
Di saat semua orang bertanya-tanya siapa yang berani melawan Tetua Puncak Terang, sebuah suara wanita menggema di Paviliun Anggur.
"Berani menindas muridku? Pak tua, kau memiliki keberanian yang besar."
"Siapa?" Tetua Puncak Terang memasang sikap waspada.
Aura ini, tidak mungkin ....
"Sudah lama tidak bertemu. Apa kau menjadi pengangguran sejak diangkat sebagai tetua? Sikapmu tidak cocok dengan penampilanmu."
Suara itu datang dari sosok wanita cantik dengan aura kuat serta aroma anggur yang memabukkan. Kecantikannya membuat banyak murid terpesona. Terlepas dari Gu Yuena yang masih muda, dia adalah wanita tercantik yang pernah mereka temui.
Bahkan Tetua Puncak Terang tidak bisa tidak menjatuhkan rahangnya. Ketika ia menutup mulut, tanpa sadar ia menenggak air liurnya sendiri dengan susah payah.
Wanita itu ....
"Kau ...."
Yan Shuiyin melihat pria tua itu dengan mata menyipit serta senyum misterius. "Apa kau begitu senang sampai melupakan keberadaanku? Apa kau tidak merindukan perjalanan kita?"
Pria tua itu merinding seketika. Perjalanan apanya? Itu sama sekali tidak bisa disebut perjalanan. Ketika dalam tugas rahasia Istana Yuansu, ia dijadikan anjing pelacak dan umpan monster oleh Yan Shuiyin seolah tidak memiliki harga diri.
Jika bukan karena ia terus kalah dari Yan Shuiyin, ia sudah membunuh wanita itu sejak masuk Istana Yuansu!
Sayangnya, itu hanya bisa menjadi angan-angan. Bisa dilihat sekarang. Dulu ia masih muda san gagah sehingga berani menantang wanita cantik itu. Tapi sekarang ....
Ketika ia sudah menua dan akan menjadi lansia tak berdaya, wanita itu malah tetap muda seolah ia adalah seorang abadi. Benar-benar tidak adil!
"Aiya, kau sudah terlihat sangat berbeda seperti ini. Ternyata waktu berjalan begitu cepat sampai aku tidak menyadarinya." Yan Shuiyin menyentuh wajahnya sendiri dengan lembut, seolah memeriksa apa wajahnya ikut keriput atau tidak.
Padahal jelas-jelas ia sedang pamer di depan orang tua yang pernah dibesarkannya itu.
Tidak dibesarkan secara langsung juga, sih.
"Tetua Angung Yan, mohon maaf atas kelancangan saya." Tetua Puncak Terang buru-buru membungkuk hormat dengan penuh rasa takut.
Hal itu membuat para murid tertegun seketika.
Perempuan ini ... guru Gu Yuena?
Tetua Agung Istana Yuansu?!
Yan Shuiyin mendengus. "Baguslah kamu mengenaliku. Aku pikir kau sudah melupakan etinitasku karena tidak pernah muncul."
"Mana mungkin saya melupakan Tetua Agung Yan?" Ia melirik murid-murid yang masih tertegun, lalu mendengus kesal sambil memelototi mereka, memberi isyarat untuk cepat memberi hormat.
Mereka semua pun membungkuk memberi penghormatan serempak.
Situasi ini ... benar-benar di luar dugaan. Gu Yuena bahkan terdiam.
Apa posisi Tetua Agung begitu dihormati sampai seorang tetua lain juga harus memberi hormat?
Yan Shuiyin melirik Gu Yuena di sebelahnya, lalu berkata, "Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berlutut."
Gu Yuena langsung sadar dan berdiri tegak. Lagi pula siapa yang ingin berlutut? Ia 'kan ditekan sampai tidak bisa melakukan apa pun. Tapi berkat Yan Shuiyin tiba tepat waktu, ia tidak jadi dieksekusi di tempat oleh orang tua tak tahu malu itu.
"Terima kasih." Gu Yuena berkata dengan nada rendah, sedangkan Yan Shuiyin hanya mengangguk acuh tak acuh.
"Untuk kedepannya, jangan beri pengampunan untuk seseorang yang membuat masalah padamu. Jika tidak bisa menanganinya, katakan padaku. Aku akan membuatnya mengetahui akibat dari memprovokasi orangku."
