemilik darah phoenix melatih diri sebagai penyihir, ia akan menjadi penyihir terkuat dalam sejarah dan dapat menguasai dunia hanya dalam satu genggamannya. Sayangnya, semua penelitian itu berakhir. Karena selama bertahun-tahun, darah phoenix selalu mati di usianya yang ke-20.
Gu Yuena membaca buku setebal itu sampai akhir. Semua yang tertulis di sana adalah mengenai pelatihan penyihir dan darah phoenix serta hasil-hasil penelitian yang dilakukan Istana Linghun.
Seorang penyihir muda diharuskan memahami lingkaran sihir. Bagi mereka yang memiliki ingatan fotografi dan ketelitian mendalam, bukan masalah besar untuk mempelajarinya dalam waktu singkat.
Selama mereka menguasai berbagai fase lingkaran sihir dan mengaplikasikannya, mereka tidak perlu lagi menggunakan mantra untuk mengeluarkan sihir dan menggunakannya secara tak terbatas. Semua lingkaran sihir dalam buku adalah lingkaran sihir dasar, namun efek kekuatannya dapat melebihi sebuah mantra sihir.
Seseorang masuk ke dalam ruangan begitu saja seorang diri. Kehadiran Ting Le yang tiba-tiba membuat suasana menjadi redup. Chu Xin di belakang terus mencoba menghentikan Ting Le dan merentangkan tangannya di depan Ting Le agar tidak masuk lebih jauh.
"Nyonya tidak bisa seperti itu. Pekerjaan yang diserahkan Adipati Gu lebih penting, tidak bisa diganggu atau diulur. Jika Adipati Gu tahu Nyonya mengganggu pekerjaan Nona ...."
"Hanya seorang pelayan rendahan, berani mengancamku?" Ting Le menatap Chu Xin dengan tajam, sedangkan yang ditatap sama sekali tidak merasakan takut atau sejenisnya. Chu Xin justru memandang Ting Le dengan waspada.
"Saya tidak berani mengancam Nyonya, harap Nyonya bisa kembali menemui Nona lain kali." Chu Xin tetap pada pendiriannya. Ia tidak bergerak seinci pun dari tempatnya.
Ting Le menoleh ke arah meja Gu Yuena, di mana gadis itu tengah menulis seolah tidak peduli padanya. "Yuena, apa begini caramu mendidik pelayan? Jika tidak, biar aku yang mendidiknya secara langsung."
Gu Yuena berhenti menulis. Ia meletakkan kuas ke tempatnya, kemudian berdiri dan melihat Ting Le yang datang.
"Yuena tidak tahu kalau Nyonya akan datang, maaf telah menyinggung Nyonya." Gu Yuena tersenyum, kemudian melirik Chu Xin. "Chu Xin, biarkan Nyonya menemuiku. Kamu berjagalah di depan."
"Baik, Nona." Chu Xin langsung menurut. Ia pun pergi keluar ruangan. Sebelum pintu benar-benar tertutup, ia melihat Ting Le dengan tajam dan penuh curiga. Awas saja bila menindas nonanya.
Pintu pun ditutup. Tersisa keheningan, sebelum akhirnya suara langkah kaki terdengar dari kaki Gu Yuena yang melangkah ke arah Ting Le. Ting Le hanya diam di tempatnya, memasang wajah sombong seolah ia adalah orang paling mulia di dunia.
"Gu Yuena, sejak Gu Yuan kembali ke kediaman, kamu semakin menunjukkan sikap aslimu. Lebih baik kita sudahi kepura-puraanmu sebagai gadis patuh yang membuat aku muak." Ting Le bicara dengan nada kesal. Pagi ini Jiang Weiwei tiba-tiba menghilang, pasti Gu Yuena telah melakukan sesuatu padanya.
Gu Yuena hanya tersenyum dengan lembut. "Apa Nyonya datang hanya untuk ini? Yuena tidak tahu, apa maksud dari kepura-puraan yang dikatakan Nyonya."
"Gu Yuena, jangan anggap aku adalah orang bodoh seperti ayahmu yang dengan bodohnya mempercayai perkembanganmu. Aku tahu dengan jelas, kau sama sekali bukan 'anak patuh' yang selama ini kau perankan. Kau cemburu dan ingin menyaingi Li'er-ku yang baik?" Ting Le mendengus. "Kau sama saja seperti ibumu, Li Hua. Jal*ng yang tidak tahu malu dan berwajah dua untuk mencapai apa yang diinginkan."