Gu Yuena tidak bisa melakukan apa pun selain mengangguk. Rupanya, Yan Shuiyin tidak buruk juga. Dia bahkan mengatakannya terang-terangan di depan semua orang sebagai peringatan.
"Tetua Agung Yan, untuk masalah ini ... Gu Yuena telah menyusup hutan penangkaran dan menyebabkan banyak monster menggila. Hutan penangkaran saat ini mengalami krisis karena monster yang menggila, bahkan sampai membunuh beberapa muridku."
"Masalah muridku, biar aku yang mengurusnya. Kau sebagai tetua, seharusnya bisa menangani muridmu dengan baik. Kenapa membiarkan seseorang membawa murid-murid tidak berkualifikasi untuk memasuki hutan penangkaran monster? Bahkan melakukan pengancaman dan membawa bahaya pada muridku. Kau pikir aku hanya minum dan tidur di paviliun tanpa mengetahui apa yang terjadi?"
"Bukankah memang biasanya begitu?" Tetua Puncak Terang ingin berkata demikian, namun ia langsung menelan kalimat tersebut. Ia masih sayang nyawa.
Tapi sayangnya, Tetua Puncak Terang hanya bisa berkata, "Ini memang salahku. Murid-murid ini masih muda dan sering ceroboh. Lain kali, saya tidak akan membiarkan mereka mengganggu Tetua Agung dan muridnya lagi."
"Bagus jika kamu sadar diri." Yan Shuiyin bersedekap dada, lalu melihat Qin Haotian dengan senyuman dingin. "Kau sebagai pria, harus mematuhi kata-katamu. Bukankah kau kalah taruhan?"
"Tetua Agung, ini hanya permainan anak-anak. Mereka tidak bersungguh-sungguh melakukan taruhan dengan nyawa." Tetua Puncak Terang merasa ingin menangis darah. Kenapa wanita itu terus saja membuat masalah menjadi runyam?
"Oh? Jadi bagaimana jika yang kalah taruhan adalah muridku?" Yan Shuiyin menatap mereka semua dengan tajam. "Apa kalian akan memaksanya mengakhiri hidup secara sukarela?"
"Tentu saja tidak. Ini adalah masalah hidup dan mati, tidak boleh dijadikan taruhan." Tetua Puncak Terang melirik Qin Haotian dengan tajam, mengisyaratkannya akan sesuatu.
Qin Haotian langsung paham dan berkata dengan ragu. "Tetua Agung, ini adalah kesalahanku. Mohon pengampunannya." Meski enggan mengatakannya, ia harus mengatakannya karena identitas perempuan di depannya yang tidak biasa. Jika tidak, bahkan Klan Lin tidak bisa membantu.
"Karena kamu sudah mengakui kesalahan, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi melakukan perencanaan pembunuhan terhadap muridku, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja. Sebagai hukuman, aku akan meminta Klan Lin untuk memberi hukuman sebagai bentuk perhormatanku terhadap Klan Lin. Bila hal ini terulang, aku sendiri yang akan menghukumnya." Tatapan tajam Yan Shuiyin terarah pada Lin bersaudara secara intens. "Kalian termasuk."
Mereka tidak bisa lagi berkutik setelah Yan Shuiyin mengatakannya. Tetua Puncak Terang pun cepat-cepat membubarkan mereka dari Paviliun Anggur agar tidak terjadi masalah lain. Dengan adanya Yan Shuiyin, siapa yang berani bicara seenaknya seperti tadi?
Melihat kepergian mereka yang semakin jauh dan menghilang, Yan Shuiyin pun menghela napas.
"Orang-orang bodoh yang merepotkan."
Gu Yuena yang masih anteng berdiri tanpa mengatakan apa pun tiba-tiba dipanggil.
"Xiao Yuena, apa kau memiliki banyak pertanyaan di kepalamu?"
Gu Yuena terperanjat. Ia diam untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Maaf telah membuatmu mengungkap rahasia."
"Itu bukan pertanyaan. Lagupula, apa yang kulakukan bukan mengungkap rahasia. Melainkan memberimu posisi penting di akademi agar tidak ada lagi yang berani menggertakmu, terutama anak-anak Klan Lin. Aku tetap menjadi 'pria gila' yang dianggap penjaga paviliun oleh mereka, tidak akan ada yang tahu."
"Jadi begitu." Gu Yuena tersenyum. "Intinya aku berterima kasih."
"Aku memberimu kesempatan untuk bertanya, tapi kau terus mengatakan terima kasih dan meminta maaf."