"Nyonya tidak perlu khawatir. Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti Adik Kelima. Juga ... jangan gunakan julukan apa pun untuk menghina ibuku, bagaimanapun posisi ibuku di kediaman lebih tinggi darimu. Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku telah menjadi penyebab kematian ibuku? Kau berhutang padaku, karena telah melancarkan rencanamu untuk mencapai posisi ini, meski hanya sebagai pengganti." Gu Yuena menanggapinya dengan tenang. Meski ia agak kesal karena ibunya dijelek-jelekkan, ia tidak boleh gegabah.
Ting Le justru semakin marah akan ucapan Gu Yuena yang menegaskan posisinya. Ia adalah Nyonya Kediaman Adipati, bukan ja*lang Li itu!
"Gu Yuena, kamu menjadi pandai bicara." Ting Le tertawa. "Seharusnya aku melepaskan monster lebih banyak untuk membunuhmu dan Li Hua. Sayangnya, Li Hua itu terlalu kuat untuk menahan semua monster. Orang Negara Wyvernia memang berbeda."
"Jadi kau yang membunuh ibuku." Gu Yuena tersenyum miring. "Kau tidak takut aku akan membocorkan rahasia ini kepada kakakku? Aku penasaran, apa yang akan ia lakukan untuk pembunuh sepertimu."
Ting Le tertawa semakin geli sambil berjalan ke arah meja belajar Gu Yuena. Ia duduk di kursi, kemudian memandang Gu Yuena dengan dingin. "Aku tidak bodoh membicarakan ini padamu tanpa persiapan. Kau telah mengacaukan semua usahaku, tentu saja aku harus maju selangkah lebih depan darimu."
Ting Le membuka laci meja belajar Gu Yuena, kemudian mengambil buku besar yang baru saja Gu Yuena ambil dari paviliunnya. Gu Yuena hanya diam di tempat memperhatikan.
Ting Le berdecak. "Rupanya ada di sini, kau pasti sudah membaca semuanya karena penasaran. Menurutmu, apa yang akan mereka pikirkan bila aku memberitahu bahwa kau menyimpan buku penyihir di tempatmu? Apa kau akan dituduh sebagai penyihir?"
"Lakukan saja. Toh, aku tidak bisa berkultivasi." Gu Yuena menyahut dengan santai. Berdasarkan analisanya, mereka semua—kecuali Luo Youzhe—masih belum tahu bahwa ia bisa berkultivasi. Ia tidak tahu apa sebab mereka tidak bisa mengidentifikasinya, tapi itu adalah sebuah keuntungan.
Tapi jawaban Ting Le mengubah semua asumsi itu. "Sepertinya kamu masih belum paham. Mereka memang tidak tahu bahwa kau bisa berkultivasi, tapi aku tahu. Aku hanya perlu membuatmu mengeluarkan kekuatanmu di depan mereka, 'kan?"
"Kau tidak tahu." Gu Yuena pikir Ting Le hanya membual. Jika benar, ia ingin tahu bagaimana Ting Le mengetahuinya.
"Yuena sayang, apa kamu masih tidak sadar akan sesuatu? Aku menyuruh Jiang Weiwei untuk memataimu dan membuatmu tidak berguna dengan berbagai macam obat. Tapi itu tidak menutup kemungkinan kau tidak bisa berkultivasi hanya karena beberapa obat itu. Jika kau tidak bodoh, seharusnya kau sudah berkultivasi sejak dulu."
Gu Yuena tidak tahu detail ini. Tapi dalam sekejap, semua memori yang tersisa itu datang membuatnya kosong untuk beberapa saat.
Ting Le benar, Gu Yuena yang dulu pernah berkultivasi diam-diam dan berlatih di luar sebagai mage. Itu alasannya ia selalu mendapat bimbingan tersendiri ketika akan menerobos tingkat. Obat-obatan itu membuatnya terlihat seperti sampah, apalagi mage memiliki fisik lemah sehingga tidak ada yang curiga.
"Gu Yuena oh Gu Yuena, sepertinya banyak hal yang tidak kau ketahui. Kau tidak sepintar itu untuk berencana melawanku. Kau pikir dengan mengusir Jiang Weiwei akan membuatmu aman? Kau terlalu naif."
Gu Yuena menjadi bingung. Ia mengusir Jiang Weiwei? Sejak kapan? Jadi sebenarnya Jiang Weiwei tidak 'pulang kampung'?
Tapi untuk saat ini, Gu Yuena tidak perlu menyangkal apa pun. Biarkan wanita itu salah paham dan tidak tahu kebenaran yang terjadi. Itu akan mempermudahnya.
"Sepertinya aku memang tidak perlu berpura-pura lagi di depanmu. Katakan saja maumu, akan kupertimbangkan." Gu Yuena menghela napas sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia ingin tahu tujuan Ting Le yang sebenarnya.