Gu Yuena terkekeh. "Apa kau akan menjawab semuanya?"
"Ya"
"Kenapa?" Sebelumnya wanita itu enggan menjawab pertanyaannya.
"karena kau adalah muridku," balas Yan Shuiyin.
Gu Yuena terperangah sebentar. Benar, sekarang ia adalah murid Yan Shuiyin, murid dari Tetua Agung Istana Yuansu yang merupakan seorang penyihir dari Istana Linghun.
"Sebenarnya, pertanyaanku sedikit mengandung privasi." Gu Yuena berkata terus terang.
"Katakan saja." Yan Shuiyin berjalan memasuki paviliun, memberi isyarat pada Gu Yuena untuk ikut.
Gu Yuena mengikutinya sambil bersiap memberi pertanyaan. Ketika mereka memasuki paviliun, lagi-lagi Yan Shuiyin mengambil botol anggur dan duduk di atas kursi sambil bermalas-malasan.
Gu Yuena duduk di kursi lain, lalu memulai pertanyaan. "Bagaimana kau bisa tiba di sini? Raja Istana Yuansu, sangat menentang penyihir. Pasti sulit untukmu agar bisa menempati posisi terhormat yang bahkan para tetua dan dekan akademi tidak bisa menyinggungmu."
Yan Shuiyin melihat Gu Yuena dalam diam. Hal tersebut membuat Gu Yuena merasa ucapannya benar-benar salah. Ia pun berkata, "Tidak perlu dijawab jika tidak ingin."
"Apa kau sangat ingin mengenalku?" Yan Shuiyin berkata dengan minat yang jelas.
Yan Shuiyin tertawa. Ia menenggak anggur dalam botol. Setelah diam untuk beberapa saat, ia baru bicara. "Ketika aku sedikit lebih tua darimu, aku bertemu seseorang. Orang yang hebat, pemimpin yang hebat, dan sosok yang nyaris mendekati sempurna. Meski dia agak kaku, aku sangat mengaguminya baik dari segi sikap maupun kekuatan."
"Apa dia pria?"
"Kau dapat menebaknya." Yan Shuiyin menuduk sambil melihat botol anggur di tangannya. Tatapannya seperti melihat seseorang. "Dia tahu aku penyihir, dan membawaku ke sini untuk hidup lebih baik dibanding terlibat dalam kekacauan Istana Linghun. Tapi karena beberapa alasan, dia harus menikah dengan wanita lain. Dia mati di depanku, setelah memberiku gelar Tetua Agung. Itu sebabnya aku bersembunyi di paviliun, dan menyamar seperti pengecut."
Gu Yuena tidak tahu bagaimana rasanya jika menjadi Yan Shuiyin, tapi ia dapat melihat dengan jelas rasa sakit itu. Apa ini juga alasan mengapa Yan Shuiyin menghabiskan waku dengan anggur? Untuk mengalihkan pikirannya yang berduka?
"Itu sudah sangat lama terjadi, tidak tahu sudah berapa lama. Tiba-tiba saja segalanya berubah. Aku sempat terkejut ketika keluar tadi." Yan Shuiyin tertawa untuk memecah suasana yang sendu. Ia kemudian melirik Gu Yuena, lalu berkata, "Aku tahu yang sebenarnya ingin kau tanyakan tidak lain perihal Istana Linghun, tapi aku mengalihkannya sejauh itu. Tak apa?"
"Setidaknya kau memiliki kesempatan bercerita. Itu akan melegakan." Gu Yuena sama sekali tidak masalah. Jika bisa, ia juga ingin menceritakan kisah dan masalahnya. Tapi ia tahu, ia tidak bisa bersandar pada siapa pun.
Setidaknya untuk saat ini.
"Sangat melegakan. Sebagai imbalannya, aku akan memberitahu apa yang ingin kau ketahui."
Gu Yuena mendengarkan dengan saksama.
"Ketika aku berada di Istana Linghun, Raja Istana Linghun memiliki putra yang memiliki darah naga. Itu sudah sangat lama, sampai aku tidak tahu kapan dan sejak kapan Raja Istana Linghun mati dan anaknya menggantikannya. Ketika itu terjadi, Raja Istana Linghun terdahulu mengirimku dan beberapa orang untuk melakukan penyebaran pasukan penyihir dan membawa jiwa-jiwa berbagai makhluk untuk sebuah tujuan. Tapi sepertinya operasi itu terhenti sejak kematiannya, dan aku sudah tidak sda di sana."
"Berdasarkan apa yang sudah kudengar, putra Raja Istana Linghun menikahi seorang Putri dari Wyvernia yang kabur dari kekaisaran." Ketika berkata demikian, tatapannya terarah pada Gu Yuena dengan berbagai arti. "Apa kau tahu karakteristik khusus keluarga kerajaan Wyvernia?"
"Apa ada yang seperti itu?" Gu Yuena tidak tahu.
"Wajar jika banyak yang tidak mengetahuinya, terutama rakyat Kekaisaran Yi. Selama ini hanya beberapa orang penting saja yang sadar, karena sering bertemu dengan keluarga kerajaan. Karakteristik berupa iris merah darah, melambangkan kekuatan api yang dominan dan kebanggaan keluarga kerajaan. Itu sebabnya aku bertanya mengenai matamu ketika petama kali betemu."
"Keluarga kerajaan?" Gu Yuena tertegun sejenak. Bagaimana hal ini bisa dihubungkan dengan Wyvernia?
Iris semerah darah ....
Ia dan Gu Yuan juga memilikinya dan diwariskan dari ibu mereka. Apa ibunya adalah anggota keluarga kerajaan?
Sebenarnya itu adalah hal wajar, karena tiap bangsawan pasti akan mengalami pernikahan politik. Pasti itu yang terjadi antara ibunya dan Adipati Gu.
Dibandingkan memikirkan identitasnya sebagai bagian dari keluarga kerajaan, Gu Yuena justru penasaran dengan hal lain.
"Apa di dunia ini hanya keluarga kerajaan saja yang memiliki iris merah? Bisa saja, ada seseorang yang mengalami penyimpangan gen yang mengubah warna matanya." Gu Yuena pikir itu bisa saja terjadi sebagai bagian dari kelainan.
Sepertinya Gu Yuena lupa ada di dunia mana ia berada.
"Tidak ada hal seperti itu. Iris merah adalah berkat khusus untuk keluarga kerajaan sebagai pemilik elemen api paling murni. Siapa pun yang memilikinya, maka berhak menempati posisi kandidat tahta kerajaan."
"Bagaimana dengan warna mata lain?"
"Pada umumya manusia memiliki warna mata gelap seperti hitam atau cokelat. Ada beberapa perbedaan untuk bakat dan keluarga tetentu. Salah satunya adalah iris biru dari keluarga Bai, hijau dari penerus keluarga Istana Luye—"
"Tunggu dulu, Keluarga Bai?" Tiba-tiba Gu Yuena teringat sesuatu.
"Keluarga utama Istana Tianshuang. Rumornya, hanya ada satu penerus yang tersisa setelah invansi Istana Linghun."
Gu Yuena terdiam. Keluarga Bai ... mata biru ....
Tiba-tiba saja ia teringat iris biru malam yang sering menjebaknya dengan tatapan yang memikat. Bagaimana kalau ternyata dia?
"Kau tahu hubungan Klan Luo dengan Istana Tianshuang?"
"Entahlah, apa mereka ada hubungan? Aku hanya mendengar dari kabar burung, belum pasti kebenarannya karena Istana Tianshuang sangat tertutup sejak perang. Mereka tidak terlihat selama lebih dari 100 tahun."
"Ah, begitu." Gu Yuena masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Sepertinya ia harus memastikannya sendiri. Ia pun menanyakan hal lain. "Lalu, mengenai hubungan Wyvernia dan Istana Linghun ...."
"Ah, itu. Karena aku tidak ada di sana secara lansgung, aku hanya mendengar kabar bahwa Raja Istana Linghun dan Putri Kekaisaran Wyvernia memiliki dua anak." Ia diam untuk beberapa saat. "Tunggu dulu. Kekaisaran Wyvernia hanya memiliki satu putri bermata merah, namanya Putri Vanya."
Jantung Gu Yuena mendadak berdetak terlalu keras sampai terasa nyeri. Nama itu ... mirip dengan nama ibunya di dunia lain.
Sama seperti dirinya, seluruh keluarganya memiliki dua nama. Kalau ia adalah Valentina dan Gu Yuena, maka ibunya adalah Li Hua dan Vanya.
Tatapan Yan Shuiyin menyipit ketika melihat iris merah Gu Yuena. "Kau adalah anak Putri Vanya."