"Karena umurmu sama seperti Li'er, maka tidak masalah jika aku menikahkanmu dengan seseorang. Besok pagi, calonmu akan datang. Saat itulah kau harus menerimanya dan pergi dengan cepat."
"Jadi kau berniat mengusirku?" Gu Yuena menarik alisnya.
"Seharusnya kau berterimakasih padaku karena telah bertanggung-jawab sebagai pengganti ibumu."
"Aku akan lebih berterimakasih jika kau membunuhku sekarang. Kau tahu? Aku sudah sangat muak." Gu Yuena berkata dengan enteng.
Ting Le berdiri, kemudian menghampiri Gu Yuena. "Jika lebih baik mati, kenapa tidak menyerahkan nyawamu saja pada Tuan?"
"Makhluk aneh itu? Gumpalan kabut jelek dan suka mengejar orang seperti anjing gila?" Gu Yuena tertawa, apalagi melihat wajah gelap Ting Le yang menghiburnya.
"Kamu akan menyesali ucapanmu." Ting Le menaikkan dagunya dengan angkuh. "Kau tidak tahu siapa yang kau sebut 'anjing gila'—"
"Meskipun dia adalah seorang dewa, aku juga tidak peduli. Nyonya, kau berkonklusi dengan orang asing dan mengancam keselamatan Kediaman Adipati. Aku memiliki banyak bukti. Selagi aku membocorkannya, hidupmu berakhir saat itu juga. Kau juga pasti tahu apa yang akan terjadi pada anak kesayanganmu." Gu Yuena tersenyum. Ia mengangkat tangannya, menarik buku besar yang dipegang Ting Le menggunakan kekuatan spiritual. "Bagaimana jika aku yang berkata bahwa kau adalah penyihir? Kau dan anakmu akan dibakar."
Ting Le semakin marah. Sihir hijau di tangannya terbentuk sebelum akhirnya memberi cekikan di leher Gu Yuena. Cekikan itu semakin keras seolah akan mematahkan tulang leher Gu Yuena.
Gu Yuena tidak bisa melakukan apa pun selama tanaman merambat mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia terjerat begitu kuat hingga merasa sesak. Lehernya terasa terbakar seperti ingin patah, sedangkan napasnya tersendat. Kekuatan ini lebih kuat darinya, ia tidak bisa melawan.
"Aku tidak berjanji tidak akan membunuhmu. Kalau kau begitu ingin mati, aku akan mengabulkannya." Ting Le tersenyum jahat.
Meski ia terbilang lemah, tapi Gu Yuena lebih lemah darinya. Selama ia berhasil membuat Gu Yuena tidak bisa melakukan apa pun, gadis itu tidak akan bisa lepas dari cengkramannya.
"Kau akan menyesal." Gu Yuena mencoba melepaskan diri sebisanya, tapi ia tidak mampu bergerak. Ia hanya bisa bicara dan menatap Ting Le dengan dingin.
"Ya, aku akan menyesal dan menangis di pemakamanmu karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku akan mengirimkan bunga terakhir untuk mengantar kepergianmu."
Jeratan tanaman rambat semakin kuat seolah akan meleburnya. Gu Yuena semakin tidak bisa bernapas. Ia bahkan dapat mendengar suara retakan tulang yang mulai terpengaruh lilitan tanaman rambat. Ia tidak lagi merasakan tubuhnya sendiri.
Di saat tekanan dan jeratan tanaman menutupi seluruh tubuhnya, tidak ada dari mereka yang sadar bahwa sebuah kilatan merah sekilas melintas di antara celah tanaman rambat. Ting Le terbawa euforia dalam hatinya, melihat wajah yang sama dengan seseorang yang ia benci kini memucat dan akan mati di tangannya.
Gu Yuena menutup mata untuk mengendalikan energi dalam tubuhnya. Ia memasuki kesadaran spiritual, melihat kegelapan dan kekacauan qi akibat serangan Ting Le.
Tapi ketika tubuhnya mencapai batas untuk menahan tekanan luar biasa yang meremukkan tulang, ia melihat tiupan angin merah muncul dalam kegelapan.
Tampak seperti aliran energi tipis, namun merah seperti darah. Aliran itu bergerak seperti hembusan angin, perlahan wujudnya memadat seperti helaian benang dan bertransformasi menjadi seekor phoenix yang terbang dengan kecepatan kilat.
Mata Gu Yuena terbelalak ketika phoenix itu menyambarnya seperti petir dan menyelimuti tubuhnya yang penuh tanaman rambat seolah mengurungnya.
Segalanya menjadi gelap seketika.
Apa itu ... darah phoenix?