Gu Yuena tidak bisa mengatakan apa pun. Jika ia adalah anak Putri Vanya, sedangkan Putri Vanya kabur dari kekaisaran dan menikah dengan Raja Istana Linghun. Tapi di sisi lain, ia dan ibunya jelas berada di Kediaman Adipati Gu. Lalu dia anak Putri Vanya dengan siapa?
Gu Shan atau Raja Istana Linghun?
"Tidak benar, aku bukan anak ayahku," gumam Gu Yuena.
Ya, dia dan Gu Yuan tidak memiliki perasaan antara anak dan ayah dengan Gu Shan, apalagi mirip. Mereka bahkan sudah seperti orang lain di kediaman. Di mana Gu Shan yang membuangnya dan menunjukkan perhatian yang aneh pada Gu Yuan.
Pasti Gu Shan tahu banyak.
Itu juga menjawab pertanyaannya mengenai sosok kabut dari Istana Linghun serta buku tentang penelitian penyihir dan darah phoenix di Keidaman Adipati.
Kenyataan bahwa ia adalah putri dari Raja Istana Linghun.
Apa itu berarti, ayahnya di dunia lain mirip dengan Raja Istana Linghun?
Apa itu brrarti, ia adalah Putri Istana Linghun?
***
Di sebuah tempat, jauh dari dua kekaisaran dan istana. Tempat yang penuh dengan rasa dingin dan kesunyian, seolah hanya itu satu-satunya tempat di dunia.
Tempat yang megah layaknya sebuah kerajaan. Itu adalah sebuah istana yang berdiri jauh di atas gunung yang dipenuhi dengan monster tingkat tinggi. Gunung yang mengerikan dan terasingi.
Tidak ada tanda nama istana apa tepatnya. Istana yang begitu suram dan sepi, hanya ada beberapa pelayan berseragam putih mondar-mandir membawa barang dengan wajah poker. Mereka terlihat tidak memiliki emosi.
Ketika mendengar gerbang istana dibuka, diikuti dengan suara derap langkah kaki kuda yang cepat, pandangan mereka langsung teralih untuk melihat siapa yang datang di malam yang sunyi ini.
Suara sepatu kuda memecah suasana sunyi istana. Tampak empat sosok penunggang kuda dengan salah seorang pria berjubah hitam yang memimpin di depan memasuki jalan istana.
Ketika melihat siapa yang baru saja datang, mereka semua langsung menunduk untuk memberi penghormatan.
Keempat kuda berhenti ketika penunggang menarik pelana tepat di depan pintu istana. Mereka turun dari kuda. Salah satunya yang memimpin langsung masuk ke dalam istana begitu saja dengan wajah datar serta iris biru malam yang mempesona.
Ketiga orang di belakangnya mengikuti dalam diam. Salah satu di antara mereka adalah seorang gadis cantik dan mungil, namun tampangnya terlihat dingin seperti kedua laki-laki di sisinya. Mereka masuk ke dalam mengawal atasan mereka ke dalam istana.
Ketika sampai di sebuah ruangan, pria berjubah hitam dengan iris biru malam yang begitu dingin memandang sosok pria tua yang duduk di kursi kebesarannya dalam mata terpejam. Ia setengah berlutut, memberinya salam.
"Kakek."
Pria tua dengan rambut dan janggut putih keseluruhan. Dia terlihat sudah sangat tua, namun auranya cukup membuat seluruh istana bergetar. Ketika matanya terbuka, menampakkan iris biru malam yang teduh, ia melihat pria berjubah yang setengah berlutut di depan tahtanya.
"Berdirilah, Bai Youzhe."
Bai Youzhe, atau biasa dikenal sebagai Luo Youzhe dari Klan Luo. Siapa yang akan menyangka bahwa Luo Youzhe yang memiliki reputasi kacau di kekaisaran itu memiliki latar belakang Istana Tianshuang dan marga Bai yang disegani?
Selama ini ia menutup diri sebagai untuk bertahan hidup dari perburuan. Dengan sikapnya yang acuh tak acuh, ia harus berusaha berakting setiap saat untuk menciptakan reputasi buruk sehingga dapat diabaikan musuh.
Saat ini, ia telah melepas sikap aneh dan kekanakan itu, sepenuhnya menjadi Bai Youzhe dan mengambil posisinya setelah bertahun-tahun bersembunyi.
Baginya, Luo Youzhe sudah mati.